Kebaikan dan Kebajikan, Hargai Kehidupan yang Tidak Kekal, Menempatkan Diri dalam Semua Makhluk, dan Mencapai Pencerahan Tertinggi (Bagian 2) – 善心善德珍惜无常人生 扎根众生证得无上菩提 ( 下 )

Kebaikan dan Kebajikan, Hargai Kehidupan yang Tidak Kekal, Menempatkan Diri dalam Semua Makhluk, dan Mencapai Pencerahan Tertinggi (Bagian 2)

Seminar Dharma Penang - Malaysia, 24 Januari 2015

Sang Buddha pernah berkata bahwa sekalipun manusia hidup hingga seratus tahun, waktu yang benar-benar tenang dan bahagia tidak lebih dari sepuluh tahun; kehidupan manusia tidaklah kekal, dalam sekejap saja, seratus tahun itu telah berlalu. Dalam satu kedipan waktu yang singkat, hanya seratus tahun. Apakah mendapatkan atau tidak mendapatkan dalam seratus tahun itu, baik dirimu mendapatkan segalanya di dunia ini maupun tidak mendapatkan, bukankah hanya seratus tahun waktunya? Dari seratus tahun usia manusia, lima puluh tahun dihabiskan untuk tidur di malam hari. Sepuluh tahun berlalu pada masa bayi, ketika pikiran masih kabur dan belum mengenal dunia. Sepuluh tahun lagi hilang karena sakit yang datang silih berganti sepanjang hidup. Dua puluh tahun tersita oleh kekhawatiran tentang keluarga, urusan dunia, dan beban kehidupan. Maka dari seratus tahun umur manusia, yang benar-benar bahagia hanyalah sepuluh tahun. Meski seseorang hidup hingga seratus tahun, waktu yang benar-benar dilalui dalam kebahagiaan tidak lebih dari sepuluh tahun saja. Waktu berlalu secepat anak panah, dan tahun-tahun mengalir seperti air. Pikirkanlah, teman-teman di sini, apakah masih ingat masa muda kalian? Bertahun-tahun sebelumnya, kalian pernah mencintai, membenci, dan iri, ke mana perginya semua ini? Hidup harus bermakna. Pikirkanlah, dimanakah kita akan berada lima puluh tahun kemudian? Kita menekuni Dharma bukan demi berkah duniawi, melainkan untuk terbebas dari enam alam reinkarnasi. Setiap orang harus tekun menekuni Dharma, membina pikiran, meninggalkan segala hal-hal duniawi, membina diri dengan baik, membina sampai ke Alam Sukhavati dan Empat Alam Brahma. Tidak ada yang dapat diperoleh di dunia ini. Jika memang ada kemampuan, maka lima puluh tahun kemudian, mari kita bertemu kembali di surga.

Pada zaman dahulu, tidak ada lampu jalan, dan jalanan gelap gulita. Orang-orang sering bertabrakan ketika berpapasan. Ada seorang pria buta yang sering berjalan sambil membawa lentera. Orang-orang menertawakannya, berkata, “Kamu buta dan tidak bisa melihat apa-apa, jadi mengapa kamu membawa lentera? Bukankah kamu membuang-buang uang minyak?” Pria buta itu berkata, “Aku sedang melindungi diriku sendiri.” Orang lain bertanya mengapa, ia berkata, “Karena orang lain melihat cahaya, mereka akan menghindariku dan tidak akan menabrakku.” Memikirkan orang lain adalah welas asih. Memikirkan orang lain dapat melindungi diri sendiri. Namun, kita orang-orang sekarang setiap hari memikirkan diri sendiri, menjadi egois, dan pada akhirnya hanya akan menyakiti dirinya sendiri. Saat ini, ada banyak permusuhan antar manusia. Karma bersama ini adalah keseluruhan masyarakat semuanya hanya demi dirinya sendiri, bukan untuk orang lain. Istri egois, dan suami pun egois. Bagaimana keluarga yang egois seperti itu bisa harmonis? Bagaimana mungkin tidak bercerai? Sesungguhnya, jika seseorang benar-benar demi dirinya sendiri, maka harus terlebih dahulu memikirkan orang lain. Mampu memikirkan orang lain adalah peningkatan tingkat kesadaran spiritual, ia adalah orang yang welas asih.

Kini menekuni Dharma, ia baru mengerti, keegoisan tidak akan menghasilkan welas asih, menanam kejahatan tidak akan menghasilkan buah kebaikan. Seorang praktisi Buddhis harus selalu memikirkan orang lain, ini disebut kebaikan. Penderitaan semua makhluk adalah penderitaanku. Semua makhluk adalah akar pencerahan kita. Hanya dengan menempatkan diri di tengah semua makhluk, baru akan melahirkan Kebuddhaan yang welas asih.

Hidup ini tidak kekal, kekayaan juga tidak kekal, kelahiran, usia tua, penyakit, dan kematian lebih tidak kekal lagi. Justru karena hidup ini singkat, maka harus menghargai masa kini. Ada sepasang suami istri yang egois sejak kecil. Mereka membesarkan putra mereka dengan sikap yang sangat egois juga. Ketika putranya dewasa, ia menjadi semakin egois. Setelah menikah, ia mulai pelit kepada orang tuanya, membalas mereka dengan cara yang sama seperti mereka memperlakukan orang lain dahulu. Ia sangat mengenal orang tuanya yang egois, jadi ia mati-matian berusaha membuat mereka marah, keegoisannya mencapai tingkat yang ekstrem. Akhirnya, membuat ayahnya marah sampai terkena stroke dan ibunya menderita gagal ginjal. “Xiao Tian Tian” dari Hong Kong begitu kaya, ia dapat memenangkan gugatan, tetapi ia tidak punya nyawa untuk menikmatinya. Apa yang menjadi milikmu adalah milikmu, dan apa yang bukan milikmu tidak boleh dipaksakan. Hargai saat ini dan belajarlah untuk bersyukur atas segala sesuatu dan semua orang di sekitarmu. Orang yang menghargai akan mendapatkan, dan orang yang bersyukur akan berpuas diri.

Dua orang sedang berjalan di padang pasir. Persediaan air mereka sudah habis. Ketika mereka sangat kehausan, mereka bertemu dengan seorang tua penunggang unta. Pria tua itu dengan gemetar memberikan setengah mangkuk air kepada mereka masing-masing. Salah satunya memiliki mentalitas yang buruk, mengeluh air terlalu sedikit dan tanpa sengaja menumpahkannya dalam jumlah besar. Yang satunya lagi berpikir, “Air tidak bisa menghilangkan dahagaku,” tetapi berterima kasih kepada Bodhisattva atas air suci tersebut, ia meminumnya dan berhasil keluar dari padang pasir. Sementara yang satunya lagi karena suka mengeluh, ia meninggal di padang pasir. Orang yang selalu mengeluh tentang kesulitan hidup akan kehilangan keberanian untuk hidup. Mereka yang selalu memiliki rasa syukur akan mengatasi kesulitan dan berani untuk membuat kemajuan. Kita harus hidup dengan rasa syukur, baru akan puas dan selalu bahagia. Jika kita hidup dalam keluhan, kita pasti akan menyakiti jiwa kita sendiri dengan mendalam.

Kehidupan manusia bukanlah sesuatu yang bisa dihitung atau direncanakan sepenuhnya, rencana manusia tak sebanding dengan rencana langit, melainkan diperoleh melalui hati yang penuh kebaikan dan kebajikan. Hidup seseorang bukan diperoleh dari memohon, tetapi dari membina diri. Orang membuat kesalahan karena konsep pemikirannya salah duluan. Begitu dia yakin bahwa dirinya benar, dia akan segera melekat. Hati manusia seperti wadah: semakin banyak kebahagiaan yang diisi, semakin sedikit kerisauan; semakin banyak orang berbudi, semakin sedikit orang picik; semakin banyak kesederhanaan, semakin sedikit keterikatan; semakin banyak berpuas diri, semakin sedikit penderitaan.

Kita praktisi Buddhis tahu bahwa makna sejati alam semesta adalah segalanya tidak dapat diperoleh, dan kita tidak takut mati karena kita tahu bahwa tubuh manusia akan mati, tetapi roh dan jiwa tidak akan pernah mati. Bagaikan mimpi: meskipun tubuh tidak bergerak, dalam mimpi kita menikmati kebahagiaan surga dan menanggung hukuman neraka. Yakni membina pikiran ini, setelah membina pikiran dengan baik, kita bisa naik ke Surga. Namun, banyak orang saat ini, jangankan membina pikiran, mereka bahkan tidak tahu harus bagaimana hidup di dunia. Tidak tahu bagaimana cara hidup adalah hal yang paling menakutkan. Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik dan merencanakan hidup kita sebagai praktisi Buddhis. Hidup tanpa rencana hanyalah sebuah puzzle; hidup dengan perencanaan ibarat sebuah denah. Hidup tanpa tujuan hanyalah hanyut terbawa arus, hidup dengan tujuan adalah perjuangan.

Orang yang sukses adalah dia yang mampu menggunakan batu yang dilemparkan orang lain kepadanya untuk membangun jalan dan jembatan bagi orang lain. Inilah yang disebut welas asih, inilah yang disebut toleransi. Jangan pernah mengambil keputusan apa pun saat diri sendiri sedang menderita. Pikirkan, berapa banyak masalah dalam hidup kita ini justru karena keputusan yang kita buat ketika berada pada penderitaan yang mendalam, dan karena keputusan yang keliru itu malah menambah lebih banyak penderitaan di atas penderitaan yang sudah ada. Jika sering mengambil keputusan gegabah saat sedang menderita, maka pasti akan menyesalinya. Dalam menekuni Dharma harus memberantas kebiasaan buruk pada diri sendiri — keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita tidak serakah sama dengan kedamaian (keselamatan); tidak benci sama dengan kedamaian pikiran; tidak bodoh sama dengan kedamaian tubuh. Menyingkirkan tiga racun, maka tubuh dan pikiran damai.

Turunkan standar atau tuntutan diri sendiri. Pada Olimpiade Sydney tahun 2000 di Australia, taipan media Rupert Murdoch datang menghadiri acara tersebut. Saat berada di lokasi, ia tiba-tiba melihat ada sebuah koin satu dolar di bawah kursinya. Murdoch pun menunduk dan memungutnya sambil tersenyum. Adegan kecil ini kemudian diberitakan besar-besaran oleh media, dengan judul: “Konglomerat media dengan harta miliaran tersenyum hanya karena menemukan satu koin kecil.” Standar kebahagiaan orang ibarat sebuah karet gelang yang dapat diregangkan tanpa batas. Semakin besar nafsu keinginan, semakin panjang pula ia dapat diregangkan. Semakin tinggi standar kebahagiaan, semakin menderita hidup seseorang dan semakin sulit untuk mewujudkan masa depan. Ketika Li Ka-shing diwawancarai, seorang jurnalis Hong Kong bertanya kepadanya: “Menurut Anda, kapan saat paling membahagiakan dalam hidup Anda ketika menghasilkan uang?” Tak disangka, Li Ka-shing menjawab: “Ketika saya membuka sebuah toko kecil, bekerja keras seharian, lalu pada malam hari setelah menutup toko, di bawah cahaya lampu redup, saya dan istri duduk bersama menghitung uang lembar demi lembar.”Jawaban ini mengejutkan wartawan. Praktisi Buddhis harus menurunkan standar kebahagiaan. Turunkan ke tingkat yang dapat dicapai semua orang, maka akan bahagia selamanya. Ini sebenarnya merupakan simbol kebijaksanaan. Kita harus meneladani sikap optimis Buddha Maitreya, berhati lapang, mampu menampung segala hal yang sulit diterima oleh dunia. Orang yang optimis selalu dapat melihat peluang di balik kesulitan,
sedangkan orang yang pesimis hanya melihat kesulitan di balik setiap peluang.
Kadang, kesempatan datang seperti hembusan angin yang lembut dan cepat berlalu, dan itu tergantung pada reaksi, kemampuan, dan kecepatanmu dalam memanfaatkannya. Dahulu, banyak orang menggunakan sempoa, tetapi setelah munculnya komputer, mereka menjadi operator komputer. Banyak yang masih bergantung pada sempoa dengan cepat tersingkirkan oleh masyarakat. Periode ajaran Buddha Dharma berbeda, kita harus menggunakan pintu Dharma yang berbeda untuk menyelamatkan makhluk hidup yang berbeda. Orang yang terus-menerus mengenang masa lalu, dia hanya bisa hidup di masa lalu. Orang yang selamanya tidak menyukai hari kini, bagaimana dapat menyelamatkan makhluk hidup? Hanya dengan memahami bahwa di periode Akhir Dharma, kita harus menggunakan Dharma yang tepat untuk menyelamatkan orang-orang, memanfaatkan situasi, barulah kita dapat diterima oleh makhluk hidup. Guan Shi Yin Pu Sa menyelamatkan semua makhluk dengan metode yang baik, mewujudkan tiga puluh dua tubuh perubahan, dalam wujud apa pun makhluk dapat diselamatkan,
dalam wujud itulah Beliau akan hadir, yang menolong makhluk hidup barulah disebut Bodhisattva. Berharap setiap orang menyelamatkan semua makhluk yang berjodoh secara luas dan menjad seribu tangan dan seribu mata Guan Shi Yin Pu Sa.

Satu lagi hal penting dalam menekuni Dharma adalah keyakinan akan sebab dan akibat. Beberapa orang berkata, “Master, saya sudah bervegetarian, saya telah berlindung pada Buddha Dharma, dan saya telah menjalankan sila, mengapa saya masih memiliki begitu banyak kerisauan? Apakah paritta itu benar-benar efektif?” Keraguan dan kurangnya keyakinan yang mendalam,  menabur benih sebab dan akibat lagi. Ini adalah ketidakpahaman akan sebab dan akibat. Pada kenyataannya, jika kamu tidak dapat bertahan dalam apa pun yang kamu lakukan, itu karena kamu telah menabur benih ketidakpahaman akan sebab dan akibat. Hanya dengan keyakinan yang mendalam pada ajaran Buddha Dharma, barulah dapat menerima kekuatan berkat dari para Buddha dan Bodhisattva. Tekun dalam membina diri, maka dapat bertahan untuk membina diri, dan dapat bertahan untuk mencapai keberhasilan dalam pembinaan. Adakah Bodhisattva atau Buddha agung di Surga yang mencapai buah pencerahan tertinggi tidak melalui kesabaran, ketekunan, dan pembinaan diri yang tekun?

Seorang ayah tua sedang berjalan-jalan dengan putranya. Setelah lulus kuliah, putranya bekerja di kota lain, tidak mudah bagi ayahnya untuk datang sekali. Keduanya sedang berjalan-jalan di halaman belakang. Saat itu, ada seekor burung berkicau. Sang ayah menunjuk dan bertanya, “Nak, itu apa?” Karena sang ayah rabun dan sulit mendengar, putranya berkata, “Itu adalah seekor burung gagak.” Setelah bertanya beberapa kali, putranya menjadi tidak sabar dan menjawab semakin keras, “Ayah, itu seekor burung gagak. Dengar tidak?” Sang ayah tidak berkata apa-apa. Ia berdiri dan berjalan dengan gemetar ke dalam ruangan, dan menemukan sebuah buku catatan yang menguning, itu adalah catatan sang ayah. Ia membuka halaman dari 25 tahun yang lalu dan membacakannya untuk putranya: “Hari ini, saya mengajak putra saya yang baik  berjalan-jalan di halaman. Ia melihat seekor burung dan bertanya, ‘Ayah, apa ini?’ Saya memberitahunya itu adalah seekor burung gagak. Putra saya sangat penasaran dan bertanya 25 kali. Saya dengan sabar mengajarnya berulang kali, dan akhirnya putra bisa mengingat bahwa itu adalah burung gagak. Melihat anak bisa mengenal huruf, sebagai seorang ayah, saya sangat senang sekali! Setelah membaca halaman ini, putranya menangis tersedu-sedu dan berkata, ‘Ayah, ayah telah mengajari saya banyak hal, mohon maafkan saya.'” Praktisi Buddhis berlandaskan kesetiaan dan bakti kepada orang tua. Kita harus memahami bakti kepada orang tua, persaudaraan, tata krama, dan integritas. Orang yang ingin menekuni Dharma dengan baik terlebih dahulu harus berbakti kepada orang tua mereka, barulah bisa memiliki dasar untuk menekuni ajaran Buddha Dharma.

Belajarlah bersyukur. Ketika kita belajar Buddha Dharma, kita harus berterima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa; ketika kita belajar menjadi manusia, kita harus berterima kasih kepada guru-guru kita. Ketika kita memiliki kehidupan, kita harus berterima kasih kepada orang tua kita. Jangan pernah merasa kesal terhadap orang tua kita, jangan pernah kesal dengan kehidupan. Kehidupan ini adalah harus menghadapinya dengan benar. Menghadapinya dengan benar disebut pencerahan dalam bahasa Buddhisme.

Hari ini, Master menjalin jodoh baik dengan semua orang. Banyak sahabat kita dan teman se-Dharma kita semuanya adalah makhluk berjodoh. Orang-orang yang bisa hadir hari ini semuanya memiliki jodoh dengan Bodhisattva. Berharap kalian harus mendengarkan Master, Bodhisattva sungguh ada di dunia ini, dan sungguh ada hukum karma dan balasannya. Berharap kalian harus membina diri dengan baik dan memohon dengan baik,  harus berhasil membina diri dalam satu kehidupan. Jangan datang lagi ke dunia ini. Dunia ini terlalu menderita.

Karena pola pikir orang mengalami perubahan, sekarang di internet muncul tren yang mengatakan bahwa di zaman sekarang ini, jika kamu tidak memiliki autisme atau depresi, kamu akan malu bertemu orang lain. Ini menunjukkan bahwa pola pikir orang-orang kacau, terlalu banyak kerisauan, kekhawatiran, dan penyakit mental telah menjadi tren, keegoisan menjadi tren, tidak menjadi orang baik menjadi tren. Ini juga menunjukkan bahwa orang-orang perlu menekuni Dharma dan terbebaskan.

Master akan mengajarkan kalian beberapa metode untuk menyatukan memadukan belajar Buddha Dharma dan menjalani kehidupan menjadi satu kesatuan: Dalam membina diri harus lihat lebih sedikit, bicara lebih sedikit, makan lebih sedikit, dan tidur lebih sedikit, dengan mengingat keempat “sedikit”ini, maka dapat terbebas dari kelahiran dan kematian. Belajar Buddha Dharma mengajarkan kita untuk melepaskan, bukan menyerah, menyesuaikan jodoh bukan berarti asal-asalan, tidak melekat bukan berarti tidak serius. Ada banyak hal di dunia ini yang semakin kamu menginginkannya, semakin jauh ia darimu. Semakin kamu tidak menginginkannya, merasa tidak masalah, ia malah akan mencarimu. Kamu berusaha untuk mendapatkannya pun tidak ada. Kamu benar-benar tidak menginginkannya, ia malah datang ke sisimu. Karena memahami sebab dan akibat, kamu telah menguasai metode untuk mengubah takdirmu.

Berkah seseorang berasal dari hati yang memahami untuk memberi. Semakin banyak memaafkan orang lain, semakin banyak berkah yang kamu terima. Semakin besar kemurahan hati, semakin besar aura kebaikanmu. Melihat hambar dan melepaskan terhadap hal-hal di dunia, tidak perhitungan terhadap hal apapun, hati baru akan nyaman. Semakin sedikit perhitungan, semakin banyak kebahagiaan, semakin banyak perhitungan semakin sedikit kebahagiaan. Kelemahan yang dibiarkan menumpuk pasti akan membawa kegagalan dalam hidup. Memiliki hati yang lapang akan memiliki berkah. Memiliki berkah, pikiran pun akan jernih, maka itu ada pepatah yang berbunyi, “Ketika berkah datang, pikiran pun jernih dan terang.”

Master ingin memberi tahu semua orang bahwa menerawang totem hanyalah sebuah metode, bukan tujuan akhir. Menerawang totem dimaksudkan agar orang menyadari bahwa di dunia ini memang ada keberadaan zat gelap yang tak terlihat, sama seperti kita tidak dapat melihat udara, listrik, dan angin. Berharap semua orang dapat menekuni Dharma dengan baik, percaya ajaran Buddha Dharma, dan memiliki sifat dasar diri kita sendiri, sumber dasar dan welas asih, menciptakan tanah suci yang indah di dunia agar kita memiliki hal yang paling berharga di dunia ini, yaitu welas asih. Kehidupan yang memuaskan bergantung pada diri kita sendiri, dan menyelamatkan makhluk hidup bergantung pada sifat Kebuddhaan diri kita sendiri.

Menekuni Dharma adalah sungguh benar, Master sangat berterima kasih kepada kalian. Berharap kalian harus menekuni Dharma dengan baik, membina pikiran dengan baik, dan mengubah diri sendiri. Harus melenyapkan penderitaan di kehidupan ini, harus melepaskan diri dari penderitaan, dan memperoleh kebahagiaan. Harus memahami untuk mengubah pikiran diri sendiri. Mulai hari ini, jadilah diri sendiri sebagai seorang Bodhisattva, belajar Buddha Dharma dengan baik dan menjadi pribadi yang baik. Master Taixu berkata, “Menjadi pribadi yang baik baru bisa mencapai Kebuddhaan”. Jika kamu berperilaku seperti seseorang Bodhisattva, kamu akan memasuki jalan Bodhisattva. Jika kamu berperilaku seperti seorang Buddha, kamu adalah Buddha. Jika setiap hari melakukan hal-hal jahat di dunia, kamu pasti akan masuk ke Alam Hantu. Jika setiap hari melakukan hal-hal seperti binatang di dunia, kamu pasti akan masuk ke Alam Binatang.  Berharap kalian dapat harus bisa terbebas dari tiga alam jahat, membina diri dengan baik, dan harus mencapai kesadaran spiritual tertinggi, karena masih banyak kerabat kita yang menunggu kita, yaitu Guan Shi Yin Pu Sa, Buddha Amitabha, Sang Buddha… dan masih banyak lagi Buddha di sepuluh penjuru, kita harus berkumpul bersama mereka. Kita harus terbebas dari penderitaan di dunia, menjadi pribadi yang baik baru bisa mencapai Kebuddhaan.  Jadilah orang baik, ubahlah rumahmu menjadi tanah suci kebahagiaan di dunia mulai hari ini, dan ubahlah setiap negara menjadi tanah suci kebahagiaan di dunia. Kita menginginkan kedamaian, persatuan, dan keharmonisan, dimulai dulu dari keluarga. Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik, itu adalah semangat dan hati kita. Kita harus menekuni Dharma dengan tulus dan sepenuhnya mengubah kekurangan pada diri kita. Maka kita akan menjadi orang yang tanpa dosa, orang yang tanpa cacat, tidak ada polusi, keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Semua orang harus menekuni Dharma dan membina pikiran dengan baik. Master saling menyemangati bersama semua orang.

Tahun Baru akan segera tiba. Berharap semua orang memulai hari ini dengan menjadi pribadi yang baru. Singkirkan masa lalu. Malam Tahun Baru adalah menyingkirkan masa lalu. Kita harus membuang semua kebiasaan buruk, kebencian, dan keserakahan kita di masa lalu. Dengan begitu, kita akan menjadi pribadi yang sangat bersih. Terakhir, berharap kalian bisa lebih banyak menyelamatkan makhluk hidup, kalian semua adalah Bodhisattva di masa depan.

Sekali lagi, terima kasih kepada semua relawan. Sekali lagi terima kasih kepada semua tamu dan biksu terkemuka yang datang untuk melindungi Dharma, dan juga terima kasih kepada semua teman se-Dharma yang telah memungkinkan terselenggaranya seminar Dharma hari ini. Terima kasih semuanya! Mari kita bersama-sama menapaki Empat Alam Brahma, kembali ke Alam Sukhavati, dan mulai menciptakan tanah suci kebahagiaan di dunia. Di tanah suci kebahagiaan ini, kita dapat bekerja dan hidup bahagia, tidak ada kekhawatiran dan penderitaan, tidak membawa karma apa pun, pada akhirnya, bisa mencapai surga Guan Shi Yin Pu Sa, terima kasih semuanya! Saya mengucapkan doa selamat tahun baru lebih awal, semoga semuanya bahagia di Tahun Baru Imlek dan kesehatan yang baik. Baik-baiklah menekuni Dharma dan perbaiki diri sendiri sepenuhnya. Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan menyinari kita. Kita bermandikan cahaya Buddha, agar kita terbebas dari penyakit dan kerisauan. Kita pasti akan hidup bahagia di tanah suci kebahagiaan yang telah kita ciptakan untuk diri kita sendiri di dunia ini. Terima kasih semuanya!