Tiada Rupa dan Tiada Nama, Sepenuhnya Memahami Sifat Kekosongan
Huruf dan tinta sifatnya kosong. “Huruf” yang ditulis ini pada dasarnya ditulis dengan tinta, maka ia bersifat kosong. Sifat dasarnya adalah kosong. Karena ia dituliskan, bukan pada dasarnya sudah ada. Orang lain mengatakan seumur hidup ini kita menuliskan lembaran yang indah, maaf saja, semuanya itu dituliskan, maka adalah kosong. Sedangkan kamu sejak lahir, sifat dasarmu sangat baik, ini adalah sifat dasar semula yang sebenarnya. Sifat ini tidak kosong, dan merupakan sifat yang sebenarnya. Jika kamu tidak menggunakan sifat dasar untuk melafalkan paritta, untuk melafalkan nama Buddha, maka paritta yang dilafalkan tidak akan manjur, dan akan sangat sulit untuk mengubah takdir. Semua itu hanya dipamerkan kepada orang lain untuk dilihat. Oleh sebab itu, seseorang yang tidak menekuni Dharma dengan tulus, tidak melafalkan paritta dengan tulus, maka tidak akan bisa mengubah takdir. Misalnya, meletakkan sebuah buku paritta, kamu berbaring di sampingnya, coba kamu katakan, apakah buku paritta ini dapat memiliki respon spiritual dengan kamu? Kamu harus membacanya, begitu membacanya bukankah sudah ada respon spiritual. Kamu berbaring di samping, coba kamu lihat, apakah akan memiliki respon spiritual dengan Bodhisattva? Logikanya adalah sama. Memiliki respon spiritual saat melafalkan paritta adalah karena orang yang memegang buku paritta tulus hati, orang yang melafalkan paritta tulus hati. Maka paritta ini baru akan memiliki respon spiritual.
Ketika niat seseorang timbul adalah tiada rupa dan tiada nama. Dengan kata lain, munculnya niat seseorang adalah tidak ada pegangannya. Misalnya, hari ini saya hendak melakukan sesuatu hal. Apakah hal ini sudah selesai dilakukan? Belum selesai dilakukan, ini dinamakan tiada rupa – tiada perwujudan yang nyata. Tiada nama – sama sekali tidak ada pemikiran. Saya sekarang hendak memasak air, apakah air sudah selesai dimasak? Belum selesai dimasak. Saya sekarang ingin melakukannya, tapi masih belum melakukannya, maka ini dinamakan tiada rupa dan tiada nama. Oleh sebab itu, munculnya niat adalah tiada rupa dan tiada nama. Nama dan rupa pada dasarnya adalah “tenang dan jernih”. Apa itu nama? Misalnya: Saya hendak memasak air, ini adalah suatu nama. Tenang atau tidak, tidak ada masalah bukan? Apa itu rupa? Air masih belum mendidih, juga sangat tenang. Air di sini belum dimasak, saya masih belum melakukannya, masih belum memikirkannya, semuanya ini adalah tenang. Bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh dengan bahagia, maka selanjutnya apa yang akan terjadi? Pikiran liar mulai merasuki, pikiran liar mulai merasuki pemikiran tiada rupa ini. Terus memberi contoh kepada kalian, saya memasak sepanci air untuk dia minum, pikiran liar muncul: Saya ingin menghemat air, saya menuangkan sedikit air ke dalamnya, dan ia akan mendidih lebih cepat — pikiran liar muncul bukan? Saat ini disebut pikiran liar telah merasuki. Sama-sama memasak sepanci air, pikiran liar mulai muncul: Saya tidak mau memasak air untuk dia minum; air ini sudah dimasak semalam, jadi saya bisa memanaskannya saja; lalu kurangi airnya, agar bisa cepat mendidih; Pikirkan lagi bahwa air di Australia sangat bersih dan bebas bakteri, jadi saya tidak perlu memasaknya lagi, dan saya dapat menghemat listrik — muncul empat atau lima pikiran liar, semua ini adalah pikiran liar yang memengaruhi kamu memasak air, maka kamu telah memiliki rupa. Rupa apa? Yakni rupa liar.
Suatu hal yang sangat baik bisa berubah menjadi semakin rumit jika terus dipikirkan. Seseorang yang sangat baik ingin melakukan perbuatan baik, namun pada akhirnya niat baik ini pun menjadi padam dikarenakan terpengaruh oleh komentar liar dari orang disekitarnya. Kenapa seseorang yang sangat baik justru pada akhirnya dibicarakan orang seolah-olah dia sudah gila? Sama-sama melakukan perbuatan yang sangat baik, mengapa orang ini akhirnya berubah pikiran? Awalnya tiada rupa dan tiada nama, orang ini mengatakan bahwa saya ingin membantumu hari ini, saya tidak ingin ketenaran maupun keuntungan, tetapi pada akhirnya mengapa tidak ingin melakukannya lagi? Seorang anak kecil di Guang Dong, Xiao Yan Yan ditabrak hingga meninggal. Banyak orang berhati nurani baik berpikir, “Saya tidak menginginkan ketenaran atau keuntungan, saya akan menyelamatkannya, betapa kasihannya anak ini.” Tetapi pada akhirnya muncul pikiran liar, “Jika saya menyelamatkannya, apa yang harus saya lakukan jika orang-orang mengatakan bahwa saya yang menabraknya sampai meninggal? Setelah saya menyelamatkannya, mungkin saja kejaksaan akan menangkap saya untuk membuat pernyataan terlebih dahulu, padahal bukan saya yang menabraknya hingga meninggal, bukankah saya yang mencari masalah? Sebaiknya saya pulang ke rumah saja.” Satu hal yang baik dikacaukan oleh pikiran liar diri sendiri. Seseorang yang membina diri dengan baik, akan dipengaruhi oleh ucapan orang ini dan orang itu “Pintu Dharma ini sangat baik”, “Kaset itu sangat bagus”, “Orang ini berbicara dengan baik, orang ini terkenal” …. sampai pada akhirnya diri sendiri akan tersesat, bahkan tidak menemukan jalan lagi. Bagaikan sekuntum bunga yang tumbuh dengan sangat baik, ini adalah pikiranmu yang benar. Jika sekuntum bunga tumbuh banyak batang dan daun, maka itu dinamakan pikiran liar. Kenapa orang yang memotong bunga akan memotong batang dan daun yang ada di sekitar bunga, jika tidak, bagaimana bunga ini bisa tumbuh dengan bagus. Bukankah perumpamaan ini sangat jelas. Jika bunga yang dikeluarkan ini tidak dipangkas, apakah bunga ini bisa sekuntum-sekuntum diberikan kepada orang lain? Saya harus memotong semua pikiran liar kalian, barulah pikiran benar kalian bisa melesat naik ke atas. Setiap hari kalian hanya sibuk dengan pikiran yang kacau-balau ini, bagaimana kalian bisa membina dengan baik? Memotong pikiran liar itu sama seperti memotong taji tulang, apakah bisa tidak sakit? Kalau tidak sakit, bagaimana bisa sembuh? Kalau tidak sakit, bagaimana bisa membina dengan baik. Jika sekuntum bunga ini banyak tumbuh dedaunan, ranting-ranting di sekitarnya tidak ada orang yang memangkasnya, maka ini akan memengaruhi perkembangan dan pertumbuhan bunga tersebut.
Orang zaman sekarang muncul dan lenyap dengan sendirinya, menerima akibat dari perbuatannya sendiri. Coba beri tahu saya, kalian yang duduk di bawah, ada berapa dari kalian yang sedang menerima akibat dari perbuatan kalian sendiri? Saya menyuruh anak perempuan itu untuk jangan memperlihatkannya kepada orang lain, dia sendiri malah pergi melakukannya, baiklah, sekarang bukankah permasalahan dalam asmara ini merupakan akibat dari perbuatannya sendiri? Jangan mengira belajar Buddha Dharma itu sangat gampang. Jika tidak ada seorang guru baik yang menuntun kalian, bisakah kalian membina dengan baik? Orang zaman sekarang muncul dan lenyap dengan sendirinya. Diri sendiri yang memunculkannya dan kemudian diri sendiri yang melenyapkannya; Diri sendiri tidak menjadi manusia dengan baik, lalu menghancurkan dirinya sendiri. Orang-orang yang ditangkap masuk ke dalam penjara dan dijatuhkan hukuman, bukankah mereka yang telah menghancurkan dirinya sendiri? Kamu menyalahkan siapa? Muncul dan lenyap sendiri. Muncul juga karena dirimu yang memunculkannya sendiri, lenyap juga karena dirimu sendiri yang melenyapkannya. Berbuat salah dalam satu hal, masih tidak membina diri dengan baik, terus menerus berbuat salah, kemudian menjadi lenyap, ini disebut menutupi kebijaksanaan yang benar. Menutupi kebijaksanaan diri sendiri yang benar, maka kamu tidak akan tahu apa yang benar dan apa yang salah.
Sangat sulit untuk memutuskan kerisauan, karena di dalam kehidupan kita semuanya adalah nafsu keinginan. Apakah nafsu keinginan itu? Ketamakan, nafsu kekayaan, nafsu seksual, nafsu ketenaran, nafsu keuntungan pribadi…. Mengapa ada sebuah pepatah yang disebut “hati yang dikaburkan oleh keuntungan dan nafsu keinginan”? Karena keuntungan dan nafsu keinginan bisa membuat hati seseorang berubah menjadi hitam (jahat). Banyak orang demi sedikit keuntungan pribadi, bisa membuang hati nuraninya sendiri. Zaman dahulu ada seorang wanita, dia bukan hanya berselingkuh dengan suami orang lain, tetapi akhirnya dia membunuh suaminya sendiri. Ini adalah kasus pembunuhan nyata di saat itu, karena ilmu kedokteran zaman dulu belum maju, wanita ini setelah membunuh suaminya sendiri, tetapi supaya pengadilan tidak bisa menemukan bukti apa pun. Apakah kalian tahu bagaimana dia membunuh suaminya pada akhirnya? Dia mengambil sebuah paku yang sedemikian panjang dan menancapnya dari atas kepala suaminya. Karena bagian kepala penuh dengan rambut, maka ketika diotopsi juga tidak akan ketahuan. Dengan kata lain, seseorang akan melakukan hal apa pun demi kepentingan dirinya sendiri, egois. Jika nafsu keinginan seseorang melebihi segalanya, hal apa pun berani dilakukan demi keuntungan diri sendiri, maka orang ini disebut tidak memiliki kebijaksanaan benar. Oleh sebab itu, jika seseorang hanya mengejar nafsu keinginan, sebenarnya ia telah memungkiri prajna. Apakah artinya memungkiri prajna? Yaitu menyimpang dari prajna. Prajna adalah kebijaksanaan Buddha.
Mereka yang tidak menemukan sifat dasar, tidak akan mempercayai Buddha Dharma. Yakni tidak menemukan sifat dasar hati nurani sendiri, maka dia tidak akan mempercayai Buddha Dharma, oleh karena itu, dia tidak mempercayai bahwa Buddha Dharma dapat menghukumnya, barulah dia berani melakukan hal ini. Coba lihat saja balasan yang diterima oleh mereka yang tidak menemukan hati nurani dari sifat dasar, di saat kecil tidak mendengar nasihat orang tua, ketika dewasa mengalami kesusahan, inilah waktu di saat dia menerima balasan karma. Apakah kalian mendengarkan nasihat Ibu dan Ayah semasa kalian masih kecil? Sudah menasihati kalian untuk jangan makan terlalu banyak, jangan makan makanan yang bersifat dingin, harus menjaga tubuh tetap hangat… baiklah, sekarang sudah berumur, satu per satu penyakit pun muncul. Bagaimana bisa seperti ini? Karena tidak mendengar nasihat. Master sekarang seperti seorang ayah bagi kalian, setiap hari terus menasihati kalian, sudah menasihati kalian seberapa banyak tentang hukum karma, setelah menasihati sedemikian banyak, tetap saja masih ada orang yang tidak mendengarkan.
Mereka yang menemukan sifat dasar, dinamakan sebagai Buddha. Kalau seseorang dapat menemukan sifat dasar diri sendiri, maka dia dapat disebut sebagai Buddha. Bisa juga dikatakan seseorang yang melakukan segala sesuatu dari sifat dasar sendiri, orang tersebut dapat disebut sebagai Buddha. Orang bilang menggunakan hati nurani untuk berkata-kata, menggunakan hati nurani untuk berbuat sesuatu. Apakah sekarang kalian menggunakan hati nurani dalam melakukan sesuatu? Orang yang mengerti Buddha, baru dapat mempercayai dan memasukinya. Artinya, orang yang mengenal Buddha baru dapat percaya dan memasuki tingkatan Buddha. Hanya dengan mengenalinya, barulah kamu dapat bersahabat dengannya. Kamu bahkan tidak mengetahui Bodhisattva, tidak mengenal-Nya, bagaimana kamu bisa mempercayai Buddha? Bagaimana bisa mendalami Ajaran Buddha? Jika sekarang kalian tidak tahu untuk menghargai Master yang mengajari dan berbuat demi kebaikan kalian, bagaimana kalian mampu mengikuti Master dalam belajar Buddha Dharma? Jadi, Buddha tidak menjauhi orang, tapi oranglah yang menjauhi Buddha. Yang artinya, Buddha dan Bodhisattva tidak pernah meninggalkan kita para manusia, akan tetapi, kitalah yang meninggalkan Buddha. Dirimu sendiri yang meninggalkan Buddha dan Bodhisattva, para Buddha dan Bodhisattva setiap hari disini ingin menyelamatkan kalian, tapi kalian tidak menghiraukan para Buddha dan Bodhisattva. Jadi, manusia yang menjauhi Buddha, dan bukan Buddha menjauhi manusia.
Buddha timbul dari dalam hati. Bagaimana agar kamu mampu menjadi Buddha? Hendaklah muncul dari dalam hati dan pikiranmu. Jadi, hendaknya memiliki hati Buddha. “Buddha timbul dari dalam hati”, artinya jika seseorang berhati nurani baik maka dia akan mampu menjadi Buddha, jika seseorang tidak berhati nurani yang baik, maka mungkin akan menjadi iblis, semuanya muncul dari dalam hati.
Orang yang tersesat mencari kebenaran dalam tulisan, orang yang tercerahkan menyadarinya dari dalam hati. Jadi, orang yang bingung dalam belajar Buddha Dharma hanya belajar dari kata-kata atau tulisan, dalam tulisan berbunyi demikian, “Dalam Buddha Dharma dikatakan, bagian ke berapa…” Dia mencarinya di antara tulisan. Karena tulisan ataupun artikel apa pun, dijelaskan oleh para Buddha dan Bodhisattva berdasarkan lingkungan, letak geologis, manusia dan benda yang terlibat pada saat itu. Dan dia menggunakan kata-kata yang pernah dikatakan oleh para Buddha dan Bodhisattva, dan menggunakannya di sini. Jika Master mengatakan sesuatu di rumah makan vegetarian, kalian mencatatnya, saya melihat ada sedemikian banyak sayuran dan berkata, “Aduh, lihat saja sudah kenyang”, Baiklah, kalian juga mencontohi, Master pernah berkata “Lihat saja sudah kenyang”, kalian juga ikut, lihat saja sudah kenyang. Makna sejati tidak bisa ditangkap hanya melalui kata-kata, jika berdasarkan kata-kata, maka akan tersesat, oleh karena itu, hati seorang praktisi Buddhis yang sejati harus hidup. Ada pepatah yang disebut “活学活用 – huo xue huo yong – belajar dengan bijak, menerapkannya dengan cerdas dalam kehidupan nyata”, orang yang sering tenggelam dalam kata-kata dan teks, justru mudah jatuh dalam kebingungan. “Orang yang tercerahkan akan menyadari dari dalam hati”, orang yang tercerahkan menemukan pencerahannya sendiri dari dalam hati, karena hati dan pikiranmu telah tersadarkan, maka kamu sesungguhnya telah tercerahkan, dan bukan hanya tercerahkan dari segi luar.
Orang yang tersesat membina sebab dan menunggu buah akibat, orang yang tercerahkan telah mengerti dan tidak ada kemelekatan dalam hati. Orang yang kebingungan ketika sedang membina sebab akan menunggu buah akibat, dan orang yang menunggu buah akibat adalah orang yang kebingungan. Apa artinya? Misalnya, setelah membeli buah dan kemari mempersembahkan kepada Buddha dan Bodhisattva, setelah selesai memohon hanya menunggu di sini setiap hari, “Aduh, saya sudah memohon kepada Bodhisattva sebelumnya, semoga Anda dapat memberkati agar masalah saya ini bisa berhasil.” Tunggu sajalah setiap hari, ini yang disebut orang yang tersesat. Orang yang tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran adalah orang yang memohon sebab dan menunggu buah akibat, sudah memohon sebab ini, kemudian hanya menunggu buah akibatnya keluar.“Orang yang tersadarkan telah mengerti dan tidak ada kemelekatan dalam hati”, yakni orang yang sudah mengerti prinsip kebenaran, orang yang dapat tersadarkan, dia adalah orang yang telah mengerti dan tidak ada kemelekatan dalam hati. Dengan kata lain, hari ini kita telah melakukan jasa kebajikan, telah melakukan kebajikan, namun dalam hati tidak pernah memikirkannya, tidak menjadi suatu bentuk atau wujud tertentu, tidak ada pemikiran bahwa saya telah melakukan banyak hal, sudah saatnya Bodhisattva memberi saya balasan, ini dinamakan tersadarkan dan tidak ada kemelekatan dalam hati. Dalam hati sama sekali tidak ada kemelekatan. Hari ini saya telah berdana 100 dolar, saya hari ini berdana 1.000 dolar, “Aduh, saya cukup menunggu balasan dari Bodhisattva saja”, jika kamu memiliki pemikiran ini berarti disebut melekat.
Orang yang tersesat melekat pada benda materi dan menganggap sebagai benda pribadi, orang yang tersadarkan menggunakan kebijaksanaan prajna pada situasi terkini. Master menjelaskan kepada kalian dua jenis orang yaitu orang tersesat dan orang yang tersadarkan. “迷人 – mi ren” adalah orang yang tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran, melekat pada benda materi adalah kemelekatan yang bersifat materialistis. Menjaga barang pribadi, yaitu mengira hari ini saya mendapatkan rumah ini, TV ini, segala benda yang saya dapatkan hari ini adalah milik saya pribadi, mengira semuanya milik saya, maka orang tersebut adalah orang yang tersesat dan bertolak belakang dengan kebenaran. “Orang yang tersadarkan menggunakan kebijaksanaan prajna pada situasi terkini”, “悟人 – Wu ren” adalah orang yang tersadarkan, orang yang tersadarkan menggunakan kebijaksanaan untuk menyelesaikan segala masalah yang dihadapi dalam kehidupan nyata. Jadi orang yang tersadarkan dan orang yang tersesat, dua jenis orang ini sama sekali bertolak belakang, karena kebijaksanaan mereka berbeda.
