33. Segala Fenomena Tidak Kekal, Segala Dharma Tiada Aku — 诸行无常 诸法无我

Segala Fenomena Tidak Kekal, Segala Dharma Tiada Aku

Minggu lalu Master membahas dengan kalian, ada seorang biksu yang memilih jalan hidup selibat – kehidupan biksu, menulis sepucuk surat dengan ketulusan hati dan pikiran Kebuddhaannya kepada orang tuanya, dalam suratnya, dia menulis: ayah dan ibu merasa malu karena saya memutuskan untuk menjadi biksu, namun sesungguhnya saya telah menemukan sebuah jalan untuk pulang ke Surga, saya sudah menemukan makna hidup yang sesungguhnya. Karena yang terlihat di mata saya adalah harapan yang terang, sedangkan ayah ibu, kalian seumur hidup bekerja keras, namun jalan yang kalian tempuh ini adalah jalan buntu, kalian selamanya tidak akan bisa melihat masa depan dunia ini, juga tidak bisa melihat wujud rupanya yang sesungguhnya, oleh karena itu, kalian akan selamanya bertumimbal lahir di dalam enam alam yang gemerlap. Sedangkan, anak kalian – saya sudah melihat kebenaran bahwa dunia ini hanyalah seperti sebuah penginapan, hanya sebuah halte kehidupan yang kita tempati untuk sementara waktu. Di dalam halte kecil ini, saya harus mengembangkan diri dan menabung lebih banyak ilmu pengetahuan, mempelajari lebih banyak ajaran Buddha Dharma, supaya nantinya saya bisa mencapai kehidupan yang lebih tinggi. Jangan bersedih karena saya, juga jangan takut dipergunjingkan oleh orang-orang di desa karena saya, karena tindakan saya ini mulia, karena saya telah melihat terang harapan, sedangkan kalian semua orang tidak melihat cahaya terang itu. Inilah mentalitas sesungguhnya dari seorang biksu.

 

Master beritahu kalian, membina pikiran adalah membina moralitas dan kebijaksanaan. Kalau dirimu tidak memiliki moralitas yang baik, bagaimana mungkin bisa memiliki kebijaksanaan? Kalau kamu tidak memiliki kebijaksanaan, bagaimana mungkin memiliki karakter yang baik? Oleh karena itu, sekarang pemerintah pun berharap masyarakat harus memiliki moralitas yang baik. Belajar ajaran Konfusianisme, sesungguhnya yang dibahas adalah tentang moralitas. Terhadap orang lain harus memiliki perasaan berterima kasih, sesungguhnya, ini adalah suatu bentuk perasaan welas asih. Kita tidak hanya harus merasa berterima kasih, yang lebih penting adalah kita harus memiliki welas asih, kita harus bisa menghilangkan hal-hal buruk dalam diri kita. Kalau kamu tidak membuang hal-hal yang lama, maka tidak akan bisa mendapatkan hal-hal yang baru, seperti kalau kamu tidak meninggalkan pekerjaan yang lama, maka kamu selamanya tidak akan bisa menemukan pekerjaan yang baru. Ini adalah logikanya. Kita harus membina kebijaksanaan, kita membina kebijaksanaan adalah membina bodhicitta. Kebijaksanaan ini bisa menumbuhkan bodhicitta dirimu, jadi bodhicitta dalam hatimu bisa tumbuh semakin besar, semakin luas dan semakin besar, dengan demikian, kamu baru bisa mengatasi semua kerisauan di dunia ini. Apakah Bodhisattva bisa memiliki kerisauan? Tidak, lalu mengapa kamu bisa memiliki kerisauan? Karena kamu bukanlah Bodhisattva. Hari ini kamu bisa mengatakan kalau dirimu adalah Bodhisattva, akan tetapi jika kamu memiliki kerisauan, maka kamu bukanlah Bodhisattva, karena Bodhisattva tidak akan memiliki kerisauan, Bodhisattva bisa mengubah kerisauan menjadi kebijaksanaan bodhi.

 

Master tidak ingin mengatakan baik buruknya pembinaan kalian setiap orang, kalian bisa mengukurnya sendiri dengan menggunakan kalimat ini, apakah kamu memiliki kerisauan? Kalau hari ini kamu punya kerisauan, berarti kamu bukan Bodhisattva, yang benar-benar sudah melepas, tidak memiliki kerisauan, maka kamu adalah Bodhisattva. Orang-orang yang sudah tersadarkan adalah Buddha, sedangkan Buddha yang tak tersadarkan adalah orang biasa, oleh karena itu, orang-orang yang sesungguhnya adalah Buddha. Sedangkan kita sekarang adalah Buddha masa depan, maka kita harus baik-baik belajar dari Buddha, bersungguh-sungguh mendekati Buddha. Hidup di tengah Buddha, setiap gerakan, setiap langkah, setiap ucapan, setiap pemikiran, kita harus menggunakan standar Buddha sebagai acuan diri sendiri, maka kamu adalah Buddha dunia. Jika kamu semakin dekat dengan Bodhisattva, bukankah berarti dirimu adalah Bodhisattva? Kalau kamu setiap hari melakukan hal-hal buruk seperti setan, melakukan hal-hal jahat, bukankah berarti kamu semakin dekat dengan setan? Banyak orang yang ingin bunuh diri, berpikiran buntu, maka setan akan mendatangimu, demikianlah prinsipnya. Banyak orang melakukan kejahatan di belakang, maka setan akan mendatangi kamu, sedangkan Bodhisattva tidak akan mendatangi kamu.

 

Kita tahu bahwa kelahiran dan kematian adalah ketidakkekalan, semua ini adalah suatu fenomena alami, kita tidak tahu kapan kita datang dan kapan kita pergi, kita tidak tahu apapun. Saat kamu dilahirkan, tunggu sampai kamu sudah memiliki pemahaman, dirimu sudah menjadi seorang anak kecil, kamu sudah memasuki alam kerisauan ini, kamu sudah tidak bisa membebaskan diri darinya, kamu hanya bisa menerima kerisauan di dunia ini dan berjalan terus langkah demi langkah, siapa yang bisa terbebaskan? Kamu sudah memasuki kerisauan, kamu sudah memasuki Alam Manusia, maka kamu harus menerima berbagai karma dan balasan karma di Alam Manusia ini. Seseorang yang benar-benar memiliki kebijaksanaan, bisa memahami bahwa sesungguhnya kita hidup di dunia ini, jika menggunakan istilah masa kini, ini dinamakan, “Kehidupan bagaikan sebuah mimpi”, tunggu sampai kamu tersadar dari mimpi ini, dirimu sudah memasuki ruang dimensi yang berbeda, kamu mungkin sudah meninggalkan ruang tiga dimensi, dan memasuki ruang empat dimensi, ini bisa membawa apa bagimu? Karena saat kamu memasuki ruang empat dimensi, maka terhadap hal-hal yang kamu lakukan sewaktu berada di ruang tiga dimensi, kamu bisa mengingatnya dengan sangat jelas, bagaikan baru terjadi, maka akan membawa lebih banyak kerisauan bagimu, membuat kamu terjerumus ke dalam halangan karma buruk yang lebih dalam. Akan tetapi, kesadaran spiritual kamu masih belum mencapai kesadaran ruang empat dimensi, maka kamu akan terus terjatuh ke bawah.

 

Mengapa Surga bersih? Mengapa sampai ke Surga, beban manusia akan menjadi semakin ringan, inilah mengapa saat kita pergi Surga, tidak bisa membawa tubuh kerangka luar yang kotor ini, mengapa? Karena kita tidak mampu membawanya, dia terlalu berat. Kita hanya bisa membawa roh atau jiwa ke atas, meskipun jiwa atau roh juga memiliki bobot, tetapi hanya 3-6 gram lebih, hanya roh yang bisa pergi ke ruang empat dimensi. Saat kita pergi nanti, sama dengan jangkrik yang melepaskan kulitnya, harus seperti jangkrik emas yang melepaskan cangkangnya, prinsipnya sama saja, apakah kalian mengerti? Seorang praktisi Buddhis sejati, baik di Surga maupun di dunia, semuanya diputuskan oleh kita sendiri, karena manusia berdiri tegak berpijak di tanah dan menopang langit, oleh karena itu, setelah Sang Buddha dilahirkan, Beliau menunjuk langit dan menunjuk bumi, di Surga dan di Bumi, hanya saya yang paling mulia, kita harus memiliki jiwa seperti ini.

 

Segala hal di dunia ini tidaklah kekal. Dari mana kita memiliki sesuatu yang kekal? Kalian beritahu Master, ada hal apa yang abadi? Rambut setelah tumbuh panjang, segera dipotong, benar tidak? Semasa muda, gigi kita tumbuh begitu indah, namun sampai di masa tua nanti, semuanya sudah copot, benar tidak? Kita tidak boleh menunggu, kita tahu bahwa dunia ini tidak kekal, lalu apa lagi yang masih kita tunggu? Ada berapa banyak negara berkembang, setelah dilanda gempa bumi, tsunami, ledakan gunung berapi, seluruh negara seketika menjadi luluh lantak. Kita harus memahami bahwa, segala dharma tiada Aku, lalu apalagi yang masih kamu perebutkan? Semuanya adalah kosong, di dunia ini, semua dharma adalah kosong, apa lagi yang masih kamu perebutkan? Kamu memperebutkan sebuah jabatan perdana menteri? Menjadi pemimpin? Menjadi presiden? Pada saat pelantikan merasa sangat senang, namun sewaktu diturunkan merasa sangat menderita, kalau kamu tidak ingin menderita, maka jangan dilantik. Oleh karena itu, Bodhisattva takut menciptakan sebab karma, sedangkan semua makhluk takut akan akibat buah karma. Sewaktu kita akan melakukan suatu hal, kita harus mengetahui akibatnya, maka kita jangan lagi berselisih. Segala dharma tiada aku, prinsip ini adalah mengajarkan kita untuk jangan berselisih lagi, karena pada suatu hari nanti semuanya akan kembali menjadi kosong, sudah tidak ada lagi, “Semuanya tidak ada yang bisa dibawa pergi, hanya karma yang akan menyertai kita”. Maka jangan lagi berpikiran buntu, kita manusia suka bersikeras melakukan hal-hal yang tidak bermakna, lalu mendengar ajaran Master merasa senang, namun tidak lama kemudian kembali berpikiran buntu, wajah ditekuk, tidak bisa berpikiran terbuka lagi, inilah yang disebut “segala fenomena tidak kekal, semua dharma tiada aku”, mengerti?

 

Kita harus teguh mengubah kebiasaan buruk diri sendiri, lebih dini untuk bertobat, menyucikan pikiran sendiri yang paling penting, yakni membuat diri sendiri menjadi lebih bersih. Hanya dengan menggunakan diri sendiri untuk introspeksi diri, apakah semua pemikiran saya sudah bersih? Apakah diri saya sendiri telah menghilangkan seluruh pemikiran buruk pada diri saya? Inilah yang barusan Master katakan pada kalian untuk membina ke dalam, memutuskan semua akar-akar keburukan, dengan begitu baru bisa mencapai buah kesucian di Surga. Jika kamu memiliki pemikiran yang tidak bersih, bagaimana mungkin bisa membina diri sampai ke Surga? Bukankah itu bercanda? Bila hanya dengan mengandalkan pelafalan paritta yang dilakukan orang lain pada saat dirimu meninggal, memangnya kamu bisa naik ke atas? Kalau dosa karma burukmu tidak dihilangkan lalu bisa naik ke atas, bukankah itu sangat lucu? Contoh sederhana, seorang murid biasanya tidak belajar baik-baik, tunggu sampai sehari sebelum ujian, sekeluarga disamping membantu kamu belajar kembali, ya sudah, hari kedua apakah dia bisa lulus ujian masuk universitas? Bukankah ini namanya bercanda? Bukankah ini mengubah karma? Bahkan Bodhisattva pun tidak bisa mengubah karma, bibit karma yang kamu tanam sendiri, maka dirimu sendiri yang akan memperoleh buah karmanya, kamu melafalkan paritta memang bisa membuat kamu naik ke atas? Melafalkan paritta sampai kamu bisa naik ke atas, sama dengan les tambahan, kamu sudah memiliki dasar untuk bisa masuk universitas, akan tetapi kamu masih merasa tidak terjamin, maka semua orang membantu mendorongmu sedikit, ini baru yang dinamakan doa pendamping. Jika kamu sekarang tidak mengandalkan diri sendiri untuk menghilangkan dosa karma buruk dirimu di masa lalu, bagaimana kamu bisa pergi ke Surga?

 

Pembinaan dari sisi luar, kita harus melakukan perbuatan baik, harus lebih banyak melafalkan paritta, kemudian membuat pikiran sendiri menjauhi ketakutan, baru bisa terbebas dari ketakutan. Kita harus menjauhi ketakutan, kalian harus ingat, jika masih ada rasa takut di hati, itu berarti ada ketakutan, pasti ada sebabnya di dalam, mengerti? Misalnya, hari ini kamu membina diri sampai sepenuhnya bisa melepaskan, sudah bisa tidak memikirkan apapun, hari ini saya sudah tidak mau apapun, saya bahkan sudah tidak memiliki pikiran untuk pergi ke Surga dan bertemu dengan Sang Buddha, kalau begitu kamu baru benar-benar bisa pergi sampai ke tempat Sang Buddha. Tiada pikiran sama dengan ada pikiran, sedangkan ada pikiran sama dengan tiada pikiran, tiada pikiran ditambah ada pikiran, sama dengan tiada pikiran, kesimpulannya ada pada pikiran ini. Master beritahu kalian, membina pikiran adalah pikiran pada saat itu, pikiran saat itu adalah Buddha, jika pikiranmu ini sudah dibina dengan baik, maka yang kamu miliki adalah pikiran Buddha, kalau kamu tidak membinanya dengan baik, maka itu adalah pikiran jahat, yang kamu miliki adalah pikiran iblis. Yang berada dalam dirimu itu adalah iblis atau Buddha, semuanya tergantung pada pikiranmu ini. Pikiranmu ini sesungguhnya sudah dibina dengan baik atau tidak, sepenuhnya mengandalkan dirimu sendiri yang membersihkan pikiranmu. Saat tidak ada orang yang membantumu, maka kamu hanya bisa menggunakan sifat dasarmu untuk memeriksanya, apakah yang saya pikirkan hari ini benar atau tidak? Yang saya lakukan baik atau tidak? Kamu hanya bisa berbuat begini. Kalau kamu berbuat demikian, maka kamu baru bisa menjauhkan pikiranmu sendiri dari ketakutan. Selain itu, pembinaan dari sisi luar, kita juga harus banyak melepaskan makhluk hidup, mencetak buku paritta, juga menyadarkan kesadaran spiritual orang-orang supaya mereka menekuni Dharma, kamu baru bisa mengubah peruntungan, baru bisa memutuskan kerisauan. Apakah mengubah peruntungan baik atau tidak? Banyak orang mengatakan, “Saya tidak masalah, peruntungan ada di dunia ini.” Tidak benar, peruntungan harus diubah, karena setelah mengubah peruntungan, pembinaan dirimu baru bisa berjalan lancar, jika kamu tidak bisa mengubah peruntungan dirimu, halangan iblis membelenggu kamu, maka kamu mungkin tidak bisa mencapai pikiran Kebuddhaan kamu, dan tidak bisa membina pikiranmu ini dengan baik.