33. Bertobat atas Kebiasaan Buruk adalah Medan Pembinaan yang Tenang dan Suci 忏悔习气 清净道场

Bertobat atas Kebiasaan Buruk adalah Medan Pembinaan yang Tenang dan Suci

Kita harus belajar untuk bertobat, yakni dengan menyesali dan bertobat atas kebiasaan buruk dari berkali-kali kehidupan yang diturunkan sampai saat ini dan akumulasi halangan karma buruk dari berkali-kali reinkarnasi. Hari ini kalian menekuni Dharma mengikuti Master, kalian bersembah sujud di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa, apabila kalian melakukan satu kesalahan lalu kalian bertobat atas hal ini, sesungguhnya ini disebut sebagai pertobatan kecil. Apakah pertobatan besar yang sesungguhnya? “Bodhisattva berwelas asih pada saya, saya adalah manusia awam biasa, saya tidak memahami banyak hal, selama berkali-kali kehidupan, saya telah melakukan begitu banyak perbuatan buruk, saya bertobat atas semuanya, hari ini saya kembali melakukan kesalahan, Guan Shi Yin Pu Sa, saya bertobat lagi.” Ini yang disebut sebagai pertobatan besar. Jika kamu hanya mengatakan: “Hari ini saya melakukan kesalahan pada satu hal, mohon Bodhisattva memberkati saya, supaya bos saya tidak memecat saya.” Apakah pertobatan seperti ini ada gunanya? Pertobatan bertujuan untuk bertobat atas kebiasaan buruk diri sendiri yang diakumulasi dari berkali-kali kehidupan.

 

Contoh sederhana, orang ini suka mencuri, kemudian ditangkap orang, justru karena dia telah mencuri sejak kecil, baru bisa mengakibatkan buah karma pada hari ini. Jika dia benar-benar bertobat, dia harus berkata pada gurunya: “Guru, saya dari kecil tidak belajar dengan sungguh-sungguh, makanya saya baru bisa memiliki kebiasaan buruk ini. Kedepannya, saya benar-benar tidak akan begini lagi. Saya terus bertobat dari kecil sampai sekarang, tetapi kemarin saya kembali melakukan perbuatan buruk ini, maka besok saya pasti tidak akan melakukannya lagi.” Karena masih ada akarnya di sana, lain kali akan menumbuhkan halangan dosa dan jalinan hubungan buruk dari berkali-kali reinkarnasi, maka dia masih akan mencuri, oleh karena itu, kita harus melakukan pertobatan besar, karena pertobatan kecil tidak akan bisa menyelesaikan masalah. 

 

Setelah kamu bertobat, kamu – orang ini akan berubah menjadi sebuah pusaka Dharma yang bersih, mengapa? Sama seperti medan pembinaan yang tenang dan suci, karena setelah kamu berobat, itu seperti menyapu bersih benda-benda kotor yang ada dalam jiwamu, membuat kotoran-kotoran itu semuanya meninggalkan dirimu, tubuh dan jiwamu, maka pikiranmu akan memperoleh ketenangan dan kebersihan, sama seperti sebuah medan aura yang bersih, Bodhisattva bisa setiap saat berada di dalam pikiranmu. Oleh karena itu, bertobat adalah yang terpenting, bertobat sama seperti terus-menerus mencuci dan membasuh di dunia ini, dan kamu akan berubah menjadi sebuah pusaka Dharma, begitu Bodhisattva berada dalam dirimu, Bodhisattva bisa menggunakan pusaka Dharma kamu ini untuk menolong kesadaran spiritual orang lain, untuk membantu orang lain, bisa untuk menyelamatkan orang lain. Jika tidak bersih, bagaimana mungkin bisa menjadi pusaka Dharma? Kamu sudah memiliki medan aura yang tenang dan suci, berarti kamu bisa menerima keberadaan Dharma yang suci, karena kamu sudah menjadi sebuah pusaka Dharma, oleh karena itu, kamu baru bisa menyimpan ajaran-ajaran Buddha Dharma ini di dalam pikiranmu.

 

Pahamilah, kesulitan mengunci kamu di dalamnya. Orang lain mengatakan, kesulitan atau “困难 — kun nan” adalah bagai kayu yang tidak merasakan apapun, ada satu aksara “木mu” atau kayu, yang di atasnya ditambahkan aksara “口kou” atau mulut, menjadi “呆dai” atau tertegun, ini sama dengan mati rasa; jika di dalam pikiranmu ada sebuah kayu, lalu seluruh tubuhmu mengelilinginya, itu akan menjadi kata “困kun” atau kesulitan. Dalam ilmu feng shui juga demikian, jika kamu ingin membangun sebuah rumah, lalu kamu meletakkan kayu di tengah, dan mengelilinginya dengan pagar di depan, akan menjadi aksara “困 kun”, maka rumahmu ini pasti tidak bisa dibangun dengan baik, karena ada banyak sekali kesulitannya, inilah logikanya. Kalau pikiran kita sendiri sudah buntu, berarti kita sudah mati rasa, dan menjadi lambat. Oleh karena itu, kita harus bisa berpikiran terbuka, dan memahami dengan jelas masalahnya, orang ini baru bisa tertolong.

 

Master berharap kalian menekuni Dharma harus menggunakan cara yang tepat, apakah cara yang tepat ini? Ada satu pepatah yang berbunyi, “Memahami diri sendiri dan orang lain”, menyadari pikiran dan memahami pikiran, juga mengetahui pikiran orang lain, kamu baru bisa menyentuh hati mereka. Oleh karena itu, menolong orang lain dalam menekuni Dharma yang sesungguhnya adalah dengan menolong pikiran mereka. Sesungguhnya melafalkan paritta adalah melatih energi chi dan memusatkan pikiran, jika medan aura kamu tidak bagus, mulutmu masih memarahi orang lain, dan masih tersimpan amarah di dalam hatimu, berarti dengan adanya hawa negatif pada dirimu, tidak hanya membuatmu tidak bisa melafalkan paritta dengan baik, selain itu malah membawa hawa negatif ini ke dalam paritta yang dilafalkan, ini berarti kamu menodai paritta Buddha. Oleh karena itu, energi—chi kalian harus lancar, hanya orang yang hati dan pikirannya tenang yang dapat melafalkan paritta dengan baik. Mengapa banyak orang telah membakar banyak Xiao Fang Zi tetapi hasilnya tidak maksimal? Karena hatinya tidak tenang dan energinya tidak selaras. Ada juga banyak orang yang saat melafalkan Jie Jie Zhou, malah berharap agar pihak lain jatuh sakit atau mengalami kecelakaan, hatinya dipenuhi dengan kebencian. Master memberi tahu kalian, dengan begitu kalian telah berbuat karma buruk lagi, halangan karma akan masuk kembali ke dalam tubuh kalian, bagaimana mungkin pelafalan paritta bisa efektif? Berharap kalian mengerti bahwa saat melafalkan paritta, pikiran harus bersih dan sama sekali tidak boleh ada pikiran kacau.