Kita Memerlukan Kebaikan yang Tulus dan Murni
Master selanjutnya akan membahas tentang pemikiran baik dan pemikiran jahat. Pemikiran baik melambangkan sisi baik kita, karena setiap orang memiliki sisi yang baik, sedangkan pemikiran jahat melambangkan sisi diri kita yang dibelenggu oleh karma buruk. Seseorang memiliki sisi yang baik, juga ada sisi yang buruk atau jahat. Sisi yang baik adalah pemikiran baik, lalu apakah sisi yang jahat itu? Itu adalah akar sifat buruk dirinya. Oleh karena itu, seseorang bisa memikirkan seseorang ke arah positif, akan tetapi juga bisa memikirkan orang ke arah negatif. Di kehidupan ini, di hadapan kebaikan dan kejahatan, kita sudah mengalami banyak sekali ujian. Hari ini kamu menjadi orang baik, besok kamu kembali menjadi orang jahat, lusa kembali menjadi orang baik, lusa depan kembali menjadi orang jahat, ini karena kamu masih digelayuti dengan kekuatan karmamu, sedangkan kekuatan karma yang mengganggumu ini akan melahirkan kerisauan, benar tidak? Hari ini kamu mencurigai orang ini, besok kamu mencurigai orang itu, bukankah berarti kamu menambah kerisauanmu sendiri? Hari ini, kamu tidak senang akan hal ini, besok tidak senang karena hal itu, bukankah kerisauanmu akan bertambah berat? Oleh karena itu, dalam hidup kita, muncullah pemikiran baik dan pemikiran tidak baik.
Coba kalian pikirkan, kalau yang baik adalah pemikiran baik, kalau yang tidak baik, bukankah berarti adalah pemikiran jahat? Apa itu pemikiran jahat? Dari mana datangnya pemikiran jahat? Pemikiran jahat adalah diri sendiri secara terus-menerus memikirkan hal-hal yang tidak baik, tidak henti-hentinya melakukan perbuatan yang tidak baik, terus-menerus mengatakan perkataan yang tidak baik, maka orang ini perlahan-lahan akan berubah menjadi orang jahat. Jika kita bicarakan dari kehidupan nyata, kalian setiap orang jika setiap hari tidak mengatakan perkataan yang baik, maka semua saraf dalam otak kamu akan menjadi tidak baik, perilaku yang kalian lakukan semuanya tidak baik, maka menurutmu, apakah orang seperti ini masih termasuk orang baik? Setiap hari sebelum tidur bisa direnungkan – Hari ini saya adalah orang baik atau orang jahat? Hari ini saya memikirkan berapa banyak pemikiran buruk? Memikirkan berapa banyak pemikiran baik? Coba pikirkan, maka kamu akan tahu orang apakah sesungguhnya dirimu. Kamu jangan bertanya pada orang lain, apakah kamu adalah orang baik atau orang jahat, introspeksi diri terlebih dahulu, apakah kamu adalah orang yang baik atau orang yang jahat? Tidak peduli siapapun itu, satu perbuatan kecil, satu pemikiran kecil, akan melambangkan apakah kamu ini adalah orang yang sering memikirkan orang lain, atau lebih sering memikirkan diri sendiri.
Kita harus menyerahkan semua pemikiran baik dan pemikiran tidak baik kepada Bodhisattva, begitu mendengar perkataan ini, lalu merasa senang. Kalau menyerahkan pemikiran baik pada Bodhisattva, maka Bodhisattva akan memberkatimu. Namun sesungguhnya, pemikiran yang tidak baik juga harus diserahkan pada Bodhisattva, mengapa? Kamu akan memperoleh pertobatan. Kamu memberti tahu Bodhisattva, dirimu sendiri akan mendapatkan pertobatan, seperti seorang anak kecil yang sudah melakukan sesuatu yang benar, lalu memberitahu ibunya, dan ibunya akan memujinya. Kalau dia melakukan kesalahan, lalu berkata pada ibunya, “Mama, saya sudah salah”. Ibunya juga akan menyemangatinya, lain kali jangan melakukan kesalahan lagi. Jika anak kecil ini menyimpan perbuatannya yang salah ke dalam hatinya sendiri, malah akan melahirkan kebingungan. Maka, jika tidak ingin bingung, siapa yang akan mendengarkan kesalahan yang kalian lakukan? Hanya Bodhisattva yang bisa menanggung dosa karma kalian, menanggung penderitaan kalian. Inilah mengapa Yesus sangat mulia, Beliau sendirian menanggung dosa orang-orang, membiarkan dirinya disalibkan, supaya orang-orang bisa memperoleh keabadian. Hanya Guan Shi Yin Pu Sa yang bisa menolong kalian di saat kalian menderita, penderitaan maupun kesusahan apapun yang kalian miliki, Beliau akan menanggungnya untuk kalian. Hanya Bodhisattva yang bisa melakukan hal ini, menanggung untuk orang lain. Kamu menyerahkan semua pemikiran tidak baik maupun baik kepada Bodhisattva, untuk pemikiran baik akan memperoleh berkat, untuk pemikiran yang tidak baik akan memperoleh pertobatan.
Pemikiran baik dan jahat kita di hadapan Buddha dan Bodhisattva sama saja tidak ada bedanya. Seperti seorang anak kecil yang melakukan perbuatan baik dan melakukan perbuatan jahat, di mata ibunya, semuanya tidak ada bedanya, karena ibu mengasihani si anak, dia adalah anak, kalau dia melakukan kesalahan, yang penting nanti jangan diulangi lagi, kalau dia melakukan hal baik, maka ibu akan turut merasa senang, inilah kelapangan hati Bodhisattva. Bodhisattva memandang kesalahan manusia sebagai perwujudan dari halangan karma buruknya, sesungguhnya Bodhisattva memandang kebaikan dan kejahatan manusia sebagai penjelmaan dari semua halangan karma buruk yang dimiliki seseorang. Jika menggunakan bahasa sekarang, itu seperti pandangan seorang guru saat mengajari anak, anak ini sebentar nakal, sebentar menurut, ini adalah hal yang normal. Sampai di Bodhisattva sini, kita memiliki pemikiran jahat maupun pemikiran baik, Bodhisattva akan berpendapat, karena kita adalah manusia, kita masih belum memiliki kesadaran spiritual seperti ini, maka ini sangat normal, oleh karena itu, Bodhisattva berwelas asih pada kita, memaafkan kita. Mengapa kita sudah melakukan kesalahan, namun Bodhisattva masih mau membantu kita? Mengapa kamu sudah sampai di Neraka, namun Bodhisattva Ksitigarbha masih mau pergi ke Neraka untuk menolongmu? Karena Bodhisattva memandang semua makhluk sama rata, memandang kebaikan dan kejahatan pada diri mereka sama rata, ini adalah pikiran yang luar biasa welas asih. Apakah kalian mampu? Melihat orang lain baik padamu, lalu merasa senang sekali, melihat orang lain tidak baik padamu, segera berbalik dan memarahi orang, bukankah begitu? Saat kamu menikahi istrimu, berapa banyak kata-kata baik yang sudah kamu katakan? Berapa banyak pula perbuatan baik yang dilakukannya untuk kamu? Namun tunggu sampai keduanya saling tidak suka, tidak bisa memahami, kembali bertengkar fisik dan mulut, bukankah itu sama dengan binatang? Apakah ini masih manusia? Apakah Bodhisattva bisa begitu? Bodhisattva bisa melihat sisi baikmu, melihat masa lalu kamu, Bodhisattva tetap memandang kalian sebagai semua makhluk yang setara.
Sama seperti sakit, Bodhisattva melihat ada hal buruk yang keluar dari diri kalian, Bodhisattva mengatakan, seperti penyakit kalian yang kambuh, kalau sakit kalian tidak dikeluarkan, bagaimana Bodhisattva bisa mengobati kalian? Coba lihat, bagaimana Bodhisattva menghadapi halangan karma buruk kita, bagaimana menghadapi kekurangan atau penyakit pada diri kita? Sedangkan kita sekarang, ada berapa orang yang bisa bersabar menghadapi kekurangan orang lain? Sedikit kekurangan orang lain, ataupun perbuatan buruk orang lain, kamu akan mengatakan kalau orang itu buruk sekali, kamu bisa memarahinya selama satu, dua, atau bahkan tiga hari. Coba pikirkan, dibandingkan dengan Bodhisattva, betapa sempitnya hati kita. Bodhisattva malah mengatakan, penyakit kalian harus dikeluarkan, kalau pemikiran buruk kalian sudah keluar, Bodhisattva baru bisa membimbing kalian, supaya kalian bisa menghilangkan pemikiran-pemikiran buruk ini. Oleh karena itu, pemikiran baik dan pemikiran buruk, hanya di Alam Manusia dan di alam bawah sana baru ada bedanya. Pemikiran baik dan pemikiran buruk seseorang hanya di Alam Manusia dan di alam bawah baru ada perbedaannya, sampai di Empat Alam Brahma baru tidak ada bedanya, karena pemikiran baik dan pemikiran buruk seseorang semuanya dipandang sama rata, tidak ada pemikiran buruk, semuanya adalah pemikiran baik.
Di Surga dan di Empat Alam Brahma, tetap ada kedudukan buah kesucian dari yang sudah tersadarkan. Di Empat Alam Brahma ada Śrāvaka and Pratyekabuddha, semuanya adalah Bodhisattva yang membina dirinya sendiri dan mencapai buah kesucian, sedangkan Bodhisattva-Bodhisattva ini semuanya sudah memiliki buah kesucian suci melalui pembinaan diri sendiri, mereka tidak sering menolong orang, akan tetapi pembinaan dirinya sangat bagus. Seperti kita di sekolah, anak ini memiliki akademis yang sangat bagus, selalu menjadi murid berprestasi dan murid teladan, namun tidak pernah membantu orang lain, namun ada juga anak kecil yang tidak hanya nilai akademinya bagus, juga sering membantu anak-anak lain yang nilainya tidak bagus atau kurang bisa dalam pelajaran setelah pulang sekolah, semua ini sampai di Alam Surga tiada perbedaannya, sedangkan orang yang tiada perbedaan, baru disebut sebagai “Buddha”. Kalau kalian hari ini datang ke sini masih ada pikiran diskriminatif, berarti kalian bukan Buddha dan Bodhisattva, jika kalian duduk di sini saat mendengarkan pelajaran, kalian masih berpendapat kalau ini adalah Tuan Hong, atau ini adalah Xiao Ma, karena semua pikiran diskriminatif kalian akan menjadi poin dasar pandangan kalian terhadap benda-benda atau hal-hal yang berbeda. Mengapa di Alam Sukhavati, Buddha Amitabha dan Buddha Sakyamuni saat memberikan wejangan – pelajaran, Beliau akan mengubah wajah semua pendengar di bawah menjadi wajah Buddha Amitabha? Karena Buddha Amitabha saat memberikan pengajaran di Surga, ketika Beliau melihat ke bawah, yang dilihatnya adalah hati-pikiran Buddha, yang dilihat adalah dirinya sendiri, oleh karena itu, Beliau tidak memiliki pikiran diskriminatif apapun, yang dikatakannya adalah diri sendiri, kalian semua adalah Buddha, kalian semua adalah Buddha Amitabha.
Hari ini, saat Master sedang memberikan pelajaran pada kalian, tidak peduli pada tinggi rendahnya jabatan kalian, atau kaya-miskin, maupun status sosial kalian, tidak peduli apakah kalian orang baik atau orang jahat, kalian semua sekarang duduk di bawah mendengarkan ajaran Buddha Dharma, dari poin ini, kalian semua setara, tidak ada pembedaan pria dan wanita, tidak ada pembedaan baik atau jahat, karena kalian semua adalah murid-murid Bodhisattva. Jika seseorang yang memiliki pikiran diskriminatif, maka sesungguhnya berarti dia sudah memiliki pikiran iblis, hati iblis, benar tidak? Memandang orang-orang dengan tingkat yang berbeda, membedakan orang-orang menjadi orang baik, atau orang jahat, berarti orang ini berhati iblis. Coba kalian bayangkan, mengapa pada waktu itu, Hitler disebut sebagai seorang iblis? Karena dia memandang orang-orang Yahudi sebagai etnis buruk – rendah, dia berpendapat kalau etnis buruk seperti ini harus dibantai habis, maka dia pun menjadi iblis. Ini contoh yang merujuk pada lingkungan besar, kalau seperti kita di rumah, jika terhadap 5 anakmu sendiri, kamu memiliki perlakuan yang berbeda, maka sesungguhnya, kamu pun sudah dirasuki iblis. Hari ini kamu datang ke Guan Yin Tang, kamu melihat semua teman-teman kecil, semua murid dan pengikut, kamu dalam hati berpikir, yang ini baik, atau yang itu tidak baik, asalkan dalam pikiranmu terdapat pemikiran-pemikiran seperti ini, berarti kamu juga sudah kerasukan iblis, mengerti? Dari lingkup besar, contohnya adalah Hitler. Hitler bisa memandang satu etnis tertentu sebagai etnis yang buruk dan rendah, bukankah dia sudah kerasukan iblis? Oleh karena itu, dia disebut sebagai “iblis Hitler”. Kalau kalian membedakan orang-orang yang menekuni Dharma menjadi ini orang yang baik, itu orang yang tidak baik, bukankah berarti kalian juga kerasukan iblis? Wanita ini mungkin dulu pernah melakukan sesuatu, namun sekarang dia menekuni Dharma dengan sangat baik, tetapi kamu memikirkan hal-hal buruk tidak senonoh yang pernah dilakukan orang itu dulu, bukankah itu berarti kamu sudah kerasukan iblis? Karena dalam pikiranmu, hanya ada ruang untuk menyimpan hal-hal yang tidak senonoh, memangnya dengan begitu boleh memandang rendah orang lain? Orang itu sudah berubah, orang itu sudah berubah menjadi baik. Welas asih Bodhisattva adalah welas asih yang sungguh luar biasa, mau menyelamatkan semua orang yang pernah berbuat jahat, bisa menyelamatkan semua orang yang pernah melakukan kejahatan, mengapa kita masih mau menggunakan pikiran-hati iblis untuk memandang orang lain? Memandang rendah orang lain, orang ini dulunya pernah tidak baik, di masa depan nanti, dia mungkin juga tidak akan baik, itu berarti “nanti” ini, pikiranmu sendiri yang menciptakannya.
Oleh karena itu, kita harus memulihkan sifat dasar suci semula yang dimiliki secara alami, kita jangan memandang rendah orang lain, maka kita baru bisa memiliki terang kesucian. Jika kita bisa memandang semua orang sebagai orang baik, baru bisa ada terang cahaya di hati kita, karena semua orang baik ada di hatimu. Hati kalian harus ada terang cahaya, karena memang pada dasarnya kamu terang bercahaya, namun karena kamu menutup jendela dan pintu di rumah, maka cahaya matahari tidak bisa masuk ke rumah kalian, maka baru tidak bisa terlihat cahaya, bukannya langit tidak terang, inilah pelepasan yang sesungguhnya. Kalian hanya tahu melakukan pelepasan untuk ikan, namun kalian juga harus “melepaskan” diri sendiri, mengerti? Ini Master yang mengatakannya, yakni melepaskan belenggu di luar sifat dasar kita, yakni ketamakan, kebencian, kecemburuan, semua pikiran-pikiran yang tidak baik, semuanya harus dilepaskan, agar hidup kita bisa terus berkesinambungan, termasuk jiwa dan ragamu, yakni roh dan tubuhmu. Oleh karena itu, melepaskan makhluk hidup, harus diawali dari melepaskan sifat dasar diri sendiri.
Di dunia ini, mengatakan orang ini baik, orang ini adalah orang jenius yang berkemampuan baik, juga harus melihat perilaku dan moralitasnya, pembinaan dirinya dan dasar pembinaannya. Master beritahu kalian, kalau mengatakan orang ini berperilaku baik dan bermoralitas jujur, tidak hanya dilihat dari satu aspek tertentu saja, juga harus melihat pembinaan dirinya dan dasar pembinaannya, dengan kata lain, harus melihat, apakah setelah dia membina pikiran, bisa memiliki tutur kata yang baik? Bisa berperilaku sopan dan berbudaya? Apakah pikiran-hatinya menjadi semakin baik? Apa yang disebut sebagai dasar pembinaan “ru men” – memasuki pintu? Yakni “memasuki Pintu Buddha”, harus bisa terbebas dari dunia awam dan keduniawian, dengan kata lain, seseorang yang membina dirinya dengan baik, dia pelan-pelan bisa melampaui kesadaran spiritual orang awam, pemikirannya bukanlah pemikiran orang biasa, namun sudah melampaui pemikiran orang-orang biasa. Coba lihat, semangat Lei Feng bukankah sudah melampaui pemikiran orang biasa? Dia sendiri demam malah tidak pergi berobat, melihat nenek tua masih mau menggendongnya pulang, melihat orang lain mendorong mobil tidak kuat, dia tidak memedulikan dirinya sendiri yang demam, masih pergi membantu orang lain mendorong mobil, bukankah semua yang dilakukannya sudah melampaui pemikiran orang awam biasa? Coba pikirkan, Guan Shi Yin Pu Sa, Ji Gong Pu Sa, Buddha Sakyamuni datang ke Alam Manusia, melepaskan tahta rajanya, malah pergi ke tengah orang-orang yang menderita untuk menolong semua makhluk, setiap Bodhisattva mengapa bisa menjadi Bodhisattva, bisa menjadi Buddha? Karena mereka sudah melampaui kualitas karakter manusia biasa yang rendah dan buruk, baru bisa memiliki kualitas karakter baik yang paling sempurna dari Bodhisattva.
Kita harus bisa melampaui kesadaran awam, harus bisa lebih baik hati daripada orang biasa. Xiao Qiu sangat baik hati, kamu sendiri masih mengatakan dengan malu bahwa, “Saya tidak bisa, saya tidak baik hati.” Dirimu sendiri baik atau tidak, kamu sendiri yang paling jelas. Kalau kamu baik hati, maka setelah baik hati, kamu pasti lebih baik hati daripada orang biasa, harus kebaikan yang murni dan tulus, yakni kebaikan hati yang tiada bandingannya, sudah baik hati secara total. Coba pikirkan, kekurangan pada diri sendiri, ini tidak mudah. Harus memiliki kebaikan yang murni, baru bisa memiliki moralitas yang suci, jadi kamu harus benar-benar baik hati, kamu baru memiliki moralitas yang benar-benar baik. Pembinaan diri harus benar-benar dilakukan secara nyata, jangan berpikiran muluk dan tidak nyata. “Aduh, hari ini saya sudah membina diri sampai mencapai kesadaran Bodhisattva tingkat ke berapa.” Memangnya kamu bisa? Bodhisattva berarti 24 jam adalah Bodhisattva, kamu mungkin bisa membina diri sampai menjadi Bodhisattva tingkat kelima, keenam, atau ketujuh, atau bahkan sampai tingkat kesadaran spiritual Buddha, akan tetapi mungkin kamu hanya bertahan beberapa detik, atau beberapa menit, atau beberapa jam, mengerti? Ini seperti yang sering kita katakan, melakukan satu perbuatan baik tidaklah sulit, yang sulit adalah berbuat baik seumur hidup.
