47. Senantiasa Menjaga Pikiran Benar, Pikiran Jahat Tidak Akan Bisa Masuk — 正念常存 邪念不侵

Senantiasa Menjaga Pikiran Benar, Pikiran Jahat Tidak Akan Bisa Masuk

Hari ini ingin menyampaikan kepada kalian, jangan terikat pada apa yang kalian lihat. Jangan terganggu oleh apa pun yang tampak di hadapanmu, dan jangan mudah tersentuh atau terbawa perasaan karena apa yang kamu lihat, karena semua yang tampak itu hanyalah bagian dari dunia ilusi, semuanya palsu dan kosong. Yang disebut “mengganggu” sebenarnya adalah hal-hal yang kamu lihat dengan mata, kamu mengira itu adalah kenyataan, maka pikiranmu akan menghasilkan pemikiran yang salah dan menjadi menyimpang. Hari ini kamu melihat Bibi Zhou yang sebelumnya tampak sakit, lalu berpikir bahwa orang tua sudah tidak akan bertahan lama. Tapi kenyataannya, mengapa orang tua ini masih bisa hidup dengan cukup baik sampai sekarang? Apa yang kamu lihat dengan mata belum tentu adalah kenyataan yang sebenarnya. Hari ini bisa terlihat seperti ini, tapi besok bisa berubah menjadi hal yang lain, begitu pikiran terfokus dan langsung melafalkan paritta, selama Bodhisattva bersedia menyelamatkannya, bisa jadi nasibnya akan berubah. Apakah Bodhisattva bersedia menolong atau tidak, itu tergantung pada seberapa besar karma buruk yang dimilikinya, dan apakah karma itu bisa ditutupi, ini adalah hal yang sangat penting. Hidup di dunia ini, menekuni Dharma serta menyelamatkan makhluk hidup sangatlah sulit. Untuk menolong seseorang, orang itu juga harus bersedia bekerja sama, jika dia tidak percaya, maka akan sangat sulit untuk menyelamatkannya. Oleh karena itu, selama kita hidup di dunia ini, jangan sampai tertipu oleh hal-hal materi yang terlihat di depan mata. Apa yang terlihat belum tentu nyata, karena ia dapat berubah.

Manusia harus hidup dalam ketenangan batin. Apa itu ketenangan? Yaitu mampu mengendalikan diri sendiri, bahkan jika langit runtuh sekalipun, saya tetap seperti ini, tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Hanya dalam ketenangan batin seseorang bisa mencari solusi. Ketika seseorang sudah tenang, barulah ide-ide baik bisa muncul, karena dari ketenangan itulah kebijaksanaan terlahir. Jika seseorang tidak mampu menenangkan dirinya, dia tidak memiliki kebijaksanaan. Orang yang membina pikiran harus memiliki semangat tanpa rasa takut. Apa itu tanpa rasa takut? Yaitu ketika menghadapi segala hal, saya tidak takut, karena saya percaya pada Guan Shi Yin Pu Sa. Harus memiliki semangat tanpa rasa takut, yaitu semangat untuk mengorbankan diri sendiri, dia baru bisa membabarkan Dharma. Jika seseorang tidak memiliki semangat untuk mengorbankan diri, dia tidak mampu membabarkan Dharma. Jika Master hari ini tidak mengorbankan diri, tiada keakuan dalam membabarkan Dharma, bisakah Master membabarkan Dharma ini dengan baik? Manusia harus hidup di tengah makhluk lain, hidup dalam tingkat kesadaran Buddha, betapa bahagianya hidup ini.

 

Bukankah Master sudah memberitahukan kalian dalam sebuah tulisan, saat seseorang pergi ke pusat perbelanjaan, dia ingin membeli segalanya. Pada akhirnya, kedua tangannya sudah penuh membawa barang-barang yang disukainya, bahkan melihat barang milik orang lain pun ingin memilikinya, rumah, mobil, dan lain-lain. Nah, ketika dia melihat Buddha Dharma yang begitu indah, dia lihat kedua tangannya sudah penuh, jadi tidak bisa lagi menerima Dharma itu. Oleh karena itu, kamu harus melepaskan semua barang di tanganmu, maka kamu baru bisa menggenggam Dharma di tanganmu. Kalau kamu tidak bisa melepaskan, bagaimana bisa menggenggam Dharma? Bukankah Bibi Zhou hari ini sudah melepaskan ketenaran dan keuntungan dirinya sendiri, sehingga sekarang kamu mendapatkan pusaka Dharma dan bisa hidup panjang umur? Kalau kamu marah pada anakmu, memikirkan uangmu, lalu ribut sana-sini, barang-barang duniawi itu kalau tidak kamu lepaskan, pada akhirnya kamu hanya akan menuju jalan buntu yaitu kematian, mengertikah? Apa yang harus dilepaskan, haruslah dilepaskan. Oleh karena itu, praktisi Buddhis tidak boleh terpengaruh oleh hal-hal luar. Karena perubahan keadaan lingkungan sering menjadi faktor utama yang membuat seseorang mengubah pandangannya. Artinya, ketika lingkungan berubah, orang itu pasti akan berubah.

 

Banyak orang pada awalnya menekuni Dharma dengan sangat baik, lalu mengapa kemudian berhenti? Karena apa yang dia harapkan tidak tercapai, maka dia berhenti belajar. Apakah karena Bodhisattva tidak memberikannya? Bukan, itu karena dirinya belum memiliki jodoh ini, jasa kebajikannya belum memadai, dan pelafalan parittanya juga belum baik. Oleh karena itu, praktisi Buddhis jangan sampai terpengaruh oleh lingkungan. Banyak orang dulu datang ke Guan Yin Tang untuk mendengarkan ajaran, lalu berkenalan dengan orang lain di sana, hubungan mereka jadi sangat dekat, akhirnya terlibat urusan bisnis bersama, tidak baik-baik membina diri, inilah terpengaruh oleh lingkungan luar. Akibatnya, dia kehilangan jodoh Buddha. Datang ke sini untuk menjadi murid, atau hanya mendengarkan pelajaran, bahkan melakukan promosi dengan niat yang tidak murni,  pada akhirnya dia bahkan kehilangan kesempatan untuk menekuni Dharma. Kamu kira dia tidak ingin belajar?

 

Jika kamu tidak bisa mengendalikan pengaruh lingkungan, begitu terjadi hal buruk, kamu akan sulit mengendalikan tindakan dan perilakumu. Misalnya, kamu dulunya belajar Buddha Dharma dengan baik, tidak peduli apapun yang terjadi, kamu selalu menyesuaikan jodoh, dan mendapat perlindungan Guan Shi Yin Pu Sa. Namun ketika banyak masalah muncul dan lingkungan berubah, kamu menjadi bingung dan bertindak kacau. Pada saat itu, kenapa kamu tidak teringat untuk melafalkan nama suci Guan Shi Yin Pu Sa? Banyak orang ketika bermimpi dikejar hantu, mengapa ada yang bisa langsung melafalkan nama suci Guan Shi Yin Pu Sa dalam mimpi itu, sehingga langsung terbangun? Bahkan saat dalam mimpi memanggil Master, dia juga bisa segera terbangun. Banyak orang di dalam mimpi tidak teringat, hanya tahu melarikan diri, itu karena pembinaan dirimu dalam kehidupan sehari-hari di dunia ini masih kurang, lingkungan dan pemahamanmu dalam belajar masih belum memadai, dan dalam kesadaran kedelapan kamu belum menanamkan Buddha dan Bodhisattva agar senantiasa menetap di dalam hati. Karena itu, di dalam mimpi pun kamu tidak teringat untuk melafalkan nama suci Guan Shi Yin Pu Sa. Jika kamu menekuni Dharma dengan baik dan memiliki kekuatan konsentrasi, ketika menghadapi masalah, kamu akan tahu melafalkan paritta apa dan segera memiliki cara untuk mengatasinya. Oleh karena itu, jika kamu sulit mengendalikan dirimu sendiri, kamu juga akan sulit melewati setiap ujian dalam hidup. Ketika menghadapi masalah, misalnya dokter mendiagnosa kamu mengidap kanker, hal pertama yang harus dilakukan adalah menenangkan diri. Pikirkan apakah dokter mungkin salah dalam diagnosis; jika memang benar terkena kanker, ingatlah bahwa Guan Shi Yin Pu Sa pasti tidak akan membiarkan saya mati, karena saya masih punya banyak rencana untuk membabarkan Dharma yang belum terlaksanakan. Dengan berpikir demikian, sistem kekebalan tubuhmu akan kembali normal.

 

Harus mengamati pikiran kita, mengawasi pikiran kita, jangan biarkan pikiran berubah setiap kali menghadapi suatu masalah. Tuan Hong sekarang benar-benar sedang maju. Hari ini saat kami pergi bertemu anggota parlemen dan makan di luar, Tuan Hong langsung berkata bahwa dia akan membuat aturan, tidak akan makan daging lagi, akan bervegetarian, inilah kemajuan, inilah sedang membina diri. Apakah masih sempat jika baru mulai bervegetarian setelah didiagnosa kanker? Kita harus benar-benar mengawasi pikiran diri sendiri, jangan membiarkan ia bergerak sembarangan, jangan membiarkan pikiran diri sendiri muncul perubahan. Ingatlah dengan baik motto Master, “Tiada nafsu keinginan, hati akan setenang air,” saat mengingatnya, hati akan menjadi sangat damai. Master sangat menyukai kalimat ini. Begitu teringat kalimat ini, segala kekusutan dalam hati Master bisa terurai. Tanpa nafsu, tidak menginginkan apapun lagi; besok kalau ditawari jabatan, tidak mau; sekarang diberi uang, juga tidak mau… tiada keinginan, hatimu akan tenang seperti air. Dulu sering ada orang yang datang ke Master bercerita tentang orang ini bagaimana, orang ini bagaimana, namun Master sama sekali tidak terpengaruh. Menjadi ketua kehormatan atau ketua komite tidak penting bagi Master, hati dan pikiran tetap sangat tenang, hidup pun damai dan bahagia.

 

Kita harus menghadapi dunia ini dengan tenang dan tetap tidak berubah. Apapun yang terjadi, jangan terguncang; ketika suatu masalah datang, pertama-tama pikirkan apa yang harus dilakukan. Karena masalah itu sudah datang, maka terimalah dengan tenang, sudah datang, maka saya akan mencari cara untuk mengatasinya. Segala rasa kecewa, marah, dan cemburu adalah racun dalam diri manusia. Jika Master memarahimu dan kalian merasa tersinggung, ini semuanya karena ada racun dalam dirimu, kamu tidak boleh merasa tersinggung. Beberapa kali Master mengatakan tentang Xiao Huang, sekarang dia benar-benar sudah menjadi orang yang berbeda. Ketika penyakitnya baru sembuh, karena energi dalam dirinya mulai muncul, jadi dia merasa sangat bahagia. Dulu dia punya kebiasaan seperti itu, kurang suka bicara, cenderung menyendiri. Sekarang dia sudah sembuh dan lebih bahagia, jadi lebih banyak bicara. Master segera menegurnya supaya lebih sedikit bicara dan lebih banyak melafalkan paritta. Dia merasa agak tersinggung, sebenarnya rasa tersinggung juga bisa menjadi racun yang merusak diri sendiri. Selain itu, jangan iri kepada orang lain. Orang yang iri terhadap orang lain akan menciptakan racun yang mencelakai dirinya sendiri. Mengapa kamu harus mengurusi orang lain? Lebih baik fokus membina diri sendiri dengan baik. Kemarahan dan kebencian bahkan lebih buruk, karena pada akhirnya kebencian itu bisa membuat diri sendiri sakit. Apakah Master membenci? Tidak membenci kalian. Saat Master melihat kalian murid-murid ini melakukan kesalahan, Master merasa sedikit kesal dan sayang, seperti merasa kecewa karena tidak memenuhi harapan dan tidak membuat kemajuan, namun Master sendiri segera melupakannya. Inilah Bodhisattva, karena Bodhisattva tak pernah mengingat keburukan orang lain, tidak menyimpan kotoran orang lain di hati dirinya yang bersih, sedangkan kalian malah menyimpan segala kotoran itu dalam diri sendiri.

 

Begitu seorang praktisi Buddhis mulai lengah, artinya dalam proses belajar Buddha Dharma tidak lagi tekun, semua racun yang menyakiti akan masuk ke dalam tubuhmu. Kebencianmu akan berubah menjadi racun yang menyakitimu, rasa cemburumu menjadi racun yang merugikanmu, dan rasa tersinggung—karena rasa itu muncul saat kamu belum memahami kebenaran, setelah kamu mengerti kebenaran itu, kamu tidak akan lagi merasa tersinggung. Oleh karena itu, manusia harus senantiasa menjaga kesehatan hati nuraninya, menjaga kesucian tubuh Buddha-nya sendiri, menganggap tubuh sendiri adalah pemberian dari Buddha dan Bodhisattva, maka harus menjaganya tetap bersih, tidak boleh lengah, dan tidak boleh sedikit pun meninggalkan belajar Buddha Dharma dan tidak melafalkan paritta. Karena jika mulut tidak belajar Buddha Dharma atau melafalkan paritta, maka selanjutnya akan ada sesuatu yang tak terlihat masuk ke dalam tubuhmu, dan ini adalah racun dari perubahan pandanganmu sendiri. Karena kebencianmu, iri hati, dan keserakahanmu akan mengikuti pikiran burukmu sehingga menimbulkan sebab dan akibat yang buruk, yang akan menyakitimu. Ketika kamu merasa tersinggung atau dirugikan, seharusnya kamu menganggap itu sebagai hal yang baik, karena kamu bisa menggunakan hati Buddha untuk membersihkan kotoran itu. Jika kamu merasa setiap hal tidak berjalan sesuai keinginan, sebenarnya dalam kesadaranmu sudah ada racun buruk yang masuk ke dalam tubuhmu.