23. Melepaskan Ego Sendiri, Memahami Kebenaran Sejati — 舍弃小我 明了真相

Melepaskan Ego Sendiri, Memahami Kebenaran Sejati

Pahamilah, jika kita memahami karma, maka tidak akan muncul pemikiran-pemikiran yang tidak masuk akal pada diri kita di dunia ini, “Saya ingin bagaimana, dia ingin bagaimana, sekarang saya ingin begini begitu”, apakah kalian mengerti? Pahamilah, jiwa kita harus memperoleh pelepasan dan pengembangan yang sesungguhnya, karena kamu sudah memahami karma – sebab dan akibat, maka jiwamu akan terbebaskan. Hari ini datang dua orang, minta Master menerawangnya, yang wanita itu sangat sedih, terus merasa benci, benci terus sampai akhirnya tumbuh tumor di otaknya, benar tidak? Master mengatakan kepada dia, kamu membenci orang lain hingga pada akhirnya, jika kamu memang mampu, maka biarlah orang lain yang tumbuh tumor di otaknya, mengapa dirimu yang tumbuh tumor? Karena dia tidak memahami karma, tunggu sampai hari ini dia mendengar perkataan Master, dia baru memahami kebenarannya, dia bisa berpikiran terbuka, tiba-tiba dia terbebaskan, dia sudah bisa tertawa, suasana hatinya menjadi nyaman, di kantor Master, dia mengatakan, ini adalah pertama kalinya dalam bertahun-tahun, dia merasa begitu rileks. Oleh karena itu, tubuh adalah penjara diri kita, karena kita memiliki mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran, karena kita mengira mata adalah milik kita, hidung adalah milik kita, telinga adalah yang kita ketahui dan kita dengar, kita mengira kesadaran kita pun adalah milik diri sendiri, sesungguhnya, ini berarti kamu sudah memasuki penjara ini, kamu sudah dikendalikan olehnya. Karena matamu ingin melihat yang indah, hidungmu ingin mencium yang wangi, mulutmu ingin makan yang enak, telingamu ingin mendengarkan kata-kata yang baik, pikiranmu berpikir dirimu sendiri seharusnya bagaimana, maka sebenarnya kamu sudah dipenjarakan oleh dirimu sendiri, dikurung ke dalam penjara mata-telinga-hidung-lidah-tubuh-pikiran ini, karena kamu mengira mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, pikiran – semua benda yang ada pada tubuh ini adalah milik saya, maka saya harus mendengarkan mereka.

 

Kaki sudah patah, apakah kaki adalah milikmu? Kelenjar susu payudara tumbuh abnormal, lalu payudara dipotong, apakah itu masih milikmu? Empedu adalah milikmu bukan? Tetapi empedu sudah tidak ada, tetapi rambut masih milikmu bukan, kalau begitu jangan kamu potong saja. Kamu mengira semua ini adalah milikmu, jadi kamu tidak rela memberikannya pada orang lain. Kita sesungguhnya tidak memiliki apapun, semua benda yang kita miliki adalah pelan-pelan tumbuh keluar, semua ini adalah berdasarkan konsep pandangan dirimu sendiri pelan-pelan tumbuh keluar. Semasa kecil dilahirkan, apakah kamu memiliki konsep pandangan? Apakah kamu berpendapat kalau kamu sangat hebat? Tidak ada. Setelah dilahirkan sewaktu masih kecil, kamu suka bermain seperti orang lain, lalu pelan-pelan mengetahui kalau orang tua sendiri kaya, mengetahui kalau ayah dan ibumu menjadi pejabat, kesadaran seperti itu baru pelan-pelan tumbuh keluar. Oleh karena itu, semua ini, dirimu sendiri yang memikirkannya, dan apapun yang dipikirkan adalah palsu, bukan sesuatu yang nyata. Oleh karena itu, kalian sendiri merasa bahwa kekuasaan yang saya miliki tidak terlihat, ketenaran dan nama baik tidak terlihat, uang setelah habis digunakan juga tidak terlihat, semuanya ini, kamu merasa adalah milikmu sendiri, namun sesungguhnya kamu sudah dibelenggu oleh benda-benda ini, batinmu tidak bisa memperoleh kebebasan dan keleluasaan yang sesungguhnya. Ketika seseorang mengira benda-benda yang dimilikinya semakin banyak, maka sesungguhnya belenggu yang mengikat kaki dan tangannya akan menjadi semakin erat.

 

Contoh sederhana, keluarga yang sangat miskin, bila pergi keluar, begitu menutup pintu, pergi keluar pun tidak takut akan ada orang yang mencuri. Kalau ada semakin banyak barang yang berharga di rumahmu, bukankah berarti kamu telah diikat oleh rumah? Yang ada di rumah kalian, yang ini punyamu, yang itu juga punyamu, ini tidak bisa dicuri, itu juga tidak bisa diambil, bukankah berarti kamu sudah terkunci oleh rumah ini? Apalagi yang bisa kamu lakukan? Hari ini, wanita ini melahirkan lima orang anak, dia berkata, “Master Lu, saya tidak bisa melakukan apapun”. Mengapa tidak bisa melakukannya? Karena kamu telah diikat oleh anak-anakmu, kamu harus terus sibuk sampai tidak tahu kapan, kamu baru bisa bebas. Lima orang anak, yang paling kecil hanya berusia belasan tahun, tunggu kamu membesarkannya sampai dewasa, menikah, melahirkan anak … mungkin saja kesibukanmu tidak bisa sampai saat itu, lalu kamu sudah meninggal. Oleh karena itu, Master beritahu kalian, yang benar-benar ingin memperoleh kebebasan dan keleluasaan adalah dari dalam hati, maka Buddha dan Bodhisattva meminta kita untuk menghadapi kebenaran hidup ini, Buddha dan Bodhisattva meminta kita memahami apakah prinsip kebenaran sejati dari kehidupan ini, apakah kenyataan dari kehidupan ini. Kenyataan dari kehidupan ini adalah, seiring dengan jerit tangis, kita datang membawa kepedihan seumur hidup, terakhir dengan ketidakberdayaan, kita pergi meninggalkan dunia ini, inilah kebenaran sejati dalam hidup ini. Siapa yang bisa melarikan diri dari kebenaran ini? Bukankah dengan satu tangisan, maka kita telah memasuki ke dunia ini, selanjutnya dengan penuh kebingungan, tidak tahu baik atau buruk, menjalani seumur hidup sampai pada akhirnya, seiring dengan helaan napas dan ketidakberdayaan, walau tidak ingin pergi, namun akhirnya tetap meninggalkan dunia ini, bukankah inilah kenyataan manusia yang sesungguhnya? Kita hidup di dunia ini, memangnya masih tidak memahami wujud kebenaran ini?

 

Oleh karena itu, Bodhisattva ingin kita lebih memahami kebenaran dari kehidupan-kehidupan ini, agar bisa secara langsung memasuki penelusuran kebenaran sejati. Apakah prinsip kebenaran sejati ini? Yakni, harus memahami bahwa kita hidup di dunia ini bersifat sementara, kita harus mencari ketidaklenyapan yang abadi, itu adalah setelah kita meninggal nanti, jiwa kita seharusnya pergi ke mana, kita harus aktif mencari ke dalam lubuk jiwa kita yang terdalam, untuk menemukan ruang kosong kebebasan jiwa kita. Coba pikirkan, di mana ruang kosong kita? Apakah sekarang kita memiliki kekosongan? Setiap hal-hal dalam keseharian kamu di rumah, setiap masalah, pergi-pulang kerja, setiap hari berlalu begitu saja, hidup kita pun seiring dengan berjalannya waktu bergulir menuju kelenyapan, sudah berapa banyak jasa kebajikan yang kamu lakukan? Apa yang sudah kamu dapatkan? Kamu sudah kehilangan berapa banyak? Orang tua kita hidup dan bekerja di tengah ketidaksadaran, seumur hidup menyibukkan dirinya demi putra putrinya, terakhir meninggalkan kita dengan begitu saja, apakah kita sekarang yang telah menekuni Dharma masih ingin seperti mereka? Ada sebagian orang dalam grup muda-mudi kita, masih begitu muda, namun mereka mau berkorban, mereka bisa tidak punya apapun, akan tetapi yang mereka miliki adalah pergi tanpa sakit dan bencana menjelang ajalnya, mereka bisa pergi ke Surga, saat mereka meninggal, kita tidak perlu membicarakannya, namun sekarang saat mereka masih hidup, mereka tidak sakit, sesederhana itu saja. Menurutmu, mereka sekarang masih begitu muda, kalau begitu coba kamu lihat, biksu dan biksuni, kalian memanggil mereka sebagai guru, kalau guru seharusnya adalah teladan kita, apakah mereka pergi mencari kerja? Mereka hanya punya semangkuk nasi untuk makan, tempat untuk tidur, mereka bisa melepas, juga mampu memikul tanggung jawab, apakah kalian mampu?

 

Kemarin malam, Master bercanda dengan teman-teman kecil di grup muda-mudi, “Kalian semua berkata kalau kalian mencintai Master, kalian semua sangat baik pada Master, ‘Master, saya mencintai Pintu Dharma ini, saya ingin mengikuti Pintu Dharma Master’. Jika sekarang Master berkata, ayo kita naik gunung, sekarang ada 3000 orang murid, coba kamu beritahu saya, ada berapa orang yang bersedia mencukur rambutnya dan mengikuti Master pergi ke gunung?” Semuanya palsu, karena kalian masih belum bisa melepas, kalian masih belum bisa membebaskan diri, jika di antara 3000 orang ini, tidak ada 10%nya yang bersedia mengikuti Master pergi ke gunung, jika ada 300 orang yang mau mengikuti Master pergi ke gunung, Master sudah berkata “A Mi Tuo Fo”. Apakah mau? Jangan berpura-pura berwelas asih, jangan berpura-pura membina diri, jangan hidup dengan membohongi diri sendiri, kita sudah membohongi diri sendiri seumur hidup, kapan kita bisa tidak lagi membohongi diri sendiri? Tidak ada pekerja, memangnya tidak ada welas asih di hatinya? Tidak menghasilkan uang, apakah mereka tidak pernah memikirkan diri sendiri? Sekarang ada beberapa orang dalam grup muda-mudi, di antara murid pengikut Master juga ada beberapa orang, coba kalian lihat apakah mereka nantinya akan miskin? Coba lihat, apakah mereka di masa tua nanti akan jatuh sakit? Coba lihat, apakah mereka sekarang akan menderita penyakit kronis? Penyakit yang diderita oleh kalian para orang tua sekarang, coba lihat, mereka orang-orang yang sekarang melakukan jasa kebajikan, apakah nantinya akan terjangkit penyakit ini? Mereka tidak menikah, tetapi mereka sangat bahagia, mereka tidak berhutang pada orang lain, juga tidak menginginkan orang lain untuk membayar mereka; kalian yang menikah, dipusingkan oleh anak, setiap hari merasa sangat menderita.

 

Menekuni Dharma sampai pada akhirnya, harus belajar memiliki kesadaran spiritual yang baik. Apa yang sudah kalian relakan? Coba pikirkan. Master pernah mengatakan, jika kalian, baik murid maupun murid pengikut, jika perekonomian kalian kurang baik, kalian jangan mengikuti Master pergi menyebarkan Dharma keliling dunia, cukup melafalkan paritta di Guan Yin Tang pun sama saja, Master tidak ingin kalian pergi bekerja demi uang ini, karena tubuh kalian sudah tidak kuat lagi, kalian bekerja mati-matian demi mendapatkan uang ini, ingat, di sini bekerja mati-matian, kalian bisa kehilangan nyawa, kalian sedang mempertaruhkan nyawa tua ini untuk mendapatkan sedikit uang ini. Jika hari ini masih ada makanan, masih bisa tidur, maka kita seharusnya merelakan, jangan mencari uang, kamu tahu kalau hidupmu di tengah pencarian uang yang tidak berarti ini pada akhirnya akan hilang dan lenyap. Master tidak percaya, Tante Zhou karena tidak mengikuti Master pergi berkeliling dunia membabarkan Dharma, lalu jasa kebajikannya jadi berkurang? Kalian orang-orang ini, tingkat kesadaran spiritualnya masih terlalu buruk, kalian yang menjadi murid pengikut masih jauh sekali. Master sering berpikir, jika pada suatu hari nanti, Bodhisattva menyuruh Master naik gunung, maka Master akan segera meninggalkan semua ini, Master bisa segera naik gunung, siapa di antara kalian murid pengikut ini yang berani berkata mau mengikut Master naik gunung? Masih terlalu jauh sekali, kesadaran spiritual kalian masih terlalu rendah, coba kalian sendiri renungkan baik-baik, setiap hari bekerja demi kehidupan sehari-hari, tahukah kamu, demi kehidupan sehari-hari, kapan dirimu bisa berhenti? Coba kalian beritahu saya, kapan adalah hari terakhir? Coba kalian beritahu saya, apakah ada akhirnya? Akan tetapi, hidup kalian ada akhirnya, mengerti? Nyawa kalian akan hilang dengan cepat, sudah tidak sampai beberapa tahun lagi, masih setiap hari dipenuhi dengan ketamakan, kebencian, dan kebodohan, masih setiap hari mengira diri sendiri memiliki masa depan yang indah, coba saja pelan-pelan menunggu.

 

Kita harus berpikir bahwa, ada jurang yang tidak bisa kita lompati, dalam menekuni Dharma pun, kita bisa menyimpang, maka, kita tidak akan bisa memahami pikiran sendiri dan menemukan sifat dasar. Karena ketika kamu mengalami penyimpangan, saat kamu menekuni Dharma sampai pada suatu waktu tertentu, kamu akan tersesat, bisa menjadi bodoh, akan memiliki nafsu keinginan, bisa menjadi sombong. Kalau kalian menjadikan nafsu keinginan sebagai keyakinan, maka nafsu keinginan kalian adalah keyakinan kalian, apakah kalian mengerti? Banyak orang mengatakan, saya seumur hidup ini hanya ingin memiliki sebuah rumah besar di pinggir pantai, ini adalah keyakinan saya; banyak orang mengatakan, asalkan saya bisa mendapatkan berapa banyak uang, maka saya akan pensiun. Dia menjadikan nafsu keinginan sebagai agama dan kepercayaannya sendiri, dan dia menggunakan agama sebagai “senjata”nya, karena sudah belajar sedikit Dharma, lalu hari ini mengatakan yang ini, besok mengatakan yang itu, halangan karma buruknya berat sekali. Baru saja keluar dari penjara duniawi, lalu kembali memasuki belenggu keagamaan, apakah bisa membebaskan dirinya? Oleh karena itu, banyak praktisi Buddhis melihat Xin Ling Fa Men, merasa sangat suka, segera seperti menemukan sanak keluarganya, akan tetapi ada juga sebagian orang yang tidak berani mengenalinya, apakah dia bisa membebaskan dirinya? Jika sekarang ada satu orang berkata pada orang yang satunya, ada lagi satu Pintu Dharma baru yang bagus, asalkan guru sudah membuktikannya, semuanya bagus, kalian boleh pergi mencari Pintu Dharma yang lain, Master tidak akan menghalangi kalian, akan tetapi, ada berapa orang yang bisa berbuat demikian? Ada banyak guru yang masih berpikir, murid saya, pengikut saya, semua ini adalah milik saya, tidak seharusnya diberikan pada orang lain. Hari ini, Master mampu merelakannya, jangankan kalian di antara para murid pengikut, tidak peduli siapapun kamu, jika tidak menekuni Dharma dengan sungguh-sungguh, semuanya bisa Master relakan. Sesungguhnya, bukan Bodhisattva yang sedang merelakan kalian, melainkan kalian yang meninggalkan Bodhisattva, Bodhisattva selamanya mencintai dan melindungi kalian, sedangkan orang-orang sering meninggalkan Bodhisattva.