4. Pikiran Buddha adalah Medan Pembinaan 佛心是道场

Pikiran Buddha adalah Medan Pembinaan

Selanjutnya Master menjelaskan kepada semua orang, praktisi yang membina ajaran Buddhisme Hinayana adalah untuk menyelamatkan diri sendiri. Karena orang yang membina ajaran Buddhisme Hinayana masih melekat pada konsep “Aku”, dan masih memiliki pikiran diskriminatif terhadap makhluk hidup lainnya. Jadi, apabila dalam membina pikiran hanya peduli pada diri sendiri — yakni tidak peduli orang lain membina diri atau tidak, hanya peduli pada diri sendiri, karena ia masih ada pandangan kemelekatan pada aku. Apa arti dari kemelekatan pada aku? Yaitu bagaimana menurut saya, dengan kata lain saya melekat pada anggapan bahwa hal ini pasti benar. Misalnya, hari ini saya menegurmu, tetapi kamu merasa“Saya membaca novel, memangnya salah apa?” Lalu ketika pulang ke rumah tetap saja membaca novel di komputer seperti biasa, inilah yang disebut kemelekatan pada aku.  Oleh karena itu, dalam menekuni Dharma hingga pada akhirnya, jika selalu merasa dirinya benar sepanjang waktu, maka orang ini tidak bisa membina diri dengan baik dalam ajaran Buddhisme Mahayana, hanya bisa membina ajaran Buddhisme Hinayana saja, karena ia selamanya beranggapan bahwa dirinya benar. Jika orang yang selalu mempertahankan alasan diri sendiri, berpegang pada teorinya sendiri, dan tidak mau mengakui kesalahannya, maka kalian cukup tersenyum padanya saja, orang seperti ini tidak akan bisa membina diri dengan baik, ia melekat pada aku. Orang yang merasa dirinya selalu benar, disebut kemelekatan pada aku; orang yang selalu menganggap perbuatannya benar dan orang lain salah, itulah kemelekatan pada aku. Mengertikah?


Oleh karena itu, para praktisi ajaran Buddhisme Hinayana, pencerahan mereka tidak menyeluruh. Apa yang dimaksud dengan praktisi? Yakni orang yang yang membina diri disebut praktisi. Mereka yang membina ajaran Buddhisme Hinayana, potensi kesadaran dan pencerahan mereka belum sepenuhnya menyeluruh. Misalnya, sekarang banyak orang di rumah rajin melafalkan paritta, namun tidak mau memperkenalkan Dharma kepada orang lain. Ia merasa: “Untuk apa saya memperkenalkan Dharma kepadamu, saya melafalkan paritta dengan baik untuk diri saya sendiri sudah cukup.” Apakah orang seperti ini bisa menjadi Bodhisattva? Sama seperti dalam kehidupan sehari-hari, saya hanya mengurus rumah tangga saya sendiri, urusan di luar sana bukan urusan saya, benar tidak? Menurut kamu, apakah orang seperti itu bisa menjadi Bodhisattva? Seorang Bodhisattva bukan hanya membina dirinya sendiri, tetapi juga peduli pada orang lain, bahkan kadang ia rela tidak membantu dirinya sendiri, melainkan khusus membantu orang lain. Pada biasanya orang yang belajar ajaran Buddhisme Hinayana hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli pada orang lain. Kalau dalam kehidupan sehari-hari ada orang yang hanya tahu memikirkan dirinya sendiri, tidak pernah mau menolong orang lain, menurut kalian orang seperti ini menyebalkan atau tidak? Coba kalian katakan, menyebalkan atau tidak menyebalkan orang seperti itu? Oleh karena itu, Bodhisattva menjunjung tinggi pandangan agung pintu Dharma yang tiada duanya dari ajaran Buddhisme Mahayana. Jika kamu ingin menjadi seorang Bodhisattva, kamu pasti harus menolong dan menyelamatkan makhluk hidup. Kamu pasti melupakan diri sendiri dan hanya mengingat orang lain; seluruh pikiran terpenuhi dengan kepedulian terhadap orang lain, membantu orang lain, serta kasih sayang terhadap semua makhluk, hanya orang seperti inilah yang bisa menjadi Bodhisattva. Apakah kalian semua mengerti? Jadi kalian harus mengerti, di mana ada kerisauan, di situ ada medan pembinaan; jika tidak ada kerisauan, maka tidak ada pula medan pembinaan.


Satu pikiran tanpa “aku”. Jika dalam benak kalian masing-masing ada satu pikiran tanpa “aku”, yakni tidak memikirkan diri sendiri, melainkan hanya memikirkan makhluk hidup, maka makhluk hidup yang kalian lihat itu adalah jalan. Kerisauan juga adalah jalan, makhluk hidup juga adalah jalan. Master hanya bisa perlahan-lahan menjelaskannya kepada kalian. Segala dharma di dalam Alam Dharma sepuluh penjuru dan tiga kehidupan termasuk alam semesta, manusia, ruang, serta segala cara, semuanya adalah fenemona benda yang lahir karena sebab musabab (Nidana). Menjelaskan ini kepada kalian, kalian pasti tidak mengerti, jadi saya hanya bisa menjelaskannya secara sederhana:

Jalan Kebuddhaan adalah jalan para Buddha dan Bodhisattva. Jalan Kebuddhaan adalah jalan yang murni, jalan yang penuh kebijaksanaan. Benar tidak? Selama kamu sudah berada di dalam Jalan Kebuddhaan ini, meskipun ada kerisauan, kamu tetap bisa mengendalikannya. Jika kamu memiliki kebijaksanaan, kamu pun mampu mengatasi kerisauan itu. Bukankah itu juga merupakan jalan? Ya, itu adalah jalan. Ini adalah yang pertama.


Makhluk hidup adalah jalan, karena semua makhluk sedang belajar ajaran Buddha — belajar jalan Kebuddhaan. Bukankah makhluk hidup itu sendiri adalah medan pembinaan? Jika tidak ada makhluk hidup, bagaimana mungkin ada medan pembinaan? Jika di Guan Yin Tang Oriental Radio hari ini tidak ada seorang pun yang datang, bagaimana bisa disebut sebagai medan pembinaan? Di sini adalah medan pembinaan Guan Shi Yin Pu Sa. Bukankah ini adalah medan pembinaan? Ini adalah poin kedua.


Ketiga, semua makhluk hidup di sepuluh penjuru dan tiga kehidupan, seluruh alam semesta dan ruang, semuanya adalah fenomena benda yang lahir karena nidana. Dengan kata lain, apa yang kalian lihat di langit, yang kalian lakukan di dunia, serta segala sesuatu yang kalian miliki, sesungguhnya hanyalah imajinasi dari suatu hal. Mengertikah?


Sebagai contoh, jika kalian sedang duduk di Darling Harbour, Sydney, lalu kalian merasa seolah-olah sedang berada di Hawaii, bukankah kalian merasa benar-benar berada di Hawaii? Itu hanyalah hasil dari imajinasi. Kadang, ketika kalian pergi ke sebuah pantai dan merasa bahwa itu adalah salah satu dari sepuluh pemandangan terindah di dunia, maka “sepuluh pemandangan terindah” ini pun sudah terbentuk di dalam hati kalian. Sesungguhnya, semua orang yang ada di bumi ini juga hanyalah wujud ilusi yang tercipta. Hari ini orang ini ada, bukan? Ada. Besok kalau ia meninggal, maka ia pun tiada. Bukankah itu hanyalah hasil dari transformasi? Ia bukanlah sesuatu yang benar-benar nyata, bukan sesuatu yang bisa hidup selamanya, ia hanyalah wujud ilusi yang muncul. Mengertikah?

Maka, semua penjelasan tadi dimaksudkan agar kalian memahami bahwa Alam Dharma dari sepuluh penjuru dan tiga kehidupan sesungguhnya disebut juga sebagai kekosongan dharma. Misalnya, segala sesuatu yang saat ini kalian lihat dengan mata terbuka, ketika kalian tidur dan menutup mata, apakah masih ada? Tidak ada lagi, semuanya kosong, inilah yang disebut kekosongan dharma. Contohnya lagi, ketika ayah baru saja meninggal dunia. Suatu pagi setelah bangun tidur, dalam pikiran seakan-akan merasa ayah masih ada, lalu memanggil “Ayah”, namun seketika teringat bahwa ayah sudah tiada — inilah yang disebut kekosongan dharma. Ketika matamu terpejam, segalanya adalah kosong; ketika matamu terbuka, apa yang terlihat hanyalah palsu, sebuah ilusi, yang disebut sebagai fenomena benda.


Oleh karena itu, harus memahami bahwa diri sendiri adalah sebuah medan pembinaan. Mengapa? Karena tubuhmu sendiri adalah sebuah medan pembinaan. Di manakah Bodhisattva berada? Ada di dalam hatimu. Segala perilakumu, tutur katamu, dan pikiran yang muncul di benakmu semuanya berpusat pada hatimu, dan itu berarti berpusat pada Bodhisattva. Mengertikah? Jadi, inilah yang disebut sebagai medan pembinaan, diri sendiri adalah medan pembinaan. Medan pembinaan dalam diri ini paling dekat denganmu, tetapi juga bersifat kosong. Artinya, meskipun di dalam medan pembinaan diri ini ada Buddha, perilaku, ucapan, dan perbuatanmu tampak seperti Bodhisattva, Bodhisattva terasa begitu dekat denganmu karena kamu memiliki medan pembinaan ini, namun pada akhirnya, medan pembinaan ini pun akan lenyap. Ketika kamu meninggal dunia, dari mana lagi kamu bisa memiliki medan pembinaan? Ini juga termasuk kosong. Mengertikah? Lalu, mengapa kita perlu memiliki medan pembinaan? Karena kita harus meminjam medan pembinaan ini untuk membina Jalan Kebuddhaan dalam diri sendiri, yakni jalan Kebuddhaan untuk menyempurnakan dirimu.


Sebagai contoh sederhana, apabila di rumah kalian tidak ada Guan Yin Tang, maka saat kalian membina sendiri di rumah, kalian tidak memiliki kekuatan pengendalian diri. Karena saat melihat tempat tidur di rumah, kalian jadi ingin tidur; melihat dapur, maka ingin makan. Karena kamu tidak dapat melihat Guan Shi Yin Pu Sa di rumahmu, maka kamu pun tidak akan membina dengan begitu tekun. Itu karena di rumahmu tidak ada medan pembinaan. Tetapi ketika kamu datang ke Guan Yin Tang, di sana tidak ada makanan untuk dimakan, juga tidak ada tempat untuk tidur, maka kamu baru akan duduk di sini dengan tekun melafalkan paritta, baru akan melafalkan sepanjang hari. Sedangkan kalau di rumah, apakah kamu bisa melafalkan sepanjang hari? Inilah alasannya mengapa perlu membangun sebuah medan pembinaan untuk membina pikiran. Ibarat sebuah pesawat yang turun dari langit, ia harus meminjam sebuah landasan agar bisa mendarat. Kalau tidak ada landasan, bagaimana pesawat bisa mendarat? Demikian pula, jika pikiran Buddha dalam dirimu tidak memiliki landasan dalam perjalanan hidupmu, bagaimana mungkin pikiran Buddha itu bisa benar-benar bertumpu di dalam hatimu? Hari ini Guan Shi Yin Pu Sa akan datang ke Guan Yin Tang Oriental Radio untuk melihat kalian semua. Maka, harus ada sebuah medan pembinaan agar Bodhisattva dapat turun ke sini. Mengertikah? Saya ingin kalian masing-masing di dalam tubuhnya memiliki sebuah landasan — sebuah tempat yang dapat membuat “pesawat” Bodhisattva itu mendarat pada diri kalian.


Ketika kamu pergi ke Guan Yin Tang untuk bersembahyang, itu berarti kamu sedang meminjam “landasan” orang lain untuk membina pikiran dan menyebarkan Dharma. Coba lihat, berapa banyak pebisnis yang benar-benar membeli properti sendiri untuk membuka toko? Hampir semuanya menyewa tempat, justru orang-orang yang paling pintar dalam berbisnis adalah mereka yang menyewa. Benar tidak? Karena banyak orang yang modalnya tidak cukup, mereka pun meminjam usaha orang lain untuk berbisnis. Demikian pula, orang yang benar-benar bijaksana adalah mereka yang meminjam medan pembinaan kita untuk membina pikirannya sendiri. Semua ini sebenarnya ada kaitannya dengan kehidupan manusia. Mengapa ada orang tua yang tubuhnya tetap sehat? Banyak orang akan bertanya: “Kakek/nenek, bagaimana Anda bisa hidup lebih dari seratus tahun?” Ia pun menjawab, “Karena saya begini dan begitu…” Kemudian kamu juga mengikuti cara dia, meskipun belum tentu bisa hidup seratus tahun, tetapi kamu dapat meminjam metode baiknya untuk membantu dirimu sendiri agar bisa panjang umur. Mengertikah?


Maka, segala dharma pada hakikatnya adalah medan pembinaan. Inilah yang tadi Master jelaskan kepada kalian, sebuah pesawat yang ingin terbang ke langit, harus memiliki landasan. Demikian juga, sekarang hati kalian ingin naik ke langit, bukankah kalian juga harus memiliki sebuah medan pembinaan di dalam hati kalian? Hanya jika di dalam hati ada Bodhisattva, barulah hati menjadi bersih. Bukankah mustahil apabila biasanya hati tidak bersih, tetapi menjelang ajal tiba-tiba bisa menjadi bersih? Jika sehari-hari tidak melafalkan paritta, mungkinkah di saat genting tiba-tiba memeluk kaki Buddha dan berharap pertolongan? Saya jelaskan lebih jelas lagi, segala dharma pada hakikatnya adalah medan pembinaan — yang sesungguhnya berarti lingkungan untuk belajar Buddha Dharma. Medan pembinaan adalah lingkunganmu dalam belajar Buddha Dharma. Misalnya, di rumahmu ada empat orang, tiga orang tidak belajar Buddha Dharma, hanya satu orang yang belajar Buddha Dharma, maka kamu tidak akan memiliki lingkungan yang baik. Sesungguhnya, di rumahmu Bodhisattva tidak akan datang, karena rumahmu tidak memiliki medan pembinaan yang baik. Tadi ketika Master menjelaskan, kalian tampak setengah mengerti setengah tidak. Sekarang Master membalik cara penjelasannya, maka kalian akan mengerti.


Maka, di mana pun dan dalam keadaan apa pun, semua orang dan segala peristiwa pada hakikatnya adalah medan pembinaan. Artinya, jika hari ini kamu melakukan suatu hal, dan kamu melakukannya seolah-olah itu adalah pekerjaan Bodhisattva, maka itu sudah menjadi medan pembinaan. Jika hari ini kamu berbicara, dan kamu menuntut dirimu sendiri untuk berbicara layaknya seorang Bodhisattva, maka kamu sudah memiliki medan pembinaan pikiran Buddha. Artinya, kamu telah memiliki jodoh dengan Bodhisattva, kamu telah memiliki lingkungan Bodhisattva. Kalau dari mulut keluar kata-kata yang kacau dan tidak benar, menurutmu apakah orang ini punya syarat untuk belajar Buddha Dharma? Jika orang ini setiap hari bekerja di klub malam, setiap hari minum-minum dan bersenang-senang dengan orang lain, lalu pulang ke rumah melafal paritta, menurutmu, apakah orang seperti ini bisa belajar Buddha Dharma dengan baik? Apakah dia memiliki medan pembinaan? Meskipun pada akhirnya medan pembinaan itu juga akan tiada, sama seperti landasan pesawat yang suatu saat akan hilang. Namun, dalam kenyataan saat ini, harus memilikinya terlebih dahulu. Kalau sebuah pesawat ingin terbang ke langit, ia harus terlebih dahulu memiliki landasan. Setelah pesawat berhasil terbang, maka landasan itu tidak lagi berguna, bukan? Kecuali kamu ingin turun kembali, namun siapa yang sudah lahir sebagai manusia lalu berhasil naik ke surga dan masih ingin turun kembali?


Oleh karena itu, pada akhirnya, kerisauan juga adalah sebuah medan pembinaan. Meskipun ketika kerisauan itu datang terasa tidak baik, tetapi jika kamu mampu mengubahnya menjadi sesuatu yang baik, yakni menjadikan hal buruk berubah menjadi hal yang baik, bukankah itu berarti kamu telah memperoleh sebuah medan pembinaan? Bagaimana bisa menjadikan kerisauan berubah menjadi sesuatu yang baik, menjadi sebuah medan pembinaan? Karena kamu menggunakan Bodhi yaitu kebijaksanaan dalam medan pembinaanmu untuk mengubah kerisauan itu. Bukankah dengan begitu ia kembali menjadi sebuah medan pembinaan? Jika kamu tidak pernah menghadapi kesulitan, bagaimana mungkin kamu bisa memiliki kebijaksanaan? Oleh karena itu, medan pembinaan adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Hanya dengan menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk memahami dan mengatasi kerisauanmu, barulah kamu memperoleh medan pembinaan dari Buddha.


Hingga saat ini, apa yang Master sampaikan kepada kalian semuanya adalah tentang medan pembinaan — baik kerisauan maupun Bodhi, semuanya adalah medan pembinaan. Manusia adalah medan pembinaan, benda-benda juga adalah medan pembinaan,  segala sesuatu adalah medan pembinaan. Dengan kata lain, perilaku manusia, pemikiran, ucapan, serta segala sesuatu yang disentuh harus kamu ubah menjadi medan pembinaan Guan Shi Yin Pu Sa. Dengan begitu, kamu akan selalu hidup dalam sifat Kebuddhaan. Walaupun kamu berada di Alam Manusia, namun sesungguhnya kamu sudah hidup dalam sifat Kebuddhaan, dan pasti bisa membina pikiran dengan baik. Artinya, segalanya adalah medan pembinaan — sebenarnya itu adalah lingkungan belajar Buddha Dharma dari para Buddha dan Bodhisattva. Lingkungan hidupmu, lingkungan bahasamu, lingkungan pikiranmu, dan seluruh lingkungan di sekelilingmu — semuanya adalah medan pembinaan Bodhisattva. Bukankah itu berarti kamu sendiri adalah Bodhisattva? Lalu, menurutmu, apakah kamu bisa membina diri dengan baik? Orang yang bisa membina diri dengan baik pasti memiliki medan pembinaan Buddha dan Bodhisattva di dalam hatinya.