Nafsu Keinginan Adalah Sumber Utama Kemerosotan
Hari ini saya ingin membahas dengan kalian, kita karena menghadapi terlalu banyak halangan dan masalah di dunia ini, maka akhirnya dalam ketidaksadaran kehilangan hidup kita, melupakan hidup kita, melupakan siapa diri kita sendiri. Banyak orang yang semakin lama semakin tidak menyukai dirinya sendiri, banyak orang terhadap perilaku dan tindakan yang dilakukannya sendiri semakin lama semakin tidak bisa memahaminya, banyak orang tidak tahu mengapa dirinya hidup di dunia ini, sesungguhnya ini semua disebabkan oleh halangan psikologis manusia. Oleh karena itu, seseorang tidak boleh membiarkan keberadaan halangan dalam pikirannya sendiri, semakin besar halangannya, dia akan semakin kehilangan jati dirinya, semakin tidak bisa menemukan dirinya sendiri, dalam ketidakjelasan akan terjerumus ke dalam jurang nafsu keinginan. Coba kalian pikirkan, bukankah demikian? Ada sebagian orang yang terus-menerus mengejar ketenaran dan kekayaan, maka perlahan-lahan ia akan terjerumus ke dalam jurang yang dalam; ada sebagian orang yang seumur hidupnya mengejar uang dan harta kekayaan, maka lambat laun ia juga akan tenggelam ke dalam jurang nafsu keinginan.
Di dunia ini, kita harus belajar mematangkan, menenangkan dan mengheningkan diri, yakni menjadi sangat hening, harus bisa memahami hal-hal ini, kamu baru bisa pelan-pelan memahami kebenaran sejati hidup ini. Semakin diam seseorang, semakin dalam seseorang berpikir, maka orang ini akan mampu menekuni Dharma dengan semakin baik. Terkadang apa yang dirasakan tubuh kita sangat jauh berbeda dengan apa yang dirasakan jiwa kita, terkadang seseorang berbaring di atas sofa atau ranjang merasa sangat nyaman, akan tetapi apa yang dirasakan tubuhmu ini adalah suatu bentuk perasaan, karena setelah kamu merasakan hal ini, berarti kamu sedang menerima hal ini; sedangkan seorang praktisi Buddhis, setelah kamu merasakan sesuatu secara rohani, kamu akan memahami banyak prinsip kebenaran, kamu akan seperti tiba-tiba terbangun dari mimpi, apa yang dirasakan secara rohani seorang praktisi Buddhis adalah tersadarkan. Menyadari dan menerima adalah suatu bentuk perasaan, sedangkan tersadarkan adalah suatu syarat dasar untuk membuat seseorang benar-benar terbuka kesadarannya. Apa yang dirasakan tubuh kita bisa hilang dalam sekejap, tetapi apa yang dirasakan jiwa kita, baik yang baik maupun yang buruk, bisa membawa manfaat maupun penderitaan bagimu. Orang yang berpikiran buntu dan memiliki masalah kejiwaan, dia akan terus-menerus merasa menderita, tersiksa secara psikologis; sedangkan orang yang berpikiran terbuka dan bisa melepas, berarti dia merasakan manfaatnya secara psikologis. Oleh karena itu, apa yang dirasakan dan tersadarkan adalah saling mendukung dan saling melengkapi.
Kita hidup di dunia ini harus belajar untuk tenang, diri kita harus bisa menjaga ketenangan. Mengapa Master mengajarkan kalian saat menghadapi masalah harus tenang terlebih dahulu? Tidak peduli masalah apapun yang dihadapi, jangan panik, jangan segera memiliki pemikiran untuk membalas dendam pada orang lain. Tidak peduli apa yang kamu dengar maupun yang kamu lihat, pertama-tama, kamu sendiri harus tenang, ketenangan pada dasarnya tidak memerlukan terlalu banyak kata-kata dan pemikiran. Dalam hidup ini, terkadang saat kita mengalami kesulitan, kita dipersulit orang lain atau dicemburui orang lain, atau difitnah orang lain dan lainnya, pertama-tama diri sendiri harus tenang, kemudian jangan terlalu banyak bicara, juga jangan memiliki terlalu banyak pemikiran, karena pemikiranmu akan mempengaruhi cara berpikir kamu, membuat pikiranmu semakin lama semakin buntu, terakhir kamu malah bisa mengucapkan kata-kata yang membuat orang lain tidak habis pikir.
Kita datang ke dunia ini satu kali, dan karena kita sudah datang ke Alam Manusia ini, di mana datang sekali sangat tidak mudah, sudah berapa tahun lamanya kita hidup di dunia ini, tetap saja masih bingung dan tidak jelas, tidak tahu apa tujuan kita datang ke dunia ini. Sama seperti banyak anak-anak muda di antara kalian yang berpacaran, saat sedang berpacaran, waktu berlalu sangat cepat, tunggu sampai sudah tidak ada banyak waktu untuk berpikir kembali, “Saya tidak tahu apa saja yang saya lakukan dulu.” Sama seperti rumah tangga banyak orang sebelum retak, dia setiap hari masih sibuk, lelah, dan menderita, tunggu sampai begitu rumah tangga ini retak, dia kembali berpikir: “Saya tidak tahu apa yang saya lakukan di rumah.” Ini karena manusia pada dasarnya tidak memiliki suatu kebijaksanaan, maka mereka tidak bisa melewati ambang pintu spiritual ini.
Kita mengatakan, sebuah pintu ada ambangnya, jiwamu keluar pasti ada halangannya. “Ambang pintu ini”, sesungguhnya bisa kamu lewati atau tidak? Kalian telah melakukan banyak kesalahan, kalian sudah mencelakakan orang lain dan juga diri sendiri, secara rohani, kalian menjalani hidup dalam ketidaktahuan sampai hari ini, coba pikirkan, bagaimana agar bisa membuat diri sendiri terbebaskan? Bagaimana supaya diri sendiri bisa terbebaskan dari beban yang berat ini? Yaitu dengan harus bisa melampaui ambang batas pintu kejiwaan ini, pertama-tama harus bisa mengalahkan pemikiran diri sendiri, kamu baru bisa melampaui ambang pembatas pintu ini. Sekarang ada berapa orang dari kalian yang bisa mengalahkan pemikiran psikologis diri sendiri? Ketika pemikiran tidak bergerak, maka akan mengakibatkan pikiran menjadi buntu, penderitaan kalian, jika tidak ada orang yang datang menasihati kalian, maka kalian tidak akan bahagia, karena kalian menjalani hidup dalam kebingungan dan ketidakjelasan, meskipun ada orang yang menasihati, kalian juga belum tentu bisa kembali. Jika kamu menjalani hidup keseharian kamu di tengah kebingungan dan ketidaksadaran ini, maka kamu selamanya tidak akan bisa melewati ambang pintu ini, berarti kamu tidak bisa terbebaskan. Mengapa seseorang dalam kehidupannya maupun secara kejiwaan seringkali tidak bisa terbebaskan? Inilah prinsip kebenarannya. Apabila kamu tidak bisa melampaui ambang batas pintu psikologis ini, maka kamu tidak akan bisa menapaki jalan kesucian, kamu tidak bisa terbebas dari penderitaan diri sendiri maupun dari siksaan batin sendiri; jika tidak bisa memasuki jalan kesucian, maka tidak bisa menjadi orang suci, kamu tidak bisa memperoleh dasar dalam menekuni Dharma dan menekuni kesadaran spiritual Bodhisattva.
Oleh karena itu, proses ketersesatan kamu, mungkin bisa berlangsung terus-menerus tiada habisnya. Ketika kamu berada di tengah hidup yang penuh ketersesatan, sewaktu kamu sedang tidak henti-hentinya melakukan semuanya, pada saat itu kamu merasa sangat berarti, namun sesungguhnya, ini adalah awal dari penderitaan. Contoh sederhana, sewaktu kalian sedang berpacaran, kalian masih tetap bingung dan tidak jelas, oleh karena itu, kalian masih akan merasakan perasaan yang mendalam, sangat harum, dan begitu bahagia. Akan tetapi begitu mimpi kalian ini berakhir, saat perasaan ini sudah hilang, kalian akan merasa yang saya lakukan sendiri, yang menyakiti diri saya ini begitu dalam dan tak berdaya, karena kamu sudah terluka, maka kamu akan merasa bahwa hidup ini penuh ketidakberdayaan. Seseorang yang merasa tidak berdaya, pada awalnya merasa sangat jelas dan sangat nyata, mengapa? Karena hari ini kalian berusaha mati-matian mencari uang, bekerja keras mendapatkan ketenaran dan kekayaan, menginginkan asmara, semua ini kelihatannya adalah hal-hal yang sangat nyata, namun sesungguhnya, begitu semuanya menjadi kosong, kamu merasa kecewa dan kehilangan, maka tanpa disadari semuanya akan menjadi ilusi. Apakah ilusi itu? Adalah sesuatu yang bisa terlihat, namun bisa hilang dalam sekejap, ini namanya ilusi. Uang yang tadi masih ada di tangan saya, dalam waktu membeli barang sebentar sudah habis terpakai; hubungan asmara yang tadi masih saya miliki, karena pertengkaran kami berdua, maka malam ini kami kehilangannya. Oleh karena itu, manusia hidup di tengah ilusi palsu, manusia selamanya tidak bisa melampaui pikirannya sendiri, juga tidak akan pernah bisa melampaui ilusi kehidupannya yang palsu.
Pikiran siapa yang tidak digunakan untuk kepentingan dan keuntungan pribadinya di dunia ini? Oleh karena itu, hanya dengan menempatkan pikiran kita setiap saat pada Bodhisattva yang menyelamatkan semua makhluk, kamu baru bisa meninggalkan keegoisan, kecemburuan, ketamakan, dan kebencian diri sendiri. Dalam sekejap, setahun berlalu, dalam waktu seketika, semua yang kita miliki berubah menjadi palsu dan hilang, maka, seseorang tidak seharusnya memiliki penantian dan angan-angan. Pembahasan Master dengan kalian sangat mendalam, selamanya jangan pernah ada nafsu keinginan yakni dengan tidak memiliki penantian, jangan ada angan-angan berarti jangan menjadi tamak. Karena begitu seseorang tamak, dia akan membayangkan banyak “kepalsuan”, setiap hari berpikir untuk membeli lotere, saya ingin menang jutaan bahkan puluhan juta uang, semua angan-angan ini merupakan sumber utama kemerosotan kamu. Oleh karena itu, jiwa yang setiap tahun dan setiap bulan “tertidur”, atau “jiwa” yang tidur, berarti kita setiap hari hidup di tengah nafsu keinginan, setiap hari kita hidup di dalam penantian, setiap saat kita hidup di tengah angan-angan, sedangkan angan-angan, penantian, dan nafsu keinginan pada akhirnya akan membawa kekecewaan dan keputusasaan pada kita. Kurangi berangan-angan, lebih banyak memberikan diri sendiri harapan; kurangi penantian, akan membawa lebih banyak harapan dalam kehidupan kita. Tidak tamak akan nafsu keinginan apapun, maka kekecewaan akan semakin berkurang, tidak tamak, itu adalah suatu perolehan.
Contoh sederhana, di terminal bus sekian lama tidak ada satu pun bus yang datang, tetapi sekarang datang sebuah bus umum, maka orang-orang itu akan berusaha keras untuk menaikinya, berdesak-desakkan masuk, nafsu keinginan mereka adalah, “Saya harus naik bus ini”, sekalipun penuhnya sampai pintu tidak bisa tertutup, saya juga tetap harus naik. Sedangkan ada sebagian orang yang bermentalitas sangat baik: “Saya tidak ikut berdesak-desakan di bus ini, saya menunggu saja. Bus di depan sudah penuh sesak, lalu di belakang datang 2-3 bus kosong, apakah kalian pernah mengalami keadaan seperti ini? Begitu pintu dibuka, ketika naik semua orang mendapatkan tempat duduk, sedangkan orang-orang di bus depan semuanya bergelantungan di pintu bus. Coba pikirkan, dengan tidak tamak dan tidak mengejar, dia bisa mendapatkannya; sedangkan orang yang berusaha mati-matian untuk mendapatkannya, dia malah akan kehilangan, bukankah begitu?
Setelah kita menekuni Dharma harus bisa tersadarkan, kita tidak boleh terus “tertidur”, setiap hari kita harus membuat diri sendiri tersadarkan. Apakah tersadarkan di sini? Yaitu perasaan, ketika kamu memiliki perasaan ini, kamu baru bisa pelan-pelan sadar, namun jika kamu tidak memiliki perasaan ini, maka kamu tidak akan pernah bisa bangun – tersadarkan. Dengan kesadaran ini, kamu bisa merasakan siraman Dharma, karena ketika kamu benar-benar memahami makna kehidupan ini, kamu baru bisa memahami bahwa, segala benda yang saya miliki bisa hilang dalam sekejap, segala hal yang saya inginkan, sesungguhnya di dunia ini bukanlah sesuatu yang sempurna tanpa cacat sedikit pun, saya akan menyesuaikan jodoh, dengan demikian kamu baru bisa memperoleh kesadaran.
Ketika seseorang tenggelam dan terobsesi pada suatu benda materiil dan tidak henti-hentinya menginginkannya, maka kamu pastilah orang yang masih “tertidur” dan belum tersadarkan. Oleh karena itu, seorang praktisi Buddhis sering mengejar sesuatu, sering memiliki nafsu ketamakan, maka sepanjang tahun dia tidak akan tersadarkan. Sama seperti kebanyakan orang, satu hal yang pertama kali dilakukannya setiap kali bangun pagi adalah memeriksa apakah harga saham naik atau jatuh, dia dalam waktu lama terobsesi pada saham, maka waktu akan hilang dengan cepat. Master pernah menerima sebuah telepon, Master memberitahu dia, bahwa ada satu saudaranya yang menderita penyakit jantung yang sangat serius, belum usia 50 tahun, orang yang baik-baik saja dan biasanya tidak pernah menderita penyakit jantung, semenjak menelepon Master sampai sekarang, orangnya sudah meninggal, sekarang sudah hari tujuh ke tiga.
