31. Melakukan Jasa Kebajikan Tidak Melekat pada Rupa — 做功德不着相

Melakukan Jasa Kebajikan Tidak Melekat pada Rupa

Asalkan kamu terus-menerus menghilangkan dan menghapuskan pemikiran buruk dan halangan karma buruk dari pikiranmu, maka saat meninggalkan dunia ini, kamu baru bisa pergi ke Alam Sukhavati, baru bisa pergi ke Empat Alam Brahma. Apabila kamu selamanya menyimpan karma-karma buruk dalam pikiranmu, saat kamu berusia 15 tahun, di tempatmu sini ada satu bongkahan karma; lalu saat kamu berusia 25 tahun, di sana ada lagi satu bongkahan karma, kesalahan apapun yang pernah kamu lakukan, dan kamu tidak menyesalinya dan bertobat, tidak benar-benar menghilangkannya, maka halangan karma buruk yang tersimpan dalam pikiranmu semakin lama akan semakin banyak. Seperti kanker, jika kamu tidak menghilangkannya, maka dia bisa menyebar, demikian juga dengan halangan karma buruk manusia. Seperti kita menekuni Dharma di dunia ini, kalian melihat banyak pria dan wanita, lalu terlahir pikiran buruk dalam diri kalian, maka akan muncul satu bongkahan hitam lagi pada dirimu, jika besok pikiranmu kembali tergerak, maka akan bertambah lagi satu bongkahan hitam pada dirimu. Lambat-laun, bongkahan-bongkahan hitam ini adalah halangan karma burukmu, akan tertimbun semakin banyak. Inilah mengapa begitu Master menerawang totem, bisa melihat kalau tubuh orang ini di bagian kirinya ada satu bongkahan hitam, atau di kanan ada satu bongkahan hitam, dan bongkahan-bongkahan hitam ini, begitu tiba saatnya teraktivasi, yang berarti juga meledak menjadi arwah asing, maka akan muncul masalah besar pada dirimu. Oleh karena itu, kita harus mengendalikan halangan karma buruk pada tubuh sendiri, pertama-tama tidak boleh ada karma buruk yang baru di dalamnya, karena menciptakan karma baru sesungguhnya sama dengan membiarkan karma buruk yang lama berkembang biak. Jika seseorang sekarang sudah tidak melakukan perbuatan jahat, maka meskipun karmanya yang dulu belum dihapuskan, akan tetapi, dia juga sedang berkembang menuju arah yang baik; namun jika tidak memandang penting karma baru ini, maka meskipun kamu sedang mengikis karma yang lama, melafalkan paritta, melakukan perbuatan baik, akan tetapi, kamu terus-menerus menciptakan karma yang baru, juga hanya akan menciptakan halangan karma buruk yang semakin banyak. Kalau begitu, bagaimana cara mencegah karma baru? Sederhana saja, kendalikan ketamakan, kebencian, dan kebodohan diri sendiri.

 

Ada seorang teman se-Dharma yang berkata, “Master, coba kamu bantu saya lihat, saya ingin lebih awal pergi ke Alam Sukhavati, apakah kamu bisa mengatakannya kepada Guan Shi Yin Pu Sa, supaya saya bisa pergi lebih awal?” Bukankah tingkat kesadaran spiritualnya sangat tinggi? Dia sudah tidak menginginkan segala hal-hal di dunia ini, dia sudah tidak ingin melakukan apapun, dia ingin meninggalkan dunia ini lebih cepat, dia ingin pergi ke Alam Sukhavati. Master berkata padanya, “Kamu ini namanya tamak.” Yang memang seharusnya kamu terima pada hari ini, maka haruslah kamu terima sampai tuntas, kamu masih belum selesai menghapus halangan karma buruk di dunia ini, bagaimana mungkin kamu bisa pergi? Lalu kemana dirimu bisa pergi? Ini namanya kamu tamak, bahkan pemikiran atau niat seperti ini pun, kamu tidak boleh memilikinya. Saat usaha kita sudah matang, dengan sendirinya akan membawa hasil, sampai pada waktunya, Bodhisattva akan membawamu naik ke atas. Kalau kamu sudah memiliki pemikiran seperti ini, kemudian kamu harus menggunakan pikiran-hati kamu sendiri untuk membersihkan semua halangan karma buruk ini, maka dengan sendirinya, kamu akan bisa pergi ke atas. Bukannya masalah apakah hari ini kamu takut mati atau tidak, bukan karena kamu merasa, “Saya ingin parinibbana”, lalu saya bisa parinibbana, melainkan mengandalkan suatu kekuatan rohani, dan kekuatan rohani ini harus melebur dengan cahaya Buddha. Dengan begitu, apa yang kamu pikirkan, Bodhisattva pun memikirkannya, dan apa yang dipikirkan oleh Bodhisattva, juga bisa terpikirkan olehmu. Pada saat itu, kamu juga tidak perlu lagi Master menyampaikannya pada Guan Shi Yin Pu Sa, pemikiranmu sendiri, Guan Shi Yin Pu Sa mengetahuinya, seperti pepatah “Saat air datang, kanal terbentuk dengan sendirinya”, maka kamu bisa dengan cepat melampaui dan membebaskan diri sendiri.

 

Semuanya ini, kita katakan sebagai sesuatu yang kosong. Karena semua yang kamu pikirkan hari ini, sesungguhnya disebut sebagai dharma-fenomena kosong. Kita hidup di dunia ini, segala dharma  terkondisi (samskrta dharma), yakni di Alam Dharma ini, semua yang kita miliki hanya bersifat sementara, sementara sampai pada akhirnya adalah kosong, saat sudah kosong, berarti sudah tidak ada lagi. Coba kalian pikirkan, inilah dharma tak terkondisi (asamskrta dharma), bahkan di masa depan nanti, kita pun sudah tidak ada lagi, lalu masih ada dharma apalagi? Banyak orang mengatakan, saya ingin mempertahankan Pintu Dharma ini, saya ingin mempertahankan Pintu Dharma itu, Pintu Dharma adalah sebuah jalan, adalah jalan yang bisa membawa kita pulang kembali ke Surga, adalah jalan untuk menuju sifat dasar dan sifat Kebuddhaan kita yang semula. Ketika kita sudah selesai menjalaninya, maka dharma ini pun akan hilang, dan jalan ini bagi saya pun sudah tidak ada lagi. Seperti kita dulu punya sebuah rumah, tunggu sampai menjelang ajal nanti, rumah kita ini pun sudah tidak ada lagi, sudah hilang. Orang-orang yang mati-matian mengejar dharma-fenomena itu, sesungguhnya berarti tidak kosong, sedangkan orang yang sudah benar-benar bisa melepaskan dharma-dharma ini, berarti dia sudah kosong, oleh karena itu, menekuni Dharma berarti harus memahami bahwa segala dharma adalah kosong.

 

Menekuni Dharma, pertama-tama harus “li ren” – menjadi orang. Apa yang dimaksud dengan menjadi orang? Berarti menjadi orang – menjadi individu yang baik. Apakah kalian sekarang sudah seperti orang baik? Apakah kalian bisa menjadi orang suci? Apakah kalian sekarang bisa menjadi orang suci? Kalian hidup di antara bumi dan langit, harus bisa mempertanggungjawabkan perbuatan kalian terhadap bumi dan langit. Coba kalian pikirkan, hanya manusia yang kepalanya mengarah ke langit, sedangkan binatang sebagian besar memunggungi langit, sedangkan kita manusia, kepala menopang langit, dan kaki menginjak bumi, oleh karena itu, namanya menjunjung tinggi prinsip dan bertanggung jawab. Sedangkan kita sekarang, ada berapa orang yang tidak “menjunjung langit dan berpijak di bumi”, malah melakukan hal-hal buruk seperti setan. Oleh karena itu, kita seharusnya menjadi orang yang baik terlebih dahulu, langkah awal menekuni Dharma adalah menjadi orang yang baik, selanjutnya adalah belajar tentang kebaikan. Apakah kebaikan di sini? Perilaku baik, pembinaan baik, pemikiran baik, karena kebaikan ini benar-benar adalah kebaikan yang bisa membantu kamu terbebas dari tumimbal lahir di enam alam, dan kebaikan ini adalah welas asih. Pikiran dan pemikiran baik seseorang bukankah adalah welas asihnya? Jika orang ini tidak memiliki pikiran dan pemikiran yang baik, bagaimana mungkin dia memiliki welas asih? Memiliki kebaikan adalah yang terpenting, meskipun kamu tidak segera mencapai tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva, akan tetapi dalam pikiranmu harus sudah ada satu fondasi. Sedangkan karma baik ini harus disebarkan, dalam pikiranmu harus memiliki banyak kebaikan, dan harus membantu semua makhluk, seseorang yang menolong kesadaran spiritual semua makhluk baru bisa disebut baik. Jika orang ini masih belum membantu orang lain, hanya belajar dan berlatih sendiri, maka sesungguhnya orang ini masih belum bisa disebut sebagai bijaksanawan yang baik – kalyanamitta yang sempurna. Kebaikan yang sesungguhnya adalah menekuni ajaran Buddha Dharma Mahayana, menyelamatkan kesadaran spiritual orang-orang, baru bisa disebut sebagai kalyanamitta. 

 

Kita harus menggunakan sila, konsentrasi pikiran, dan kebijaksanaan untuk mengatasi ketamakan, kebencian, dan kebodohan, ini sangat penting. Kita harus bisa menghilangkan banyak kekurangan pada diri sendiri, kalau kita tidak tamak, maka kita tidak akan bodoh, ini namanya mengatasi – mengobatinya, yakni melawannya. Misalnya, kalau kamu sakit, bukankah kamu perlu minum obat? Kamu minum obat bukankah untuk mengobati penyakitmu? Karena hari ini kamu sakit, makanya kamu perlu minum obat. Hari ini kita memiliki pemikiran liar dan kerisauan, oleh karena itu kita harus membina pikiran dan melafalkan paritta, mempelajari teori dan prinsip Buddhis, harus mempelajari Dharma, kita harus bisa mengatasinya – yakni harus bisa menyelesaikan permasalahan-permasalahan ini. Sesungguhnya, dharma tak terkondisi sama dengan ketiadaan rupa, berarti sudah tidak ada lagi rupa. Semua keberadaan memiliki rupa, sesungguhnya kalau kita sudah tidak memiliki apapun, maka mana mungkin kita masih memiliki rupa? Kita tidak memiliki rupa, berarti tidak melekat pada rupa, berarti kita sudah melepaskan segala hal di dunia ini. Oleh karena itu, memahami bahwa tiada rupa adalah kosong, pada saat kita menekuni Dharma dan memahami bahwa segala hal di dunia ini adalah tiada rupa, maka sesungguhnya kita sudah kembali kosong, mengapa? Kita sudah melihat kebenaran dari segala hal di dunia ini, sudah memahaminya, maka sesungguhnya, berarti kamu sudah kosong, benar tidak? Jika sudah berpikir terbuka, bukankah berarti pikiran sudah menjadi kosong? Inilah logikanya. Oleh karena itu, seseorang yang kosong, dia baru bisa tidak melekat pada rupa, baru adalah orang yang tersadarkan, adalah orang yang sudah menyadari prinsip kebenaran. Menekuni Dharma bertujuan untuk menyadari prinsip kebenaran, kalau prinsip ini saja kamu tidak memahaminya, bagaimana mungkin kamu bisa menekuni ajaran Buddha Dharma dengan baik?

 

Master sering berkata pada kalian, empat elemen besar semuanya adalah kosong, kalau sudah melihat kebenarannya dan memahaminya, semuanya adalah kosong, benar tidak? Segala sesuatunya adalah kosong, di dalam kekosongan ini, lalu apa yang ingin kamu dapatkan? Kamu tidak akan mendapatkan apapun, yang akan kamu dapatkan pada akhirnya adalah kosong. Kita di dunia ini memiliki uang, ketenaran, dan kekayaan, terakhir pada saat meninggal, semuanya adalah kosong, lalu apa yang kamu dapatkan? Apa yang bisa kamu bawa pergi? Hari ini XXX begitu kaya raya, namun saat dia meninggal, apa yang bisa dibawanya? Meskipun kamu memiliki 5-6 perusahaan, lalu bisa bagaimana? Sepanjang-panjangnya hidupmu, bukankah kamu juga akan mati? Segala hal di dunia ini adalah perpaduan kelima agregat palsu, lalu apa yang tidak bisa dilihat kebenarannya? Oleh karena itu, tiada pertikaian tiada keinginan, kita hidup di dunia ini jangan berselisih juga jangan mengejar apapun, apa yang perlu diperselisihkan, dan apa yang masih diinginkan, lepaskan semuanya. Terhadap segala hal, jangan mengejarnya, tiada perselisihan untuk memperebutkan ketenaran dan kekayaan, tiada lagi niat untuk berselisih. Hari ini di tempat kerjamu, orang lain bersikap buruk padamu, jika kamu masih bertengkar, kamu masih memiliki kebencian terhadap orang lain, maka semua ini menandakan kalau kamu masih belum tersadarkan, semua ini menandakan kalau kamu masih belum terbebas dari tumimbal lahir di enam alam. Oleh karena itu, pada saat kamu meninggal, kamu masih akan bereinkarnasi kembali di enam alam. Dengan melihat apa yang kalian lakukan sekarang, maka kalian akan mengerti, ini berarti menggunakan dharma tak terkondisi untuk membebaskan diri dari segala hal-hal duniawi, berarti terhadap segala hal di dunia ini sudah tidak peduli lagi, tidak ada apapun yang bisa menghalangimu. Kamu harus bisa melihat segalanya dengan jelas untuk bisa terbebaskan, supaya kita bisa memperoleh kebebasan tanpa belenggu apapun, karena tubuh kita pada dasarnya adalah bebas, karena dalam otak kita tidak ada halangan pikiran, kita tidak memiliki kerisauan, kita baru bisa memperoleh kebebasan yang sesungguhnya, sedangkan kebebasan ini berasal dari sifat dasar dan hati nuranimu, inilah yang sering kita sebut sebagai sifat Kebuddhaan, maka kamu tidak akan lagi dibelenggu oleh hal apapun.

 

Berdana dibedakan menjadi berdana yang belum terbebaskan, dan berdana yang sudah terbebaskan. Berdana yang belum terbebaskan, dengan kata lain adalah, terhadap jasa kebajikan dari perbuatan baik yang kamu lakukan, kamu tidak membebaskannya, kamu tidak beranggapan bahwa hal ini memang sudah seharusnya kamu lakukan, sebaliknya kamu memandangnya sebagai, setelah kamu melakukan suatu hal tertentu, kamu akan memperoleh suatu keuntungan tertentu. Misalnya, kamu demi menekuni Dharma, kamu demi bisa terbebaskan, kamu demi bisa pergi ke Empat Alam Brahma, semuanya ini, kamu mengira dirimu sedang melakukan jasa kebajikan, namun sesungguhnya, berarti kamu sedang melakukan jasa kebajikan dengan upaya, kamu melakukan jasa kebajikan dengan tujuan tertentu, yang akan kamu peroleh adalah balasan baik, membuatmu bisa memperoleh berkah pahala di dunia ini. Oleh karena itu, kita sebagai orang yang membina pikiran sangat kasihan sekali, sudah membina diri seumur hidup, jika pada akhirnya tidak bisa terbebaskan dari enam alam, maka di kehidupan selanjutnya akan terlahir sebagai orang kaya raya, orang yang bermoral tinggi, itu benar-benar kasihan sekali, berarti pembinaannya seumur hidup sudah sia-sia. Orang yang benar-benar bijaksana harus memahami, bahwa kita tidak boleh memiliki keinginan, kita tidak boleh membina diri dengan tujuan tertentu, kita harus menekuni Dharma tanpa meminta sesuatu. Melakukan jasa kebajikan demi ketenaran dan kekayaan sama dengan melakukan perbuatan baik, meskipun kamu mengira kalau kamu sedang melakukan jasa kebajikan. Hari ini, kamu di Vihara membantu orang lain melakukan suatu hal, kamu mengira kalau ini adalah jasa kebajikan, akan tetapi kamu melakukannya demi ditunjukkan ke banyak orang, maka ya sudah, yang akan kamu peroleh adalah balasan baik, tidak akan ada jasa kebajikannya. Oleh karena itu, berdana yang terbebaskan adalah berdana tanpa upaya, jika dana yang kamu lakukan sudah terbebaskan, dengan kata lain, segala hal yang kamu lakukan, segala perbuatan baik yang kamu lakukan, semuanya tidak menjadi masalah bagimu, kamu tidak menginginkan keuntungan apapun, kamu tidak memiliki tujuan, kamu merasa memang seharusnya berbuat demikian, kamu memang seharusnya menekuni Dharma baik-baik, menjadi orang memang seharusnya berbuat demikian, Bodhisattva akan berbuat demikian, karena kamu meneladani Bodhisattva, maka kamu berbuat demikian, sudah tiada upaya, tidak memiliki tujuan tertentu, maka kamu akan mendapatkan jasa kebajikan.