31. Bagai Bunga Plum Mekar di Musim Yang Terdingin, Semangat Teguh Tak Tergoyah 梅花傲雪 坚忍不拔 kan

Bagai Bunga Plum Mekar di Musim Yang Terdingin, Semangat Teguh Tak Tergoyahkan

Kita harus belajar memahami diri sendiri melalui kesadaran kita sendiri, bukan melalui mata kita untuk memahami diri sendiri. Melalui kesadaran diri sendiri: “Oh, ternyata saya sudah salah, lain kali saya harus hati-hati.” Bukankah berarti kamu telah memahami diri sendiri? “Saya ini orang yang tidak mau rugi, kalau dirugikan sedikit, langsung marah”, bukankah berarti kamu memahami dirimu sendiri? Itu berarti menggunakan cara berpikir kita untuk memahami diri sendiri, bukan mengandalkan kedua matamu. Mata kita sudah ternodai oleh enam kekotoran duniawi, sehingga seringkali tidak bisa “melihat dengan jelas”. Manusia dalam pemikirannya juga melakukan banyak kesalahan, oleh karena itu, kita harus memahami pemikiran kita sendiri. Kita manusia harus menggunakan kesadaran diri kita untuk memahami diri sendiri, harus bisa memahami dasar diri kita sendiri. Karena kita harus memahami dasar diri kita sendiri, maka kita juga harus memahami nilai yang didapatkan dari kesusahan dan kesulitan yang kita alami dalam kehidupan ini. Ketika seseorang sudah merasakan penderitaan, maka dia akan mengenal “nilai” dirinya sendiri, orang yang semakin mampu hidup di dalam kesusahan, semakin bisa memahami dirinya sendiri, sedangkan orang yang tidak bisa bertahan dalam kesusahan, dia tidak akan bisa memahami dirinya sendiri. Karena saat seseorang berada dalam kesusahan atau kesulitan, tekadnya akan ditempa, dan dia akan menjadi lebih tegar. Orang yang tegar baru bisa menerobos halangan dan mengatasi berbagai kesulitan untuk maju ke depan. Oleh karena itu, kita sebagai manusia, pada awalnya kita tidak tahu apa-apa, namun setelah menghadapi masalah, kita baru memahami betapa berharganya hidup kita. Seringkali kita tidak bisa menghargai apa yang kita miliki saat kita memilikinya, namun begitu kehilangannya, kita baru menyadari betapa berharganya ia.

 

Banyak orang ketika mengikuti Master menekuni Xin Ling Fa Men, sampai pada akhirnya, dia sendiri tidak mau belajar lagi, begitu dia berhenti belajar, dia baru menyadari bahwa kehilangan itu sangat menderita. Ini adalah harta berharga di dunia ini, ini adalah pusaka yang diberikan Guan Shi Yin Pu Sa kepada kita, jadi kita tidak boleh kehilangannya, ia adalah harta kita yang berharga. Pahamilah bahwa, seseorang setelah mengalami kesusahan dan penderitaan, dia baru bisa melihat keteguhan hati dan pikirannya yang tidak tergoyahkan. Setelah seseorang melewati suatu kesusahan, hatinya baru bisa menjadi lebih teguh; ketika seseorang telah melalui kesulitan hidup, pikirannya baru bisa menjadi tegar tak tergoyahkan. Dalam ilmu Zen dikatakan, setelah salju turun, bunga plum baru mekar, kita semua tahu, bahwa bunga plum baru mekar bunganya setelah hujan salju yang deras dan tebal, maka ia baru bisa menjadi bunga yang terbaik di tengah ratusan bunga lainnya, karena ia adalah bunga plum yang mekar di musim yang terdingin. Setelah seseorang melalui kesusahan, dia baru bisa menjadi orang yang sangat teguh dan dipenuhi dengan rasa percaya diri, sedangkan orang yang tidak pernah menjalani kesusahan tidak akan memiliki keyakinan dalam hal apapun.

 

Semoga kalian memahami bahwa, setelah menjalani kesulitan yang tersulit, baru bisa mencapai konsentrasi Zen dan menjadi Buddha. Dalam proses pembinaan pikiran, kita akan melalui banyak sekali kesulitan, oleh karena itu, kamu baru bisa menemukan jalan yang benar dalam menekuni Zen. Memang sekarang kalian tidak hidup susah? Orang lain pulang kerja dan beristirahat di rumah, sedangkan kalian pulang kerja datang kemari untuk melakukan jasa kebajikan; orang lain pulang kerja lalu pergi keluar main atau nonton film, sedangkan kamu harus melafalkan paritta di rumah. Akan tetapi, ketahuilah, bahwa kesusahan-kesusahan yang kalian alami ini baru bisa membuat kalian memahami prinsip kebenaran; kalian sudah melalui begitu banyak penderitaan, kamu baru bisa memahami apa itu kebenaran hidup. Coba pikirkan, sewaktu kita menderita, jika tidak ada orang yang menolong kita, yang membantu kita, maka betapa sedihnya kita. Namun bila kamu melafalkan paritta, saat kamu menderita, kamu baru bisa memahami bahwa siapa yang datang membantumu itu karena Bodhisattva sedang membantumu, semoga kalian bisa memahami kebenaran-kebenaran ini.

 

Master beri tahu kalian, jika seseorang hidupnya lancar-lancar saja, maka dia tidak akan memiliki pesona batin yang berarti. Jika hidup seseorang biasa-biasa saja, maka dia tidak akan memiliki karisma yang teguh dan percaya diri bagai bunga plum yang hanya mekar di musim terdingin, dia akan seperti bunga di rumah kaca, selamanya rapuh tidak bertenaga. Bunga di dalam rumah kaca, tidak akan tumbuh kuat, lemah tak berdaya, sedangkan pohon pinus di atas gunung, setelah melalui badai salju yang dingin, dia memiliki dasar yang kuat, maka dia bisa menanggung terpaan seperti ini. Seperti ada sebagian orang yang keluar melakukan jasa kebajikan, lalu dimarahi orang lain atau difitnah orang lain, dia pelan-pelan akan memiliki kebesaran hati dan toleransi. Dulu mengapa orang-orang bertengkar di rumah? Karena kita tidak memiliki hati yang lapang, jika sekarang kembali lagi ke masa lalu, kita mungkin tidak akan bertengkar dengan pasangan atau keluarga kita, karena kita sudah tahan uji, kita tidak akan menggunakan hati untuk mempermasalahkan hal-hal duniawi, inilah yang disebut sebagai “memiliki hati, tetapi juga tidak memiliki hati”, benar tidak? Jika sekarang menyuruh kalian bertengkar, sudah tidak bisa bukan? Sekalipun kalian disuruh bertengkar, kalian akan merasa tidak ada artinya, setelah melafalkan paritta, semuanya adalah karma, kita harus membayar hutang karma, ya sudah, memangnya ada apa yang nyata dan palsu di dunia ini? Semuanya adalah kosong, cukup tekun melafalkan paritta saja, bukankah dengan begitu, berarti kamu sudah berhasil? Dengan demikian, kamu baru bisa menjadi orang yang menentukan nasibnya sendiri, ini sangat penting.

 

Terkadang, kita demi uang, nama baik, dan cinta, tidak bisa melepaskan ego sendiri, berarti kita masih belum menghilangkan keserakahan dalam pikiran kita sampai ke akarnya. Asalkan seseorang berkata, “Saya tidak bisa melepaskannya”, berarti kamu masih memiliki keserakahan. Hari ini saya tidak bisa melepaskan masalah ini, berarti kamu masih menginginkan hal ini; bila hari ini kamu tidak bisa melepaskan anak ini, berarti kamu masih memiliki banyak keinginan terhadap anak ini. Kalau ingin melepas harus dilepas, setelah melepas baru bisa merelakan, kalau tidak dilepaskan mana mungkin bisa direlakan? Kita harus bisa melepas, baru bisa menghilangkan keserakahan dalam pikiran kita. Contoh sederhana, ada tetangga yang menang lotere, sedangkan kamu beli lotere bersama-sama dia, namun nomor lotere kamu tidak menang. Selama berhari-hari, kamu mungkin tidak bisa melepas – melupakan hal ini, kamu merasa, “Mengapa dia bisa menang, sedangkan saya tidak?” Kalau begitu, berarti kamu memiliki pikiran tamak.

 

Perilaku seseorang masih belum mengenai ambang batas toleransi dirimu, maka kamu tidak bisa melepaskan ego sendiri. Dengan kata lain, ketika menghadapi sikap atau perilaku seseorang yang belum menyinggung batas toleransimu, maka kamu belum bisa melepaskannya. Banyak orang yang berpacaran, mengapa pada akhirnya bisa melepas? Karena merasa sakit, wanita itu memperlakukannya dengan buruk, namun dia masih tidak bisa melepaskannya, karena masih belum menyentuh batas toleransinya. Lalu apa sebenarnya batas toleransinya itu? Asalkan melihat dia di luar berpelukan dengan pria lain, maka dia pasti tidak mau dengannya lagi, inilah batas toleransinya. Oleh karena itu, ketika keluarganya memberitahu dia kalau wanita ini sudah bersama pria lain di luar, dia pun tidak percaya, dia merasa sangat tersakiti, dia masih tidak bisa melepas. Tunggu sampai suatu hari nanti, dia melihat sendiri, “Ah, ternyata kamu ini orang jahat”, baru bisa melepas. Pahamilah, jika belum merasakan sakit sampai tahap ingin membebaskan diri sendiri, maka kamu tidak akan bisa melepas, tunggu sakitnya sudah sampai tahap kamu sendiri ingin melepas, kamu baru bisa terbebaskan. Kalian harus merenungkan perkataan ini baik-baik.

 

Kita harus memahami bahwa saat ada satu masalah di dunia ini yang memaksamu mau tidak mau harus melepaskannya, maka pada saat itu kamu akan mampu melepas. Mengapa harus sakit? Jika tidak ingin merasa sakit, maka lepaskan lebih awal, benar tidak? Banyak orang tua juga demikian terhadap anaknya, kali demi kali mereka menyakiti perasaan ayah dan ibu, terakhir orang tua berkata, “Saya tidak mau anak ini lagi, biarkan saja dia pergi, terserah dia mau bagaimana.” Ini karena mereka sudah tersakiti sampai melampaui batas kewajaran.

 

Bisa melepaskan sesungguhnya merupakan suatu bentuk kesadaran seketika. Karena sudah melepas, jadi tidak peduli lagi, untuk sementara waktu kamu sudah melepaskannya, “Saya sudah tersadarkan, tetapi saya masih saya yang semula”, itu adalah kesadaran seketika. Kita menderita, karena kita memiliki nafsu keinginan, kalau kita tidak punya nafsu keinginan, maka kita tidak akan menderita, tetapi karena kita setiap hari hidup dengan memikul nafsu keinginan ini, maka dengan sendirinya, kita merasa sangat lelah. Bukankah kita setiap hari menjalani hidup dengan memanggul nafsu keinginan? Setiap orang hidup dengan dibebani oleh nafsu keinginannya, “Hari ini saya ingin punya rumah, besok saya ingin punya anak laki-laki, lusa saya ingin menjadi manajer, lusa depan saya ingin menjadi kaya seperti apa”, semua ini adalah nafsu keinginan, yang semuanya kita pikul sendiri, dan kita tidak bisa melepaskannya, maka kita baru bisa merasa sedih, kita baru merasa menderita. Orang yang sudah tersadarkan, coba renungkan, memang apa hebatnya, benar tidak? Janganlah kita memikulnya, karena kita akan menjadi kelelahan. Kita menyukai semua benda yang kita lihat, melihat suatu barang langsung menyukainya, meski perut kita sudah sangat kenyang, tetapi karena melihat masih ada kue di meja, dan banyak makanan lain yang biasanya kita gemari, padahal jelas-jelas kita sudah tidak sanggup makan lagi, tetapi karena melihat makanan itu lalu ingin makan, ini namanya melihat sesuatu langsung menyukainya. Kita melihat seseorang langsung menyukainya, seperti senang melihat orang ini, suka melihat orang itu, ini juga adalah suatu ketamakan. Kita harus memahami bahwa, setiap orang datang ke dunia ini dengan tangan kosong, tetapi mengapa ketamakan orang-orang di dunia ini semakin lama semakin besar? Ini adalah akar sifat buruk manusia.

 

Seorang praktisi Buddhis seharusnya mengetahui bahwa segala dharma-fenomena di dunia ini bagai ilusi, tidak patut untuk diperebutkan dan dimiliki. Seorang praktisi Buddhis, yaitu seorang yang membina dirinya, seharusnya mengetahui bahwa semua dharma atau fenomena di dunia ini, semua benda-benda ini bagaikan ilusi mimpi, tidak layak untuk kamu berusaha mati-matian bersikeras untuk mendapatkannya. Orang-orang awam sering mengatakan: “Yang memang ditakdirkan pada akhirnya akan ada, jika memang tidak ditakdirkan, jangan memaksa”, sesuatu yang memang sudah ditakdirkan, pasti akan ada, yang memang tidak ditakdirkan, jangan kamu inginkan. Banyak orang berkata pada Master: “Kami menyerahkan permohonan pengajuan visa bersama, hampir semuanya isinya sama, mengapa dia bisa mendapatkan visa, sedangkan saya tidak? Master berkata pada mereka: “Kalian berdua memiliki jodoh yang sama, maka kalian pasti akan mendapatkannya, jika kamu merasa jodohmu berbeda dengannya, maka hasilnya pasti tidak akan sama. Coba kamu tunggu beberapa hari, saya merasa jodoh kalian berdua tidak ada bedanya.” Setelah beberapa hari kemudian, bukankah visanya keluar? Melihat visa orang lain keluar duluan, lalu tenggelam dalam kesedihan, namun beberapa hari kemudian, visa dirinya juga tiba, ini berarti kamu tidak percaya pada jodoh diri sendiri, hanya melekat pada nafsu keinginan sendiri dan benda-benda yang kamu inginkan.