11. Meneladani Buddha dan Menekuni Dharma, Berbahagia Tiada Kerisauan 学佛学法 快乐无忧

Meneladani Buddha dan Menekuni Dharma, Berbahagia Tiada Kerisauan

Pikiran harus menyatu dengan alam semesta. Apakah yang dimaksud dengan “menyatu”? Misalnya, hari ini suasana hati saya buruk, namun Surga tidak akan bisa menerima hati saya yang buruk ini, oleh karena itu, hati – pikiran saya ini telah meninggalkan ruang alam semesta, maka saya tidak akan bisa terhubung dengan medan aura Surga, dan saya akan tertimpa kesialan. Ketika pikiran – hatimu bisa menyatu dengan hati Surga dan prinsip kebenaran Surgawi, melebur menjadi satu, seperti pepatah Tiongkok kuno dulu yang berbunyi, “menegakkan kebenaran untuk Surga”, apakah kalian mengerti? Apakah hal yang kamu lakukan ini sesuai dengan kehendak Surga? Apakah masih ada Hukum Surga? Bahkan hal seperti ini, kamu juga berani melakukannya? Itu berarti hati-pikiran kita sudah terpisah dengan Surga.


Setiap kata yang diucapkan Master mengandung energi positif, coba kalian dengarkan berulang kali, pasti akan memperoleh berkat kekuatan energi spiritual. Semoga kalian bisa memandang kealamian secara fleksibel, semoga kalian bisa memiliki hati yang mampu menaungi alam semesta, semoga hati – pikiran kalian bisa menyatu dengan alam semesta. Bagimana pikiranmu berpikir, harus sesuai dengan kehendak Surga. Hari ini saya melakukan perbuatan baik, yang saya lakukan sesuai dengan kehendak Surga; hari ini saya menolong orang, bahkan Bodhisattva pun akan berwelas asih pada saya. Kalau kamu tidak melakukan perbuatan jahat, hanya terus melakukan perbuatan baik, bukankah berarti yang kamu lakukan sesuai kehendak Surga? Kamu tidak perlu khawatir orang lain akan mencelakakan kamu, perbuatan yang kamu lakukan sendiri, jika membuat dirimu sendiri merasa takut, membuatmu merasa tidak sama dengan Surga, maka akan mendatangkan malapetaka di dunia, sesungguhnya ini berarti kamu sedang mencelakakan diri sendiri. Jika hatimu lapang, kamu merasa kalau kamu tidak bersalah pada Surga, tidak bersalah pada orang-orang, tidak bersalah pada bumi, maka coba katakan, apa yang kamu takutkan? Hari ini kalian mengikuti Master menekuni Dharma, segala perbuatan Master dalam membabarkan Dharma dan menyelamatkan kesadaran spiritual orang-orang, dapat disampaikan melalui siaran radio, dan juga dapat dimuatkan di surat kabar, dan kalian setiap hari mengikuti Master dalam menyelamatkan orang-orang, apakah kalian masih takut akan didatangi arwah asing?


Satu sumber yang sama, dengan kata lain, hati – pikiran manusia, pada dasarnya berasal dari satu sumber. Alam semesta adalah kamu, menekuni Dharma dan membina pikiran sesungguhnya untuk membuat hati-pikiran kamu menyatu dengan alam semesta. Kalian harus serius, materi yang Master bahas memiliki makna yang sangat mendalam. Pada saat Master mengadakan Seminar Dharma, Master suka memberi contoh, karena kalian semua adalah orang yang memiliki pembinaan diri. Pahamilah, bahwa menekuni Dharma dan membina pikiran, harus memahami, “ada gerakan di tengah keheningan, dan ada keheningan di tengah gerakan”. Contoh sederhana, seseorang yang setiap hari melafalkan paritta di rumah, termasuk “diam – hening”, jika kamu setiap hari melafalkan paritta, namun tidak pergi menolong kesadaran spiritual orang-orang, tidak pergi melakukan perbuatan baik, berarti kamu sedang “diam”, kamu tidak bergerak, maka kamu akan sama seperti kebanyakan biksu dan biksuni. Sekarang, biksu dan biksuni pun keluar menolong dan membangkitkan kesadaran spiritual orang-orang, itu berarti mereka ada gerakan di tengah keheningan. Kita memang hidup di Alam Manusia, dalam keadaan “diam – hening” kita menekuni Dharma dan melafalkan paritta, selain itu, kita juga menolong kesadaran spiritual orang-orang dalam praktik nyata.


Sewaktu Master tidak berada di Dong Fang Tai – 2OR Australia Oriental Radio, kalian orang-orang yang bertugas harian, bukankah akan merasa sangat sepi, hati kurang tenang, dan seperti tidak ada pegangan? Xiao Ma berkata, saat Master tidak ada, hatinya terasa kacau-balau, tidak bisa tenang. Kalian harus tahu, dalam menekuni Dharma harus tenang, juga harus bergerak. Seperti Master berbicara dengan kalian, sebentar pelan, sebentar suara lebih kencang, dengan seperti itu, baru bisa ada daya tariknya. Apabila saat Master berbicara, suara Master semuanya datar, menurutmu, siapa yang tidak akan merasa risau? Kita sewaktu berbicara harus berirama naik turun, oleh karena itu, kita dalam menekuni Dharma juga harus sebentar memperkenalkan Dharma kepada orang lain, sebentar lagi melakukan jasa kebajikan, lalu tiba-tiba kita bisa duduk dengan sangat tenang melafalkan paritta di rumah, ini adalah praktik Zen. Saat melafalkan paritta, tubuh kita berada dalam keadaan hening – diam, akan tetapi pemikiran dan medan aura kita tetap bergerak, energi chi terpusat pada titik “dan tian”, bukankah ini yang dinamakan “ada gerakan di tengah keheningan”? Memangnya saat kamu duduk di sana melafalkan paritta, kamu benar-benar tidak bergerak? Tentu tidak, pemikiranmu masih bergerak: “Guan Shi Yin Pu Sa, mohon berkati saya.” Bukankah berarti pemikiranmu sedang bergerak? Ketika kamu sedang melafalkan paritta, bukankah energi chi kamu sedang bergerak? Ada keheningan di tengah gerakan, misalnya saat kita bersembah sujud dan memasang dupa, bukankah berarti kita sedang bergerak? Namun pada saat ini, pemikiranmu harus dijaga – harus tenang, meskipun tubuhmu bergerak, akan tetapi pemikiran dan energi chi harus dijaga, tetap stabil dan tenang, inilah yang dinamakan ada gerakan di tengah keheningan. Sama seperti banyak orang yang latihan taichi, kelihatannya dia sedang bergerak, namun sesungguhnya, hati-pikirannya tidak bergerak, jika ditilik dari sudut pandang konsentrasi Zen, ini dinamakan memasuki Samadhi – berarti memasuki tingkat konsentrasi pikiran yang lebih tinggi.


Rahasia besar dari perubahan alam semesta, adalah ada gerakan di tengah keheningan, dan ada keheningan di tengah gerakan. Baru saja kondisi sedikit lebih stabil, keluarga di rumah selamat sejahtera, tidak terjadi masalah apapun, namun bisa segera muncul masalah juga, ini namanya ada “gerakan”. Karena adanya masalah ini, lalu kamu menggunakan banyak cara untuk menyelesaikannya, dan kamu kembali menjadi tenang. Selanjutnya, kamu baru saja tenang, tidak lama kemudian kembali terjadi satu masalah, inilah rahasia unik dari alam semesta.


Dunia yang tidak kekal tidak bisa menetap untuk selamanya, oleh karena itu, jika kamu ingin selamanya menjaga kestabilan di alam semesta ini, menjaga kedamaian secara abadi, itu tidak mungkin. Semua masalah baru saja terselesaikan semua, mengira bisa menghela napas lega, namun selanjutnya malah jatuh sakit, apakah kamu mampu menjamin kedamaian alam semesta besar dan kecil milikmu? Tidak ada satu hari yang bisa damai. Manusia hidup di dunia ini sangat menderita, kita datang ke dunia ini memang tidak dibiarkan untuk hidup tenang, memang memberikanmu kerisauan seumur hidup, oleh karena itu, satu-satunya caramu di dunia ini adalah dengan menghilangkan kerisauan, karena kerisauan ini akan datang secara terus-menerus. Seperti yang kita katakan, ketika datang di dunia ini, kamu setiap hari harus makan, kalau pada suatu hari nanti kamu tidak makan, maka kamu bisa mati kelaparan. Oleh karena itu, kamu harus mempersiapkan bahan pangan yang cukup untuk mengisi perutmu, sama halnya, kamu harus memiliki kebijaksanaan yang memadai untuk mengatasi kerisauan seumur hidupmu.


Seseorang bisa menunjukkan wajah yang bahagia, kelihatannya sangat senang dan penuh senyum, akan tetapi, kepedihan dalam lubuk hati tidak akan bisa kamu pungkiri. Kalau hanya kelihatan senang dari permukaan saja, apa gunanya? Hatimu merasa sangat sedih dan terluka, saat bertegur sapa dengan orang lain, secara permukaan hanya membicarakan hal-hal yang menyenangkan, tidak membicarakan hal-hal yang menyedihkan. Asalkan kita hidup di dunia ini, kalau kamu mengatakan jika keadaan kamu luar biasa baik, berarti kamu sedang membual. Apabila kamu merasa diri sendiri benar-benar sangat baik sekali, berarti kamu sedang membius diri sendiri. Jika kamu berada di tengah penderitaan, namun masih merasa tidak menderita, itu lebih berbahaya.


Manusia seumur hidupnya sukar terhindar dari kepedihan, empat penyebab yang secara langsung menciptakan kepedihan bagi kalian adalah: lahir, tua, sakit, dan mati. Sewaktu dilahirkan sangat menderita, setelah menjadi tua juga sangat menderita, kalau sakit lebih menderita, menjelang ajal, merasa takut setengah mati, lebih menderita lagi karena tidak ingin mati.


Bukankah hati – pikiran manusia terpaut satu sama lain? Sekalipun hanya terpaut sedikit masalah asmara, kamu juga tidak kuasa untuk memutuskannya, kalau dibereskan malah semakin kusut. Coba kamu lihat, kalau kalian tidak memiliki kerisauan, alangkah bahagianya? Itu adalah sukacita yang tidak terbatas, itu karena orang lain telah memandang kamu sebagai teman se-Dharma. Jika kamu pergi membeli barang ke sebuah toko, karena kamu sudah lama tidak pergi ke sana, sehingga si penjual toko akan menunjukkan muka yang masam. Maka, coba renungkan, jika seseorang bisa membuat orang lain memperlakukannya dengan baik, bisa membuat orang lain mengasihinya, ini bukanlah hal yang mudah. Semuanya adalah jodoh Kebuddhaan, maka kalian harus memahami kalau ini  adalah jodoh Kebuddhaan.


Kita harus membuat diri sendiri benar-benar berbahagia, yakni sukacita yang benar-benar hanya keluar dari dalam lubuk hati, itulah kebahagiaan sejati. Dengan kata lain, kita benar-benar bahagia luar dalam, itu barulah kebahagiaan sejati. Kebahagiaan sejati harus keluar dari dalam lubuk hati, itu baru adalah kebahagiaan yang nyata dan abadi. Ada orang yang saat tertawa, hanya berpura-pura, karena dia tidak bisa tertawa, namun orang yang benar-benar bisa tertawa, merasa bahagia dari dalam sampai ke luar, senang bukan? Seseorang hari ini pergi potong rambut, tujuannya memang ingin dipuji. Ketika kalian melihatnya lalu berkata, “Wah, potong rambutnya bagus sekali”Saat itu, dari dalam hati hingga luar dirinya, ia merasa sangat bahagia; apabila hasil potongannya tidak bagus, orang lain tetap memujinya, dia sendiri juga tidak akan tertawa – tidak akan merasa senang.


Oleh karena itu, kita harus benar-benar memahami hakikat kebahagiaan sejati dalam ajaran Buddha Dharma, benar-benar memahami apakah yang disebut sebagai sukacita dalam menekuni Dharma: sukacita karena membantu orang lain adalah kebahagiaan, orang bisa membantu orang lain itu adalah kebahagiaan; orang yang bisa berpikiran terbuka menghadapi masalah apapun, ia juga memiliki kebahagiaan. Sewaktu seseorang berpikiran buntu, apakah menderita atau tidak? Jangan biarkan diri sendiri berpikiran buntu, maka ajaran Buddha Dharma mengatakan, menjadikan kebahagiaan – sukacita sebagai dasar, berorientasi pada kebahagiaan. Kita sebagai manusia dan hidup di dunia ini, kita harus menjadikan kebahagiaan sebagai akar dasar. Lalu dari mana datangnya kebahagiaan? Ia datang dari membantu orang lain, dari berpikiran terbuka terhadap segala hal. Kalau kita selalu berpikiran buntu dalam menghadapi segala hal, kita sama sekali tidak akan memiliki kebahagiaan.


Kita harus mengikuti empat moralitas dalam ajaran Buddha Dharma. Ada empat macam moralitas dalam ajaran Buddha Dharma, sewaktu Master di Singapura, dalam kata-kata Mutiara Buddhis yang Master berikan pada kalian, salah satunya ada “meneladani moralitas Buddha”, akan tetapi kalian pun tidak tahu di mana moralitas Buddha? Moralitas Buddha memiliki empat unsur dasar, yakni “chang, le, wo, jing” – keabadian, sukacita, diri sejati, kesucian. Karena setelah memiliki empat karakter moralitas ini, kamu akan sering merasa bahagia, pikiranmu akan senantiasa bersih, ini dinamakan “chang, le, wo, jing – keabadian, sukacita, diri sejati, kesucian”.


Yang pertama adalah “chang de” – moralitas keabadian, dengan kata lain, moralitas baik harus selalu ada, selamanya ada, dan dimiliki untuk jangka panjang. Yang kedua adalah “le de” – moralitas sukacita, dengan kata lain, kamu mengamalkan kebajikanmu dengan penuh kebahagiaan, dalam melakukan segala hal-hal yang bermoral baik, kamu akan merasa bahagia. Sewaktu menyebarkan ajaran Buddha Dharma, kita bisa memperoleh sukacita yang abadi, moralitas keabadian, dan moralitas sukacita. Yang ketiga adalah “wo de” – moralitas diri sejati, yakni karakter moral diri saya sendiri, moralitas yang pada dasarnya dimiliki manusia, karakter baik yang seharusnya dimiliki oleh seseorang. Apakah kamu ini adalah orang yang bermoral? Apakah kamu memiliki moralitas yang baik? Mana boleh meludah sembarangan? Kamu, adalah “Aku”; atau saya, yaitu diri sendiri. Oleh karena itu, sewaktu orang lain menunjuk kamu berarti mengkritik kamu, ini adalah “wo de” – moralitas diri sejati. Kita sendiri harus memiliki karakter moral yang lebih baik, seperti saat orang lain sedang melakukan jasa kebajikan dengan mendanakan sedikit makanan, diri sendiri karena lapar, lalu makan sebanyak-banyaknya. Ada orang yang memberitahu Master, pacar perempuan dari teman se-Dharma yang tinggi itu, di sini setiap melafalkan paritta 5 menit, lalu keluar dari Guan YinTang untuk makan, melihat makanan suka makan sebanyak-banyaknya, kalau begitu, memalukan atau tidak? Kamu itu sesungguhnya datang untuk melafalkan paritta atau untuk makan? Jadi moralitas diri sejati sangatlah penting, moralitas diri sendiri sebenarnya adalah moralitas kamu, apakah kamu memiliki moralitas-moralitas ini? Apakah kamu pernah memikirkan orang lain? Master kali ini telah mempersiapkan materi Dharma yang bagus sebagai naskah pidato di Universitas Harvard, setiap kali, Master pasti membicarakan hal-hal yang baru. Moralitas keempat adalah “jing de” – moralitas kesucian, moralitas baik yang dimiliki harus bersih, karakter moral harus bersih, pasti harus bersih suci, moralitas yang tidak bersih disebut sebagai watak atau tabiat, bisa dimarahi orang lain, benar tidak? Maka harus bersih atau tidak?


Apabila kamu mengikuti empat moralitas ini, sering mempraktikkan moralitas keabadian, moralitas sukacita, moralitas diri sejati, moralitas kesucian, maka saat kamu menghadapi masalah, pasti akan memperoleh “kebajikan”, misalnya, hari ini saat saya ingin membantu dia, saya merasa sangat senang, saat kamu sedang membantu orang lain, kamu merasa senang, maka kamu memperoleh moralitas sukacita. Sewaktu saya sedang membantu dia, yang saya katakan semuanya adalah kenyataan, saya memiliki moralitas baik. Ketika saya membantunya, saya tidak mengharapkan balasan dari dia, saya hanya ingin membantu dia, berarti kamu tidak egois dan sangat bersih, memperoleh moralitas kesucian, benar tidak? Kemudian, karena saya sering membantu orang lain dengan demikian, berarti saya memperoleh moralitas keabadian, luar biasa bukan? Kita menekuni Dharma harus mempelajari pengetahuan seperti ini, kalian mendengarkan ajaran Dharma, juga harus belajar hal-hal seperti ini.


Dulu ada banyak orang yang menekuni Dharma namun pada akhirnya mundur dan menyerah, ini tidak bisa dihindari. Ada sebagian orang yang hanya tahu bersembah sujud, meminta batang ramalan, sembahyang, dan pasang dupa, namun tidak memahami prinsip kebenaran, kalau begitu bagaimana kamu bisa menekuni Dharma dengan baik? Menekuni Dharma berarti harus belajar Dharma sesuai aturan dan ajarannya. Kita menekuni Dharma berarti harus belajar bersikap dan berperilaku yang benar, harus dipraktikkan di dunia ini. Seperti kita bersekolah bukankah agar bisa digunakan untuk menghidupi diri sendiri nantinya? Kalau kamu bersekolah begitu lamanya, namun sesudahnya tidak bisa digunakan, lalu untuk apa kamu bersekolah? Jadi jika kamu menekuni Dharma begitu lamanya, namun sama sekali tidak ada manfaatnya, lalu apa gunanya ajaran Buddha Dharma di dunia ini bagimu? Mengapa kamu mempelajarinya? Ajaran Buddha Dharma tentu saja ada gunanya, namun tidak ada orang yang menjelaskannya, tidak ada guru yang bisa membimbing, tidak ada Master, makanya kalian menderita sampai sekarang. Akan tetapi sekarang, bisa ada guru seperti Master ini, ini sangat tidak mudah, maka hargailah baik-baik.