Mengejar Konsep Pemikiran Tingkat Kesadaran Spiritual yang Lebih Tinggi dalam Kehidupan
Kita harus mengikuti hukum alam dan menyadari kebenaran kehidupan. Mengikuti alam berarti mengikuti jodoh, ketika jodoh datang, maka lakukanlah; ketika jodoh tidak ada lagi, maka jangan bersedih. Merasakan kehidupan berarti menyadari kehidupan, harus menyadari prinsip kebenaran dalam kehidupan ini. Dalam kehidupan ini, untuk apa sebenarnya saya datang ke dunia ini? Demi apa saya lahir ke dunia ini? Apakah untuk menyia-nyiakan waktu, makan-minum dan bersenang-senang? Menikmati kesenangan sesaat? Berebut ketenaran dan keuntungan? Semua itu bukanlah makna sejati kehidupan kita. Makna sejati dalam hidup ini adalah meminjam kepalsuan untuk membina kebenaran. Kita hanya meminjam tubuh yang tidak kekal ini untuk menumbuhkan dan mengembangkan sifat Kebuddhaan kita yang sejati, inilah yang disebut menyadari kehidupan. Kita terus mencari dan berusaha dengan tekun, terus meraba jalan, meskipun ada rintangan, kita tetap harus berjuang maju dengan sungguh-sungguh. Sebagai contoh sederhana, kalian sedang berjalan untuk mencari anggota keluarga yang hilang. Ketika terpisah, apa yang harus dilakukan? Di depan tidak ada senter, mulut terus memanggil namanya, sambil berlari sekuat tenaga. Dalam keadaan seperti itu, sangat mudah terjatuh ke dalam lumpur, terluka parah, lalu bangkit lagi dan terus berjalan. Sesungguhnya, dalam kehidupan ini kita harus maju dengan cara meraba dan mencari arah, terus berusaha dengan tekun. Yang berarti terus bersungguh-sungguh melakukan hal tersebut tanpa menyerah. Ketika mencari seorang ibu, setiap orang pasti akan sangat tekun dan tidak mudah menyerah.
Menganalisis nilai sejati dari kebenaran. Apa yang disebut kebenaran? Di dunia ini, banyak orang dapat mengemukakan berbagai alasan dan menganggap itulah kebenaran menurut dirinya. Namun apakah kebenaran yang sesungguhnya? Kebenaran yang sejati adalah prinsip Dharma. Apa itu kebenaran? Ketika kamu memahami dan menguasai prinsip Dharma, maka kamu telah menguasai kebenaran.
Master mengatakan kepada kalian, apakah nilai sejati dari kebenaran itu? Nilai terletak pada luasnya penerapan atau cakupannya. Sebagai contoh, benda ini disebut sangat berharga karena nilai dan pengaruhnya dikenal luas oleh banyak orang. Karena cakupannya besar dan diakui secara umum, maka ia menjadi sangat berharga. Itulah sebabnya nilai itu penting. Di dunia materi ini, kita sering membicarakan tentang pandangan nilai. Sebenarnya, nilai itu bergantung pada pandangan masing-masing. Jika kamu menganggap sesuatu itu baik, maka bagimu itu baik; jika kamu menganggapnya tidak baik, maka bagimu itu tidak baik. Itulah yang disebut pandangan nilai pribadi masing-masing, mengerti? Jika kamu menganggap sesuatu itu berharga, maka ia berharga; jika kamu menganggapnya tidak berharga, maka ia pun tidak berharga. Oleh karena itu, kita harus menyaksikan karakter asli dan meneguhkan sifat Kebuddhaan. Menyaksikan karakter asli berarti ketika melihat seseorang, kamu harus melihat karakter aslinya. Apakah orang ini sungguh baik? Apakah ia menekuni Dharma? Lihatlah apakah karakter aslinya memang baik. Meneguhkan sifat Kebuddhaan berarti setelah melihat karakter aslinya, barulah kamu dapat mengetahui apakah orang ini memiliki sifat Kebuddhaan dan apakah ia benar-benar baik. Oleh karena itu orang berkata, “Saya telah melihat karakter aslimu. Kamu orang yang sangat baik, hati nuranimu baik, kamu adalah orang yang baik.”
Dalam belajar Buddha Dharma, kita harus memahami bagaimana mengatur waktu secara bebas. Ini kembali menyentuh persoalan kehidupan duniawi. Apa yang dimaksud dengan mengatur waktu secara bebas? Banyak orang berkata, “Saya tidak punya waktu. Karena kita adalah umat awam yang belajar Buddha Dharma, sangat sulit bagi kita dalam menekuni Dharma, tidak ada waktu.” Sesungguhnya, mengatur waktu secara bebas berarti kebebasan itu ada di dalam hatimu. Saat kapan saja hatimu ingin melafalkan paritta, maka kamu bisa melafalkannya. Kapan saja hatimu ingin bersujud kepada Buddha, maka kamu bisa melakukannya. Waktu itu bagaikan air di dalam spons, ia bisa diperas keluar. Banyak orang yang harus bekerja pukul enam pagi, tetapi sudah bangun pukul empat untuk melafalkan paritta. Sebaliknya, orang yang tidak ingin melafalkan paritta, meskipun memiliki banyak waktu, tetap tidak akan melakukannya.
Sebagai contoh sederhana, hari ini seseorang mengajakmu pergi keluar karena sesuatu hal. Sebenarnya kamu punya waktu, tetapi karena malas dan tidak ingin pergi, kamu berkata tidak mau pergi, benar tidak? Sebaliknya, jika hari ini kamu tidak punya waktu, tetapi ada sesuatu yang sangat penting bagimu, meskipun hanya memiliki setengah jam, kamu tetap akan bergegas pergi, menyelesaikan urusan itu, lalu bergegas kembali. Inilah yang disebut dirimu sendiri yang mengatur waktumu.
Sesungguhnya, kemampuan mengatur waktu itu sendiri adalah wujud kekayaan dan kebijaksanaan. Kalian tidak mengerti, jika seseorang mampu memanfaatkan waktunya dengan baik untuk melafalkan paritta dan melakukan kebajikan, menurutmu apakah orang itu memiliki kebijaksanaan? Orang ini telah melakukan begitu banyak kebajikan dan melafalkan begitu banyak paritta, menurutmu apakah ia memiliki kekayaan? Pada dasarnya ia sudah memiliki kekayaan dan kebijaksanaan, maka ia baru mampu dengan bebas mengatur waktunya. Sekarang kita menggunakan seluruh waktu kita untuk menyelamatkan para makhluk hidup. Jika kamu memiliki kebijaksanaan, maka kamu pasti juga akan memiliki kekayaan. Karena kamu memahami bahwa kelak ketika meninggalkan dunia ini, kita akan kembali ke pelukan Guan Shi Yin Pu Sa, bukankah ini disebut kebijaksanaan? Dalam kesungguhanmu membina pikiran dan menolong orang lain, berapa banyak yang telah kamu peroleh? Bukankah ini juga disebut kekayaan?
Oleh karena itu, dalam membina diri, kita harus menggunakan kehidupan yang terbatas dan sisa waktu yang ada untuk menyempurnakan kebenaran kehidupan yang tanpa batas. Master hari ini menyampaikan pelajaran ini bukan tanpa alasan. Berharap kalian semua dapat menghargai waktu dengan baik. Master menyadari bahwa masih banyak orang yang membuang-buang waktu, menyia-nyiakan hidup dalam hal-hal yang tidak berarti. Master berharap kalian dapat mengatur waktu dengan baik, dan berharap kalian dapat menggunakan kehidupan yang terbatas serta sedikit waktu yang ada untuk menyempurnakan kehidupan yang tanpa batas. Apakah yang dimaksud dengan kehidupan yang tanpa batas? Itulah kehidupan yang tidak pernah mati, yaitu kehidupan kebijaksanaan kita di Alam Surga. Apa itu kebenaran sejati? Itulah akar yang sejati. Dalam belajar Buddha Dharma, kita harus belajar sampai pada akarnya. Jika kamu telah lama belajar Buddha Dharma, tetapi masih sibuk membicarakan orang lain, mengatakan ini tidak baik dan itu tidak baik, bukankah kamu sedang menyia-nyiakan kehidupan kebijaksanaanmu? Bukankah kamu sedang membuang-buang waktumu? Orang seperti itu sungguh sangat kasihan.
Kita harus memulai dari sila, samadhi, dan kebijaksanaan, untuk menyingkirkan benih kebiasaan buruk keserakahan, kebencian, dan kebodohan dalam diri kita. Orang yang menekuni Dharma sering menyebut sila, samadhi, dan kebijaksanaan, serta tahu menyebut keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Namun sesungguhnya enam kata ini saling berkaitan dan saling melengkapi. Dengan menjaga sila, kita dapat mengekang keserakahan. Ketika hatimu dapat tenang (samadhi), maka kamu tidak akan membenci. Dengan membuka kebijaksanaan, kamu tidak akan terjebak dalam kebodohan batin. Oleh karena itu, tiga racun dari keserakahan, kebencian, dan kebodohan dapat diatasi melalui sila, samadhi, dan kebijaksanaan. Benih kebiasaan buruk harus dimusnahkan. Maka kita harus mentransformasikan keserakahan, kebencian, dan kebodohan yang telah berakar dalam.
Master berkata kepada kalian, mengapa tiga racun — keserakahan, kebencian, dan kebodohan begitu hebat? Bodhisattva membabarkan Dharma selama bertahun-tahun tidak luput dari membicarakan tiga racun kalian ini, karena dalam akar batin kita memang terdapat tiga racun ini. Ini adalah sesuatu yang telah kita kumpulkan sepanjang banyak kehidupan, sudah berakar sangat dalam dan sulit dicabut. Setiap hari kita bekerja, dan terkadang itu hanya untuk mempertahankan kelangsungan hidup tubuh fisik kita, bukan begitu? Bukankah kalian bekerja setiap hari demi tubuh ini? Demi kelangsungan hidup jasmani? Mencari sedikit uang, ini termasuk dalam pengejaran materi. Oleh karena itu, orang yang bekerja untuk upah pada dasarnya sedang mengejar hal-hal yang bersifat material. Dengan demikian, banyak orang menjadi paham: mengapa ada banyak orang yang rela meninggalkan kehidupan rumah tangga dan keluarganya untuk menjadi biksu? Mengapa? Sederhana saja, karena ia tidak lagi mengejar kelangsungan hidup jasmani semata, melainkan mengejar kehidupan spiritual dan kehidupan kebijaksanaan yang lebih luhur sebagai sandaran batinnya.
Belajar Buddha Dharma justru adalah mengejar kebebasan spiritual yang tidak pernah binasa. Tidak binasa berarti kebebasan yang tidak akan rusak atau hilang selamanya. Ketika batin sudah bebas, bukankah itu membahagiakan? Dapat melakukan apapun sesuai keinginan, bahkan hal yang belum bisa dilakukan pun, hanya dengan memikirkannya saja sudah terasa bahagia. Ada orang yang bahkan tidak berani memikirkan tentang kebebasan, ada tidak? Bukankah itu berarti secara batin ia sudah tidak bebas? Coba kamu pikirkan, pikirkan sesuatu yang ingin kamu lakukan, tidak ada seorang pun yang tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tetapi kamu sendiri pun tidak berani memikirkannya, lalu apakah kamu masih memiliki kebebasan batin? Tubuh fisik pasti akan membusuk dan rusak, tetapi pada tingkat batin, ia dapat terus ada. Jika batin seseorang bahagia dan lapang, ia tidak akan “membusuk”. Oleh karena itu, kelestarian batin sangatlah penting. Mengapa penyanyi populer setelah beberapa tahun sudah tidak dikenal lagi, sedangkan Guan Shi Yin Pu Sa, Sang Buddha Sakyamuni, dan begitu banyak Bodhisattva lainnya, setelah ribuan tahun masih dipuja dan dihormati oleh banyak orang? Karena merekalah yang benar-benar abadi. Bukan tubuh jasmani mereka yang abadi, melainkan jiwa mereka.
Jika kamu mampu menyatukan praktik spiritual ke dalam kehidupan dan pekerjaan sehari-hari, maka praktikmu itu sendiri adalah jasa kebajikan. Apakah melafalkan paritta adalah sebuah pekerjaan? Master melihat orang-orang yang melafalkan paritta di sini sangat baik, seperti sedang bekerja dengan sungguh-sungguh. Master merasa senang ketika melihat ada yang melafalkan paritta. Membina diri adalah pekerjaan, itulah yang disebut kesempurnaan agung. Dengan kata lain, seseorang hidup di dunia ini dengan waktu hidup dan bekerja yang sangat panjang. Setiap hari, setelah dikurangi delapan jam untuk tidur, masih tersisa enam belas jam. Jika kamu mampu dalam enam belas jam itu terus melafalkan paritta, memanfaatkan banyak waktu untuk melafalkan paritta, maka itulah yang disebut kesempurnaan agung dalam pekerjaan dan praktik.
Jika seluruh dunia, semua orang melafalkan paritta, maka tidak akan terjerumus ke dalam dunia yang merosot dan kosong. Sebaliknya, pasti akan tercipta pandangan hidup yang lebih tinggi dan lebih luhur. Master memberitahu kalian bahwa kita harus memahami semua ini dari teori dan prinsip Buddha Dharma. Karena Alam Manusia saat ini adalah kosong dan hampa. Bodhisattva mengatakan, “Rupa adalah kosong, kosong adalah rupa.” Dunia yang berupa ini pada dasarnya adalah kosong, benar tidak? Pada akhirnya tidak ada yang tersisa, bukankah itu kekosongan? Lalu mengapa ditambahkan kata “merosot”? Karena orang-orang hidup di dunia ini, dunia yang berupa ini, di tengah hiruk-pikuk duniawi, dan dirinya sendiri pun sering kali terjebak dalam kemerosotan. Dengan keadaan seperti itu, pasti tidak dapat menciptakan pemikiran dan tingkat kesadaran yang lebih tinggi. Artinya, jika kamu berada di lingkungan dengan tingkat pemahaman yang sangat rendah dan sepanjang hari hanya membanggakan diri, maka kamu tidak akan pernah meningkatkan kesadaran spiritual dirimu. Asalkan ada orang yang mengatakan kepada kalian, “Saya begini, saya begitu, saya sangat hebat,” orang seperti itu justru sebenarnya tidak memiliki kemampuan. Orang yang benar-benar memiliki kemampuan tidak akan membicarakannya, itulah yang disebut benar-benar memiliki kemampuan.
Ditinjau dari segi duniawi, banyak orang menjadikan tingkat kesadaran yang tinggi sebagai sebuah cita-cita, benar tidak? Kita hidup di Australia; di sana, mengisi bahan bakar dan banyak hal lainnya tidak selalu diawasi. Telepon umum pun bersih dan terawat. Namun di beberapa tempat lain, tingkat kesadaran orang tidak tinggi, kabel telepon dipotong, selesai mengisi bahan bakar lalu melarikan diri tanpa membayar. Ini menunjukkan bahwa perangkat keras dunia materi mungkin baik, tetapi “perangkat lunak” dalam pikiran manusia yang bermasalah. Tingkat kesadaran spiritual dan pola pikir manusia itu seperti perangkat lunak komputer, harus terus diperbarui dan disesuaikan agar menjadi baik.
