Toleransi adalah Kebijaksanaan
Hari ini, apa pun yang kalian hadapi, semuanya harus tetap bersikap benar. Kita jangan memihak siapa pun, dalam menangani suatu masalah, kita sering kali masih memiliki perbedaan pandangan, karena dalam kehidupan manusia, kita selalu memiliki pikiran diskriminasi dalam menangani berbagai hal. Sebagai contoh sederhana, ketika kalian melihat foto seseorang, kadang-kadang jika merasa orang itu enak dipandang, kalian akan bersikap lebih baik kepadanya. Sebaliknya, jika merasa tidak enak dipandang, itu juga merupakan penyimpangan dan tidak benar, mengertikah? Karena dalam diri manusia sendiri ada suatu pikiran yang muncul, dan pikiran inilah yang sering kali mendorong kita menjadi tidak lurus atau menyimpang. Ketika kita sedang mempertimbangkan suatu hal, begitu pikiran seperti ini muncul, kamu pasti akan menyimpang. Inilah yang sering kita sebut sebagai adanya perbedaan, dalam duniawi disebut perbedaan, sedangkan dalam ajaran Buddhis disebut “pikiran diskriminasi”. Sebagai manusia, kita juga tidak boleh terbawa arus. Jelas-jelas tahu bahwa kita telah melakukan kesalahan, tetapi masih terus melakukannya, itulah yang disebut mengikuti arus. Kita harus berani mengintrospeksi diri, berani memperbaiki diri. Dalam kehidupan nyata, kita tidak boleh demi melindungi diri sendiri lalu mengikuti kecenderungan yang tidak baik, hingga meninggalkan hati baik kita yang semula. Hanya karena dia adalah atasan saya, atau karena dia adalah keluarga saya, lalu saya harus mengikutinya, ini tidaklah benar. Kita harus mengerti, dalam kehidupan nyata, saat menangani segala sesuatu, kita tidak boleh meninggalkan hati baik yang semula. Harus tetap teguh pada pikiran untuk belajar Buddha Dharma, teguh pada keyakinan bahwa saya adalah praktisi Buddhis, saya harus belajar dan mengikuti hal-hal yang benar dan lurus.
Hati yang penuh welas asih, hati yang sederhana dan murni, harus selalu diingat dalam hati kita. Kita tidak percaya kepada orang lain, tetapi ingin terus-menerus mengambil dari orang lain tanpa batas, itu jelas merupakan cara hidup yang tidak sehat. Hari ini Master berbicara kepada kalian tentang ajaran Zen. Kalian mungkin belum memahaminya, bukan? Sebenarnya Master belum benar-benar menjelaskan inti Zen. Ajaran Zen adalah membuat seseorang mengerti dan menyadari segala sesuatu yang ia lakukan sendiri. Karena manusia sering kali tanpa henti mengambil dari orang lain, tetapi pada saat yang sama tidak mempercayai orang lain. Inilah kecenderungan dan pola pikir manusia, dan ini pun yang tadi Master katakan kepada kalian tentang pikiran diskriminasi, benar tidak? Coba pikirkan: kita meminta pendapat orang lain, terus-menerus ingin mendengar hal-hal yang baik dari mereka, tetapi pada saat yang sama kita malah meragukan dan tidak mempercayai mereka, bukankah begitu? Bukankah kita sekarang seperti ini? Sebagai contoh sederhana, ketika kita bertanya jalan, sebenarnya di dalam hati kita sudah punya pikiran sendiri, kita merasa jalan itu seharusnya lewat sini. Ketika orang lain memberi tahu, “Kamu lewat sini, lalu belok, kemudian jalan dari sana lagi,” kamu memang mendengarkan penjelasannya, tetapi di dalam hati justru berpikir, “Dia salah, seharusnya saya lewat jalan ini, bukan jalan itu.”Kita tidak percaya kepada orang lain, tetapi tetap ingin meminta bantuan, itulah pola pikir manusia zaman kini.
Untuk membuka tingkat kesadaran tanpa keakukan, yaitu harus mampu menoleransi masyarakat. Jika sekarang kita membuka hati kita, melepaskan “diri atau ego”, maka semakin tidak mementingkan diri sendiri, semakin kita mampu menoleransi setiap orang dan menoleransi masyarakat ini. Di dalam masyarakat ini ada banyak hal yang tidak kamu sukai atau tidak sesuai dengan pandangan dirimu. Namun sebagai seorang praktisi Buddhis yang sedang meningkatkan kesadaran spiritual, dan kamu memahami bahwa ini adalah Alam Manusia. Sebagai contoh sederhana, jika kamu pergi ke Alam Hantu dan melihat banyak makhluk di sana melakukan kejahatan, kamu tahu bahwa mereka semua adalah hantu, sehingga berbuat demikian. Kamu tidak akan bertengkar dengan mereka, karena tingkat kesadaranmu berada di Alam Manusia. Sekarang, kamu membina diri mencapai tingkat kesadaran Bodhisattva, lalu melihat kembali segala sesuatu di Alam Manusia, maka kamu tidak akan lagi merasa sakit hati dan sedih, benar tidak? Karena kamu tahu bahwa Alam Bodhisattva bukanlah seperti ini. Ketika tingkat kesadaran spiritualmu meningkat, kamu akan mampu menerima dan memaklumi masyarakat. Karena masyarakat saat ini memang demikian, tidak bersikap rasional, penuh tipu daya, dan melakukan hal buruk di belakang orang lain. Masyarakat kini memang sudah seperti ini, maka kamu harus menumbuhkan hati yang penuh toleransi, karena kamu memahami bahwa perbuatan seperti itu bukanlah yang dilakukan oleh Bodhisattva, dan bukan pula perilaku seorang yang benar dan mulia. Dengan cara berpikir seperti ini, kamu akan mampu melampaui masyarakat, sekaligus menoleransi masyarakat; keluar dari pertikaian sempit yang bersifat pribadi, dan mampu memaafkan serta menerima orang lain. Seorang praktisi Buddhis memang seharusnya demikian.
Oleh karena itu, terhadap segala bentuk persaingan dan pertentangan di dunia, kita juga harus melepaskannya. Hari ini saya tidak ingin bersaing dengan siapa pun, tidak ingin bertengkar dengan siapa pun. Hari ini saya hanya ingin belajar Buddha Dharma dengan baik. Segala sesuatu bisa saya lepaskan, segala baik dan buruk di dunia ini sebenarnya hanyalah sementara. Itu hanyalah sarana yang kita gunakan sebagai dasar untuk melangkah menuju jalan yang kita pilih. Kalian sebelum masuk universitas, dan sebelum lulus dari universitas, telah mempelajari banyak hal. Apakah semua itu masih digunakan hari ini? Banyak orang mungkin sudah tidak menggunakannya lagi, bukan? Dari semua hal yang dipelajari, mana ada yang bisa dipakai seumur hidup? Namun masalahnya adalah, ketika kamu sedang belajar, kamu memang harus menggunakannya. Inilah tingkat kesadaran spiritual yang harus dimiliki oleh manusia. Tingkat kesadaran sprititual ini membuat dirimu dapat melepaskan diri dari segala ancaman alam. Ancaman alam terhadap manusia itu sangat hebat, apakah kalian semua mengerti?
Keangkuhan yang berpusat pada diri manusia juga bisa dikatakan sebagai suatu ujian bagi orang zaman kini. Setiap orang menjadikan dirinya sebagai pusat, merasa bahwa dirinya adalah benar. Sebenarnya, ini adalah suatu ujian bagi manusia. Ayah mengatakan ayah yang benar, ibu mengatakan ibu yang benar, lalu terjadilah pertengkaran. Anak mengatakan dirinya yang benar, sementara ayah dan ibu mengatakan mereka yang benar, ini juga merupakan suatu ujian. Ini adalah dasar dari menciptakan masalah, menciptakan konflik, dan menciptakan penderitaan. Oleh karena itu, manusia tidak boleh menjadikan diri sendiri sebagai pusat, menjadikan diri sebagai subjek utama dalam menjalani kehidupan di masyarakat, itu sudah merupakan kesalahan mendasar. Dalam ajaran Zen disebut “tanpa aku, tanpa orang, tanpa dia.” Jika bahkan “aku” saja sudah tidak ada, dari mana datangnya “dia”? Jika “aku” saja tidak ada, dari mana datangnya “kamu”? Jika “aku” tidak ada, maka orang seperti apa pun juga tidak akan ada, karena ketika tidak ada “aku”, maka tidak ada lagi “kamu, aku, maupun dia”. Jika aku sudah tidak ada, kamu juga tidak ada, dia juga tidak ada, ini adalah suatu ujian nyata yang cukup berat dan menyakitkan yang harus dialami manusia untuk memahami kehidupan. Manusia tidak boleh menjadikan “aku” sebagai pusat. Banyak hal justru menimbulkan konflik dan kerisauan karena berpusat pada “aku”.
Orang yang mempelajari ajaran Zen tidak memiliki akhir. Orang yang mempelajari Buddha Dharma pada dasarnya juga tidak pernah selesai. Hari ini kamu belajar, jangan mengatakan bahwa saya sudah mempelajari semuanya, itu tidak mungkin. Tidak ada akhir, tidak ada selesai, harus terus belajar selamanya. Karena ketika kamu merasa sudah tercerahkan, justru itulah awal dari kebingunganmu yang baru. Kamu belum memahami, dan memang tidak bisa memahami banyak hal. Coba pikirkan, baik agama dari Timur maupun Barat, pada dasarnya semuanya harus melalui banyak penderitaan. Agama Barat juga mengalami banyak penderitaan, begitu juga Buddhisme di Timur dan lainnya. Hanya dengan landasan menjalani pembinaan yang penuh penderitaan, kita baru bisa membina pikiran dan perilaku. Sebuah jalan yang datar hanya dilalui orang datang dan pergi, tetapi tidak bisa sampai pada tujuan. Sedangkan jalan yang sulit yang dibuka diri sendiri adalah jalan yang belum pernah dilalui orang lain, ia pasti sangat berat. Namun justru melalui jalan seperti itulah kita dapat menemukan jalan hidup yang seharusnya kita miliki.
Kita membina diri bukan untuk membina hasil. Apa itu membina hasil? Itu adalah memperbaiki karir diri sendiri, memperbaiki karma baik diri sendiri. Membina hasil itu memiliki tujuan, hari ini usaha saya berhasil, selesai; hari ini saya menjalankan usaha ini, saya membina pikiran hingga mencapai apa yang saya inginkan, berhasil; saya telah melakukan banyak jasa kebajikan, saya mendapatkannya, lalu selesai. Ia memiliki tujuan, memiliki masa depan, dan memiliki posisi. Sedangkan membina diri itu tidak ada batasnya, dengan kata lain, kamu harus terus membina diri tanpa henti; ia bergerak menuju tujuan yang tak terbatas. Karena tingkat kesadaran spiritual seorang Bodhisattva adalah pencerahan tertinggi yang sempurna (anuttara samyak sambodhi), tanpa puncak, tanpa akhir. Ini berkaitan dengan arah tujuan terdalam dari jiwa. Sebagai seorang praktisi Buddhis, kita harus memahami bahwa yang kita bina adalah jiwa kita. Ke arah mana sebenarnya kedalaman jiwa kita akan berjalan, itulah yang disebut pembinaan diri.
Praktisi Buddhis harus memahami bahwa sesuatu itu tidak layak diambil atau tidak seharusnya dilakukan, namun tetap harus memperbaiki diri sendiri. Kita hidup di dunia ini jelas tahu bahwa semuanya itu sulit, tetapi kita tetap harus melakukan banyak hal dalam praktik spiritual, kita harus berlatih dengan penuh kesungguhan, menahan hinaan, dan tekun maju. Segala sesuatu itu sulit; coba pikirkan, bahkan berkomunikasi dengan sesama manusia saja sudah begitu sulit. Terkadang itu adalah anak sendiri, tetapi seorang ibu malah tidak berani berbicara. Terkadang juga antara suami dan istri, bahkan satu kalimat yang sederhana pun, ayah dan ibu tidak berani mengatakannya kepada satu sama lain. Untuk menanyakan satu pertanyaan saja harus berpikir berkali-kali, apakah akan menimbulkan reaksi lain atau tidak.
Manusia itu sulit dipahami, manusia juga sulit dijalani. Tiga kata ini dibolak-balik tetap “sulit”, “menjadi manusia itu sulit, sulit menjadi manusia, hidup sebagai manusia itu sulit.”Menjadi manusia adalah hal yang paling sulit. Oleh karena itu, dalam belajar Buddha Dharma dan berperilaku sebagai manusia adalah harus melepaskan diri dari penderitaan dan terbebas dari berbagai kerisauan duniawi, barulah kamu bisa menjadi manusia yang baik. Jika hari ini kamu tidak mengubah dirimu sendiri, bagaimana kamu bisa menjadi manusia yang sesungguhnya? Karena manusia memiliki banyak kekurangan. Jadi, meskipun kamu sudah lama belajar Buddha Dharma, jika kamu tidak memahami cara memperbaiki kekurangan diri sendiri dan tidak memahami untuk menaati sila, maka kamu ini adalah “无功德行wu gong de xing — tanpa jasa kebajikan”. Artinya, ketika kamu melakukan banyak hal, semua itu tidak menghasilkan jasa kebajikan apa pun. Seseorang yang demi kepentingan pribadinya, demi memperbaiki karmanya sendiri, dan demi mencapai suatu tujuan tertentu, meskipun setiap hari melakukan berbagai perbuatan baik, jika semua itu dilakukan demi kepentingan diri sendiri, maka orang tersebut disebut “无功德行wu gong de xing — tanpa jasa kebajikan”. Jika keempat kata ini dijelaskan satu per satu, artinya adalah perbuatan yang tidak memiliki jasa kebajikan. Meskipun kamu telah melakukan banyak hal, itu semua adalah tindakan yang tidak menghasilkan jasa kebajikan. Dari sini muncul istilah “无所得行 wu suo de xing – tanpa perolehan”. Pembinaan dirimu yang tiada jasa kebajikan, maka kamu tidak akan memperoleh apa pun, itulah yang disebut “tanpa perolehan”.
