Sifat Kebuddhaan Selalu Menetap, Jodoh Kebuddhaan Kekal Abadi (Bagian 2)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Singapura, 10 April 2015
Kebahagiaan bukanlah sesuatu yang bisa dimohon, kebahagiaan adalah sesuatu yang dibawa oleh diri sendiri. Hari ini kalian datang untuk menjadi relawan, menekuni Dharma, dan memahami lebih banyak tentang filsafat hidup, itu berarti kalian sedang menyelamatkan diri kalian sendiri. Bodhisattva paling sulit menolong orang yang bahkan tidak mau menolong dirinya sendiri. Orang yang tidak memberi dirinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan sangat sulit untuk diselamatkan. Berapa banyak orang hidup dalam kebodohan sepanjang hidupnya. “Saat terjebak dalam kebodohan, merasa perasaan seolah tanpa batas; setelah tersadarkan, baru memahami bahwa semua rupa hanyalah kekosongan.” Ketika seseorang menjadi bodoh karena perasaan, ia merasa bahwa cinta itu luar biasa — cinta ini, cinta itu, tidak bisa melepaskan yang ini, tidak bisa melepaskan yang lain, merasa ini baik kepada saya dan itu sangat baik kepada saya, bersikap bodoh. Ketika akhirnya ditinggalkan, “Master Lu, ternyata dia tidak benar-benar mencintaiku, berapa lembar Xiao Fang Zi yang harus saya baca?” Segala bentuk perasaan dan seluruh kehidupan ini pada dasarnya adalah kosong. Jangan terlalu melekat atau mengejar sesuatu dengan berlebihan, maka pasti tidak akan bersikap bodoh dan bingung.
Kita menekuni Dharma harus menemukan kembali jati diri kita dari penderitaan. Di dunia ini, setiap orang pasti mengalami rasa sakit dan kesedihan, tetapi kita harus menemukan diri kita sendiri. “Tidak apa-apa, saya telah menemukan ajaran Buddha Dharma. Meskipun dulu saya banyak berbuat salah, tetapi mulai hari ini saya tidak akan berbuat salah lagi. Saya adalah orang baik, saya hanya akan melakukan hal-hal yang baik. Masa lalu adalah masa lalu, saya tidak akan mengejar masa lalu, karena orang yang terus mengejar masa lalu tidak akan pernah melihat masa depan.” Kita praktisi Buddhis, jika ingin melihat masa depan yang indah, maka harus melepaskan masa lalu kita, harus menemukan kembali diri sendiri, dan menemukan arah kehidupan dari luka yang pernah kita alami. Orang yang pernah disakiti akan memiliki tekad yang lebih kuat dan menjadi lebih tangguh. Siapa pun yang bisa bangkit dari tempat ia terjatuh, berarti sebenarnya ia tidak pernah jatuh. Namun, mereka yang tidak bisa bangkit, itulah yang jatuh selamanya.
Belajar Buddha Dharma akan membuat diri kita menjadi lebih kuat. Dalam hidup, perolehan dan kehilangan sulit untuk diukur. Hari ini mendapatkan sesuatu, besok kehilangannya, lusa kehilangan lagi, dan beberapa hari kemudian mungkin mendapatkannya kembali. Sulit menemukan titik keseimbangan, manusia hidup di antara perolehan dan kehilangan. Orang yang terlalu mementingkan keuntungan akan kehilangan tubuh Dharma dan jiwa kebijaksanaan. Mengapa para biksu memilih untuk meninggalkan kehidupan duniawi, karena tidak ingin kehilangan tubuh Dharma dan jiwa kebijaksanaan. Mereka hidup sederhana, tanpa hal-hal yang membuat mereka terikat. Mereka tidak tidak mementingkan keuntungan. Orang yang tidak meninggalkan kehidupan duniawi, jika mampu melepaskan kekayaan dan meninggalkan ketenaran, maka ia akan memperoleh tubuh kebijaksanaan, yaitu jiwa kebijaksanaan.
Memahami makna sejati dari pembinaan diri adalah pencerahan melalui perenungan. Memahami makna sejati dari pembinaan diri, untuk apa sebenarnya kita membina diri. Ketika memahami alasannya, maka sudah mencapai pencerahan. Untuk melaksanakan sila dalam membina pikiran, sebelum Sang Buddha mencapai parinirvana, para murid berlutut dan berkata: “Sang Buddha, setelah Anda tiada, bagaimana kami membina diri?” Sang Buddha menjawab: “Jadikan sila sebagai dasar.” Orang yang membina pikiran harus terlebih dahulu memahami sila. Sila itu sangat-sangat penting, karena itu kita harus menaati sila. Pembinaan yang sungguh-sungguh adalah sila dalam membina pikiran. Membina diri dengan sungguh-sungguh, tidak berbohong, dan setiap hari dengan tekun melafalkan paritta. Kita harus benar-benar memahami dan belajar kesabaran (ksanti paramita), yaitu belajar menahan diri. Terlebih dahulu harus bersabar; namun pada akhirnya, bukan lagi tentang menahan hal yang tak tertahankan, melainkan menyadari bahwa tidak ada lagi yang perlu ditahan, setelah memahami segalanya. Ada apa yang harus ditahan? Dengan perkataan Bodhisattva, kesabaran bukanlah tingkat tertinggi. Tiada kesabaran, anutpattika dharma ksanti — ketiadaan kesabaran dharma, harus mampu menyelaraskan mentalitas diri sendiri, mengubah kerisauan menjadi tingkat kesadaran spiritual. Orang yang tidak memiliki kerisauan adalah orang yang memiliki tingkat kesadaran spiritual.
Hati nurani dan sifat dasar setiap praktisi Buddhis adalah hakim yang paling adil bagi dirinya sendiri. Pembinaanmu baik atau tidak, renungkanlah dengan hati nurani. Hati nurani dan sifat dasar tidak bisa menipu diri sendiri, yang lain bisa menipumu. Hati nurani adalah tempat Buddha sejati dalam diri. Bodhisattva datang ke tubuhmu, di dalam hatimu. Bagi orang yang memiliki hati nurani, Bodhisattva akan datang; tetapi bagi yang tidak memiliki hati nurani, bagaimana Bodhisattva bisa datang? Jika tidak ada di dalam hati, di bagian mana dari tubuhmu Bodhisattva bisa berdiam? Bila pikiran kotor dan penuh dengan kekacauan, apakah Bodhisattva akan datang ke tempat yang penuh pikiran mengganggu? Banyak orang melafalkan paritta, bermeditasi, atau bersujud kepada Buddha, pikirannya justru dipenuhi oleh berbagai pikiran liar, bahkan muncul niat yang tidak hormat kepada Bodhisattva. Coba pikirkan, betapa sulitnya mengendalikan pikiran sendiri. Buddha ada di dalam hati, dan pencerahan sejati datang dari kesadaran diri. Ketika kita tidak bisa berpikiran terbuka, kita harus berusaha membuat diri sendiri berpikiran terbuka. Ketika hati tidak memiliki perasaan, kita harus membangkitkan perasaan di dalam hati. Terima kasih kepada Bodhisattva, harus bersyukur. Belajar untuk melepaskan diri sendiri, maka barulah bisa belajar melepaskan kerisauan.
Seseorang yang harus benar-benar memperoleh kebebasan batin dan tidak boleh terikat oleh hal-hal duniawi. Jika seseorang ingin membebaskan dirinya, ia harus berpikir: “Di dalam hati saya, tidak ada satu pun benda atau hal yang bisa membuat saya merasa tidak bisa melepaskannya.” Jika hari ini kamu berkata, “Saya ingin membeli rumah, Master Lu, saya sudah melepaskan segalanya, asal urusan rumah ini selesai saja,” banyak orang datang dan berkata, “Master Lu, saya benar-benar sudah sadar, saya sudah melepaskan segalanya, saya sudah tercerahkan! Bisakah Anda lihat anak saya nanti masuk universitas mana?” Melepaskan yang sesungguhnya adalah benar-benar terbebaskan, berpikiran terbuka dan tidak masalah.
Katakan padamu, sekarang anak yang sudah dibesarkan tidak bisa sepenuhnya diandalkan. Saya bertanya pada kalian, berapa banyak anak zaman sekarang yang benar-benar berbakti? Hanya mereka yang menekuni Dharma yang masih memiliki rasa bakti. Beberapa orang tua sungguh bodoh. Awalnya mereka sangat baik kepada anaknya, sehingga anak itu memiliki rasa terima kasih — “Terima kasih, Ayah. Terima kasih, Ibu.” Namun, seiring anak tumbuh besar, orang tua berkata, “Saya beri tahu kamu, saya sedang berinvestasi padamu. Saya begitu baik padamu. Saya dan ayahmu berdua hidup hemat, bekerja keras agar kamu bisa kuliah. Nanti kalau kamu sudah besar, kamu harus memberi kami uang, membalas budi kami, harus merawat kami, kami mengandalkanmu di masa tua!” Sejak saat itu, anak mulai merasa bahwa semua kebaikan orang tuanya adalah hal yang seharusnya, karena suatu hari nanti ia harus membalasnya. Tapi coba pikir sekarang, adakah anak yang benar-benar membalas budi orang tuanya setelah ia dewasa? Yang datang kebanyakan untuk menagih utang, mana ada yang datang untuk membayar utang? Mereka yang datang untuk membayar utang jarang terlihat, sedangkan yang datang untuk menagih utang sangatlah banyak.
Kita sebagai manusia yang menekuni ajaran Buddha Dharma harus belajar untuk menghadapi kenyataan. Hari ini tidak bahagia, itu adalah kenyataan, tidak apa-apa, besok akan bahagia. Kita harus melampaui kenyataan. Hari ini sedih bukan berarti akan selamanya sedih; hari ini patah hati, nanti akan menemukan seseorang yang baru dan lebih baik; hari ini ditindas oleh orang lain, itu berarti kamu sedang belajar menahan diri dan kesabaran. Di rumah, kamu akan perlahan-lahan mengerti bagaimana cara menyayangi orang lain. Jadi, dari kesalahan diri sendiri, belajarlah untuk bersyukur; dari interaksi diri dengan orang lain, belajarlah untuk memahami welas asih.
Mengapa praktisi Buddhis pada akhirnya bisa berhasil? Karena justru dalam kesulitan, rintangan, dan jalan yang berliku barulah bisa mencapai keberhasilan. Jalan yang benar di dunia ini penuh dengan penderitaan dan perubahan! Siapa pun yang ingin berhasil harus siap menanggung kesulitan. Di dunia ini, kita harus belajar “memakan” dua hal: satu adalah menanggung penderitaan, dan satu lagi adalah menerima kerugian. Dirugikan sebenarnya adalah sebuah keuntungan. Misalnya, ketika seseorang tidak berbicara tetapi dimarahi orang lain, ia dirugikan, namun setelah itu orang lain tidak akan berkata apa-apa lagi. Seseorang di dalam bus kakinya terinjak oleh orang lain, lalu ia marah besar dan memaki-maki. Orang yang menginjaknya tidak berkata apa-apa, dan juga tidak meminta maaf. Akhirnya, semua orang di sekitar justru membelanya: “Orang itu sudah diam saja, kenapa kamu masih memarahinya? Terinjak ya terinjak saja, apa sampai patah? Seseorang mengerti bahwa “dirugikan” itu sebenarnya adalah“untung”. Orang yang terus memaki akhirnya hanya membawa pulang segunung amarah. Kemarahan itu muncul dari diri sendiri, tidak ada yang memaksa kamu untuk marah. Jika kamu tidak marah, tidak seorang pun punya kuasa membuatmu marah. Bila marah sampai jatuh sakit, tak ada seorang pun yang akan menggantikannya .
Melampaui kenyataan, tahu bahwa kerisauan di dunia ini tiada hentinya, maka kita harus memutuskan penderitaan. Seseorang yang berjuang mati-matian demi mengejar hal-hal duniawi, seringkali adalah orang yang gagal. Harus menyesuaikan jodoh. “Hari ini saya bisa diterima di universitas, terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa, terima kasih kepada orang tua saya.” “Hari ini saya memiliki keluarga yang baik, saya bersyukur.” “Hari ini saya kehilangan sesuatu, saya juga tidak melekat padanya.” Jangan bersikeras dengan pikiran seperti, “Saya harus mendapatkannya, apa pun harganya,” pada akhirnya, itu sering membawa kegagalan. Lihatlah pernikahan para bintang film — kadang baik, kadang buruk; sebentar melamar, sebentar bercerai. Manusia tidak bisa menjaga apa yang dimilikinya karena sifat tamak. Semakin tamak, semakin berubah; semakin berubah, semakin tamak. Tamak hingga akhirnya, orangnya akan berubah sepenuhnya, tetapi semua yang diperoleh dari ketamakan pun lenyap begitu saja. Tidak tamak adalah yang paling mulia; tidak tamak berarti memiliki kebijaksanaan.
Seorang ibu muda datang ke sebuah restoran cepat saji sambil menggendong bayinya. Anak itu sangat haus, tetapi restoran tersebut hanya menjual minuman seperti Sprite dan Cola, yang tidak cocok untuk bayi. Akhirnya, sang ibu melihat ada mesin air minum di dalam restoran. Ia pun berkata kepada pelayan, “Pelayan, tolong bantu kami tuangkan segelas air putih, boleh?” Pelayan melihat bahwa ibu itu tidak membeli apa pun, lalu segera berkata, “Mesin air itu hanya untuk karyawan. Kalau mau minum, kalian bisa beli Cola atau Sprite.”Ibu itu menjawab dengan sopan, “Maaf, anak saya tidak bisa minum minuman seperti itu. Bisakah kamu memberikan saya segelas air putih saja?”Pelayan menjawab, “Kalau begitu, bawa gelas sendiri.” Ibu itu tidak punya gelas. Ia melihat di dekat mesin air ada gelas kertas sekali pakai, lalu berkata, “Pelayan, bisakah kamu memberikan saya satu gelas kertas itu? Saya mau beli, saya bayar.”“Itu hanya untuk penggunaan internal, tidak dijual untuk pelanggan.” Ibu itu sangat kesal, tidak berdaya, akhirnya ia menggendong anaknya dan pergi. Beberapa waktu kemudian, ibu itu menceritakan kejadian hari itu kepada tetangganya. Setelah mendengarnya, sang tetangga merasa sangat marah. “Restoran itu terlalu pelit, saya tidak akan pergi ke sana lagi.” Tetangga itu kebetulan tinggal di sebelah seorang guru sekolah menengah, dan sekolahnya itu berada tepat di samping restoran cepat saji tersebut. Setiap siang, semua murid berseragam sekolah berbaris panjang untuk membeli makanan di sana. Suatu hari, saat sedang mengajar, guru itu menceritakan kejadian itu kepada para muridnya. Setelah mendengarnya, para murid berkata, “Restoran itu tidak punya hati nurani, segelas air saja tidak boleh. Mulai sekarang, kami tidak akan pergi ke sana lagi.” Restoran cepat saji itu tetap buka setiap hari, tetapi tidak ada yang tahu pasti sejak kapan usaha restoran itu menjadi sepi. Padahal dulu, setiap hari restoran itu selalu penuh, terutama dengan para siswa berseragam sekolah yang berbaris panjang untuk membeli makanan. Meskipun pihak restoran berusaha memperbaiki keadaan dengan berbagai cara—seperti mengadakan “makan berhadiah”, “diskon paket”, dan “pemberian hadiah gratis” namun suasana di dalam restoran tetap saja sepi. Tak lama kemudian, di sebelah restoran cepat saji itu bermunculan toko-toko baru: kedai pangsit, warung mi, dan toko soya. Hingga akhirnya, pada suatu hari, restoran cepat saji itu pun tutup. Ketika para karyawan membereskan barang-barang dan bersiap pergi, tak seorang pun menyangka bahwa akhir yang menyedihkan itu mungkin berawal hanya dari segelas air yang ditolak dengan dingin hati.
Apa pun yang kita lakukan, tidak terlihatnya akibat bukan berarti tidak ada akibat. Di rumah, jika kita sering mengucapkan kata-kata yang hangat, maka suasana rumah yang penuh kehangatan akan terbentuk. Namun jika setiap hari kita mengucapkan kata-kata kasar, seiring waktu berjalan, rumah itu akan membeku. Es yang setebal tiga kaki tidak terbentuk dalam satu hari. Setiap keluarga yang hancur selalu berawal dari sikap dingin hingga akhirnya berujung pada kehancuran. Berharap semua orang menghargai jodoh dan karma, menggunakan kehangatan hati untuk menyentuh orang lain, agar orang lain mendapatkan lebih banyak kehangatan. Inilah hati-pikiran seorang praktisi Buddhis, inilah hati yang welas asih.
Praktisi Buddhis tahu bahwa jika tidak menanam kebaikan, tidak akan ada rezeki yang terkumpul. Seseorang yang tidak memiliki hati yang baik, seberapa lama pun waktunya, tidak akan memiliki keberuntungan dalam rezeki. Mengabaikan pelanggan sama saja dengan menjatuhkan batu ke kaki sendiri. Di dunia ini, segelas air yang diberikan dengan tulus dapat menghangatkan hati seseorang. Beberapa hari ini di sini, kita begitu banyak relawan menyajikan air hangat dan kotak makan, itu adalah wujud dari niat baik yang tulus, bisa membuat hati terasa hangat. Setiap kata yang baik dan setiap perbuatan yang baik dapat membuat hati kita semakin hangat dan menjadikan dunia ini lebih penuh harapan. Keindahan hidup berasal dari setiap rincian kecil dalam kehidupan. Keberhasilan praktisi Buddhis berasal dari mengamalkan semua perbuatan baik. Selama kita terus belajar ajaran Buddha Dharma dan menyingkirkan sikap dingin di Alam Manusia, dunia ini pasti akan menjadi lebih indah.
Seseorang yang tahu menaati sila, memahami aturan dan hukum, ketika melihat lampu merah harus berhenti, hal-hal yang tidak seharusnya dilakukan, tidak boleh dilakukan. Baik di rumah, di tempat kerja, maupun di masyarakat, tidak boleh berbuat salah, ini adalah menjalankan sila. Ketika melihat sesuatu yang bagus, tetapi bukan milikmu, maka kamu tidak boleh mengambilnya. Menaati sila berarti menutup kebocoran pada berkah kebajikan. Seseorang yang menjalani sila akan memperoleh berkah; sedangkan berkah kebajikan yang bocor berasal dari enggan untuk menjalani sila. Banyak orang telah melakukan banyak jasa kebajikan, tetapi karena mulutnya suka memarahi orang, akhirnya seperti membakar habis “hutan kebajikan”. Misalnya, ia mengeluarkan uang untuk menjamu orang makan; semua orang makan dengan gembira. Namun pada akhirnya ia berkata: “Hari ini saya mengundang kalian, karena saya tahu kalian semua orang yang pelit, jadi saya sengaja menjamu kalian makan.” Tutuplah kebocoran pada berkah kebajikan diri sendiri. Apa pun suara dari dunia luar, tetaplah mendengarkan “suara Buddha” di dalam hatimu. Orang lain mungkin berkata, “Orang ini sangat jahat,”namun Bodhisattva berkata, “Setiap makhluk memiliki sifat Kebuddhaan, mungkin ia memiliki kesulitan yang tidak dapat diungkapkan.” “Orang ini mencuri barang,”
“Ah masa? Dia tidak semiskin itu sampai harus mencuri barang seperti ini.” “Istrimu terlihat berjalan-jalan di jalan bersama seorang pria,” “Tidak mungkin, istriku sangat setia kepadaku,”dan kamu pun merasa tenang! “Istriku bersama pria siapa?” Langsung naik pitam, pulang ke rumah dan bertanya, “Hari ini kamu pergi dengan pria siapa?!” “Iya, aku bersama ayahmu — menemani beliau membeli tongkat jalan, memangnya kamu masih mau menuduhku seperti apa? Tidak punya hati nurani!”Bagaimana datangnya kerisauan? Diri sendiri yang mendatangkannya, terdengar dari telinga. Bagi orang yang tidak ingin dipenuhi kerisauan, keenam indra harus dijaga tetap murni — mata, telinga, hidung, lidah, tubuh, dan pikiran harus terjaga. Jangan mendengar hal yang tidak seharusnya didengar, jangan berkata hal yang tidak seharusnya dikatakan, dan jangan melihat hal yang tidak seharusnya dilihat. Apa pun yang kita hadapi, harus berpikir: “Ini adalah ujian yang diberikan Bodhisattva kepadaku. Bodhisattva mengujiku untuk melihat apakah aku akan marah — maka aku tidak akan marah.” Bodhisattva berkata: “Ada begitu banyak makanan lezat, apakah kamu mau memakannya?’”Tidak, saya vegetarian.”Bodhisattva berkata: “Merek terkenal ini sedang diskon, belilah!” “Tidak, saya tidak beli — Bodhisattva sedang menguji saya!”Ketika kalian bisa berpikir seperti itu, berarti kalian telah berhasil melewati ujian tersebut.
Manusia tidak boleh menjadi budak dari tubuh dan nafsunya. Apa pun yang kamu sukai, jika kamu terlalu melekat padanya, kamu akan menjadi budaknya. Jika kamu menyukai uang, setiap hari bekerja keras dan belajar, menghasilkan uang. Jika kamu menyukai seorang wanita, dan dia berkata, “Aku mau menikah denganmu asal kamu membelikanku rumah besar,” lalu kamu bekerja keras tanpa henti demi memenuhi keinginannya, maka kamu telah menjadi budaknya. Pembebasan sejati itu dari hati yang benar-benar bebas. Memahami kebenaran adalah kebijaksanaan. Orang yang benar-benar dapat membebaskan dirinya adalah orang yang berjalan di jalan benar dalam menekuni ajaran Buddha Dharma.
Sebagai manusia, jangan mengira bahwa dirimu memiliki kemampuan berbicara yang baik adalah segalanya. Dalam kitab Zhuangzi ada sebuah kisah tentang seseorang yang sangat pandai berdebat. Dengan kepandaiannya berbicara, ia berhasil mengalahkan lawannya dan merasa sangat bangga: “Lihat, Aku menang lagi, Aku berhasil mengalahkannya.” Namun Zhuangzi berkata kepadanya, “Sebenarnya, bagi dirimu sendiri, kamu sepenuhnya kalah.”Orang itu bertanya, “Mengapa begitu, Zhuangzi?”Zhuangzi menjawab, “Karena dengan kemampuan debatmu yang tinggi, kamu membuat kebenaran orang lain tampak tidak berarti. Orang itu kehilangan harga diri dan gengsi, dia pasti akan menaruh iri serta kebencian padamu.” Itulah yang disebut memutus hubungan baik dengan orang lain dan menumbuhkan keinginan balas dendam dalam hati mereka. Ingatlah, ketika saatnya melepaskan, lepaskanlah. Ketika seharusnya memaafkan, maafkanlah. Memberi jalan bagi orang lain berarti juga memberikan jalan keluar bagi diri sendiri.
Di dunia ini, kita harus berusaha keras untuk menjadikan setiap lawan kita sebagai teman. Kasih sayang, kedamaian, dan toleransi adalah harta paling berharga bagi umat manusia. Bersikap baik kepada orang lain adalah kekayaanmu sendiri. Lautan dapat menaungi ratusan sungai karena keluasannya. Pikirkanlah, betapa besarnya lautan, hal apa yang tidak bisa ia tampung? Konfusius berkata tentang “jalan tengah”: Praktisi Buddhis melakukan segala hal dengan sepenuh hati, tetapi jangan melekat di dalam hati, itulah jalan tengah. Bersikap baik kepada orang lain, jangan disimpan di hati. Ketika orang lain berbuat baik kepadamu, simpanlah rasa syukur di dalam hati.
Bagi praktisi Buddhis, segalanya muncul karena karma dan jodoh, dan juga lenyap karena karma dan jodoh. Tidak ada seorang pun yang akan menemanimu sampai pada detik terakhir kehidupanmu. Semuanya adalah jalinan jodoh. Ketika kamu memiliki jodoh, hargailah dengan sungguh-sungguh. Ketika kamu kehilangan jodoh, terimalah dengan hati penuh rasa syukur. Sebagai manusia pun seperti itu, jangan menganggap segala hal di dunia ini terlalu nyata. Segala sesuatu di dunia ini lahir tidak membawa apa-apa datang dan mati tidak membawa apa-apa pergi. Hidup ini bagaikan mimpi, jangan menganggapnya sungguh-sungguh nyata. Hati memiliki kerisauan itu karena kita belum menjalani hidup dengan tepat. Jika kita bisa hidup dengan tepat, makna sejati kehidupan adalah memikirkan orang lain, merasakan kesedihan mereka, dan turut berbahagia atas kebahagiaan mereka. Jika ingin hidup dengan bahagia dan bebas, maka harus menjalani hidup yang biasa-biasa saja. Jika ingin hidup dengan gemilang, maka bersiaplah menanggung penderitaan. Jika ingin hidup lebih panjang, maka harus hidup dengan sederhana.
Steve Jobs pernah berkata sebuah kalimat. Seseorang bertanya kepadanya, “Dari mana asal kesuksesan Anda?” Jobs menjawab, “Karena saya memiliki kebijaksanaan yang cerdas.” Orang itu bertanya lagi, “Dari mana datangnya kecerdasan Anda?” Jobs menjawab, “Kecerdasan berasal dari pengalaman saya.” “Lalu, dari mana pengalaman itu datang?” “Pengalaman berasal dari kegagalan yang tak terhitung banyaknya!” Kegagalan di dunia ini bukanlah kegagalan yang sesungguhnya, tetapi kehilangan nyawa itu barulah kegagalan yang sesungguhnya. Hari ini kita memiliki kehidupan, memiliki kebijaksanaan duniawi; orang yang meneladani Bodhisattva memiliki kebijaksanaan Bodhisattva, kita harus maju dengan berani. Kebijaksanaan sejati lahir dari welas asih dan kebaikan hati. Gunakan hati yang welas hati asih untuk memperlakukan orang lain dan semua makhluk dengan baik, kita akan memperoleh kebahagiaan yang tiada batas. Jika ingin bahagia, buatlah orang lain bahagia terlebih dahulu. Ketika Master membuat kalian bahagia, saya pun merasa bahagia sekali. Guan Shi Yin Pu Sa membuat semua makhluk bahagia dan sukacita Dharma. Jika setiap orang belajar Dharma, coba kalian semua katakan, apakah Guan Shi Yin Pu Sa akan merasa bahagia?
