Ditentukan Menyesuaikan Jodoh
Hari ini saya akan membahas, pembinaan diri dalam setiap Pintu Dharma semuanya mementingkan satu hal yakni “konsentrasi pikiran”. Tidak peduli siapapun menekuni Pintu Dharma manapun, sesungguhnya konsentrasi pikiran amat sangat penting, dengan memiliki konsentrasi pikiran, maka tidak akan terlahir kekacauan. Seseorang jika tidak memiliki ketenangan atau konsentrasi pikiran, maka dia tidak akan bisa menenangkan dirinya, dia pasti akan menjadi gelisah, hatinya menjadi kacau, perilakunya tidak beraturan, oleh karena itu, orang yang benar-benar bijaksana, harus melatih konsentrasi dalam pikirannya, dengan konsentrasi pikiran tidak akan ada kekacauan. Tidak panik dalam menghadapi masalah apapun, maka tidak akan dikuasai pemikiran sesat, karena ketika pikiran seseorang bisa tenang dan terpusat, maka pemikiran buruk dan niat-niat tidak baik dalam pemikirannya tidak akan menguasai jiwanya, pikirannya akan menjadi lebih stabil. Membina pikiran adalah melatih suatu konsentrasi pikiran, seseorang yang bisa menenangkan pikirannya, baru bisa mengendalikan dirinya untuk tetap tenang, dia baru bisa menekuni Dharma dengan baik. Asalkan ada konsentrasi pikiran, baru bisa membina pikiran dengan baik, begitu pikiranmu berantakan, maka kamu akan keluar dari jalur pembinaan diri. Sesungguhnya, konsentrasi pikiran yang dikatakan dalam ajaran Buddha Dharma, adalah konsentrasi Zen.
Hari ini Master memberitahu kalian, hidup adalah sebuah perjalanan, dia tidak memiliki titik awal, juga tidak memiliki titik akhir. Dari mulai datang ke dunia ini sampai berakhir, tidak ada titik awal, karena begitu sesorang meninggal, maka selanjutnya saat terlahir kembali, titik awal baru akan dimulai; saat titik awal baru sudah dimulai, kembali lagi akan mendekati titik akhir. Dalam kehidupan tidak ada titik akhir, hanya ada asumsi tentang kelahiran dan kematian, tidak terlahirkan adalah titik awal, sedangkan kematian adalah asumsi titik akhir. Umat manusia adalah tamu di bumi ini, penderitaan hidup sesungguhnya adalah buah karma yang muncul dari kehidupan mereka yang sebelumnya, kebahagiaan di kehidupan ini juga merupakan buah karma dari kehidupan sebelumnya, penderitaan di kehidupan ini juga adalah balasan karma dari kehidupan sebelumnya, oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis tidak seharusnya berjalan menyimpang dari jalur yang seharusnya. Dengan kata lain, kita sudah sampai di “tempat wisata” ini, yang tidak lain adalah Alam Manusia ini, maka kita tidak boleh menyimpang dari “jalan” ini, dan “jalan” ini adalah jalan Kebuddhaan. Kita tidak boleh meninggalkan jalan Kebuddhaan, tidak boleh “bertamasya” dan menjalani hidup dengan mengingkari hati nurani sendiri.
Penderitaan dan kebahagiaan ditentukan oleh nidana dan terlahir oleh nidana. Semua penderitaan dan kebahagiaan ditentukan oleh nidana, juga terlahir karena nidana. Penderitaan dan kebahagiaan ini merupakan suatu perasaan dan sebuah sensasi, namun perasaan dan sensasi ini juga hanya bersifat sementara, tidak kekal, karena semua penderitaan ini terlahir dari bibit karma yang kamu tanam, dan kembali ditetapkan mengikuti jodohmu. Oleh karena itu, kita mengatakan, melakukan perbuatan baik menyesuaikan jodoh, maka kita akan memperoleh buah karma baik dan balasan yang baik; jika kita setiap hari mengikuti jodoh buruk, maka nidana kamu akan terlahir mengikuti kesengsaraan.
Nidana di Alam Manusia semuanya tidak kekal, jadi dalam menghadapi kegagalan dan kemenangan, serta kehancuran dan kejayaan, kita jangan terlalu melekat, kita harus menjalin jodoh mengikuti bibit karmanya. Apa maksudnya? Hari ini saya mendapatkan bibit karma ini, maka saya baik-baik menanam bibit karma ini, menanam bibit karma ini ke arah yang baik. Hari ini saya mendapatkan bibit karma baik ini, maka saya harus melakukannya menyesuaikan jodoh, jangan mengingkari niat baik dan melawan jodoh, juga jangan mengingkari hati nurani dan kemauan diri sendiri dalam mengerjakannya. Tekun menyesuaikan jodoh, menjalin jodoh mengikuti bibit karma, sama dengan menyatu dengan pikiran yang alami. Apa maksudnya? Misalnya, menjelang akhir tahun, tahun baru kembali tiba, banyak orang yang berusaha keras mempertahankan umurnya dan mempertahankan keremajaannya, ini seperti pepatah “menggunakan lengan belalang untuk menahan laju mobil, tidak mengetahui batas kemampuan diri sendiri.” Sesungguhnya, kita seharusnya bisa mengendalikan pikiran dan sifat diri sendiri, jangan biarkan pikiran dan sifat kita dengan percuma mengejar nidana-nidana duniawi yang sebenarnya tidak kekal.
Kita harus memahami pentingnya memiliki pikiran yang selaras dengan alam, dengan kata lain, apapun yang kita lakukan dan kita pelajari, semuanya dilakukan secara alami. Kita hidup di dunia ini, segala hal dan segala urusan semuanya adalah kosong, kita sebagai praktisi Buddhis tidak memiliki permintaan apapun, merupakan pembinaan dan tindakan yang benar. Kita setiap hari mengatakan, “tiada permintaan”, namun kita tidak mengetahui betapa pentingnya “tiada permintaan” ini. Jika seseorang sudah tidak memiliki permintaan apapun, berarti dia sudah memiliki keyakinan yang benar, dia sudah melakukan praktik tindakan yang benar. Apabila kalian hari ini masih memohon sesuatu, berarti kamu masih tidak benar. Jika hari ini kamu masih memiliki banyak sekali nafsu keinginan, berarti pembinaan dirimu tidak benar. Jika ingin memahami pikiran sendiri dan melihat sifat dasar sendiri, yakni diri sendiri bisa memahami pikiran sendiri dengan jelas, dan sering melihat sifat dasar sendiri, maka pertama-tama dalam hidup ini harus belajar untuk tidak membenci, sedangkan dalam kehidupan nyata, kita menjalani hari-hari kita dalam kebencian, maka jangan membenci, harus menghargai berkah pahala, harus bisa menyesuaikan jodoh. Jangan memiliki permintaan apapun, dengan demikian kamu akan senantiasa memiliki pemikiran yang benar. Sangat tidak mudah memiliki pemikiran yang benar, banyak orang sering bertanya pada Master: “Ajaran Buddha dan Dharma yang saya pelajari itu benar atau sesat, saya sendiri kok tidak tahu?” Dia mengatakan kalau dia benar, kamu mengatakan kalau kamu benar, maka asalkan kamu renungkan sendiri: Apakah saya adalah orang yang menghargai pahala, adalah orang yang tidak membenci orang lain, adalah orang yang menyesuaikan jodoh? Orang yang demikian baru bisa menekuni Dharma dengan lebih benar.
Kita di tengah perjalanan hidup ini, akar jiwa di dalam diri kita akan tumbuh dewasa. Apakah yang dimaksud dengan akar jiwa? Akar di sini merujuk pada akar atau dasar menekuni Dharma, akar dari sifat dasar, akar Kebuddhaan. Apakah maksud jiwa di sini? Kalau akar adalah fondasi menekuni Dharma, jika ada energi jiwa di atasnya, maka ia bisa bergerak. Dengan kata lain, asalkan orang ini memiliki welas asih, dan menyentuh sampai ke dalam akar dirinya, maka selanjutnya, dia akan menjadi semakin welas asih, ini berarti dinamika dalam dirinya sudah dimulai, maka disebut sebagai akar batin. Oleh karena itu, sifat asli yang semula memang tersadarkan akan terlihat. Dengan kata lain, sifat dasar dan sifat Kebuddhaan yang memang sudah kamu miliki, sudah tersadarkan, dan bersifat baik hati, pelan-pelan akan mulai memahaminya. Sifat asli yang semua tersadarkan, adalah akar sifat yang memang sudah tersadarkan dalam diri kita sendiri. Seperti orang ini, dinasihati seperti apapun tetap tidak sadar, namun ganti orang lain yang menasihatinya, mengapa dia langsung sadar? Karena sifat dasarnya yang sudah tersadarkan masih ada dalam pikirannya.
