Belajar Berwelas Asih Tanpa Halangan
Setiap pemikiran harus diamati prajna. Apa maksudnya? Dalam otak kita harus tidak henti-hentinya memikirkan kebijaksanaan, harus bisa melihat kebijaksanaan diri sendiri. “Guan”, berarti melihat; “zhao”, sama dengan menerangi diri sendiri. Harus sering berpikir bahwa diri kita memiliki kebijaksanaan untuk mengamati diri sendiri, yakni melihat apakah setiap perbuatan, gerak-gerik, dan ucapan yang saya lakukan hari ini, apakah saya memiliki kebijaksanaan prajna? Hari ini kamu – Robin apakah memiliki kebijaksanaan? Kamu tidak tahu. Kamu harus sering berpikir, kalau Bodhisattva, seharusnya bagaimana melakukannya? Maka, kebijaksanaanmu ini akan terlahir keluar. Harus sering berpikir, yang saya lakukan benar atau tidak? Apakah Bodhisattva seharusnya berbuat demikian?
Oleh karena itu, Master meminta kalian untuk “senantiasa meninggalkan rupa dharma”. Apa maksudnya? Senantiasa meninggalkan rupa dharma, saya hanya bisa menjelaskannya melalui contoh pada kalian. Seringkali meninggalkan rupa dharma, “dharma” di sini merujuk pada segala hal yang ada di dunia ini, maka dunia ini dinamakan sebagai alam dharma. Apakah itu “rupa”? Kemelekatan pada penampakan luar. Hari ini kamu melihat dia adalah orang kaya, maka kamu menghampirinya dan memuji-muji dia, sesungguhnya itu adalah kemelekatan pada rupa – penampakkan luar. Jika orang ini tidak punya uang, apakah kamu akan berbuat demikian? Kamu melihat orang ini adalah orang miskin, maka kamu tidak memedulikannya, atau kamu melihat orang ini pernah melakukan tindak kriminal atau melakukan kesalahan, maka kamu tidak ingin memedulikannya, namun sesungguhnya, berarti kamu sudah melekat pada rupa luar. Banyak orang yang suaminya mencari wanita lain di luar, lalu setelah si suami pulang ke rumah, si istri melekat pada rupa luar, hatinya terus memendam kebencian. Coba pikirkan, kalau begitu untuk apa kamu memintanya pulang ke rumah? Setelah kamu memintanya pulang ke rumah, lalu sepanjang waktu kamu membencinya, sepanjang hari kamu tidak bisa melupakan hal-hal buruk yang dilakukannya, bukankah berarti kamu sudah melekat pada rupa luar? Maka kita harus senantiasa meninggalkan rupa luar, yakni kita sebagai praktisi Buddhis harus meninggalkan rupa yang tidak bisa kamu lepaskan, lebih banyaklah memikirkan sisi positif orang lain, kurangi mengingat-ingat kesalahan orang lain, ini berarti senantiasa meninggalkan rupa dharma.
Karena kamu sudah memiliki kemelekatan rupa dalam pikiranmu, baru bisa menyebabkanmu memperlakukan setiap orang dengan sikap yang berbeda-beda. Hari ini, Nyonya Zhou bisa datang begitu cepat untuk mendengarkan kelas Dharma Master, selain itu dia sudah menyerahkan hatinya kepada Bodhisattva, dia adalah orang yang sangat baik, sekarang di hatinya sudah ada harapan, ini sudah mengurangi banyak sekali penderitaannya. Dia datang, karena suaminya sudah meninggalkan dunia ini, dia sangat hati-hati, tidak mau mengobrol dengan kalian, dia sendirian melafalkan paritta, dia takut kalian memiliki pemikiran terhadap dirinya, kalau begitu, maka sebenarnya dalam hatinya sudah ada kemelekatan rupa. Sesungguhnya, bagi kita setiap orang, semua dan setiap orang pun akan memiliki akhir yang seperti ini, lalu mengapa harus melekat pada rupa? Mengapa harus merasa bersalah atau tidak enak hati terhadap orang lain? Benar tidak? Memangnya kesialan seperti apa ini? Titik akhir setiap orang adalah kematian. Maka, kamu Nyonya Zhou tidak seharusnya melekat pada rupa, “Aduh, bagaimana orang-orang akan memandang saya?” Memangnya ada apa? Ini namanya melekat pada rupa. Kamu seharusnya menganggap diri sendiri sebagai Bodhisattva, sebagai salah satu bagian dari semua makhluk, masih tetap bersikap sopan santun terhadap semua orang, maka kamu tidak akan melekat pada rupa. Sebaliknya, Bodhisattva mengajarkan kita untuk menjauhi kemelekatan rupa, dengan kata lain, janganlah kita melekat atau bersikap keras kepala dalam suatu hal tertentu, karena itu adalah kemelekatan rupa. Hari ini orang ini punya uang dan menjadi kaya raya, maka kamu segera tersenyum-senyum dan ramah terhadapnya, hari ini, orang ini adalah bos besar, lalu kamu segera mengekornya dari belakang seperti seekor anjing, semuanya ini disebut sebagai kemelakatan rupa, yang bisa membuat orang lain merendahkanmu.
Karena kamu sudah meninggalkan rupa dharma, maka kamu berubah menjadi bebas leluasa, kamu tidak lagi merasakan apapun bahkan jika dia – Li Jiacheng berada di samping kamu, kamu tetap sangat bebas. Jika tiba-tiba ada orang yang memberitahu kamu, malam ini Li Jiacheng akan datang, lalu kamu segera merasa tidak leluasa, kalau yang wanita, akan pergi berdandan ke toilet, sebisa mungkin membuat diri sendiri terlihat lebih cantik; kalau yang pria, mulai bersiap-siap memutar otak bagaimana supaya bisa memujinya habis-habisan. Semuanya ini menunjukkan kalau hatimu sedang tergerak, berarti kamu sudah melekat pada rupa, kamu sudah kehilangan kebebasan, kamu telah dikendalikan oleh suatu rupa dharma dari dunia luar, karena hati-pikiranmu sudah tidak bebas, bagaimana tubuhmu bisa bebas? Oleh karena itu, dalam agama Buddha ada istilah yang disebut sebagai “melangkah bebas”, “melampaui”. Dengan melangkah bebas, kamu baru bisa mendapatkan semua, apa maksudnya? Melampaui “kunci gembok” diri sendiri, kamu baru bisa mendapatkan lebih banyak di dunia ini, melangkah bebas dan mendapatkan segalanya, sebagai praktisi Buddhis meskipun kamu bisa mendapatkan segala hal di dunia ini, lalu apa yang bisa kamu capai? Apa yang bisa kamu banggakan? Dengan kata lain, apa yang bisa kamu dirikan? Tidak ada, uang pun bukan milikmu, ketenaran juga bisa hilang, seiring waktu berjalan segalanya akan lenyap. Oleh karena itu, Master memberitahu kalian, manusia seumur hidupnya pada akhirnya akan berakhir dengan dua kata, dan dua kata ini pun terakhir bukan milikmu, lalu apakah dua kata ini? Itu adalah “yi chan” – harta warisan. Semua yang kamu miliki, segala benda yang kamu dapatkan dengan kemelekatan rupa dalam hidupmu, pada akhirnya akan menjadi dua kata, itu adalah “harta warisan”. Seumur hidup ini, kamu hidup demi harta warisan ini, bekerja keras mempertaruhkan nyawamu untuk mendapatkannya. Lalu menurutmu, kamu melekat atau tidak? Coba kamu pikirkan, apa yang bisa kamu dirikan? Apa yang kamu miliki yang bisa seperti bendera berdiri tegak? Yang bisa membuatmu melangkah bebas, membuatmu mendapatkan segala hal, apa yang bisa membuatnya berhasil? Sekarang berada di mana? Coba kamu beritahu saya? Masih tidak mengerti ya? Tidak ada, semuanya palsu, semuanya khayalan belaka, semuanya adalah ilusi, maka jangan mati-matian mengejarnya.
Oleh karena itu, sifat dasar sendiri harus bisa tersadarkan sendiri, dengan kata lain, sifat dasar sendiri harus mengandalkan dirimu sendiri agar bisa tersadarkan. Bagaimanapun Master berceramah, hanyalah faktor eksternal yang memungkinkan hal ini menjadi matang, sementara faktor internal adalah dasar dari kematangannya. Perubahan dan kesadaran dalam dirimu adalah yang paling penting, walau Master setiap hari menceramahi kalian, namun itu adalah faktor luar, sebanyak apapun yang Master katakan, bukankah tetap saja ada murid yang selama bertahun-tahun mendengarkan Master, namun demi pacar prianya, dia bisa pergi meninggalkan Master? Maka yang Master katakan telah sia-sia, kerja keras Master juga tidak ada gunanya. Oleh karena itu, sifat dasar sendiri harus tersadarkan sendiri, selain itu harus segera tersadarkan dan segera dipraktikkan, segera mengerti, lalu segera juga mulai membina diri, “Oh, nantinya saya akan membaca buku ini, nantinya saya akan memahami prinsip-prinsip ini”, kita harus dalam sekejap membina diri dan tersadarkan. Kita harus bisa menghilangkan “perlahan-lahan”, apa maksudnya? Dengan kata lain, jangan memposisikan dirimu sendiri di dunia ini, jangan menganggap diri sendiri sebagai kaum bangsawan, pimpinan, bos, guru, saya adalah siapanya kamu, karena kalau begitu, berarti kamu akan melekat pada rupa. Jangan memandang dirimu sendiri sebagai orang yang hebat, harus bisa menghilangkan “perlahan-lahan”kamu, maka kamu baru bisa tidak bergantung pada segala dharma di dunia ini. Dengan kata lain, kamu tidak akan lagi peduli pada segala kemelekatan dharma dan keakuan diri sendiri. Apakah kemelekatan dharma? Yakni segala ketenaran, kekayaan, kedudukan yang kamu lihat, semuanya disebut sebagai kemelekatan dharma. Hari ini saya merasa senang karena saya adalah bos kalian atau pimpinan kalian. Asalkan kamu bisa melihat kebenaran dari hal-hal ini, kamu baru bisa mandiri atau berdiri tanpa mengandalkan dharma apapun, dengan kata lain, di dalam hatimu baru bisa membangun sebuah monumen yang baik, apa maksudnya? Dengan kata lain, orang lain mengatakan, itu sebagai monumen yang tidak bisa ditumbangkan oleh siapapun, itu adalah monumen welas asih, karena kamu sudah bisa melihat kebenaran dari segala hal, maka kamu baru bisa mendirikan sebuah monumen dalam hati, bila menggunakan istilah masa kini, ia disebut sebagai “tonggak batu”, yang sebenarnya adalah welas asih.
Kita harus tidak terhenti, tiada halangan. Ini merujuk pada pikiranmu, tidak ada orang yang bisa menghalangimu, tidak ada orang yang bisa menghadangmu, asalkan pikiranmu benar, apa yang ingin kamu lakukan, maka kamu pun bisa melakukannya, ini disebut sebagai pikiran tiada halangan. Mengapa {Da Bei Zhou} disebut sebagai “Qian Shou Qian Yan Wu Ai Da Bei Xin Tuo Luo Ni”? Karena pikiran Guan Shi Yin Pu Sa tiada halangan, sama sekali tidak ada halangan, apakah pikiran kalian memiliki halangan? Kalau kalian masih memiliki halangan, lalu bagaimana bisa bersatu dengan pikiran Bodhisattva? Hari ini melakukan hal buruk, besok masih memikirkan ide buruk, lusa mengucapkan kata-kata yang buruk, segala hal yang kalian lakukan, pikiran kalian masih memiliki halangan, oleh karena itu, Master meminta pikiran kalian supaya tidak terhenti dan tiada halangan, tidak berhenti, juga tidak ada yang menghambat, kebijaksanaan baru tidak akan terhalangi. Dengan kata lain, hari ini kamu terpikirkan satu ide bagus, kamu mengatakan, “Hari ini saya ingin memperkenalkan Dharma kepada orang lain”, itu hal bagus bukan? Namun tidak perlu diucapkan keluar, memberitahukan Dharma kepada orang lain bagus tidak? Bagus, akan tetapi selanjutnya, orang yang saya bimbing ini sangat kaya raya, setelah saya berhasil membuatnya percaya, mungkin saja nantinya dia akan memberikan saya banyak uang, atau mencarikan pekerjaan untuk saya, dia bisa bagaimana dan bagaimana, berarti kebijaksanaanmu ini sudah terhalangi. Karena saat kamu ingin menyelamatkan orang lain, yang kamu gunakan adalah kebijaksanaan, akan tetapi jika kamu terpikirkan akan hal-hal seperti ini, berarti pikiranmu sudah terhalangi. Apabila hari ini kamu berpikir untuk melakukan perbuatan baik, dan kamu melakukannya seperti biasa, misalnya kamu hari ini bisa membantu orang lain, maka kamu baik-baiklah membantunya, kamu tidak perlu memusingkan yang lain, dengan begitu, pikiranmu sendiri baru bisa digunakan sesuai dengan keinginanmu, menyenangkan bukan? Sangat menyenangkan.
Banyak orang saat mengerjakan sesuatu, asalkan dia sendiri bisa berpikiran terbuka, maka dia pasti bisa lakukan dengan leluasa, oleh karena itu, sebagai praktisi Buddhis, pikiran kita harus tidak terhenti dan tiada halangan, harus bersih, ini yang disebut sebagai tidak terhenti dan tiada halangan. Apakah kalian bersih? Tidak bersih. Hari ini, Xiao Zhang berkata, hari ini saya ingin mencukur rambut saya, saya ingin belajar Dharma, saya merasa cukup bersih, ini tidak masalah, banyak orang bule yang mencukur rambutnya, lalu ayahnya pasti mengatakan: “Kamu pikirkan baik-baik, kalau kamu mencukur habis rambutmu, apakah akan berpengaruh di tempat kerja?” Ayah dan ibunya pasti akan memberitahu dia, segala yang akan menghentikanmu dan menghalangimu, semuanya datang menghampirimu. Pada saat ini, Xiao Zhang bijaksana dan merasa tidak menjadi masalah, pada dasarnya di luar negeri adalah bebas, apapun yang ingin kamu lakukan, tidak ada ada orang yang akan mengatakanmu. Di luar negeri, apapun model potongan rambutmu, atau apapun hobimu, atau apapun yang kamu lakukan, semuanya sangat bebas, tidak ada yang mengaturmu, lalu halangan dari ayah dan ibu yang sampai pada dirimu, kalau begitu, apakah kamu memiliki kebijaksanaan? Sekarang kamu merasa, dalam hal ini saya cukup benar, saya suka begini, lebih bersih, saya merasa cukup senang, saya merasa sangat bersih, saya merasa tidak ada buruknya … kamu sudah melakukannya, apakah kamu sudah bebas? Hatimu sudah merasa senang, karena ini adalah sesuatu yang ingin kamu lakukan, dan kamu sudah mencapai tujuanmu, bukankah berarti mengikuti nasibmu sendiri? Mengikuti keinginan sendiri untuk menentukan perilaku diri sendiri, maka kebijaksanaanmu tidak akan terhalangi. Jika kamu setiap hari membuat ayah dan ibu melihat potongan rambut ini, maka lama-kelamaan, mereka pun akan merasa potongan rambutmu ini cukup ringkas dan bagus. Kalau kamu tidak percaya, coba kamu bertahan memanjangkan rambut, dan dikuncir seperti wanita, meskipun ayah dan ibumu setiap hari berkata, potonglah rambutmu, potong rambut, dan kamu tidak mau potong, lama kelamaan mereka akan merasa rambutmu lumayan bagus juga, coba diikatlah, karena itu adalah perbuatan yang kamu lakukan tanpa menggunakan kebijaksanaanmu, mengerti? Sekarang kamu menggunakan kebijaksanaan untuk memutuskan suatu hal, maka kamu pasti bisa menghilangkan halangan.
