32. Sifat Kekosongan adalah Menyesuaikan Jodoh 空性就是随缘

Sifat Kekosongan adalah Menyesuaikan Jodoh

Jangan biarkan nafsu keinginan ada pada diri kita, ini adalah satu poin yang sangat penting dari Master untuk kalian. Kelima racun – segala ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan kecurigaan, semuanya berawal dari mana? Hari ini Master akan membahas satu informasi yang sangat penting, yakni tentang pikiran atau perasaan tamak, perasaan benci, pikiran bodoh, perasaan sombong, dan perasaan curiga, tahukah kalian dari mana datangnya mereka? Kemunculan kelima racun ini semuanya karena kemelekatan seseorang, jika kalian ingin menghilangkan kebiasaan-kebiasaan buruk ini, yakni kelima racun yang jahat ini, maka pertama-tama kalian harus bisa membuang kemelekatan. Apakah kemelekatan itu? Yaitu “Saya merasa”. Kamu merasa? Kamu merasa benar, baru bisa ada ketamakan; karena kamu merasa benar, baru bisa ada kebencian; karena kamu merasa dia adalah orang jahat, kamu baru bisa memiliki kebodohan; karena kamu merasa dia adalah orang yang picik, kamu baru bisa memiliki kesombongan; karena kamu merasa kalau dia orang yang mencuri barang, baru bisa ada kecurigaan. Semuanya ini berawal dari kemelekatan atau sifat keras kepala diri kita, oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis sama sekali tidak boleh sombong, orang yang tidak sombong berarti sudah bisa menghilangkan kemelekatannya sendiri.


Hari ini, kalian semua praktisi Buddhis, jika masih merasa diri sendiri adalah benar, berarti kamu sudah salah, kamu akan dicemari oleh lima racun. Kelima racun ini sangat luar biasa, tidak jauh-jauh, seperti Robin, mengapa dia melakukan kesalahan? Karena kemelekatan: “Tidak apa-apa, dijamin begitu waktunya tiba, bukunya juga akan tiba.” Saya sudah menjamin sampai beberapa hari berlalu, keras kepala bukan? Mengira diri sendiri adalah benar? Sudah salah bukan? Kamu jangan mengira diri sendiri benar, maka mungkin kamu tidak akan salah, kamu jangan keras kepala, “Saya merasa”, jangan mengira-ngira sendiri.


Sewaktu kita masih kecil, akar kesadaran kita, yakni akar pemikiran kita, belum masuk dan beroperasi di dalam otak kita anak kecil, oleh karena itu, anak kecil sangat polos, maka perkataan yang mereka katakan dan perbuatan yang mereka lakukan masih sangat polos, jadi mereka tidak akan melakukan kesalahan, dalam ladang kesadaran kedelapan mereka belum terpolusi. Mengapa kita suka bersama dengan anak kecil? Master suka sekali dengan anak dari Tuan Zhou, selalu memanggil “Halo Paman”, sapaan ini menggambarkan begitu bersih pikirannya, benar tidak? Membina pikiran memang bertujuan untuk kembali ke kesederhanaan dan keaslian. Kita membina diri sampai pada akhirnya, kita akan menjadi lugu dan polos seperti anak kecil, tidak memiliki niat untuk mencelakakan orang lain, juga tidak berpikir orang lain akan menjahati kita. Jika kita tidak memiliki pikiran untuk menjahati orang lain, maka kita pasti tidak akan dijahati orang lain, yang kita katakan semuanya adalah kejujuran, hati kita terbuka lapang, kalau kita melakukan kesalahan katakan “maaf”, maka kita akan hidup dengan bebas dan leluasa.


Betapa susahnya hidup kita sekarang, hari ini, kita harus menciptakan lebih banyak kebohongan untuk menutupi kebohongan kita sendiri, kita setiap hari harus menanggung akibat dari kesalahan yang kita lakukan sendiri, setiap hari menyakiti diri sendiri karena perkataan salah diri sendiri, betapa sulitnya hidup kita. Oleh karena itu, kita harus bisa membersihkan diri sendiri tiada noda, kita harus kembali ke kesederhanaan yang semula, kita harus memiliki hati yang lapang.


Harus bisa menyesuaikan jodoh tidak berubah. Apa yang dimaksud menyesuaikan jodoh tidak berubah? Yakni tidak peduli jodoh apapun yang datang, kita jangan mengubahnya, sesungguhnya menyesuaikan jodoh tanpa berubah merupakan suatu bentuk kelapangan hati kita. Seseorang yang memiliki hati yang lapang, tidak akan mempermasalahkan terhadap jodoh apapun yang menghampirinya. Jika hari ini jodoh buruk datang, saya juga harus menghadapinya dengan hati yang lapang; bila jodoh baik datang, saya menerimanya dengan senang hati. Menyesuaikan jodoh adalah suatu bentuk kedewasaan, merupakan suatu keyakinan dan penguasaan terhadap diri sendiri. Seseorang yang bisa menyesuaikan jodoh, pasti bisa menemukan arah untuk maju di tengah badai perubahan dan gejolak kesulitan hidup.


Tenang menghadapi apapun, menolong kesadaran spiritual semua makhluk dengan menyesuaikan jodoh. Jika hari ini bisa menyadarkannya, maka saya akan menyadarkannya; kalau tidak bisa, saya pun tidak bersedih. Hari ini dia percaya bahwa yang saya katakan adalah benar, maka biarkan dia percaya; jika tidak percaya pada saya pun tidak apa-apa, karena saya masih diri saya yang semula.


Menyesuaikan jodoh berarti pemahaman yang benar dan jernih terhadap kenyataan. Ketika satu masalah muncul, saya dengan sangat sadar dan benar memahaminya, saya memahaminya dengan tepat, itu berarti saya sadar sepenuhnya, itu namanya saya menyesuaikan jodoh. Menyesuaikan jodoh bukan berarti mengikuti tanpa tujuan, melainkan mengikutinya dengan benar-benar sadar. Sesungguhnya, “menyesuaikan jodoh” merupakan semangat kebebasan yang dicapai setelah tersadarkan secara total terhadap kehidupan ini.


Banyak orang yang bersusah hati saat menghadapi masalah, karena dia tidak bisa berjalan menyesuaikan jodoh ini, maka dia akan menderita, karena dia tidak mampu menguraikannya. Apabila pada suatu hari nanti, dia bisa berpikiran terbuka, bukankah berarti dia sudah tersadarkan secara total, sudah sadar sepenuhnya? Dia sudah berpikiran terbuka, bukankah berarti jiwanya sudah terbebaskan? Dengan mengikuti jodoh ini, bukankah sudah tidak ada lagi penderitaan?


Dia memarahi saya, tidak apa-apa, dia masih belum mengenal saya, pada suatu saat nanti, dia akan memahami saya, ya sudah, tidak marah lagi, bukankah jiwa kita sudah terbebaskan? Hari ini, dia ingin meninggalkan saya, tidak apa-apa, karena dia tidak memahami saya, tunggu pada suatu hari nanti dia sudah memahami saya, mungkin saja, dia akan kembali mencari saya, bukankah jiwamu sendiri memperoleh kebebasan? Bukankah berarti kamu sudah menyesuaikan jodoh? Anak akan pergi meninggalkan orang tuanya, saya sudah membesarkannya sampai sebesar ini, dia ingin meninggalkan saya, apakah saya sedih? Sangat sedih, lalu menyesuaikan jodoh, karena saya sudah berpikiran terbuka: pertama, anak sudah tumbuh dewasa, pasti akan pergi; kedua, anak tidak memahami orang tua, karena dia adalah anak, tunggu pada suatu hari nanti saat dia sudah menjadi orang tua, dia pasti akan kembali mencari kita orang tuanya sendiri. Saya menyesuaikan jodoh terlebih dahulu, jadi saya tidak menderita, maka jiwa saya pun terbebaskan, inilah “menyesuaikan jodoh”. Dari dua kata ini “sui yuan —  menyesuaikan jodoh”, Master sudah membahas banyak makna filsafat yang terkandung di dalamnya, benar tidak?


Pertemuan dan perpisahan pada dasarnya adalah jodoh, yang ada hari ini bisa hilang di hari esok, yang pergi di hari ini mungkin bisa kembali bersama di hari lusa, ini adalah jodoh, ada jodoh yang panjang maupun jodoh yang pendek, benar tidak? Di dunia ini ada berbagai macam jodoh, coba pikirkan, jodoh yang sangat pendek adalah jodoh, jodoh yang sangat panjang juga merupakan jodoh, ada kesedihan dan sukacita maupun kebersamaan dan perpisahan di antara suami istri, apalagi teman? Dulu di kuil, juga ada biksu, yang karena berpikiran buntu lalu meninggalkan keluarganya dan menjadi biksu, dia pergi ke kuil, namun kemudian kembali merasa kuil juga bukan rumah, jadi meninggalkan kuil dan bepergian ke mana-mana, singgah di berbagai kuil yang dilalui, terakhir merasa berjodoh dengan tetua dan Bodhisattva dari kuil yang paling awal didatanginya, jadi kemudian dia pulang kembali ke sana, semua ini adalah jodoh.


Menyesuaikan jodoh adalah pemikiran yang bebas dan terbebaskan, berpikiran terbuka dan bisa memahami semuanya. Dengan memiliki pikiran yang menyesuaikan jodoh, bagaimana pun “cuaca” hidup kita, baik gelap berawan atau cerah ceria, bagaikan kelancaran maupun ketidaklancaran dalam jalan kehidupan kita, namun hati kita selamanya selalu bisa menyesuaikan jodoh, maka kita akan memiliki ketenangan dan kesucian, karena awan mendung tidak bisa menutupi matahari. Baik atau buruk tidak ditentukan dari perkataan, melainkan dari kesadaran, maka saya berharap kalian semua bisa terbuka kesadarannya.


Kita menekuni Dharma dan membina pikiran di tengah alam semesta ini, hidup kita sesungguhnya bersifat kosong, karena bersifat kosong berarti harus menyesuaikan jodoh. Benda yang kosong, maka harus membiarkannya berlalu, sifat kekosongan pada dasarnya adalah suatu yang bebas. Contoh sederhana, udara bukankah bersifat kosong? Udara bisa pergi ke mana pun ia mau, benar tidak? Kita harus memahami bahwa, hidup ini berawal dari tengah kekacauan kosmologis alam semesta yang bersifat kosong, hening, dan penuh ketidaktahuan. Hidup kita mulai berawal dari dunia ini, dari tengah kesadaran sifat kekosongan alam semesta terlahir pemikiran. Sewaktu kamu dilahirkan, pelan-pelan setelah kamu tumbuh dewasa, kamu sudah memiliki kesadaran dan konsep pikiran sendiri, pada saat ini akan terbentuk suatu pemikiran; lalu pelan-pelan setelah kamu memiliki pemikiran, lambat laun kamu akan mulai memiliki permintaan; dari kamu meminta satu hal, sampai pelan-pelan membentuk suatu nafsu keinginan; kemudian nafsu keiningan itu akan membuat kehidupan kesadaranmu, berarti otak besar kamu sudah memasuki kehidupan duniawi yang bagai permainan ilusi palsu yang tiada akhirnya.


Master akan memberikan contoh yang baru saja kita bahas. Dari semenjak kita dilahirkan, hidup kita baru saja dimulai, sesampai kita di dunia ini, kita tidak tahu apa-apa, kita berawal dari kosmologis kosong alam semesta yang tidak jelas, karena kita adalah kosong, maka kita tidak tahu apapun. Kalau begitu, kita akan mulai hidup di tengah alam semesta ini, di tengah kehidupan kita, pelan-pelan kita memiliki kesadaran, bisa merasakan mengapa mama bersikap baik terhadap anak ini, namun bersikap buruk terhadap saya? Setelah mulai memiliki kesadaran, akan muncul pemikiran, “Saya harus mengingatnya, saya akan bersikap buruk padanya, supaya mama memperlakukan saya dengan lebih baik”, semua ini adalah kesadaran yang berubah menjadi niat pikiran. Kemudian, ketika kesadaran mencapai nafsu keingingan tertentu, akan membuat kita terus-menerus menginginkan sesuatu, “Saya ingin hal ini bisa membuat saya bagaimana,” atau “Saya ingin hal itu bisa membuat saya bagaimana”, dengan tidak sadar, kamu sendiri mulai mengenal, siapa yang baik pada saya, dan siapa yang jahat pada saya, terhadap orang yang baik pada saya, maka saya akan baik padanya. Ketika pemikiran ini muncul keluar, lalu akan terhubung dengan nafsu keinginan orang lain, kemudian membuat niat pikiranmu semakin kuat, “Saya ingin menguasainya, saya ingin memilikinya, saya mau mengejarnya”, nafsu keinginan akan mulai datang, begitu kita memohon atau mengejar sesuatu akan mengeluarkan nafsu keinginan. Kemudian nafsu keinginan ini, akan seperti seorang ibu terhadap anaknya, “Saya harus memiliki anak ini, karena saya yang melahirkannya, maka saya harus memilikinya”, setelah kesadaran seperti ini menjadi semakin kuat, maka dirimu akan memasuki kehidupan kesadaran, kemudian kesadaran pihak yang satunya ini akan tertinggal di dalam kesadaranmu, inilah yang menjadi alam bawah sadar kamu, jadi di alam bawah sadar kamu terus mengatakan, “Dia adalah milik saya, saya harus memilikinya.” Lalu kamu mulai terus-menerus berkorban, bekerja keras, baik padanya, kemudian kamu akan memasuki permainan duniawi bagai ilusi yang tidak ada habisnya. Kamu baik padanya, lalu dia baik padamu, terus-menerus berbalas sampai pada akhirnya jodoh sudah berakhir dan hilang, maka berarti permainanmu sudah selesai.


Kita harus memahami bahwa hidup kita dilalui di tengah keindahan yang tidak sempurna dan kebaikan yang membutuhkan banyak proses. Seseorang dalam menekuni Dharma bukankah juga demikian? Untuk mencapai kebaikan harus melalui banyak halangan, dan ada ketidaksempurnaan di tengah keindahan, tunggu sampai mimpi kita sudah berakhir, kita baru menemukan kebenaran nyata setelah terbangun dari mimpi. Ketika banyak hal-hal semasa kecil kita yang sudah berlalu, dan sampai sekarang kita baru mengetahui bahwa mengapa saat kita masih kecil bisa melakukan kesalahan dalam hal ini atau hal itu, karena begini atau begitu, saya baru bisa mengetahui sifat dasar dan kebenaran nyata darinya.


Coba pikirkan, kita telah melakukan berapa banyak kesalahan, itu karena kita tidak memahami sifat dasar dan kebenaran nyata darinya. Mengapa banyak suami istri bercerai? Karena masing-masing pihak merasa sudah banyak berkorban dibandingkan pihak lain, saya begitu baik padanya, namun dia tidak baik terhadap saya. Karena dia tidak memahami kebenaran nyatanya, sesungguhnya ini semua karena jodoh, karena jodoh ini kalau ada ya ada, kalau sudah hilang ya tidak ada lagi, mengapa kamu harus memaksa untuk melampauinya, memilikinya, dan mengendalikannya dengan kejam? Pada akhirnya yang kamu kendalikan adalah suatu ilusi palsu. Kita sewaktu menonton TV saat kecil, melihat satu orang jahat merasa sangat benci padanya, mengepalkan tangan kecil dan mengarahkannya ke TV, begitu ayah ibu melihatnya, lalu mengganti saluran, begitu saluran diganti, orang jahatnya hilang, lalu si anak tertawa, “he he”, sesungguhnya yang kamu pukul, yang kamu gunakan, semua yang kamu miliki, semuanya adalah ilusi.


Hari ini perasaan kalian dengan orang lain, relasi kalian dengan orang lain, bukankah bagaikan mimpi? Coba pikirkan, sewaktu kalian masih kecil, ada berapa banyak teman-teman sekolah yang dekat dengan kalian seperti sanak keluarga, dulu kalian sangat akrab, mengapa sekarang kalian sudah melupakannya, karena sekarang jalinan perasaan yang baik pun juga bisa menjadi masa lalu.


Kita harus bisa menyesuaikan jodoh, harus memiliki toleransi yang besar, harus memahami bahwa perubahan terjadi setiap hari yang tiada kekal, lalu mengapa kita bersikeras dalam memandang suatu hal dan berpendapat kalau dia tidak akan berubah?