Sifat Kebuddhaan Selalu Menetap, Jodoh Kebuddhaan Kekal Abadi (Bagian 1)
Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Singapura, 10 April 2015
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang, Naga Langit Pelindung Dharma. Terima kasih kepada para teman se-Dharma di seluruh dunia. Semoga sifat Kebuddhaan kita selalu menetap, cahaya Buddha menyinari kita di mana-mana, dan jodoh Kebuddhaan kekal abadi.
Hal yang paling penting bagi seseorang hidup di dunia ini adalah hati dan pikiran manusia. Jika pikiran seseorang dapat condong pada kebaikan, maka akar kebaikannya telah tumbuh. Banyak orang sering bertanya kepada Master, apa itu akar kebaikan? Akar kebaikan adalah memiliki hati nurani yang baik, yaitu dari kehidupan lampau sampai kehidupan sekarang, kamu menggunakan hati yang baik perlahan menyirami dan menumbuhkan akar kebaikan itu. Sifat Kebuddhaan selalu menetap adalah berkah. Ketika seseorang sering memikirkan Buddha di dalam hatinya dan sering melakukan hal-hal yang sesuai dengan ajaran Buddha, maka ia adalah orang yang penuh berkah. Hanya orang yang menekuni Dharma yang dapat diterangi oleh cahaya Buddha. Di dunia ini, hanya orang yang memiliki jodoh yang dapat mengenal ajaran Buddha Dharma. Tubuh manusia sulit diperoleh, namun sekarang kita telah memilikinya; Ajaran Buddha Dharma sulit dikenal namun sekarang sudah mengenalnya. Semoga semua orang yang belajar ajaran Buddha dan semua makhluk di dunia ini, yang memiliki kebijaksanaan dan kebajikan Tathagata, dapat mengubah kejahatan menjadi kebaikan, kebingungan menjadi pencerahan, mala petaka menjadi keberkahan, bencana menjadi keberuntungan, dan kerisauan menjadi bodhi.
Orang modern hidup di tengah lima nafsu dan enam kekotoran duniawi. Nafsu keinginan telah menguasai seluruh hati kita. Kepercayaan manusia zaman sekarang bukanlah kepercayaan yang baik, melainkan kepercayaan pada nafsu keinginan, kepercayaan pada kondisi materi dan harta benda. Di dunia ini, kita mudah sekali semakin tenggelam dalam hal-hal tersebut. Kita harus mampu “masuk ke lumpur namun tak ternoda”, melihat melampaui segala berkah duniawi. Hari ini kita memiliki banyak berkah, itu sangatlah singkat. Hari ini kita mengalami banyak penderitaan, itu pun sementara. Bencana seperti suhu tubuh kita: kadang tinggi, kadang rendah, semuanya tidak kekal. Kebaikan yang kita miliki hari ini tidaklah kekal, kejahatan juga disebabkan oleh ketidakkekalan. Lepaskan segala kemelekatan, jangan serakah, karena segala sesuatu hanyalah ilusi. Ilusi berarti tiada, kosong, karena khayalan muncul dari pikiran kita sendiri. Karena segala yang ilusi tampak indah di luar, namun tidak memiliki hakikat sejati. Hari ini kamu adalah seorang pemimpin atau direktur, tetapi apa pun jabatanmu, semuanya tidak akan bertahan lama.
Kita harus mengubah kelahiran dan kematian menjadi Nirvana. Nirvana adalah awal dari pencerahan sejati. Berhasil membina diri dalam satu kehidupan bergantung pada Nirvana terakhir. Jika seseorang tidak bisa kembali ke sifat dasarnya, ia pasti tidak akan mencapai Nirvana dan bertekun. Kita seharusnya dapat dengan sadar dan bangga mengatakan, “Kita pada dasarnya adalah Buddha. Aku yang berada dalam delusi adalah aku yang sedang bertransformasi dari manusia biasa menjadi Buddha.”
Manusia hidup di dunia ini, setiap hari akan berkontak dengan berbagai bencana. Dari mana datangnya bencana itu? Karena ketika kamu tidak menggenggam keberuntungan, maka malapetaka akan datang. Orang yang tahu mensyukuri berkah, bencana akan menjauh darinya. Berpuas diri dapat terhindar dari kesulitan dan bencana. Hal terpenting bagi manusia adalah jangan sampai memutus hubungan dengan berkah. Jika seseorang hari ini memiliki jodoh dan berkah, hidupnya akan semakin lancar. Namun jika hari ini tidak memiliki berkah, maka kesialan akan datang berturut-turut. Ketika memiliki sedikit berkah, gunakanlah dengan bijak dan perlahan. Dalam menjalani hidup, kita harus mengerti untuk tidak menghabiskan berkah yang kita miliki. Menghabiskan berkah berarti juga mengurangi umur. Orang yang ingin hidup panjang, hal pertama yang harus dilakukan adalah mensyukuri berkah dan memperoleh kebahagiaan. Apa yang dimaksud dengan mengubah malapetaka menjadi berkah? Secara sederhana, beri sebuah contoh, kamu selamanya tidak akan menaiki pesawat yang akan hilang kontak atau meledak. Apa yang dimaksud dengan mengubah bencana menjadi keberuntungan? Kamu mampu membuat rumahmu, keluargamu, dan teman-temanmu terhindar selamanya dari kebakaran, kecelakaan, atau penyakit kanker. Apa yang dimaksud dengan mengubah kejahatan menjadi kebaikan? Menyingkirkan ketidaktahuan, memahami mana yang baik dan mana yang buruk, mengetahui apa itu kebaikan dan kejahatan. Hanya dengan mengetahui kebaikan, baru tidak akan berbuat jahat. Hal-hal baik harus dilakukan, sedangkan hal-hal buruk harus disadari dan dijauhi. Misalnya, berjudi, di negara-negara Barat itu dianggap hal yang wajar dan legal, tetapi bagi orang yang menekuni Dharma, itu termasuk perbuatan buruk. Jadi, kita tidak boleh menyentuhnya. Tahu baik dan buruk, maka tidak akan melakukan kejahatan. Menjauh dari tindakan seperti membunuh, membakar, memfitnah, atau melukai perasaan orang lain, barulah akan benar-benar memahami apa itu “mengamalkan segala kebaikan.”
Bapak pendiri Singapura, Lee Kuan Yew, memimpin negara dengan kebaikan, menjadikan Singapura sebagai salah satu negara terbaik di dunia. Inilah sebabnya ia dihormati oleh rakyatnya sendiri dan dicintai oleh orang-orang di seluruh dunia, dan akan dikenang selamanya.
Seorang mahasiswi datang ke rumah sakit untuk menjadi relawan. Suatu hari, ia membawa buku dan mainan ke ruang perawatan anak-anak untuk menghibur mereka. Ia duduk di samping seorang gadis kecil yang mengalami kelumpuhan setengah badan dan berkata, “Adik kecil, kamu ingin mendengar cerita apa? Kakak akan bacakan untukmu.” Gadis kecil itu menjawab, “Aku ingin mendengar cerita tentang Doraemon.” Mahasiswi itu dengan sabar membuka buku cerita dan mulai bercerita tentang kantong ajaib Doraemon yang serba bisa. Tiba-tiba, gadis kecil itu ingin melihat apakah kantong mahasiswi itu juga sehebat kantong Doraemon. Tidak berdaya, mahasiswi itu mengeluarkan semua isi kantongnya. Saat mengeluarkan isi dari kantong terakhir, ia menemukan dua lembar uang lima yuan. Ia dengan malu berkata, “Uang di kantong kakak tidak seperti kantong Doraemon yang kaya. Kakak sangat miskin.” Gadis kecil itu menatapnya dengan mata besar yang berkilau dan berkata, “Kakak, kamu sangat kaya. Meskipun kamu tidak punya banyak uang, kamu punya sepasang kaki yang sehat dan bisa berjalan bebas di jalan, sedangkan Aku tidak bisa. Kamu lebih kaya dariku.” Mahasiswi itu tertegun. Selama ini, ia tidak pernah merasa puas dengan memiliki tubuh yang sehat. Ia selalu merasa bahwa masih banyak hal yang belum ia miliki. Saat itu, ia baru menyadari betapa berharganya bisa hidup sehat setiap hari — betapa luar biasanya memiliki kesehatan. Ia lalu berkata kepada gadis kecil itu, “Aku sangat kaya, dan kamu juga kaya, karena kamu punya sepasang mata yang indah dan tangan yang kuat.” Gadis kecil itu tersenyum dan berkata, “Benar, dulu Aku hanya melihat kakiku yang cacat, dan tidak pernah menyadari bahwa Aku masih memiliki mata dan tangan yang sehat.” Kita hidup di dunia ini, apakah kita benar-benar begitu tidak beruntung? Sebenarnya, apa yang kita miliki, banyak orang sudah tidak bisa memilikinya. Jangan merasa diri kita tidak beruntung, karena masih banyak orang yang jauh lebih tidak beruntung daripada kita.
Hari ini kita memiliki ajaran Buddha Dharma, kita adalah orang-orang yang paling berbahagia di dunia. Kita lebih kaya dan lebih bahagia dalam hati dibandingkan mereka yang kaya dan terkenal, karena kebahagiaan kita dianugerahi oleh Bodhisattva, adalah sesuatu yang tidak dapat ditemukan di dunia ini. Oleh karena itu, menghargai ajaran Buddha berarti menghargai kehidupan. Jangan lupa bahwa yang kita miliki bukan hanya kesehatan dan kekayaan, tetapi yang lebih penting adalah kita memiliki hati dan jiwa yang sehat.
Kelemahan manusia terletak pada anggapan bahwa apa pun yang ia lakukan selalu benar. Ia tidak pernah mau mendengarkan pendapat orang lain, merasa bahwa orang lain bukan ahli dan tidak mengerti apa-apa, atau berpikir bahwa orang lain tidak terlibat langsung, maka ia tidak berhak memberikan pendapat. Kelemahan manusia adalah tidak bisa menerima masukan dari orang lain. Meskipun orang lain tidak mengerti, tetapi ia bisa melihat dan mendengar. Master menceritakan sebuah lelucon kepada kalian semua: setelah perdebatan hebat, seorang penulis berkata kepada seorang koki, “Kamu tidak pernah menulis, jadi kamu tidak berhak mengkritik bukuku.” Sang koki menjawab, “Bapak penulis, seumur hidup saya memang tidak pernah bertelur, tetapi saya bisa tahu rasa telur dadar. Boleh saya tanya, apakah seekor ayam betina tahu rasa telurnya sendiri?”
Tidak mengetahui bagaimana orang lain menilai diri sendiri berarti tidak memahami diri sendiri. Jika ingin tahu apakah pembinaan diri sudah baik atau belum, jangan tanyakan pada dirimu sendiri, karena dirimu tidak tahu. Dari penilaian teman-teman se-Dharma, dari sikap orang lain terhadapmu, kamu bisa mengetahui apakah dirimu seorang Bodhisattva atau manusia biasa. Banyak orang sering bertanya kepada Master: “Master, apakah pembinaan diri saya sudah baik?” Karena dia tidak tahu apakah dia sudah membina dirinya dengan baik atau tidak. Banyak orang berkata, “Saya sudah membina diri dengan sangat baik,” maka sebenarnya ia belum membina diri dengan baik. Ada pula yang berkata, “Saya membina diri dengan buruk, sangat kurang,” justru orang yang mengakui dirinya masih kurang, dialah yang telah membina dirinya dengan baik. Sebaliknya, orang yang merasa dirinya sudah baik, sebenarnya belum baik. Jalan pembinaan diri di dunia ini sangatlah sulit, jalan menanjak sulit dilalui. Di dunia ini, jalan yang paling mudah dilalui justru adalah jalan menurun.
Jika seseorang hidup di dunia ini tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, maka akan menumbuhkan kesombongan dan keangkuhan dalam dirinya. Itu sama seperti menutup mata dan telinganya sendiri, tidak mau mendengar orang lain mengatakan kekurangannya, dan tidak mau melihat orang lain lebih baik darinya, sehingga ia akan melakukan kesalahan. Seseorang melakukan kesalahan itu sering kali berawal dari tidak mau mendengarkan nasihat orang lain. Seseorang yang tidak mau mendengarkan nasihat akan menjadi semakin buruk. Manusia seharusnya mendengarkan nasihat orang lain. Jika tidak mau mendengarkan nasihat orang lain, pertama-tama ia sudah memiliki kekurangan itu. Tidak mau memperbaiki diri, lama-kelamaan akan menjadi kebiasaan buruk. Jika tidak ingin mengubah kebiasaan buruk itu, seiring waktu akan berkembang menjadi sifat jahat. Selalu merasa bahwa memarahi, memukul, atau menghina orang lain adalah hal yang wajar. Itu adalah akar dari kesalahan diri sendiri. Setelah memarahi orang lain, masih merasa dirinya benar; setelah mencelakai orang lain, masih menyalahkan orang lain, pada akhirnya, dirinya akan semakin tersesat dan menjauh dari kebenaran. Anak muda zaman sekarang suka menggunakan kata-kata gaul. Ada satu ungkapan yang mengatakan: “Jangan berjalan terlalu jauh, ya.”
Kita sebagai manusia tidak boleh bertindak hanya karena emosi sesaat. Kekurangan manusia sering kali terjadi ketika merasa terluka, lalu melakukan hal-hal yang impulsif. Ada seorang ayah yang sedang mencuci mobil. Anaknya yang masih kecil tidak mengerti, lalu mengambil batu dan menggores mobil itu. Semua orang tahu, “Pria mencintai mobilnya, dan wanita mencintai anaknya.” Saat sang ayah melihatnya, ia marah dan berkata, “Kau menggores mobilku?” Tanpa berpikir panjang, ia mengambil kunci pas dan memukul tangan anaknya. Anak itu kemudian dibawa ke rumah sakit dan didiagnosis mengalami patah tulang jari. Ketika anak melihat ayahnya berjalan ke tempat tidurnya, ia berkata kepada ayahnya, “Ayah, jangan sedih. Jari saya akan sembuh. Jangan khawatir, saya tidak akan menggores mobil lagi.” Saat itu, hati sang ayah dipenuhi penyesalan yang mendalam. Demi sedikit harta benda, ia telah melukai anak yang paling ia cintai. Dalam kemarahan dan rasa bersalah, ia berlari keluar dan menghancurkan mobilnya sendiri. Anak itu sangat bijaksana. Melihat ayahnya memukul mobil hingga rusak, ia berkata dengan lembut, “Ayah, aku mencintaimu.” Seseorang tidak boleh terus-menerus melakukan kesalahan. Jangan melakukan kesalahan pada saat emosi. Master pernah memberi tahu kalian, ketika sedang sangat marah atau emosional, jangan pernah membuat keputusan apa pun, karena keputusan itu pasti akan membuatmu menyesal. Ketika bertengkar dengan istri, jangan memutuskan hal-hal seperti “Aku akan pergi, aku akan mencari orang lain, Aku ingin bercerai, rumah ini akan Aku…” Semua tindakan hanya akan melukai diri sendiri dan orang lain. Bagi praktisi Buddhis, ketika benar-benar marah, Master mengajarkan kalian satu cara — Lafalkan paritta Xin Jing. Melafalkan satu kali Xin Jing, dapat menghapus karma buruk. Melafalkan dua kali Xin Jing, dapat menghilangkan kerisauan. Melafalkan tiga kali Xin Jing, dapat melihat Bodhisattva.
Kekurangan terbesar manusia sering kali adalah mengejar keinginan akan materi. Banyak umat wanita yang dulu sering membeli dan mengenakan barang-barang bermerek, tetapi setelah belajar ajaran Buddha Dharma dari Master, mereka tidak lagi membeli barang bermerek dan memilih untuk menabung uangnya untuk melepaskan makhluk hidup. Dalam menekuni Dharma dan menjadi individu yang baik, kita tidak boleh mengabaikan perasaan orang lain. Perasaan manusia harus dihormati. Pernikahan di zaman sekarang ini terlalu menekankan kekayaan materi dan mengabaikan pentingnya kualitas moral seseorang. Dahulu, untuk menikah cukup memiliki “tiga benda berputar dan satu yang berbunyi” — mesin jahit, sepeda, jam tangan, dan radio. Kemudian, orang berkata, “Aku ingin rumah. Kalau kamu tidak punya rumah, bagaimana Aku bisa menikah denganmu?” Sekarang, “Kalau kamu ingin Aku menikah denganmu, kamu harus memberiku kartu kredit.” Sebenarnya, karakter seseorang adalah yang paling penting. Jika kamu menemukan orang ini dengan karakter yang baik, dalam istilah modern bisa disebut sebagai “saham asli” — nilainya akan terus meningkat. Meskipun kamu mendapatkan orang yang sangat kaya, siapa tahu suatu hari dia jatuh miskin, kamu akan melompat gedung bunuh diri.
Jika seseorang memiliki moralitas, segala sesuatu akan berubah menjadi emas. Selama seseorang memiliki kebajikan, semua hal akan menjadi emas. Namun, jika seseorang tidak memiliki moralitas, tidak memiliki hati nurani, dan tidak memiliki welas asih, maka sekalipun memiliki emas dalam jumlah besar, semuanya akan berubah menjadi benda tak bernilai. Barang yang sangat berharga pun, ketika berada di tangannya, juga akan menjadi barang bekas. Praktisi Buddhis mementingkan hati-pikiran, seseorang yang tidak memiliki moralitas, tidak berbakti kepada orang tua, dan tidak mampu mengendalikan diri, ia tidak akan bisa menekuni Dharma dengan baik. Langkah pertama dari welas asih adalah melepaskan makhluk hidup. Semoga semua orang lebih sering melakukan pelepasan makhluk hidup — memiliki tiga bentuk dana: dana materi, dana Dharma, dan dana tanpa rasa takut.
Praktisi Buddhis harus memahami bahwa di dunia ini tidak semua orang akan memahami dirimu. Jangan bersikeras menganggap siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketika orang lain tidak memahami dirimu, kamu langsung mengatakan bahwa dia salah; Ketika seseorang memperlakukanmu dengan baik sedikit, kamu langsung menganggap dia sebagai orang yang paling kamu cintai. Kita harus sering memeriksa kesalahan diri sendiri, inilah yang disebut pertobatan. Orang zaman sekarang sering bertengkar dengan orang yang mereka cintai, tetapi justru membuka isi hati kepada orang asing; mereka menceritakan segalanya kepada orang yang tidak seharusnya dipercaya, namun mengabaikan orang baik dan tidak mau mendengarkan perkataannya, inilah yang disebut jodoh buruk. Di periode akhir Dharma, jodoh buruk akan semakin menumpuk dan semakin dalam. Bagi orang yang tidak ingin ada jodoh buruk, hendaknya dengan sungguh-sungguh melafalkan paritta Jie Jie Zhou dan Da Bei Zhou.
Di dunia ini, banyak hal yang sering tidak kita hargai. Padahal, sekali kita berpaling, mungkin itu sudah menjadi perpisahan seumur hidup. Banyak orang melakukan satu hal salah, ia mungkin akan menyesalinya seumur hidup. Mudah bertengkar dengan orang lain, atau berkata, “Selamat tinggal, pergilah,” mungkin kamu tidak akan pernah bertemu lagi dengannya. Inilah yang disebut ketidakkekalan dan jodoh, berharap kita harus menghargai jodoh. Buddha dan Bodhisattva pernah bersabda: “Jika diri sendiri telah terikat, bagaimana dapat melepaskan ikatan orang lain,” artinya, jika diri sendiri masih terbelenggu oleh masalah, masih mengikat diri sendiri, namun kamu berusaha membantu orang lain melepaskan belenggunya, maka itu tidak akan berhasil. Jika kamu tidak ada satu hal pun yang baik, maka kamu tidak dapat melakukan hal ini. Kamu sendiri tidak mampu melepaskan simpul dalam hati sendiri, bagaimana bisa membantu orang lain? “Jika diri sendiri tidak terikat, maka dapat melepaskan ikatan orang lain — hal itu benar adanya.” Artinya, bila kamu tidak mengikat dirimu sendiri, kamu pergi membantu orang lain dan melepaskan belenggu orang lain, kamu pasti akan memperoleh hasil yang baik. “Oleh karena itu, seorang Bodhisattva tidak seharusnya menimbulkan ikatan.” Maka dari itu, seorang praktisi Buddhis yang meneladani Bodhisattva terlebih dahulu tidak boleh membelenggu dirinya sendiri. Jika mengikat diri sendiri, maka tidak bisa menyelamatkan semua makhluk. Harus membuka hati, melepaskan ego pribadi, dan mengutamakan kepentingan universal. Tanpa belenggu pasti bisa membantu orang lain. Orang lain memiliki kekurangan, kamu sendiri tidak boleh memiliki kekurangan, kamu baru bisa memperbaiki kesalahannya.
Master berharap kalian tidak memperdebatkan hal-hal duniawi, lihat siapa yang bisa mencapai Alam Surga. Binalah diri sendiri dengan baik, pahami ajaran Buddha Dharma, dan capailah pencerahan. Ketika seseorang telah membina dirinya dengan baik, maka akan memahami ajaran Buddha Dharma, dan tercerahkan, saat membantu orang lain akan lebih meyakinkannya. Jika diri sendiri tidak menyerupai Buddha, bagaimana orang lain bisa percaya padamu? Bagaimana bantuanmu pada orang lain bisa membuat mereka tersenyum dan tenang, maka pasti tidak bisa menyelamatkan orang lain. Seseorang yang bertubuh gemuk menjual obat pelangsing. Ia berbicara panjang lebar tentang betapa bagusnya obat itu. Orang lain bertanya, “Mengapa kamu masih begitu gemuk?” Ia menjawab, “Kamu belum lihat, dulu Aku lebih gemuk lagi!”
Di mana surga dan neraka? Ketika seseorang tidak bisa berpikiran terbuka, menderita, sedih, merasa sakit hati, dan gelisah, maka ia adalah hidup di dalam neraka. Namun ketika seseorang bisa berpikir jernih, memahami segalanya, hidup dengan bahagia setiap hari, tertawa terbahak-bahak, maka ia sedang hidup di dalam surga. Mohon orang yang merasa risau angkat tangannya, satu pun tak ada yang angkat tangan? Setidaknya saat ini kalian telah sementara meninggalkan neraka. Master beri tahu kalian, sesungguhnya surga dan neraka diciptakan oleh hatimu sendiri. Ketika hatimu merasa sedih, kamu akan masuk ke dalam neraka; ketika hatimu berpikiran jernih, kamu adalah hidup di dalam surga. Orang yang mampu berpikir jernih dan memahami segalanya adalah orang yang telah mencapai pencerahan. Harus memilih satu jalan antara surga dan neraka, yaitu harus menjaga pikiranmu. Surga dan neraka terkadang hanya dalam satu niatmu. Ada orang yang bertanya, “Bagaimana Aku bisa menjaga pikiranku? Aku selalu melihat hal-hal yang membuatku tidak bahagia…” Ingatlah, selama kamu mengarahkan pandangan dan hatimu pada hal-hal yang bahagia, pada sisi baik dari hal itu, berpikir bahwa itu pasti akan berubah dan pasti akan punya masa depan, memahami untuk berpuas diri dan bersyukur, maka kamu akan hidup dalam surga setiap hari.
