Kebaikan dan Kebajikan, Hargai Kehidupan yang Tidak Kekal, Menempatkan Diri dalam Semua Makhluk, dan Mencapai Pencerahan Tertinggi (Bagian 1) 善心善德珍惜无常人生 扎根众生证得无上菩提 (上)

Add Your Heading Text Here

Kebaikan dan Kebajikan, Hargai Kehidupan yang Tidak Kekal, Menempatkan Diri dalam Semua Makhluk, dan Mencapai Pencerahan Tertinggi (Bagian 1)

Seminar Dharma Penang - Malaysia, 24 Januari 2015

Jodoh yang luar biasa dan dipenuhi sukacita Dharma. Sekali lagi kembali ke Penang, sekali lagi terima kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, Naga Langit Pelindung Dharma  atas berkat yang telah diberikan. Master mengucapkan Selamat Tahun Baru dan semoga sukses bagi semua teman se-Dharma di Penang, Malaysia dan seluruh dunia!

Terima kasih kepada semua hadirin, para biksu dan teman-teman se-Dharma yang telah datang dari lebih dari dua puluh negara dan wilayah untuk mendukung kita. Memiliki sahabat sejati di dunia, meskipun terpisah jauh, rasanya tetap berdekatan. Marilah kita bersama-sama bernaung dibawah cahaya Buddha dan menyingkirkan segala kerisauan di dunia ini. Meskipun hidup dalam kerisauan, kita tetap harus melewati hari ini. Marilah kita lepaskan sekarang, terbebaskan dan bahagia dalam menjalani hidup di setiap hari, inilah awal dari terbebaskan dari ketersesatan dan tersadarkan, serta juga awal dari terbebas dari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan.

Setiap hari dunia ini dirusak secara alami, dan manusia terus-menerus berjuang dan bertikai tanpa henti, hanya demi mempertahankan kesadaran egonya akan kelangsungan hidup. Telah lupa akan rasa syukur dan bakti kepada orang tua, serta menyia-nyiakan waktu yang berharga. Banyak orang merasa punya waktu terlalu banyak, jadi mereka menyia-nyiakan lebih banyak waktu. Terkadang orang merasa kosong, kesepian, depresi, takut, dan tertutup, menyebabkan berapa banyak orang yang bunuh diri dan berapa banyak keluarga yang hancur? Kesadaran ego manusia terlalu kuat, membentuk hasrat keinginan diri yang kuat dan keegoisan yang berlebihan.  Setiap hari hidup di dunia yang penuh dengan tuntutan materi, yang menyebabkan berbagai penyakit mental dan membuat orang tidak bisa berpikiran terbuka.  Saat ini, setiap tahun terdapat satu juta orang yang bunuh diri di dunia ini. Di Australia, seorang menantu perempuan, yang telah berselisih dengan ibu mertuanya selama bertahun-tahun. Ia dimarahi oleh ibu mertuanya setiap hari. Bulan lalu, ia membunuh ibu mertuanya saat ia sedang mandi, dan kemudian ia bunuh diri. Kita yang hidup dalam penderitaan dan kerisauan harus menekuni Dharma, karena hanya mereka yang menekuni Dharma yang dapat terbebaskan.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) berpikir bahwa abad ke-21 adalah abad penyembuhan penyakit mental manusia. Ajaran Xin Ling Fa Men adalah metode terapi yang diberikan oleh Bodhisattva kepada manusia untuk melampaui hal-hal materi dan mengatasi suasana hati orang saat ini. Kita harus memahami dan mempelajari ajaran Buddha Dharma, kita pasti bisa menyelesaikan berbagai macam masalah dan kebiasaan buruk dalam hidup, sehingga kita dapat hidup dalam kebahagiaan setiap hari. Dengan bernaung dibawah cahaya Bodhisattva, kita akan memiliki masa depan yang cerah. Setiap orang dilahirkan ke dunia, mulai dari selembar kertas putih, di dunia fana ini, kita belajar berbagai hal-hal duniawi, kecemburuan, ketidakpedulian, perselisihan terbuka maupun terselubung, serta saling tipu-menipu, telah lupa harus memiliki bakti kepada orang tua, harus belajar berwelas asih, memiliki lebih banyak cinta kasih dan empati, dunia ini baru akan terpenuhi dengan cinta kasih. Kehidupan manusia hanyalah puluhan tahun yang singkat. Setiap orang datang ke dunia ini yang hanya berkelana satu kali, sama seperti meminjam sebuah raga dari waktu, kita harus mengembalikannya ke dunia ini setelah selesai menggunakannya. Ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, ada yang meninggalkan jiwanya di dunia ini, ada yang membawanya ke Surga, dan ada yang membawanya ke dalam tanah, membawanya ke kuburan, dan ke Alam Neraka. Dalam menekuni Dharma, kita harus tercerahkan. Orang yang tercerahkan adalah orang yang dapat berpikiran terbuka, dapat berpikir jernih dan terbuka di dunia ini, ia adalah orang yang tersadarkan.

Dalam serangan teroris 9/11 di Amerika Serikat, seorang pengusaha yang memiliki beberapa toko perhiasan berada di gedung yang sama. Para penyelidik menemukan bahwa sebelum kematiannya, ia pernah menelepon ibunya. Karena menyangkut masalah warisannya, para penyelidik menemukan ibunya yang berusia 70-an tahun, bertanya, “Apa hal terakhir yang dikatakan anak Anda di telepon?” Sang ibu, dengan air mata berlinang, tidak menjawab. Para penyelidik berkata: “Karena panggilan ini sangat penting. Ini terkait dengan pembagian warisannya, dan ini membantu penyelidikan kami.” Atas desakan berulang kali dari para penyidik, sang ibu akhirnya berkata: “Dia tahu dia tidak akan selamat, dia berkata, ‘Bu, saya sangat mencintaimu. Saya seharusnya tidak hanya fokus mencari uang dan tidak berbakti kepadamu. Bu, aku sungguh mencintaimu…’ Terdengar suara ‘pong’, telepon terputus.” Oleh karena itu, sebagai manusia, kita harus tahu untuk memiliki hati nurani dan bakti kepada orang tua. Kita tidak boleh hidup di dunia yang dipenuhi dengan pengejaran keinginan materi yang membingungkan.

Hiduplah dengan hati yang tenang dan sederhana, setiap orang memiliki kualitas, pembinaan diri dan moral yang berbeda. Belajarlah untuk lebih banyak memaafkan dan memahami orang lain. Memahami bahwa manusia hidup di dalam lingkaran keinginan. setiap orang memiliki perasaan yang berbeda, pandangan dan gagasan terhadap hidup pun berbeda.
Hanya dengan belajar hidup sederhana, baru dapat melepaskan. Hanya dengan belajar memahami rasa syukur, baru tahu untuk membalas kebaikan. Praktisi Buddhis harus memahami bersyukur, baru bisa memiliki welas asih dan hidup damai dengan sesama.

Banyak kebaikan dan kejahatan di dunia ini tidaklah mutlak. Kebaikan dan kejahatan memiliki sifat ganda. Membantu orang lain pada akhirnya disalahkan oleh orang lain. Memperkenalkan calon pada akhirnya  jarang menghasilkan hubungan yang harmonis dan hati yang bersyukur sebagai hasil akhir. Seorang dokter yang ingin menyelamatkan pasien tetapi akhirnya gagal menyelamatkannya —apakah ini baik atau jahat? Balasan jodoh karma, apa yang kamu anggap sebagai kebaikan atau kejahatan, sesungguhnya hanyalah penilaian dari sudut pandangmu sendiri, sebuah pandangan yang belum tentu mencerminkan kebenaran mutlak dalam kehidupan. Jalan yang mudah adalah turun bukit. Banyak orang di dunia ini selalu suka memilih jalan yang mudah, tetapi jalan yang mudah seringkali adalah menurun. Memilih jalan Buddhisme, meskipun sulit, tetapi akan membuatmu hidup tanpa penyesalan. Memahami ajaran Buddha Dharma dan menanggung sedikit penderitaan itu hanya sementara, tetapi tidak menekuni Dharma akan membuatmu menderita seumur hidup.

Menghargai baru bisa memiliki. Belajarlah untuk menghabiskan separuh hidupmu untuk  membantu orang lain dan separuhnya lagi untuk meyakinkan diri sendiri. Yang pertama adalah welas asih dan yang kedua adalah pembinaan diri. Jack, CEO General Motors, mengatakan dalam autobiografinya bahwa kesuksesannya mungkin berkat ibunya di Inggris. Semasa kecil, ia memiliki kebiasaan gagap dan teman-teman sekelasnya menertawakannya. Ini adalah hal yang sangat memalukan dan buruk, yang membuat orang merasa sangat rendah diri. Namun ibunya berkata kepadanya, “Nak, itu karena mulutmu tak sanggup mengimbangi otakmu yang cerdas” Jack menganggap itu kata indah yang memotivasinya untuk membuat kemajuan. Orang hidup di dunia ini harus memahami bahwa sepatah kata bijak dapat bermanfaat bagi seseorang sepanjang hidupnya. Bodhisattva mengajarkan kita untuk berpuas diri dan selalu bahagia, agar kita tidak serakah, membenci, atau bodoh. Ini akan bermanfaat bagi kita seumur hidup.

Praktisi Buddhis jangan terburu-buru untuk meraih kesuksesan. Kita harus memahami makna sejati ajaran Buddha Dharma, pantang menyerah. Waktu pada akhirnya akan menuntun pada pembebasan spiritualmu. Menekuni Dharma mungkin sangat sulit pada awalnya, tetapi yang paling sulit adalah bagaimana mencapai Kebuddhaan. Dalam menekuni Dharma, jangan dibingungkan oleh pemahaman dan pengetahuan diri sendiri yang terbatas, mengira diri sendiri telah memahami segalanya. Ketika bulan bersinar terang, itu karena kamu tidak dapat melihat matahari. Kita manusia sering kali tertutup oleh sedikit kehormatan atau pujian, sehingga kebijaksanaan yang lebih dalam justru tersembunyi dan tidak tampak. Alasan orang tidak dapat mencapai Kebuddhaan adalah karena kita belum sepenuhnya percaya, karena kita tidak mau berkorban lebih banyak, karena kita berfokus pada manfaat di depan mata dan melupakan masa depan akan seperti apa.

Di Australia, ada seorang anak yang terus-menerus gagal ujian. Ayahnya marah dan cemas, tetapi ia selalu menyemangati putranya yang berusia 16 tahun ini, berkata kepadanya, “Mark, kalau kamu belajar keras dan lulus ujian semester depan, Ayah akan membelikanmu mobil bekas.” Di akhir semester kedua, Mark masih belum lulus. Ayahnya sangat marah dan berkara, “Dasar anak tak berguna! Apa yang kamu lakukan semester ini?” Mark menjawab, “Ayah, saya belajar menyetir selama semester ini.” Kisah ini memberi tahu semua orang bahwa suatu hal kita harus memprioritaskan yang penting terlebih dahulu. Jika kita belum mencapai apa yang telah kita target sebelumnya, kita bahkan tidak bisa berbicara apa yang akan terjadi selanjutnya. Demikian juga dalam menekuni Dharma, jika kita tidak melafalkan paritta dan tidak memahami prinsip-prinsip praktik Buddha, bagaimana bisa menyelamatkan makhluk hidup? Setiap hari ingin sukses, ingin memiliki uang, kekayaan, dan kesehatan yang baik, tetapi tidak mau berikrar, tidak mau melafalkan paritta, dan tidak mau melepaskan makhluk hidup, kapan kamu lancar? Praktisi Buddhis harus memahami dirinya harus tekun belajar ajaran Buddha Dharma dan membina pikiran dengan baik, barulah dapat membantu orang lain. Sekuntum bunga yang mekar tidak menciptakan musim semi; seratus bunga yang mekar bersama akan memenuhi keindahan taman Buddha.

Setiap hari berpikir untuk pergi ke Alam Sukhavati, tetapi tidak tahu untuk menjalankan sila dan menyelamatkan diri sendiri, dan tidak tahu untuk menyelamatkan orang lain. Dalam kehidupan nyata, masih belum membina diri dengan baik di dunia ini, bagaimana bisa mencapai Kebuddhaan? Hanya ketika seseorang menyadari bahwa dirinya tidak bersih, barulah ia ingat untuk rajin mandi dan membersihkan diri. Hanya ketika seorang praktisi Buddhis menyadari bahwa ia memiliki rintangan karma, barulah ia dapat merenungkan ketidakmurnian tubuhnya, barulah bisa menyingkirkan pikiran-pikiran kotor di dalam dirinya, menghilangkan keserakahan, kecemburuan, kebencian, dan kebodohan. Marilah kita bersama-sama melafalkan paritta dengan baik setiap hari, sambil mengamati diri sendiri: “Saya ingin belajar ajaran Buddha. Apakah saya menyerupai Buddha? Saya ingin mencapai Kebuddhaan. Dapatkah saya bersikap layaknya seorang Buddha?” Jika setiap hari mengamati diri sendiri dengan demikian, maka suatu hari nanti kita akan mencapai Kebuddhaan.

Ada seorang murid sedang membersihkan cermin. Sang guru berkata kepadanya, “Murid, tahukah kamu? Cermin itu adalah gurumu, tidak peduli objek apa pun, cermin bisa memantulkannya. Hatimu seperti sebuah cermin, jika ia memantulkan hal baik, hatimu adalah baik; jika memantulkan hal buruk dalam masyarakat, hatimu adalah jahat, benar tidak?” Murid itu berkata, “Benar.” Sang guru berkata, “Jika memindahkan cermin itu, akankah ada bayangan di cermin itu?” Murid itu menjawab, “Tidak ada lagi, Guru.” Belajarlah mentalitas cermin, dalam menekuni Dharma, kita harus “menanggapi segala hal saat ia datang dan melupakannya setelah ia berlalu”. Segala sesuatu di dunia ini adalah tidak kekal. Apa pun yang pernah kita lihat, dengar, atau lakukan — baik yang menyenangkan maupun yang mengecewakan — semuanya harus kita lepaskan dan jangan disimpan di dalam hati, karena itu hanya akan melukai dirimu sendiri dan membuat hati tak pernah damai. Seperti yang dikatakan dalam “Jin Gang Jing – Sutra Vajra” : Pikiran masa lalu tidak dapat diperoleh, pikiran masa kini tidak dapat diperoleh, dan pikiran masa depan tidak dapat diperoleh.

Apa yang kita peroleh di dunia ini pada suatu hari akan hilang; perolehan juga merupakan kehilangan; Apa yang telah kehilangan, pada suatu hari akan diperoleh; kehilangan juga merupakan perolehan. Tidak boleh melekat pada hal apa pun di dunia ini, kehilangan juga akan diperoleh, dan setelah memperoleh pasti akan kehilangannya. Praktisi Buddhis harus menanggapi perolehan dan kehilangan sesuai jodoh. Ingin benar-benar terbebas dari kerisauan, maka harus melepaskan diri. Orang-orang sekarang sering mengatakan bahwa sehari tidak membaca buku, tidak ada yang akan memperhatikan; jika tidak membaca buku seminggu, kamu akan mulai menunjukkan perilaku kasar; jika tidak membaca buku selama sebulan, kecerdasan intelektual akan hilang sepenuhnya. Kita harus membaca kitab suci Buddha, meneladani para Bodhisattva, dan membaca karya para orang bijak, melampaui tingkat kesadaran spiritual umat awam menjadi tingkat kesadaran spiritual orang suci. Seseorang bertanya kepada Master: Apa itu orang suci, dan apa itu orang picik? Hidup untuk orang lain, memikirkan semua makhluk hidup setiap hari, adalah orang suci. Hidup untuk diri sendiri dan memikirkan diri sendiri setiap hari, adalah orang picik.

Seorang pria datang ke pusat konseling pernikahan dan berkata, “Pelayan, bisakah Anda membantu saya? Istri saya membuat saya tidak mungkin hidup bersamanya. Saya sangat menderita.” Pelayan itu bertanya, “Apa yang terjadi sebenarnya? Beri tahu kepada saya.” Pria itu berkata, “Dia selalu suka memelihara anak babi di kamar tidur. Dia memiliki misofobia, tetapi dia suka memelihara anak babi, bau dalam kamar sangat menyengat sekali.” Konselor itu berkata, “Mengapa kamu tidak membuka jendela untuk ventilasi?” Pria itu buru-buru berkata, “Tidak bisa, karena begitu jendela dibuka, semua merpati yang saya pelihara akan terbang.” Orang mudah melihat kekurangan orang lain dan melupakan masalahnya sendiri, seperti mata manusia yang hanya bisa melihat kesalahan orang lain tetapi bahkan bulu mata sendiri pun tidak bisa melihatnya. Jadi, kita harus memikirkan untuk orang lain. Sebelum mengomentari orang lain, mangamati diri sendiri terlebih dahulu.

Budaya tradisional Tiongkok mengajarkan bahwa “Hati yang toleran adalah sumber kebajikan yang besar,” jika seseorang memiliki kelapangan hati untuk menoleransi segala hal, maka kebajikannya pun akan menjadi besar. “Perut perdana menteri bisa menampung perahu.” Kita harus meneladani lautan luas, bisa menampung semua air kotor maupun air bersih. Lautan luas yang mampu menaungi ratusan sungai, namun selalu berada di titik terendahnya. Kita sebagai manusia harus berlapang dada, maka kebajikan pun akan menjadi besar. Nenek moyang kita sangat bijaksana. Nenek moyang berkata, “Hati yang penuh kesabaran, segalanya akan berjalan lancar.” Tidak peduli apa pun yang terjadi, jika seseorang bisa bersabar, semuanya akan berjalan lancar. “Siapa yang tidak mampu bersabar dalam hal-hal kecil, akan menggagalkan rencana besar,” berharap semua orang dapat memahami untuk bersabar. Sang Buddha sejak dahulu telah mengajarkan pentingnya bersabar atau menahan diri. Hanya seseorang yang mampu bersabar dan menahan diri yang dapat maju dengan tekun di jalan pembelajaran Dharma.

Sang Buddha bersabda, tidak iri hati, tidak serakah, tidak berpura-pura dan tidak memiliki keinginan egois. Harus selalu menjaga kedamaian batin, inilah yang disebut kemuliaan sejati. Karena orang yang memahami ketenangan dan bebas dari nafsu keinginan egois, dari sanalah lahirnya potensi kesadaran. Untuk mencapai pencerahan, kita harus memiliki kejernihan batin, harus konsentrasi, dan harus memahami untuk berpikir di posisi orang lain. Hidup di dunia ini untuk semua makhluk. Kita harus meneladani para ibu agung yang mengorbankan seluruh hidup mereka demi anak-anak mereka. Kita harus meneladani Guan Shi Yin Pu Sa, demi kita semua makhluk di dunia, Beliau telah memberikan seluruh welas asihnya.

Hidup itu seperti mangkuk. Jika kita memenuhi hati dengan hal-hal kecil lainnya, apakah masih ada ruang untuk menampung hal-hal besar lainnya? Kita adalah praktisi Buddhis. Kita memiliki ajaran Buddha Dharma di dalam hati. Mengapa masih ingin memasukkan hal-hal remeh dan kerisauan di dunia ini di dalam hati? Apa hal terpenting yang harus kita lakukan dalam hidup? Kita harus hidup lebih sederhana, karena kita akan sibuk dan lelah. Kita harus mengingat hal-hal penting dengan jelas, karena kita akan membabarkan Dharma dan menyelamatkan orang lain. Jika tidak, seumur hidup kita akan terjebak dalam hal-hal kecil — urusan dapur, kebutuhan sehari-hari, dan perselisihan duniawi — hingga akhirnya hanya membuang waktu yang berharga. Jika kita mengkhawatirkan hal-hal duniawi setiap hari, kapan kita bisa mencapai pencerahan sempurna?

Di antara kegagalan yang dialami sebagian orang dalam hidup, salah satunya adalah sibuk tanpa arah dan menyia-nyiakan waktu. Master menasihati semua praktisi Buddhis untuk tidak menyia-nyiakan hidupmu yang singkat di dunia, lebih tidak boleh menyia-nyiakan waktu pada hal-hal yang nanti akan disesali. Kita harus melihat ke depan, melupakan masa lalu baru bisa memperoleh masa depan. Sifat Kebuddhaan tidak bertambah dan tidak berkurang, tidak mendapatkan dan tidak kehilangannya. Apa yang kita peroleh seumur hidup? Seumur hidup yang penuh penyakit dan penderitaan. Beberapa orang bekerja keras untuk menghasilkan uang, ini berarti meninggalkan lebih banyak warisan untuk dirinya sendiri, yang tidak bisa dihabiskan seumur hidup adalah warisan.  Sebesar apa pun rumah yang kita miliki, paling banyak hanya dapat menempati 30% darinya, sedangkan 70% sisanya terbuang percuma. Begitu pula dengan mobil dan ponsel yang secanggih apa pun, meski fungsinya lengkap, namun hanya menggunakan 30% darinya. Memberi diri sendiri terlalu banyak ruang akan menumbuhkan kemalasan. Tidak ada yang bisa diperoleh di dunia ini. Pikirkanlah: kita datang ke dunia ini dengan kedua tangan kosong, apa yang telah kita kehilangan? Kita tidak membawa apa pun datang ke dunia ini, jadi tidak ada yang namanya kehilangan. Kita datang ke dunia ini, semuanya diperoleh dari pinjaman: rumah kita, istri kita, putra kita, ketika kita pergi, kita harus mengembalikannya ke dunia ini, tidak ada satupun yang bisa dibawa pergi. Langit itu luas tak tertandingi, namun hati kita praktisi Buddhis bisa lebih luas dari langit. Praktisi Buddhis harus memperlakukan orang lain dengan hati yang toleran dan memaafkan, tidak boleh perhitungan. Welas asih dari ajaran Buddha dan kebajikan dari ajaran Konfusianisme adalah obat mujarab untuk mengatasi hati manusia yang tak pernah puas.