Menaklukkan Kebiasaan Buruk yang Terbentuk dari Banyak Kehidupan
Dalam membina pikiran, harus belajar konsentrasi zen. Namun bukan meminta kalian untuk bermeditasi, kalian belum punya kualifikasi untuk bermeditasi, karena roh sangat mudah keluar dari tubuh jika bermeditasi. Karena pikiranmu tidak dapat tenang, kamu tidak dapat membina pikiran dengan baik. Jika pikiran tidak dapat tenang, maka dari mana muncul kesadaran pencerahan — kesadaran yang tercerahkan? Berharap kalian memahami bahwa hanya ketika pikiran menjadi murni dan tenang, barulah dapat menaklukkan pikiran yang kacau balau. Orang yang mampu menenangkan pikirannya dapat mengendalikan pikiran yang tidak baik dalam dirinya. Ketika pikiran yang kacau muncul, seperti muncul keinginan untuk membalas dendam orang lain, membenci orang lain, atau serakah terhadap milik orang lain, saat itulah kamu harus benar-benar menaklukkan dan mengendalikan pikiranmu sendiri.
Harus memahami arti “Kendalikan pikiran pada satu titik”yakni menempatkan pikiran diri sendiri di satu titik. Ketika kalian sedang melafalkan paritta, kadang-kadang pikiran menjadi sangat kacau dan melayang ke mana-mana, pada saat itu, kamu harus memusatkan pikiranmu pada Guan Shi Yin Pu Sa, lalu mendengarkan suara sendiri dengan penuh perhatian dalam melafalkan paritta. Itulah yang disebut “kendalikan pikiran pada satu titik”. Hanya dengan menempatkan pikiran sendiri di satu tempat, barulah dapat mencapai pencerahan yang sejati, dan benar-benar memahami bagaimana dirimu mencapai pencerahan. Pencerahan yang sejati adalah menjaga dan mengendalikan hati dan pikiran, maka dirimu baru bisa sadar dan memahami. Jika hatimu tidak tenang, bagaimana mungkin kamu bisa merasakan sesuatu?
Jika kamu tidak merasakan apa-apa, bagaimana kamu bisa mencapai pencerahan? Kalian semua yang belajar Buddha Dharma hari ini, bukankah setelah melafalkan paritta dan bersujud kepada Buddha mulai merasakan sesuatu? Dari perasaan itulah muncul kesadaran.
Di dalam diri kita terdapat banyak kekurangan. Jika kita ingin menaklukkan semua itu dan mengendalikan kebiasaan buruk yang terbentuk dari banyak kehidupan, kita harus memahami cara menaklukkannya. Kita harus menggunakan Buddha Dharma untuk menaklukkannya, dan dasar dari penaklukan itu adalah konsentrasi zen. Jika seseorang menghadapi suatu masalah lalu langsung berkata, “Tidak apa-apa, saya pikirkan dulu, saya akan mengaturnya, saya akan menanganinya,”maka orang itu memiliki pikiran yang mampu mengendalikan. Sebenarnya orang seperti ini memiliki konsentrasi zen, pikirannya dapat tenang. Jika seorang murid berlari datang dan berkata: “Guru, dokter mengatakan Anda terkena kanker hati.”Guru itu tetap tenang dan berkata: “Anak-anak, jangan terlalu gelisah. Guru adalah orang yang baik hati, orang baik akan mendapat balasan yang baik. Besok saya akan pergi memeriksakan diri lagi. Dokter kadang juga bisa keliru; hal seperti ini bisa saja terjadi. Kalian jangan terlalu tegang. Kasih sayang kalian kepada guru, guru mengerti, dan guru sangat berterima kasih kepada kalian. Guru adalah orang baik, tidak akan terkena penyakit seperti itu.” Hanya dengan beberapa kalimat itu, anak-anak pun menjadi tersenyum dan bertepuk tangan dengan gembira. Beberapa hari kemudian, guru benar-benar pergi untuk memeriksakan diri kembali, dan ternyata memang tidak ada masalah. Pikirkanlah, orang seperti ini justru memiliki konsentrasi zen, pikirannya dapat tetap tenang. Oleh karena itu, apa pun yang kalian hadapi, janganlah terburu-buru atau panik. Percayalah kepada Bodhisattva, selama ada Master, apa yang perlu kalian takutkan?
Orang yang benar-benar ingin belajar Buddha Dharma harus memahami bahwa yang paling ditakuti oleh praktisi Buddhis adalah “tidak memiliki sandaran,”artinya, tidak ada yang bisa diandalkan. Jika seorang praktisi Buddhis sampai pada akhirnya tidak tahu mengikuti Bodhisattva yang mana, tidak tahu harus melafalkan paritta apa, dan tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan, bukankah itu disebut tidak memiliki sandaran? Lalu bagaimana kamu bisa belajar Buddha Dharma? Belajar sampai ke mana sebenarnya? Karena dirimu“Tidak kembali pada Buddha dalam diri.”Orang yang tidak memiliki tempat bersandar, menekuni Dharma hingga akhirnya, karena dirimu tidak kembali pada Buddha dalam diri, artinya Buddha dalam sifat dasar dirimu tidak kembali, dalam hatimu sudah tidak ada Buddha lagi, maka bagaimana kamu bisa belajar Buddha Dharma? Jika Bodhisattva di altar rumahmu sudah tidak ada lagi, kepada siapa kamu akan bersujud? Apakah kalian mengerti? Itu sama saja seperti tidak memiliki sandaran, sehingga sangat sulit untuk mencapai perlindungan pada Buddha dalam diri sendiri. Jika Buddha di rumahmu sudah “pergi”, bagaimana kamu bisa berlindung pada Buddha dalam dirimu sendiri? Ibaratnya seperti rumah yang bahkan tidak memiliki komputer, bagaimana kamu bisa menggunakan internet?
Oleh karena itu, dahulu Sang Buddha menunjuk ke langit dan ke bumi lalu berkata, “Langit dan bumi, hanya Aku yang paling mulia.”Yang dimaksud adalah bahwa Beliau telah memahami pikiran dan menemukan sifat dasar, Ia telah melihat sifat Kebuddhaannya, sehingga berani mengatakan “Aku yang paling mulia”. Karena kata “Aku” yang dimaksud adalah Buddha, dan tentu saja Buddha adalah yang paling luhur. Banyak orang tidak memahami hal ini, belajar Buddha Dharma hingga kini, mereka malah mengira Bodhisattva bersikap sombong. Karena Sang Buddha telah menguasai Buddha dalam batinnya sendiri, telah memahami pikiran dan menemukan sifat dasar, pikirannya telah memahami segalanya, dan telah menemui sifat dasar, melihat sifat Kebuddhaannya, barulah Beliau berani mengatakan “Aku yang paling mulia”. Karena Beliau mengenal sifat Kebuddhaan dalam dirinya, yaitu “aku” dari hati dan pikiran, bukan “aku” dari tubuh jasmani.
Mengapa menjelaskan tentang sifat Kebuddhaan kepada kalian? Siapa sebenarnya sifat Kebuddhaan itu? Sederhana saja, sifat Kebuddhaan adalah “aku”, yaitu aku yang paling asli. Belajar tentang sifat Kebuddhaan berarti belajar mengenal diri sendiri, belajar mengenal hati nurani dan hati yang paling mendasar dalam diri. Oleh karena itu, cahaya Buddha yang terpancar dari dalam diri itu karena dirimu memiliki sifat Kebuddhaan, maka kamu baru bisa memancarkan cahaya Buddha dan kebebasan Buddha. Lihatlah, betapa bebasnya Buddha, bebas pergi kemanapun sesuai keinginan, bebas pergi menolong siapapun yang diinginkan. Seperti Ji Gong Pu Sa, yang dahulu pergi ke mana-mana untuk menolong orang, bukan?
Sekarang juga tersadarkan diri” berarti hari ini juga diri sendiri langsung tersadarkan. Jika kalian dapat menyadari bahwa dalam diri kalian ada cahaya Buddha dan kebebasan Buddha, maka saat itu juga kalian dapat mencapai pencerahan. Harus memahami bahwa berlindung pada Buddha, Dharma, dan Sangha sebenarnya berarti berlindung pada yang tercerahkan. Buddha adalah Yang Tercerahkan, Buddha adalah pencerahan yang sempurna, pencerahan yang agung. Kalian semua juga bisa sadar sedikit demi sedikit. Tetapi setelah sadar, kalian bisa kembali tersesat; setelah tersesat, kalian sadar lagi. Pada akhirnya menjadi sadar lalu tersesat, tersesat lalu sadar, dan akhirnya tetap masuk ke dalam enam alam samsara, benar tidak? Seorang Bodhisattva selalu berada dalam keadaan sadar, sehingga tidak ada lagi saat yang tersesat. Orang seperti itu dapat terbebas dari enam alam, inilah yang disebut Buddha. Master menjelaskan semua ini dengan sangat rinci agar kalian dapat memahaminya.
Kita harus memahami bahwa berlindung berarti berlindung pada sifat Kebuddhaan yang kamu bangkitkan melalui pembinaan pikiran. Banyak orang bertanya: “Master, bukankah setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan? Mengapa kita begitu sulit dalam membina pikiran? Bukankah setiap orang memiliki sifat Kebuddhaan, mengapa kita tetap tidak memahaminya dengan jelas?”Benar, sifat Kebuddhaan memang ada dalam diri setiap orang, namun sifat itu harus dibina dan dimunculkan kembali. Walaupun sudah ada sejak awal, namun melalui banyak kehidupan sifat itu telah terselubungi dan menjadi kotor. Maka itu harus perlahan-lahan membinanya kembali, menggali kembali, dan membersihkannya. Misalnya, di rumahmu ada sebuah harta yang sangat berharga, tetapi kamu tidak mengetahuinya. Kamu harus menggali dan mengeluarkannya, lalu membersihkannya, setelah itu barulah ia menjadi harta milikmu. Oleh karena itu, kesadaran diri sangatlah penting. Dharma yang benar dan sifat diri semuanya harus dibina dan dimunculkan melalui pembinaan diri. Apa yang dimaksud dengan Dharma yang benar? Yaitu ajaran Buddha Dharma yang saya pelajari sekarang adalah benar, dan sifat dasar diri saya juga adalah benar, semua itu muncul dari pembinaan diri, setelah dibersihkan, barulah ia benar-benar menjadi milikmu.
Kalian harus berlindung pada Tiga Permata dalam batin. Mengapa disebut Tiga Permata dalam batin? Tiga Permata — Buddha, Dharma, dan Sangha yang di dalam batin, bukan merujuk pada tindakan luar. Melihat Bodhisattva lalu bersujud, ini hanyalah bentuk luar. Jika hati tidak bergerak, maka tidak ada gunanya, harus menata hati di dalam. Apa yang dimaksud“Menata karakter pikiran dari dalam, menghormati semua makhluk dari luar?” Artinya harus menata karakter pikiran diri sendiri dengan baik dari dalam, menyelaraskan pikiran diri sendiri dengan Buddha dan sifat dasar. Menghormati semua makhluk dari luar, dengan kata lain memperlakukan orang yang lebih tua seperti orang tua kita sendiri, dan orang yang lebih muda seperti anak kita sendiri. Harus menghormati mereka, karena mereka adalah Buddha di masa depan. Dengan demikian, baik pembinaan dari dalam maupun luar dapat tercapai. Karena setiap makhluk memiliki sifat Kebuddhaan, hanya saja mereka sendiri belum melihat sifat dasar mereka.
Sebenarnya, rumah kalian semua ada sebuah “mangkuk harta karun”. Kalian setiap orang memiliki kebijaksanaan, dan di setiap keluarga kalian ada seorang yang sangat cerdas, jika kamu tidak menggali, maka kamu akan kehilangan sifat dasar dan kebijaksanaan anak itu. Master melihat banyak keluarga yang memiliki anak-anak dengan kebijaksanaan yang baik, kalian harus membimbing dan menginspirasi mereka dengan baik. Dulu pernah ada seorang ilmuwan yang melakukan sebuah penelitian. Ada seorang anak dari keluarga miskin yang sering dianggap bodoh oleh orang-orang di sekitarnya. Ilmuwan itu kemudian mengadopsi anak tersebut dan membesarkannya di rumahnya sendiri. Ia membimbing anak itu dengan metode yang sangat ilmiah, membangkitkan potensi kesadarannya, membangkitkan cara berpikir ilmiahnya, serta mengajarinya memahami berbagai hal tentang dunia ini. Pada akhirnya, anak itu menjadi sangat cerdas dan juga tumbuh menjadi seorang ilmuwan. Oleh karena itu, walaupun pada dasarnya kita memiliki sesuatu yang sangat berharga dan murni, namun karena halangan karma yang terakumulasi dari banyak kehidupan, kita tidak dapat melihat sifat Kebuddhaan dengan jelas. Tetapi ini tidak berarti bahwa ia adalah kayu busuk yang tidak bisa diukir. Mengertikah? Oleh karena itu, kalian harus menggali sifat dasar diri kalian, mengeluarkannya dan membersihkannya, lalu menempatkannya kembali, maka ia akan bersinar terang. Harus memahami bahwa seorang praktisi Buddhis harus menghormati sifat Kebuddhaan dalam dirinya sendiri, kemudian menata dan memurnikan hati Buddha di dalam batin, sehingga hati Buddha yang sejati dapat muncul kembali.
Sebenarnya, dalam kehidupan ini “yang datang tidak diketahui dari mana asalnya, yang pergi tidak diketahui ke mana tujuannya.”Kita datang ke dunia ini tidak mengetahui untuk apa kita datang; itulah yang disebut tidak tahu dari mana datangnya. Dan ketika kita akan pergi, kita juga tidak tahu akan pergi ke mana. Dari kebodohan batin muncullah keterikatan atau cinta. Ketika seseorang mulai terikat atau mencintai, sering kali masalah pun muncul. Namun bagaimana cinta itu terbentuk? Ia terbentuk dari kebodohan batin. Mencintai seseorang sampai seperti tidak bisa hidup tanpanya, bukankah itu bermula kebodohan? Terpaku memikirkan dia, terpesona olehnya, bahkan mencintai secara sepihak. Begitulah, dari kebodohan lahirlah cinta, dan dari cinta itu muncullah penyakit atau penderitaan. Semua ini adalah apa yang Master jelaskan kepada kalian. Coba lihat, apakah ada orang yang mengatakan hal-hal seperti ini di dalam buku? Jika cinta lahir dari kebodohan, maka kamu pasti akan derita, mengertikah? Karena kebodohan manusia, baru akan melahirkan keserakahan dan keterikatan. Ketika kamu bodoh, barulah akan terjebak dalam keserakahan. Banyak orang terobsesi ingin memenangkan lotre dan menjadi kaya, bukankah itu dimulai dari kebodohan? Setiap hari mereka membeli lotre. Ada juga orang yang jelas-jelas tidak mungkin mendapatkan seorang wanita, tetapi tetap mengejarnya dengan sekuat tenaga, ketika tidak berhasil mendapatkannya, maka ia pun menderita.
Kita yang benar-benar menekuni Dharma, orang yang memiliki tingkat kesadaran spiritual yang tinggi, ketika makhluk menderita, saya juga merasakan penderitaan itu. Karena semua makhluk juga akan mengalami sakit tubuh dan memiliki kerisauan, maka saya juga merasakan sakit dan memiliki kerisauan itu, inilah Bodhisattva. “Menjadikan penderitaan setiap makhluk sebagai penderitaan diriku,” dengan kata lain, karena ada begitu banyak orang yang sedang menderita, maka saya pun pasti menderita. Jika semua orang tidak menderita lagi, maka Bodhisattva tentu akan merasa bahagia. Hari ini kita mengadakan suatu pertemuan, jika semua orang yang datang merasa gembira, kamu pasti ikut gembira; tetapi jika semua orang yang datang tidak bahagia, bagaimana mungkin kamu sendiri bisa bahagia? Oleh karena itu, “semua makhluk sakit, maka aku juga sakit,”karena semua makhluk menderita “penyakit keserakahan”, ini yang dikatakan oleh Bodhisattva. Karena Bodhisattva melihat bahwa manusia di dunia ini semuanya menderita penyakit keserakahan. Oleh karena itu, jika “Semua makhluk tidak lagi sakit, maka penyakitku pun lenyap.” Artinya, jika semua orang tidak sakit lagi dan tidak lagi terikat atau serakah pada segala sesuatu di dunia ini, maka penyakitku pun akan lenyap — penyakit Bodhisattva juga akan hilang. Bodhisattva memang seperti itu, menganggap pikiran semua makhluk sebagai pikiran-Nya sendiri, menganggap kebajikan semua makhluk sebagai kebajikan-Nya sendiri, dan menganggap penderitaan semua makhluk sebagai penderitaan-Nya sendiri, inilah Bodhisattva. Jika dijelaskan dengan bahasa sehari-hari adalah ketika orang lain terluka, saya juga merasakan sakit; Ketika orang lain menderita, saya pun merasa derita dan sedih.
