Tidak Terlalu Mementingkan Hal-Hal Duniawi, Mengosongkan Pikiran dari Pemikiran
Tidak tamak, tidak membenci, tidak bodoh, seseorang baru tidak akan menjadi kacau. Jangan ada ketamakan, jangan membenci orang lain, jangan memiliki kebodohan spiritual, kamu baru tidak akan menjadi kacau. Begitu tamak, pikiran menjadi kacau; Begitu membenci orang lain, pikiran menjadi kacau; Begitu bodoh, maka hal-hal sampah yang dilakukan dan perkataan sampah yang dikatakan, akan membuat pikiran seseorang menjadi berantakan. “Aduh, yang saya katakan tadi, apakah dia akan mencari masalah dengan saya?” Harus belajar untuk tidak marah, maka tidak akan melakukan kebodohan. Apa maksudnya? Kamu jangan marah, maka kamu tidak akan menjadi bodoh, karena orang yang marah, orang yang emosi sekali, maka yang selanjutnya menantinya adalah kebodohan, pertama marah terlebih dahulu. Coba kalian pikirkan, marah sampai pada akhirnya, seseorang akan mengatakan perkataan yang bodoh, “Saya sungguh benci padanya, saya sampai ingin membakar rumahnya.” Perkataan yang bodoh bukan? Menjadi bodoh bukan? Kebencian yang melampaui batas, akan melahirkan kebodohan. Oleh karena itu, kita harus belajar untuk tidak marah, tidak memarahi orang lain, karena jika kamu tidak memarahi orang lain, berarti kamu sudah meninggalkan kemelekatan rupa. Kamu tidak memarahi orang lain, maka kamu tidak akan menjadi bodoh, kamu tidak ambil pusing lagi, memangnya kenapa kalau terkenal? Kalau nama saya dicantumkan lalu bagaimana? Kalau nama saya tidak dicantumkan memang bisa bagaimana? Saya tidak lagi melekat pada rupa, sudah tidak peduli lagi, pepatah mengatakan, dirugikan adalah keuntungan, memangnya kenapa? Saya masih tetap diri saya yang semula, maka kamu sudah tiba-tiba tersadarkan, tiba-tiba membina diri, dalam sekejap sudah tersadarkan, maka dalam sekejap mulai membina pikiran.
Oleh karena itu, kehidupan sangat membingungkan, apa maksud dari membingungkan di sini? Bagaikan bermimpi. Coba kalian rasakan, sebelum tidur, kelopak mata terasa berat, ingin tidur, akan tetapi, juga ingin membukanya, ini berarti berada di tengah kebingungan. Manusia bagaikan pada saat kelopak matanya ingin menutup, ingin tidur namun juga tidak ingin tidur, berusaha keras untuk mempertahankan hidupnya. Sesungguhnya, dalam kehidupan ini mengetahui 5.000 tahun yang sebelumnya, dengan kata lain, manusia hidup di dunia ini, saya bisa mengetahui kehidupan saya 5.000 tahun yang lalu, namun 5 menit selanjutnya tidak tahu lagi, karena ketika seseorang akan meninggal, dirimu akan kemana setelah 5 menit kemudian, apakah kamu tahu? Coba kalian beritahu saya sekarang, kemana dirimu akan pergi nantinya? Tidak tahu bukan? Kehidupan 5.000 tahun yang lalu, kamu dapat mempelajarinya melalui sejarah, namun ketika kamu akan meninggal, hal yang akan terjadi 5 menit kemudian, kamu tidak akan tahu, bukankah manusia hidup dalam kebingungan dan ketidakjelasan? Hari ini mata kamu berkedut, jantungmu berdetak, banyak orang yang begitu, hari ini saya mengendarai mobil, ada perasaan tidak tenang, saya merasa akan terjadi kecelakaan, hari ini akan ada masalah besar, pada akhirnya di tengah kebingungan dan ketidakjelasan ini, kamu menabrak mobil, kamudian diantarkan ke rumah sakit, setelah tertolong dan sadar, mengucapkan satu kalimat, “Saya tidak tahu hari ini saya masih hidup atau sudah mati.” Kalau tidak tertolong, segera mati. Sesungguhnya, manusia hidup di tengah kebingungan, tidak mengerti, tidak tahu. “Cuaca sulit ditebak, bencana dan keberuntungan sulit diprediksi”, perkataan ini biasanya setiap hari saya katakan pada kalian, hari ini berangin, apakah kamu tahu? Awan sudah datang, apakah kamu tahu? Sulit diperkirakan, liburan 3 hari, namun hujan 3 hari, apakah bisa diprediksi? Hari ini ada bencana atau keberuntungan, apakah kalian bisa memprediksinya?
Jangankan bencana dan keberuntungan, murid-murid saya semuanya bisa melihat raut wajah Master, saya juga berdasarkan “laporan cuaca” kalian untuk mengendalikan “laporan cuaca saya”, kalian yang menciptakan lagit mendung – hitam (bibit karma), maka selanjutnya saya akan menurunkan hujan (buah karma). Xiao Yu barusan baik-baik saja dengan saya, mengapa tiba-tiba saya mengkritikmu? Karena awan mendung kamu sudah datang, walau saya tidak ingin menurunkan hujan pun harus menurunkan hujan. Jika awan cerah kamu datang, maka saya akan mengeluarkan pelangi. Oleh karena itu, manusia hidup di bumi ini, bagaikan semut yang berada di kuali panas, berlari-lari dan sibuk terus, sesungguhnya, sibuk sepanjang hari bagaikan semut di dalam kuali panas, merasa kepanasan, terakhir menunggu datangnya kematian. Kalian sibuk bukan? Kalian sudah sibuk seumur hidup? Bukankah seperti Tuan Zhou juga sedang menunggu datangnya kematian? Meninggalkan dunia ini di tengah keadaan tidak ada yang bisa dibawa pergi dan hanya karma yang menyertai, sudah tidak ada lagi, membawa sekumpulan karma pergi, tidak ada apapun yang bisa dibawa pergi. Betapa sedihnya saat membagikan harta warisan, saya begitu menyukai rumah ini, sudah tidak ada lagi, meninggalkannya untukmu? Putra yang begitu saya cintai, sudah pergi mengikuti angin; “istri”, banyak orang yang saat menjelang ajalnya mengatakan, “Kamu carilah laki-laki lain”. Tahukah kamu, pada saat pria ini menjelang ajalnya dan mengatakan hal seperti ini, betapa sakit hatinya, siapa yang bersedia menyuruh istri yang dia cintai untuk mencari pria lain, akan tetapi dia tidak berdaya lagi. Oleh karena itu, istri tidak boleh terlalu muda, jika berjarak puluhan tahun, kamu pada akhirnya harus menerima kenyataan ini. Pada saat kamu meninggal mengatakan, “Kamu harus mengikuti saya seumur hidup, tidak boleh menikah lagi”, maka lihat saja, dia akan segera menikah lagi dengan cepat, oleh sebab itu, manusia harus menerima kenyataan.
Master mengenal seorang keturunan Tionghoa yang sudah lanjut usia, dia menikah dengan seorang istri yang lebih muda 30 tahun darinya, istri ini terus berusaha keras untuk melahirkan putra untuknya, dia mengatakan, jangan punya anak lagi, saya berkata padanya, “Kamu jangan punya anak. Sekarang kamu sudah hampir 69 tahun, saat putramu berusia 10 tahun, maka kamu sudah 79 tahun, maka saat putramu berusia 10 tahun, ayahnya sudah tidak ada lagi.” Alhasil setelah mendengarnya, dia merasa masuk akal, lalu pergi mengatakan pada istrinya yang muda, “Saat saya meninggal, kalau anak baru 10 tahun, bagaimana?” Apa yang dikatakan istrinya? Karena istri ini sudah pernah bercerai dua kali, sudah punya satu anak, maka istrinya yang muda ini berkata, “Karena sudah ada satu yang tidak punya ayah, datang satu lagi yang tidak punya ayah juga tidak apa-apa.” Coba pikirkan, betapa bodohnya manusia. Semua yang Master katakan ini adalah hal-hal yang terjadi di sekitar kita, semoga kalian bisa memahaminya. Janganlah menjadi bodoh, setiap hari hidup di tengah karma. “Aduh, gawat, sudah menimbulkan masalah besar.” Kalian bagaikan semut di atas kuali panas, menunggu kematian, dengan karma yang menyertainya, meninggal di tengah karma. Pada saat seseorang meninggalkan Alam Manusia, dia juga berada dalam kebingungan, tidak tahu ke mana arah perginya? Pada saat seseorang meninggal, meskipun kedua matanya tertutup, jantungnya berhenti berdetak, darahnya berhenti mengalir, akan tetapi pemikirannya masih belum lenyap, oleh karena itu dikatakan, manusia tidak akan mati, seseorang yang mengira manusia bisa mati, adalah orang yang bodoh. Manusia tidak akan mati, hanya saja berganti raga, seperti sopir yang berganti mobil, oleh karena itu, semoga kalian semua bisa memahami kebenaran ini.
Mengapa Master mengatakan hal-hal ini pada kalian, agar kalian bisa memahami prinsip kebenarannya, jangan hidup demi memperebutkan ketenaran dan kekayaan semasa hidupmu. Ada seorang Miss Universe, sekarang wajahnya sudah dipenuhi dengan keriput, dia berkata pada orang-orang, “Dulu saya juara satu pada kontes kecantikan”, begitu orang-orang melihatnya, lebih baik kalau kamu tidak mengatakannya, kalau kamu tidak mengatakannya, orang lain melihatnya masih akan merasa cukup baik, sekarang sudah lanjut usia, wajahnya masih lumayan, namun begitu kamu mengatakan pernah juara satu di kontes kecantikan, orang lain akan merasa aneh. Dengan kata lain, kita harus memahami satu prinsip kebenaran, yakni janganlah mengejar sesuatu yang pernah kamu dapatkan di masa lalu, jangan menganggapnya sebagai harta yang berharga dan ingin mempertahankannya untuk selamanya, karena semua ini tidaklah kekal, mengerti?
Kita harus lebih banyak melakukan kebajikan, lebih sering membicarakan akar keyakinan, dengan kata lain, kamu harus memiliki keyakinan, karena segala jasa kebajikan semuanya berasal dari keyakinanmu. Hari ini kamu melakukan satu kebaikan, kamu memiliki keyakinan ini, bahwa saya adalah seorang praktisi Buddhis, saya harus melakukannya dengan sungguh-sungguh. Hari ini Wei Na membantu Master menyetrika pakaian, jika dia hanya berpikir, kalau dia sedang melakukan perbuatan baik, maka dia akan memperoleh balasan yang baik, akan tetapi, jika dia merasa Master berkorban demi semua makhluk, sudah melupakan diri sendiri, hari ini dia membantu Master melakukan sedikit kebaikan, juga demi pembabaran Dharma, supaya pakaian yang Master kenakan lebih baik dan rapi, adalah jasa kebajikan yang dilakukan demi membabarkan Dharma, maka dia pun memperoleh jasa kebajikan. Apabila kamu tidak memiliki keyakinan, maka meskipun kamu sudah berdana, namun juga hanya sebuah kebajikan, di kehidupan selanjutnya kamu hanya akan memperoleh berkah pahala; Jika kamu percaya pada Guan Shi Yin Pu Sa, dan segala hal yang kamu lakukan akan menjadi ladang pembelajaran Dharma Guan Shi Yin Pu Sa, karena kamu percaya pada Guan Shi Yin Pu Sa, segala hal yang kamu lakukan hari ini sudah masuk ke dalam ladang pembelajaran Dharma Guan Shi Yin Pu Sa ini, dia bisa menumbuhkan bibit Kebuddhaan, yang nantinya bisa membina diri menjadi Bodhisattva, membina diri menjadi Buddha, mengerti? Karena keyakinan ini bisa menyempurnakan dirimu sendiri, ketekunan bisa melahirkan kekuatan Dharma. Apa maksudnya? Jika kamu terus-menerus berusaha dan giat berlatih, maka kamu akan memiliki kekuatan Dharma yang semakin besar. Tahukah kalian apakah Master memiliki kekuatan Dharma? Punya kekuatan Dharma, dari mana datangnya? Kalian melihat Master dengan tekun dan rajin sedang melakukan segala jasa kebajikan, benar tidak?
Kita harus belajar memiliki pemikiran “pandangan tengah”. Apakah yang dimaksud dengan pandangan tengah? Berarti dalam mengamati segala hal, harus dilihat dari tengah, ini adalah pemikiran pandangan tengah. Saat satu masalah datang, kamu memandangnya dari tengah, ada orang mengatakan, hari ini Xiao Qiu sangat baik, begitu saya melihatnya, memang benar ada kemajuan, namun masih kurang, ini disebut sebagai pandangan tengah; jika ada orang mengatakan dia tidak baik, saya juga akan mengatakan, dia tidak semuanya tidak baik, dia juga memiliki sisi yang baik, juga ada sisi yang masih kurang, ini disebut sebagai pandangan tengah. Karena kamu berpandangan tengah, maka tidak akan memihak pada kekosongan, karena kamu berpandangan tengah, tidak akan memihak pada keberadaan, apa maksudnya? Karena kamu mempertimbangkan masalah ini dari sudut pandang tengah, maka kamu tidak akan memandang masalah ini menjadi semuanya tidak ada, juga tidak akan memandangnya menjadi semuanya ada. Orang lain mengatakan, kurang satu benda, lalu kamu bisa mencurigai seseorang, jika kamu memandangnya dari tengah, maka kamu tidak akan mengatakan, pasti dia atau pasti bukan dia, mengerti?
Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis, harus mengurangi nafsu keinginannya, harus bisa berpuas hati. Kurangi nafsu keinginan, apa gunanya mengenakan pakaian yang begitu bagus? Harus bisa berpuas hati. Putra dari Tuan Xiao Zhou, dulu di usia 2 tahun tidak bisa berbicara, Master mengajarkannya untuk melafalkan paritta, setiap kali datang memberikan berkat padanya, sekarang anak ini suka sekali berceloteh, tubuhnya juga tumbuh menjadi sangat tinggi, hari ini kalian sudah bertemu dengannya, anaknya baik sekali, Master memberi barang padanya, dia akan melihat ayahnya, kemudian baru menyimpannya di dalam tas, matanya melihat terus, benda apa ini? Ayahnya memanjat di tangga, anak begitu kecilnya bisa memberikan tang, palu dan peralatan lainnya pada ayahnya, masih mengatakan, “Papa, hati-hati ya”. Semenjak kecil, ibunya sudah tidak ada, coba pikirkan, kita begitu dilahirkan sudah begitu lancar, bukankah kita lebih beruntung daripada dia?
Miliki welas asih yang lebih besar, jangan terlalu mementingkan hal-hal duniawi, janganlah merasa tidak senang demi satu perkataan atau satu masalah. Jika merasa tidak senang demi satu perkataan atau satu masalah, itu barulah gangguan kejiwaan yang sesungguhnya. Kamu harus bisa membuang semua pikiranmu, jangan ada nafsu keinginan, pikiran apa yang harus ditempatkan dalam pikiranmu? Jika kamu tidak bisa membuangnya, berarti kamu tidak membina diri dengan baik; Apabila kamu bisa membuangnya, maka kamu telah membina diri dengan baik. Kalau begitu, Master akan mengajarkan kalian, bagaimana caranya supaya kamu bisa membuang semua pikiranmu? Yakni dengan mengosongkan semua pemikiranmu, maka pikiranmu baru bisa dibuang seluruhnya. Kalau begitu, bagaimana cara mengosongkan pemikiranmu? Yakni dengan mengubah pemikiran sendiri, jangan memikirkan hal ini, mengerti? Hal yang dilakukan berdua dulunya, jangan dipikirkan lagi, sekarang menjadi satu orang, maka lakukan saja pekerjaan yang sering saya lakukan sendiri, dengan begitu kamu tidak akan memikirkannya lagi. Keadaan harus diubah, oleh karena itu, Master menasihati Nyonya Zhou, nantinya harus berganti rumah, perabotan rumah semuanya harus diganti, maka dia tidak akan bermasalah lagi, selain itu, almarhum sekarang sudah sangat bebas, sama sekali tidak perlu kamu khawatirkan. Terus terang, dia sekarang bisa pergi ke mana pun yang dia mau. Selain itu, sekarang kakinya tidak sakit, tubuhnya sama sekali tidak sakit, usus dan lambungnya juga tidak sakit, sekarang keadaannya lebih baik dari padamu. Para praktisi Buddhis harus mempercayai hal-hal ini, kamu baru bisa bebas dan leluasa, kamu baru bisa melepas. Master bisa memberitahumu, kalau kamu tidak berhutang padanya, bukankah dengan begitu kamu bisa melepaskannya? Benar tidak? Apa yang perlu disedihkan, manusia meninggal adalah hal yang terjadi cepat atau lambat, masalahnya, ke mana akan pergi setelah meninggal nanti.
Oleh karena itu, kita harus bisa membuang pikiran, mengosongkan pemikiran, lebih sering melihat lubuk hati sendiri dan memeriksa dunia batin sendiri, dengan kata lain, kamu harus sering mengintrospeksi lubuk hati diri sendiri, “Saya benar atau tidak? Saya baik atau tidak? Saya seperti Bodhisattva atau tidak?” Harus sering mengamati diri sendiri, pada akhirnya tubuh dan pikiranmu baru bisa menjadi kosong, “Guan Shi Yin Pu Sa tidak akan bersedih seperti ini, Guan Shi Yin Pu Sa tidak akan membenci orang seperti ini, Guan Shi Yin Pu Sa tidak akan iri hati pada orang lain seperti ini, Guan Shi Yin Pu Sa tidak akan begini dan begitu …” Dengan berpikir demikian, maka pikiranmu akan bisa melepas, mengerti? Oleh karena itu, kita harus bisa sepenuhnya tidak memikirkan apapun, yakni sama sekali tidak memiliki pemikiran lagi, ada banyak masalah dan nafsu keinginan yang muncul dari pemikiran. “Betapa inginnya saya memiliki sebuah rumah”, melihat orang lain memiliki rumah yang besar, setiap hari pulang ke rumah berpikir, sekarang tidak sanggup membelinya, kredit belum disetujui, merasa sedih bukan? Jika kamu tidak memikirkannya, maka kamu tidak akan bersedih, namun bila memikirkannya, kamu akan bersedih. Pada saat dua orang bersama-sama, merasa sangat senang, saat sedang tidak baik, pikirkanlah masa-masa baik, maka kamu tidak akan bersedih. Kalau kamu tidak memikirkannya, jika ada kesempatan untuk berbaikan kembali, itu adalah jodoh, kalau tidak ada kesempatan, berarti selamat tinggal. Apa yang perlu dipikirkan terus? Jika memikirkannya terus, malah akan menjadi gangguan kejiwaan; Jika memikirkannya terus, akan menjadi bodoh, bisa melakukan segala hal buruk.
Banyak wanita yang baik-baik saja, namun memiliki masalah asmara, padahal sesungguhnya jodohnya ini belum putus, namun dia keluar dan mencari orang lain lagi untuk menyakiti pasangannya ini. Ya sudah, padahal sesungguhnya pria ini bertengkar dengannya dan masalahnya akan selesai, namun begitu disakiti, selamanya akan meninggalkannya, sepenuhnya berakhir. Benar tidak? Oleh karena itu, sepenuhnya tidak memikirkannya, maka tubuhmu tidak akan merasakan apapun; dari sudut pandang lain, kalau tubuhmu tidak merasakan apapun, maka kamu baru bisa tidak memiliki pemikiran negatif. Tidak ada perasaan apapun, maka saya tidak akan memikirkannya, saya tidak akan memikirkan sisi negatif dari orang ini, inilah yang disebut sebagai kosong, inilah orang yang tidak memiliki nafsu keinginan. Orang yang tidak memiliki nafsu keinginan, karena dia tidak memiliki pemikiran, dia tidak memikirkannya, dia tidak akan memikirkan banyak hal, maka orang ini akan menjadi kosong. Kalian harus belajar pada Master, di depan menerawang totem untuk orang lain, dan orang ini segera berkata, “Master Lu, saya yang sebelumnya memintamu menerawangnya”. Master sama sekali tidak ingat, saya melatih diri saya untuk melupakan semuanya, tidak mengingat apapun, pada akhirnya, saya akan menjadi orang yang paling bahagia. Mengapa saya harus mengingat hal-hal buruk orang lain di dalam pikiran saya? Kamu tanya Tuan Hong apakah pernah melakukan kejahatan? Tidak ingat. Xiao Liu pernah melakukan kejahatan? Sudah tidak ingat lagi. Bukankah saya akan menjadi sangat bahagia? Jika saya mengingat semua masalah kalian yang dulu di dalam pikiran saya, maka saya akan menjadi sangat marah. Siapa di antara kalian yang tidak pernah membuat saya marah? Tidak ingat, lupakan, tiada nafsu keinginan, ini baru dinamakan membina diri. Jika sepanjang hari mengingat dendam pada orang lain, itu adalah suatu nafsu keinginan, dan adalah nafsu keinginan yang buruk.
Oleh karena itu, slogan Master adalah “tiada nafsu keinginan dengan sendirinya pikiran setenang air”. Pikiran Master sebersih air, setenang air, sebening dan semurni air, hal-hal yang saya katakan, hal-hal yang saya lakukan, setelah lewat, saya melupakan semuanya, semoga kalian bisa meneladaninya, supaya bisa menjadi seseorang yang tidak memiliki nafsu keinginan, tidak tamak, tidak menginginkan apapun, tidak memiliki nafsu apapun, orang ini baru bisa menjadi semakin mulia, orang ini baru bisa meninggalkan kesakitan, penderitaan, dan kerisauan. Kalau tidak ada nafsu keinginan, darimana akan datang kerisauan? Jika tidak tamak, darimana akan datang kerisauan? Contoh sederhana. Hari ini Xiao Zhang mencukur rambutnya, jika dikritik oleh ayah ibunya, dan kamu mengingatnya dalam hati, maka kamu akan memiliki kerisauan, janganlah kamu mengingatnya dalam hati, untuk apa memedulikannya. Master bukannya menyuruhmu untuk tidak berbakti kepada mereka, melainkan mengingatkanmu supaya pandangan mereka yang salah jangan sampai mempengaruhimu, benar tidak? Mencukur semua rambut apa salahnya? Merasa malukah? Tidak senang? Dua hari kemudian, orang lain mengatakan, seperti kebanyakan anak kecil sekarang, pergi ke sekolah, tidak berani mencukur habis rambutnya? Begitu rambutnya dicukur habis, takut dikatai orang-orang, “Orang gila”? Mencukur habis semua rambut memangnya salah? Kamu hidup demi orang lain atau demi diri sendiri? Dikatai orang lain, memang membuatmu takut? Mengerti?
Xiao Huang hari ini mengenakan masker, maka biarkan saja, dia suka bagaimana ya biarkan saja, memangnya salah? Tidak salah, dia percaya pada prinsipnya sendiri, belakangan ini ada banyak orang yang batuk dan flu, dia takut menularkannya pada orang lain, dia sendiri memakai masker, apakah salah? Master merasa dia tidak salah. Jika kalian semua mengatainya, Xiao Huang aneh ya, lalu dia segera melepaskan maskernya, bagaimana kalau dia sakit flu? Bagaimana kalau daya tahan tubuhnya tidak baik? Dia malah menjadi salah, mengerti? Hanya seorang praktisi Buddhis, asalkan dia sudah menetapkan pikirannya, dia tidak memikirkan hal lain lagi, ini baru dinamakan fokus menekuni satu Pintu Dharma saja.
