Mencari Kebebasan di Dalam Hati
Hari ini menjelaskan kepada kalian bahwa ketika seseorang belajar Buddha Dharma, sebelum mencapai kesempurnaan tertinggi, yakni sebelum benar-benar memahami apa hakikat dari belajar Buddha Dharma, sesungguhnya kesadaran atau pencerahan makhluk hidup masih memiliki kekurangan dan kekeliruan. Artinya, jika seseorang belum benar-benar mencapai pencerahan, maka semua Dharma yang ia pelajari masih mungkin memiliki kebocoran. Tidak ada seorang pun yang bisa mengatakan bahwa Buddha Dharma yang ia pelajari sudah sepenuhnya benar, tidak ada, sebelum mencapai penerangan sempurna pasti memiliki kekeliruan.
Ada sebagian orang yang setelah memahami sedikit tentang cara bersikap dan berperilaku dalam kehidupan, lalu saling mengkritik. Dimana kritikan itu terdengar seolah-olah sangat masuk akal, terlebih lagi mengandung pandangan yang menyimpang. Inilah yang disebut jalan yang menyimpang. Oleh karena itu, orang yang sering membicarakan bagaimana orang lain belajar Buddha Dharma, pasti dirinya sendiri sudah mulai menyimpang dari jalan yang benar. Dalam belajar Buddha Dharma, jika kita menemui atau mendengar perkataan yang merugikan praktik kita, janganlah membalas atau menyerang balik. Karena orang yang menyerang orang lain sering kali bahkan tidak mampu menjelaskan atau membenarkan ucapannya sendiri secara utuh, sehingga perkataannya pada akhirnya akan runtuh dengan sendirinya. Dalam belajar Buddha Dharma, kita harus memahami bahwa selama masih berada di Alam Manusia dan belum mencapai kesempurnaan tertinggi, maka kesadaran dan pemahaman kita masih memiliki kekeliruan. Setiap kesadaran sebelum mencapai kesempurnaan masih memiliki kekurangan atau celah, yaitu belum sepenuhnya sempurna.
Kematangan benih kebajikan dan kejahatan sesungguhnya bergantung pada orang yang menabur benih. Jika tidak melakukan perbuatan baik, maka benih kebajikan tidak akan bergerak; jika tidak melakukan perbuatan buruk, maka benih kejahatan pun tidak akan bergerak. Keadaannya seperti hibernasi — benih itu ada, tetapi tidak aktif. Benih-benih itu adalah benih yang berjodoh, ketika jodoh sudah tiba, barulah ia akan matang. Artinya, benih yang kamu tanam hari ini, jika jodohnya adalah jodoh yang baik, maka ia akan segera matang. Jika yang kamu tanam adalah jodoh yang buruk, ia pun akan matang. Namun jika kamu sering melakukan perbuatan baik dan tidak melakukan perbuatan buruk, maka jodoh burukmu tidak akan matang. Tetapi itu bukan berarti benih dan sebab buruk di dalam dirimu sudah tidak ada. Ia tetap ada, hanya saja seperti sedang hibernasi, belum teraktifkan. Sesungguhnya, kamu sudah menjalani penderitaan. Oleh karena itu, jika kita tidak melakukan perbuatan buruk dan hanya melakukan perbuatan baik, sesungguhnya kita sedang mempercepat kematangan jodoh baik. Jika kamu tidak berbuat jahat dan sering melakukan kebajikan, maka jodoh baikmu akan cepat matang, dan hal-hal baik pun akan segera datang.
Ketika seseorang sedang memohon sesuatu hal, jika kamu tidak melakukan perbuatan buruk, maka hal yang dirimu mohonkan itu akan lebih cepat berhasil. Benihnya tetap ada, hukum karma tetap ada, karena benih itu sudah tertanam di dalam kesadaranmu, di dalam ladang kesadaran kedelapan. Selama benih itu masih ada, maka hukum karmamu tidak dapat dihindari, tetap akan ada balasannya. Oleh karena itu, jika kamu tidak memberi “pupuk” dan “air” kepada buah buruk, maka benih itu tidak akan tumbuh besar. Dengan kata lain, kesalahan yang pernah kamu lakukan di masa lalu, jika sekarang kamu tidak lagi mengulanginya, tidak mengaktifkan benih buruk itu, maka ia tetap tidak akan bertumbuh. Jika buah buruk tidak tumbuh, maka bencana pun tidak akan matang, dan tidak akan ada balasan karma. Banyak orang, dengan cara ini, dapat membawa karma yang lebih ringan ketika meninggalkan dunia ini. Oleh karena itu, segala sesuatu dipicu oleh perbuatan manusia sendiri. Justru karena manusia yang mengaktifkannya, maka proses pertumbuhannya menjadi lebih cepat.
Selanjutnya, akan membicarakan satu hal yang sangat penting. Karena kita sudah memiliki karma tetap, apakah kita bisa mengubahnya? Master mengatakan dengan jujur kepada kalian, karma yang tetap sangat sulit untuk diubah. Para Buddha dan Bodhisattva tidak akan membantu kalian mengubah karma yang telah tetap, dan memang tidak dapat mengubahnya. Namun, karma yang telah tetap itu dapat ditransformasikan menjadi kekuatan Kebuddhaan. Artinya, perbuatan buruk yang kamu lakukan hari ini tidak dapat diubah begitu saja oleh Bodhisattva, kamu pasti akan menerima akibatnya. Namun setelah kamu belajar dan membina diri dalam Dharma, karma tetap ini dapat mengalami perubahan. Dengan kekuatan berkat para Buddha dan Bodhisattva, ditambah pertobatan dirimu sendiri, maka karma tetap dirimu perlahan-lahan dapat berubah. Ini bukan disebut “mengubah”, melainkan disebut “mentransformasikan”. Makna dari “mentransformasikan” adalah bahwa tetap ini sebenarnya masih ada, tetapi perlahan-lahan akan berubah menjadi bentuk karma baik yang lain.
Kita harus belajar memandang semua makhluk dengan mata welas asih, mata kita harus memandang makhluk dengan welas asih. Lihatlah mata Bodhisattva: tidak sepenuhnya tertutup, juga tidak sepenuhnya terbuka. Mata Bodhisattva terbuka 30 persen dan tertutup 70 persen, apa artinya ini? Artinya, Bodhisattva melihat bahwa Alam Manusia ini pada dasarnya adalah tidak nyata dan bersifat ilusi. Maka, untuk apa mata perlu dibuka? Banyak orang membuka mata selebar-lebarnya karena mengira semua yang dilihat itu benar-benar nyata. “Benarkah?” Bukankah mata langsung membesar? “Saya memberitahumu suatu hal ya…”“Ah, benar begitu?”Bukankah matamu kembali membesar? Karena kamu mengira semuanya itu nyata. Sedangkan Bodhisattva memandang Alam Manusia dengan mengetahui bahwa dunia ini pada dasarnya bersifat ilusi, tidak nyata, adalah palsu.
Sesungguhnya, setiap orang memiliki berkah keberuntungan. Apa yang dimaksud dengan berkah? Orang yang sering melakukan kebajikan dan senantiasa menumbuhkan hati welas asih pasti akan memiliki berkah. Sebaliknya, jika terlalu banyak melakukan perbuatan buruk, maka berkah itu akan menjauh darimu. Jika kamu mengikuti dan membina diri sesuai ajaran Guan Shi Yin Pu Sa, serta banyak melakukan kebajikan, maka berkah akan selalu berada di sisimu. Jadi, bagaimana sebenarnya berkah itu datang, bagaimana ia ada, dan bagaimana ia pergi? Sebenarnya Master sudah menjelaskannya dengan jelas kepada kalian. Orang yang tidak melakukan perbuatan buruk, berkah akan selalu menyertainya. Orang yang melakukan perbuatan buruk, berkah akan menjauh darinya.
Dalam melakukan setiap hal, kita harus melakukannya sesuai dengan aturan dan Dharma. Banyak orang bertanya: apa yang dimaksud dengan sesuai aturan dan Dharma? Karena setiap orang memiliki standar sendiri. Setelah membina pikiran, masing-masing memiliki alasan dan ukuran dalam hatinya sendiri. Ia mengira bahwa hal ini sudah sesuai dengan ajaran Buddha, padahal standar itu ditetapkan menurut dirinya sendiri, bukan berdasarkan ajaran Buddha Dharma. Dengan demikian, ia kembali menyimpang dari jalan yang benar. Banyak orang berkata, “Saya melakukan hal ini sudah sesuai dengan aturan dan Dharma.” Lalu dengan standar apa kamu mengukurnya? Apakah kamu mengukurnya berdasarkan tingkat spiritual para Buddha dan Bodhisattva, atau berdasarkan perilaku pribadimu sendiri dan pengalamanmu dalam menekuni Dharma dan membina pikiran? Seperti halnya ketika banyak orang bertengkar, masing-masing merasa dirinya benar, maka kedua orang ini baru akan bertengkar. Kita harus menjadikan prinsip Dharma sebagai standar. Dengan kata lain, kita harus memiliki kemampuan membedakan dan menilai dengan benar. Kemampuan membedakan itu sesungguhnya adalah kemampuan memahami Buddha Dharma. Semakin dalam pemahamanmu terhadap Buddha Dharma, semakin dalam pula kemampuanmu untuk membedakan dan menilai dengan benar. Hati dan pikiran yang dangkal, tidak sempurna, dan penuh kekeliruan akan perlahan-lahan tersingkir. Semakin bersih dirimu, semakin sejati kemampuan membedakanmu, dan semakin kecil kemungkinan kamu menyimpang atau kehilangan arah dari Dharma.
Ada orang yang menyerahkan sebagian besar hidupnya kepada kerisauan yang tiada habisnya. Coba pikirkan, bukankah kita pun begitu? Setengah dari hidup kita dihabiskan di dalam kerisauan yang tiada akhir. Manusia selalu menganggap bahwa setiap hal di dunia ini sangat mendesak dan menegangkan bagi dirinya. Ia berharap dalam waktu yang terbatas dapat melakukan sebanyak mungkin hal, begitulah manusia, begitulah cara berpikir manusia. Pada saat yang sama, juga memegang keyakinan bahwa bekerja tidak akan membuat seseorang mati kelelahan. Kehidupan manusia sering dijalani dalam kebutaan yang ekstrem untuk mengumpulkan kehormatan, harta, kedudukan, dan berbagai pencapaian, tetapi justru harus mengorbankan kesehatan, kasih sayang keluarga, persahabatan, dan cinta. Oleh karena itu, manusia mengira dirinya telah memperoleh sesuatu, tetapi tidak melihat apa yang sebenarnya telah hilang. Tidak ada yang benar-benar menyadari bahwa penyakit bisa datang kapan saja, yang akan mengancam nyawamu. Namun dirimu malah mengabaikan tubuh sendiri demi ambisi, terus mengejar dan menuntut, menggertakkan gigi dan memaksa diri untuk maju, tidak pernah sungguh-sungguh menjelajahi pelepasan yang alami dari kedalaman batinmu sendiri.
Sesungguhnya, dalam hati praktisi Buddhis memiliki kebebasan; sedangkan orang yang tidak menekuni Dharma memiliki rintangan di dalam hatinya. Mengapa orang yang belajar Buddha Dharma memiliki kebebasan? Coba pikirkan, jika ia adalah seorang yang telah meninggalkan kehidupan rumah tangga (biksu/biksuni), pikirannya adalah bebas, perilakunya pun bebas. Ia tidak memiliki keterikatan dan tidak memiliki halangan batin, karena tidak ada rintangan, maka tentu ia bebas dan leluasa. Sekarang kalian masih memiliki keterikatan pada keluarga, keterikatan pada masa depan, dan keterikatan pada berbagai hal duniawi. Bagaimana mungkin kalian bisa menghirup udara kebebasan? Kebebasan adalah pilihan yang kalian tentukan sendiri. Banyak orang terikat dan tidak bebas, tetapi masih merasa dirinya sangat bebas. Bebas, pelepasan yang alami berarti melepaskan sifat Kebuddhaan dalam dirimu secara alami.
Orang-orang zaman modern ini tidak memahami bagaimana menggunakan sifat Kebuddhaannya untuk menempatkan batinnya dalam keadaan yang paling sempurna. Kalian tidak memahami bagaimana menggunakan ajaran Buddha Dharma untuk membuat hati berada dalam keadaan yang paling sempurna. Karena hati manusia hanya akan menjadi benar-benar sempurna ketika selaras dan menyatu dengan hati para Bodhisattva, pada waktu lain, ia tidaklah sempurna. Mengapa demikian? Karena hati yang dipenuhi keserakahan, kebencian, kebodohan batin, dan kecemburuan, semua itu adalah keadaan hati yang tidak sempurna. Hanya ketika hatimu selaras dan menyatu dengan hati para Buddha dan Bodhisattva, barulah kamu berada dalam keadaan yang sempurna. Karena hati Bodhisattva adalah hati yang penuh welas asih. Ketika seseorang memiliki welas asih terhadap orang lain, orang itu berada dalam keadaan yang sempurna. Ketika seseorang mempraktikkan cinta kasih, welas asih, turut berbahagia, dan keseimbangan batin, maka ia berada dalam keadaan yang paling utuh dan sempurna. Ketika seseorang tidak lagi memiliki keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, barulah ia menjadi orang yang benar-benar sempurna.
Oleh karena itu, kita harus berbalik merenungkan diri sendiri. Kita melihat kembali hati dan tubuh kita, hanya dengan mendekat kepada Bodhisattva dan menemukan kembali sifat dasar diri kita, dan harus menjaga serta memelihara esensi kehidupan yang sebenarnya.
Master hari ini berbicara cukup mendalam kepada kalian. Kualitas kehidupan dibentuk melalui menjaga sila dan disiplin diri. Karakter atau kualitas baik seseorang juga dibentuk oleh kemampuannya menjaga sila dan disiplin dirinya sendiri. Karena ia tidak berbohong, tidak minum minuman keras, tidak terlena dalam kesenangan makan-minum dan hiburan berlebihan, serta tidak melakukan perbuatan jahat, orang seperti ini memiliki hakikat kehidupan yang sejati. Hakikat kebaikan seseorang dan hakikat kehidupannya bergantung pada bagaimana ia sendiri menjaga dan memelihara sila serta disiplin dirinya. Apakah kalian mengerti? Kita harus memahami prinsip-prinsip ini dan menyadari makna serta alasan kita hidup di dunia ini. Mengapa kita harus hidup? Apa makna menjaga sila dan disiplin diri? Kita berada di Alam Manusia ini ibarat menggunakan dunia sebagai sebuah “platform” untuk menuju tempat yang lebih tinggi. Seperti halnya belajar di sekolah menengah pertama adalah untuk masuk ke sekolah menengah atas, dan belajar di sekolah menengah atas adalah untuk masuk ke universitas.
Oleh karena itu, kita harus menemukan guru sejati dalam kehidupan. Master bertanya kepada kalian, siapakah guru sejati dalam kehidupan? Guru sejati dalam kehidupan adalah sifat Kebuddhaan dalam dirimu sendiri. Menggunakan sifat Kebuddhaan dan sifat dasar diri sendiri untuk membimbing hidupmu, maka kamu telah memiliki seorang guru. Maka, seseorang yang memiliki hati nurani yang baik, sepanjang hidupnya tidak akan melakukan perbuatan yang salah, hati nurani itulah gurunya.
