Mengamati bahwa Perasaan adalah Penderitaan, Mengamati bahwa Dalam Dharma Tidak Ada Aku
Selanjutnya Master akan menjelaskan kepada kalian tentang “Mengamati bahwa dalam Dharma tidak ada aku”. Kata “Dharma” di sini merujuk pada Alam Dharma. Arti dari “Mengamati bahwa dalam Dharma tidak ada aku” adalah terhadap segala sesuatu di alam Dharma, kamu harus menganggap tidak ada keberadaan diri (Aku). Contohnya, saat kamu melihat rumah ini, apakah ada dirimu di dalamnya? Ketika kamu melihat begitu banyak makanan enak, apakah kamu langsung memikirkan dirimu sendiri? Membina pikiran adalah belajar bahwa di tengah begitu banyak keinginan, seiring berjalannya waktu, apakah dirimu sendiri perlahan-lahan lenyap? Intinya adalah memberitahukan kepada kalian, harus melupakan diri sendiri baru bisa menemukan jati dirimu yang sejati. Contoh sederhana: dua orang sedang berkelahi, lalu orang tua datang. Jika orang tua itu yakin bahwa anaknya pasti tidak akan bertengkar dan berkelahi, yakin bahwa anaknya adalah anak yang baik, maka dia akan berpikir bahwa anaknya pasti bukan salah satu diantara anak-anak yang berkelahi itu, sehingga dia tidak akan mencarinya di antara anak-anak yang sedang berkelahi. Kita hidup di dalam Alam Dharma ini. Jika kita tidak menganggap diri kita sebagai korban dari Alam Dharma, maka kita bisa terlepas dari Alam Dharma. Jika kita tidak merasa akan bertengkar atau berkelahi dengan orang lain, maka kita akan selalu berada di luar kelompok orang yang bertengkar itu. Jika kita menganggap diri sendiri sebagai orang baik, maka tidak akan merasa termasuk dalam kelompok orang jahat. Jika kamu menganggap dirimu orang jahat, maka di tengah orang-orang baik, kamu tidak akan bisa menemukan dirimu sendiri. Di dalam Alam Dharma sekarang ini, setiap orang hidup dalam keserakahan, kemarahan, dan kebodohan, setiap orang hidup dikuasai oleh keinginan. Apakah kamu bersedia menemukan dirimu sendiri di dalam Alam Dharma ini? Saat ini banyak orang jahat berada di Alam Dharma ini, apakah kamu rela menemukan dirimu di tengah-tengah kumpulan orang jahat itu? Oleh karena itu, kita harus menyadari bahwa dalam Alam Dharma ini tidak ada “aku”—yakni tidak ada dirimu sendiri. Mengertikah? Karena ketika kamu mampu mengamati bahwa dalam Dharma tidak ada “aku”, itu berarti kamu sudah melampaui Alam Manusia. Ketika dirimu tidak lagi terlihat di dalam Alam Dharma, bukankah itu berarti tingkat kesadaran spiritualmu sudah meningkat? Bukankah berarti kamu telah memasuki kesadaran spiritual para Buddha dan Bodhisattva? Karena hanya dengan melampaui tingkat kesadaran manusia, barulah kamu bisa mendekati tingkat kesadaran spiritual Buddha dan Bodhisattva. Dengan demikian, kamu baru bisa memasuki dunia yang penuh cahaya terang.
Kalian tidak tahu betapa terang dan bahagianya di Surga. Bahkan ketika cuaca tiba-tiba cerah sehari saja, kalian pun merasa sangat senang, bukan? Lalu, apa itu dunia yang penuh cahaya terang? Tempat dimana Bodhisattva tinggal, semuanya adalah dunia yang penuh cahaya terang. Tempat tinggal manusia saat ini adalah tempat yang ada terang dan ada gelap. Ada terang dan gelap itu seperti gambaran jiwa kita kadang baik, kadang tidak, seperti cuaca yang cerah lalu mendung. Oleh karena itu, kita harus pergi ke dunia yang penuh cahaya terang, kita harus pergi ke Alam Sukhavati atau Empat Alam Brahma. Setelah kita berhasil naik ke atas, bahkan “perahu” yang membawa kita naik itu pun harus kita lepaskan, artinya bahkan niat untuk menjadi Buddha pun harus dilepaskan, dikosongkan. Apakah kalian pernah melihat peluncuran satelit? Di bawah satelit ada sistem pendorong seperti roket. Setelah satelit berhasil dikirim ke angkasa, pendorong itu akan dilepas dan dibuang. Apa yang kita manusia andalkan untuk naik ke Surga? Kita mengandalkan Pintu Dharma ini. Setelah kita naik ke Surga, kita juga harus melupakan Pintu Dharma ini. Namun, banyak orang sampai sekarang masih terpaku pada Pintu Dharma tersebut, padahal Pintu Dharma hanyalah metode yang membantu kamu berhasil mencapai tujuan. Seperti ketika kamu menjalani operasi, yang digunakan adalah pisau bedah. Setelah pisau bedah itu selesai digunakan mengobati penyakitmu, apakah kamu masih akan mengikat pisau bedah itu di tubuhmu? Hari ini kamu menggunakan jarum untuk menjahit sesuatu, setelah selesai menjahit, apakah kamu masih akan membiarkan jarum itu berada di tubuhmu? Itu semua hanyalah sebuah metode. Pintu Dharma ini ibarat sebuah pintu. Setelah kamu masuk ke dalamnya, pintu itu sudah tidak berguna lagi. Mengertikah? Misalnya saya sangat menyukai pintu ini, tapi setelah pintu itu dipakai, pintu itu tidak lagi berarti bagimu. Mengerti? Oleh sebab itu, jangan terikat pada suatu Pintu Dharma.
Harus memutuskan perasaan. Harus benar-benar memutuskan semua ikatan perasaan. Apakah itu sulit? Ya, sulit. Tapi meskipun sulit, tetap harus diputuskan. Jika jodoh di dunia ini sudah berakhir, kalian harus seperti orang asing agar bisa membina diri dengan baik. Dengan begitu, jika seorang kekasih meninggal, maka kamu tidak akan ikut mati; namun jika ikatan perasaanmu ini tidak putus, ketika satu pergi, maaf saja, yang satu lagi juga akan segera pergi. Kalau kamu mengatakan tidak masalah, lalu dua orang pergi bersama, siapa yang bersedia ikut mati bersama? Disinilah prinsip kebenarannya. Oleh karena itu, harus memutuskan ikatan dengan kehidupan. Apa maksudnya? Bukan meminta kamu untuk meninggalkan hidup ini sekarang juga, tapi kamu harus melihat melampaui hidup ini. Harus memutuskan ikatan dengan ketenaran dan keuntungan. Hal-hal yang berhubungan dengan ketenaran dan keuntungan harus diputuskan. “Aduh, kenapa foto saya tidak dimasukkan di koran hari ini?” atau “Hari ini nama saya tidak ditempatkan di depan, tapi malah dipasang di belakang” — orang seperti ini disebut orang yang menginginkan ketenaran. Itu tidak baik. Mengenai keuntungan, ketika melihat uang, “Aduh, tidak bisa, uang ini sudah masuk ke kantong, minta saya mengeluarkannya lagi, rasanya lebih sakit daripada mati.” Apakah itu benar-benar uangmu?
Akhirnya, bahkan “perahu” pun harus ditinggalkan. Dengan kata lain, Master menggunakan Pintu Dharma ini untuk membantu kalian, ketika umur kalian di dunia ini habis, dan pada saat dianya kamu meninggal nanti, dia juga harus melepaskan Pintu Dharma ini, dia baru bisa benar-benar sampai ke Alam Sukhavati. Inilah prinsip kebenarannya. Jadi, orang yang benar-benar bebas harus belajar untuk menjaga ketulusan perasaannya. Meskipun kita enggan melepaskan Pintu Dharma, jika kita tetap melekat pada ketenaran, keuntungan, dan dharma itu sendiri, dan semuanya tidak direlakan, maka akhirnya kita akan terikat oleh semua hal tersebut dan justru menjadi bagian perlengkapan dari Pintu Dharma itu sendiri. Apa artinya ini? Yakni banyak orang yang belajar Buddha Dharma, akhirnya malah semakin belajar semakin buruk keadaannya, semakin bingung, dan justru terikat oleh Pintu Dharma, sehingga tidak tahu apa itu Dharma yang sejati. Apa itu Dharma yang sejati? Yakni Dharma hati, Dharma asli. Oleh karena itu, dalam membina pikiran, kita sama sekali tidak boleh melekat.
Selanjutnya Master akan menjelaskan tentang “Mengamati bahwa perasaan adalah penderitaan.” Kalian harus sering “mengamati,” yaitu harus sering melihat bahwa apa yang kalian alami sebenarnya adalah penderitaan. Contoh sederhana, kalian makan makanan enak hari ini, merasa senang saat makan, bahkan ingin makan lebih banyak — merasakan kenikmatan. Namun setelah itu, kalian akan mengalami kesulitan — makan terlalu banyak membuat lambung dan usus menjadi tidak sehat. Contoh lain, sepasang kekasih yang sangat baik, merasa sangat bahagia saat berpacaran, tapi setelah itu ada saat-saat tidak bahagia, bukankah adalah penderitaan? Inilah yang disebut “mengamati bahwa perasaan adalah penderitaan.” Segala sesuatu yang kalian terima, termasuk apa yang kalian lihat dan rasakan, sesungguhnya adalah penderitaan. Kalau kalian tidak percaya, coba pikirkan beberapa hal yang membuat kalian merasa senang, misalnya saat bermain tenis meja, apakah kalian merasa senang? Tapi setelah bermain, keesokan harinya tangan kalian sampai tidak bisa diangkat. Benar tidak? Apakah kalian senang saat bepergian? Duduk berjam-jam dalam perjalanan jauh, sampai kaki kalian membengkak, bukankah itu penderitaan? Bodhisattva mengajarkan kalian untuk mengamati bahwa semua yang kalian alami sesungguhnya adalah penderitaan. Meskipun di permukaan terlihat manis, seperti saat makan obat, bagian luarnya berlapis gula, tapi di dalamnya pahit. Mana ada obat yang rasanya manis?
Oleh sebab itu, lahir, tua, sakit, dan mati, berbagai macam penderitaan, penderitaan karena cinta dan perpisahan, penderitaan karena bertemu dengan yang tidak disukai, penderitaan karena keinginan yang tak terpenuhi, penderitaan karena lima agregat yang membara, bencana alam dan bencana ulah manusia… penderitaan di dunia ini tidak ada habisnya! Apakah kalian tahu apa itu penderitaan karena cinta dan perpisahan? Misalnya, sangat mencintai anak, lalu akhirnya anak itu harus meninggalkanmu. Benar tidak? Jelas-jelas kamu mencintainya dan tidak ingin berpisah, tapi kamu harus berpisah dengannya—cinta dan perpisahan, ini adalah semacam penderitaan. Orang yang sangat kamu cintai dan sukai, kamu harus mengucapkan “selamat tinggal” padanya. Sepasang suami istri yang sangat saling mencintai, suatu hari dia akan pergi meninggalkanmu, itu sangat menyakitkan, tidak bisa ditahan dan tidak bisa dipertahankan. Ketika seseorang tidak mencintai seseorang lagi, seberapa pun kamu memohon dan berkata baik padanya, kalau dia tidak peduli padamu, betapa deritanya dirimu. Ibu berkata, “Anakku, Ibu mencintaimu. Jangan menikah terlalu jauh. Akan lebih baik kalau kamu mencari seseorang di dekat Ibu saja. Kamu adalah satu-satunya anak Ibu.” “Aku tetap mau menikah dengannya!” Ibu mengantar dia pergi dengan air mata—itulah penderitaan karena cinta dan perpisahan. Penderitaan karena bertemu dengan yang tidak disukai, apa itu? Itu adalah ikatan karma buruk, kebencian. Yaitu orang yang tidak ingin kita lihat, namun harus melihatnya setiap hari, dan orang yang kita ingin lihat malah tidak bisa lihat. Benar tidak? Orang yang kita lihat setiap hari tapi tidak mau lihat, itulah yang disebut penderitaan karena bertemu dengan yang tidak disukai. Penderitaan karena keinginan yang tidak terpenuhi, perlu saya jelaskan lagi? Tidak memiliki anak, ingin menikah tapi tidak bisa, ingin punya uang tapi tidak punya… segala sesuatu tidak bisa didapatkan. Ingin hidup tapi tidak bisa, ingin sebuah mobil bagus tapi tidak punya uang… segala sesuatu tidak bisa dicapai, apakah derita? Ini yang disebut penderitaan karena keinginan yang tidak terpenuhi. Selanjutnya, apa yang disebut “penderitaan karena lima agregat yang membara”? Semua orang tahu “lima agregat” adalah “rupa, perasaan, pemikiran, tindakan, dan kesadaran,” yang sesuai dengan “lima unsur” yaitu “logam, kayu, air, api, dan tanah.” Penderitaan akibat lima agregat yang membara berarti bahwa lima unsur Yin dan Yang dalam tubuhmu tidak seimbang. Misalnya, kamu kekurangan air hari ini, maka ginjalmu akan menjadi tidak sehat; jika kamu kekurangan unsur logam, jantungmu akan bermasalah; jika kamu kekurangan unsur kayu, tulangmu menjadi tidak sehat; jika kamu kekurangan unsur api, energi Yin kamu terlalu berat sehingga kamu mengalami sakit punggung dan pinggang. Kalian tahu bahwa “logam, kayu, air, api, dan tanah” semuanya berhubungan dengan tubuh manusia. Jadi, Bodhisattva mengajarkan kalian seperti saat melakukan sinar-X, yaitu “mengamati bahwa kelima agregat semuanya kosong” — artinya mengamati keseluruhan dirimu hingga kosong, termasuk air dan kayu…. Artinya mengamati semuanya tampak kosong. Mengertikah kalian? Kadang-kadang seseorang kekurangan energi Yang atau Yin karena hal-hal ini tidak bertransformasi dengan baik.
Jadi, Master memberitahu kalian, orang yang benar-benar mencapai pencerahan dan bisa membuka pencerahannya sendiri adalah orang yang mengikuti beberapa ajaran yang telah Master sampaikan sebelumnya: Pertama, harus mengamati bahwa tubuh ini tidak suci, dengan mengetahui bahwa diri sendiri tidak bersih, baru bisa membina diri dengan baik. Kedua, harus mengamati bahwa perasaan adalah penderitaan, harus menyadari bahwa apa yang diri sendiri alami adalah penderitaan. Yang ketiga, harus mengamati bahwa pikiran itu tidak kekal, harus tahu bahwa pikiran tidak ada yang abadi. Yang keempat, harus mengamati bahwa dalam segala Dharma tidak ada “aku.” Harus tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini, tidak ada keberadaan aku. Karena kamu melihat dunia ini sebagai kosong, maka di dunia ini tidak ada dirimu, sehingga kamu tidak akan marah; tanpa adanya “aku,” maka tidak akan mengalami kerisauan. Jika tidak ada “aku” lagi, apa gunanya untuk bertengkar, merebut, atau mengambil sesuatu—itulah pandangan kekosongan, kekosongan itu sendiri. Memandang diri sendiri sebagai sesuatu yang kosong, saya melihat semua hal juga sebagai sesuatu yang kosong. Misalnya, hari ini seseorang merebut barangmu atau menipumu sedikit uang—itu adalah sesuatu yang kosong, dalam beberapa hari uang itu habis dipakai olehnya, sama halnya waktu juga cepat berlalu. Misalnya hari ini kamu berbisnis, seseorang membayar kamu kurang sedikit uang, kamu sangat marah, sambil berkata, “Padahal tadi saya sudah sepakat dengannya, bagaimana dia bisa begitu, jelas-jelas begitu…” Kamu sangat marah, padahal sebenarnya cuma masalah puluhan yuan saja. Setelah satu minggu, kalau kamu pikirkan lagi masalah ini, kamu tidak akan merasa derita lagi. Harus mengamati diri sendiri adalah bersih, jangan memperdebatkan keuntungan sedikit saja. Keuntungan kecil yang mereka dapatkan itu hanya sementara, tidak akan bertahan lama, bagi kamu juga akan hilang setelah beberapa saat, jadi mengapa harus melekat padanya? Oleh karena itu, harus memiliki pandangan kekosongan. Yaitu melihat bahwa dunia ini semuanya kosong, Mengerti? Kadang-kadang hanya demi sedikit ketenaran dan keuntungan, bertengkar sana-sini, tapi sebentar saja semuanya hilang, apa artinya? Semua itu adalah kekosongan.
