Mengetahui Prinsip Dharma, Memahami Ajaran Dharma, Pikiran Benar-benar Mencapai Kelenyapan
Hari ini Master ingin memberitahu kalian, bahwa kita dalam menekuni Dharma dan bersikap atau berperilaku, bagaimana caranya membina pikiran di tengah kerisauan? Membina pikiran harus melatih keadaan kesadaran pikiran kita, karena hanya dengan menggunakan keadaan kesadaran ini, kamu baru bisa benar-benar menghilangkan kerisauan; karena kamu sudah melatih kesadaran ini, kamu baru bisa menghilangkan seluruh kesulitan dan kerisauan secara tuntas dalam pikiranmu sendiri. Apakah dalam diri seseorang memiliki kerisauan atau tidak, mohon dirimu periksalah apakah diri sendiri sedang marah?
Master memberitahu kalian, seseorang harus sering mengamati tubuh dan pikirannya sendiri dengan baik dan cermat, maka kamu akan menjadi jelas, jika dirimu sendiri merasa diri sendiri tidak nyaman, hati merasa tidak senang, berarti sudah ada sangat banyak kerisauan di dalam hati-pikiranmu. Maka itu, terhadap hal-hal ini sesungguhnya kamu sudah kehilangan kendali, kamu tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan suasana hati diri sendiri. Seseorang yang tidak mampu mengendalikan suasana hatinya sendiri, orang ini pasti sangat mudah mengundang jodoh karma. Apa itu jodoh karma? Itu adalah akar atau sumber dari kekuatan karma. Jodoh karma bisa menimbulkan kerisauan bagimu setiap hari, lagipula jodoh karma sangat sulit dilampaui. Apa itu karma? Yaitu kekuatan karma. Apa itu jodoh? Yakni jodoh baik dan jodoh buruk yang terlahir akibat kekuatan karma, ini yang dinamakan sebagai jodoh karma. Ketika jodoh-jodoh ini sudah berada di dalam pikiranmu, maka karma baik dan karma burukmu akan dicatat seperti buku catatan, ini adalah karmamu.
Kita semua dalam mempelajari ajaran Buddha Dharma, harus mengetahui prinsipnya dan memahami ajaran Dharmanya. Mengetahui prinsipnya berarti harus bisa mengetahui prinsip kebenaran Buddha, memahami ajaran Dharma, dengan kata lain, kita harus mengerti apa sesungguhnya ajaran Buddha Dharma itu. Hanya dengan mengetahui prinsipnya, memahami ajaran Dharmanya, sering melafalkan paritta, sering mengingat bahwa Bodhisattva berada di sisimu, baru pelan-pelan kamu bisa menjalani hidupmu secara alami, kalau tidak kamu tidak akan merasa kalau hidupmu sangat nyaman. Kita sering merasa ada Bodhisattva di sisi kita, karena kamu merasa Bodhisattva sedang melihatmu, jadi kamu tidak boleh melakukan kejahatan, kamu tidak boleh memiliki pemikiran jahat, kamu baru bisa taat pada sila. Taat pada sila, berarti saya tidak berani melakukan hal-hal yang tidak baik, maka, jika teringat akan Bodhisattva, kita tidak akan marah. Karena saat kamu marah, berarti kamu lupa kalau ada Bodhisattva pada dirimu. Ketika kamu mengingat kalau ada Bodhisattva pada dirimu, maka kamu tidak akan marah, karena kamu tahu kalau Bodhisattva itu welas asih, tidak akan marah terhadap suatu masalah atau orang tertentu. Ketika kamu merasa ada Bodhisattva pada dirimu, sewaktu kamu sering terpikirkan akan Bodhisattva, maka Bodhisattva akan memberikan berkat kekuatan kepadamu. Banyak orang mengatakan, mengapa saya bisa mendapat berkat dari Bodhisattva? Karena ada Buddha pada diri saya.
Ketika dalam kehidupan ini, kita merasa sudah tidak tertahankan lagi, maka kita bisa memohon kepada Bodhisattva untuk membantu kita mengubah ketamakan, kebencian, dan kebodohan dalam lubuk hati kita. Dengan kata lain, sewaktu ada kebencian, ketamakan, dan kebodohan dalam pikiranmu, maka hanya dengan mengandalkan kekuatan dari Bodhisattva, baru bisa membantumu mengubah ketiga racun ini. Apakah yang dimaksud dengan mengubah? Misalnya, saat kamu sedang sangat tamak, bisa terpikirkan olehmu, meskipun mendapatkannya, namun kamu malah akan lebih bermasalah; setelah kamu membenci orang lain, maka orang lain bisa membalasmu, dan kamu menjadi lebih repot; yang satu lagi, hari ini kamu sudah melakukan hal ini, maka kamu akan menjadi lebih bodoh dan lebih bermasalah. Saat pemikiran-pemikiran ini muncul, maka kamu pun bisa mengubah ketamakan, kebencian, dan kebodohanmu.
Master berharap kalian bisa memahami bahwa, seseorang meskipun membina pikirannya, namun kamu tetap tidak bisa mengalahkan kekuatan karmamu. Inilah mengapa, meskipun banyak orang sedang melafalkan paritta, menekuni Dharma, dan membina pikiran, namun dia tetap saja masih menciptakan karma, tetap saja masih berjalan di jalur kekuatan karma. Bukan karena sudah bersembah sujud dan melafalkan paritta, lalu segala hal dalam hidupmu bisa dilancarkan semuanya, atau kamu bisa mengubah nasibmu sendiri, ini karena kekuatan karmamu, karena pembinaan pikiran dan pelafalan paritta kamu, tidak bisa mengalahkan kekuatan karma yang kamu ciptakan sebelumnya.
Banyak orang mengatakan kalau Master memiliki kekuatan supernatural, bisa membantu kita, tetapi apakah bisa mengalahkan kekuatan karma-karma ini? Master bisa memberitahu kalian, bahkan kekuatan supernatural sekalipun tidak bisa mengalahkan kekuatan karma. Inilah mengapa banyak sekali Bodhisattva yang walau memiliki kemampuan yang sangat besar, namun mereka juga tidak bisa menyelamatkan banyak orang, ini karena mereka memiliki karma bersama, sedangkan karma bersama memiliki medan aura yang sangat kuat, karena semua orang sedang melakukan kejahatan, maka kamu pun masuk ke dalam karma yang diciptakan bersama-sama ini. Karma bersama ini memiliki medan aura yang sangat kuat, bahkan Bodhisattva juga tidak bisa mengubah karma bersama kalian. Oleh karena itu, di banyak tempat tetap saja akan terjadi bencana dan malapetaka, dan karenanya Bodhisattva merasa sangat sedih.
Ingatlah, menghadapi jodoh karma sendiri, kamu harus bisa mengubah ketamakan, kebencian, dan kebodohan dalam lubuk hatimu sendiri. Kamu sudah tahu bahwa dirimu sudah melakukan banyak kesalahan, maka kamu tidak boleh terus melanjutkan kesalahan ini. Kamu sudah tahu kalau hari ini tidak seharusnya kamu membenci orang lain, maka kamu tidak seharusnya terus membenci orang itu. Master berharap kalian bisa memahami kita harus menggunakan cara apa untuk menghilangkan jodoh karma kita. Jika seseorang memiliki jodoh karma yang sangat dalam, dengan hanya mengandalkan ajaran Buddhisme Hinayana saja tidak akan bisa mengatasinya, kita menekuni Dharma harus belajar ajaran Buddhisme Mahayana, dan ajaran Buddhisme Mahayana bertujuan untuk menyelamatkan kesadaran spiritual semua makhluk, yakni menolong orang-orang yang berjodoh, jadi kita harus menjadi orang yang bisa mengorbankan diri sendiri untuk menolong orang lain, baru bisa disebut menekuni ajaran Buddhisme Mahayana. Kita meneladani Bodhisattva dalam ajaran Mahayana, harus belajar secara total, harus berlatih dengan cepat, harus membina diri dengan baik, karena menolong orang lain tidak bisa ditunda, kita dalam menekuni Dharma juga tidak bisa ditunda. Kita orang yang menekuni ajaran Buddhisme Mahayana, maka begitu belajar harus belajar sampai ke akar dasarnya. Apakah akar dasar itu? Yaitu welas asih, dengan kata lain, jadi orang harus baik hati, setiap saat harus memikirkan orang lain, harus menolong orang lain, inilah akar dasar dari menekuni Dharma.
Kita harus menggunakan prinsip yang paling dasar yakni, penderitaan yang dialami hari ini adalah untuk membayar balasan karma ini. Karena kita di kehidupan ini terlahir ke dunia ini sudah menderita, maka kita harus melunasi balasan karma ini. Melunasi atau membayar balasan karma ini, yakni kita harus bisa secara total menghilangkan seluruh pemikiran liar diri sendiri. Misalnya, kita semasa kecil pernah melakukan banyak hal-hal yang tidak baik, seperti, kamu pernah mencuri penghapus atau pensil teman sekelas, semua hal-hal kecil ini, namun jika masih tersimpan dalam pikiranmu, maka dia akan selamanya menjadi noda dalam pikiranmu. Hanya saat kamu sudah memahaminya, bahwa hal-hal ini tidak boleh kamu lakukan, dan kamu tidak akan melakukannya lagi nanti, selamanya tidak akan melakukannya, noda ini baru bisa hilang.
Apabila seseorang dalam menghadapi jodoh karmanya sendiri, tidak bisa menggunakan ajaran Buddhisme Mahayana untuk menolong semua makhluk dalam melatih dirinya, maka dia tidak akan bisa mendapatkan akar dasar dari ajaran Buddha Dharma. Penderitaan kita di kehidupan ini, karena karma yang kita ciptakan di kehidupan sebelumnya. Karena kita membuat orang lain menderita, maka di kehidupan ini kita baru bisa menerima buah karma ini. Kita harus belajar ajaran Buddhisme Mahayana, yakni harus bisa mengubah konsep pemikiran diri sendiri dalam menekuni Dharma, kita harus mengubah pemahaman diri sendiri dalam menekuni Dharma, yaitu bukan hanya menyelamatkan diri sendiri, melainkan pergi keluar menolong semua makhluk. Seseorang yang tidak bisa menolong semua makhluk, bagaimana mungkin bisa melindungi dirinya sendiri dengan baik? Seseorang yang tidak melakukan perbuatan yang baik, bagaimana mungkin bisa menjadi orang yang baik hati? Seseorang yang bahkan tidak mengetahui bagaimana dirinya sekarang dan di masa depan nanti, bagaimana mungkin bisa membantu orang lain?
Egois dan takut menjalankan sila, ini merupakan tolok ukur apakah seseorang benar-benar tulus menekuni Dharma. Jika seseorang sesegera mungkin menanggung karma yang diciptakannya di kehidupan sebelumnya, dan menjalani kesusahan di kehidupan ini, maka ini merupakan suatu pembinaan keras, jadi “Saya harus tahu balas budi, saya harus membantu orang lain, saya ingin meringankan penderitaan orang lain, untuk melunasi hutang karma pada diri saya sendiri”, inilah menekuni ajaran Buddhisme Mahayana. Seseorang yang bahkan tidak berani untuk menghadapi dirinya sendiri, bagaimana mungkin pantas menjadi Bodhisattva untuk menolong semua makhluk? Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa belajar ajaran Buddhisme Mahayana, tidak boleh hanya membina diri di rumah tanpa peduli pada hal-hal lain. Coba pikirkan, dalam masyarakat sekarang ini, tidak peduli pada masalah lain, apakah mungkin? Apakah kamu bisa tidak memedulikan hal-hal lain? Kamu tidak akan bisa melakukannya.
Pahamilah bahwa, yang diutamakan dalam ajaran Buddhisme Hinayana adalah melatih ketidakakuan. Apa itu ketidakakuan? Ketidakakuan berarti tidak ada diri sendiri – tiada Aku, yakni saya sendiri tidak melakukan kesalahan, maka tidak ada halangan karma buruk, dengan kata lain harus bisa melenyapkan tubuh dan pikiran sendiri untuk mencapai ketenangan, yakni membuat tubuh dan jiwa sendiri menjadi tenang dan terpusat, tidak memedulikan masalah orang lain. Lain kata, berarti hanya melatih diri sendiri, tidak peduli pada orang lain. Pada zaman dulu, kamu boleh berbuat seperti ini, namun pada masyarakat sekarang, kita semua meneladani Bodhisattva dan menekuni Dharma, karena jasa kebajikan kita tidak cukup, maka kita tidak hanya membina diri sendiri dengan baik, kita juga harus menyelamatkan semua makhluk.
Kita harus memahami bahwa, kita tidak hanya harus membuat tubuh dan pikiran sendiri mencapai ketenangan kelenyapan “nirodha-samapatti”, namun kita juga harus melenyapkan seluruh pemikiran liar yang tidak baik pada diri kita, juga melenyapkan tubuh kita sendiri. Oleh karena itu, dalam banyak aliran Zen dan Vajrayana mengatakan, “harus terus-menerus melenyapkan jiwa sendiri, juga harus melenyapkan tubuh diri sendiri”. Tubuh yang kotor ini sudah sangat banyak mencelakakan kita, sesungguhnya kita bisa naik ke atas secara alami, namun karena adanya tubuh ini telah membuat kita menderita. Coba kalian pikirkan, tubuh kita telah membuat kita menderita berapa banyak? Saat sedang sakit, tubuh membuatmu merasakan penderitaan yang tiada taranya. Pahamilah bahwa, “pikiran sendiri tidak bisa dimiliki”, tidak ada yang perlu dipikirkan atau dicermati dalam pikiranmu sendiri, sudah tidak ada Aku, maka kamu pun tidak perlu menanggung karma ini lagi, karena kamu sudah tidak ada diri sendiri, kamu sudah mencapai tingkat kesadaran di mana sudah tidak ada diri sendiri, maka untuk siapa kamu menanggung karma ini? Bahkan diri sendiri pun sudah tidak ada, maka tidak perlu lagi menanggung karma ini, inilah ajaran Buddhisme Hinayana.
Contoh sederhana, orang yang melatih diri dalam ajaran Buddhisme Hinayana, tidak akan pernah ikut campur dalam pertengkaran tetangganya, “Saya hanya melatih diri sendiri, yang penting saya mengurus keluarga saya dengan baik, maka tidak akan muncul masalah di rumah”. Namun apa yang dilakukan dalam ajaran Buddhisme Mahayana? “Saya tidak hanya harus mengurus keluarga sendiri, jika keluarga tetangga bertengkar, saya juga harus membantunya, keluarganya kekurangan apa, saya juga akan membelikannya dan memberinya”, itu adalah ajaran Buddhisme Mahayana. Coba kalian katakan, semuanya adalah kebaikan, namun mana yang lebih baik? Jika keluarga tetangga bertengkar, kamu yang mendengarnya di rumah juga merasa tidak enak bukan? Meskipun kamu tidak bertengkar dengan tetangga, namun tetangga lain setiap hari ribut seperti ini, kamu merasa bersusah hati atau tidak? Sama halnya seperti kita sekarang menekuni Dharma, meskipun keadaan diri sendiri sudah baik, namun melihat keadaan orang lain tidak baik, maka kita pun akan menolongnya. Oleh karena itu, kita harus memahami bahwa di rumah melatih diri sendiri, pergi keluar membantu orang lain, kita tetap akan mendapatkan lebih banyak kebaikan.
Master ingin kalian memahami bahwa, pada suatu hari, nidana bisa berubah, dan kamu akan kembali datang ke dunia ini – Alam Manusia, karena meskipun kamu sudah membina diri sampai mencapai tingkat Asura, juga tetap akan mengikuti Buddha datang ke dunia ini. Dengan kata lain, meskipun kalian sudah mendoakan sanak keluarga sampai ke Alam Asura, asalkan pada suatu hari nanti ada salah satu Bodhisattva yang berkata ingin turun ke dunia untuk menyelamatkan orang-orang, maka banyak sekali orang-orang Alam Asura yang akan menjadi Pelindung Dharma, akan terlahir menjadi berbagai macam orang dengan beragam kemampuan, ini yang disebut sebagai “terlahir mengikuti Buddha”, dia tetap harus keluar. Contoh sederhana, sekarang Master pergi membabarkan Dharma, kalian semua adalah pengikut dan murid Master, maka kalian juga akan mengikuti Master pergi keluar, kalian harus memahami logika ini.
Master beritahu kalian, nidana kalian setiap hari memiliki buah karmanya. Hari ini kalian melakukan perbuatan baik, maka akan ada balasan yang baik; jika melakukan kejahatan, akan ada balasan yang buruk. Kalian harus memahami satu prinsip bahwa, kita jadi orang, meski tidak ingin datang ke dunia ini, juga tetap akan datang ke dunia ini; kita tidak ingin bertengkar, juga tetap akan bertengkar. Coba pikirkan, terkadang di rumah, saya benar-benar tidak ingin bertengkar, saya melihat suami saya, saya benar-benar sudah tidak mau ribut, namun baru saja bicara beberapa patah kata, lalu mulai bertengkar. Semua ini bukanlah sesuatu yang bisa kamu kendalikan sendiri, ini yang dinamakan “terlahir mengikuti jodoh”, semoga kalian bisa memahaminya baik-baik.
Orang-orang di Alam Asura akan terlahir ke dunia mengikuti Buddha, mereka akan datang ke Alam Manusia untuk menuntaskan nidananya. Jadi jangan mengira orang-orang yang berada di Alam Asura atau Alam Surga tidak akan turun lagi ke bawah, tetap masih akan turun ke dunia. Selanjutnya, kamu kembali akan menghadapi karma-karma ini, kerisauan akan kembali muncul. Bukan dengan mengatakan kalau kamu hari ini tidak ingin risau, lalu kamu tidak punya kerisauan, meskipun hari ini kamu tidak memikirkannya, tetap ada kerisauan; memikirkannya, juga tetap ada kerisauan. Hari ini kamu menekuni Dharma, maka nasibmu ini masih bisa diubah, namun jika kamu tidak menekuni Dharma, maka nasibmu tetap seperti itu. Hari ini kalian menekuni Dharma mengikuti Master, maka harus membuat diri sendiri berubah, dalam menekuni Dharma ada kerisauan, apa yang perlu ditakutkan? Asalkan kita berusaha keras baik-baik menekuni Dharma, pasti bisa mencapai Kebuddhaan.
