Memohon pada Buddha dengan Pemikiran Benar, Menghilangkan Kejenuhan
Seorang praktisi Buddhis dalam kehidupan sehari-hari dan pekerjaannya, saat menjalin relasi dengan orang lain, harus tetap menaati sila. Seseorang jika tidak bisa menjalankan sila, maka seharusnya dapat dikatakan kalau orang ini bukanlah seorang praktisi Buddhis yang baik. Karena menjalankan sila adalah dasar seorang praktisi Buddhis, seseorang yang bisa disiplin menjalankan sila, maka orang ini adalah seorang praktisi Buddhis, sedangkan orang yang tidak bisa menjalankan sila, maka dia adalah orang awam biasa. Mengapa ada praktisi Buddhis, yang setelah menekuni Dharma beberapa waktu, masih ada sebagian yang kembali ke kehidupan awam? Ada juga sebagian orang yang belajar Dharma sampai setengah, lalu berkhianat? Karena orang-orang ini masih hidup di tengah kelahiran dan kematian, mereka masih belum terbebas dari kelahiran dan kematian. Kita menekuni Dharma dan membina pikiran, sampai pada akhirnya harus bisa terbebas dari kelahiran dan kematian, apakah kalian tahu, apa yang dimaksud dengan terbebas dari kelahiran dan kematian? Yakni, mengetahui ke mana diri kita akan pergi nantinya, mengetahui bagaimana diri sendiri dilahirkan, maka akan mengetahui bahwa diri kita seharusnya bagaimana menjadi orang baik dalam masyarakat, oleh karena itu, seseorang yang mampu berpikiran terbuka, berarti dia sudah terbebas dari kelahiran dan kematian, maka perlahan-lahan, dia akan meninggalkan tingkat kesadaran spiritual Alam Manusia.
Ada sebagian orang yang mengkhianati Buddha, ada sebagian orang yang kembali ke kehidupan awam, ada juga sebagian orang yang sudah membina diri beberapa waktu lalu berhenti, karena mereka tidak bisa melihat welas asih Bodhisattva, maka mereka pun tidak bisa menerima kebijaksanaan Bodhisattva. Mengapa? Karena mereka memohon banyak sekali pada Bodhisattva, apapun diminta, setiap hari menganggap Bodhisattva sama seperti sebuah mesin yang bisa mengabulkan permohonan, maka beberapa tahun kemudian, karena tidak bisa mewujudkan keinginan yang dimohonnya, lalu mulai terlahir suatu kejenuhan terhadap Bodhisattva, yakni perasaan kesal dan pikiran untuk meninggalkan. Dia mengira, Bodhisattva paling bagus kalau begitu memohon bisa segera terkabul, namun dia tidak tahu, kalau memohon pada Buddha sama dengan memohon pada diri sendiri. Banyak orang yang membina pikiran, bisa melafalkan paritta dengan sangat bagus, maka begitu dia memohon bisa segera terkabul, sedangkan ada sebagian orang yang membina pikiran namun tidak rajin, pelafalan parittanya tidak bagus, maka permohonannya juga tidak terkabul, bukankah penyebabnya berasal dari diri sendiri? Untuk apa menyalahkan orang lain?
Master suka menggunakan anak-anak yang bersekolah sebagai contoh. Seorang anak kecil setiap hari memohon pada gurunya, “Guru, mohon kamu ajarkan saya lebih baik, Guru, mohon kamu periksa tugas saya dengan lebih baik.” Daripada begitu, lebih baik kamu melihat diri sendiri, apakah sudah belajar dengan giat atau belum. Kalau kamu mengerjakan tugas dengan lebih baik, belajar dengan lebih baik, apakah kamu masih perlu meminta guru untuk mengoreksi tugasmu dengan lebih baik? Semuanya harus mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk bisa mencapai harapan di Alam Manusia, jadi harapan di Alam Manusia dicapai dengan mengandalkan kekuatan diri sendiri. Kita memohon pada Bodhisattva, tidak terkabul, mengira kalau Bodhisattva tidak manjur, padahal adalah hatimu sendiri yang tidak tulus, ada sangat banyak dosa halangan karma buruk pada dirimu. Oleh karena itu, banyak orang yang dari mulanya mencintai Bodhisattva dan memohon pada Bodhisattva, sampai pelan-pelan terlahir kejenuhan, merasa kesal, merasa mengapa Bodhisattva tidak pernah mengabulkan permohonannya. Begitu merasa kesal, maka pelan-pelan meninggalkan Bodhisattva.
Jangan memohon pada Buddha demi ketenaran dan kekayaan. Jika seseorang menekuni Dharma dan membina pikiran, hanya memohon demi keuntungan atau kekayaan bagi diri sendiri, kalau tujuannya tidak tercapai, maka akan terlahir suatu kejenuhan pada dirinya. Inilah mengapa Master memberitahu kalian, sesungguhnya menyembah Buddha, jangan terlalu banyak memohon pada Buddha, karena saat permohonanmu semakin banyak, namun jasa kebajikanmu tidak cukup, tekadmu tidak cukup, berkah kebajikanmu tidak cukup, maka semua halangan karma buruk yang dipantulkan kembali ini, akan menjadi halangan bagimu dalam menekuni Dharma. Mengerti? Coba pikirkan, kamu berusaha keras ingin memasukkan anakmu ke sekolah menengah unggulan, sedangkan anak demi sekolah, sangat menderita sekali, kemudian, demi memuaskan dirimu, jadi kamu memaksakan kehendakmu yakni anak harus bisa masuk ke sekolah unggulan, kamu setiap hari menyuruhnya les, juga tidak makan dengan baik, kalau pada akhirnya tidak bisa masuk, tubuh si anak juga akan rusak, selain itu akan menyebabkan terlahirnya suatu perasaan jenuh si anak terhadap sekolah, guru, maupun hal-hal yang dipelajarinya. Inilah mengapa sekarang di banyak tempat, anak-anak kecil memiliki tekanan yang terlalu besar, setelah tidak berhasil masuk sekolah yang ditentukan, karena merasa malu pada orang tuanya kemudian bunuh diri, malah sebaliknya akan menimbulkan suatu “kekuatan reaksi yang berlawanan”.
Master meminta kalian dalam menekuni Dharma, jangan memohon terlalu banyak, supaya nafsu keinginan kalian berkurang, kalau memohon terlalu banyak maka nafsu keinginan juga akan menjadi banyak, kalau tidak memohon, maka tidak ada nafsu keinginan. Memangnya, kalau kamu bersujud di sana, tidak memohon pada Bodhisattva, lalu Bodhisattva tidak tahu apa yang ingin kamu lakukan? Kamu bisa mengatakan secukupnya. Selain itu, ada sebagian orang yang pada saat melafalkan paritta, setiap hari dari pagi sampai malam, mengkritik hal-hal tertentu, padahal kamu sepenuhnya bisa mengatakan seperlunya, “Bodhisattva, mohon kamu berkati saya XXX agar bisa bagaimana.” Satu kalimat, sudah selesai. Seseorang sebelum tujuannya tercapai, pasti akan terlahir suatu “kekuatan reaksi yang berlawanan”, seperti seseorang sebelum tujuannya tercapai, akan terlahir kebencian dalam dirinya. Jika seorang pria mengejar seorang wanita, dan tidak berhasil, maka selanjutnya, dia akan mulai memfitnah dan menjelek-jelekkannya, oleh karena itu, mendekati Buddha dengan tujuan tertentu, karena setiap kali dia menyembah dan memohon pada Buddha, dia menggunakan permohonannya untuk mendekati Buddha, itu adalah hal yang tidak bersih, apakah kalian mengerti? Sama seperti, seseorang yang biasanya tidak pernah menghubungi teman ini, namun begitu dirinya bermasalah, dia segera menghubungi teman ini, kalau demikian, maka bahkan Bodhisattva akan tercemari olehmu.
Banyak orang di kuil, salah paham, mengira bahwa Bodhisattva khusus menerima sedikit persembahan buah darimu, atau beberapa dupa yang kamu bakar, kalau begitu, kamu memandang Bodhisattva seperti pejabat yang korup, benar tidak? Kalian tidak memahami hal-hal ini, sesungguhnya, tidak memohon sama dengan memohon, permohonan yang sesungguhnya sampai pada akhirnya menjadi tiada permohonan. Oleh karena itu, sebaiknya jangan memohon terlalu banyak, akan tetapi bersungguh-sungguh secara nyata melafalkan paritta dalam PR harian, sungguh-sungguh membina pikiran dan melafalkan paritta, permohonanmu tetap bisa terkabul. Coba pikirkan, Tante Zhou sekarang sampai di usia segini, setiap hari dia tidak mengatakan apa-apa, setiap hari melafalkan paritta seperti ini. Kamu tidak mengatakan, dirimu ingin panjang umur, menurutmu, Bodhisattva tahu atau tidak kalau kamu ingin hidup lebih panjang? Kalau tidak, untuk apa kamu melafalkan paritta? Bodhisattva mengetahuinya, Akhirat mengetahuinya, oleh karena itu, ada satu pepatah yang berbunyi, “Surga tahu, Akhirat juga tahu”, dirimu sendiri juga paham, memangnya kamu masih mengira Bodhisattva dan Akhirat tidak tahu? Jika kamu lebih banyak melakukan perbuatan baik bukankah akan memiliki pahala? Kalau tidak, untuk apa kamu melakukan perbuatan baik. Kamu melafalkan {Sheng Wu Liang Shou Jue Ding Guang Ming Wang Tuo Luo Ni}, bukankah kamu memohon perpanjangan umur? Apalagi yang perlu kamu katakan pada Bodhisattva? Setiap paritta melambangkan suatu maksud permohonanmu, lalu apalagi yang perlu kamu katakan?
Saya beri satu contoh yang kurang tepat, kamu pergi meminta bantuan seorang pimpinan untuk meminta bantuan seseorang, asalkan kamu menghubungi orang itu, maka dia akan tahu maksud kedatanganmu, apakah kamu masih perlu berkata terus padanya, “Saya ingin menjadi ketua divisi”. Kalau kamu mengatakan kalimat ini keluar, maka orang itu akan merasa kalau kamu adalah seorang pejabat korup, maka dia tahu kalau kamu melakukan beberapa hal dengan tujuan tertentu. Dalam banyak hal, jangan menjadikan Bodhisattva sebagai “Buddha milik kamu”. Apakah yang dimaksud dengan “Buddha milik kamu”? Hari ini kamu berlutut di sini, tidak mengizinkan orang lain bersembah sujud, kamu berusaha keras menguasai tempat ini dalam waktu lama, kamu “menguasai” Bodhisattva menjadi milik dirimu sendiri, memangnya Bodhisattva setiap hari khusus membantumu menyelesaikan masalah keluargamu, membantumu menyelesaikan masalah putramu, cucumu, atau ayah ibumu, menyelesaikan masalah pekerjaanmu, pernikahanmu, bukankah kamu sedang memperlakukan Bodhisattva sebagai “Buddha milik kamu”? Apa yang kalian berikan untuk Bodhisattva? Kalian telah mencemari Buddha, kalian telah menodai jiwa Bodhisattva yang Maha Besar ini, membuat orang lain mengira bahwa Bodhisattva dikhususkan untuk menerima persembahan kalian, kemudian membantu kalian, mengerti?
Pembahasan Master sangat mendalam, setelah memohon begitu lama masih tidak tahu, ada orang yang hari ini bertanya pada Master dan mengatakan, “Saya sudah berikrar begitu banyak, mengapa permohonan masih tidak terwujud?” Master bertanya, “Bagaimana kamu berikrar?” Dia berkata, “Guan Shi Yin Pu Sa, jika Anda membuat saya bagaimana…, maka saya pasti akan bagaimana dan bagaimana.” Memangnya kamu sedang tawar-menawar dengan Bodhisattva? Bahkan tidak memahami bagaimana menyembah Buddha, berikrar, dan memohon pada Buddha, bagaimana mungkin orang ini bisa membina diri dalam Dharma dengan baik? Kamu seharusnya berkata: “Guan Shi Yin Pu Sa, saya pasti akan membina pikiran baik-baik, seumur hidup ini, saya pasti akan bagaimana, mohon Guan Shi Yin Pu Sa berwelas asih, bisa memberkati saya begini atau begitu.” Bukannya memindahkan kekurangan manusia ke Buddha dan Bodhisattva, begitu berbicara yang dikatakan adalah: “Bodhisattva, hari ini saya berikrar, asalkan Anda membantu saya begini, saya pasti begitu.” Perkataan seperti ini, bagaimana kamu bisa mengatakannya? Kamu tidak merasa malukah? Memangnya Bodhisattva khusus untuk melayani kamu? Sesungguhnya, ini disebut sebagai sifat bodoh, sifat dasarmu yang bodoh sudah muncul keluar, mengerti? Kebodohan adalah ketika diri sendiri telah melakukan kesalahan, lalu masih meminta Bodhisattva untuk menanggungnya, benar tidak? Saat kalian setiap orang memohon pada Bodhisattva, bukankah karena diri sendiri telah melakukan kesalahan? Setelah kalian melakukan kesalahan, lalu memohon pada Bodhisattva untuk membantu menyelesaikan masalah kalian, bukankah ini sama dengan setelah diri sendiri melakukan kesalahan lalu meminta Bodhisattva menanggungnya untukmu? Memang tidak merasa malu?
Mempersembahkan sedikit bunga dan buah sebagai “upah” untuk Bodhisattva? Bodhisattva tidak menginginkan barang-barang kalian ini, Bodhisattva menginginkan ketulusan hati kalian, ingin supaya hati kalian berlindung pada Pintu Buddha. Mengapa di banyak kuil besar, banyak orang setelah membakar dupa, melakukan sedikit jasa kebajikan, menyumbang sedikit uang, tetap saja permohonannya tidak terwujud? Karena kekuatan karma pada tubuhnya terlalu berat, medan aura halangan karma buruknya terlalu kuat, selain itu, dia tidak memahami Buddha dan Bodhisattva berada di Alam Manusia, tujuannya untuk apa? Apakah Bodhisattva khusus untuk membantu dan menanggung kesalahan kalian? Bisa, benar, akan tetapi, Bodhisattva membantu orang-orang yang mau bertobat dan berubah, yakni orang-orang yang mau memperbaiki kesalahannya, orang-orang yang mau kembali menjadi orang yang benar, Beliau datang membantumu mengikis halangan karma buruk, untuk meningkatkan kesadaran spiritualmu, supaya nantinya kamu jangan lagi melakukan kesalahan, bukan demi “membersihkan” dosamu pada suatu masalah tertentu, mengerti?
