Dari Kerisauan Terlahirlah Kebijaksanaan
Kita harus memahami bahwa kebijaksanaan dan konsentrasi Zen bisa melenyapkan dengan bersih semua – berbagai macam bentuk kerisauan seumur hidup. Coba kalian pikirkan, apa maksudnya? Ketika seseorang memiliki kebijaksanaan, dan pikirannya bisa menjadi tenang dan terpusat, ini adalah konsentrasi Zen, maka orang ini akan mampu menghilangkan kerisauan. Ketika kerisauan datang, ia paling takut pada orang yang memiliki kebijaksanaan. Saat kerisauan datang, yang paling ditakutkan adalah orang yang pikirannya bisa tenang. “Gawat, ada masalah.” “Coba kamu beritahu saya, masalah apa?” Lalu ia segera memiliki cara untuk menyelesaikannya, kebijaksanaan sudah terlahir keluar. Tidak panik dan tidak tergesa-gesa, maka bisa menyelesaikan masalah. Harus memahami bahwa konsentrasi Zen ditambah dengan kebijaksanaan, bisa menghapuskan kerisauanmu yang tiada batasnya.
Kekurangan seseorang sesungguhnya adalah suka mencari kerisauan sendiri, karena kerisauan adalah dirimu sendiri yang mencarinya, di dunia ini sesungguhnya tidak ada masalah, orang awam saja yang khawatir sendiri. Kalau kamu mendatangkan kerisauan, namun kamu sendiri tidak memiliki keteguhan batin, kamu juga tidak punya kebijaksanaan, bagaimana kamu bisa menghilangkannya? Ini sama dengan kamu membawa sampah pulang ke rumah, tetapi kamu tidak bisa membersihkannya, maka sampah di rumahmu semakin lama semakin banyak.
Medan aura dan kebijaksanaan seseorang, semuanya berhubungan dengan jodohnya. Orang yang bermedan aura tidak baik mudah dirasuki hawa buruk, oleh karena itu, saat seseorang sedang sakit, atau saat dia merasa kepalanya berat dan tidak bisa berpikir jelas, maka ini adalah saat yang paling mudah terjadi penyimpangan pada orang ini. Coba kalian lihat, orang yang ingin menipu orang lain, pertama-tama dia terlebih dahulu membuat pikiran lawan bicaranya menjadi kacau-balau, baru kemudian menipunya. Apabila medan aura orang ini tidak bagus, dia akan mudah dirasuki hawa buruk.
Master ajarkan kalian, jika melihat upacara pemakaman, atau melihat darah di jalan, banyak orang yang bisa jatuh sakit. Mengapa? Mudah saja, dalam ilmu rajah wajah, berarti orang ini memiliki “ba zi – delapan karakter” yang rendah – lebih sensitif terhadap hal-hal negatif, berarti delapan karakternya ternodai, tidak bersih. Hari ini saya membahas hal ini, sebagai dasar untuk pembahasan Dharma yang akan kita pelajari selanjutnya. Kalau “delapan karakter” kamu rendah, energi kotor – energi negatif kamu akan meningkat. Setelah energi negatif kamu meningkat, setelah seseorang meninggal, jiwa dan roh dari dunia yin dan yang akan menyambut, maka raga dan jiwa akan berkumpul, berarti yang tanah kembali ke tanah, sedangkan jiwa akan kembali ke Surga, berarti jiwa akan berjalan ke atas, sedangkan roh akan berjalan ke bawah, maka dinamakan “ling hun” – jiwa dan roh. Yang seperti ini, mengapa bisa berkumpul? Master beritahu kalian, jika energi negatif seseorang terlalu berat, yang berarti energi yin orang ini terlalu dalam, maka pelan-pelan akan menyebabkan dia terhubung lebih banyak dengan dunia roh. Apabila seseorang yang sepanjang hari menghela napas dan mengeluh di hadapanmu, Master meminta kalian untuk berhati-hati, jangan bicara terlalu banyak padanya. Kita harus lebih banyak melafalkan {Da Bei Zhou} dan {Jing Kou Ye Zhen Yan}, kedua paritta ini bisa menangkal banyak energi negatif yang kotor, dan energi yin dari dunia roh.
Seorang praktisi Buddhis harus mengurangi terlahirnya kerisauan pada dirinya, karena begitu kerisauan terlahir pada diri seseorang, ini menunjukkan tidak adanya kebijaksanaan. Hari ini kalian semua murid-murid yang mendengarkan di bawah, sepertinya sangat tenang dan bersih, coba kalian bayangkan, jika kalian hari ini masih memiliki kerisauan, kalian pasti tidak akan memiliki kebijaksanaan, mencaci-maki orang dan menghasut atau menyebarkan gosip yang tidak benar, juga merupakan ketiadaan kebijaksanaan. Tiada kebijaksanaan, berarti kamu tidak akan memperoleh apapun, “tiada kebijaksanaan berarti tiada yang didapatkan, maka tidak mendapatkan apapun.” Master berharap kalian bisa memahami prinsip-prinsip kebenaran ini.
Seseorang yang melafalkan paritta – menyebut nama Buddha, sama dengan menjaga pikiran, karena pikiranmu sedang bergerak, maka Buddha baru bisa ikut bergerak denganmu. Kalau kamu melafalkan paritta tidak disertai dengan pikiran, bagaimana kamu bisa membuat Bodhisattva bergerak? Seperti kamu ingin mengatakan kalau hal ini membuat seseorang terharu, kalau kamu sendiri tidak terlebih dahulu terharu, bagaimana mungkin kamu bisa membuat orang lain terharu? Prinsipnya sama semua. Master berharap kalian bisa hidup dalam kesusahan, seorang praktisi Buddhis harus bisa hidup dalam kesusahan, harus menyebarluaskan ajaran Dharma yang benar, apakah ajaran Dharma yang benar? Berarti pikiran harus benar, perilaku harus benar, niat harus benar, maka hal-hal yang dilakukan orang ini pasti adalah benar. Dengan segenap hati dan pikiran, jangan sampai terlahir perasaan angkuh – tidak hormat, tidak menganggap penting Bodhisattva, merasa hari ini saya boleh melafalkan paritta juga boleh tidak, hari ini saya boleh tidak mencuci tangan langsung menyembah Buddha, sama sekali tidak boleh sembarangan, semua ini merupakan noda kotoran dalam jiwamu, seiring dengan perjalanan waktu, jika noda-noda kotoran ini terus tersimpan di hatimu, maka nantinya akan sangat susah untuk dicuci bersih, inilah mengapa di dalam hatimu muncul tanda-tanda kekotoran batin. Angkuh karena tidak menganggap penting, setiap perilaku dan sikap Buddha, harus dipandang penting, coba pikirkan, mengapa orang lain bisa bersikap sedemikian rupa terhadap Buddha dan Bodhisattva, mengapa saya tidak bisa?
Dengan segenap hati lebih banyak mengingat Master, dengan segenap hati lebih banyak mengingat Bodhisattva, akan memperoleh lebih banyak berkat kekuatan. Melenyapkan halangan, menghilangkan kerisauan, maka kamu akan memperoleh berkah pahala. Banyak orang tidak mengerti, mengapa saya ini tidak memiliki berkah pahala, mengapa apapun yang saya lakukan tidak ada yang berhasil? Sesungguhnya karena berkah pahalanya kurang, dari mana berkah pahala berasal? Dari menghormati orang lain, dengan tulus mengingat Master dan Bodhisattva, memegang prinsip kemanusiaan, kebenaran, kesopanan, kebijaksanaan, dan kepercayaan, memahami tidak boleh memiliki perasaan sombong, maka pelan-pelan keadaan orang ini akan membaik.
Menghargai hidup, berani memberi dengan sukacita, seseorang yang mempraktikkan cinta kasih, welas asih, sukacita, dan keseimbangan batin, berarti dia sedang menghargai hidupnya sendiri. Kesusahan, kesulitan, semakin terpuruk semakin sulit, jika kamu tidak bisa mengeluarkan diri dari kesulitan, maka lambat-laun, keadaan kamu akan menjadi semakin susah. Terbebaskan, terbebaskan, semakin bisa teruraikan semakin bisa menjauhinya, hari ini bisa terbebaskan sedikit, besok bisa terbebaskan sedikit, lambat laun, saya pun bisa terbebaskan. Kerisauan bagaikan seutas tali, jika ingin terbebaskan, maka hari ini dilonggarkan sedikit, besok dilonggarkan sedikit, semakin lama semakin longgar. Membina pikiran dan membina perilaku, maka pikiran semakin lama menjadi semakin bersih. Kalau pikiran tidak bersih, berarti tidak membina pikiran dengan baik; jika pikiran semakin bersih, berarti pembinaanmu semakin bagus.
Seorang praktisi Buddhis sejati, terutama seseorang yang memahami ajaran Buddha Dharma, sama sekali tidak boleh melewati satu hari dalam kemurungan. Apabila hari ini kamu dari pagi sampai malam, terus merasa tidak senang, berarti kebijaksanaanmu selama satu hari ini semuanya habis keluar, karena kebijaksanaan dan kerisauaanmu tidak akan tercipta secara bersamaan. Banyak kerisauan, berarti tidak memiliki kebijaksanaan, sedangkan orang yang memiliki kebijaksanaan, berarti tidak memiliki kerisauan. Oleh karena itu, ketika kamu sepanjang hari merasa tidak senang, menunjukkan raut wajah yang penuh kemurungan dan kerisauan, sesungguhnya berarti kamu telah kehilangan kebijaksanaan satu hari yang seharusnya kamu dapatkan.
