Welas Asih dan Kebijaksanaan Mewujudkan Tanah Suci di Dunia, Hati dan Kebajikan Buddha Memberi Manfaat Bagi Masyarakat dan Semua Makhluk (Bagian 2) 慈悲智慧成就人间净土 佛心佛德利益社会众生 (下)

Welas Asih dan Kebijaksanaan Mewujudkan Tanah Suci di Dunia, Hati dan Kebajikan Buddha Memberi Manfaat Bagi Masyarakat dan Semua Makhluk (Bagian 2)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 19 Juni 2015

Belajar Buddha Dharma dengan sepenuh hati, penuhi dengan sifat Kebuddhaan, yakni sifat Kebuddhaan di dalam hati. Hati itu seperti sebuah kantong: jika diisi sedikit, itu disebut batin; diisi lebih banyak, tetap batin; tapi jika terlalu banyak, menjadi hati yang penuh perhitungan; lebih banyak lagi akan menjadi cerdik, dan bila terus diisi dengan kerumitan hidup di dunia, maka akan menjadi hati yang licik.  Hati harus lebih murni, maka orang pun akan menjadi lebih bersih. Jangan gunakan hati untuk mengingat dan menyalahkan kesalahan masa lalu, tetapi gunakan hati yang penuh kebaikan untuk melihat masa depan dan memaafkan orang lain.  Orang yang memiliki hati yang welas asih akan selalu melihat kebaikan orang lain dan melupakan luka yang pernah diterimanya. Berharap semua orang yang menekuni Dharma bisa melihat masa depan, melihat setiap orang sebagai Bodhisattva, maka hatimu akan dipenuhi sinar mentari.

Menderita di dunia dan mengikis karma buruk selama sepuluh tahun, jika seseorang menanggung penderitaan di dunia selama sepuluh tahun, jaraknya dengan surga hanya tinggal sepuluh kaki. Namun, jika seseorang menikmati kesenangan dan hidup berfoya-foya selama sepuluh tahun, jaraknya dengan neraka juga hanya sepuluh kaki.  Jangan takut menderita, karena datang ke dunia ini memang untuk mengikis karma. Saat kita sedang mengikis karma, tingkat kesadaran spiritual kita pun sedang meningkat. Coba pikirkan, kalian semua yang menekuni Dharma, siapa yang bukan karena mengalami penderitaan baru terpikir untuk menyembah Buddha? Inilah kebenarannya. Tanpa penderitaan, dari mana datangnya kebahagiaan? Dalam segala hal, belajarlah untuk melihat dari sudut pandang orang lain dan memikirkan kepentingan mereka, itulah yang disebut welas asih. Di dunia ini, apa yang terlalu kita anggap penting akan membuat kita menjadi budaknya. Membina pikiran berarti menyimpan kebaikan dan kebajikan di dalam hati, serta membersihkan segala hal kotor dan jahat dari dalam diri. Hati seperti sebuah tas, apa yang kita masukkan ke dalamnya, itulah yang kita miliki. Hati juga seperti sebuah botol, ia adalah kosong; jika diisi susu, maka disebut botol susu; jika diisi jus jeruk, maka disebut botol jus jeruk; dan jika diisi racun, maka menjadi botol racun.  Berharap hati kita yang bening seperti kaca dapat diisi dengan kebaikan dan welas asih, serta menampung semua makhluk di dunia.

Di dunia ini, semakin kamu menginginkan sesuatu, hal itu justru akan semakin menjauh darimu; semakin kamu tidak menginginkannya, ia justru semakin mendekat. Ketika kamu benar-benar membutuhkannya, kamu tidak bisa mendapatkannya; tetapi ketika kamu sudah tidak membutuhkannya lagi, justru semuanya ada.  Di rumah pun sering begitu, bukan? Saat mencari sesuatu, jelas-jelas tadi terlihat di depan mata, tetapi sebentar kemudian sudah tidak dapat ditemukan lagi. Kadang-kadang tidak membutuhkannya, benda itu ada di sini.  Banyak orang mulai belajar Buddha Dharma juga karena tiba-tiba bertemu seseorang yang berbicara denganmu tentang itu, barulah kamu mulai belajar. Inilah yang disebut “mencari ke mana pun tak ditemukan, namun akhirnya didapat tanpa usaha.” Sebenarnya, ini bukan kata hati, namun kata hati yang sebenarnya adalah “Bodhisattva membuatmu untuk menemukan ajaran Buddha Dharma.

Manusia memang seperti itu, saat baru menikah, tidak ingin punya anak, dan terus tidak hamil. Namun ketika akhirnya ingin punya anak, justru bagaimana pun juga tidak bisa hamil. Praktisi Buddhis harus mengerti bagaimana menghadapi kenyataan hidup kita hari ini. Jika kita bisa belajar untuk menghadapi, maka kita tidak akan ada kerisauan. Apa artinya menghadapi? Artinya berani menatap langsung kenyataan itu, harus menjauhi dari khayalan yang kontradiktif – bertolak belakang dengan kebenaran.  Penderitaan hari ini adalah untuk menanam berkah di hari esok. Jika hari ini kita menanggung sedikit kesulitan, maka besok kita akan memperoleh pembebasan. Jika hari ini kita masih berada dalam penderitaan, itu karena sebab yang telah kita tanam di kehidupan lampau.  Berharap semua orang memahami sebab dan akibat, mengerti ajaran Buddha Dharma, dan mengetahui ajaran Buddha Dharma, barulah bisa benar-benar menggunakan ajaran Buddha Dharma.

Di dunia ini, kita harus mengerti bagaimana menghadapi kerisauan. Kerisauan adalah titik kumpul dari segala penderitaan, yang juga merupakan karma buruk. Ketika kita masih merasakan penderitaan hari ini, itu karena hati kita sendiri masih menderita. Namun, ketika kita sudah berpikiran terbuka, maka kita akan terbebas dari segala penderitaan ini. Segala penderitaan di dunia ini bagaikan nasib buruk yang menimpa. Dalam paritta Xin Jing mengajarkan kepada kita untuk “menyeberangkan semua penderitaan dan kesulitan.” Jangan biarkan penderitaan itu berada dan berkembang di dalam hati. Kita harus menyingkirkan penderitaan. Jangan biarkan ia tumbuh di hati, juga jangan menciptakan penderitaan, dan juga tidak perlu menghilangkan penderitaan, inilah makna dari tidak lahir dan tidak lenyap. Tanpa kebijaksanaan, kita tidak akan memperoleh apa pun — karena itu disebut tidak ada yang dapat diperoleh. Inilah makna dari tiada kebijaksanaan juga tiada perolehan, karena tiada yang dapat diperoleh.  Segala sesuatu di dunia ini diciptakan oleh pikiran. Pikiran dapat menciptakan kebaikan, tetapi juga dapat menciptakan kejahatan. Hati praktisi Buddhis bagaikan satu keping kaca, bening dan jernih, adalah sebidang tanah suci di dalam diri.  Berharap semua orang dapat menghubungkan tanah suci kecil di dalam hatinya dengan tanah suci agung di alam semesta. Dengan demikian, kita akan memperoleh pancaran energi dan cahaya Buddha yang tak terbatas dari langit, sehingga tanah suci kecil di dalam diri kita dapat memancarkan sinar terang di dunia.

Master selalu senang belajar ajaran Buddha Dharma bersama semua orang dengan hati yang gembira. Kalian harus ingat, hidup di dunia ini hanya beberapa puluh tahun saja — sangat singkat. Saya sering bertanya kepada banyak orang, “Lima puluh tahun kemudian, kalian akan berada di mana?”  Waktu Master berada di Amerika, di hadapan ribuan orang, saya juga bertanya mereka 50 tahun kemudian di mana? Semua orang menjawab serempak, “Di surga!” Lalu saya melanjutkan, “Kalian yang berpikir begitu … Tanpa usaha, apakah bisa benar-benar naik ke surga?”  Kita harus berusaha, harus sungguh-sungguh menekuni Dharma, serta menghargai setiap menit dalam hidup ini, barulah kita bisa naik ke surga. Kita tidak berebut urusan duniawi, lihat siapa yang benar-benar dapat naik ke surga nanti! Saya sering berpikir, kelak jika saya bisa melihat kalian satu per satu naik ke atas, saya akan merasa sangat bahagia. Namun jika saya melihat banyak teman se-Dharma tidak dapat naik ke atas, saya akan merasa sedih. Master sungguh-sungguh berharap kalian semua dapat naik ke atas. Di dunia ini, berjuanglah sekuat tenaga untuk melakukan jasa kebajikan, ketika usia kehidupan di dunia ini telah berakhir, kalian dapat kembali dengan bersih dan murni ke dalam pelukan Ibu. Pada saat itu, tidak ada lagi penderitaan.  Karena kita memiliki raga tubuh, maka kita akan merasakan sakit di sini dan di sana. Bukankah semua rasa sakit itu berasal dari tubuh fisik? Jika jiwa telah dibina dengan baik, di alam surga mana ada lagi penderitaan?

Ada seorang pemuda yang selalu tidak mendapatkan kesempatan untuk ditempatkan pada posisi penting, ia merasa sangat sedih. Karena itu, ia sengaja pergi menemui orang bijak dan bertanya, “Mengapa nasib begitu tidak adil terhadap saya?” Orang bijak itu tidak berbicara. Ia memungut sebuah batu dari lantai, lalu melemparkannya ke dalam tumpukan batu. Lalu berkata kepada pemuda itu, “Tolong bantu saya mencari kembali batu yang saya lempar tadi.”  Pemuda itu pergi melihat, semuanya batu. Ia tidak bisa menemukan mana batu yang tadi dilempar oleh orang bijak. Akhirnya ia kembali dengan tangan kosong dan berkata kepada orang bijak, “Setiap batu terlihat hampir sama, bagaimana saya bisa menemukannya?” Orang bijak itu kemudian melepas cincin dari tangannya dan melemparkannya ke tumpukan batu, lalu menyuruh pemuda itu untuk menemukannya kembali. Pemuda itu dengan cepat menemukannya. Orang bijak tidak berkata apa-apa, dan pemuda itu pun tersadar, jika dirinya hanyalah sebuah batu kecil dan bukan emas, maka jangan mengeluh bahwa nasib tidak adil padanya.  Nasib setiap orang berada di tangan masing-masing. Kita harus membuat nasib kita berkilau cahaya dan hangat, bukan mengeluh pada langit atau menyalahkan orang lain. Melihat orang lain bisa mencapai keberhasilan, melihat orang lain bisa naik ke surga, jangan mengeluh, jangan iri, karena tidak tahu berapa banyak kehidupan yang telah mereka bina untuk mencapai hasil hari ini.  Jangan bersedih, tekunlah belajar Buddha Dharma, tekunlah membina diri, biarkan hati kita berkilau seperti emas, menyempurnakan diri sendiri. Belajar Buddha Dharma adalah agar tubuh diri sendiri menjadi bersih dan hati menjadi murni, inilah Bai Hua Fo Fa.

Sesungguhnya, musuh terbesar dalam hidup ini adalah dirinya sendiri. Sepanjang hidup, seseorang pasti akan bertemu dengan berbagai macam orang — musuh, orang jahat, penipu, orang picik, bahkan mereka yang tampak terhormat namun berhati keji. Kadang merasa hidup ini penuh dengan orang yang menjengkelkan, sangat menderita, harus melihat melampauinya, musuh terbesar tetaplah dirimu sendiri. Jika kamu bisa menaklukkan dirimu sendiri, maka sebenarnya tidak ada seorang pun yang bisa mengalahkanmu. Tetapi jika kamu tidak mampu mengendalikan diri, kamu akan menjadi ragu-ragu dalam bertindak. Jika kamu terlalu tinggi menilai diri sendiri, kamu akan menjadi sombong, cemas akan perolehan dan kehilangan, serta tidak dapat mendapatkan kedamaian. Oleh karena itu, para Buddha dan Bodhisattva sering memberi tahu kita bahwa kedamaian adalah berkah, dan hati yang murni bagaikan air yang jernih.

Ada seorang pemuda yang sering berganti pekerjaan dan selalu mengeluh karena terlalu sering berpindah. Sebenarnya, setiap pekerjaan bisa menghasilkan prestasi.  Seorang praktisi Buddhis tidak boleh mendasarkan hidupnya pada pujian atau celaan orang lain. Dalam hidup, kita pasti akan mengalami fitnah dan pujian, tetapi jangan biarkan pandangan orang lain mengendalikan arah hidupmu. Jika kamu merasa kehilangan muka di dunia ini, sebenarnya yang hilang adalah sifat dasar dari hatimu sendiri. Banyak orang bercerai karena terpengaruh oleh cercaan atau bujukan orang lain.  Oleh karena itu, manusia harus hidup sesuai dengan sifat dasarnya sendiri. Jika merasa hal ini benar, lakukanlah dengan sepenuh hati. Jika merasa itu salah, maka jangan melakukannya.

Pikirkanlah, anak muda itu sangat penting. Kelangsungan ajaran Buddha bukan bergantung pada kita yang sudah berusia lanjut. Lihatlah, di antara mereka yang menekuni ajaran Xin Ling Fa Men saat ini, berapa banyaknya anak muda, semuanya adalah orang-orang yang berpengetahuan, berpendidikan, dan memiliki kemampuan.  Anak muda adalah pondasi dan sandaran bagi kita praktisi Buddhis. Kita yang sudah berumur seharusnya membimbing mereka dalam menekuni Dharma, namun potensi kesadaran yang sejati justru bergantung pada anak muda yang dapat memberikan lebih banyak bimbingan dan bantuan kepada kita para praktisi yang lebih tua.

Memahami belajar Buddha Dharma barulah bisa benar-benar memahami welas asih. Manusia harus mengerti tentang energi positif. Inilah alasan mengapa di masa depan saya ingin mendirikan Akademi Kebudayaan Nasional. Kita harus memahami “kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan dan keyakinan”, serta memahami welas asih.  Tahun lalu, setelah acara Seminar Dharma selesai, pihak penyelenggara memberi tahu para relawan kita bahwa tempat acara begitu bersih, tidak ada sampah atau barang yang berserakan.  Itulah sebabnya orang-orang memandang kalian sebagai Bodhisattva. Berharap kalian besok juga jangan meninggalkan barang atau sampah di tempat duduk kalian.

Mulailah menjadi seorang Bodhisattva dari sekarang, karena orang-orang zaman sekarang tidak lagi memahami pentingnya pembinaan diri seperti “kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan dan keyakinan”. Master mengajarkan kepada semua orang untuk menggunakan ajaran Buddha Dharma dan “kebajikan, kebenaran, tata krama, kebijaksanaan dan keyakinan”untuk memelihara kesehatan. Dalam tubuh manusia, limpa dan lambung mengatur sifat kepercaayaan seseorang, dan seseorang yang layak dipercaya, limpa dan lambungnya akan sehat. Jika orang ini tidak dapat dipercaya, rasa kecurigaannya sangat kuat, maka limpa dan lambungnya akan tidak sehat. Ini dijelaskan dalam “Huang Di Nei Jing” Kitab Suci Esoteris Kaisar.” Orang yang suka berhitung dan mempermasalahkan hal-hal kecil biasanya tubuhnya lemah, limpa dan lambungnya akan tidak sehat. Orang yang memiliki nafsu birahi, akan merusak ginjalnya. Maka, orang yang memiliki masalah pada ginjal biasanya adalah orang yang terlalu menuruti hawa nafsu.  Kalian tahu bahwa ginjal itu sangat penting. Banyak orang mengalami kekurangan cairan pada ginjal, yang sebenarnya merupakan tanda penurunan fungsi ginjal. Manusia hidup bergantung pada air di dunia ini, maka banyak minum air akan sangat bermanfaat bagi kesehatan kalian.

Orang zaman sekarang mengira bahwa menjaga kesehatan terutama bergantung pada berbagai suplemen dan tonik. Namun sebenarnya, pandangan bahwa kesehatan hanya bisa diperoleh lewat tambahan zat-zat itu adalah sebuah kesalahpahaman.  Orang dahulu berkata, “Orang yang penuh kebajikan akan berumur panjang.” Artinya, seseorang yang memiliki kebajikan dan berwelas asih akan berumur panjang. Orang yang mampu memaafkan orang lain akan memperoleh umur panjang, dan orang yang sering berwelas asih kepada orang lain juga akan berumur panjang.  Coba pikirkan, Zhou Yu dalam kisah Tiga Negara, jika ia bisa sedikit lebih berwelas asih, ia tidak akan mati karena marah kepada Zhuge Liang. Kalau begitu, kisah Tiga Negara pun tidak akan ditulis dengan seperti itu. Orang yang berhati sempit tidak akan hidup lama.  Jika kalian ingin panjang umur, mulai sekarang jadilah lebih penuh kasih, lebih berwelas asih, bisa lebih menoleransi, dan lebih toleran, kamu akan menjadi lebih lembut.

Master memberi tahu semua orang bahwa pernah ada sebuah survei yang dilakukan oleh koran komunitas. Hasilnya menunjukkan bahwa orang-orang berusia di atas 75 tahun umumnya adalah mereka yang tidak suka memperhitungkan hal-hal kecil, yang memiliki hati lapang, penuh toleransi, dan mampu menerima orang lain. Dengan kata lain, seseorang yang bisa memaafkan orang lain, ia setidaknya dapat hidup sampai usia 70 tahun atau lebih.  Hari ini kalian telah mendengar dari Master. Apakah kalian bersedia memaafkan kekurangan orang lain? (Semua menjawab: Bersedia!) Apakah kalian masih ingin terus memperhitungkan hal-hal kecil dengan orang lain? (Semua menjawab: Tidak!)  Ingatlah, apa yang kalian ucapkan akan diketahui oleh langit. Mulai hari ini, maafkanlah orang lain dan jangan lagi memperhitungkan segala sesuatu dengan mereka, maka kamu adalah orang suci. Hanya orang suci yang dapat memasuki Alam Bodhisattva.

Sering bertobat dapat menyembuhkan berbagai penyakit hati. Bagi orang yang merasa buntu dalam pikiran, cobalah sering berpikir, “Ternyata Aku yang salah, Aku yang keliru, Aku yang telah mengecewakannya.” Dengan sering bertobat seperti ini, pikiranmu perlahan akan menjadi jernih dan terbuka.  Sebenarnya, banyak orang tidak seharusnya jatuh sakit. Orang dahulu berkata, “Betapa tak terduga bahwa sifat dasar diri pada dasarnya sempurna.” Artinya, tubuh Dharma kita sesungguhnya telah memiliki segala bentuk pikiran, ada yang baik dan ada yang tidak baik. Selama kita menumbuhkan pikiran yang baik, pikiran yang tidak baik akan tersingkir, dan banyak penyakit fisik pun akan hilang. Sakit menandakan bahwa batin kita masih memiliki kekurangan.  Jika kamu tidak menghargai tubuh sendiri, sebenarnya berawal dari kemarahan. Mulai hari ini, praktisi Buddhis tidak seharusnya marah. Lihatlah orang-orang di sekitarmu sebagai teman se-Dharma kamu di Surga, mungkin saja tingkat buah kesuciannya lebih tinggi darimu. Pikirkanlah, tujuan kita bukanlah di dunia ini. Tujuan kita adalah ke Alam Surga. Berharap semua orang tidak hanya dapat mencapai Alam Sukhavati, namun harus memasuki Empat Alam Brahma. Kita juga harus encapai  tingkat menengah bagian atas, tingkat menengah bagian tengah, dan tingkat menengah bagian bawah. Kita bisa memiliki “tingkat” ini, itu berawal dari kebajikan dan moralitas kita di dunia. Jika kamu bahkan tidak memiliki dasar moral dan budi pekerti di Alam manusia, bagaimana bisa mencapai tingkat atas bagian atas? Hati Bodhisattva adalah hati yang penuh welas asih. Mengapa kita tidak bisa menumbuhkan sedikit lebih banyak welas asih untuk menolong semua makhluk hidup? Setiap makhluk sesungguhnya adalah saudara dan kerabat kita sendiri. Semoga kita semua dapat menghargai kerabat di sekitar kita. Ketika tiba saatnya kita meninggalkan dunia ini, mungkin justru merekalah yang akan membantu menyeberangkan kita ke alam surga yang lebih tinggi.