Tiada Kejahatan Sama Dengan Kebaikan
Kita harus memahami, bahwa dengan menggunakan kebijaksanaan ke dalam kehidupan sehari-hari, maka kamu akan “segera memperoleh ucapan murni Tathagata”. Dengan kata lain, asalkan kamu hidup dengan jujur apa adanya, berbicara jujur sesuai kenyataan, kalau hari ini bisa ya bisa, tidak bisa ya tidak bisa, kalau saya salah saya mengakuinya, maka kamu akan segera memperoleh ucapan murni Tathagata – bertutur kata dan berperilaku jujur dan tulus seperti Buddha. Bukankah Bodhisattva mengatakan kebenaran? Tathagata adalah sifat Kebuddhaan yang pada dasarnya kamu miliki. Orang yang bicara jujur bukankah dilakukan secara alami? Anak kecil mengapa mudah dimaafkan oleh orang dewasa? Karena dia jujur, kalau melakukan kesalahan, orang tua berkata: “Tidak apa-apa, lain kali lebih hati-hati.” Maka dia sudah memulihkan kembali sifat dasar Kebuddhaannya.
Master beritahu kalian, harus bisa menghargai tubuh yang abadi. Jika kamu sering menghargai sedikit demi sedikit diri sendiri, dengan tidak berbohong, tidak melakukan perbuatan yang buruk, tidak melakukan kejahatan, maka tiada seorang pun yang bisa mencelakakan kamu. Mengapa kamu takut melihat polisi? Karena kamu menerobos lampu merah, itu karena biasanya terdapat kebiasaan buruk dalam pikiranmu. Master mengajarkan kalian untuk memahami pentingnya menjaga tubuh yang abadi, tiada pemikiran yang jahat, tidak berbohong, maka tidak akan ada orang yang bisa menjahatimu. Kalau kamu bertanya pada orang yang ditangkap dan dipenjara: “Siapa yang mencelakakan kamu?” Terakhir dia akan berkata: “Saya sendiri yang mencelakakan diri sendiri.” Benar tidak? Kalau begitu, mengapa kamu bisa mencelakakan diri sendiri? Bukankah setiap orang sangat egois? Karena kamu sudah bukan dirimu yang semula, maka kamu baru bisa mencelakakan diri sendiri. Master berharap kalian setiap orang yang duduk di bawah sini bisa mendengarkannya baik-baik, maka kamu akan menerima kebijaksanaan dan energi Bodhisattva. Kita harus mengenali bahwa, “Saya tidak boleh lagi menjadi orang jahat, kita dulu sudah melakukan banyak hal-hal buruk, kita dulu sudah melakukan terlalu banyak kesalahan.” Kalian para perempuan sudah melakukan banyak hal-hal buruk, begitu juga dengan kalian para pria, hari ini kalian sudah mengikuti Master, jika masih memiliki niat jahat dan masih suka membual sepanjang hari, berarti kalian tidak serius pada Bodhisattva. Mengerti?
Oleh karena itu, seseorang yang memiliki tubuh abadi, maka tiada orang yang bisa mencelakakanmu, dan kamu juga tidak akan mencelakakan anggota keluarga. Pembahasan Master dengan kalian sangat mendalam, apa yang dimaksud dengan “mencelakakan anggota keluarga”? Sepasang suami istri, yang satu sering makan ikan segar, yang satu lagi tidak makan, terakhir yang satu meninggal lebih dulu, sedangkan yang satu lagi masih hidup, bukankah berarti orang yang meninggal telah mencelakakan orang yang masih hidup? Bukankah berarti kamu telah mencelakakan anggota keluarga? Apabila kamu sering berbohong, sering melakukan kejahatan, lalu kamu menerima balasan karmanya, kamu terserang kanker, maka pasanganmu harus merawat dan melayanimu, bukankah berarti kamu telah mencelakakan anggota keluarga? Kamu mengira kamu hidup sendirian di dunia ini? Oleh karena itu, kamu harus baik-baik menekuni Dharma, benar-benar menjadi orang yang baik hati, maka tidak akan ada orang yang bisa menjahatimu, tidak akan ada orang yang bisa menghancurkan keharmonisan keluargamu. Asalkan kamu menjalani hidupmu di rumah dengan lurus dan jujur, maka tidak akan ada orang yang bisa merusak rumah tanggamu. Banyak orang justru karena setiap hari bertengkar di rumah, baru bisa ada pihak lain yang masuk ke dalam rumah tanggamu, benar tidak? Sejujurnya, bukankah tetap dirimu sendiri yang merusak rumah tanggamu?
Kita harus bisa dipercaya, mengembalikan sifat dasar, baru bisa menuntaskan karma. Apakah yang dimaksud dengan “mengembalikan sifat dasar”? Yakni dengan mengeluarkan sifat dasarmu, sesungguhnya adalah dikembalikan pada dirimu, ini sama dengan sudah menemukan sifat dasar. Setelah sifat dasar dikembalikan padamu, maka karmamu pun sudah dibayar tuntas. Contoh sederhana, kamu memiliki sejumlah uang yang ditabung di luar negeri, sedangkan di Australia, kamu sudah berhutang uang pada orang lain, kamu berusaha dengan segala cara untuk mengeluarkan tabungan yang di luar negeri ini, kalau kamu tidak bisa “mengambilnya”, berarti kamu adalah seorang “pembawa karma”, berarti orang yang berhutang pada orang lain; tunggu sampai kamu sudah menemukan uang ini, berarti kamu sudah tidak berhutang lagi, selain itu kamu adalah orang yang kaya raya. Saat kalian sudah menemukan hati nurani dan sifat dasar diri sendiri, maka seluruh kebiasaan buruk pada diri kalian akan hilang dengan sendirinya; jika kamu tidak bisa menemukan sifat Kebuddhaan ini, berarti kamu adalah orang jahat, kamu adalah seorang pembawa karma.
Master berharap kalian bisa memiliki hati yang teguh, jangan merusak praktik Dharma pikiran sendiri, dengan kata lain, seorang praktisi Buddhis harus memperteguh tekadnya sendiri, jangan merusak praktik Dharma pikiran sendiri, yakni tindakan dalam Dharma yang dilakukan berdasarkan hati nurani diri sendiri. Karena pikiranmu sedang bekerja, menekuni ajaran Buddha Dharma – Buddha adalah Dharma, “praktik Dharma pikiran sendiri”. Dengan kata lain, perilaku saya sendiri dalam perjalanan menekuni Dharma, harus teguh.
Kita tidak boleh bersikap tidak hormat kepada para bijaksanawan, dengan kata lain, jika kamu tidak bisa bersikap rendah hati, malah sangat sombong sekali, maka kamu akan bersikap tidak hormat kepada bijaksanawan. “Bijaksanawan” di sini adalah penunjuk jalanmu, nahkodamu, gurumu, orang yang mengajarkanmu pengetahuan Dharma yang benar, dan lainnya. Satu kebaikan melambangkan kamu tidak memiliki kejahatan, oleh karena itu, di dalam setiap paritta besar, pertama ada “pria baik hati, dan wanita baik hati”, kebaikan hati ini, apakah kalian bisa melakukannya? Asalkan orang ini adalah pria yang baik hati, maka dia pasti tidak memiliki kejahatan sedikit pun. Apakah kalian adalah wanita baik hati? Kalian sudah memiliki terlalu banyak kejahatan, kalian tidak termasuk sebagai seorang wanita baik hati. Yang tidak memiliki kejahatan atau keburukan sama sekali, baru bisa disebut baik hati. Terhadap para bijaksanawan, misalnya terhadap Master kalian, harus bersikap hormat, jangan mengira kalau diri sendiri sudah menguasai sedikit ajaran Buddha Dharma, lalu menjadi sangat angkuh dan suka menonjolkan diri.
Kita harus meninggalkan “mulut jahat” – perkataan buruk, sama sekali tidak boleh mencaci-maki orang lain, kata-kata yang diucapkan keluar harus membawa kebaikan. Dengan kata lain, semua perkataan yang kamu sendiri ucapkan, harus bisa membawa manfaat bagi diri sendiri, juga membawa kebaikan bagi orang lain. Sekarang Master sedang mengajar kalian, apakah bermanfaat bagi Master sendiri? Bermanfaat. Apakah membawa kebaikan bagi kalian? Juga membawa kebaikan untuk kalian. Perkataan yang diucapkan harus didasari kebenaran, dulu ada satu pepatah yang berbunyi, “perkataan yang diucapkan harus dilaksanakan”, sekarang permintaan Master terhadap kalian tidak tinggi, cukup kata-kata yang diucapkan harus dilandasi dengan kebenaran, dengan kata lain, perkataan yang saya ucapkan hari ini, kalian harus mendengarkannya, meskipun saya masih belum bisa melakukannya, namun saya mengingatnya dalam hati. Maka, perkataanmu harus bisa membuat orang lain menerimanya, membuat mereka merasa kamu bisa dipercaya, tiada celah untuk dikritik, tidak membuat orang lain merasa kalau kamu sedang berbohong atau membual, kamu pun bisa mempertanggungjawab- kannya pada nurani diri sendiri dan juga orang lain.
Apabila seseorang bisa memperbaiki kebiasaan buruk pada dirinya sendiri, untuk menyebarluaskan perbuatan baik dirinya sendiri, maka orang ini akan menjadi semakin baik. Namun jika orang ini tidak mau mengubah kebiasaan buruknya sendiri, maka perbuatan baiknya akan menjadi semakin sedikit, perilaku buruknya semakin lama semakin banyak, dan nantinya akan menjadi seorang jahat.
Bila seseorang tidak omong kosong dan tidak menyimpang akan disukai oleh orang-orang yang bijaksana, di sini orang-orang yang bijaksana adalah orang yang memiliki kebijaksanaan. Misalnya, hari ini bos berkata padamu: ”Xiao Li, coba katakan pendapat kamu.” Jika dia bisa mengatakan pendapat satu dua tiga, dan mendengarnya, bosnya merasa jujur sesuai kenyataan, maka orang yang bijaksana pasti akan menyukaimu, karena kamu tidak mengatakan omong kosong, kamu tidak menyimpang, mengatakan apa yang seharusnya dikatakan, maka kamu akan disukai oleh orang yang bijaksana.
Di sini banyak orang di antara kalian yang suka bicara menyimpang. Sudah jelas melakukan kesalahan, tetapi kalian masih mengira kalau itu baik, sesungguhnya ini telah mencelakakan orang lain. Kalian memuji anak sendiri, sesungguhnya adalah mencelakakannya. Kalian di Guan Yin Tang mengatakan kekurangan diri orang lain, berarti kalian sedang membantu dia, bukan mencelakakannya. Semua anak-anak muda yang hari ini duduk di sini, kalau Master tidak mengatakan kekurangan kalian, maka kalian tidak akan menyadari kalau kalian adalah orang yang memiliki banyak kebiasaan buruk, justru karena Master sepanjang waktu mengkritik kalian, membuat kalian memperbaikinya, maka orang lain baru bisa memandang kalian sebagai orang baik. Perkataan Master masih bersifat fleksibel, dipandang orang lain sebagai orang baik, dengan kata lain, masih bukan orang baik yang sesungguhnya.
Dengan menggunakan kebijaksanaan untuk menjawab dan menjalin jodoh dengan semua makhluk, dengan kata lain, kita harus menggunakan kebijaksanaan dalam menjawab pertanyaan, untuk menjalin jodoh dengan semua makhluk, bisa memperoleh wibawa kebajikan tertinggi baik duniawi maupun surgawi. Seseorang yang memiliki wibawa dan kredibilitas baik, justru karena dia tidak berbohong, karena orang ini tidak berbohong, baru bisa memiliki wibawa dan bisa dipercaya. Dulu, orang yang suka berbohong, mana mungkin memiliki wibawa dan kredibilitas baik? Jika semua orang pun tahu dia adalah orang yang suka berbohong dan membual, apakah orang ini bisa memiliki wibawa dan kredibilitas baik? Apakah Surga akan memberikan wibawa padanya? Sudah hilang wibawa kebajikan duniawi dan surgawinya, tanpa wibawa, tidak akan memiliki akhlak yang luhur. Seperti orang tua yang sepanjang hari membual, anak kecil tidak akan hormat padanya: “Papa, kamu jangan membual lagi.” — — Dari mana wibawa kebajikanmu? Master beritahu kalian, harus bisa tidak memiliki kebohongan, berarti selamanya jangan ada kepalsuan. Kebohongan di sini adalah membual – bicara besar, yakni janji palsu. Selain palsu, juga adalah kebohongan, orang seperti ini mana mungkin memiliki wibawa kebajikan duniawi dan surgawi? Baik orang tua, maupun pejabat, jika sepanjang hari membual, mana mungkin memiliki moralitas baik? Coba kamu lihat, sewaktu pemilu di Australia, yang ini berkata, “Kalau saya terpilih sebagai gubernur, saya akan segera membuka lajur kereta api yang ini”, namun setelah terpilih, apakah lajur kereta apinya terbuka? Tetap belum dibuka. Apakah dia memiliki wibawa dan kredibilitas baik? Tidak ada, lalu dijatuhkan oleh orang-orang. Oleh karena itu, orang-orang memandang rendah para politikus, karena mereka sering berbohong.
Master berharap kalian bisa tulus dan sepenuh hati membina diri dan belajar Dharma, jangan menyia-nyiakan jiwa kebijaksanaan diri sendiri. Dalam melakukan hal apapun, harus sesuai dengan hati nurani diri sendiri, jangan berbohong, segala kekurangan kecil pada diri seseorang mungkin bisa mencelakakannya seumur hidup. Sebelumnya, Master mengatakan, satu tamparan seorang ayah membuat anaknya menjadi tuli, karena kebohongan anak ini menyebabkan penyesalan seumur hidup si ayah. Terkadang kita benar-benar tidak boleh bicara sembarangan, lebih baik sedikit bicara, juga tidak boleh sembarangan bicara, begitu perkataan keluar dari mulut kita, segera melambangkan bobot karakter dirimu. Banyak anak perempuan yang berparas cantik, berdiri diam di sana tidak bicara, namun para pria ingin mengundangnya berbicara, tahukah kamu mengapa? Karena dia ingin mengetahui bobot nilai dirimu. Begitu ucapan keluar dari mulut, bisa menunjukkan apakah kamu adalah orang yang berbobot atau tidak.
Master setiap hari membahas prinsip Dharma dunia dengan kalian, sama seperti seorang ayah yang tidak henti-hentinya menunjukkan kekurangan pada diri kalian, maka kalian harus tahu berterima kasih pada Master, memahami kalau Master benar-benar ingin membantu kalian, semuanya demi kebaikan kalian. Jika kalian tidak memperbaiki kekurangan pada diri sendiri, tahukah kalian, akan menjadi seperti apa diri kalian? Segala kekurangan kecil apapun semuanya mungkin bisa menyebabkan kematian seseorang, dengan kata lain, tidak boleh ada kekurangan pada diri kita, segala kekurangan kecil apapun bisa menyebabkan kekurangan besar. Master melihat kalian, ini tidak benar, itu juga tidak benar, maka Master menegur kalian, dan kalian harus menerimanya. Sebenarnya, kekurangan yang Master katakan, bagi kamu belum tentu adalah masalah yang sangat besar, namun akan berbahaya jika dibiarkan terus, mungkin bisa menimbulkan masalah besar. Selain itu, Master mengkritikmu, berarti sedang melatih semangat kesabaran dan ketekunan kalian, di masyarakat zaman sekarang, tidak ada orang yang mau mengatakan kekurangan orang lain, karena tidak ada orang yang mau menerima kritikan orang lain.
Dunia ini terlalu rumit, dunia ini terlalu jauh dari sempurna, ada terlalu banyak ketidakberdayaan di dunia ini, ada terlalu banyak kerisauan di dunia ini, kalau tidak membina pikiran, bagaimana kita bisa mengubahnya? Contoh sederhana, angin berpasir terlalu besar, sampai orang-orang tidak bisa membuka matanya, maka kalau kamu tidak mengenakan kaca mata, tidak memakai syal penahan pasir, kamu akan dikotori oleh debu pasir. Maka, kamu hidup di tengah masyarakat ini, kalau kamu tidak membersihkan diri sendiri, tidak menekuni Dharma, kamu akan tercemari dengan banyak kebiasaan-kebiasaan buruk.
“Jika tidak ingin diketahui orang lain, kecuali dengan tidak melakukannya”, hanya bisa diubah, tidak ada jalan lain. Sama seperti mengendarai mobil, saat kita melaju ke depan, agar tidak salah jalan, kita hanya bisa terus-menerus membenarkan arah tujuan kita, sebentar ke kiri sedikit, sebentar ke kanan sedikit, kita baru bisa mencapai tepian penerangan, tidak ada jalan pintas. Coba kalian lihat, mengambil jalan pintas pada akhirnya tetap saja adalah jalan yang jauh. Pada saat kita mengendarai mobil, kita sering berpikir bahwa jalan ini belum pernah dilalui, kalau jalan dari sini mungkin akan lebih dekat, kita sering menganggap benar, namun terakhir semakin jalan malah semakin jauh, selain itu mungkin malah tidak bisa menemukan jalan yang benar. Kalian setiap orang sudah pernah merasakannya sendiri dibandingkan Master, terkadang semakin panik, semakin kurang waktunya, malah bersikeras mencari jalan pintas, pada akhirnya malah ketemu jalan buntu. Dengan kata lain, sewaktu seseorang tidak bisa menemukan arah tujuan hidupnya, maka dia ingin mencari “jalan yang lebih pendek” untuk mengatasi masalah ini, namun terakhir jalan pintas ini malah mencelakakannya. Bukankah hidup kita juga demikian?
Sekian pembahasan Master pada hari ini, Master berharap kalian semua senantiasa merasa bersyukur, terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa.
