Semua Makhluk adalah Medan Pembinaan
Master baru saja mengatakan kepada semua orang bahwa tidak ada ketidaktahuan yang harus dilenyapkan, juga tidak ada tua dan mati yang harus dilenyapkan. Namun sesungguhnya, ketidaktahuan itu memang ada, ia ada lalu lenyap, lenyap lalu muncul kembali. Berikan contoh sederhana untuk kalian, perhatikan gelembung sabun yang ditiup ke udara, beraneka warna, apakah ada? Di udara, ia memang ada. “Bang”dalam sekejap lenyap, sekarang sudah mengerti, bukan? Kamu tidak perlu melenyapkannya, karena ia lahir dan lenyap dengan sendirinya. Hal-hal yang tidak kalian pahami dalam hidup, seiring suatu waktu kalian akan memahaminya juga; hal-hal yang tidak dimengerti saat kecil, ketika usia bertambah, maka akan mengerti. Oleh sebab itu, sesungguhnya tidak ada ketidaktahuan; tidak ada yang disebut mengerti ataupun tidak mengerti, dan sama sekali tidak ada tua serta kematian. Kerisauan dan bodhi juga sama, tidak ada kerisauan yang harus diputus, dan tidak ada kerisauan yang harus diakhiri. Karena sesungguhnya kerisauan itu sendiri bersifat kekosongan, dengan kata lain kerisauan pada dasarnya tidaklah ada, itu hanyalah sesuatu yang diciptakan oleh manusia sendiri. Master sudah menjelaskannya dengan cukup jelas, bukan? Jika menggunakan istilah modern, itu disebut filsafat. Para Buddha dan Bodhisattva adalah filsuf yang paling agung.
Kalian harus memahami bahwa kerisauan datangnya kosong dan perginya pun kosong, semua itu hanyalah sesuatu yang dirimu ciptakan sendiri. Pada dasarnya ia tidak memiliki sifat tetap, maka ia disebut memiliki sifat kekosongan. Bahkan kecerdasan maupun kebijaksanaan pun datang dan pergi dengan cepat, dan keduanya juga bersifat kosong. Oleh karena itu, kepintaran kecil manusia sebenarnya tidak ada gunanya. Begitu muncul sedikit kepintaran, orang mengira dirinya hebat, merasa sudah melakukan yang terbaik. Namun akhirnya, “Bang”lenyap begitu saja. Masih adakah? Kerisauan pun lenyap, kepintaran kecil itu juga lenyap. Orang yang benar-benar memiliki kebijaksanaan tidak lagi memiliki kerisauan. Orang yang masih memiliki kerisauan, mungkinkah masih punya kebijaksanaan? Orang yang memiliki kebijaksanaan, mungkinkah masih memiliki kerisauan? Cobalah kalian pikirkan baik-baik, ke mana perginya kebijaksanaan kalian selama ini? Semuanya habis dipakai untuk akal-akalan kecil sehari-hari. Demi sedikit nama, kedudukan, dan keuntungan duniawi, demi tipu daya dan saling menjatuhkan — setiap hari hanya melakukan hal-hal seperti ini, mungkinkah tingkat kesadaran spiritual dapat meningkat?
Prinsip agung dari ajaran Mahayana adalah — makhluk hidup adalah medan pembinaan, dan kerisauan adalah makhluk hidup itu sendiri. Master akan menjelaskan satu per satu dengan jelas, kalian benar-benar tidak mengerti? Mengapa dikatakan makhluk hidup adalah medan pembinaan? Karena di mana ada makhluk hidup, di sana pasti ada kerisauan. Mari ambil contoh yang sama seperti tadi, sewaktu kita masih kecil, guru matematika sering berkata “ini sama dengan ini, maka ini pun sama dengan yang itu.” Sekarang saya beritahu kalian, makhluk hidup itu sama dengan kerisauan. Misalnya, mengapa ketika manusia berkumpul selalu timbul kerisauan? Karena ketika orang berinteraksi satu sama lain, kamu berbicara, saya pun berbicara, maka kerisauan itu pun muncul. Kalau kalian semua bisu, saat berkumpul hanya saling memandang, dari situlah kerisauan muncul. Melihat orang ini terasa tidak senang, melihat orang ini lebih cantik dari saya, melihat yang lain memakai pakaian bermerek, atau melihat orang ini terasa sangat menjengkelkan, maka segala macam masalah pun terlihat. Oleh karena itulah dikatakan, makhluk hidup itu sendiri adalah kerisauan. Selama bersama, kerisauan kalian pun akan muncul. Maka itu banyak orang ketika bertengkar berkata: “Sebaiknya saya tidak usah melihatmu, dan kamu juga jangan melihat saya.” Akan mengetahuinya jika dipikirkan, hanya dengan melihat saja sudah membuat marah, melihat itu berarti berhadapan dengan makhluk hidup, dan makhluk hidup itulah kerisauan. Hari ini saya melihat kalian semua para makhluk hidup, kerisauan saya pun muncul — yang ini tidak belajar dengan baik, yang itu hidupnya begitu menyedihkan di rumah, yang itu tubuhnya sakit namun tetap harus bekerja, yang itu hidupnya berantakan sama sekali, bahkan ada yang masih tinggal di rumah sakit dengan selang infus di tubuhnya… Nah, kerisauan pun muncul, bukan? Bukankah ini yang disebut “Makhluk hidup adalah kerisauan”?
“Kerisauan adalah makhluk hidup,” demikian pula, kerisauan adalah hasil ciptaan dari makhluk hidup, karena semua kerisauan itu muncul dari makhluk hidup — yakni manusia yang melahirkannya. Sesungguhnya, di dunia ini tidak ada kerisauan, ia muncul karena manusia yang melahirkannya, karena makhluk hidup yang melahirkan dan memeliharanya. Sama seperti seorang wanita yang melahirkan seorang anak, lalu membesarkannya.
Master mengatakannya dengan menggunakan bahasa kini, kerisauan itu kalian ciptakan sendiri. Memangnya ada apa yang perlu dirisaukan? Bukankah hidup manusia memang begini adanya. Apa yang bisa dirisaukan? Adanya kerisauan, hidup tetap harus dijalani; tanpa kerisauan pun, hidup juga tetap harus dijalani, maka lebih baik jangan risau. Tidak bisa berpikiran terbuka pun tetap harus dipikirkan, bisa berpikiran terbuka pun tetap harus dipikirkan, maka lebih baik jangan dipikirkan — inilah kebijaksanaan Bodhisattva, inilah yang disebut kebijaksanaan. Mengertikah? Misalnya hari ini di rumahmu ada segudang masalah, kamu terus-menerus memikirkannya, apakah dengan itu kamu bisa menemukan jalan keluar? Apakah kamu bisa menyelesaikannya? Meskipun kamu berutang banyak pada orang lain, kalau kamu terus-menerus memikirkannya, apakah dengan begitu utangmu bisa langsung terbayar? Maka lepaskanlah. Langkah pertama adalah melepaskan. Bukan berarti tidak boleh memikirkan sama sekali, melainkan setelah kamu melepaskan, pikiranmu menjadi kosong, lalu hal-hal baik akan muncul darinya.
Master memberi contoh memakan sayuran, hidangan lezat biasanya berada di bagian bawah, sedangkan di atasnya selalu diberi hiasan atau sayuran pelengkap. Tentu kamu tidak mungkin hanya memakan sayuran hiasan di pinggirnya saja, bukan? Kamu harus melihat ke bagian bawah di mana tersimpan makanan terbaik — yakni hati nurani dan sifat dasar di dalam lubuk hati itulah yang terbaik dari dirimu. Oleh karena itu, Master menjelaskan kepada kalian, jika kalian mampu melahirkan, memelihara, menciptakan, dan merangkai kerisauan itu sendiri, maka kalian pun harus memiliki “medan pembinaan” ini, dan bergantung pada diri kalian sebagai makhluk hidup untuk menyingkirkan kerisauan tersebut. Kalau kamu sudah membesarkan anak ini, maka kamu harus mendidiknya dengan baik — inilah “Bai Hua Fo Fa”. Demikian pula, kalau kamu sudah melahirkan kerisauan ini, maka kamu juga harus menghilangkan kerisauan itu.
“Siapa yang mengikat lonceng, dia pula yang harus melepaskannya,” karena makhluk hidup memiliki rintangan karma, maka dari situlah timbul kerisauan. Lalu bagaimana kerisauan itu muncul? Karena kalian memiliki rintangan karma. Jika tidak ada rintangan karma, bagaimana mungkin kerisauan bisa timbul? Jika ia adalah seorang suci, ia tidak memiliki rintangan karma, apakah menurutmu ia masih akan memiliki kerisauan?
Karena makhluk hidup memiliki kerisauan, maka barulah timbul pencemaran. Pertama muncul kerisauan, kemudian baru ada pencemaran, hal ini harus kalian pahami dengan jelas. Apa yang dimaksud dengan “lebih dulu muncul kerisauan”? Misalnya, saya merasa risau tentang bagaimana mendidik anak ini, maka jiwamu sudah ternoda. Selanjutnya, cara dan sikapmu dalam mendidik anak itu pun akan ikut ternoda. Bagaimana terjadinya pencemaran itu? “Aih, begitu merepotkan, biarkan saja, guru di sekolah setiap hari mengadu, saya juga tidak ada cara lagi.” Lalu berkata kepada guru: “Terserah kalian mau bagaimana, kalau mau lapor polisi ya silakan lapor, sebagai orang tua kami sudah tidak bisa apa-apa lagi terhadapnya.” Karena kerisauan itu sudah menjadi kenyataan, baru akan menyebabkan pencemaran dalam batinnya. Apa yang dimaksud dengan pencemaran? Yaitu ia kehilangan keyakinan terhadap anaknya, bahkan hilang pula niat untuk mendidiknya. Maka hatinya menjadi tidak bahagia, dan pencemaran pun muncul. Pencemaran itu adalah ketika ia sudah tidak mau lagi mendidik anaknya. Kamu yang melahirkan masalah itu, tetapi kemudian tidak mau merawat “anak” tersebut, mengerti? Kamu yang mencari masalah, tetapi tidak mau menanganinya. Pada saat itulah batinmu menjadi ternoda. Karena dirimu ternoda, maka kamu disebut sebagai makhluk hidup.
Karena itulah dikatakan makhluk hidup sulit untuk diselamatkan, karena mereka terobsesi. Mengapa makhluk hidup terobsesi? Karena di dalam batin mereka ada rintangan karma. Terlalu banyak ketidaktahuan membuat manusia menjadi bodoh, maka harus belajar “tiada aku”. Prinsip tiada aku ini sangatlah penting, di mana ada makhluk hidup, di sanalah kalian harus belajar memahami konsep “tiada aku” dan “sifat kekosongan”. Selama ada manusia, kita harus belajar untuk meniadakan “aku”, karena di mana ada manusia, di sana pasti ada pertentangan. Ketika kamu melekat pada “dirimu”, lalu merasa disisihkan orang lain, maka kamu akan sedih. Karena di mana ada manusia, di situ pasti ada iri hati. Jika kamu melekat pada “aku”, maka kamu akan membuat orang lain iri padamu. Karena di mana ada makhluk hidup, di situ pasti ada kebencian. Jika kamu melekat pada “aku”, maka kamu akan dibenci orang lain. Oleh karena itu, “aku” harus disingkirkan. Hanya dengan menyingkirkan “aku”, baru akan muncul sifat kekosongan. Sifat kekosongan berarti sifat dasarmu telah menjadi kosong.
Jika di dalam pikiranmu hanya ada makhluk hidup dan tidak ada lagi dirimu sendiri, lalu bagaimana orang bisa menyerang dirimu yang disebut “aku”ini? Jika orang lain ingin memarahimu, kamu berkata: “ sudah tidak ada “aku”lagi, siapa yang kamu marah?” Jika orang ingin iri padamu“aku” pun sudah tiada. Jika orang ingin membencimu, aku sendiri tidak pernah membenci siapa pun, karena “aku” sudah tiada. Kalau masih ada “aku”, maka kerisauan pun akan muncul. Misalnya: “Aku sudah sangat baik padamu, tapi aku tidak tahu mengapa kamu memperlakukanku dengan buruk.” Lalu aku merasa sedih, aku merasa sakit hati, aku tidak mengerti, maka aku pun marah. Semua itu muncul karena adanya si “aku”. Mengertikah?
Oleh karena itu, semua orang harus mengerti dan mengingat: di mana ada makhluk hidup, di situ kita harus tanpa aku, dan sifat Dharma harus kosong. Apa yang dimaksud dengan sifat Dharma yang kosong? Yaitu ketika kita hidup di dalam Alam Dharma ini, maka sifat diri kita pun harus kosong. Makhluk hidup juga termasuk bagian dari Dharma, karena makhluk hidup berada di dalam alam Dharma, maka ia pasti memiliki rintangan karma dari alam Dharma itu sendiri. Lalu bagaimana alam Dharma melahirkan rintangan karma semacam ini? Karena semuanya timbul dari nidana. Jadi nidana juga tidak memiliki sifat diri. Misalnya, hari ini saya berjodoh dengan seseorang, dan sebab ini mulai muncul. Setelah kami berhubungan baik, jodoh ini pun terbentuk. Namun setelah beberapa waktu, ketika hubungan kami menjadi tidak baik lagi, maka jodoh ini pun lenyap.
Nidana (sebab-musabab) juga tiada lahir dan tiada lenyap, sesungguhnya secara permukaan tampak seakan-akan hari ini ada nidana ini, namun setelah sekian waktu nidana ini tidak ada lagi. Ketika tidak ada nidana, bukankah berarti kamu tidak melahirkan sebab ini? Misalnya, ayah dan ibu membesarkan kita sejak kecil, pada saat itu bukankah ada nidana? Namun pada akhirnya nidana ini pun tiada lagi. Ketika ayah dan ibu meninggal, apakah nidana itu masih ada? Tidak, sudah tiada. Maka itu sama dengan bahwa hal ini seolah-olah tidak pernah lahir, bukankah begitu? Ketika sudah sampai waktunya, kamu akan melupakan segalanya, dirimu sendiri pun akan mati, bahkan nidana diri sendiri ini pun akan lenyap. Oleh karena itu, tidak ada nidana yang lahir, juga tidak ada nidana yang lenyap. Master sedang menjelaskan kepada kalian prinsip Dharma, yakni hal yang bersifat filsafat: “tanpa kelahiran dan tanpa kemusnahan” berarti tidak pernah sungguh-sungguh lahir, juga tidak pernah sungguh-sungguh lenyap. Sesungguhnya, jodoh itu tidak pernah benar-benar lahir, dan juga tidak akan musnah. Hari ini jika kamu tidak mengusiknya, maka ia pun tidak akan mengusikmu. Karena sebab ini tidak pernah kamu tanamkan, maka jodoh itu pun sama artinya dengan tidak ada. Ada sifat diri apa? Saya tidak melahirkan ini, jadi saya juga tidak perlu melenyapkan hal ini; saya tidak melahirkan kerisauan, lalu kerisauan apa yang harus saya musnahkan? Oleh karena itu, harus belajar tiada aku.
Makhluk hidup adalah medan pembinaan. Karena adanya makhluk hidup, barulah saya bisa belajar kebijaksanaan; karena adanya makhluk hidup, barulah kamu memiliki medan pembinaan ini. Maka, kerisauan pun sesungguhnya adalah medan pembinaan. Karena makhluk hidup memiliki noda, namun apabila makhluk hidup mampu berdiri di hadapan konsep tiada aku, maka makhluk hidup itu sendiri adalah bodhi. Kalian harus sungguh-sungguh bertekun; jika kalian tidak menumbuhkan kebijaksanaan, maka yang tumbuh justru kebodohan. Prinsipnya sangat sederhana, jika seseorang tidak belajar hal yang baik, bukankah ia akan dengan mudah belajar hal yang buruk? Orang yang setiap hari hanya belajar hal buruk, mungkinkah ia bisa belajar hal baik? Orang yang memiliki kebijaksanaan, mungkinkah ia melakukan hal-hal bodoh? Bukankah kerisauan itu sendiri adalah kebodohan? Setiap hari tidak bisa berpikiran terbuka, bukankah itu perbuatan bodoh? Apakah orang yang memiliki kerisauan bisa memiliki kebijaksanaan? Tidak memiliki kebijaksanaan. Kalian harus belajar dengan sungguh-sungguh. Kalian hanya menatap saya saja tidak ada gunanya, harus belajar, harus memahaminya, mengertikah? Jika di sini sudah mendengarkan, tetapi pulang ke rumah tetap melakukan hal yang sama seperti biasa — keserakahan, kebencian, kebodohan tetap ada; bahkan ada yang pulang ke rumah tetap bermain game, tetap membaca novel di internet — mengapa waktu yang dipakai untuk membaca novel tidak digunakan untuk membaca “Bai Hua Fo Fa” dari Master? Menurut kalian, apakah orang seperti ini bisa memiliki kebijaksanaan? Orang yang penuh dengan kerisauan sesungguhnya adalah orang yang tidak memiliki kebijaksanaan.
Master menyampaikan satu kalimat kepada semua orang, penjelasan sederhananya adalah: setiap kali kamu memiliki kerisauan, gunakanlah kebijaksanaan yang lahir dari sifat dasar dalam dirimu untuk mengatasinya. Karena kamu memiliki nidana dan buah karma, serta hatimu ternoda, maka muncullah pikiran tentang lahir dan lenyap. Tetapi jika hatimu senantiasa jujur dan bersih, maka pikiran tentang lahir dan lenyap ini tidak akan timbul. Apa yang disebut pikiran lahir dan lenyap? Yaitu ketika kamu menimbulkan suatu pikiran, lalu berusaha memusnahkannya kembali; hari ini kamu menimbulkan suatu kerisauan, lalu berusaha melenyapkan kerisauan itu. Inilah yang disebut pikiran lahir dan lenyap.
