Mengamati – Melihat dengan Jelas Sifat Kebuddhaan Diri Sendiri
Jika sakit gigi? Maka nantinya harus sikat gigi dengan lebih cermat. Kalau mudah panas dalam? Nantinya kurangi makan makanan pedas, pergi jalan-jalan keluar. Dada terasa sesak? Sering menghirup udara segar. Semua masalah pasti ada jalan penyelesaiannya, hanya tergantung dari dirimu sendiri bagaimana menyelesaikannya. Oleh karena itu, untuk membuat kebahagiaan menetap dalam hati kita, sesungguhnya ada syaratnya, yakni harus bisa membuat penderitaan meninggalkanmu, asalkan meninggalkan kerisauan, kamu baru bisa memperoleh kebahagiaan.
Oleh karena itu, kita harus belajar, “menyucikan hati dan pikiran diri sendiri”, yakni kita sendiri harus bisa membuat seluruh niat sendiri menjadi sangat bersih, “Segala perkataan yang terpikir oleh saya pada hari ini, semuanya sangat bersih. Semua niat yang muncul pada diri saya hari ini, sangat bersih – murni sekali”, ini yang dinamakan “menyucikan hati dan pikiran diri sendiri”. Niat yang baik bisa menjadi satu contoh yang baik, semua niat yang muncul harus bersih, jika mengerjakan sesuatu dengan tujuan tertentu, berarti tidak bersih. Oleh karena itu, dalam hidup ini, kita harus terus-menerus membersihkan – menyucikan niat pikiran sendiri.
Manusia hidup, niat pikirannya setiap hari bergerak – beraktivitas, ini tidak bisa dihindari, namun juga tidak masalah, bagaikan ada debu yang setiap hari bertebaran di atas perabot rumah tangga kamu, namun kamu harus menyekanya dengan bersih. Selain itu, pemikiran seseorang perlu beraktivitas, dalam perilaku juga harus ada aktivitas, manusia hidup memang harus beraktivitas, maka disebut sebagai “huo dong” – gerakan hidup (aktivitas). Tubuh tidak bisa tidak bergerak, otak tidak bergerak akan “berkarat”, namun bagaimana seharusnya “aktivitas” atau gerakan ini? Banyak orang yang beraktivitas sampai melukai pinggangnya, apakah itu juga dinamakan berolahraga? Kita harus berolahraga dengan tepat, otak kita harus berputar dengan benar, tubuh kita juga harus bergerak dengan wajar, harus memahami prinsip-prinsip ini.
Jika seseorang hanya belajar sedikit tentang ketenangan Zen, atau belajar sedikit kung fu, atau belajar sedikit senam statis Qi Gong, atau sedikit senam dinamis Dong Gong, semua ini tidak ada gunanya, karena yang kamu pelajari hanya ilmu di permukannya saja. Sama seperti seseorang, hari ini di sini sakit, lalu kamu bergerak sedikit, hari ini leher sakit, lalu setelah bergerak sedikit, besok kamu kembali tidak berolah raga. Sesungguhnya, kamu setiap hari harus sedikit menggerakkan tubuh – senam, maka lehermu akan terasa nyaman. Kalau kamu hanya latihan gerakan pada saat ingat, dan tidak latihan gerak kalau tidak ingat, maka sesungguhnya, kamu sama dengan tidak bergerak, benar tidak? Jika kamu setiap hari berpikiran jahat, kamu berpikir: “Hari ini saya berpikiran jahat” – ya sudah, begitu berpikir demikian, walau hanya sedikit, namun berarti kamu sudah berpikiran jahat. Kita harus sering berpemikiran baik, baru bisa tidak memiliki pemikiran jahat.
Seorang praktisi Buddhis yang sesungguhnya, harus mengenakan satu “mantra pengendali”, dengan kata lain, kita harus memahami bahwa, “Segala sesuatu yang saya lakukan tidak boleh berlebihan sampai melenceng, jangan keterlaluan,” jadi jangan terlalu menyimpang ke kiri atau ke kanan, karena segala hal yang kita pelajari dalam hidup ini bukanlah kesempurnaan yang terakhir. Apakah kesempurnaan yang terakhir? Berarti sudah sampai paling akhir – paling dalam, menurut kalian, apakah ada hal yang sampai ke akhir, yang paling sempurna? Kesempurnaan akhir sangat sulit ditemukan di dunia ini, jika ingin menemukan kesempurnaan terakhir di dunia ini, itu hanyalah Buddha, kita sangat sulit mempelajarinya. Oleh karena itu, jangan merasa kalau hari ini sudah bekerja sedikit, besok kembali tidak mau mengerjakannya, lalu lusa kembali melakukannya sedikit, lusa depan kembali berhenti lagi, maka semua yang dilakukannya ini adalah kosong, bukanlah kesempurnaan terakhir.
Kita manusia bagaimana supaya bisa benar-benar melakukan semua ini dengan baik? Sesungguhnya dengan memahami bahwa kita tidak boleh melekat – keras kepala. Apakah kalian sekarang keras kepala? “Saya harus mengerjakan hal ini dengan baik”, ini namanya keras kepala – kemelekatan. Pada saat kalian berikrar, kalian mengatakan, “Saya harus bagaimana”, sesungguhnya, kamu sudah memiliki sedikit kemelekatan, karena kamu tidak bisa melakukannya. Ada satu orang yang berkata kepada Master: “Master, saya pasti tidak akan memancing lagi, saya sudah membuang tongkat pancingnya”. Seharusnya sudah sepakat bukan? Namun dalam mimpi masih memancing, dan akhirnya melanggar hukum dunia yin, tetap saja menerima hukumannya. Kamu di dunia “yang” tidak melanggar hukum namun tiba di dunia “yin”, kamu masih melanggar hukum, karena niat pikiranmu masih melanggar hukum. Di dunia “yang”, dia berkata, dia sudah membuang tongkat pancingnya, benar-benar tidak pergi memancing lagi, tetapi di alam bawah sadarnya, dalam kesadarannya masih menunjukkan kesadaran atas hal-hal yang dulu dilakukannya – dia masih memancing ikan, maka dalam mimpinya, dia masih akan memancing ikan. Oleh karena itu, membina pikiran benar-benar sangat sulit, kita harus berperang melawan kemalasan diri sendiri, harus tekun berusaha, setidaknya harus memiliki tekad seperti ini. Jangan meremehkan diri kalian sendiri, karena kalian sedang berkembang maju, hari ini kalian bisa datang ke Guan Yin Tang untuk mendengarkan kelas, berarti kalian sedang dalam proses kemajuan.
Master minta kalian untuk tidak melekat – keras kepala, jika kamu tidak melekat, maka kamu bisa mencapai nibbana – kesempurnaan, dan nibbana ini berada di dalam diri sendiri. Apakah nibbana itu? Itu adalah tingkat kesadaran spiritual ketiadaan Aku, yakni kesadaran spiritual yang sudah tiada lagi keegoisan. Kita tidak melekat pada kehidupan, ajaran Buddha Dharma sesungguhnya sudah dari dulu berada di alam semesta ini, lalu kita perlu melekat pada apalagi? Kita hanya perlu melakukan semuanya mengikuti ajaran Buddha Dharma, maka kita pasti bisa mencapai tingkat kesadaran spiritual Buddha. Ajaran Buddha Dharma sudah dari dulu berada di alam semesta ini, dia berada di mana-mana, tidak datang dan tidak pergi, seperti semula tak tergoyahkan, maka kamu akan memasuki jalan satu-satunya mencapai Tathagata. Dengan kata lain, pikiranmu sudah menyatu dengan pikiran Bodhisattva yang semula, seperti semula tak tergoyahkan, pikiranmu baru benar-benar bisa mencapai kelenyapan nibbana, benar-benar memasuki jalan pencerahan satu-satunya, menyatu dengan ajaran Buddha Dharma.
Sekian pembahasan kita pada hari ini, Master berharap kalian bisa belajar dan membina diri baik-baik, jangan meremehkan diri sendiri, jangan menganggap rendah diri sendiri, kita semua pada hari ini menekuni Dharma dengan setara, kita semua memiliki kesetaraan pikiran, oleh karena itu, kita harus menghormati, peduli, dan mengasihi semua orang.
Master juga begitu terhadap kalian, semoga kalian jangan kehilangan pikiran yang bijaksana. Kalian harus sepenuh hati menerima didikan welas asih dari Guan Shi Yin Pu Sa, harus benar-benar bisa memahami segala hal, bukan hanya memahami aturan dan ajaran Dharma untuk sementara. Kalian benar-benar harus mawas diri, pikiran harus terpusat, harus selalu menjaga kebenaran pemikiran, jadi niat hati dan pemikiran harus dijaga untuk tetap sejalan. Ingatlah, jangan pernah menggunakan pemikiran duniawi untuk melihat sifat Kebuddhaan diri sendiri, kalau tidak kamu malah akan menghilangkan sifat Kebuddhaan sendiri, karena kamu tidak akan merasa kalau diri sendiri sangat hebat, tidak akan merasa kalau diri sendiri sangat bersih. Kamu akan memandang kalau diri sendiri adalah orang yang sangat kotor; kamu harus bisa melihat sifat Kebuddhaan diri sendiri, kamu harus merasa kalau kamu bersama dengan Bodhisattva, dengan begitu, kamu baru bisa meningkatkan kesadaran spiritual diri sendiri. Menghargai diri sendiri, sama dengan menghargai Bodhisattva, menghargai semua makhluk, yang sama dengan menghormati Buddha, karena semua makhluk memiliki sifat Kebuddhaan.
Semoga kalian membina diri baik-baik, jangan saling membandingkan, harus mawas diri, mulai dari hari ini, semakin membina diri semakin baik, tidak boleh menyerah dan putus asa. Ada orang yang memiliki berkah pahala yang baik, bisa mengenal ajaran Buddha Dharma; namun ada juga orang yang tidak memiliki keberuntungan, setiap hari makan dan hidup hura-hura, setiap hari melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, ini berarti tidak punya keberuntungan, kita pun hanya bisa menghela nafas, Orang yang memiliki keberuntungan ini, kita pun meyelamatinya.
