14. Kemunculan Satu Pikiran Melahirkan Berbagai Dharma – Fenomena, Lenyapnya Satu Pikiran Melenyapkan Berbagai Dharma – Fenomena 心生种种法生 心灭种种法灭

Kemunculan Satu Pikiran Melahirkan Berbagai Dharma - Fenomena, Lenyapnya Satu Pikiran Melenyapkan Berbagai Dharma - Fenomena

Hari ini saya beritahu kalian, “Hati tidak boleh melihat rupa lalu menginginkannya”, dengan kata lain, pikiran seseorang tidak boleh karena melihat suatu benda lalu menginginkannya, melihat barang ini lalu ingin menjadikan milik sendiri. Rupa atau “色–se” di sini, tidak hanya merujuk pada hubungan pria dan wanita, melainkan juga merujuk pada segala benda di dunia ini, oleh karena itu, benda-benda di dunia ini disebut sebagai “dunia yang berupa”. Dengan kata lain, segala benda di dunia ini, kamu tidak boleh begitu melihatnya lalu ingin memilikinya, karena semua benda yang kita lihat adalah ilusi semata. 


“Segala fenomena berkumpul bersama”, apa maksudnya? Segala fenomena – dharma, sesungguhnya bersama-sama, dengan kata lain, segala hal yang kita lakukan di dunia ini, semuanya adalah palsu, adalah kosong, adalah ilusi, jadi kamu jangan mengira karena melihatnya, lalu kamu mengira kalau itu adalah benda yang bisa kamu ambil, maka dinamakan, “segala fenomena berkumpul bersama”.


Sesungguhnya, segala hal di dunia ini semuanya “tiada dharma-fenomena dan tiada Aku”, yakni di dunia ini tidak ada diri sendiri. Kamu datang ke dunia ini, maka kamu pasti akan meninggalkan dunia ini, kamu terlahir di dunia ini, kamu adalah sesuatu yang palsu dan kosong, maka tidak ada “Aku” di sini. Saat kamu baru dilahirkan, apakah kamu tahu siapa dirimu? Setelah kamu meninggal, apakah kamu juga tahu siapa dirimu? Tiada Aku, tidak ada diri sendiri, datang dan pergi dengan cepat. “Tiada dharma-fenomena”, apa maksudnya? Bahwa segala hal yang kamu alami di dunia ini, semuanya adalah kosong. Kita mengatakan, Alam Dharma, Alam Dharma yang berupa, yakni segala hal di dunia ini, bahkan benda-benda, rumah, semua ketenaran dan kekayaan, semua makhluk berperasaan yang terlihat, dan makhluk-makhluk yang tidak berperasaan, semua ini adalah kosong, maka dikatakan tiada dharma, juga tiada Aku – bahkan Aku juga tidak ada, karena Aku yang datang ke dunia ini juga palsu, pada akhirnya akan meninggal; hari ini saya membangun sebuah rumah, seratus tahun kemudian, rumah juga akan rusak; hari ini saya membuat sebuah benda, kalau sudah rusak berarti sudah tidak ada lagi, maka dikatakan “tiada dharma, tiada Aku”.


Sesungguhnya, manusia hidup di dunia ini dikatakan “mengikuti karma”, yakni kamu datang ke dunia ini, maka kamu hanya bisa berjalan mengikuti karmamu sendiri. Di dunia ini, “yang tampak tidak sama”, dengan kata lain, di dunia ini, kita hanya melihat beberapa keadaan atau kesadaran spiritual yang tidak sama, namun sesungguhnya bila ditilik dari akarnya, semuanya tiada dharma dan tiada Aku, semuanya adalah kosong dan palsu. Contoh sederhana, pernikahan, bukankah adalah dua orang yang menikah? Akan tetapi, realita yang ditampakkannya adalah pertengkaran, sebentar rukun, sebentar tidak, sebentar berganti dengan pria ini, sebentar berganti dengan wanita itu, pada dasarnya adalah seorang pria dan seorang wanita yang membentuk satu rumah tangga, meskipun realita yang ditampakkan tidak sama, namun tujuan akhirnya semuanya sama.


Di dunia ini, meskipun kelihatannya tidak sama, namun sesungguhnya adalah keberadaan di tengah ketiadaan. Kita datang ke dunia ini, bukankah sesungguhnya tidak ada kamu orang ini? Lahan ini sebelum dikembangkan, bukankah juga tidak ada rumahnya? Bukankah dari tidak ada lalu mulai ada? Kalian melahirkan anak, bukankah dari tidak ada menjadi ada? Kalian pelan-pelan membentuk dunia ini, bukankah dari tidak ada menjadi ada? Dulu tidak ada pesawat, sekarang ada pesawat, bukankah dari tidak ada menjadi ada? “无中生有 — wu zhong sheng you” ini tidak sama dengan pepatah yang berarti “mengada-ada”, sesungguhnya sesuatu yang pada mulanya tidak ada di dunia ini, kemudian pelan-pelan menjadi semakin banyak, seperti satu orang terlahir ke dunia ini, dia pelan-pelan punya anak, cucu, istri, semuanya sudah ada, dan semua ini kamu yang menciptakannya.


Oleh karena itu, dengan memahami semuanya ini, bahwa segala dharma – fenomena di dunia ini, semua benda, kita sebut sebagai “dharma”, semuanya sangat luar biasa. Karena “karakternya bagaikan ilusi”, yakni sifatnya sendiri, karakter dasarnya sendiri bagaikan mimpi, ilusi, gelembung sabun dan bayangan, tidak bisa ditangkap, tidak ada satu hal pun yang bisa ditangkap sifat dasar sendiri. Bagaikan mimpi, ilusi, gelembung sabun, dan bayangan, dengan kata lain, karakter dasar itu sendiri tidak memiliki dasar. Karena setelah kamu sampai di dunia ini, dirimu sendiri pada dasarnya tidak tahu bagaimana kamu bisa datang, kamu juga tidak tahu siapa dirimu, ini berarti sifat dasar tersesatkan untuk sementara. Banyak orang setelah dia tersesat dan tidak tahu arah tujuan hidupnya, sering mengatakan, dia pun tidak tahu kalau dia telah melakukan kesalahan dalam hal ini, bahkan dirinya sendiri siapa pun dia tidak tahu. “Tahukah kamu kalau hal ini adalah hal yang seharusnya kamu lakukan?” “Saya tidak tahu, bagaimana mungkin saya bisa melakukannya.” Dia sudah tidak memiliki karakter sendiri, sudah kehilangan sifat dasarnya sendiri. Banyak orang yang bertengkar sampai pada akhirnya sampai membunuh lawan bicaranya itu, melakukan hal-hal yang di luar akal sehat, karena dia tidak bisa mengendalikan karakter dasarnya dan sifat temperamennya sendiri, sehingga dia baru bisa melakukan suatu hal yang tidak memiliki sifat dasar.


Kita harus memahami bahwa, “Orang yang bijaksana mengetahui dirinya sendiri, seharusnya membina karma baik”. Orang yang memiliki kebijaksanaan, memahami bibit karma, dan bibit karma ini begitu ditanamkan, seharusnya membina karma baik, yakni sudah sedang melakukan banyak karma baik. Karena saya memahami bahwa bibit karma yang saya tanamkan hari ini adalah bibit yang baik, maka pasti akan ada buah karma yang baik, maka begitu bibit karmamu ini ditanam, kamu sudah membentuk suatu buah karma yang baik. Seperti kalian yang mengajukan imigrasi, kalian memasukkan surat permohonan ke kantor imigrasi; ini tidak berarti kantor imigrasi segera menyetujui permohonanmu. Akan tetapi, karena kamu sudah menanam bibit karma ini, kamu percaya kalau dirimu bisa menjadi warga negara tetap. Oleh karena itu, orang yang mengetahui sebab karma, sesungguhnya juga mengetahui buah akibat karma; dan orang yang mengetahui buah karma, pasti mengetahui bibit karma. Kita sewaktu kecil masih belum tahu etika yang benar, sedangkan ayah ibu tahu kalau melakukan hal ini bisa menyakiti siapa, namun anak kecil tidak tahu, tetapi orang tua tahu. Oleh karena itu, harus memahami untuk “seharusnya membina karma baik”, dengan kata lain, asalkan orang ini memahami apa itu bibit karma, dia akan berusaha keras untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya, tidak melakukan perbuatan jahat, selain itu, menjadi orang yang “bermartabat dalam segala aspek”, dengan kata lain dia memiliki mentalitas total yang baik dan berwibawa.


Mentalitas seseorang sangat penting, jika orang ini tidak bisa menstabilkan mentalitasnya, berarti orang ini pasti tidak memahami tentang bibit karma. Apabila orang ini bermentalitas buruk, maka sesungguhnya dia sudah menanam bibit karma buruk – karena dia melihat keadaan orang lain yang baik, dia sendiri merasa tidak senang, diri sendiri tidak bisa mendapatkannya, sehingga dia merasa sangat kesal, maka orang ini sudah mulai berjalan menurun. Hari ini, baik tidaknya mentalitas kalian akan menentukan baik buruknya bibit karma yang kalian tanam pada hari ini. Jika hari ini saya memiliki mentalitas yang sangat baik, saya melihat orang lain punya uang, saya sendiri juga merasa berkecukupan, saya tidak menginginkan lebih banyak uang. Berarti orang ini memiliki mentalitas yang baik, maka dia akan menanam bibit karma baik; namun jika orang ini cemburu pada orang lain, sepanjang waktu mengejar ketenaran dan keuntungan, maka orang seperti ini pasti akan bermasalah, karena dia menanam bibit karma buruk.


Master mengajarkan kalian untuk memahami bahwa, semua makhluk bersukacita, saya pun bersukacita. Suatu hal yang menggembirakan semua orang, kita pun harus turut bergembira, hal yang ingin dilakukan semua orang, seperti membantu dan menolong kesadaran spiritual semua makhluk, saya juga mau melakukannya. Kebaikan hati dan balasan berkah seseorang semuanya terlahir dari karma baik dan berkah kebajikan yang terakumulasi dari pembinaan dirinya, dengan kata lain, balasan berkah dan kebaikan hati seseorang; Mengapa orang ini begitu baik hati? Mengapa orang ini memiliki berkah keberuntungan? Sebenarnya ini karena karma baik dan berkah kebajikan yang terakumulasi dari pembinaan dirinya, misalnya orang ini mengumpulkan berkah kebajikan dan melakukan perbuatan baik, maka orang ini baru bisa memiliki kebaikan hati dan balasan berkah. Kalau dikatakan dengan lebih sederhana, ketika seseorang berusaha keras untuk melakukan perbuatan baik sebanyak-banyaknya, berarti dia sedang mengumpulkan kebaikannya, yang akan didapatkannya juga adalah kebaikan. Saat seseorang sedang berusaha keras untuk mengumpulkan keberuntungan, maka dari berkah yang dikeluarkannya, yang akan diperolehnya nanti juga adalah berkah pahala, ini prinsipnya.


Kita harus memahami bahwa, “munculnya satu pikiran melahirkan berbagai fenomena, lenyapnya satu pikiran melenyapkan berbagai fenomena”. Apa maksudnya? Yaitu, saat muncul suatu hal di dalam pikiranmu, maka hal ini terjadi, ini karena pikiranmu yang memikirkannya, kalau kamu tidak memikirkannya, maka semuanya ini akan lenyap. Banyak orang sebelum mengajukan tuntutan pengadilan, merasa sangat sedih dan sangat benci, setiap hari dia memikirkan hal ini, selalu mengkhawatirkan bagaimana nantinya perkara ini, apakah akan membawa akibat buruk. Terus dipikirkan, munculnya satu pikiran melahirkan berbagai fenomena. Tunggu sampai kamu terpikir: ya sudahlah, bukankah hanya perkara kecil saja? Apa yang perlu diperebutkan, saya tidak mau menuntut lagi. Maka dia pun menjadi lega, juga tidak merasa khawatir lagi, semuanya sudah dilepaskan, maka menjadi lenyapnya satu pikiran melenyapkan berbagai fenomena. Fenomena – dharma ini adalah hal-hal yang kamu lakukan di dunia ini, maka pikiran kita sangat penting.


Jika kita tidak membina perilaku, ucapan, dan pikiran, tidak memperbaiki kekurangan pada diri sendiri, tidak mengubah kebiasaan buruk suka bicara sembarangan, tidak menghilangkan pemikiran yang tidak baik, maka kita akan menerima balasan karma mengikuti karma kita, berarti mengikuti karma yang kamu ciptakan ini, menanggung buah karmanya. Oleh karena itu, kita harus memiliki “pandangan benar yang tak tergoyahkan”, dengan kata lain, segala hal yang saya lakukan hari ini, bila adalah hal yang benar dan baik, maka saya tidak akan tergoyahkan. Tentu saja, kamu juga harus memiliki pemikiran yang benar, kamu baru bisa memiliki pandangan yang benar. Apabila yang dipikirkan otakmu sepanjang hari adalah hal-hal yang tidak baik atau menyimpang, maka kamu tidak akan memiliki pandangan yang benar. Coba kalian pikirkan, di dalam otak kalian setiap orang, setiap hari ada 50 hal yang benar, dan 100 hal yang sesat; ada juga sebagian orang yang memiliki 50 hal sesat dan 100 hal benar, maka berarti orang ini dalam satu hari ini sudah termasuk orang yang baik. Begitu muncul satu pemikiran dalam diri kalian, jika itu adalah pemikiran yang egois dan mementingkan keuntungan sendiri, bukan demi semua makhluk, berarti ini sudah menyimpang.


Jangan lupa bahwa kalian adalah seorang praktisi Buddhis, kalian sedang meneladani Bodhisattva, bukan meneladani diri kalian sendiri, semua pemikiran liar akan memperoleh balasannya, ini yang dinamakan menerima balasan menyesuaikan karma, maka kita harus memiliki pandangan yang benar, jangan memikirkan berbagai macam logika dan konsep duniawi. Dengan kata lain, kamu jangan memikirkan prinsip-prinsip duniawi, karena prinsip duniawi pun, sesungguhnya tidak ada logikanya, yang benar adalah benar, yang sesat sudah pasti sesat. Ketika kamu berpikir untuk melakukan satu hal, kamu merasa kalau hal ini sesuai dengan hati nurani kamu, berarti ini adalah benar; kalau kamu masih menggunakan berbagai alasan, 100 alasan untuk menyangkalnya, berarti sudah menyimpang. Oleh karena itu, asalkan ada orang baik di dunia ini yang mengatakan kalau kamu salah, selain itu dirimu sendiri juga tahu kalau hal ini adalah salah, maka kamu tidak boleh menggunakan alasan apapun lagi untuk membenarkan hal ini, kalau tidak, berarti kamu sudah sesat dan menyimpang, setidaknya dalam satu aspek tertentu, kamu telah melakukan kesalahan, yang sudah pasti salah, jadi tidak usah mencari-cari alasan.


Misalnya, hari ini kalian tidak hati-hati meludah sembarangan, lalu dilihat oleh orang lain, kamu harus mengatakan, “Maaf, lain kali saya tidak akan mengulanginya lagi”, tidak boleh beralasan, “Hari ini kebetulan saya sedang flu” atau lain sebagainya. Karena semua ini termasuk menyimpang dan sesat, kalau kamu mengakui dirimu salah, lebih baik daripada mencari-cari berbagai macam alasan. Hari ini kamu terlambat masuk sekolah, maka tidak perlu mencari alasan apapun, misalnya orang tua saya baru saja sampai bandara, kalau kalian setiap orang mencari ribuan bahkan puluhan ribu alasan, semuanya juga bisa, akan tetapi kamu ingin menjelaskan satu kenyataan dengan banyak alasan, semakin dijelaskan malah menjadi semakin runyam. Apa yang perlu dijelaskan? Kalau salah ya salah, dengan satu kata “maaf”, bukankah sudah terselesaikan semuanya? Semakin kita membenarkan diri sendiri di hadapan orang lain, semakin tidak ada alasan, semakin ingin kita memperjelas masalah, malah semakin tidak jelas, maka dari mana adanya alasan untuk dijelaskan? Suami istri bertengkar, semuanya merasa diri benar, terakhir siapa yang benar? Semuanya tidak benar, bukankah begitu? Menurutmu, pengorbanan istri di rumah lebih besar, atau pengorbanan suami untuk keluarga lebih besar? Menurutmu, dulu pengorbanannya lebih besar, atau sekarang pengorbanannya lebih besar? Kamu lebih banyak berkorban sebelum menikah atau sesudah menikah? Sebelum menikah, sewaktu pacaran, orang lain sudah berkorban, memangnya kamu bisa mengatakan kalau dia tidak berkorban? Maka menghadapi semuanya ini, janganlah kita mencari prinsip kebenaran di tengah logika dan konsep pandangan duniawi.