Membangkitkan Sifat Kebuddhaan di Dalam Hati, Membangun Tanah Suci dalam Batin (Bagian 2)
Seminar Dharma Hong Kong, 20 Juni 2015
Praktisi Buddhis harus memahami bahwa hanya melalui penderitaan, manusia tidak akan lagi melekat pada segala hal di dunia ini. Banyak orang menyadari bahwa penderitaan yang mereka alami cepat atau lambat memang harus dijalani, saya tidak lagi melekat padanya. Hanya ketika seseorang benar-benar memahami penderitaan hidup di dunia, barulah ia dapat menemukan cahaya di dunia. Sang Buddha adalah pelita penerang bagi kita, ketika kamu mencari cahaya, hatimu akan kehilangan kegelapan. Oleh karena itu, orang yang mampu berpikir jernih dan terbuka, ia tidak akan ada kesedihan. Kita praktisi Buddhis, karena memiliki cahaya di dalam hati, selamanya akan mencari kehidupan yang penuh kebijaksanaan.
Raga manusia sulit didapatkan namun sekarang sudah memilikinya, Buddha Dharma sulit dikenal namun sekarang sudah mengenalnya. Berharap semua orang dapat menghargai kehidupan dan segala yang dimilikinya. Jalan kehidupan ada jalan yang besar dan ada jalan yang kecil. Jalan kecil saling bersilangan dan berliku. Seluruh perjalanan hidup kita bagaikan sebuah jaring kebingungan, namun setiap orang harus melaluinya. Ada seorang bijak dan seorang bodoh berjalan ke depan jaring kehidupan itu, sang bijak menundukkan tubuhnya yang terhormat, menampilkan sikap penuh wibawa, lalu dengan sabar menata jaring itu, ia ingin menemukan jalan keluar dari jaring kehidupan yang membingungkan ini. Sedangkan si bodoh berhenti sejenak, menatap sekeliling, menimbang-nimbang, lalu dengan tegas melangkah maju ke arah jaring itu. Ia ingin menginjak jaring tersebut dan berjalan menuju tujuan hidupnya sendiri, menapaki jalannya sendiri dalam hidup. Puluhan tahun telah berlalu, orang bodoh itu, di jalan kehidupannya, berpakaian compang-camping dan tubuhnya penuh luka, namun jaring yang dulu membelitnya telah ia lempar jauh ke belakang. Ia melangkah di atas jalan yang berlumur darah, jaring yang kusut itu, ia tidak merasa dirinya lemah. Dengan tenang ia merapikan pakaiannya, menatap jalan yang telah ia lalui, menikmati perjalanan hidup dan rintangan yang telah ia lalui. Sementara itu, orang bijak masih berhati-hati di dalam jaring itu, sibuk menatanya, berusaha mencari jejak langkah orang lain. Kisah ini memberi tahu semua orang, kehidupan seseorang, siapa yang disebut orang bijak dan siapa yang disebut orang bodoh bukanlah sesuatu yang ditentukan sejak lahir. Orang yang mampu mengatasi kesulitan dan menaklukkan kerisauan adalah orang bijak.
Dalam kehidupan ini, kita harus membuka sebuah era baru. Pada periode Akhir Dharma, bencana alam dan bencana ulah manusia terus terjadi. Manusia hidup sangat menderita, tekanan semakin berat, merasa hidup semakin risau. Inilah kerisauan baru yang kita hadapi. Kita harus menggunakan inti ajaran Buddha untuk membimbing kita dalam menekuni Dharma di masa kini. Di tengah periode Akhir Dharma ini, menemukan sebuah jalan menuju pembebasan, agar kita melepaskan jalan kerisauan, agar kita memahami untuk mengikuti hati welas asih Guan Shi Yin Pu Sa dan memiliki kebijaksanaan agung seperti Buddha, menapaki sebuah jalan yang benar dalam Dharma di Alam Manusia ini.
Banyak orang mengira dirinya adalah orang bijak, namun pada akhirnya justru kehilangan kebijaksanaan. Mereka terus hidup dalam keyakinan bahwa diri mereka cerdas, lalu menapaki perjalanan yang membuat mereka terjatuh dan menyesal. Oleh karena itu, kebijaksanaan seorang praktisi Buddhis adalah kebijaksanaan sejati seorang Bodhisattva yang seharusnya dimiliki, mampu melihat kebenaran dunia, melampaui kehidupan, barulah dapat menemukan jalannya sendiri dan menapaki diatas jalan terang miliknya. Apa yang telah berlalu sudah berlalu, karena kita praktisi Buddhis selamanya memiliki masa depan yang indah.
Ada dua malaikat turun ke dunia. Mereka tiba di rumah seorang kaya raya dan ingin menumpang bermalam. Namun, keluarga kaya itu sangat tidak ramah. Mereka hanya mengizinkan kedua malaikat itu tidur di ruang bawah tanah yang dingin, dan bahkan hanya memberi mereka tempat di sudut ruangan. Karena mereka adalah manusia awam, tidak tahu bahwa mereka adalah malaikat. Malaikat yang lebih tua menemukan ada sebuah lubang di dinding bawah tanah itu, lalu ia menambalnya. Malaikat muda bertanya, “Mengapa?” Malaikat tua menjawab, “Beberapa hal tidak selalu seperti yang terlihat.” Keesokan harinya, kedua malaikat itu tiba di rumah seorang petani miskin. Tuan rumah itu sangat ramah; ia mempersilakan mereka tidur di tempat tidurnya sendiri dan menjamu mereka dengan sedikit makanan yang ia miliki. Keesokan paginya, kedua malaikat itu mendapati petani dan istrinya sedang menangis, karena satu-satunya sumber penghidupan mereka — seekor sapi perah telah mati. Malaikat muda sangat marah dan bertanya kepada malaikat tua: “Keluarga pertama tidak memberi kita apa pun, tapi kamu malah membantu mereka menambal dinding. Sedangkan keluarga kedua begitu miskin namun begitu baik hati, mengapa kamu tidak mencegah kematian sapi mereka?” Malaikat tua tersenyum dan berkata, “Ketika kita bermalam di ruang bawah tanah rumah orang kaya itu, saya melihat di dalam lubang dinding ada tumpukan emas batangan. Namun pemilik rumah sama sekali tidak tahu bahwa di bawah tanahnya tersimpan begitu banyak emas. Karena ia begitu tamak, maka saya menutup lubang itu. Tadi malam, malaikat maut datang untuk menjemput istri petani itu, saya menggantikan nyawa istrinya dengan sapi. Oleh karena itu, banyak hal di dunia ini tidak selalu seperti yang tampak di permukaan.” Kisah ini menunjukkan bahwa masalah yang tampak di depan mata belum tentu adalah masalah yang sebenarnya. Sebuah kebetulan kecil bisa membuat dirimu mengambil keputusan yang keliru. Apa yang tidak terlihat oleh mata belum tentu tidak nyata. Oleh karena itu, praktisi Buddhis harus menggunakan kebijaksanaan dan keyakinan untuk mempercayai keberadaan para Bodhisattva, serta yakin bahwa pengorbanan pasti akan mendapatkan balasannya.
Pada awal belajar Buddha Dharma, apa yang kamu lihat tidak semulus seperti yang kamu bayangkan, karena kita harus bangun lebih awal dari orang lain untuk melafalkan paritta, kita harus menaati sila, memahami berbagai ajaran Buddha Dharma dan hukum sebab-akibat, mengenal sebab dan memahami akibat. Kita merasa hidup sangat susah, tetapi kita harus tahu bahwa ini tidak seperti yang tampak. Hati kita mulai mengerti, pikiran kita mulai menjadi jernih, kita tahu arah hidup kita. Oleh karena itu dikatakan, penderitaan orang yang memiliki keyakinan hanyalah sementara, sedangkan penderitaan orang yang tidak percaya kepada Buddha adalah selamanya. Manusia harus tekun belajar Buddha Dharma, tekun melafalkan paritta, dan tekun membina pikiran. Ketika waktunya tiba, segala sesuatu akan berjalan dengan sendirinya. Percayalah bahwa Sang Buddha dan Guan Shi Yin Pu Sa pasti akan menolong kita, karena Guan Shi Yin Pu Sa berkata “Mengabulkan semua permohonan”. Walaupun karma buruk yang kita lakukan tidak akan segera mendapatkan balasannya, seperti makanan yang baru saja rusak tidak akan langsung berbau busuk. Namun, ketika makanan itu masuk ke dalam perutmu, bau busuk dan pembusukannya perlahan akan merusak lambung dan ususmu, serta mengganggu ketenangan batinmu. Bodhisattva meminta saya memberitahu semua orang, mengapa sekarang angka penderita kanker usus begitu tinggi? Karena manusia masih makan daging. Dahulu, ketika seseorang menjalani operasi, luka dijahit dengan benang biasa dan sebulan kemudian benangnya harus dilepas. Sekarang, dengan kemajuan teknologi, digunakan benang dari usus domba. Setelah selesai operasi, benang itu akan menyatu dengan dagingmu. Ini memberi tahu semua orang, ketika manusia makan terlalu banyak daging, sampai malam hari tidak berolahraga, perlahan mengalami sembelit, menumpuk di dalam usus dan lambung, dengan cepat akan menempel di usus dan lambungmu, dan membusuk, inilah alasan pasien perlekatan usus begitu banyak. Daging busuk itu akhirnya menempel pada jaringan tubuh dan membentuk gumpalan, itulah sebabnya disebut usus besar (kolon), dan dari situlah timbul kanker usus besar. Bagi siapa pun yang tidak ingin menderita kanker, segeralah bervegetarian, dengarkan nasihat dari Bodhisattva.
Seorang rekan se-Dharma bermarga Lin dari Taiping, Malaysia, tanpa mengonsumsi obat maupun menjalani operasi, tumornya hilang tanpa jejak. Bagaimana hal itu bisa terjadi? Ia berkata: “Terobosan luar biasa dari Xin Ling Fa Men akan menjadi terobosan besar dalam dunia kedokteran abad ke-21! Saya memiliki tumor di leher berukuran 19 cm × 1,3 cm. Ketika saya membakar hingga 21 lembar Xiao Fang Zi pada paket ketiga, tanpa obat dan tanpa operasi, tumor di leher saya benar-benar hilang tanpa bekas. Laporan medis membuktikan bahwa Xin Ling Fa Men adalah nyata dan tidak palsu.”
Jangan biarkan karma buruk membelenggu dirimu. Dalam pikiran, kita harus menghentikan segala bentuk niat jahat. Kekurangan manusia, ucapan dapat dijaga, perbuatan dapat dijaga, namun yang paling sulit dijaga adalah pikiran. Orang-orang zaman sekarang, bahkan satu pikiran buruk pun sebaiknya tidak muncul. Bayangkan, jika setiap hari memunculkan satu pikiran jahat, maka dalam setahun akan memiliki 365 niat buruk, kamu akan cepat menjadi orang jahat. Jika kamu setiap hari menumbuhkan satu pikiran baik, maka dalam 365 hari kamu akan menjadi orang yang baik hati. Selama kita tidak menanam benih kejahatan, kita akan selamanya terputus dari buah akibat kejahatan.
Dunia ini pada dasarnya tidak ada satu pun benda, bagaimana bisa terkotori oleh debu? Sifat Kebuddhaan pada dasarnya murni dan bebas dari noda. Orang menumbuhkan kebencian dan dendam, ketika kamu dendam dan membenci, benih reinkarnasi akan mulai berputar. Tidak boleh membenci orang lain, tidak boleh menyalahkan orang lain, karena benih-benih kebencian ini akan masuk ke dalam kesadaran kedelapan. Setelah seseorang belajar Buddha Dharma, ia harus tiada kebencian dan dendam. Hanya memiliki hati penuh kasih terhadap semua makhluk, segala penderitaan di dunia ini sesungguhnya adalah untuk mengikis karma buruk diri sendiri. Kita datang ke dunia ini bukan untuk bersaing dan berebut. Kita tidak memiliki waktu untuk terus melukai kemurnian hati kita hanya karena kesalahan orang lain.
Orang-orang zaman sekarang memiliki banyak sekali kekurangan. Semakin baik seseorang kepadamu, justru semakin sering kamu berselisih dengannya. Orang yang semakin peduli kepadamu, kamu semakin bersikap acuh tak acuh padanya. Semakin bahagia, selanjutnya akan semakin sedih. Baru saja dipuji oleh atasan dan merasa sangat senang, tetapi segera muncul kekhawatiran bahwa banyak orang akan iri pada saya. Rasa takut terhadap kecemburuan orang lain menimbulkan ketakutan, sedangkan rasa iri terhadap orang lain akan menimbulkan kebencian. Hanya dengan mencintai orang lain baru bisa memunculkan kebahagiaan. Rasa iri manusia sangatlah kuat. Ada seorang wanita yang sangat gemuk. Ia memiliki satu kebiasaan, setiap kali melihat semut, ia akan menginjaknya sampai mati. Ketika orang bertanya mengapa ia melakukan itu, ia menjawab dengan marah, “Makhluk kecil ini suka sekali makan makanan manis, tapi pinggangnya tetap ramping, menyebalkan sekali!” Kerisauan manusia sebenarnya diciptakan oleh dirinya sendiri. Orang sering kali suka mengingat kekurangan orang lain, padahal kekurangan itu seharusnya menjadi “sampah” yang dibuang oleh mereka. Namun, kita justru memungutnya dan menyimpannya di dalam hati, lalu terus-menerus menyiksa diri sendiri. Lepaskanlah seketika, maka seketika itu pula akan mencapai Kebuddhaan. Satu niat akan menjadi Buddha.
Manusia hidup di dunia ini harus berusaha keras. Selama seseorang mau berusaha dengan sepenuh hati, keajaiban apa pun di dunia ini bisa tercipta. Ada seorang anak perempuan yang sejak kecil menderita kelumpuhan. Seiring bertambahnya usia, rasa sedih dan rendah dirinya semakin dalam. Ia menolak siapa pun yang mencoba mendekatinya, kecuali satu orang: yaitu seorang kakek tetangga, ia hanya memiliki satu lengan. Kakek itu menjadi teman baiknya. Kakek itu kehilangan lengannya dalam perang, namun ia tetap sangat optimis. Anak perempuan ini senang mendengarkan kisah-kisah yang diceritakan oleh sang kakek. Suatu hari, ia didorong oleh kakek itu dengan kursi rodanya ke sebuah taman kanak-kanak di dekat rumah. Ia ingin mendengarkan anak-anak bernyanyi. Setelah selesai, kakek berkata, “Mari kita beri tepuk tangan untuk mereka!” Anak perempuan itu menatap kakek dengan heran dan berkata, “Tanganku tidak bisa digerakkan, dan kamu hanya punya satu lengan. Bagaimana kita bisa bertepuk tangan?” Kakek itu tersenyum, membuka kancing bajunya, memperlihatkan dadanya, lalu menepuk dadanya dengan telapak tangannya……. Tiba-tiba, anak perempuan itu merasakan aliran hangat mengalir di seluruh tubuhnya. Kakek itu berkata kepadanya, “Selama mau berusaha, satu telapak tangan pun bisa berbunyi. Saya percaya, suatu hari nanti kamu pasti akan bisa berdiri.” Anak perempuan itu meminta ayahnya menuliskan sebuah kalimat di selembar kertas dan menempelkannya di dinding: “Satu telapak tangan pun bisa berbunyi.” Setiap hari ia bekerja sama dengan dokter untuk melakukan latihan. Bahkan ketika orang tuanya tidak ada di rumah, ia melepaskan tongkatnya dan mencoba berjalan sendiri. Ia jatuh, terluka, berdarah, bahkan sampai terkilir dan patah, namun ia tetap berlatih. Pada usia sebelas tahun, akhirnya ia menyingkirkan penyangga kakinya dan mulai berlatih bermain bola basket serta olahraga atletik. Dengan semangat dan tekad yang kuat, usahanya membuahkan hasil. Pada Olimpiade Roma tahun 1960, dalam final lari 100 meter putri, ketika ia menyentuh garis finis pertama dengan catatan waktu 11,18 detik, tepuk tangan bergemuruh. Orang-orang bersorak memanggil nama perempuan kulit hitam asal Amerika itu: Wilma Rudolph. Pada Olimpiade tahun itu, ia menjadi wanita yang lari tercepat di dunia pada masa itu, meraih tiga medali emas, dan menjadi perempuan kulit hitam pertama yang memenangkan lomba lari 100 meter di Olimpiade. Seseorang yang pernah menderita polio pun bisa menjadi juara. Maka, sebagai praktisi Buddhis, kita tidak boleh menyerah pada harapan kapan pun juga. Meskipun hari ini kita menderita penyakit kanker, kita juga jangan pernah menyerah. Walaupun hanya memiliki satu lengan, walaupun merasa putus asa dalam hidup, juga jangan pernah menyerah pada impian. Walaupun tubuh cacat dan tak mampu berjalan, walaupun batin pernah terluka, kita praktisi Buddhis memiliki semangat dan kebijaksanaan para Buddha dan Bodhisattva. Dengan kekuatan batin, kita pasti mampu mengalahkan penderitaan di tubuh.
Manusia tidak boleh menyakiti dirinya sendiri hanya karena rasa sakit yang dialaminya. Orang yang telah tercerahkan harus memahami bahwa kita hidup bukan hanya untuk diri sendiri. Jika anak baik, orang tua akan bahagia; jika orang tua sehat, anak akan bahagia. Kita tidak boleh bersikap egois dengan mengejar kebahagiaan sendiri lalu melukai kebahagiaan orang lain. Kita harus meneladani Bodhisattva, hidup demi semua makhluk. Lebih cepat belajar Buddha Dharma, lebih cepat akan tercerahkan. Buddha bagaikan air — jernih tanpa halangan; Dharma bagaikan gelombang — teguh dalam pikiran benar dan penuh kekuatan.
Ajaran Buddha Dharma adalah sifat dasar kita. Ajaran Buddha Dharma adalah pembebasan. Buddha adalah jiwa, Dharma adalah raga. Tubuh dan pikiran menyatu, barulah hati dan Buddha dapat menyatu.
Pengejaran berlebihan terhadap nafsu keinginan di dunia ini akan menjerumuskan kita ke dalam jurang tanpa akhir. Kita harus memahami bahwa kemelekatan pada dunia yang penuh ilusi hanya akan menimbulkan khayalan yang kontradiktif — bertolak belakang dengan kebenaran, membuat hati kita memiliki halangan. Harus melampaui segala kerisauan duniawi, belajar Buddha Dharma adalah nidana kita. Biarkan nidana memahami balasan karma. Dengan pemikiran filsafat orang-orang zaman sekarang untuk menguraikan kerisauan dalam hidup, dan membuktikan kebenaran ajaran Buddha Dharma. Biarkan keajaiban batin tampak di jalan pembelajaran Dharma. Meraih sebersit welas asih yang ada di dalam hati. Benar-benar memahami makna “rupa adalah kosong, dan kosong adalah rupa”, melampaui dan memahami arti sejati kehidupan. Inilah makna sejati dari melafalkan paritta dan menyelaraskan pikiran.
Praktisi Buddhis kapan pun juga, jangan takut untuk memulai kembali. Setiap awal yang kita jalani adalah jalan yang harus ditempuh menuju pembelajaran Buddha Dharma. Dalam hidup ini, apa yang kita takuti, itulah yang akan sering muncul dalam pikiran kita. Apa yang kita yakini, itulah yang akan sering kita dengar. Yang membuat kita takut bukanlah dunia luar, melainkan dunia batin. Jika kamu tidak membina pikiran, tidak ada seorang pun yang bisa membinanya untukmu. Segala sesuatu yang ingin kamu kendalikan, pada kenyataannya kamu telah dikendali olehnya. Orang hidup tidak bahagia itu karena tidak mampu menanggung keadaan saat ini, dan juga tidak memiliki kemampuan untuk mengubahnya, sehingga akan menjadi semakin tidak bahagia. Kita tidak mengubah keadaan itu, kita menekuni Dharma dengan baik dan membina pikiran dengan sungguh-sungguh. Inilah kebijaksanaan hidup kita. Dengan demikian, kita akan mampu menapaki jalan menuju Empat Alam Brahma dan akhirnya mencapai Tanah Suci Kebahagiaan Tertinggi.
Ada empat orang pemuda berusia sekitar dua puluh tahun pergi ke bank untuk meminjam uang. Bank setuju memberikan mereka masing-masing sejumlah besar pinjaman, dengan syarat bahwa mereka harus melunasi pokok pinjaman itu dalam waktu lima puluh tahun. Pemuda pertama menggunakan uang itu untuk makan, minum, dan bersenang-senang selama 25 tahun. Setelah itu, ia berusaha keras selama 25 tahun berikutnya untuk melunasi utangnya. Ia hidup sampai usia 70 tahun, namun akhirnya tidak mencapai apa pun. Saat meninggal, ia masih terlilit utang, namanya adalah “Kemalasan.” Pemuda kedua bekerja keras selama 25 tahun pertama dan berhasil melunasi seluruh utangnya pada usia 50 tahun. Namun, tepat pada hari ia melunasi utangnya, ia tumbang dan meninggal dunia. Di kotak abunya tergantung sebuah papan kecil bertuliskan namanya: “Kegilaan.” Pemuda ketiga melunasi utangnya pada usia 70 tahun. Beberapa hari kemudian, ia pun meninggal dunia. Di surat kematiannya tertulis namanya: “Kemelekatan.” Pemuda keempat bekerja selama 40 tahun. Pada usia 60 tahun, ia berhasil melunasi seluruh utangnya. Sepuluh tahun terakhir hidupnya, ia menjadi seorang pengelana. Ketika meninggal pada usia 70 tahun, wajahnya tersenyum tenang. Namanya adalah “Ketenteraman.” Bank yang dulu memberikan pinjaman kepada mereka disebut “Bank Kehidupan.” Sesungguhnya, modal terbesar dalam hidup manusia adalah satu-satunya hal yang kita miliki yaitu nyawa kita. Nyawamu berasal dari tubuh jasmani dan jiwa kebijaksanaanmu. Jika di dunia ini kamu “meminjam” sejumlah besar pinjaman, tidak peduli apa pun cara kamu gunakan, kamu sedang menanam karma baru. Oleh karena itu, dalam perjalanan hidup yang luar biasa ini, kita tidak boleh hidup dalam “Kemalasan,” tidak boleh terjebak dalam “Kegilaan,” tidak boleh ada “Kemelekatan,” dan terlebih lagi, tidak boleh menganggap hidupnya sudah penuh “Ketenteraman.” Sesungguhnya, mereka hidup dalam energi negatif, membuat mereka menanggung karma sepanjang hidup. Pinjaman itu bagaikan karma yang kita pikul di tubuh, seumur hidup tidak terbayar, membuat mereka tidak pernah merasakan kebebasan batin maupun kelegaan jasmani. Ada orang yang sepanjang hidupnya menganggap setiap hal yang ia lakukan adalah yang paling penting, berusaha melakukan sebanyak mungkin dalam waktu yang terbatas. Jadi, kita manusia tidak boleh meminjam terlalu banyak dari Bank Kehidupan diri sendiri, karena hidup kita terbatas, karena tubuh kita ini adalah satu-satunya modal yang kita miliki. Tidak peduli seberapa banyak ketenaran, keuntungan, atau kekayaan yang kamu peroleh di dunia ini, modal kehidupanmu — yaitu Bank Kehidupan kamu pada suatu hari tertutup, semua yang kamu miliki akan lenyap tanpa jejak. Pada akhirnya, manusia mati karena terhimpit oleh utang dalam kehidupannya, dan jiwa atau spiritualnya mati karena beban dendam serta hutang karma yang telah ia kumpulkan sepanjang hidup.
Praktisi Buddhis harus melunasi seluruh karma buruk yang telah terkumpul dari kehidupan-kehidupan lampau. Kita harus berusaha dengan sungguh-sungguh untuk membayar utang. Menanggung penderitaan berarti mengikis karma. Semakin banyak penderitaan yang kita tanggung di dunia ini, semakin cepat pula karma yang terkikis. Semoga semua orang tekun belajar Buddha Dharma dan membina pikiran. Mulai hari ini, kita jangan takut, karena kita memiliki berkat dan perlindungan dari Guan Shi Yin Pu Sa dan Buddha. Kita bersemangat mempelajari ajaran Buddha Dharma, membangun dunia spiritual yang murni, dan dengan hati yang indah menjadikan dunia ini lebih indah, lebih damai, negara lebih stabil, dan rakyat lebih sejahtera.
Dalam menekuni Dharma, hiduplah pada saat ini. Hal yang bisa diselesaikan hari ini, kita jangan tunda sampai esok. Kita bisa melafalkan paritta untuk orang tua, itu berarti kita sedang membayar hutang karma. Kita melafalkan paritta untuk anak-anak, kita juga sedang membayar hutang karma. Kita berkorban untuk semua makhluk dan menjalin jodoh baik, itu berarti kita sedang melakukan jasa kebajikan. Berharap semua orang setelah menekuni Dharma dapat menjalin jodoh baik secara luas. Jalan kehidupan ada di bawah kakimu. Ke mana arah jalan itu? Jalan itu adalah jalan terang yang telah ditunjukkan oleh Buddha kepada kita.
