Ketika Hati Kosong Barulah Tiada Sebab dan Akibat
Bodhisattva masuk ke dalam siklus kelahiran dan kematian demi menyelamatkan makhluk. Apa maksudnya? Bodhisattva datang ke Alam Manusia demi menyelamatkan semua makhluk. Karena Alam Manusia adalah alam kelahiran dan kematian, begitu kamu datang ke Alam Manusia ini, maka pasti ada kelahiran, ada pula kelenyapan dan kematian. Bodhisattva memasuki siklus kelahiran dan kematian demi semua makhluk, maka baru ada kelahiran dan kematian, dan Bodhisattva juga dapat mengalami sakit. Bodhisattva turun ke dunia ini memang demi semua makhluk. Di dunia Saha ini, setiap makhluk hidup setiap detik berada diantara lahir dan mati. Bukankah kalian setiap detik berada di antara hidup dan mati? Sebagai contoh sederhana, kalian sedang berjalan dengan baik di jalan, tetapi jika ada seseorang yang mabuk dan menabrak kalian dengan mobil, bukankah dalam sekejap kalian bisa kehilangan nyawa? Dia mabuk, maka harus dipahami bahwa setiap detik kita berada dalam keadaan antara hidup dan mati.
Jika Bodhisattva tidak memiliki mental welas asih yang agung dan keberanian tanpa takut, bagaimana mungkin datang ke alam kelahiran dan kematian ini untuk menyelamatkan kalian? Master kadang juga berpikir, ketika Bodhisattva turun ke Alam Manusia ini, pada akhirnya tetap akan menghadapi kematian. Jika dipikirkan, itu juga penuh penderitaan. Di Alam Surga begitu baik, bahkan tidak ada konsep tentang kematian. Tetapi ketika datang ke Alam Manusia, harus balasan kematian, bukankah itu sangat menderita? Ketika Guan Shi Yin Pu Sa datang ke Alam Manusia sebagai Putri Miaoshan, beliau tahu bahwa suatu hari akan meninggalkan dunia ini. Ji Gong Pu Sa juga mengetahui bahwa suatu saat ia akan pergi. Namun ketika tubuh jasmani meninggal, tetap akan ada sedikit penderitaan. Bahkan saat Sang Buddha Sakyamuni akan meninggalkan dunia, beliau mengalami sakit kepala selama tiga hari, juga harus mengalami hukum sebab-akibat di Alam Manusia. Coba pikirkan, ketidaktakukan yang agung dan kebijaksanaan besar dari para Bodhisattva, hal ini tidak mudah dipelajari oleh makhluk biasa. Siapa yang mau menemani orang lain melompat ke dalam “lubang api” seperti itu? Selain Bodhisattva, tidak ada yang bersedia lompat ke dalam “lubang api” dan memasuki siklus kelahiran serta kematian.
Sebenarnya, Master menyebut Alam Manusia sebagai alam kelahiran dan kematian. Di dunia ini, dua hal terbesar hanyalah: kelahiran dan kematian. Dalam proses antara lahir dan mati, segala hal lainnya sebenarnya bukanlah hal besar, segala hal yang bisa berlalu bukanlah hal yang besar. Hanya lahir adalah hal besar, dan mati adalah hal besar. Oleh karena itu, Alam Manusia ini disebut sebagai alam kelahiran dan kematian. Namun, makhluk hidup masih saja berebut dan bertengkar demi nama dan keuntungan duniawi yang tidak penting, untuk apa semua ini? Sudah belajar Buddha Dharma, tetapi masih suka mengatakan ini tidak baik, itu tidak baik, masih sibuk melakukan ini dan itu, bukankah dirimu sedang melukai nyawa kebijaksanaan diri sendiri? Kalau begitu, untuk apa belajar Buddha Dharma? Kita datang ke dunia ini dengan kebingungan, tetapi kita tidak boleh pergi dengan kebingungan. Kita datang ke dunia ini, hal terbesar yang harus diselesaikan adalah terbebas dari kelahiran dan kematian. Jika bahkan masalah kelahiran dan kematian pun tidak bisa kamu selesaikan, lalu untuk apa kamu datang ke dunia ini?
Bodhisattva membina pikiran untuk melampaui alam kelahiran dan kematian, yaitu menutup “gerbang” kelahiran dan kematian. Justru karena Bodhisattva demi menutup gerbang kelahiran dan kematian, sehingga Bodhisattva dapat menemukan jalan untuk melampaui enam alam, masuk ke dalam empat Alam Brahma, dan memperoleh pembebasan yang sempurna. Namun, Bodhisattva telah berikrar untuk menyelamatkan semua makhluk dari kehidupan ke kehidupan. Karena sebagai Bodhisattva, Ia bertekad untuk membebaskan makhluk dari penderitaan lautan api. Oleh karena itu, ketika melihat Alam manusia yang seperti lubang api, Bodhisattva tetap bersedia “melompat” ke dalamnya. Karena untuk menyelamatkan makhluk, Bodhisattva memang harus datang ke Alam Manusia. Seperti halnya petugas pemadam kebakaran yang ingin menyelamatkan orang dari kobaran api, ia harus berani masuk ke dalam api itu sendiri, inilah Buddha, inilah Bodhisattva. Karena Bodhisattva telah mengikrarkan sumpah agung, berjanji untuk menyelamatkan makhluk dari kehidupan ke kehidupan, maka bersedia mendampingi makhluk menjalani kehidupan demi kehidupan di dunia ini. Di sekeliling kalian sebenarnya ada Bodhisattva, di sekitar kalian pun ada Bodhisattva. Oleh karena itu, jangan bersikap buruk kepada orang di sekitar. Jika kalian bersikap buruk kepada mereka, sebenarnya itu sama saja bersikap buruk kepada Bodhisattva. Karena semua makhluk adalah Buddha di masa depan, maka kita harus menyayangi dan menghargai semua makhluk.
Terakhirnya Master menjelaskan kepada kalian bahwa tubuh Dharma harus tetap tenang dan tak tergoyahkan. Demikian datang demikian pergi, ada datang ada pergi, sebenarnya tidak benar-benar datang dan tidak benar-benar pergi, semuanya tetap dalam keadaan demikian adanya, bagaikan datang dan pergi. Dengan kata lain, tubuh dan hatimu ini, jangan bergerak, jika hati tidak bergerak, maka pikiran akan menjadi jernih, dan pemikiran menjadi sangat bersih. Bagaikan datang dan pergi, tampak ada datang dan pergi. Ketika pikiran kacau muncul juga demikian, pergi juga demikian. Pada saat berpikir, pikiran itu seolah “datang”; setelah selesai berpikir, pikiran itu pun “pergi”. Bukankah demikian? Saat kamu mengkhawatirkan sesuatu, kamu berkata: “Saya sangat khawatir…,” tetapi setelah beberapa saat, kamu melupakannya, bukankah pikiran itu sudah pergi? Sebenarnya, tidak ada yang benar-benar datang, tiada datang dan tiada pergi. Sesungguhnya, pikiranmu itu pada dasarnya tidak ada, ia adalah pikiran luar yang muncul karena ciptaan diri sendiri. Oleh karena itu, tidak pernah benar-benar datang, maka dari mana ada pergi? Ketika pikiran lenyap, semuanya kembali pada keadaan demikian adanya, tidak datang, tidak pergi.
Oleh karena itu, orang-orang mengatakan, berpikir sepanjang hari akhirnya sia-sia. Banyak orang saat bertengkar akan memikirkan banyak hal. Misalnya suami istri bertengkar, langsung muncul pikiran: “Saya benar-benar benci dia, saya tidak bisa hidup bersamanya lagi, saya mau cari yang lain, saya akan melakukan ini dan itu…” Berpikir sepanjang hari, saat sedih mungkin sampai ingin mengirim pesan kepada mantan pacar untuk meluapkan perasaan. Tetapi pada akhirnya, semuanya kembali baik-baik saja, dan semuanya pun lenyap. Pada saat kalian berpacaran, apakah pernah mengalami hal seperti ini? Saat bertengkar, bukankah langsung muncul berbagai pemikiran? Sungguh sangat bodoh, segala sesuatu pada akhirnya kembali demikian adanya, tidak datang, tidak pergi.
Yang paling penting bagi praktisi Buddhis adalah memahami ketetapan yang terus-menerus. Keabadian terletak pada ketetapan yang tidak berubah. Jika kita ingin belajar Buddha Dharma secara berkelanjutan, maka kita harus menjaga hati yang tetap dan tidak berubah. Hari ini saya mulai belajar Buddha Dharma, besok juga tetap belajar, lusa juga tetap demikian, dan seterusnya selalu konsisten seperti itu, maka kamu akan berhasil.
Tetap demikian adanya, tidak bergerak dan tidak berubah; tubuh Dharma Buddha pada dasarnya memang demikian adanya. Apa yang dimaksud dengan “tetap demikian adanya”? Artinya, hati dan pikiranmu yang berada di Alam Manusia ini, meskipun kamu memiliki tubuh jasmani, namun batin dalam tubuh jasmanimu ini dengan hati dan pikiranmu telah dibina hingga menjadi tubuh Dharma, telah mencapai keadaan seperti Bodhisattva. Kamu menjadi sangat alami, segalanya menjadi alami, bebas dan demikian adanya, selalu berada dalam keadaan yang tetap dan tidak berubah, benar bukan? Jika di dalam hati kalian adalah Buddha, maka perilaku tubuhmu juga seperti Buddha, maka kamu akan mencapai kesempurnaan dalam kebijaksanaan dan kebajikan. Kebijaksanaanmu dan moralitasmu serta karakter moral dirimu pasti akan mencapai kesempurnaan.
Menjelajahi seluruh alam Dharma berarti segalanya adalah tubuh Buddha, ucapan Buddha, dan pikiran Buddha. Misalnya dalam seluruh alam Dharma, kamu memiliki pemahaman yang melampaui pikiran biasa, tanpa awal dan tanpa akhir, tiada pembinaan juga tiada pembuktian. Apa yang dimaksud dengan melampaui pikiran? Karena kamu memiliki pemikiran seperti Bodhisattva, maka dalam berpikir suatu hal, kamu mampu berpikir lebih dalam dan lebih luas daripada orang biasa. Kamu memahami bahwa segala sesuatu adalah tanpa awal dan tanpa akhir,dunia ini pada dasarnya tidak benar-benar memiliki permulaan maupun akhir, wah.. betapa bahagianya dalam hati. Bukankah banyak orang karena berpikir, “Saya terkena kanker, mengalami rintangan dan akan meninggal,” lalu terus merasa sedih. Namun jika kelapangan hati kamu seperti Bodhisattva, berpikir bahwa “saya tidak akan meninggal, turun temurun, nantinya saya akan reinkarnasi lagi, nantinya saya akan bagaimana…”Tentu saja walaupun cara berpikir seperti ini masih termasuk tingkat yang rendah, tetapi konsep tanpa awal dan tanpa akhir berarti melihat sangat jauh, sangat luas. Dengan pandangan seperti itu, kamu dapat melepaskan diri dari penderitaan di Alam Manusia.
“Tiada pembinaan dan tiada pembuktian”. Banyak orang berkata, “Saya ingin membuktikan mencapai pencerahan dalam Buddha Dharma.”Sebenarnya, bagi seorang praktisi Buddhis, pembuktian pencerahan itu ada di dalam hati. Pada dasarnya saya memang sudah demikian, sifat dasar diri saya memang demikian, saya adalah seorang Buddha yang telah tercerahkan, tidak perlu orang lain membuktikan pencerahan saya. Sebagai contoh sederhana, jika kamu adalah seorang profesor, ketika berjalan di jalan, apakah kamu perlu menggantung papan bertuliskan bahwa kamu adalah profesor? Kamu tidak perlu orang lain mengakuimu, kamu memang adalah profesor. Banyak orang merasa dirinya hebat, takut dipandang rendah, lalu ingin pamer kekayaannya. Setiap masuk ke toko, ia sengaja mengeluarkan dompet dan menghitung uangnya. Orang seperti ini justru akan dipandang rendah oleh orang lain. Memamerkan diri sendiri sebenarnya adalah tanda belum tercerahkan. Pada dasarnya kamu adalah Bodhisattva, kamu adalah Buddha. Mengapa masih harus sibuk mengejar pembuktian, pembinaan, dan pencerahan?
Sebenarnya, hati dan pikiran itu tidak memiliki bentuk atau ekspresi. Banyak orang mengira bahwa hati dan pikiran itu bisa “tampak”, padahal yang tampak itu adalah hati dan pikiran eksternal, namun hati dan pikiran internal sebenarnya tidak bergerak. Jadi, seseorang yang benar-benar membina hati dan pikiran dengan baik, maka hati dan pikirannya akan menjadi tenang dan stabil, tidak lagi menunjukkan gejolak. Jika hati dan pikiran sudah benar-benar tenang, apakah masih ada gejolak? Seperti mobil yang sudah berhenti, apakah masih bergerak? Oleh karena itu, hati dan pikiran sebenarnya tidak memiliki “penampakan”, ia pada dasarnya adalah hati besar seperti alam semesta. Hati dan pikiran kita sama luasnya dengan alam semesta—tidak memiliki bentuk atau ekspresi tertentu, alam semesta, langit, masa depan, semuanya berjalan sebagaimana adanya, secara alami. Lalu, apa yang perlu ditampakkan? Kemudian, kembalilah pada batin yang murni, murni tanpa pembedaan. Memahami kekosongan, yaitu memahami bahwa segala sesuatu pada hakikatnya adalah kosong, inilah hati dan pikiran sejatimu.
Hati dan pikiran yang sejati sebenarnya hanya memiliki kesadaran, tanpa sebab dan tanpa akibat. Yang disebut pikiran luar muncul ketika kamu bersentuhan dengan enam kekotoran duniawi. Dari situ, berbagai kebiasaan dan noda batin masuk, membuat hati menjadi kotor, terhina, bahkan tidak bermoral. Namun batin internal sejati berbeda, selama ia memancarkan cahaya Buddha, semua kekotoran dari pikiran luar dapat dibersihkan sepenuhnya, ketika tidak ada sebab, maka tidak akan ada akibat.
Pada dasarnya kita memang sudah seperti itu, sebenarnya kita tidak perlu menahan diri. Jika kamu tidak memikirkannya, dari mana datangnya “menahan diri”? Masih mengatakan “memutuskan semua kerisauan.” “Memutuskan semua kerisauan”dalam ajaran Mahayana yang sejati, jika kamu tidak memiliki kerisauan, lalu apa yang perlu diputuskan? Jika saya tidak menciptakan kerisauan, dari mana kerisauan itu muncul? Tidak bertambah dan tidak berkurang, maka hati itu sepenuhnya setara dan murni, “tidak bertambah, tidak berkurang; tidak kotor, tidak bersih,”ini seperti yang diajarkan dalam {Xin Jing}. Harus dipahami bahwa pikiran tidak pernah benar-benar “muncul”, tidak pernah bergerak; pada hakikatnya sejak awal sudah kosong. Oleh karena itu, ketika sebab lenyap, maka jodoh pun ikut lenyap, jika tidak ada sebab, maka tidak ada pula keterikatan jodoh.
Sebenarnya, pada akhirnya kehidupan hanyalah suatu fenomena. Kamu hidup di dunia ini adalah sesuatu yang tidak nyata dan kosong, seperti boneka, bukankah hanya datang untuk menjalani sebentar saja? Jika hatimu tidak bergerak, lalu apa yang bisa kamu lakukan? Tidak perlu melakukan apa-apa, cukup menyelesaikan masalah kelahiran dan kematian, itulah yang disebut pencapaian spiritual yang tinggi. Saya datang ke dunia ini, tidak menginginkan apa pun, saya hanya ingin terbebas dari kelahiran dan kematian. Oleh karena itu, Sang Buddha Sakyamuni pada akhirnya memberikan kepada Alam Manusia jalan untuk membebaskan diri dari kelahiran dan kematian, menuntun semua orang menemukan Buddha Dharma, dan mendirikan ajaran Buddha. Master berharap kalian benar-benar belajar dengan sungguh-sungguh, ini bukan hal yang mudah. Belajar Buddha Dharma adalah membina hati dan pikiran, oleh karena itu Dharma batin (hati dan pikiran) sangatlah penting.
Melihat kalian hari ini mendengarkan dengan sangat gembira, Master akan melanjutkan dengan menjelaskan sedikit tentang kebenaran dari hukum sebab-akibat dan siklus kelahiran kembali (reinkarnasi). Kalian hanya tahu secara umum apa itu hukum karma (sebab-akibat) dan apa itu kelahiran kembali, lalu merasa sangat takut ketika mendengarnya. Tetapi, apakah kalian tahu kebenaran yang sebenarnya di balik semua itu? Master akan menjelaskan sedikit kebenaran tersebut kepada kalian. Pertama, kebenaran dari hukum sebab-akibat dan reinkarnasi berasal dari perbuatan pikiran luar. “Berbuat” di sini berarti menciptakan karma buruk — membuat dosa, ditambah lagi dengan pikiran luar kamu yang tidak semestinya, pikiran yang seharusnya tidak muncul, tetapi justru muncul. Begitu pikiran itu timbul, “sebab—benih” pun mulai terbentuk, mengertikah? Pikiran luar yang bertolak belakang, khayalan, kemelekatan, dan kerisauan, semua hal buruk ini menimbulkan satu masalah yang sangat serius, yang menyebabkan reinkarnasi dirimu, yakni pandangan yang tidak benar. Karena kamu memandang segala sesuatu dengan tidak benar, maka kamu pun akan menciptakan karma. Apakah kalian mengerti? Jangan ada pikiran liar, jika tidak ada pemikiran liar, maka perasaan dan sifat dasar pada hakikatnya adalah kosong. Karena hatimu tidak memiliki khayalan pikiran, maka sifat dasar dirimu pada hakikatnya adalah kosong, yang disebut “pada hakikatnya sifat dasar adalah kosong”. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis harus memiliki kejernihan pikiran (kepahaman), yaitu memahami dengan benar, dan tidak boleh memiliki ketidaktahuan. Karena “ketidaktahuan”menyebabkan seseorang tidak bisa mencapai pembebasan. Karena ketidaktahuan adalah akar utama penderitaan yang menyebabkan dirimu bereinkarnasi.
Terakhir Master mengajarkan delapan kata yang dapat membantu kalian terbebas dari penderitaan serta hukum sebab-akibat dan reinkarnasi: “己事己明,自然解脱 – ji shi ji ming, zi ran jie tuo”— “Urusan sendiri harus disadari sendiri, maka pembebasan akan terjadi secara alami”. Artinya, dalam segala hal yang saya lakukan, saya harus memahami apakah yang saya lakukan itu benar. Jika ingin terbebaskan, maka harus memahami dengan jelas apa yang telah kita lakukan, jangan bertindak dalam kebingungan. Oleh karena itu, hukum karma adalah hasil dari perbuatan sendiri dan diterima sendiri. Semoga semua orang dapat memahami tentang hukum karma dan mengerti kebenaran.
