Sifat Kebuddhaan Kekal Abadi, Kebajikan Buddha Menetap Selamanya, Kesadaran Pikiran Mencapai Kebuddhaan, Kebebasan dan tanpa Hambatan (Bagian 1) — 佛性长存 佛德永住 心悟成佛 自在无碍 (上)

Seminar Dharma Sabah - Malaysia, 18 Januari 2015

Sifat Kebuddhaan Kekal Abadi, Kebajikan Buddha Menetap Selamanya, Kesadaran Pikiran Mencapai Kebuddhaan, Kebebasan dan tanpa Hambatan

Kita baru saja menyambut tahun 2015, berharap tahun baru ini akan membawa keberuntungan bagi semua orang. Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang serta Naga Langit Pelindung Dharma yang memberikan kita jodoh untuk berkumpul di Sabah dan berbagi manfaat Dharma, dipenuhi dengan sukacita Dharma! Terima kasih kepada semua tamu, biksu, serta teman dan relawan Buddhis dari  20-an negara dan wilayah di seluruh dunia!

 

Tahun Baru, Suasana Baru. Semoga semua orang selalu sehat, menyelamatkan yang berjodoh, sukses dalam segala hal, dan jasa kebajikan yang sempurna! Meskipun Sabah yang indah terletak di selatan Filipina, yang telah dilanda bencana topan, tetapi topan tidak pernah melewatinya. Ini menunjukkan bahwa Sabah juga merupakan tempat di mana cahaya Buddha bersinar.

 

Dalam masyarakat saat ini, selain penyakit fisik, terdapat pula tekanan mental, seperti autisme, stres, depresi, dan ketakutan. Nafsu keinginan material menekan ruang spiritual kita umat manusia, membuat kita hidup dalam kerisauan dan kecemasan setiap hari. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memprediksi bahwa abad ke-21 akan menjadi abad penyakit mental. Kita hidup di dunia ini setiap hari merasa tekanan begitu besar, apa pun yang dilakukan selalu penuh dengan tekanan, tidak bisa benar-benar santai. Bahkan saat sesekali beristirahat, hati pun tidak pernah tenang – di tempat kerja selalu khawatir akan dipecat, menikah takut bercerai, naik pesawat takut celaka, menggunakan uang takut ditipu, makan takut gemuk, punya anak takut tidak bisa membesarkannya, orang tua takut menjadi pikun, bahkan tidur pun masih takut insomnia—sungguh menderita!

 

Kita hidup di dunia ini, karena batin tidak sehat, maka akan menyebabkan penilaian mental yang keliru. Mengapa sekarang ada begitu banyak perselisihan keluarga? Karena karma bersama setiap orang adalah keegoisan. Suami berpikir demi dirinya, dan istri berpikir demi dirinya, semuanya memikirkan diri sendiri, bagaimana ada keharmonisan dan kedamaian? Orang yang memikirkan semua makhluk barulah disebut orang yang menekuni Dharma. Orang yang memikirkan pihak lain barulah disebut orang yang baik hati. Tekanan mental menyebabkan kondisi kejiwaan menjadi tidak normal. Harus menekuni Dharma dan melafalkan paritta, baru akan membuat suasana hatimu menjadi bahagia. Kita harus memahami sebab dan akibat, karena kita tidak tahu karma yang kita perbuat di kehidupan sebelumnya, maka di kehidupan sekarang kita sering merasa tidak adil dan penuh kesedihan. Jika kita mengetahui sebab kita di masa lalu, kita pasti akan memahami akibatnya saat ini. Jika kita mempelajari lebih banyak ajaran Buddha Dharma, memahami sebab dan akibat, akan membuat tubuhmu sehat dan pikiranmu lebih sehat.

 

Di Australia ada seorang teman se-Dharma, sejak kecil di tenggorokannya tumbuh sebuah benjolan kecil. Dokter memprediksi setelah dewasa benjolan ini mungkin akan berubah menjadi kanker, ada kemungkinan terjadi perubahan patologis. Hanya karena satu kalimat itu, teman se-Dharma ini sejak kecil hidup dalam kekhawatiran, setiap hari hidup dalam ketakutan. Hingga usia 24 tahun ia tetap tegang secara mental, di usia muda rambutnya sudah mulai rontok, padahal usianya baru 24 tahun. Sekarang ia menekuni Dharma, dia percaya bahwa “Bodhisattva akan menyelamatkanku”. Ia menyelamatkan orang dan melafalkan paritta setiap hari penuh sukacita Dharma. Ia percaya bahwa selama ia menjadi orang baik, Bodhisattva akan memberkatinya. Perbuatan baik akan dibalas dengan balasan karma baik dan perbuatan jahat akan dibalas dengan balasan karma buruk. Setengah tahun setelah menekuni Dharma, tumor kecil itu hilang. Ia berkata, “Seandainya saya belajar Buddha Dharma lebih awal, saya tidak akan menderita tekanan dan penderitaan mental seperti ini selama 24 tahun.” Kini seluruh keluarganya melafalkan paritta dan menyembah Buddha. Terima kasih Guan Shi Yin Pu Sa!

 

Hati kita manusia adalah yang paling mudah tergoyahkan. Dulu suami istri menikah, ada pepatah yang mengatakan “ucapan seorang pria sejati, sekali terucap, akan menepati janji “. Anak-anak sekarang yang baru menikah, mereka langsung mengirim pesan kepada orang lain melalui ponsel: “Aku juga sangat mencintaimu, tetapi Aku tidak berdaya, Aku sudah menikah.” Hati orang-orang sekarang bergejolak setiap hari. Lalu bagaimana kita bisa menjaga hati kita agar tidak tergoyahkan? Harus menekuni Dharma. Hati kita ini adalah bebas. Buddha memberi tahu kita bahwa nafsu keinginan itu tidak ada batasnya, dalam segala hal harus ada batasnya, dan semuanya tidak berlebihan. Tradisi Tiongkok juga menekankan “jalan tengah”, yang berarti dalam melakukan apapun jangan berlebihan, jangan keterlaluan saat bertengkar, harus mengambil jalan tengah dalam hal apapun. Hari ini saya tidak menyakiti orang lain,  memperlakukan orang lain dengan baik, dan mengutamakan hati nurani dalam segala hal, ini adalah jalan tengah, yaitu secukupnya saja. Jika hatimu masih merasa gelisah, benci, dan iri terhadap orang lain, itu artinya hatimu sudah sakit. Banyak orang berkata, “Saya tidak sakit,” coba pikirkan, orang mabuk mana yang akan berkata bahwa ia mabuk? Kita manusia punya penyakit, tetapi kita semua berkata tidak. Sebenarnya, harus mengerti bahwa selama masih ada rasa iri dan benci di hati, hatinya pasti akan terasa sangat sakit. Jangan menambah lebih banyak kerisauan pada hati diri sendiri yang sudah sangat menderita.

 

Pahamilah bahwa semua kebahagiaan dalam hidup tidak boleh dianggap sebagai kebahagiaan abadi, karena kebahagiaan itu akan berlalu. Jangan menganggap penderitaan yang dialami diri sendiri sebagai penderitaan abadi. Praktisi Buddhis harus memperlakukan hidup dengan baik, dan harus belajar melupakan diri sendiri dan hanya memikirkan orang lain di dalam hatinya. Mengapa ibu itu mulia? Karena seorang ibu hanya memikirkan anak-anaknya di dalam hatinya, bukan dirinya sendiri. Inilah kemuliaan seorang ibu! Dan kemuliaan Buddha adalah karena Buddha hanya memikirkan makhluk hidup di dalam hatinya, bukan dirinya sendiri!

 

Orang yang belajar melupakan diri sendiri pasti akan terbebas dari penderitaan. Master ingin kalian sering bertanya pada diri kalian sendiri. Jika telah mencapai akhir hayat, kamu bersiap untuk memberi tahu anak cucumu tiga hal terpenting dalam hidup. Saat menjelang ajal, kamu seharusnya bertanya: Pertama, hal apa yang paling disesali dalam hidup? Kedua, hal apa dalam hidup ini yang  membuatmu memperoleh manfaat seumur hidup, dan membuatmu penuh rasa kagum serta syukur? Ketiga, jika tidak punya anak, pekerjaan, dan uang, kamu akan menjadi orang seperti apa? Jika seseorang yang tidak menekuni Dharma di saat menjelang ajal, ia akan berkata, “Penyesalan terbesar saya adalah saya tidak membiarkan anak cucu saya menghasilkan lebih banyak uang.” Jika bertanya hal apa yang telah menguntungkanmu sepanjang hidupmu, ia akan menjawab, “Tidak ada orang baik di dunia ini, mereka baik kepadamu dan melakukan segalanya untukmu dengan suatu tujuan.” Ketiga, ia akan memberi tahu kepadamu, “Karena tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, dan tidak punya anak, tidak ada gunanya hidup di dunia ini. Lebih baik saya secepatnya bunuh diri saja.”

 

Dengarkan bagaimana praktisi Buddhis menjawab ketiga kalimat ini: Pertama, penyesalan terbesar dalam hidup kita adalah ketika menjelang ajal merasa sedih karena tidak berbakti kepada orang tua dan para sesepuh; kita merasa bersalah terhadap hati nurani sendiri. Kedua, hal yang membuat kita memperoleh manfaat sepanjang hidup adalah hidup demi orang lain, dan hidup dalam rasa syukur. Ketiga, kita harus tahu untuk berpuas diri dan selalu bahagia, tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini tidak kekal. Apa yang kita miliki hari ini tidak berarti akan memilikinya selamanya. Kita harus belajar bahwa menanggung penderitaan adalah mengikis karma,  mendapatkan manfaat sepanjang hidup, bahagia baru akan berpuas diri. Sulit mendapat raga manusia tetapi kita sudah mendapatnya. Sulit mengenal ajaran Buddha Dharma tetapi sudah mengenalnya sekarang. Tidak punya uang, tidak punya pekerjaan, tidak punya anak, tetapi saya adalah orang yang bahagia, orang yang benar-benar bebas, orang yang tersadarkan, berpikiran mengerti dan melepaskan. Orang suci yang memahami ketidakkekalan hidup.

 

Ada seorang pemuda yang sangat depresi duduk di sudut sebuah kafe. Seorang lelaki tua melihat bahwa ia sangat menderita, lalu menghampirinya dan berkata, “Anak muda, kamu pasti mengalami masalah, bukan? Jika kamu mau, saya bersedia membantumu.” Pemuda itu menatap lelaki tua itu dengan dingin dan berkata, “Kamu tidak bisa membantuku, pak tua, masalah saya terlalu banyak.” Lelaki tua itu berkata, “Jika kamu percaya padaku, Aku akan membantumu menyelesaikannya. Aku ingin membawamu ke suatu tempat, maukah kamu ikut denganku sekali?” Pemuda itu setuju, lelaki tua itu berkendara ke pinggiran kota bersamanya. Setelah turun dari mobil, lelaki tua itu menunjuk ke deretan batu nisan dan berkata, “Anak muda, kamu melihatnya?” Hanya orang-orang di sini yang tidak akan memiliki masalah. Anak saya juga tidak tahan menghadapi badai dan masalah dunia, lalu bunuh diri dan meninggalkan dunia lebih awal. “Pada saat ini, alis pemuda itu mengendur, dan ia menceritakan kesulitannya satu per satu kepada lelaki tua itu. Hidup adalah proses terus-menerus menghadapi masalah dan terus-menerus menyelesaikannya. Kita datang ke dunia ini hanyalah sebuah proses. Ingatlah, selama kamu masih hidup, masalah tidak akan pernah terselesaikan, dan tidak akan pernah berhenti. Hanya dengan menggunakan kebijaksanaan barulah dapat menyelesaikan masalah dan memperoleh kebahagiaan. Kita harus memahami balasan karma. Penderitaan di kehidupan ini adalah karena kita tidak membina diri dengan baik di kehidupan sebelumnya. Berkah di kehidupan ini, jangan iri kepada orang lain, karena itu adalah berkah dan kebajikan yang dikumpulkan oleh orang lain di kehidupan sebelumnya.

 

Hanya dengan menggunakan kebijaksanaan ajaran Buddha Dharma, kamu baru bisa benar-benar bahagia. Hanya dengan memahami sebab dan akibat, kamu baru bisa hidup dengan baik. Jika kamu melihat seseorang memenangkan lotere jutaan dolar di koran, kebanyakan orang akan berpikir, “Mungkin saya juga berkesempatan menang,” sehingga semakin banyak orang akan membeli tiket lotere. Ketika melihat seseorang mengalami kecelakaan mobil di koran, kebanyakan orang akan berpikir, “Bagaimana mungkin hal sial seperti ini terjadi pada saya?” Ini adalah dua kelemahan utama sifat manusia, keserakahan dan mentalitas hanya mengandalkan keberuntungan. Orang yang tidak menekuni Dharma akan selalu serakah, karena dia tidak tahu bahwa keserakahan akan membuat orang menjadi semakin bodoh. Orang yang tidak menekuni Dharma akan hidup dengan mentalitas yang hanya mengandalkan keberuntungan, merasa dirinya mungkin tidak akan terkena masalah.

 

Jika kita tidak dapat mengendalikan takdir diri sendiri, ini berarti kita sedang merusak akar kebijaksanaan kita. Kita harus mengendalikan emosi kita dengan baik, barulah bisa menyingkirkan kerisauan dan penderitaan. Berharap kita praktisi Buddhis harus mengerti untuk menghargai jiwa kebijaksanaan kita. Kita bisa hidup di hari ini adalah suatu berkah, keselamatan adalah berkah. Berharap semua orang bisa menghargai jodoh di dunia.

 

Mengapa sebagian orang hidup bahagia sementara yang lain hidup dalam penderitaan? Keserakahan dan ketidakpuasan adalah akar kejahatan, karena kita tidak merasa puas dan tidak pernah merasa cukup. Mempelajari beberapa kata akan sangat membantu kehidupan masa depanmu. Sering mengatakan “Saya sudah cukup”, “Sudah boleh”, “Saya sudah puas”, ini akan membantumu menghilangkan banyak hambatan psikologis; menemukan kelebihan dari setiap hal akan membantumu menghilangkan kekurangan dari setiap hal.

 

Seorang ayah mengambil dua buah apel dan memberikannya kepada kedua anaknya. Satu buah apel sangat besar tetapi sangat asam, dan satu lagi sangat kecil tetapi sangat manis. Kedua anak itu adalah kakak beradik. Sang kakak sangat egois, sementara adiknya sangat menyesuaikan jodoh, dan selalu bahagia. Sang kakak tampak tidak senang ketika memakan apel besar itu, “Mengapa begitu asam?” Sang adik memakan apel kecil itu, “Manis sekali, sangat bahagia.” Sang kakak mengambil apel adiknya dan memberikan apel besar itu kepada adiknya. Alhasil, sang kakak melihatnya dan berkata, “Ini sangat kecil!” Sang adik mengambil apel itu, “Sangat senang sekali, apel yang begitu besar!” Hati mengandalkan diri sendiri untuk menyelaraskannya. Senang atau tidaknya seseorang semuanya mengandalkan pada dirinya sendiri yang menyelaraskannya. Untuk hal yang sama, jika kamu dapat melihat kelebihan dari hal buruk, itu adalah mentalitas energi positif. Jika seseorang membenci semua orang. Tidak peduli melihat siapa pun, ia akan mencari kesalahan orang lain, terlepas dari siapa yang dilihatnya, itu adalah tanda energi negatif. Sulit bagi orang-orang zaman sekarang untuk membuat orang lain merasa senang ketika melihatnya, bahkan terhadap anak sendiri pun merasa tidak senang. Terhadap suami dan istri sendiri juga merasa tidak senang, sungguh sulit! Karena pikiran manusia terus bekerja. Menekuni ajaran Buddha Dharma harus memahami rasa welas asih. Jika kamu melihat orang lain adalah kasihan, melihat orang lain semuanya baik, maka di dalam hatimu hanya ada orang baik. Jika kamu melihat orang lain semuanya adalah orang jahat, maka hatimu akan penuh dengan musuh.

 

Ketidakpuasan di hati muncul karena kita melihat terlalu banyak hal yang tidak memuaskan di dunia ini. Para teman se-Dharma dan teman-teman yang datang hari ini, orang yang masih bisa tertawa, itu menunjukkan bahwa dia masih memiliki banyak kebaikan. Jika seseorang bahkan tidak bisa tertawa, ia membenci semua orang yang dilihatnya. Master datang ke sini hari ini karena saya melihat kalian semua adalah Buddha dan Bodhisattva di hati saya, yang berarti bahwa hati Master penuh dengan Bodhisattva dan sifat Kebudhaan. Mentalitas yang baik adalah kunci kebahagiaan. Kerisauan dan kebahagiaan, kesuksesan dan kegagalan, semuanya ada dalam satu pikiranmu.