Makna Mendalam Dari “Rupa”
Pertama, saya akan membahas tentang tersadarkan seketika dengan kalian. Tersadarkan seketika adalah tiba-tiba bisa memahami banyak prinsip kebenaran, tiba-tiba memahami berarti tiba-tiba dalam dorongan banyak faktor, kamu bisa memahami suatu hal tertentu, ini disebut sebagai tersadarkan seketika. Sama seperti kalian, terkadang dalam melakukan suatu hal, kalian tidak tahu bagaimana hal ini akan berkembang nantinya, juga tidak tahu apa hubungan rumit yang terkandung di dalamnya, ada banyak sekali kesulitannya, akan tetapi apa makna tersadarkan seketika? Yakni tiba-tiba mengerti, bahwa: Oh, ternyata karena faktor penyebab ini yang menyebabkan hasil yang saya terima pada hari ini. Maka dalam waktu sekejap, kamu mengerti. Ada banyak jenis kesadaran dalam menekuni ajaran Buddha Dharma, ada satu lagi yang disebut sebagai tersadarkan secara bertahap, yakni pelan-pelan tersadarkan, setelah sadar secara perlahan, dia semakin lama semakin mengerti. Tersadarkan seketika adalah pada awalnya tidak mengerti, lalu tiba-tiba setelah menghadapi banyak masalah, “Oh, ternyata begini”. Beberapa jenis kesadaran ini semuanya sangat penting.
Dalam kitab suci tercantum, “取相凡夫, 随宜为说 qu xiang fan fu, sui yi wei shuo– Yang melihat pada rupa adalah manusia biasa, berbicara menyesuaikan jodoh”. Apa maksudnya? 取qu — Mengambil, di sini berarti melihat. 相 — Rupa, merujuk pada perilaku dan penampilan luar dari orang ini. “Yang melihat pada rupa adalah manusia biasa”, dengan kata lain, ketika kamu hanya melihat tampak sisi luar orang lain pada saat melakukan sesuatu, maka sesungguhnya, kamu adalah seorang manusia biasa. Misalnya, kamu melihat orang ini bekerja dengan sangat giat di hadapanmu, kelihatannya sangat serius dan sangat tulus, begitu kamu melihatnya, kamu berpendapat bahwa dia adalah orang yang baik, benar tidak? Seumur hidup ini, bukankah kita sudah banyak tertipu karena hal seperti ini? Ada orang yang begitu bertemu Master segera bersujud, Master menasihatinya untuk baik-baik membina diri, tetapi dia tidak membina diri dengan baik malah sengaja membuat masalah, orang seperti ini tidak berguna. “Yang melihat pada rupa adalah manusia biasa”, dengan kata lain, jika adalah Bodhisattva, dia tidak akan menilai seseorang berdasarkan rupa penampilan luar yang dilihatnya, melainkan berdasarkan perilaku dan pemikiran orang ini untuk menilai dirinya. “Berbicara menyesuaikan jodoh”, berarti karena kamu adalah seorang manusia biasa yang menilai sesuatu berdasarkan rupa luarnya, maka terhadap hal-hal tertentu, kamu akan melakukannya mengikuti perkembangannya, maka sesungguhnya itu berarti, kamu akan berjalan mengikuti kekuatan karma ini. Oleh karena itu, terhadap manusia biasa, kita harus mengikuti jodoh nidananya dalam membabarkan ajaran Buddha Dharma padanya. Apakah kalian mengerti? Inilah prinsip kebenarannya.
Kemudian, dikatakan “tiada wujud rupa dalam pikiran”, yakni tidak ada bentuk rupa dalam pikiran kita. Dengan kata lain, dalam pikiranmu, tidak ada satu konsep pemikiran yang permanen, misalnya, kalau berbicara tentang orang ini, sesungguhnya dia memiliki hati nurani yang cukup baik, akan tetapi dalam beberapa hal tertentu sebelumnya, kamu bersikap buruk padanya, atau dia bersikap buruk terhadapmu, maka dalam pikiranmu akan tersimpan sesuatu yang berwujud ini, maka begitu membicarakan orang ini, yang pertama terucap dari mulutmu adalah, “Orang ini adalah orang jahat”, itu berarti kamu adalah seorang manusia biasa. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis, tidak seharusnya menyimpan sesuatu yang berwujud dan berupa di dalam pikirannya, jika dikatakan dengan istilah sekarang, yakni jangan memiliki satu pemikiran dengan rupa wujud yang permanen, secara perlahan harus bisa mengubah pemikiran ini, bukan suatu yang permanen, ini merupakan suatu respon yang bisa kamu rasakan secara bertahap dalam pembelajaran ajaran Buddha Dharma. Jika di dalam pikiranmu, tidak ada wujud dan rupa seperti ini, maka kamu akan menjadi raga awam yang halus dan mendalam. Apa maksud dari “halus dan mendalam” di sini? Luar biasa. Apa makna dari “halus”? Berarti sangat-sangat peka dan teliti, bisa membuatmu merasakan, kata “halus” dalam ajaran Buddha Dharma mengandung makna menyentuh atau berhubungan, yakni menyentuh raga awam yang sangat luar biasa. Tubuh badaniah kita ini dinamakan “raga awam”, Bodhisattva menyebut tubuh kita ini sebagai “raga awam”, dengan kata lain, raga awam yang sangat halus dan luar biasa (termasuk jiwanya), berarti kamu sudah memahami tubuh badaniah atau raga awam manusia ini, kamu sudah mengerti semuanya, maka kamu tidak akan terlalu mementingkan tubuh badaniah diri sendiri.
Tiada rupa adalah rupa yang sesungguhnya. Jika kamu melihat seseorang atau suatu masalah, saya tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya, saya tidak memiliki konsep pemikiran apapun padanya, saya tidak memiliki pikiran apapun tentangnya, ini disebut sebagai tiada rupa, dengan kata lain saya tidak memiliki suatu citra penggambaran tentang dirinya. Karena semua makhluk hidup beraktivitas dan bertumbuh di tengah dunia yang sangat luas dan luar biasa ini, jika kamu sudah tidak memiliki rupa, yang berarti saya tidak memiliki pandangan apapun terhadap orang ini, maka sesungguhnya, ini adalah rupa yang sesungguhnya. Dengan kata lain, karena kamu tidak memiliki pandangan pemikiran apapun tentang orang ini, malah berarti ini adalah rupa kamu yang sesungguhnya. Apa maksudnya? Yaitu, “karakter manusia pada awalnya adalah baik hati”. Misalnya, hari ini ada begitu banyak orang yang duduk di bahwa sini, Master memandang kalian semua orang tanpa rupa apapun, yang berarti kalian semua adalah orang-orang yang mengikuti jodoh, Master memandang kalian semua sebagai sesuatu yang kosong, maka bukankah berarti Master sudah melihat karakter asli kalian yang sesungguhnya. Rupa sesungguhnya adalah karakter asli, Master tidak menilai kalian beradasarkan perilaku, sikap gerak-gerik, kata-kata yang kalian ucapkan, maupun pemikiran kalian, Master melihat kalian sebagai sesuatu yang kosong, maka yang Master lihat adalah kalian manusia yang nyata, maka itu baru disebut sebagai orang yang baik, seseorang yang dipandang kosong oleh orang lain baru disebut sebagai seseorang yang memiliki pembinaan diri, merupakan orang yang bisa menyentuh sifat dasar kalian. Menyentuh sifat dasar, apa maksudnya? Berarti bisa terhubung dengan jiwa kalian, kalau begitu di mana jiwa ini? Jiwa kita sesungguhnya berada bersama dengan sifat Kebuddhaan, dengan kata lain, Master melihat karakter asli kamu, itu disebut sebagai rupa yang sesungguhnya.
Saya beri satu contoh, seorang guru di sebuah TK akan menghadapi berbagai macam keadaan, seperti anak ini sangat nakal, anak itu suka berbuat onar, anak ini tubuhnya lemah. Jika guru ini bisa memandang semua orang menjadi tidak berupa, yakni semua anak adalah anak-anak yang polos, semua anak adalah anak baik, itu berarti kamu sudah melihat karakter asli dari anak-anak, maka kamu akan melihat anak yang sesungguhnya, anak ini adalah anak yang baik, karena mereka semua polos dan lugu, dan kamu tidak akan karena mereka melakukan kenakalan dan menimbulkan keributan, lalu memandang mereka sebagai anak nakal yang jahat, ini yang disebut melihat rupa sesungguhnya dari mereka. Mengerti?
Oleh karena itu, rupa sesungguhnya berwujud kosong. Saat kamu melihat sifat dasar dari sesuatu hal, melihat rupa yang sesungguhnya, maka sebenarnya kamu sudah bisa melihat kekosongan, bukankah begitu? Dari dua contoh yang Master katakan tadi, kalian akan mengerti. Dalam contoh pertama, Master mengatakan kalau Master memandang para murid dan pengikut hari ini yang mendengarkan kelas sebagai sesuatu yang kosong, karena Master sudah melihat hati Kebuddhaan kalian, bahwa kalian adalah orang yang baik hati, hati Buddha semuanya sangat baik, kalau begitu, bukankah berarti Master sudah memandang kalian sebagai sesuatu yang kosong. Berwujud kosong, berarti sudah tidak memiliki wujud, yang di sini tidak selalu merujuk pada raga badaniah, saat bisa melihat jiwa sebagai sesuatu yang kosong, juga disebut sebagai berwujud kosong. Orang-orang mengatakan, ada tubuh jiwa dan tubuh badaniah dalam kesadaran kita, mengerti? Sudah memandangnya sebagai sesuatu yang kosong. Dalam agama Buddha, ini “dinamakan raga hampa tanpa batas”. “Dinamakan” berarti disebut, “hampa” adalah sesuatu yang kosong, sifat dasar kita adalah sesuatu yang bersifat kosong, sifat dasar kita tidak terukur dan tidak berbatas. Dengan kata lain, saat kamu sendiri bisa terhubung dengan jiwamu, bisa terhubung dengan alam kesadaranmu, maka sifat dasar yang baik hati dan sifat Kebuddhaan yang kamu miliki semuanya adalah kosong, akan tetapi pada saat yang sama juga tidak memiliki ukuran batasan apapun.
Anggun dalam segala tindakan, sesungguhnya “segala tindakan” di sini merujuk pada setiap gerak-gerik, berkehidupan, duduk dan tidur serta karma tubuh, ucapan, pemikiran dari seorang biksu atau biksuni, semua tingkah laku biksu/biksuni harus sesuai dengan sila dan peraturan yang ditetapkan, harus bisa mengagungkan Tanah Suci Buddha. Di sini “segala tindakan”, tidak merujuk pada jalan kaki, melainkan bermakna segala perilaku harus seperti Bodhisattva. “Anggun”, berarti membuat orang-orang merasa hormat dan segan, merujuk pada performa biksu dan biksuni dalam gerak-gerik, berkehidupan, duduk, dan tidur, serta 3.000 tata krama dan 80.000 ketentuan khusus dalam berperilaku yang harus ditaati biksu dan biksuni. Anggun dalam segala tindakan, melambangkan bahwa seorang praktisi Buddhis harus memiliki cara berpikir yang terhormat dan serius, memiliki karakter yang mulia, karena seseorang yang terhormat pikiran dan mulia perilakunya, baru bisa melenyapkan ketamakan, kebencian, kebodohan, kesombongan, dan kecurigaan di hatinya.
Dalam agama Buddha, terdapat 80.000 ketentuan khusus perilaku, sesungguhnya agar kita memahami bahwa sila bagi para biksu dan biksuni, membuat ajaran Buddha Dharma menjadi lebih suci dan mulia. Perilaku juga didasari dengan sifat dasar dan moralitas sendiri. Dasar dari segala tindakan, yakni tidak peduli apapun yang kamu lakukan, sifat dasarmu yang baik hati adalah raga jasa kebajikanmu, yang bisa membuat semua makhluk merasakan kewibawaan perilaku dari moralitas kamu. Dasar segala tindakan, adalah kemuliaan dari moral dan penampakan luar kita, dengan kata lain adalah rupa Dharma dari penampilan luar. Pernah ada sebuah foto yang mendapatkan penghargaan, di dalam foto ada banyak penumpang dan seorang biksu sedang duduk di dalam kereta jarak jauh, semua orang tidur dan terlelap dengan posisi yang tidak karuan, hanya satu biksu yang terus duduk bersila di sana, ini adalah kewibawaan perilaku, ini adalah keanggunan.
Jika semua ucapan yang kita katakan adalah jasa kebajikan, ini berarti mengumpulkan kebajikan melalui mulut; sedangkan untuk mengumpulkan kebajikan melalui tubuh, berarti harus memiliki tubuh yang berwibawa, harus memiliki tubuh yang anggun dan mulia. Segala perilaku kita dalam menekuni Dharma, kita harus belajar sesuai dengan aturan dan ajaran Buddha Dharma, mengerjakan segala sesuatu didasari dengan sifat Kebuddhaan dan sifat dasar, menggunakan pemikiran Bodhisattva dalam melakukan perbuatan baik dan mengumpulkan kebajikan, maka kamu akan memperoleh tubuh yang mulia. Dengan tubuh Dharma yang mulia, menggunakan perilaku dan raga yang suci untuk menjalani pembinaan mencapai kesadaran Bodhisattva, maka dalam segala hal, kamu akan menjadi anggun dalam segala tindakan.
Sesungguhnya, dalam kalimat “segala tindakan” di sini menyiratkan sangat banyak sekali tingkah laku kita, bagaikan “jasa kebajikan yang tiada taranya” yang dikatakan orang-orang, “tiada taranya”, berarti di sini ada banyak sekali jasa kebajikan. Oleh karena itu, tubuh Dharma jasa kebajikan, bisa menunjukkan keanggunan dalam segala tindakan.
