Memahami secara Mendalam terhadap Pembinaan yang Sungguh-sungguh, Melepaskan Ego Pribadi, Metode Baik untuk Menyelamatkan Semua Makhluk, Menciptakan Kepentingan Universal Bersama-sama (Bagian 1) — 参悟实修 舍去小我 妙法度众 共创大我(上)

Seminar Dharma Taipei - Taiwan, 14 September 2014

Memahami secara Mendalam terhadap Pembinaan yang Sungguh-sungguh, Melepaskan Ego Pribadi, Metode Baik untuk Menyelamatkan Semua Makhluk, Menciptakan Kepentingan Universal Bersama-sama

Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, Naga Langit Pelindung Dharma, mengijinkan kita memiliki jodoh untuk berkumpul kembali di tanah Taiwan yang indah ini untuk bersama-sama mendapatkan manfaat dari Dharma dan berbagi sukacita Dharma secara bersama. Terima kasih kepada Ma Zu Pu Sa dan teman-teman se-Dharma, relawan dan semua makhluk berjodoh dari seluruh dunia, sehingga memungkinkan budaya tradisional Tiongkok dan ajaran Buddha Dharma selama ribuan tahun dapat diwariskan dan membawa manfaat bagi dunia. Terima kasih kepada nenek moyang kita memiliki kebajikan untuk melindungi generasi mendatang. Terima kasih kepada Buddha Agung karena telah membawa agama Buddha ke dunia  agar kita terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan, cahaya Buddha bersinar di mana-mana; Terima kasih kepada para biksu agung dan teman terkemuka dari industri media elit. Terima kasih kepada kalian karena telah melindungi Dharma, memungkinkan kita untuk menjauhi bencana di dunia, berdoa untuk keselamatan semua makhluk hidup, dan perdamaian dunia. Mari kita bekerja keras untuk membuat dunia menjadi tanah murni sejati.

 

Kecelakaan udara yang terus menerus di dunia kini menimbulkan teror dan ketakutan yang besar. Hanya dalam sepuluh hari sudah terdapat 500 orang kehilangan nyawa. Di Suriah, hanya empat bulan sejak perang dimulai pada bulan April, sudah 190.000 orang tewas. Wabah baru Ebola telah menewaskan 1.552 orang dan menginfeksi lebih dari 20.000 orang. Yang lebih menakutkan lagi adalah kanker. Menurut statistik Organisasi Kesehatan Dunia pada tahun 2012 saja, jumlah kematian akibat kanker adalah 8,2 juta, setara dengan 22.465 orang meninggal karena kanker setiap hari. Belum lagi termasuk penyiksaan mental setiap hari, depresi, fobia, autisme dan penyakit mental, membuat orang-orang yang hidup di dunia ini setiap hari tidak bisa lepas dari penjaranya sendiri, seperti hidup di Neraka. Hanya kebijaksanaan Buddha Dharma yang bisa membebaskan kita dari penderitaan di dunia. 84.000 pintu Dharma dalam Buddha Dharma adalah jalan untuk membantu orang-orang menyingkirkan kerisauan, memberikan kita untuk memilih pintu Dharma yang paling cocok untuk kita, inilah metode yang baik.

 

Ketika kita memandang kehidupan, kita harus melatih kebijaksanaan pikiran kita, harus mengumpulkan berkah dan kebajikan untuk menjadi orang baik di dunia. Hanya ketika seseorang berhasil menjadi manusia barulah dia bisa menjadi Buddha. Kita harus menganggap dunia sebagai tempat wisata untuk mengumpulkan jasa kebajikan. Harus menganggap semua ketenaran dan kekayaan, perolehan dan kehilangan sebagai hal yang tidak kekal dan tidak dapat diperoleh. Lebih lagi tidak boleh membawa kerisauan duniawi ke hari esok dan lusa. Ini barulah memahami pikiran dan menemukan sifat dasar.

 

Sebenarnya, kita hidup di dunia ada tiga proses. Manusia ada masa remaja, paruh baya, dan tua. Kedewasaan tubuh kita umumnya membutuhkan waktu 22 hingga 25 tahun, sedangkan kedewasaan jiwa kita membutuhkan waktu 50 tahun. Ketika seseorang benar-benar mengenal dunia dan jiwanya dewasa, ia sudah berada pada usia sekitar 50 tahun. Masa kedewasaan jiwa manusia tidak ada habisnya, ini membicarakan tentang roh atau spiritual. Dalam hidup kita, usia pertengahan adalah masa yang paling indah, kehidupan perlahan menuju kesempurnaan, kejernihan jiwa mencapai puncak kemanusiaan, dan kebijaksanaan serta talenta pun mulai muncul sesuai dengan prestasi. Hanya ketika seseorang memiliki wawasan dan pemahaman yang matang barulah dia bisa mempunyai akal rasional. Dalam masyarakat modern  ini, sangat sulit bagi seseorang untuk memiliki akal rasional. Ada orang yang tidak pernah memiliki usia paruh baya yang indah dalam hidup mereka, sama seperti hidup mereka, tidak pernah menjadi dewasa. Kehidupan spiritual adalah landasan nyata dalam perubahan hidup kita. Ketidaktahuan masa muda, kegilaan masa muda, dan kehati-hatian di masa tua, namun kekuatan fisik dan IQ berangsur-angsur menurun. Tahapan kehidupan yang berbeda menciptakan lingkungan hidup yang berbeda.

 

Orang zaman sekarang memiliki kesadaran terbalik, tidak dapat membedakan karma baik dan jahat. Mentalitas mereka sangat terdistorsi, menginginkan apa yang mereka lihat. Jika tidak menyenangkan hati, maka akan diliputi kebencian. Selama ada keuntungannya, mereka rela melakukan hal-hal bodoh apapun. Inilah keserakahan, kebencian dan kebodohan yang dikatakan dalam Buddha Dharma. Mentalitas seseorang menentukan kehidupannya. Kehidupan yang benar dalam menekuni Dharma akan membuatmu bertumbuh dalam kebijaksanaan. Betapapun risaunya kita hidup di dunia ini, juga jangan lupa untuk tersenyum. Kehidupan yang benar dalam menekuni Buddha Dharma akan membuatmu memperoleh kebijaksanaan. Betapapun cemasnya juga harus memperhatikan nada bicaramu. Betapapun menderita juga harus bertahan untuk mengikis karma. Betapapun lelahnya, kita harus mencintai diri sendiri, bersikap rendah hati dan kamu akan semakin lancar. Ketika sukses jangan lupa masa lalumu. Ketika gagal jangan lupa bahwa masih ada masa depan. Ketika satu jalan tidak bisa dilalui, kita bisa berbelok, segala kerisauan di dunia ibarat awan yang berlalu. Orang yang tahu untuk memberi baru bisa mendapatkan. Orang yang tahu untuk membantu orang lain baru akan memiliki jodoh baik.

 

Orang yang membina pikirannya harus memperbaiki mentalitasnya. Mentalitas sangatlah penting. Membina pikiran berarti memperbaiki perilaku diri yang salah dan gagasan yang salah. Orang harus memiliki pengetahuan benar dan pandangan benar. Bagaimana membuat diri memiliki pengetahuan benar dan pikiran benar? Pengetahuan benar berasal dari introspeksi diri setiap hari; Pikiran benar berasal dari pemikiranmu. Orang yang tidak serakah, tidak membenci, dan tidak bodoh akan mempunyai pikiran benarnya sendiri. Orang yang setiap hari mengintrospeksi perbuatan dirinya apakah benar atau salah dan memahami untuk bertobat akan memiliki pengetahuan benar. Praktisi Buddhis harus memahami untuk mengintrospeksi diri setiap hari, pikirkan “Apakah saya terlihat seperti Bodhisattva hari ini? Bisakah saya menjadi seorang praktisi Buddhis hari ini?” Kita harus mempelajari kebijaksanaan Buddha, harus memahami untuk bertobat. Begitu seseorang kekurangan kebijaksanaan, ia akan kekurangan rasional; Kekurangan rasional, maka akan kekurangan kebijaksanaan. Orang yang tidak memiliki kebijaksanaan tidak akan bertindak secara rasional. Oleh karena itu, jika seseorang kurang bijaksana, maka ia tidak akan memiliki kebijaksanaan; Tidak boleh kurang rasional, baru akan mempunyai prinsipnya sendiri. Hanya dengan mengikis karma diri sendiri, melakukan lebih banyak perbuatan baik, dan menjaga erat jodoh Kebuddhaan baru bisa menjalin jodoh baik secara luas.

Ada seorang pemuda yang bertengkar hebat dengan istrinya. Dia sangat menyesalinya dan mengatakan bahwa dia telah salah memilih sebelum menikah. Mengapa dia menikahi istri seperti itu? Dia merasa hidupnya sangat menyedihkan dan tidak berarti. Dia ingin menceraikan istrinya setelah menanyakan pendapat ayahnya. Setelah mendengarkan perkataan anaknya, sang ayah berkata: “Nak, apakah istrimu mempunyai kelebihan?” Putranya berpikir sejenak dan berkata, “Ada sebelum menikah, tetapi tidak sekarang.” Sang ayah lanjut bertanya, “Dalam hatinya, apakah menurut dia kamu punya kelebihan?” Anaknya berkata, “Ada sebelum menikah, tetapi sekarang juga tidak ada lagi.” Sang ayah berkata, “Kamu lebih baik dariku. Aku tidak tahu apa kelebihan ibumu sebelum Aku menikah.” Kemudian sang ayah membawa anaknya keluar rumah, mengambil sepotong ubin dan kapas di luar rumah, dan bertanya kepada anaknya, “Mana yang lebih keras, kapas atau ubin?” Anaknya berkata, “Tentu saja ubin lebih keras.” Sang ayah mengangkat ubin dan kapas hingga ketinggian tertentu dan tiba-tiba melepaskannya. Ubinnya hancur berkeping-keping dan kapasnya jatuh dengan lembut. Sang ayah berkata: “Lihatlah anakku, yang keras akan hancur, tetapi yang lunak tidak akan rusak sama sekali. Nak, kamu harus rendah hati seperti kapas. Kita tidak boleh menyakiti orang lain. Jika kita menyakiti orang lain, kita akan menyakiti diri kita sendiri. Kita tidak boleh seperti ubin yang tajam dan bersudut, yang akan membeku saat dingin dan pecah saat bertemu benda keras. Menyakiti orang lain akan lebih menyakiti diri sendiri. Mengakui kelebihan orang lain akan membuat diri sendiri merasa sangat hangat. Jika kamu fokus pada kekurangan orang lain setiap hari akan melukai hatimu sendiri. Kita harus belajar dari kapas untuk melindungi orang lain dari hawa dingin dan menjaga mereka tetap hangat. Terkadang kata-kata yang baik bisa menghangatkan hidupnya, tetapi kata-kata yang kejam dan egois bisa membuatnya membencimu seumur hidup, dan bisa merusak pernikahanmu. Apakah kamu ingin ayahmu memperlakukan ibumu sama seperti kamu memperlakukan istrimu?“ Orang yang sering menyesal adalah orang yang tidak bisa memahami orang lain, adalah orang yang egois. Orang yang selalu memikirkan egonya sendiri, selamanya tidak akan bisa menjadi seorang praktisi Buddhis, karena praktisi Buddhis adalah seseorang yang melepaskan ego pribadi dan mengutamakan kepentingan universal. Kita praktisi Buddhis harus melupakan kekurangan orang lain dan mengingat kelebihan orang lain, maka kita akan hidup lebih sehat dan lebih bahagia.

 

Pikiran harus bebas dari halangan. Orang-orang sekarang melihat orang lain memiliki halangan, kecurigaan, kecemburuan, dan kebencian. Ini bukanlah mentalitas yang seharusnya kita miliki sebagai praktisi Buddhis. Kalian semua adalah orang yang akan pergi ke Surga untuk menjadi Bodhisattva di masa depan. Apakah Bodhisattva akan cemburu dan membenci seperti kalian? Harus tiada halangan, melihat siapa pun harus tiada halangan. Di dalam otak harus tiada pikiran, maka sifat dasar diri baru bisa tak tergoyahkan. Orang yang memiliki akar yang baik baru akan memiliki pikiran yang baik, dan orang yang memiliki pikiran yang baik baru akan memiliki perbuatan dan perkataan yang baik. Ada kehilangan baru ada perolehan, tiada kehilangan maka tiada perolehan. Kehilangan ini memperoleh itu, memperoleh yang tidak diperoleh, tetap juga memperoleh, ini barulah tiada perolehan dan kehilangan. Harus tiada hambatan dan halangan, tiada rintangan dan halangan, tiada halangan di dalam hati, baru bisa memandang panca skhanda adalah kosong.

 

Banyak praktisi Buddhis yang setelah menekuni Dharma lalu membenci ini dan membenci itu, memandang rendah ini dan itu. Pikirkan, apakah Bodhisattva kita yang mulia akan memandang rendah orang? Pikirkan, Sang Buddha datang ke dunia ini 2.500 tahun yang lalu, menanggung segala penderitaan di dunia, membawakan ajaran Buddha Dharma ke dunia. Pikirkan Guan Shi Yin Pu Sa, Ji Gong Pu Sa, keberhasilan setiap Bodhisattva mengandalkan semua makhluk, dan semua makhluk yang ingin menjadi Buddha mengandalkan sifat dasar diri dan kemandirian. Kita harus memperlakukan hidup dengan baik, tidak mengecewakan hidup, harus melepaskan diri. Orang harus seperti lautan yang menaungi ratusan sungai. Orang harus memahami untuk menerima pendapat orang lain, perlahan menyucikan hati dan pikiran diri sendiri.

 

Suatu hari, seekor keledai milik seorang petani secara tidak sengaja terjatuh ke dalam sumur yang kering. Petani itu berusaha keras untuk menyelamatkannya, namun gagal selama beberapa jam. Keledai itu masih meratap di sumur yang kering. Petani itu tidak berdaya, dia memutuskan untuk menyerah karena keledainya juga sudah tua, untuk mencegahnya mati kesakitan, dia memutuskan untuk mengubur sumur kering tersebut. Masyarakat desa terus mengisi sumur kering tersebut dengan tanah. Ketika keledai menyadari situasinya, ia menangis sedih. Setelah beberapa saat, keledai itu berhenti menangis dan terdiam. Ia mengibaskan tanah yang disekop ke dalam sumur kering itu dan berdiri di atas tanah. Setelah beberapa jam, keledai terus mengguncang tanah yang disekop oleh semua orang ke dasar sumur kering, dan ia berdiri di atas tanah. Akhirnya, keledai itu berdiri di mulut sumur. Ketika semua orang kaget, ia bergegas pergi. Dalam menekuni Dharma, terkadang kita akan terjebak dalam kerisauan dan kebingungan, seperti ketika kita terjatuh ke dalam sumur kering akan ada berbagai macam lumpur tertumpah ke tubuh kita. Jika kita ingin terbebas dari kerisauan dan kesulitan, rahasianya adalah dengan perlahan-lahan mengibaskan air keruh, lima keinginan dan enam kekotoran di tubuh kita seperti pasir. Kita tidak boleh serakah atau iri terhadap orang lain. Mengibaskan kerisauan diri dengan bersih, baru bisa berdiri di tingkat kesadaran spiritual Buddha dan dengan berani hidup di tanah suci diri di dunia.

 

Dalam hidup ini kita harus melewati lawanan arus baru bisa bergerak ke tingkat yang lebih tinggi. Dalam menekuni Dharma, yang terpenting adalah memiliki sifat diri. Sifat diri yang ada di dalam hati kita akan menambah kekuatan tekad kita. Dengan adanya kekuatan tekad baru bisa ada tindakan. Keyakinan, tekad dan tindakan yang dikatakan Buddha dan Bodhisattva adalah agar kita tidak pernah meninggalkan makna sebenarnya dari ajaran Buddha Dharma dalam menekuni Dharma.

 

Kita menekuni Dharma harus memiliki keyakinan. Jika seseorang tidak yakin, maka ia tidak bisa mendapatkan berkat dari Bodhisattva, seperti halnya jika tidak memiliki handphone, kita tidak dapat mengetahui bahwa gelombang radio di udara dapat mengirimkan informasi. Kita bisa mendapat sinar matahari para Buddha dan Bodhisattva di dunia, dan belajar bagaimana berperilaku, menjadi orang baik, dan orang luhur di dunia setiap hari. Untuk menjadi kaum intelektual yang agung, kita harus melepaskan diri kita sendiri, harus menekuni Dharma dengan baik, harus menemukan diri kita dari penderitaan, dan menemukan arah hidup dari kesakitan. Menekuni Dharma akan membuat kamu semakin kuat. Sulit untuk mengevaluasi perolehan dan kehilangan dalam hidup. Gunakan kebijaksanaan dan optimisme untuk melihat kehilangan sebagai perolehan. Jangan menganggap segala sesuatu dalam hidup terlalu serius. Jika kamu menganggapnya terlalu serius, kamu akan kehilangan kenormalan dan keseimbangan saat menghadapi godaan.

 

Seorang rekan se-Dharma meminta Master untuk menerawang totem. Dia berkata, “Master, menurut Anda apakah saya akan menjadi kaya akhir-akhir ini?” Master berkata, “kamu akan kehilangan uang.” Dia kemudian mengatakan bahwa dia telah menerima telepon yang mengatakan bahwa dia telah memenangkan hadiah besar. Semua orang tahu bahwa panggilan ini adalah penipuan. Berharap kamu dapat menjaga keseimbangan di hati, harus selalu puas. Berpuas diri barulah tidak akan serakah. Menjadikan diri sengsara, tidak mampu melepaskan diri dan kerisauan adalah karena pikiran kehilangan kenormalan dan tidak seimbang. Praktisi Buddhis harus selalu bertobat dan melafalkan paritta. Inilah yang dikatakan dunia Buddhisme, harus memahami untuk mencapai pencerahan dan membina diri dengan sungguh-sungguh.

 

Seorang dokter pernah melakukan operasi kanker pada seorang pasien dari daerah pedesaan. Ketika dokter membedah limpa, ia menemukan bahwa operasi tersebut tidak dapat menghilangkan area kanker tersebut, jadi ia menjahitnya kembali. Ia menjelaskan kepada pasien, namun pasien tidak memahami terminologi medis yang diucapkan dokter. Ia bersikeras mengira operasi telah dilakukan dan penyakitnya akan sembuh. Dokter hanya bisa membiarkannya keluar rumah sakit. Tidak disangka, pemeriksaan kembali setelah satu tahun, ia benar-benar sembuh, bahkan sel kanker pun hilang. Dari hal ini, semua orang bisa memahami bahwa mentalitas yang optimis, percaya diri, terkadang itu adalah operasi terbaik.

 

Banyak orang mengatakan kepada Master bahwa membina diri itu sangat menderita. Ya, penderitaan orang yang membina diri itu adalah sementara, adalah sedang mengikis karma masa depan, dan terbatas, juga layak dan bernilai; sedangkan penderitaan orang yang tidak membina pikiran itu adalah penderitaan seumur hidup dan menderita dengan sia-sia. Ibarat membeli rumah dan menyewa rumah, hutang membeli rumah pada akhirnya bisa dilunasi, namun uang dan hutang menyewa rumah tidak akan pernah bisa dilunasi. Keajaiban hanya akan terjadi pada orang yang percaya akan keajaiban. Kita harus percaya bahwa Bodhisattva akan memberkati kita. Tahun lalu, kita berdoa untuk masyarakat Taiwan di Kaohsiung Arena. Alhasil, Topan Usagi berubah arah. Ini karena saya percaya Guan Shi Yin Pu Sa akan membuat keajaiban terjadi.

 

Menghadapi dunia masyarakat modern yang banyak bencana dan kesulitan, Sang Buddha telah menyampaikan kepada kita yang tinggal di dunia ini sejak 2.500 tahun yang lalu. Beliau menggambarkan dunia sebagai rumah api, dengan bencana dimana-mana; juga menyebut entitas fisik dan mental yang membentuk hidup kita sebagai akumulasi penderitaan. Jika kita ingin membina pikiran dan berubah, kita harus mengubah pikiran yang mengumpulkan penderitaan. Kita tidak boleh mempunyai banyak keinginan dan harapan yang berlebihan terhadap dunia ini. Yang disebut sebagai kebahagiaan kekal dan kehidupan kekal semuanya adalah ilusi. Kita tidak tahu di mana kita akan berada di masa depan. Di manakah kita setelah 50 tahun nanti? Berharap semua orang bisa berpikir terbuka dan mengerti, di bumi ini, di dunia ini, lebih banyak membina diri, menjalin jodoh baik secara luas, agar kita dapat memperoleh kedamaian abadi dan kebahagiaan abadi, namun bukan di bumi ini, melainkan di Surga di mana kita benar-benar ingin kembali di masa depan. Mari kita bekerja keras untuk kembali ke sisi Sang Buddha, kembali ke pelukan Guan Shi Yin Pu Sa.

 

Kerisauan dalam hidup tiada hentinya. Banyak orang berkata kepada Master, “Tunggu anak saya lulus kuliah, saya akan santai.” Setelah anak tamat, dia memohon lagi, “Anak bisa mempunyai pekerjaan yang baik di masa depan saja sudah cukup.” Setelah anaknya mendapatkan pekerjaan, “Anakku belum menemukan jodoh sekarang.” Setelah menemukan jodoh, dia berkata lagi: “Anak saya tidak bisa melahirkan seorang cucu, harus bagaimana?” Orang-orang berada dalam kerisauan yang tiada habisnya ibarat ombak laut, gelombang demi gelombang tanpa akhir. Jagalah cahaya dan kemurnian sifat dasar diri sendiri. Belajar untuk bersikap tidak masalah terhadap dunia, menyelaraskan tubuh dan pikiran sendiri. Pada dasarnya tidak ada apa pun di dunia ini, jadi dari mana bisa menimbulkan debu?

 

Kita harus belajar menjadi Bodhisattva di dunia, Senantiasa bersukacita dengan tulus dan murni, akan membuat seseorang mencapai konsentrasi pikiran. Saat seseorang sudah mencapai kesadaran tetap, maka dia akan memperoleh kebijaksanaan yang abadi. Ketika pembinaan seseorang sudah sempurna tanpa ada lagi kemelekatan, maka kedisiplinan akan menjadi bagian dari dirinya. Ketika seseorang sudah mencapai kesempurnaan tanpa kekurangan apapun, maka ia akan memperoleh kedisiplinan, konsentrasi, serta kebijaksanaan sekaligus. Ini adalah empat keadaan normal yang seharusnya dimiliki oleh praktisi Buddhis.

 

Master menceritakan sebuah lelucon kepada semua orang. Ada seorang hakim yang sedang menginterogasi tiga tahanan. Karena hakimnya bermata juling, ketika dia melihat orang ini, perasaannya seperti dia sedang melihat orang lain. Ada tiga orang duduk di depannya untuk diinterogasi. Hakim bertanya dengan sangat serius kepada tahanan pertama: “Siapa namamu?” Tahanan pertama tidak menghiraukannya. Tahanan kedua mengira hakim menanyakannya dan berkata, “Nama saya Biou.” Hakim sangat marah dan berkata kepada tahanan kedua: “Saya tidak bertanya padamu!” Tahanan ketiga berkata dengan sedih: “Saya tidak mengatakan apa-apa!” Jika seseorang memiliki prasangka, itu sama dengan hakim yang juling ini. Melihat satu orang menyimpang, semua orang akan menyimpang. Kesalahan di dunia ini seperti salah memasang kancing, satu kancing salah, semuanya akan salah, dan dirinya tidak mengetahuinya, sampai pada akhirnya baru akan menyadari bahwa dirinya salah. Prasangka, kesalahan, keserakahan, dan kebencian dalam hidup, seringkali diri sendiri tidak mengetahuinya. Harus menunggu hingga ajal menjemput baru akan bertobat, “Saya melakukan kesalahan. Saya bersalah kepada siapa” Inilah yang sering dikatakan, “Ketika seseorang menjelang ajal, perkataannya akan baik.” Kita harus memperbaiki pikiran kita, melepaskan pikiran kita, dan jangan melekat atau berprasangka buruk terhadap dunia. Ini barulah mentalitas normal seorang praktisi Buddhis.

 

Julius Caesar dari Roma, Eropa sangat terkenal. Dia berkuasa di Asia, Eropa dan Afrika pada Abad Pertengahan. Ketika menjelang ajal, dia berkata kepada pelayannya: “Setelah saya mati, tolong kalian letakkan kedua tangan saya di luar peti mati. Saya ingin semua orang di dunia melihat,  orang-orang di dunia yang menganggap dirinya hebat, seperti saya Julius Caesar, setelah meninggal, kedua tangan kita semuanya adalah kosong.” Hidup itu seperti sebuah drama. Yang disebut sebagai penderitaan dan kebahagiaan dalam hidup, di mata praktisi Buddhis adalah suatu perasaan sementara yang diberikan kepadamu oleh dunia dan bumi. Mentalitas praktisi Buddhis adalah merasa bahwa ini adalah hutang kita dan jasa kebajikan yang dikumpulkan di kehidupan kita sebelumnya.