Tekun Mendalami Satu Pintu Dharma adalah yang Paling Utama
Hari ini Master ingin menyampaikan kepada kalian semua, bahwa semua makhluk dan Bodhisattva sebenarnya adalah satu kesatuan yang tak terpisahkan. Sesungguhnya, ini ibarat sebuah keluarga, di dalam satu keluarga, jika ada satu anggota yang menderita, maka seluruh keluarga akan merasa sangat menderita; jika setiap anggota keluarga hidup dengan baik, maka seluruh keluarga pun akan menjadi baik. Perasaan dan hubungan antara semua makhluk dengan Bodhisattva sangatlah dekat, dalam satu keluarga jika ada satu orang yang merasa tidak nyaman, akan memengaruhi seluruh keluarga; jika satu makhluk mengalami penderitaan, Bodhisattva juga akan merasa sakit. Jika seorang Bodhisattva tidak memiliki hati welas asih, maka Beliau tidak bisa disebut sebagai Bodhisattva Mahasattva; kita hari ini adalah makhluk biasa, jika kita belajar Buddha Dharma namun tidak memiliki hati welas asih, maka kita bukanlah Bodhisattva Mahasattva. Oleh karena itu, Bodhisattva adalah lambang dari welas asih.
Oleh karena itu, jika kita sebagai praktisi Buddhis ingin menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan dengan Bodhisattva, kita harus terlebih dahulu memiliki hati welas asih. Kita harus bisa mengesampingkan kepentingan diri sendiri demi berwelas asih kepada orang lain, hati welas asih yang seperti ini disebut sebagai “Welas asih di titik tertinggi”. Apa artinya? Artinya adalah mampu merelakan diri sendiri demi berwelas asih kepada sesama, dan bukan hanya sekadar berwelas asih kepada orang lain namun tidak bersedia mengorbankan kepentingan pribadinya. Orang-orang semacam itu hanya bisa disebut memiliki welas asih yang umum. Welas asih yang sejati adalah mampu melepaskan keakuan pribadi demi menyempurnakan kepentingan universal. Dengan kata lain, orang yang mampu membantu semua makhluk hidup, barulah dia memiliki welas asih yang mencapai titik tertinggi. Mencintai orang lain melebihi mencintai diri sendiri, hal ini bukanlah sesuatu yang bisa dilakukan oleh orang biasa; hanya Bodhisattva yang dapat menggunakan tubuh-Nya sendiri untuk memikul dosa dan rintangan karma semua makhluk, oleh karena itu, penyakit semua makhluk secara alami berpindah ke tubuh Bodhisattva. Bodhisattva mengorbankan diri-Nya demi semua makhluk, ini adalah tindakan yang berasal dari tingkat kesadaran welas asih.
Ada sebuah pepatah yang berbunyi: “Jalan pegunungan yang terlalu berliku membuat domba binasa”, artinya jalan di pegunungan itu berkelok-kelok, domba ini mencari ke sana kemari namun tetap tidak bisa menemukan jalan pulang; ia terus berjalan dan berjalan di atas gunung, tidak pernah bisa berhenti, hingga akhirnya mati karena kehabisan tenaga. Ada pula pepatah yang berbunyi: “Pembinaan diri dengan terlalu banyak Dharma akhirnya kehilangan nyawa”, artinya di saat seseorang sedang membina diri, karena mempelajari terlalu banyak pintu Dharma, yang ini ditekuni sedikit, yang itu ditekuni sedikit, hingga pada akhirnya, dia tidak berhasil mencapai apa pun dalam pembinaannya, namun nyawanya sudah berakhir. Inilah hal yang harus kita waspadai; di dalam perjalanan proses menekuni Dharma dan membina pikiran, kita tidak boleh goyah dan tidak berpendirian.
Ada terlalu banyak orang di antara kita yang merasa pintu Dharma ini bagus, pintu Dharma itu juga bagus, namun pada akhirnya, dia justru tidak mempelajari pintu Dharma yang benar-benar baik bagi dirinya sendiri. Dalam membina diri dan mempelajari Dharma, jangan lagi mengejar dan mempelajari terlalu banyak hal, karena kita sudah memilikinya. Kita jangan lagi memiliki sifat serakah dan menganggap ini bagus maupun itu bagus. Sebenarnya, “bagus” yang ini memiliki alasannya sendiri, “bagus” yang itu memiliki prinsipnya sendiri, sedangkan “bagus” yang kita miliki ini memiliki prinsip Buddhisnya sendiri. Semuanya memiliki prinsip yang sama, tergantung pada mana yang kamu pilih. Oleh karena itu, dalam membina Dharma jangan lagi mencari-cari ke mana-mana, cukup fokus menekuni satu Dharma saja sudah cukup, cukup fokus menekuni satu Pintu Dharma saja. Selama kamu mampu menggenggam Sifat Kebuddhaan dan sifat dasar kamu, maka kamu tidak akan menyimpang. Dalam menekuni Buddha Dharma, tidak peduli Buddha Dharma apa pun yang kamu pelajari, selama kamu ingat bahwa dirimu adalah Bodhisattva, dirimu adalah Buddha, maka kamu tidak akan menyimpang.
Kita sebagai semua makhluk , dalam seumur hidup telah melakukan terlalu banyak kesalahan. Kong Zi pernah berkata: “Aku belum pernah melihat orang yang benar-benar mencintai kebajikan.” Artinya, beliau belum pernah melihat orang yang sangat beretika. Kong Zi juga berkata: “Seorang budiman yang jujur, aku belum pernah melihatnya.” Dengan kata lain, seorang budiman yang jujur pun tidak terlihat, orang yang beretika pun sangat sulit ditemukan. Oleh karena itu, jika seseorang mau belajar menjadi orang baik dan melakukan sedikit kebajikan, asalkan dia bisa bertahan dan memiliki keteguhan hati, hal itu sudah merupakan sesuatu yang sangat luar biasa.
Semua makhluk setelah melakukan kesalahan, bagi mereka yang tidak memiliki kesadaran sejati, meskipun telah melakukan pertobatan, namun karena tidak mampu menahan godaan, mereka akan kembali mengulangi kebiasaan buruk yang lama. Kelemahan seseorang adalah setelah berbuat banyak kesalahan, dia tahu untuk bertobat, namun setelah beberapa waktu berlalu, dia tidak bisa membendung godaan; ketika hal tersebut kembali menggoda dirinya, dia pun kembali mengulangi kebiasaan buruknya. Sama seperti sebagian orang ketika bertemu dengan uang, godaan itu datang; sebagian orang saat bertemu dengan nafsu, godaan itu datang, dia tidak mampu menahannya, padahal dia pernah melakukan kesalahan yang sama sebelumnya. Dulu dia pernah menampar mulutnya sendiri dan berkata, “Saya tidak akan melakukannya lagi,” namun saat godaan datang, dia kembali mengulangi kebiasaan buruknya. Inilah yang menyebabkan dia melakukan kesalahan pertama, kedua, ketiga, hingga pada akhirnya, inilah alasan dirinya tetap tidak bisa berubah. Sangat kasihan, orang-orang ini tidak bisa memperbaiki kebiasaan buruk pada diri mereka; jika tidak bisa memperbaikinya, maka dia tidak akan mendapatkan pertobatan yang sejati.
Sesungguhnya, membina pikiran itu harus dilakukan dari dalam hati. Master berkali-kali menyampaikan kepada kalian, orang yang belajar Buddha Dharma dan membina pikiran harus memulainya dari dalam hati. Harus tekun mendalami satu pintu Dharma, mulai dari dalam hati, yakni satu kata “Ketulusan”; tekun mendalami satu pintu Dharma berarti memiliki satu kata “Keberanian”. Semuanya harus ingat, seseorang yang terus melangkah maju dengan gagah berani, berarti dia sedang belajar, membina diri, dan membina pikiran dengan sekuat tenaga.
Orang yang belajar Buddha Dharma, asalkan sudah selaras dengan Buddha, maka kamu akan bisa menjadi Buddha. Apa yang dimaksud dengan selaras? Jika kata-kata yang kamu ucapkan hari ini adalah kata-kata mutiara Buddha, jika tindakan yang kamu lakukan hari ini adalah tindakan Bodhisattva, dan jika semua yang kamu lakukan hari ini selaras dengan Bodhisattva, maka kamu akan bisa menjadi Buddha. Pada biasanya, saat muncul sedikit saja benih kebaikan di dalam pikiran seseorang, maka pada saat itu juga Bodhisattva segera hadir. Oleh karena itu, harus sering membangkitkan pikiran baik, maka Bodhisattva akan selalu berada di dalam tubuhmu; begitu satu pikiran baik muncul, Bodhisattva datang; begitu satu pikiran sesat muncul, Bodhisattva pun pergi. Di saat menjelang ajal, dengan satu pikiran melafal nama Buddha atau mengingat Buddha, seseorang bisa langsung terlahir di Alam Sukhavati. Hal ini merujuk pada upaya sehari-hari dalam melakukan kebajikan, mengumpulkan jasa kebajikan, menekuni Dharma dan membina pikiran, serta tidak melakukan perbuatan buruk; barulah pada saat itu satu niat pikiran tersebut benar-benar dapat memancarkan energinya, sehingga dia bisa terlahir di Alam Sukhavati. Jika seseorang bisa langsung masuk ke Alam Sukhavati, dia memiliki satu keuntungan, yaitu tidak perlu melewati tahap Alam Antarabhava, artinya tidak perlu pergi ke alam bawah untuk menunggu penghakiman, dan ini adalah hal yang sangat baik.
Jangan mempelajari terlalu banyak Pintu Dharma, harus tekun mendalami satu Pintu Dharma. Master telah memberitahu kalian, bahwa 84.000 Pintu Dharma adalah Pintu Dharma yang muncul karena disesuaikan oleh Buddha dan Bodhisattva berdasarkan 84.000 jenis kerisauan manusia; sesungguhnya Pintu Dharma tersebut bertujuan untuk membantu berbagai macam orang sesuai dengan kebutuhannya masing-masing. Ini ibarat mengendarai mobil sekarang; ada orang yang membeli mobil Jerman, ada yang membeli mobil Jepang, dan ada yang membeli mobil Australia. Tidak peduli mobil apa pun yang kamu beli, di setiap jenis mobil pasti ada beberapa fitur yang tidak dimiliki oleh mobilmu; ada mobil yang bisa menutup jendela secara otomatis, ada mobil yang bisa membuka pintu belakang secara otomatis, dan sebagainya; pokoknya pasti ada fungsi yang berbeda-beda. Tidak mungkin semua fitur terbaik terkumpul dalam satu mobilmu saja. Inilah yang disebut dengan “Tiada manusia yang sempurna, tiada emas yang benar-benar murni”. Mana ada orang yang sempurna, mana ada emas yang 100% murni. Harus dipahami bahwa dengan tekun mendalami satu Pintu Dharma, maka bisa menjadi Buddha dalam kehidupan ini juga. Karena kamu telah tekun membina diri, maka Buddha akan senantiasa bersemayam di dalam hatimu, kamu pun bisa menjadi Buddha dalam kehidupan ini juga, dan memancarkan tujuh warna cahaya Buddha; dengan kata lain, seluruh cahaya berwarna-warni pada tubuhmu akan terpancar keluar.
Kita dalam belajar Buddha Dharma, di saat masih muda kita bisa mengandalkan daya ingat yang baik untuk lebih banyak mendengar dan lebih banyak belajar. Namun saat mencapai usia paruh baya, itulah saatnya kamu harus memilih bidangmu; ini ibarat seorang anak yang sudah duduk di bangku SMA, kamu harus memilih satu Pintu Dharma untuk ditekuni secara mendalam. Oleh karena itu, saat seseorang mencapai usia paruh baya, dia harus tekun mendalami satu Pintu Dharma, mencari seorang guru yang tercerahkan, dan menetapkan Pintu Dharma mana yang akan ditekuni seumur hidupnya. Coba kalian perhatikan, baik dalam pekerjaan maupun bisnis, banyak orang yang berganti haluan di tengah jalan, bisnis atau kariernya sering kali tidak bisa melampaui orang yang terus-menerus menekuni bidang tersebut. Hal ini karena dalam setiap bidang pasti ada ahlinya, dan setiap bidang memiliki rahasia keberhasilannya sendiri. Jika kamu ingin mengambil pengalaman orang lain menjadi milikmu sendiri, itu sangatlah sulit, karena pengalaman itu didapat dari akumulasi yang terus-menerus.
Di masa muda harus banyak mendengar, yaitu banyak menyimak; di usia paruh baya harus fokus membina satu Dharma; di masa tua jangan memikirkan apa pun lagi, cukup pikirkanlah memohon untuk terlahir di alam suci—hari ini saya belajar Buddha Dharma dan membina pikiran, saya tidak ingin memikirkan apa-apa lagi, di usia saya yang sudah lanjut ini, apalagi yang perlu dipikirkan, apa pun Pintu Dharma ini atau Pintu Dharma itu, tidak ada lagi yang perlu dipikirkan, fokuslah memohon untuk terlahir di alam suci, benar-benar harus melepaskan keduniawian diri sendiri. Kita harus mengerti, di masa tua, jika kamu masih ingin membina setiap Dharma, semuanya ingin kamu lakukan, semuanya ingin kamu mohon, dan di usia senja kamu masih merasa tubuhmu sehat, masih bisa mencari uang, masih bisa begini dan begitu, pada akhirnya, tidak ada satu pun Pintu Dharma yang bisa kamu dapati, kamu tidak akan berhasil mencapai apa pun dalam kehidupan ini. Inilah kalimat pertama yang Master sampaikan di awal kelas hari ini: “Pembinaan diri dengan terlalu banyak Dharma akhirnya kehilangan nyawa.” Nyawa sudah berakhir, sudah tidak ada waktu lagi, mengerti?
