22. Mengendalikan Kesadaran, Meningkatkan Pembinaan Diri dan Mencapai Pembebasan 控制意识 提升解脱

Mengendalikan Kesadaran, Meningkatkan Pembinaan Diri dan Mencapai Pembebasan

Master sering mengatakan kepada kalian tentang kesadaran kedelapan. Sebenarnya, kesadaran ketujuh adalah akar pikiran di dalam niat dan pikiran. Menurut prinsip “唯识 wei shi — hanya kesadaran (Vijnaptimatra)”, berdasarkan prinsip satu-satunya kesadaran, alaya vijnana adalah kesadaran kedelapan. Sedangkan kesadaran kesembilan sesungguhnya adalah alaya vijnana yang telah mencapai pengetahuan sejati. Kamu telah menguasai kesadaran kedelapan, berarti dirimu sudah dapat menyentuh gagasan atau prinsip Kebuddhaan di dalam ladang kesadaran kedelapan itu.

 

Master menasihati kalian, jika telah melakukan perbuatan buruk, jangan pernah menyimpannya di dalam hati. Jika perbuatan buruk itu masuk ke dalam kesadaran kedelapan, maka akar orang ini mulai membusuk. Pada tingkat kesadaran keenam sebenarnya masih tidak masalah, oleh sebab itu Sang Buddha mengatakan bahwa di dalam ladang kesadaran kedelapan hanya boleh menanam benih yang baik, tidak boleh menanam yang buruk. Jika menanam kebajikan, maka akar pikiran masih dapat diselamatkan, dan niat pikiran bisa segera diubah. Namun ketika telah sampai pada tingkat alaya vijnana, sebenarnya sudah mulai melihat sifat Kebuddhaan di dalam dirinya.

 

Master hari ini menjelaskan kepada kalian tentang menyaksikan sifat Kebuddhaan. Apa yang dimaksud dengan menyaksikan sifat Kebuddhaan? Ketika kamu menemukan sifat Kebuddhaan dalam dirimu, barulah dapat menyaksikannya. Misalnya, ketika kamu berbicara tentang Buddha Dharma dengan seseorang, awalnya ia tidak mau membicarakannya. Lalu perlahan kamu berbicara dari sisi prinsip dan contoh. Kamu berkata kepadanya: “Jika kamu melihat seseorang tertabrak mobil hingga meninggal, apa yang kamu rasakan?”Ia menjawab: “Saya akan merasa sangat sedih dan iba.”Maka di dalam kesadarannya sudah terdapat kesadaran Kebuddhaan, yaitu di dalam akar pikirannya sudah ada unsur kebaikan, mengerti? Dengan demikian, kamu dapat membangkitkan kesadaran spiritualnya.

 

Banyak psikolog yang melakukan penelitian, kesadaran seseorang bisa berubah. Dari kesadaran keenam berubah ke kesadaran ketujuh, lalu berubah lagi ke kesadaran kedelapan, dan masuk ke dalam ladang kesadaran kedelapan. Jika kesadaran yang baik ini ditanam dengan baik, maka kesadaran kesembilan kamu yang sesungguhnya adalah kesadaran Buddha, kesadaran Bodhisattva, dengan demikian, pikiranmu ini adalah sangat bersih, dan tidak akan melakukan kesalahan. Seperti yang sering dikatakan guru kepada kita waktu kecil: “Kamu harus menggunakan pikiranmu, kamu harus berpikir lebih dalam.”Yang dimaksud dengan “dalam” di sini adalah kesadaran, yaitu ladang kesadaran. Apakah kalian semua mengerti?

 

“Hanya kesadaran (Vijnaptimatra)” berarti mengetahui tingkat kesadaran spiritual pembinaan diri sendiri. Hari ini, dalam kesadaran saya yang satu-satunya ini, saya mengetahui bahwa saya harus membina diri, dan pembinaan diri saya harus ditingkatkan. Kita harus mengetahui tingkat kesadaran spiritual pembinaan diri dan tahapan dalam pembinaan. Kamu harus mengetahui pada tahapan mana kamu sedang berada. Sekarang kamu masih berada di Alam Manusia. Coba renungkan, jika saat ini kamu berada di Alam Sukhavati Buddha Amitabha,  apakah kamu termasuk tingkat atas bagian atas, tingkat atas bagian tengah, atau tingkat atas bagian bawah? Ataukah tingkat bawah bagian atas, tingkat bawah bagian tengah, atau tingkat bawah bagian bawah? Kamu harus memahami bahwa dalam belajar Buddha Dharma saat ini, apakah kamu masih berada pada tahap awal, tahap menengah, atau tahap lanjut. Kamu harus benar-benar mengenal dirimu sendiri, apakah saat ini kamu adalah orang yang baik atau orang yang jahat? Ketika menghadapi berbagai keadaan, bagaimana kamu menanganinya? Itulah yang disebut kesadaran.

 

Kita harus mengubah kebiasaan buruk, harus bisa memperbaiki bagian-bagian tidak bersih dari perilaku, ucapan, dan pemikiran. Dengan demikian, kesadaranmu akan naik ke tingkat yang lebih tinggi. Jika tidak, tetap akan berputar di dalam enam alam samsara. Sibuk membina diri sepanjang waktu tetapi tetap tidak bisa keluar dari enam alam, bukankah itu berarti pembinaanmu telah sia-sia? Seperti mengendarai mobil tetapi tidak mengenal jalan; berputar-putar terus, akhirnya tetap berada di tempat yang sama, mengertikah? Harus mengetahui dengan jelas jalan yang sedang kita tempuh dan pada tingkat mana kita telah melangkah. Kita harus memahami bahwa kerisauan harus diputuskan, dan kelahiran serta kematian harus diakhiri. Selama hidup di Alam Manusia, tujuan kita adalah memutuskan kerisauan batin. Setelah meninggal, tujuannya adalah mengakhiri siklus kelahiran dan kematian, meninggalkan enam alam samsara, barulah dapat menumbuhkan cahaya terang. Karena di dalam enam alam terdapat kelahiran dan kematian yang berulang, maka di sana penuh dengan penderitaan, dan tidak memiliki cahaya sejati. Hanya dengan keluar dari enam alam samsara, seseorang baru dapat memperoleh cahaya terang. Setelah memiliki cahaya itu, barulah hati menjadi terang, sehingga disebut hati yang murni. Mengembangkan bodhicitta berarti bertekad untuk membangkitkan kesadaran semua makhluk. Hari ini kita mengembangkan bodhicitta, yaitu untuk menolong dan membimbing semua makhluk menuju pembebasan.

 

Master mengatakan kepada kalian bahwa dalam belajar Buddha Dharma terdapat tiga hal yang sangat penting.

 

Pertama, harus belajar untuk mencapai tersadarkan dan pencerahan. Banyak orang mengatakan bahwa pencerahan muncul dari penyadaran sesuatu, sesungguhnya, potensi kesadaran dapat tumbuh melalui belajar Buddha Dharma dan bahkan dapat dirasakan. Lalu, dari mana datangnya “kesadaran”ini? Ia muncul dari proses belajar dan penyadaran dari dirimu sendiri. Tersadarkan berarti dirimu sendiri menyadari, belajar pencerahan adalah dirimu yang belajar untuk menyadari.

 

Kedua, harus berjalan di Jalan Dharma yang benar. Master telah menjelaskan: “wu zhi yi wu de, yi wu suo de gu — tiada kebijaksanaan juga tiada yang didapatkan, karena sesungguhnya tidak ada yang diperoleh.” Segala sesuatu datang dan pergi dalam kekosongan; pada akhirnya semuanya tidak memiliki keberadaan yang tetap. Jika direnungkan demikian, apa lagi yang sebenarnya bisa kamu miliki? Inilah yang disebut memahami kebenaran. Apa pun keadaannya, kita harus menghilangkan kebingungan terhadap dunia ini, serta menyingkirkan keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin. Dengan demikian, seseorang akan lebih mudah berada di jalan yang benar. Sebagai contoh, jika hari ini batinmu tidak lurus, lalu kamu pergi membimbing orang lain, ketika melihat orang ini, kamu merasa sangat menyukainya, lalu kamu membimbingnya. Membimbing orang adalah hal yang benar, tetapi karena di dalam hatimu ada rasa suka, melihat dia masih muda lalu timbul ketertarikan, sehingga kamu membimbingnya karena perasaan itu, maka sebenarnya kamu sudah tidak berada pada jalan yang benar lagi. Lalu, mengapa sesuatu yang disebut “benar” dapat menilai bahwa dirimu tidak benar? Pertama-tama, tanyakan pada dirimu sendiri, apakah di dalam hati sudah muncul keserakahan? Karena kamu menyukainya, berarti sudah ada unsur keserakahan, bukan? Di dalam keserakahan, kebencian, dan kebodohan batin, selalu ada salah satu yang muncul. Jika hari ini kamu tidak ingin membimbing seseorang, maka dalam menekuni Dharma, dirimu sudah menyimpang, karena di dalam hatimu ada kebencian, benar tidak? Hari ini ada banyak dari kalian yang melihat seseorang memiliki banyak uang, lalu berusaha keras untuk membimbingnya, bahkan berharap bisa sekaligus menjalankan bisnis dengannya. Ini adalah penyimpangan yang jelas, karena di dalamnya terdapat keserakahan. Oleh karena itu, jika tiga racun batin — keserakahan, kebencian, dan kebodohan tidak disingkirkan, maka hati dan pikiranmu tidak akan benar dan lurus.

 

Ketiga, harus memurnikan diri sendiri, yaitu setiap saat menjaga diri tetap bersih dan murni. Master memberi tahu kalian bahwa hati yang murni adalah yang paling sulit untuk dicapai. Coba kalian pikirkan, kalian yang datang kesini, jika meminta kalian duduk diam di sini dalam waktu yang lama tanpa bergerak, hampir semua orang tidak mampu duduk dengan tenang. Lihatlah para biksu biksuni, mereka dapat duduk di sana tanpa bergerak selama berjam-jam. Karena hati mereka tenang, maka mereka mampu duduk diam tanpa bergerak. Sebaliknya, kalian terus bergerak dan tidak bisa diam, hati kalian tidak bisa tenang, maka hati kalian baru akan bergerak. Apakah hal seperti itu bisa luput dari pengamatan orang lain? Pikirkanlah, karena tidak mampu menjaga hati tetap murni dan tenang, maka bisa membuat dirimu menjadi lebih dekat dengan ketersesatan.

 

Master pernah berkata kepada para murid, ketika pertama kali pergi ke Hong Kong, ada kerabat dari salah satu orang terkaya di sana yang mengundang kami makan. Master tidak memberitahukan hal ini kepada kalian, karena jika diberitahukan, banyak orang akan mulai gelisah dalam hati, berpikir, “Harus bagaimana dan bagaimana”, hati menjadi tidak bersih. Orang lain memiliki banyak kekayaan, apa hubungannya dengan dirimu? Uang orang lain tetap milik mereka, dan milikmu tetap milikmu. Apa yang kamu miliki, orang lain mungkin tidak memilikinya; dan apa yang dimiliki orang lain, kamu mungkin tidak memilikinya, itu adalah hal yang sangat wajar. Mengapa harus terseret ke dalam kebingungan dan penyimpangan? Mengapa harus tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran? Oleh karena itu, kita harus mengurangi nafsu keinginan dan memiliki pandangan yang bijaksana. Artinya, semakin sedikit keinginanmu, semakin banyak hal yang benar-benar dapat kamu lihat, dan barulah kamu dapat melihat hal-hal yang mengandung kebijaksanaan.

 

Sebenarnya, dalam belajar Buddha, berbagai aliran,  tradisi, pada akhirnya semuanya kembali pada dua jalan. Hari ini, karena banyak biksu agung yang hadir, maka Master menjelaskannya lebih mendalam. Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh. Satu adalah jalan pembebasan, dan satu lagi adalah jalan Bodhi (jalan pencerahan). Master menjelaskannya kepada kalian, apa yang dimaksud dengan jalan pembebasan? Yaitu meninggalkan enam alam samsara, sehingga pada kelahiran berikutnya tidak datang kembali, tidak lagi mengalami penderitaan. Lalu, apa yang dimaksud dengan jalan Bodhi? Yaitu bukan hanya diri sendiri yang ingin terbebas, tetapi juga mengembangkan bodhicitta, bertekad membimbing semua makhluk agar dapat mencapai pembebasan seperti diri sendiri. Sebenarnya, jika dijelaskan demikian, kalian akan memahaminya, satu adalah jalan pembebasan, yaitu membebaskan diri sendiri dari enam alam samsara, yakni memasuki tingkat Arahat, yaitu Alam Sravaka dan Pratyekabuddha. Sedangkan yang satu lagi adalah jalan Bodhisattva dan Buddha, yang bukan hanya membina diri sendiri hingga baik dan sempurna, tetapi juga menolong serta menyeberangkan semua makhluk menuju pembebasan. Apakah kalian dapat memahaminya?

 

Kalian telah lama membina pikiran, dan sekarang Master menjelaskan dua jalan yang paling penting. Dengan bahasa yang sederhana masa kini, dijelaskan demikian, jalan pertama adalah memperbaiki diri sendiri terlebih dahulu, tidak ada karma buruk dan arwah asing penagih hutang karma, menjadi bersih dan murni, sehingga mampu terbebas dari enam alam samsara, ini adalah jalan pembebasan. Jalan kedua adalah setelah mencapai pembebasan dan keluar dari enam alam, kamu kembali lagi untuk menolong dan menyelamatkan makhluk lain, menjalankan jalan Bodhisattva, inilah jalan Bodhi, yaitu mengembangkan bodhicitta. Kita harus memahami bahwa jalan pertama sebenarnya adalah Pratyekabuddha dan Arahat, yang termasuk jalan pembebasan. Ini adalah jalan untuk memutus kerisauan. Setidaknya, selama masih hidup di Alam Manusia, ia dapat terbebas dari kerisauan, barulah ia dapat mencapai pembebasan. Karena orang yang masih dipenuhi kerisauan tidak dapat memperoleh pembebasan.

 

Tiada perolehan, sesungguhnya berarti memutus kerisauan. Seperti yang baru saja Master jelaskan, tiada perolehan berarti di dunia ini sebenarnya tidak ada sesuatu yang benar-benar diperoleh. Tiada perolehan berarti tidak masalah, dan memahami cara memutus kerisauan. Bagaimana kerisauan muncul? Hari ini saya kehilangan sesuatu, atau hari ini saya mendapatkan sesuatu, dari situlah kerisauan mulai timbul. Lalu muncul pikiran: Mengapa saya kehilangan? Mengapa saya mendapatkan? Kerisauan pun muncul. Tiada perolehan, maka tidak ada yang benar-benar diperoleh, dan dengan demikian juga tidak ada yang hilang. Jika tidak pernah memperoleh, dari mana datangnya kehilangan? Sebagai contoh sederhana, jika kamu membeli lotere dan berharap menang, tetapi ternyata tidak menang, maka kamu merasa kehilangan. Namun jika sejak awal kamu tidak membelinya, bagaimana mungkin ada menang atau tidak menang? Maka tidak ada rasa kehilangan.

 

Tidak mengejar harta, rupa atau nafsu, ketenaran, makanan, dan tidur berarti memutus kerisauan. Tidak mengejar harta milik diri sendiri, tidak mengejar kenikmatan rupa atau nafsu, tidak mengejar ketenaran, tidak melekat pada makanan, dan juga tidak melekat pada tidur. Banyak orang tidur berlebihan, dan itu juga merupakan karma yang tidak baik. Tahukah kalian? Jika seseorang tidur lebih dari delapan jam, pikirannya bisa menjadi tidak jernih. Coba bayangkan, jika kalian tidur sepuluh jam atau lebih, setelah bangun apakah kaki terasa lemas dan kepala terasa pusing? Oleh karena itu, para Bodhisattva mengajarkan bahwa bahkan dalam tidur pun harus ada pengendalian. Tidur berlebihan juga merupakan bentuk keserakahan.

 

Harus dipahami bahwa tidak mengejar berarti memutus kerisauan. Jika saya tidak mengejar ketenaran dan keuntungan, maka kerisauan pun tidak ada lagi, benar tidak? Coba lihat banyak politikus, hari ini masih berkedudukan tinggi, tetapi begitu lengser, apapun tidak didapatkannya, benar tidak? Coba lihat, ada beberapa pemimpin di wilayah Taiwan yang ketika menjabat sebagai pejabat tinggi, sikapnya sangat sombong. Namun setelah turun dari jabatan, pada akhirnya tidak memperoleh apa-apa. Bahkan ada yang sampai dipenjara. Ketika ia masih menjabat tinggi, mengapa tidak lebih banyak memikirkan rakyat dan mengurangi keserakahan diri sendiri? Itu karena tidak memiliki kebijaksanaan.