44. Menjauhi Kebencian, Semangat Buddha Dharma — 远离瞋恨 佛法精神

Menjauhi Kebencian, Semangat Buddha Dharma

Kebanyakan masalah dari manusia adalah suka berangan-angan kosong atau berkhayal. Apa itu berkhayal? Berkhayal adalah membayangkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada. Lalu, apa itu memaksakan kehendak? Memaksakan kehendak adalah menginginkan sesuatu yang sebenarnya tidak bisa didapatkan. Apakah hal yang dipaksakan bisa baik? Semangka yang diputar paksa, apakah bisa manis? Misalnya, di restoran ini kekurangan seorang koki, dan malam harinya tidak ada yang bisa masak. Lalu asal tarik seorang koki, “Eh, kamu bisa, kamu bisa, coba kamu masak saja.” Pasti hasil masakannya akan kacau balau.  Umur sudah beranjak tua, pinggang sudah tidak kuat lagi, pinggang tidak bisa dibungkukkan untuk memungut sesuatu, namun tetap bilang, “Tidak apa-apa, tidak apa-apa, saya bisa, saya sanggup,” — “Kreekk!” Pinggang terkilir. Apakah hal yang dipaksakan bisa berhasil? Jadi, jangan suka berkhayal. Harus menemukan jalan Kebuddhaan yang sejati, barulah bisa abadi dan sempurna.

 

Para Buddha dan Bodhisattva membimbing kita untuk belajar Buddha Dharma dan menempuh jalan yang benar, selama kita terus berjalan di jalan itu, maka kita tidak akan tertinggal. Karena orang yang belajar Buddha Dharma dengan tekun dan gigih, ia menjadikannya sebagai sandaran seumur hidup, yang artinya, seumur hidup ini saya akan mengikuti jalan para Buddha dan Bodhisattva, maka seumur hidup ini saya memiliki tempat berlindung. Banyak orang hidup di dunia ini bersandar pada kebijaksanaan para Buddha dan Bodhisattva, hidup bergantung pada keyakinan terhadap para Buddha dan Bodhisattva, dirinya yakin bahwa “Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan menyelamatkan saya”, dan dengan keyakinan seperti inilah baru bisa bertahan hidup sampai hari ini. Mengapa banyak orang yang ingin bunuh diri akhirnya membatalkannya? Karena dia melihat harapan, dia melihat cahaya. Orang yang sedang marah tidak bisa melihat cahaya, dan orang yang dipenuhi kebencian tidak memiliki cahaya, orang yang iri hati terhadap orang lain, cahaya terasa menjauh darinya, hanya hati yang terang dan mata yang jernih yang bisa hidup dengan bermakna di dunia ini. Jika mata tidak mampu melihat dengan jelas peran dirinya di dunia ini, jika tidak bisa melihat hakikat dari hal-hal atau benda, maka hidup seseorang itu menjadi sia-sia. Misalnya, saat sedang bertengkar tidak terpikir bahwa nanti hubungan bisa membaik, maka orang seperti ini tidak punya pandangan jauh ke depan. Saat sedang akur, tidak terpikir bahwa suatu saat nanti bisa bertengkar, orang seperti ini juga termasuk tidak bijaksana. Mana ada pasangan suami istri yang tidak pernah bertengkar? Mana ada sepasang sahabat yang tidak pernah berselisih? Lidah dan gigi bekerja sama begitu baik, tetapi mengapa lidah terkadang tetap tergigit oleh gigi? Itu hal yang tidak bisa dihindari.

 

Dengan titik tumpu seperti apa seseorang menopang seluruh hidupnya? Bagaimana cara menggali kekuatan pendorong utama yang menopang kehidupanmu? Kita semua hidup karena ada motivasi. Misalnya, saya sulit bangun pagi, namun saya harus bangun, apakah punya motivasi? Ada. Karena anak saya harus pergi sekolah pagi-pagi, saya tidak punya pilihan selain bangun lebih awal untuk menyiapkan makanan dan masakan untuknya — anak itu adalah motivasinya. Banyak orang bangun jam empat atau lima pagi untuk melafalkan paritta, menekuni Dharma dan membina pikiran, kekuatan pendorong utamanya adalah keinginan untuk mengubah diri, mengandalkan pada sutra-sutra Bodhisattva agar pekerjaannya lancar, tubuh sehat, dan belajar menjadi lebih baik, inilah yang disebut kekuatan pendorong utama. Banyak orang pergi menjemput pacarnya, padahal dirinya sendiri sudah kelelahan setengah mati, namun karena dirinya mencintai pacar tersebut, ini juga disebut kekuatan pendorong utama. Lalu, apa kekuatan pendorong utama yang menopang hidupmu? Itu adalah membina diri dari dalam. Membina pikiran harus membina dari dalam, nilai-nilai dalam diri, itulah yang bersifat abadi. Jika hanya mengandalkan pembinaan dari luar, itu hanya sementara. Apa itu pembinaan dari luar (eksternal)? Seperti sekarang ini Master mengajar kalian, memberi pelajaran — itu adalah bantuan dari luar, mengertikah? Oleh sebab itu, harus pahami bahwa pembinaan diri yang sebenarnya tetap harus dari dalam diri, kita mengandalkan pada diri sendiri adalah nyata, sama halnya dengan belajar. Mengandalkan orang lain untuk les, itu hanya sementara, adalah palsu. Tapi kalau mengandalkan pada diri sendiri yang rajin belajar dan berusaha, barulah kamu bisa lulus dengan baik, itulah yang sejati.

 

Dalam menekuni Dharma dan membina diri itu bergantung pada diri sendiri, bukan bergantung pada orang lain yang mendorongmu. Master setiap hari mengingatkan kalian, meminta kalian membina diri dengan baik, tapi kalau kalian sendiri tidak sungguh-sungguh membina diri, apakah bisa berhasil? Diberi tahu supaya setiap hari jangan memarahi orang, jangan memukul orang, jangan berbuat jahat, jangan memiliki pikiran jahat, namun kalian tetap berpikiran jahat dan melakukan kejahatan, apakah bisa berubah menjadi baik? Hanya dengan mengandalkan diri sendiri untuk berubah, itulah jalan menuju kekekalan. Kalau kamu ingin melakukan hal ini dengan baik, kamu harus memiliki jalan menuju kekekalan, kekal berarti saya akan terus melakukannya, mengandalkan kekuatan diri sendiri untuk menemukan sumber kehidupan yang abadi — 恒长 (heng chang) . “恒 – héng” berarti abadi, “长 – cháng” berarti lama atau berkelanjutan. Apakah ingin tahu apa itu abadi? Hanya roh yang ada di dalam dirimu itulah yang abadi dan berkelanjutan. Jadi, ketika menghadapi masalah jiwa batin, urusan dalam hati, kita harus membinanya dengan sungguh-sungguh; Kalau yang dihadapi adalah hal-hal dari luar, seperti makan sesuatu di mulut, mendengarkan lagu yang enak, atau melakukan sesuatu yang membuat diri senang, itu semua adalah hal-hal dari luar, dan itu tidak bisa dibawa pergi. Hanya hal-hal yang benar-benar bisa dibawa pergi itulah yang bersifat kekal dan abadi. Apa yang bisa dibawa pergi? Itu adalah jiwa. Kesadaranmu, tingkat kesadaran spiritualmu — itu semua bisa dibawa pergi, sedangkan hal-hal lain tidak bisa dibawa.

 

Jadi, harus memiliki semangat yang abadi. Orang hidup di dunia ini harus punya semangat dan rasa kepenuhan atau bermakna. Apakah kalian memiliki rasa bermakna? Setiap hari merasa hidup tidak nyaman, hidup tidak menyenangkan, hidup susah, tidak bermakna — apakah bisa begitu? Apakah punya semangat? Ketika melihat sesama makhluk, “Halo, halo, halo semuanya.” Ini adalah suatu semangat dari manusia, yaitu “精气神 — jing qi shen”— energi vital, semangat,  dan jiwa. Orang yang belajar Buddha Dharma harus selalu memiliki semangat yang penuh antusiasme untuk membantu orang lain. Banyak orang begitu suasana hatinya datang, langsung sembarangan menjelaskan kepada orang lain; begitu suasana hatinya buruk, langsung tidak ramah, ingin marah-marah sesuka hati, ingin tidak senang, memperlihatkan muka masam ke orang lain — apakah boleh seperti itu? Oleh sebab itu, Master memberitahu kalian untuk membina diri hingga memiliki rasa kepenuhan atau bermakna, harus membina munculnya semangat, dan harus membina diri hingga munculnya potensi bawaan lahir dalam hidup. Apa itu potensi? Yakni hati nurani. Sebenarnya, manusia itu sangat bodoh; ketika sudah sulit melanjutkan banyak hal, kalau bertanya pada hati nurani sendiri, itu bisa memberikan jawaban. Apakah punya hati nurani? Apakah saya harus melakukan hal ini atau tidak? Tanyakanlah pada potensi dalam diri sendiri. Apa itu potensi? Itu adalah hati nurani kamu. Misalnya, hari ini saya sakit, bertanya pada hati nurani saya, dan hati nurani akan memberitahumu: kamu sakit hari ini karena selama waktu yang lama kamu tidak merawat dirimu dengan baik. Hati nurani memberitahumu: Kamu sudah terkena penyakit ini, maka kamu harus sungguh-sungguh membina diri dengan baik, mulai berubah dari sekarang — bukankah itu suara hati nurani yang menunjukkan arah untukmu? Misalnya, saya hendak marah, tanyakan pada hati nurani. Hati nurani akan memberitahumu: Kamu jangan marah, dia dulu sudah baik padamu, dia juga sudah banyak berkorban untukmu, kamu jangan marah. Kalau seseorang mau menuntut orang lain, hati nurani akan memberitahumu: Jangan menuntut orang lain, masalah seperti ini, menambah satu musuh seperti menambah satu dinding penghalang; semakin sedikit musuh, semakin sedikit penghalang. Jika suami istri mau bercerai, hati nurani akan memberitahumu: Pikirkanlah anak-anak… dan lain-lain, semua itu bisa dijawab oleh hati nurani kalian. Hari ini saya mau mengambil keuntungan dari orang lain, hati nurani langsung memberitahumu: Jangan mengambil keuntungan dari orang lain, nanti orang lain juga akan mengambil keuntungan dari kamu — itulah potensi alami dalam diri manusia. Tidak perlu bertanya ke orang lain, cukup tanyakan pada dirimu sendiri.

 

Tingkat kesadaran Bodhisattva menopang kita dalam segala hal — berjalan, berdiri, duduk, dan berbaring. Menggunakan tingkat kesadaran Bodhisattva untuk membimbing kita dalam dunia ini, saat tidur, makan, dan perilaku. Segala sesuatu harus seperti Bodhisattva, tidak boleh bertindak semaunya sendiri. Sifat semaunya ini bukanlah sifat dasar yang sebenarnya, melainkan sifat dasar yang tercemar. Master memberikan contoh yang sederhana: Ketika kalian lahir, tubuh kalian tidak berbau busuk. Jika kalian tidak mandi selama setahun, apakah tubuh kalian akan bau atau tidak? Karena kalian tidak mandi selama setahun, maka kalian menjadi bau. Yang Master ajarkan kepada kalian sekarang adalah harus mandi, supaya kalian menemukan tubuh yang semulanya harum itu. Dengan membersihkan kotoran di tubuh, maka tubuhmu akan menjadi sangat bersih.

 

Harus membuat “tubuh jasmani mati”, artinya kita tidak boleh terlalu terpaku pada tubuh fisik. Sekilas mendengar kalimat ini, “Wah, bukankah itu berarti mati?” Maksud dari jangan membiarkan tubuhmu hidup adalah jangan biarkan tubuhmu yang mengendalikan jiwamu. Jika tubuh jasmanimu masih hidup, itu berarti kamu sedang dikendalikan dan dipergunakan oleh tubuh jasmani itu sendiri. Contoh sederhana, tubuh akan merasa lapar, rasa lapar itu muncul tanpa melalui pemikiran dari otak. Setelah lapar, otak baru berpikir — “Saya harus makan.” Inilah yang disebut tubuh yang mengendalikan jiwamu. Kita yang menekuni Dharma harus membuat semua tubuh jasmani mati, artinya menggunakan jiwa yang mengendalikan tubuh jasmani kita. Contoh sederhana, apakah mobil itu mati? Kalau kamu tidak mengendarainya, apakah mobil bisa berjalan sendiri? Tetapi saat kamu mengendarainya, apakah mobil bisa berjalan sendiri? Mobil tetap bisa berjalan sendiri. Kalau kamu tidak bisa mengendalikan mobil itu, maka mobil akan membawamu menabrak sesuatu, itu berarti jiwamu dikendalikan oleh mobil tersebut. Mengertikah?  Jadi, manusia jangan sampai dikendalikan oleh tubuh jasmaninya. Misalnya, hari ini keinginan muncul, saya melihat wanita, dan ingin melakukan hal yang tidak baik,  keinginanmu sudah mengendalikan jiwamu. Hari ini saya melihat alkohol, dan saya ingin minum, tubuh jasmanimu kembali mengendalikan jiwamu. Jadi, orang yang benar-benar pintar harus menggunakan jiwanya untuk mengendalikan tubuh jasmaninya. Kalau kamu membiarkan tubuhmu hidup sementara jiwamu mati, maka kamu seperti orang yang vegetatif, atau penderita gangguan jiwa. Itu akan membawamu ke dunia lain, dunia apa? Dunia hewan. Kalau ingin makan ya makan, ada keinginan ya lakukan keinginan itu, kamu jadi seperti binatang — karena kamu tidak punya jiwa lagi. Oleh karena itu, harus memahami untuk menghargai kehidupan abadi diri sendiri.