22. Seorang Praktisi Buddhis harus bisa “Melihat Menembus” Kebenaran — 学佛人要懂得“看破”

Seorang Praktisi Buddhis harus bisa “Melihat Menembus” Kebenaran

Hari ini saya akan melanjutkan pembahasan, kita dalam menjalani hidup dan menekuni Buddha Dharma, bila menghadapi kekecewaan dan kegagalan, bagaimana seharusnya kita melanjutkannya? Banyak orang setelah menghadapi kekecewaan dan kegagalan, mengeluh dan menyalahkan semuanya. Sesungguhnya, kita harus memahami bahwa, gembok yang membelenggu tubuh dan pikiran kita sendiri, sebenarnya adalah jebakan yang kamu ciptakan sendiri. Mengapa seseorang bisa menghadapi kekecewaan dan kegagalan? Kamu jangan mengeluh dan menyalahkan semua orang, coba kamu pikirkan, bukankah kamu sendiri yang membelenggu dirimu sendiri? Itu adalah jebakan yang kamu ciptakan sendiri, dan kamu  sendiri yang terjerumus masuk ke dalamnya, selain itu juga dirimu sendiri yang rela mencicipi pahitnya kesedihan di dunia ini. Coba pikirkan, dulu kita sudah mengalami begitu banyak bencana dan kesulitan, kita sering berada di tengah penderitaan ini dan tidak bisa keluar. Kita bukan hanya tidak bisa keluar, namun masih di tengah kesusahan itu mencicipi rasanya kesedihan. Lalu kesusahan-kesusahan ini, siapa yang menciptakannya untuk kalian? Itu adalah jebakan yang kita ciptakan sendiri. Lalu bagaimana kita bisa menciptakan jebakan ini? Karena “gembok” pada tubuh kita. Apakah “gembok” ini? Itu adalah ketamakan, kebencian, dan kebodohanmu, adalah gembok yang membelenggu tubuh dan jiwamu sendiri.

 

Banyak orang menghadapi kesusahan dan kegagalan, dia tidak mengubahnya menjadi kekuatan yang positif, melainkan mengubahnya menjadi energi negatif untuk merendahkan diri sendiri. Dengan kata lain, banyak orang saat menghadapi kesusahan, saat di rumah tidak bisa berpikiran terbuka, dia akan bunuh diri; ada sebagian orang saat tidak bisa berpikiran terbuka, dia akan mengutuk diri sendiri, setiap hari berteriak-teriak ingin membalas dendam, ingin membalas ketidakadilan. Lalu kapan dendam ini datang? Ini adalah sesuatu yang kamu datangkan sendiri; kapan keluhan ini datang, juga kamu sendiri yang mengundangnya, sedangkan semuanya ini, tidak akan membuat penderitaanmu sedikit pun berkurang, karena adanya energi negatif. Apakah energi negatif ini? Karena saat kamu tidak bisa mengenali kesalahan ini, sewaktu kamu tidak bisa memahami jebakan yang kamu ciptakan sendiri, ketika kamu tidak bisa mengetahui gembok yang kamu bawa sendiri, itu adalah saat di mana kamu paling menderita. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis harus sering merasa bersalah, yakni selalu merasa kalau diri sendiri bersalah terhadap orang lain. Ada sebagian orang tidak memiliki perasaan bersyukur, juga perasaan bersalah di hatinya, dari yang mulanya terbuka dan tidak takut, menjadi tertutup dan merendahkan diri. Apa maksudnya? Pada awalnya adalah orang yang berani mengatakan apapun yang ingin dikatakannya, mulanya adalah orang yang menekuni Dharma dengan sangat serius, namun karena ada halangan dalam pikirannya, dan dia tidak memiliki perasaan bersalah, maka dia menjadi condong ke tertutup dan merendahkan diri. Karena ingin mendapatkan keuntungan tertentu, dia sendiri harus merendahkan diri di hadapan benda-benda ini, terhadap diri sendiri, dia sudah merasa malu, karena tubuh dan pikirannya sudah terbelenggu dan terpukul keras.

 

Membahas sampai di sini, Master ingin mengatakan, “praktisi bila membawa gembok belenggu”, dengan kata lain, kita dalam bersikap dan berperilaku bila ada “gembok” yang membelenggu kamu, maka “bagai bergerak dengan belenggu di tangannya”, dengan kata lain, saat kamu menyelesaikan suatu masalah, jika kamu tidak mampu menerapkan Dharma yang dipelajari untuk melihat kebenarannya, maka itu sama seperti kamu mengenakan “borgol”, yang sesungguhnya adalah gembok, pada akhirnya yang tersisa hanyalah jiwa yang membusuk. Master berharap kalian setiap orang bisa merenungkannya baik-baik, mengapa kita tidak boleh menjadi budak untuk diri sendiri? Mengapa kita saat bersikap dan berperilaku terkadang tidak berani mengangkat kepala? Karena kita menciptakan benang yang membelit diri sendiri, tubuh dan pikiran kita terikat dan terpukul. Pikiran kita sudah diikat oleh orang lain, makanya, kita menjadi rendah diri dan tertutup; kita demi memperoleh suatu keuntungan tertentu, maka kita akan dibelenggu orang lain.

 

Oleh karena itu, kita harus memahami teori karma kebaikan dan kejahatan. Seseorang hidup di dunia ini, harus memahami karma tentang kebaikan dan kejahatan. Jika kamu tidak memahami karma tentang kebaikan dan kejahatan, maka dirimu yang sekarang tidak akan memperoleh apapun; namun bila kamu memahami karma tentang kebaikan dan kejahatan, coba pikirkan, kamu hanyalah masa lalu, dirimu yang sekarang hanyalah titik yang menghubungkan masa lalu dan masa sekarang. Coba renungkan, masalah yang dulu bukankah sudah berlalu? Sekarang kita akan mengerjakan hal yang baru, bukankah kita adalah poin penghubung? Selanjutnya, kita akan mengerjakan hal yang baru, pekerjaan yang kita lakukan dulu masih terus dilakukan, sesungguhnya juga hanya mengandalkan kamu orang ini sebagai suatu penghubung saja. Apa yang kamu dapatkan? Yang lalu semuanya sudah hilang; kamu kehilangan apa? Saya masih belum melakukan apapun, apa yang saya miliki? Ini adalah titik penghubung, dan titik penghubung ini membuatmu berada di antara tumimbal lahir kelahiran dan kematian yang tiada taranya. Karena dulu kamu sudah melakukan banyak hal, semuanya sudah berlalu, maka sekarang sudah mulai berputar lagi; masa depan kamu, masa yang sekarang, sudah mulai kamu kerjakan lagi. Jika sekarang kamu melakukan perbuatan baik, maka di masa depan, kamu akan terlahir di Surga; kalau sekarang kamu melakukan kejahatan, ditambah dengan kejahatan yang kamu lakukan di masa lalu, akan membuat kamu terlahir di Alam Akhirat dan Neraka. Oleh karena itu, pemikiran dan perilaku kita orang-orang zaman sekarang dipengaruhi dan merupakan balasan karma dari bibit karma yang kita tanam di masa lalu.

 

Contoh sederhana, jika di kehidupan sebelumnya, kamu adalah seorang wanita, lalu di kehidupan ini, kamu terlahir ke Alam Manusia meskipun sebagai pria, namun kamu tetap akan melakukan banyak pekerjaan wanita, kamu terus menerima pengaruh dari kehidupan kamu yang sebelumnya, yakni respon dan panggilan, ini berarti “cap” dari kehidupanmu yang sebelumnya masih belum sepenuhnya hilang, maka di kehidupan ini, kamu masih terus akan melakukan hal-hal yang dilakukan banyak wanita dari kehidupan sebelumnya, mengerti? Balasan karmamu juga adalah balasan karma dari kehidupanmu sebelumnya berlanjut menjadi balasan karmamu di kehidupan ini, oleh karena itu, balasan karmamu sekarang adalah balasan karmamu di kehidupan sebelumnya, sedangkan balasan karmamu dari kehidupan sebelumnya akan terus dibalaskan di kehidupan ini, kemudian ditambahkan dengan karma baru kamu, dan kamu terus menerima balasan karmanya. Jangan mengira, kita terlahir di dunia ini tanpa memiliki apapun, benda yang kita bawa memang tidak ada apapun, namun sesungguhnya “benda” yang kamu bawa sudah cukup banyak, seperti kebiasaan buruk yang kita kembangkan semasa kecil, sesungguhnya sudah menjadi “luka” yang sangat besar bagi seumur hidup kita. Sewaktu kita kecil, kebiasaan buruk yang kita pelajari, bukankah akan menyakiti diri kita sendiri setelah kamu menikah nanti? Sewaktu kecil tidak mau berpikir logis, setelah menikah, terus tidak mau bertindak sesuai logika yang benar, benar tidak? Sewaktu kecil, semena-mena, setelah dewasa nanti, dalam hidup dan pekerjaan, tetap bertindak sesuka hati, bukankah kamu sudah menerima balasan karmanya? Oleh karena itu, inilah penyebab yang akan melahirkan buah karma di masa depan nanti. Dengan kata lain, pengaruh dan balasan karmamu yang dulu, seperti kesalahan yang kamu lakukan semasa kecil, sekarang kamu sudah menerima balasannya, benar tidak? Kemudian, apa buah karma yang terlahir di masa depan? Sekarang dan di masa depan nanti, sesungguhnya kamu akan menerima karma apa, karma baik atau karma bersama? Karena ini adalah respon yang kamu terima dari kehidupan sebelumnya dan penyebab atas bibit karma yang kamu tanam di kehidupan ini.

 

Master membahas sampai di sini, kesimpulannya satu saja, {Bai Hua Fo Fa} sangat sederhana, bibit karma yang kalian ciptakan di masa lalu, sampai di kehidupan ini masih belum berakhir, kemudian terus menjadi bibit karma kalian; bibit karma dan kebiasaan yang kalian ciptakan semasa muda, akan menentukan buah balasan karma seperti apa yang akan kalian terima sekarang dan di masa depan nanti. Seorang anak perempuan dari kecil sudah bisa bersopan santun dan memahami banyak hal, sudah bisa mengalah, maka setelah dewasa nanti, hidupnya akan selalu lancar; seorang anak perempuan lain, semenjak kecil sudah perhitungan, berhati sempit, tidak bisa berpikiran terbuka dalam segala hal, maka setelah dia dewasa nanti, jalan hidupnya akan dipenuhi dengan halangan. Benar tidak? Anak yang dilahirkan dan dimanjakan oleh orang tuanya, sampai di tempat kerja nanti, ada berapa orang yang kondisinya baik? Dipojokkan orang-orang, pulang ke rumah lalu menangis. Kalau dari kecil sudah berani dan terbuka, dalam berperilaku dan bekerja memiliki hati yang lapang, di tempat kerjanya, dalam bertindak, dia selamanya akan memperoleh banyak kemudahan. Ini berarti, buah akibat kamu terbentuk dari bibit penyebab yang kamu tanam semasa kecil dan bibit karmamu dari kehidupan sebelumnya. Apakah kalian mengerti? Oleh karena itu, jangan memandang “karma” sebagai suatu kaidah yang abstrak, “Aduh, karma ya”, dia tidak bersifat abstrak, dia bisa diubah melalui pengamatan dan pengalamanmu sendiri, karena kamu sendiri sedang mengamati karma dan pengalaman hidupmu sendiri, maka kamu pun bisa memahami karma ini sesungguhnya telah menciptakan efek seperti apa pada dirimu.

 

Dulu Tante Zhou sangat keras kepala, sekarang begitu dipikirkan, banyak kerugian yang dialaminya karena wataknya sendiri yang keras kepala, “Saya karena memiliki temperamen yang buruk, makanya saya sekarang baru bisa memiliki buah karma ini”, benar tidak? Kamu harus mengamatinya, maka kamu akan tahu bahwa, semua karma akan teraktivasi pada tubuhmu, mereka tidak pernah pergi. Sewaktu kecil, salah makan sampai sakit perut, karena sudah menanam bibit karma ini, sudah makan makanan yang tidak bagus, jadi perutnya sakit. Hari ini, ayahnya Xiao Ma mengapa bisa sakit keras seperti ini? Karena penyakit prostatnya tidak pernah sembuh, masalah kecil ini, dia tidak pernah menyembuhkannya, menyebabkan tubuhnya sama sekali tidak sehat, sudah tidak bisa sembuh, benar tidak? Kalau begitu karena bibit karma ini ditanam, maka dia baru bisa memiliki buah karma ini pada hari ini, pergi ke rumah sakit masuk gawat darurat, sudah begitu banyak menderita, bukankah karena bibit penyebab yang diciptakan sendiri. Kalau begitu, bukankah karma setiap hari berada di sisi kita?  Bila kamu sakit, dan biasanya kamu memperhatikan diri sendiri, kamu lebih dini mendengarkan Master mengatakan tentang penyakitmu ini, mendengarkan lebih awal, lalu lebih banyak minum air pada awalnya, lebih awal periksa ke dokter, mungkin hari ini, dia tidak perlu begitu menderita, selain itu masih bisa membahayakan nyawanya. Semua karma sama sekali bukan konsep pemikiran, maka kita harus memandang karma sebagai dasar panduan bagi kehidupan nyata kita di dunia ini.

 

Mengapa hari ini dia bisa berhasil? Karena dia sudah menanam bibit keberhasilan; mengapa jodoh orang ini begitu baik, semua orang menyukainya? Karena dia sudah menanam bibit karma dari jodoh baik dengan orang-orang; hari ini mengapa tubuh orang ini begitu sehat? Karena dia sudah menanam bibit karma tubuh yang sehat, dia berolahraga, dia makan makanan sehat. Semuanya ini, kita manusia hidup di dunia ini, adalah “menanam bibit menuai bibit, menanam buah menuai buah”, setiap hari kita berputar-putar tanpa henti di tengah karma. Mengapa kalian sekarang belajar Dharma dengan begitu senang? Karena kalian terpikirkan kalau kalian sudah menanam bibit Bodhisattva, makanya kalian bersukacita dalam Dharma, kalian baru bisa setiap hari menekuni Dharma dengan sangat senang. Karena kalian sudah menanam bibit kebaikan ini, kalian baru bisa menerima buah kebaikan ini. Oleh karena itu, kita harus menggunakan karma untuk melihat segala yang kita hadapi di kehidupan ini. Sekarang ketidaklancaran yang kalian alami di tempat kerja, ketidakharmonisan keluarga, kesehatan tubuh yang tidak baik, semua pengalaman ini, sesungguhnya, jika kamu memandangnya menggunakan “karma”, maka kamu tidak akan merasa tidak senang, kamu tidak akan keberatan, kamu akan merasa bahwa hidup di dunia ini, tidak ada apapun yang patut membuat saya marah, semuanya adalah karma, setelah karma, baru mulai bertumimbal lahir.