25. Membebaskan Diri dari Penjara“Nafsu” Duniawi — 跳出人间牢“欲”

Membebaskan Diri dari Penjara“Nafsu” Duniawi

Saat seseorang sedang membina pikirannya, karena terus memiliki “kemelekatan akan diri sendiri – Aku” dan  “kemelekatan akan Dharma”, yang dimaksud dengan “kemelekatan Aku” adalah, terhadap segala sesuatu semuanya “Saya yang paling penting”, “Saya berpendapat”, maka dia tidak akan bisa membina pikirannya dengan baik; apa itu “kemelekatan Dharma”? Kamu melihat semua benda di dunia ini, kamu merasa benda ini begini, benda itu begitu, saya mau yang ini, saya tidak mau yang itu, semua kemelekatan-kemelekatan ini disebut sebagai “kemelekatan Dharma”. Banyak orang malah menjadikan agama sebagai “gembok pengekang” orang-orang. Hari ini, Master mengatakan hal ini, sebenarnya hati Master sakit sekali, banyak orang yang dirinya sendiri tidak menekuni Buddha Dharma dengan baik, sebaliknya malah menambahkan banyak “borgol” untuk diri sendiri. Seorang praktisi Buddhis sejati harus berhati baik, memiliki hati yang bebas, bukannya disesatkan oleh banyak aturan dan batasan. Xin Ling Fa Men dari Master, tidak pernah ada banyak aturan dan batasan, apakah Master meminta kalian harus bagaimana menyembah Buddha? Apakah Master meminta kalian mengenakan pakaian tertentu saat menyembah Buddha? Apakah Master meminta kalian harus menggunakan sikap tangan khusus saat menyembah Buddha? Master tidak pernah mengatur kalian, Master hanya ingin kalian bersungguh-sungguh menyembah Buddha, itu sudah cukup, Master tidak ada banyak aturan dan batasan. Banyak orang yang setelah belajar sedikit Dharma, lalu sepanjang hari menghebohkan betapa besar jasa kebajikannya sendiri, mengeluarkan jasa kebajikannya sendiri dalam hal-hal kecil, namun coba pikirkan, kamu tidak benar-benar membina diri dan mencapai buah kesadaran, darimana jasa kebajikanmu? Kamu harus benar-benar nyata membina pikiran, selain itu, menggunakan perilaku kamu untuk membuktikan buah kesempurnaan Buddha dan Bodhisattva, dengan begitu, kamu baru bisa memperoleh buah kesadaran ini, kamu harus memiliki potensi kesadaran Buddha dan Bodhisattva, kalau sudah lama membina diri namun tidak terbuka kesadarannya, apa yang kamu bina?

 

Oleh karena itu, jangan membuat potensi kesadaran diri sendiri dalam menekuni Dharma menjadi jauh tak tergapai, tidak memahami tujuan sesungguhnya dari Buddha dan Bodhisattva, baru belajar sedikit ajaran Dharma lalu menjadi sombong, mengira diri sendiri sudah belajar Dharma, lalu setiap hari mengkritik yang ini dan itu, terakhir membuat “belajar meneladani Bodhisattva” menjadi suatu dongeng yang kosong, kalau begitu sama dengan menyumbat kebijaksanaan semua makhluk dan memutuskan jiwa kebijaksanaan orang-orang. Apabila ada orang yang mengatakan, satu Pintu Dharma tertentu tidak baik, dan ada satu Pintu Dharma tertentu yang baik, ini adalah hal yang sangat bodoh sekali. Ribuan sungai akan mengalir kembali ke laut, kalau kamu memang hebat, maka kamu akan membawa semua anak sungai bersama-sama masuk ke laut, kamu bisa memberitahu semua orang, bahwa saya adalah laut. Kalau kamu berusaha mati-matian untuk menghentikan proses pergerakkan laut ini, kamu menggunakan aliran sungai kecil untuk menghalangi lautan, pada akhirnya akan dihempaskan oleh lautan sampai habis tak bersisa. Coba pikirkan, Xin Ling Fa Men, dalam waktu yang begitu singkat, sudah ada lima juta umat, bukankah sama seperti sedang mengalir menuju lautan luas? Orang yang pintar akan membawa semua orang bersama-sama maju ke depan, bukannya menghalangi Pintu Dharma yang baik di masa periode akhir Dharma ini.

 

Orang sekarang, hatinya telah dikuasai oleh api nafsu, sehingga kebijaksanaan jiwanya meredup. Apa maksud dari “hati yang dikuasai oleh api nafsu”? Yakni, api nafsu keinginan yang setiap hari “membakar” hati – pikiran diri sendiri. Saya ingin membeli rumah, saya ingin mencari banyak uang, putra saya harus baik, suami saya harus baik, karir saya harus bagus, setiap hari nafsu keinginan tidak ada hentinya, sudah membakar hatimu sampai rusak. Setelah hati dikuasai oleh api nafsu, energi spiritual alaminya dan kebijaksanaanya akan meredup, dengan kata lain, semakin banyak nafsu keinginan seseorang, maka ia akan semakin tidak bijaksana, orang yang nafsu keinginannya semakin banyak, semakin tidak bisa mendapatkan energi spiritual alaminya. Contoh sederhana, kalian yang nafsu keinginannya sangat sedikit, bila bersujud di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa, memohon satu hal, begitu memohon segera terkabul. Orang ini bersujud di hadapan Guan Shi Yin Pu Sa, memohon puluhan hal, menurutmu, apakah akan terkabul? Dari perumpamaan kecil ini, kita pun bisa mengetahui bahwa, semakin banyak nafsu keinginan, semakin sedikit kebijaksanaannya, energi jiwanya semakin buruk. Pahamilah, bahwa ini berarti kita sudah dibelenggu oleh nafsu diri sendiri, kita sudah dikekang erat-erat oleh nafsu keinginan sendiri, sekarang ini jurang diantara materiil dalam masyarakat dengan kesadaran jiwa semakin lama semakin besar, karena kesadaran spiritual seseorang semakin lama semakin buruk, sedangkan nafsu keinginan semakin lama semakin tinggi, oleh karena itu, jarak di antara kesadaran dan nafsu keinginan semakin besar, mengerti? Inilah mengapa, sekarang kita harus meneladani Lei Feng, karena sudah tidak ada orang baik, semuanya mementingkan keuntungan sendiri, mementingkan uang, kalau tidak ada uang, apa yang bisa dilakukan? Ini adalah kebenarannya, oleh karena itu, sangat sulit untuk menyeberangi jurang di antara kesadaran jiwa dan nafsu keinginan, satu demi satu gembok dan penjara yang datang berturut-turut. Dengan kata lain, selanjutnya di dalam masyarakat, karena nafsu keinginanmu yang terlalu kuat, namun kesadaran dan kebudayaan kamu tidak bisa mengikutinya, kalau menggunakan istilah masa kini disebut dengan peradaban spiritual, maka selanjutnya, masalah akan muncul satu demi satu, kerisauan di rumah pun semakin lama semakin banyak.

 

Contoh sederhana, jika keluargamu semuanya menekuni Dharma, sedangkan seorang praktisi Buddhis mengetahui bahwa kita harus cermat dalam menggunakan barang-barang dan berhemat, tidak memakai barang-barang bermerek, tidak menggunakan benda-benda yang terlalu bagus, setiap hari hidup sederhana, tidak ada nafsu keinginan, menjalani hidup baik-baik, mereka akan hidup dengan sangat bahagia. Jika anaknya pergi ke luar, merasa kalau saya seharusnya punya mobil yang bagus, keluarga kami seharusnya punya rumah yang besar, ibu saya tidak seharusnya tidak punya uang, sampai miskin begini, selanjutnya, masalah dalam keluarga mereka akan muncul satu demi satu secara beruntun, ini karena jarak antara kesadaran jiwa dan nafsu keinginan semakin lama semakin jauh. Oleh karena itu, di dalam dunia materialistis, selamanya tidak dapat menemukan jalan terang kerohanian, karena di dalam dunia penuh nafsu keinginan akan benda-benda, tidak akan ada jalan terang untuk jiwa kita. Saat kamu berusaha mati-matian mengejar suatu hal, maka kesadaranmu ini tidak akan tercerahkan. Saat setiap hari kamu berpikir untuk bisa menang lotere, apakah akan ada penerangan dalam pikiranmu? Semuanya gelap gulita, karena yang menyambutmu semuanya adalah kekecewaan. Kamu setiap hari ingin menjadi direktur, namun kamu sama sekali tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi direktur, kamu setiap hari hidup di tengah nafsu keinginan ini, apakah jiwamu akan memperoleh penerangan? Harus membuat orang-orang bisa memahami kebenaran ini, hanya dengan membina pikiran, baru bisa mendapatkan keleluasaan besar, baru bisa membebaskan diri dari penjara duniawi. Apakah keleluasan yang besar? Berarti sudah berpikiran terbuka, bisa mengerti, sudah tidak menjadi masalah lagi.

Ada seorang ibu yang berbicara pada Master, dia setiap hari takut melihat anaknya, takut anaknya tidak belajar, takut anaknya berperilaku buruk. Dikarenakan ibunya memiliki pemikiran seperti ini, pada akhirnya anak tersebut setiap hari memerasnya, seperti, kamu harus membelikan saya sesuatu, kamu harus bersikap bagaimana baiknya terhadap saya, kamu harus mencuci kaki saya, sampai pada akhirnya, setiap hari mencaci-maki ibunya, pada suatu hari, si ibu akhirnya mengerti, kalau dia adalah “setan penagih hutang”, kalau saya sudah membantumu lalu bisa bagaimana? Pada suatu hari, si ibu berkata pada anaknya: “Kamu pergi sana, kamu ingin bagaimana terserah kamu, kamu tidak sekolah demi saya, kamu tidak tahu apa-apa, yang saya lakukan demi kebaikanmu, tetapi mulai saat ini, saya sudah tidak mau kamu lagi.” Si anak menangis, si anak mengerti, si anak malah tersadarkan. Maka, jika si ibu terus memanjakannya, dia tidak akan bisa paham; tetapi karena kamu sudah melepas, coba lihat, malah mendapatkan hasil yang sebaliknya. Begitu juga dengan pacaran, semakin mengalah padanya, malah membuatnya semakin ribut; tunggu sampai suatu hari, apa yang ingin kamu lakukan, terserah kamu, saya sudah tidak mau kamu lagi, coba lihat, dia malah menjadi baik, ini adalah prinsip kebenarannya, saat memang sudah waktunya melepas, harus dilepaskan, maka saat sudah waktunya mendapatkan, baru bisa mendapatkannya, tidak melepas dan tidak mendapat, itu berarti mengejar ketenangan pikiran sendiri.

 

Sekarang yang bisa membantu kita membebaskan diri dari penjara duniawi, sebenarnya adalah “Xin Ling Fa Men”, karena “Xin Ling Fa Men” terhadap segala penderitaan, bencana, dan halangan, semuanya bisa menggunakan pikiran untuk mengatasinya, karena penderitaan, bencana dan halangan orang-orang sesungguhnya tercipta dari pikirannya sendiri. Coba pikirkan, seorang penderita sakit jiwa, apakah dia merasa menderita? Dia tidak akan menderita, karena dia sudah tidak punya pikiran. Apakah dia merasa sakit? Orang lain menamparnya, dia masih tertawa. Apakah dia akan tertimpa bencana? Dia setiap hari hidup seperti itu, tidak tahu apa-apa, bencana dari mana? Apakah dia akan mengalami halangan? Tidak ada, karena dia tidak tahu bagaimana hidup. Sesungguhnya, yang menderita adalah hati – pikiran ini, maka kita harus membina pikiran ini baik-baik, kamu baru bisa terhindar dari penderitaan dan halangan bencana ini. Kalau pikiran – hati tidak sakit, pemikiran baru bisa terbuka; kalau hati sakit, maka pemikiran tidak bisa terbuka. Bisa berpikiran terbuka, berarti sudah mengerti, kalau sudah mengerti, baru bisa membuangnya. Bahkan membuang barang dari rumah saja begitu sulitnya? Ini tidak rela, itu tidak rela, apakah saat meninggal, kamu bisa rela? Coba kalian pikirkan sekarang, apalagi yang tidak bisa kamu relakan? Kamu harus melatih diri sendiri untuk merelakan, berikan semuanya sampai habis, kamu berikan pada orang lain, orang lain berterima kasih padamu, malah kamu masih mendapatkan jasa kebajikan. Kalau semuanya kamu simpan di rumah, terakhir saat meninggal, kamu tidak bisa membawanya pergi, kamu masih meninggalkan penyesalan seumur hidup, memang apa yang kamu miliki? Sudah setua ini, apalagi yang masih bisa digunakan?

 

Seorang praktisi Buddhis harus bisa merelakan – memberi. Kalau diri sendiri tidak memakainya, juga tidak mau memberikannya pada orang lain, ini namanya pemborosan. Diri sendiri tidak mau makan, tetapi disimpan di rumah sampai berjamur, juga tidak mau memberikannya pada orang lain, ini namanya kebodohan, inilah kalau tidak memiliki kecerdasan, tidak ada kebijaksanaan di hatinya. Sudah setua ini, masih bisa digunakan berapa tahun? Memangnya bisa mati kelaparan? Sudah tinggal tulang-tulang tua, masih mati-matian mencari uang. Kalau di Australia tidak punya uang, apakah akan mati kelaparan? Pemerintah masih memberikan tunjangan. Manfaatkan waktu sebaik-baiknya untuk melafalkan paritta. Tante Zhou sekarang masih hidup, tetap saja bisa menjaga anak untuk orang lain, tetap bisa mendapatkan gaji, tetapi apakah dia pergi mengurus anak orang lain? Nasib, ada orang yang seumur hidup menabung dan tidak rela menggunakan uangnya, terakhir malah mati kelelahan bekerja, nyawanya saja sudah tidak ada, masih tidak bisa berpikiran terbuka, masih bersikeras ingin memiliki keuntungan-keuntungan duniawi. Master melihat kalian benar-benar kasihan sekali, tidak tahu kebodohan dari kehidupan yang mana yang dibawa sampai di kehidupan ini. Orang yang sudah hampir 60 tahun, lihatlah para praktisi Buddhis di masa tuanya seperti kalian ini, apakah tubuhnya sakit atau tidak? Coba lihat, para praktisi Buddhis di masa tuanya apakah bisa naik ke Surga? Ada orang yang sekarang sudah berjalan menuju ke jalan Surga, lalu jalan apa yang sedang kalian jalankan sekarang?

 

Master minta kalian setiap hari melafalkan paritta di rumah, bisa setiap hari melafalkan paritta di rumah adalah berkah keberuntungan. Sampai hari ini, sudah berumur begitu lanjut masih pergi bekerja, berarti tidak ada berkah pahala yang besar. Tidak memiliki berkah pahala maka harus membina berkah keberuntungan, kalau tidak membina, lebih tidak punya berkah keberuntungan, ini dinamakan perputaran siklus buruk. Kurangi permohonan, memangnya satu mangkuk nasi tidak bisa menghidupi diri sendiri? Memangnya tidak punya tempat untuk tidur? Apa alasan yang bisa dikatakan, sampai hari ini masih hidup demi putra putri, berarti tidak memiliki berkah keberuntungan, orang yang beruntung adalah putra putrinya berbakti pada ayah dan ibu. Mengapa kamu tidak membuat anakmu turut membina diri? Kalian bisa menasihati orang lain, “Kamu benar-benar sangat beruntung, anakmu sangat berbakti padamu, setiap hari membantumu bekerja.” Kalau begitu mengapa diri sendiri bisa berhutang hingga begini pada anak? Berhutang di kehidupan sebelumnya, sekarang masih membayar hutang. Mengapa tidak melafalkan paritta? Mengapa tidak memanfaatkan diri sendiri yang sekarang masih memiliki sedikit waktu ini untuk baik-baik melafalkan paritta? Satu mangkok mie sudah cukup, ada satu ranjang untuk tidur sudah cukup, apakah biksu memiliki ranjang? Berkelana ke mana pun ia pergi, itu adalah ranjang, langit adalah selimut, bumi adalah ranjang, dia tetap membina diri dengan baik, khawatir? Saat meninggal nanti masih perlu mengeluarkan uang. Master beritahu kalian, sedikit uang yang kalian irit dan kumpulkan sekarang, bahkan tidak cukup untuk mengobati kalian di masa tua nanti, masih lebih baik jika kamu melafalkan paritta dengan baik. Tante Zhou sekarang sudah berusia 80 tahun lebih, dia tidak mau pergi periksa dokter, uang apa yang dikeluarkannya? Jika dia membina diri dengan baik, dia akan meninggal dalam tidurnya, uang apa yang perlu dikeluarkan? Ini adalah hasil dari pembinaannya. Kalian demi masa depan diri sendiri, mengira dengan uang bisa mendapatkan jiwa kebijaksanaan kalian, pada akhirnya yang diperoleh adalah kesusahan ditambah kerisauan, bodoh sekali.