Mencari Jalan yang Benar dalam Belajar Buddha Dharma adalah Medan Pembinaan
Hari ini sekitar pukul satu siang, Master memberikan wejangan melalui telepon kepada sekitar belasan kelompok praktiksi di wilayah Amerika Utara. Master sangat terharu, karena mereka yang berada jauh di Amerika Utara tetap memikirkan Master, dan semuanya berusaha dengan sungguh-sungguh dalam menekuni Xin Ling Fa Men, bahkan membina diri dengan sangat baik. Master juga sangat tersentuh dan menyadari bahwa untuk menyebarkan ajaran Xin Ling Fa Men, memang harus mengandalkan kekuatan semua makhluk.
Hari ini memberitahu semua orang bahwa belajar Buddha Dharma itu terdengar mudah, tetapi ketika dilakukan, sangatlah sulit. Seseorang yang belajar Buddha Dharma bisa berkata, “Mulai hari ini saya akan sungguh-sungguh belajar Buddha Dharma,” tetapi dalam tindakan nyata, dia akan merasa sangat lelah, sangat sulit, dan bahkan menjadi bingung. Seperti halnya kita setiap hari berkata ingin bangun lebih pagi. Banyak orang mengatakan, “Saya besok akan bangun lebih pagi,” tetapi ketika waktunya tiba, tetap tidak bisa bangun.
Dahulu kita mengatakan, bahkan seorang anak berusia tiga tahun pun sudah tahu bagaimana menjadi orang baik. Karena pada masa lalu, ketika seorang anak berusia tiga tahun, ia sudah tahu bagaimana menyayangi orang tuanya, ia tahu berbagi makanan dengan orang lain, dan tahu bahwa merusak barang milik umum harus diganti. Semua ini adalah prinsip dasar dalam berperilaku sebagai manusia. Namun sekarang, orang-orang sangat dipengaruhi oleh keinginan materi (nafsu duniawi), sehingga sangat sulit untuk melakukan hal-hal tersebut. Akibatnya, orang-orang masa kini telah kehilangan sifat dasar yang paling murni dalam dirinya. Hati manusia sekarang tidak lagi semurni orang-orang dahulu. Semakin bertambah usia, semakin banyak hal duniawi yang dipelajari, sementara hal-hal yang berasal dari kemurnian sifat dasar justru semakin berkurang.
Semua orang mengetahui penyair terkenal Bai Juyi. Pada waktu itu, ia pergi bertanya kepada seorang Master Zen bernama Niaoke. Master Zen Niaoke ini biasanya hidup dengan tidur di atas pohon. Saat itu, Bai Juyi menjabat sebagai seorang pejabat tinggi. Ia datang mengunjungi Master Zen Niaoke dengan harapan bisa mempelajari sedikit ajaran Zen dalam Buddhisme. Setelah ia bertemu dengan Master Zen Niaoke, ia berkata: “Master, Anda setiap hari tidur di atas pohon, apakah tidak merasa berbahaya?” Master Zen Niaoke menjawab: “Saya setiap hari tidur di atas pohon sama sekali tidak merasa berbahaya. Justru saya melihat kalian yang lebih berbahaya, karena kalian mendampingi seorang raja diibaratkan mendampingi seekor harimau.” “Kalian sekarang berada di sisi raja, bisa jadi suatu hari kehilangan nyawa, sedangkan saya tidak berbahaya.”Kemudian Bai Juyi bertanya: “Master Zen Niaoke, bisakah Anda menjelaskan kepada saya tentang kebenaran ajaran Buddha dan Zen?”Master itu menjawab: “Orang sekarang ini, hal yang bisa dilakukan oleh anak kecil berusia tiga tahun, belum tentu bisa dilakukan oleh orang tua berusia delapan puluh tahun.” Artinya, hati nurani dan sifat dasar manusia sekarang tidak sebanding dengan hati yang semula. Hati yang semula adalah hati yang paling asli dan murni. Oleh karena itu, hati manusia terus berubah, hal itu membuat seseorang sulit mencapai hasil yang sempurna.
Kisah ini menjelaskan bahwa kita harus memahami apa arti “tidak mampu melakukannya”. Kemudian Sang Master memberi tahu Bai Juyi delapan kata: “Tidak melakukan segala kejahatan, dan mengamalkan semua kebajikan.” Hal ini sebenarnya bisa dilakukan oleh anak kecil, tetapi justru orang dewasa sering tidak mampu melakukannya. Semua perbuatan baik harus kita lakukan, dan semua perbuatan buruk harus kita hindari. “Menyucikan hati dan pikiran sendiri, itulah ajaran semua Buddha.” Dengan kata lain, ketika bertemu hal yang baik, harus dilakukan; ketika bertemu hal yang buruk, harus dihindari. Selain itu, kesadaran diri sendiri harus dijaga tetap bersih, saya tidak boleh melakukan hal-hal ini. Dengan demikian, kamu akan memperoleh kebenaran ajaran Buddha. Jika seseorang setiap hari memikirkan hal-hal buruk di dalam hatinya, bagaimana dirimu dapat memperoleh kebenaran dari Buddha dan Bodhisattva?
Ketika seseorang belajar Buddha Dharma, iblis akan mengikuti dirinya. Jika seseorang memiliki iblis dalam dirinya, maka Buddha juga ada dalam dirinya, karena Buddha ingin menyelamatkannya. Jadi, dalam diri seseorang, unsur Buddha dan unsur iblis sama-sama ada dalam tingkat yang berbeda. Jika seseorang tidak menyadari adanya iblis dalam dirinya, maka sifat Kebuddhaannya akan semakin berkurang. Sebaliknya, jika seseorang menyadari bahwa Buddha ada dalam dirinya, maka iblis akan semakin menjauh darinya.
Master pernah memberikan sebuah perumpamaan, di sebuah lorong yang bersih, tiba-tiba ada banyak sampah yang dibuang oleh orang lain. Jika kamu ingin memungut sampah itu, akan ada sebuah suara dalam dirimu yang berkata, “Pasti ada orang lain yang akan memungutnya, ada petugas kebersihan, tidak perlu kamu yang melakukannya.” Lalu kamu tidak jadi memungutnya, pada saat itulah kamu telah dikendalikan oleh iblis dalam dirimu. Jika dalam dirimu ada kekurangan, tetapi kamu tidak memperbaikinya, dan kamu merasa, suatu saat nanti kamu pasti akan berubah, maka kamu sudah dikendalikan oleh iblis. Sekarang, dalam diri kalian memiliki kekurangan, harus segera diperbaiki, dengan tekad yang kuat untuk berubah, barulah dirimu tidak akan dikendalikan oleh iblis. Jika sampai hari ini kalian masih melakukan hal-hal seperti biasa, sambil berpikir, nanti ke depannya akan jadi lebih baik, maka maaf, tidak ada yang namanya “nanti” lagi.
Pada dasarnya, dalam kehidupan ini kita sudah memiliki sebuah hati Buddha. Hati Buddha ini adalah hati welas asih yang sangat berharga. Hati Buddha yang begitu langka ini tidak boleh diinjak-injak oleh iblis dalam diri sendiri. Untuk mengalahkan pikiran jahat, maka harus kembali pada pikiran semula. Apa yang dimaksud dengan pikiran semula? Artinya adalah, dalam melakukan segala sesuatu, niat kita harus baik, harus penuh kebajikan. Apa pun yang dilakukan, sejak awal saya harus menggunakan sifat dasar dan hati nurani yang baik dalam melakukannya, inilah disebut pikiran semula. Jika seseorang, meskipun di dalam hatinya belum bisa langsung menerima suatu konsep pikiran dan hal yang baik, atau kamu belum bisa membedakan mana yang jahat dan mana yang baik, maka dirimu pun tidak boleh mundur. Namun tetap harus terus melangkah maju dan menemukan kebaikan serta welas asih.
Yang Master ajarkan kepada kalian adalah filsafat kehidupan duniawi dan Buddha Dharma di Alam Manusia. Manusia tidak boleh mundur. Kita hidup di Alam Manusia ini dengan banyak sekali penderitaan dan rintangan. Sering kali orang-orang tidak mampu membedakan mana yang benar dan mana yang salah, bahkan menggunakan rintangan dalam hatinya sendiri untuk menyingkirkan pemikiran baik yang sebenarnya sudah ada dalam dirinya. Seseorang duduk di kursi bus umum, melihat seorang lansia naik ke dalam kendaraan. Ia tidak ingin memberikan tempat duduknya, lalu dalam hatinya ia berpura-pura mengantuk. Mengapa demikian? Karena ia berpikir bahwa dirinya juga sedang tidak sehat. Ia menggunakan berbagai pikiran yang tidak baik untuk menekan dan mengendalikan sifat dasar yang baik dalam dirinya. Sifat dasar yang baik seharusnya membuat kita langsung berdiri dan memberikan tempat duduk kepada orang tua, tanpa banyak bicara, tanpa alasan apa pun. Ketika kamu mulai mencari satu alasan, dua alasan, tiga alasan, sebenarnya pada saat itu juga pikiran semula dan sifat dasarmu sudah mulai berubah. Oleh karena itu, ketika pikiran buruk muncul, harus segera diubah. Saat kamu berdiri dan memberikan tempat duduk, akan ada banyak pandangan penuh penghargaan yang tertuju kepadamu; tetapi jika kamu tidak berdiri, akan ada banyak pandangan tidak suka yang tertuju kepadamu. Orang yang berpura-pura tidur tidak akan pernah benar-benar bangun, karena dirimu sedang berpura-pura tidur. Yang pura-pura itu adalah palsu, dan yang melakukan adalah sifat dasar yang sudah tercemar.
Seseorang yang belajar Buddha Dharma tetapi tidak tekun, maka ia tidak akan pernah bisa belajar dengan baik. Konsep pemikiran dan prinsip kebenaran ini membuat kalian memahami bahwa, jika manusia tidak belajar, maka hati kita akan sangat menderita; jika kita tidak berkembang atau maju, maka hati kita akan sangat sedih. Coba dipikirkan, sifat dasar kita akan membuat kita merasa sangat sedih. Seperti ketika hari ini kita melakukan suatu kesalahan, sebenarnya menurut pandangan orang modern, mungkin hal itu dianggap sepele dan bisa diabaikan. Namun jika dilihat dari sifat dasar dirimu, terhadap apa yang telah kamu lakukan itu, maka kamu akan merasa sangat sedih. Kita sebagai praktisi Buddhis tiba-tiba memarahi orang lain, bukankah dirimu akan merasa sangat sedih? Kamu boleh berkata, “Dia juga memarahiku.” Namun di dalam dirimu sendiri, kamu tetap akan merasa sangat sedih, karena kamu adalah orang yang baik, karena kamu adalah orang yang menekuni Dharma, karena kamu adalah orang yang membina pikiran, maka kamu pasti akan merasa lebih sedih daripada orang lain. Justru itu menunjukkan bahwa sifat dasarmu masih ada.
Master berkata kepada kalian, bahwa manusia yang hanya mengandalkan manusia lain, sangat sulit untuk mencapai Kebuddhaan. Ketika mendengar kalimat ini, kalian akan berpikir “Kita ini manusia, kalau sulit menjadi Buddha, maka kita tidak lagi belajar” Master memberitahukan kepada kalian, justru karena semakin sulit, maka harus semakin belajar. Karena Buddha adalah baik, maka kita harus mempelajarinya. Seperti dahulu kita mengatakan untuk meneladani Lei Feng, karena dia adalah orang baik, maka semua orang ingin meneladaninya.
Dalam Belajar Buddha Dharma harus memiliki hati yang lurus. Apa itu hati yang lurus? Artinya, hari ini hati saya ini tidak berbelit-belit, jujur dan apa adanya, saya tidak berbohong, tidak membual, dan tidak melakukan hal-hal yang buruk, inilah yang disebut hati yang lurus. Karena ketika kamu memiliki hati yang lurus, barulah kamu memiliki medan pembinaan. Apa itu medan pembinaan? Medan pembinaan adalah tempat untuk belajar Buddha Dharma, dasar atau landasan dalam menekuni Dharma. Coba dipikirkan, jika hari ini kalian memiliki medan pembinaan, dan hati kalian sangat bersih, maka di dalam hatimu sudah bersemayam Bodhisattva, maka kalian sudah memiliki medan pembinaan Buddha. Jika kalian tidak bisa berpikiran terbuka terhadap hal yang kalian hadapi hari ini dan merasa sangat sedih, ini berarti kalian tidak memiliki hati yang lurus, dan juga belum memiliki medan pembinaan. Oleh karena itu, dalam belajar Buddha Dharma kita harus menggunakan hati yang lurus, yaitu hati yang penuh kebenaran, jujur, teguh, dan sederhana dan murni. Apakah kalian benar-benar sederhana dan murni? Sampai hari ini, apakah kalian dalam hidup bersikap jujur dan lurus? Apakah kalian akan karena seseorang memiliki kekuasaan dan pengaruh, lalu kalian mengikuti dia, dan melepaskan pikiran semula serta melepaskan hati welas asih diri sendiri?
Harus memiliki jalan yang langsung sesuai dengan kebenaran hati, barulah disebut “benar.” Apa artinya? Artinya adalah dalam berperilaku sebagai manusia dan melakukan segala sesuatu, kita harus menyesuaikan dengan keadaan sebenarnya yakni menyesuaikan jodoh, yang artinya hati yang mencari kebenaran, sehingga hati akan benar. Dalam melakukan apa pun, kita harus mencari arah yang benar. Sebagai contoh, hari ini kita merasa tidak senang dengan seseorang. Coba dipikirkan, jika ditinjau dari hal itu sendiri, mungkin kita bisa saja merasa tidak senang. Namun dari sudut pandang yang lebih dalam, kita seharusnya tidak perlu marah atau tidak senang kepadanya, karena dia tidak membina diri, sedangkan saya sedang membina diri; dia belum menjadi orang baik, tetapi saya sudah menjadi orang baik. Karena kamu adalah praktisi Buddhis, maka kamu harus memaafkan orang lain. Dengan demikian, kamu sedang mencari sebuah jalan yang benar untuk dirimu memiliki sebuah medan pembinaan. Di kemudian hari, ketika menghadapi situasi serupa, hal pertama yang akan kamu ingat adalah memaafkan. Pada saat itu, di dalam hatimu sudah ada medan pembinaan Buddha. Harus dipahami bahwa kita perlu melatih diri di dalam medan pembinaan tersebut.
Jika hati dalam belajar Buddha Dharma tidak digunakan dengan benar, maka akan menyimpang. Jika hari ini kita sebagai praktisi Buddhis tidak menggunakan hati dengan benar, kita akan langsung tersesat. Apa maksudnya? Hati harus lurus dan benar. Misalnya, di rumah saat berbicara dengan suami, jika kamu tidak menggunakan hati yang benar, maka itu menjadi hati menyimpang. Hari ini kamu berbicara dengan guru demi anak, jika kamu tidak bersikap adil terhadap anakmu, itu juga disebut berpihak atau tidak adil. Jika kamu belajar Buddha Dharma dengan tidak benar, bukankah itu juga berarti menyimpang? Pikirkanlah, jangan memihak siapa pun, begitu kamu mulai memihak, kamu akan kehilangan kebenaran, dan penyimpangan akan selalu mengikutimu.
