34. Menyeimbangkan Tubuh dan Pikiran, Menghilangkan Pikiran dan Pandangan Sesat — 调节身心 去除邪思邪见

Menyeimbangkan Tubuh dan Pikiran, Menghilangkan Pikiran dan Pandangan Sesat

Hari ini Master melanjutkan penjelasan kepada kalian semua, jika seseorang saat menekuni Dharma hanya fokus menyucikan dirinya sendiri, dan tidak tahu membantu Bodhisattva untuk menolong semua makhluk, maka orang tersebut pasti tidak akan mendapatkan pemberkatan dari Bodhisattva. Buddha dan Bodhisattva memang tujuannya untuk menyelamatkan semua makhluk, bukan hanya demi diri sendiri. Ibaratnya seperti seorang dokter, yang hanya memedulikan kesehatannya sendiri dan tidak mau mengobati orang lain, jika demikian, seberapa besar manfaatnya ilmu kedokteran yang kamu pelajari selama ini bagimu? Tentunya bukan untuk melayani dirimu sendiri. Jika kalian setiap hari masih saja berada di sini dan tidak sungguh-sungguh membina diri, maka kalian ini dinamakan menyia-yiakan waktu. Master memperingatkan kalian: Jangan berbohong lagi, jika tidak, tidak akan mendapatkan pemberkatan dari Bodhisattva. Orang yang selalu berbohong, bagaimana orang ini mampu menekuni Dharma dengan baik? Jadi, bagaimanapun juga harus memahami untuk tidak berbohong, mengikuti Buddha dan Bodhisattva bersama untuk menolong semua makhluk. Jika seseorang berkata: “Saya adalah seorang praktisi Buddhis”, makna dari kalimat ini adalah dirinya sendiri sangat bersih, sama seperti jika seorang dokter berkata: “Saya adalah seorang dokter”, dia mengerti ilmu kedokteran, tidak hanya dirinya sendiri tidak jatuh sakit, juga membantu orang lain agar mereka terjauhi dari penyakit dan mengobati penyakit yang diderita mereka.

 

Jika seseorang tidak mendapatkan pemberkatan dari Bodhisattva, maka akan menjadi orang yang hanya membina diri sendiri dan memperoleh manfaat sendirian. Yakni, seberapa besar ia membina diri, sebesar itu pula hasil yang didapat. Tidak membina maka tidak mendapatkan, namanya tiada pencapaian. Landasan dari setiap praktisi Buddhis itu berbeda, maka, kebijaksanaannya juga berbeda. Sama seperti kalian yang duduk di bawah ini, kebijaksanaan setiap orang dalam menekuni Dharma itu berbeda. Jika kalian duduk di sini dan memikirkan persoalan diri sendiri berarti termasuk tingkat kebijaksanaan yang rendah. Mengira bisa mengelabui, asal tidak ditegur oleh Master maka kamu dapat lolos begitu saja. Untuk apa kalian belajar Buddha Dharma? Belajar Buddha Dharma adalah untuk mengubah diri sendiri. Jika tidak mengubah diri, untuk apa kalian ke sini? Sibuk-sibuk datang ke sini seharian untuk berbual dan berbohong, untuk apa membuang-buang waktu?

 

Membina pikiran Bodhisattva, membina perilaku Bodhisattva. Meneladani Bodhisattva berarti harus membina pikiran Bodhisattva. Hanya dengan meninggalkan keduniawian, hanya dengan kesadaran spiritual melampaui Alam Manusia, maka pikiran dan sifatmu baru akan seimbang, jika tidak, kalian akan sangat susah untuk seimbang. Praktisi Buddhis harus memiliki keseimbangan hati/pikiran dan sifat. “Perilaku” yaitu saya menyelamatkan orang melalui tindakan, terlibat dalam keduniawian menyelamatkan orang. Yaitu harus menyelamatkan semua makhluk di Alam Manusia, maka ini dinamakan menyelamatkan orang dalam keduniawian. Ini baru kebijaksanaan agung, maka pikiran dan sifat seseorang tidak akan kehilangan keseimbangan. Bagaimana seseorang bisa kehilangan keseimbangan? Misalnya keegoisan, maka hati dan pikirannya akan kehilangan keseimbangan. Apabila yang ada dalam pikiranmu adalah menyelamatkan semua makhluk, maka kamu tidak akan kehilangan keseimbangan.

 

Master menuntun masuk ke dalam pintu Dharma, pembinaan tetap mengandalkan pada diri sendiri. Perhatikan apakah kesulitan kalian sendiri banyak atau tidak, maka akan tahu apakah kalian membina diri dengan baik atau tidak; lihat saja apakah masalah kalian sekarang banyak atau tidak, maka akan ketahuan apakah di kehidupan sebelumnya kalian membina diri dengan baik atau tidak. Banyak dari kalian ketika baru mulai menekuni Dharma dan masih lumayan bagus, tapi kenapa justru semakin belajar malah makin banyak masalah? Karena tidak membina dengan baik-baik. Harus mengerti untuk menyelamatkan semua makhluk, harus mengerti untuk keluar dari keduniawian. Asalkan kamu meninggalkan tempat perkelahian ini, kamu baru akan mengetahui siapa yang benar dan salah. Jika dirimu sendiri memang berada di dalam kerumunan ini dan berkelahi, memangnya kamu tahu siapa yang benar dan salah? Jika seseorang kehilangan keseimbangan (yang Master bahas di sini adalah tentang keseimbangan pikiran dan karakter), misalnya di dalam pikiran harus seimbang: saya sudah cukup, sifat dasar saya merasa masalah saya ini sudah tidak apa-apa lagi, saya berada di Alam Manusia dengan kondisi seperti ini sudah cukup, saya sudah puas; ini tidak ada, itu tidak ada masalah, saya juga sudah cukup. Bagaimana seseorang boleh menginginkan segalanya, apakah kamu sanggup menerimanya? Jika kamu menginginkan segalanya, pikiranmu akan kehilangan keseimbangan. Setelah kamu kehilangan keseimbangan, tubuh dan pikiranmu akan langsung terganggu; setelah itu kamu akan mudah marah, lalu jatuh sakit. Menginginkan terlalu banyak, mengira bahwa diri sendiri bisa melakukan segalanya. Meskipun kemampuanmu besar, dapatkah kamu melakukan segala hal di dunia? Bila seseorang dapat mencapai keseimbangan, maka adalah kebijaksanaan agung.

 

Jika seseorang menginginkan segalanya, maka dia tidak memiliki kebijaksanaan; menginginkan segalanya, berarti akan kehilangan keseimbangan dalam hatinya; seseorang yang kehilangan keseimbangan, maka tubuh dan pikirannya menjadi tidak seimbang. Jatuh sakit, tidak bahagia, tidak dapat berpikiran terbuka, kemudian menjadi cemas. Jika kamu telah bertanggung jawab untuk masalah ini, tetapi tidak dapat atau tidak sanggup melakukannya, maka kamu akan gelisah seperti orang gila. Mengapa banyak orang yang tidak sanggup melakukan, dan meminta bantuan orang lain, “Oh, saya tidak bisa melakukan hal ini, saya coba meminta bantuan dia saja.” Orang itu memang benar-benar punya kemampuan, sebentar saja sudah bisa membantumu menyelesaikannya. Inilah sebabnya mengapa kita di dunia ini harus banyak meminta bantuan orang lain. Dunia ini pada dasarnya adalah gabungan dari berbagai macam energi. Artinya, hanya ketika berbagai energi itu bersatu dan membentuk kekuatan yang kuat, barulah sesuatu hal bisa terlaksana. Apakah bisa hanya mengandalkan satu orang? Coba pikirkan, Guan Shi Yin Pu Sa sudah begitu Maha Welas Asih, memiliki tubuh energi yang begitu kuat, dan memiliki ribuan tangan dan ribuan mata, mengapa Guan Shi Yin Pu Sa masih meminta kita bersama-sama untuk membantuNya menyelamatkan semua makhluk? Karena Bodhisattva memiliki kebijaksanaan, jadi Bodhisattva meminta kita semua untuk membantu menjadi ribuan tangan dan ribuan mata Bodhisattva. Oleh sebab itu, kalian harus memahami prinsip kebenaran. Master memberitahukan kalian untuk memiliki keseimbangan hati dan pikiran, jika hanya peduli pada diri sendiri tetapi mengabaikan orang lain, maka orang ini secara perlahan akan kehilangan keseimbangan.

 

Harus menyelamatkan semua makhluk, harus menjalankan Dharma keluar dari keduniawian (Lokuttara), sekaligus memasuki keduniawian (Lokiya). Apakah yang dimaksud dari membina Dharma meninggalkan keduniawian? Yaitu harus mengerti, saya tidak terlalu memusingkan hal-hal duniawi, yang saya bina adalah masa depan, saya ingin baik setelah meninggalkan dunia ini. Apakah yang dimaksud membina Dharma memasuki keduniawian? Yaitu harus menyelamatkan semua makhluk di dunia ini, karena hanya dengan menyelamatkan semua makhluk, kamu baru dapat keluar dari keduniawian, dan memasuki Alam Bodhisattva. Jika kamu tidak menyelamatkan orang-orang, maka kamu tidak akan bisa keluar dari dunia ini.

 

Master lanjut membahas kepada kalian semua, pertama-tama, setiap orang harus mengakui bahwa dirinya memiliki karma buruk. Ingatlah, jika dirimu memiliki karma buruk, kebijaksanaan semakin lama akan semakin berkurang, dan jika kebijaksanaan semakin berkurang maka tidak akan terlahir potensi kesadaran, kalau tidak terlahir potensi kesadaran maka kamu tidak akan mengerti (dengan kata lain tidak memahami apapun di dunia ini). Oleh karena itu, Master akan mengajarkan kalian beberapa hal terlebih dahulu: pertama-tama harus setulus hati, menggunakan pikiran Kebuddhaan, dan teori Kebuddhaan untuk menyeimbangkan tubuh dan pikiran. Dengan kata lain, dalam melakukan hal apa pun harus menggunakan pikiran Bodhisattva dan perilaku Bodhisattva untuk menyeimbangkan psikologis diri sendiri, baru bisa memiliki kepuasan hati dan senantiasa berbahagia. Sebagai contoh: beberapa hari yang lalu kamu berbuat kesalahan, hari ini Master menasihati kamu atau ada orang lain yang menasihati kamu, jika kamu adalah Bodhisattva, maka akan berpikir terlebih dahulu, “Saya sekarang tidak mengingatnya”, namun tidak akan segera menjawab: “Saya bersumpah, bukan saya yang melakukannya”. Bagaimana jika ternyata kamu lupa dan sementara waktu tidak mengingatnya? Kamu sudah bersumpah, maka kamu sudah bermasalah, kamu telah menanam benih sebab ini, maka akan ada buah akibatnya. Kedua, kamu tidak akan langsung emosi menjawab: “bukan saya”. Perilaku kamu akan kelihatan lagi, apakah kamu seorang Bodhisattva? Apakah seorang Bodhisattva akan demikian? Jika seorang Bodhisattva, maka akan mendengarkan perkataan orang lain terlebih dahulu lalu berpikir di dalam hati: “Apakah saya pernah melakukan hal ini? Sekarang saya tidak dapat mengingat apa yang terjadi pada waktu itu, kalau memang saya salah, saya akan memperbaikinya; kalau tidak, saya akan menjadikannya sebagai dorongan untuk lebih baik lagi”. Ini baru dinamakan Bodhisattva. Jika seseorang melakukan karma ucapan, saya harus berterima kasih kepadanya; Jika orang lain mengatakan keburukan saya, maka saya harus menganggapnya sebagai jodoh pendukung untuk meningkatkan diri, saya tidak membencinya. Mengapa dia tidak membicarakan orang lain, namun hanya membicarakan dirimu?

 

Harus membina diri, harus menemukan jalan yang benar, setelah menemukan jalan yang benar dan kamu terus membina diri maka akan mencapai tujuan. Apa pencapaianmu jika kamu tidak membina diri? Kamu tidak dapat mencapai apa pun. Jika seseorang dapat menemukan jalan yang benar, maka harus terus bertahan menjalaninya, dia pasti akan mencapai tujuannya. Lalu bagaimana menemukan jalan ini? Yaitu harus mengandalkan kebijaksanaan diri sendiri. Dari mana datangnya kebijaksanaan? Yaitu berasal dari pembinaan hati dan pikiran. Kebijaksanaan perlu dirasakan secara perlahan-lahan, misalnya saat diri sendiri menghadapi kesulitan, kita mampu mengarahkan pikiran menjadi lebih lurus dan benar. Simaklah kalimat ini dengan baik-baik, artinya ketika menghadapi kesulitan dan masalah, posisikan pikiran agar lebih benar dan lurus, tidak boleh ada pandangan yang menyimpang. Dalam melakukan segala hal, jangan ada pandangan yang menyimpang, tidak boleh memiliki pandangan sesat. Pandangan sesat berarti dengan menggunakan pemikiran sesat diri sendiri, yakni dengan cara berpikir dan pandangan yang menyimpang untuk mempertimbangkan suatu masalah. Sudah jelas orang ini cukup baik, tetapi karena saya tidak memiliki kesan yang baik tentang dia, maka saya mengatakan dia tidak baik, ini disebut pemikiran buruk. Sudah jelas orang itu cukup baik, tetapi merasa tidak nyaman ketika melihat dia, lalu mengatakan dia tidak baik, ini disebut dengan pandangan sesat. Apakah kalian tahu betapa seriusnya dampak pikiran dan pandangan sesat seseorang, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi orang lain? Saat melihat seseorang yang tidak kita sukai, melihat dia duduk saja merasa menyebalkan; melihat dia berdiri pun merasa dia menyebalkan; bahkan suara bicaranya pun terasa menyebalkan, atau bahkan mulutnya pun belum bergerak, namun sudah merasa suaranya menjengkelkan. Contohnya suami istri yang bertengkar di saat saling membenci, melihat mulutnya bergerak saja sudah merasa benci, segala tingkah lakunya sungguh menyebalkan, menutup pintu, membawa tas, menuangkan air, semuanya sangat menyebalkan, inilah yang dinamakan pikiran dan pandangan sesat. Hal ini dapat menyebabkan kamu menyimpang.

 

Jika kamu memposisikan seluruh pikiran dan pandangan sesat di posisi yang benar, maka kehidupan sehari-hari kamu akan berlalu dengan baik. Karena kamu memiliki mentalitas yang benar, maka hari-hari kamu akan menjadi lebih baik; Jika mentalitas kamu tidak benar maka hari-harimu tidak akan berlalu dengan baik. Contohnya nyonya tua ini melihat dulu putra dan menantunya memperlakukan dirinya begitu tidak baik, akan tetapi, sekarang bersikap baik kepadamu, maka kamu sekarang akan merasa bahwa mereka adalah orang baik, karena sekarang kamu telah membuang pikiran dan pandangan buruk, kamu merasa bahwa hidupmu yang tua ini telah diselamatkan, sekarang putra saya memperlakukan saya dengan sangat baik, saya sungguh berterima kasih kepada dia, berterima kasih kepada Bodhisattva, Bodhisattva yang membuat diri saya dapat menjalani kehidupan yang baik ini. Jika kamu berpikir demikian, apakah kamu masih akan membenci putra dan menantumu? Jika kamu mengingat semua kejadian masa lalu dan menyimpannya di dalam hati, maka pemikiranmu akan menyimpang. Sebuah contoh sederhana: Berat badan kamu awalnya seberat 60 kg, dalam pikiranmu dipenuhi dengan pikiran dan pandangan buruk, dulu orang lain bersikap buruk terhadapmu maka kamu membenci dia, dulu dia pernah menindasmu, maka kamu membenci dia, semuanya kamu masukkan ke dalam hati, kemudian berat badan kamu akan bertambah. Bertambahnya berat ini bukanlah berat badan kamu yang semula, jika bukan berat badanmu yang semula berarti sudah menyimpang. Seharusnya 60 kg, sekarang menjadi 65 kg, 5 kg ini adalah pikiran dan pandangan burukmu, tubuhmu, jiwamu, pemikiran benar yang kamu pikirkan akan dikalahkan oleh hal-hal buruk, orang lain tidak akan mengatakan bahwa kamu 60 kg, orang lain selamanya akan mengatakan kamu 65 kg. Jadi, tidak peduli betapa baiknya sikap putra kamu terhadapmu, kamu akan berpikir bahwa dia menyebalkan, karena dalam pikiranmu selalu memikirkan perbuatan buruk yang dia lakukan terhadapmu pada masa lalu. Oleh karena itu, harus menghilangkan ketidaktahuan, menghapuskan pemikiran sesat, baru bisa kembali dan mengikuti jalan kebenaran.