Bodhisattva Selalu Menetap di Hati, dengan Welas Asih Merasakan dan Menyadari Pikiran Buddha (Bagian 3)
Seminar Dharma Perth - Australia, 8 Maret 2015
Kepribadian yang penuh welas asih lebih berharga daripada kecerdasan yang luar biasa. Seseorang yang memiliki banyak kecerdasan pun tidak ada gunanya, harus memiliki welas asih. Jiwa yang bijaksana lebih bernilai daripada sekadar kecerdasan intelektual. Orang yang cerdas hanya menghitung untung rugi, sedangkan orang yang bijaksana rela berkorban. Hari ini dalam berbisnis kamu mendapat untung seratus atau dua ratus ribu rupiah lebih banyak dan merasa sangat senang, tetapi setelah itu orang lain tidak mau lagi berbisnis denganmu karena kamu mengambil keuntungan terlalu banyak. Orang yang bijaksana adalah “Tidak apa-apa kamu mendapat untung lebih banyak, saya cukup mendapat sedikit saja.” Dengan begitu, bisnis akan semakin berkembang dan kamu akan mendapatkan lebih banyak di masa depan. Kebijaksanaan dan kepintaran adalah dua konsep yang berbeda.
Hanya hati yang penuh rasa syukur yang dapat membina tubuh dan jiwa dengan baik. Orang yang sederhana akan hidup dengan leluasa. Orang yang tidak mengejar akan hidup dalam kebahagiaan. Ketika baru tiba di Australia, banyak orang tinggal di apartemen dua kamar satu ruang tamu dan merasa tempat itu sangat luas (di Australia, satu ruang tamu besarnya seperti satu kamar). Namun setelah menghadiri sebuah pesta dan melihat orang lain tinggal di rumah mewah, pulang ke rumah sendiri rasanya rumah jadi semakin kecil dan hati pun jadi semakin sedih. Dari sinilah keserakahan manusia mulai muncul, merasa tidak puas. Manusia tidak boleh hidup dalam ketidakpuasan.
Orang yang suka menyalahkan diri sendiri hidup dalam penyesalan. Setiap hari menyesal bisa terkena depresi. Hanya orang yang membina pikiran yang bisa hidup dalam kenyataan yang dapat ia kendalikan. Dengan membina pikiran, kita bisa mengendalikan emosi saat ini: “Saya tidak marah, saya adalah Bodhisattva; saya tidak bertengkar dengan istri, karena saya adalah seorang praktisi Buddhis; saya tidak bersaing dengan orang lain, saya selamanya adalah Bodhisattva. Bertengkar dengan orang lain tidak akan membawa hasil yang baik.” Perang Iran-Irak sudah berlangsung puluhan tahun, sampai kapan dendam akan berakhir? Hanya dengan keharmonisan dan perdamaian, hanya dengan menyentuh hati orang lain, barulah bisa benar-benar menguraikan hubungan buruk. Dalam keluarga, hanya dengan ketulusan hati untuk memaafkan dengan welas asih, keluarga bisa tetap utuh. Mereka yang bisa bertahan sampai hari ini adalah mereka yang hidup dalam sikap saling mengalah, tidak bisa mengalah akan cepat berpisah.
Praktisi Buddhis harus memahami untuk menghargai berkah. Segala sesuatu di dunia ini adalah berkah yang diberikan oleh Bodhisattva kepada kita. Kita hanya perlu menghargai setiap hal yang kita miliki, apa yang diberikan Bodhisattva kepada kita, kita juga harus berikan kepada orang lain. Memberi kepada orang lain akan mendatangkan banyak bantuan dari mereka. Saat kita membantu orang lain, mereka akan sangat berterima kasih dan berharap bisa membalas kebaikan kita. Jika kita terus-menerus meminta tanpa henti, rezeki akan terputus. Semakin pelit dan tidak rela memberi akan semakin miskin. Sebaliknya, semakin rela memberi, semakin banyak yang akan kita dapatkan. Orang yang semakin tidak rela memberi akan semakin sulit untuk mendapatkan. Maka disebut “merelakan dan mendapatkan”. Praktisi Buddhis tidak serakah adalah memiliki kebijaksanaan. Menjadi orang yang tidak serakah, sama seperti orang lain, akan membangun karakter, hatimu akan menjadi semakin kaya.
Ketika menghadapi masalah, jangan terburu-buru dan jangan merasa semuanya sudah tidak ada harapan. Sebenarnya, selama hati kita tulus, praktisi Buddhis hanya menanam tanpa memikirkan apa yang akan dituai. Seperti seorang ibu yang selalu berbuat baik kepada anaknya tanpa mengharapkan balasan, namun anak pasti akan membalas kebaikan ibunya. Dalam hidup ini tidak ada kata “jika”, yang ada hanyalah “akibat” dan “hasil”. Jadi jangan terus-menerus memikirkan “jika”. Seseorang yang sangat terkenal, sangat berkuasa, dan sangat kaya, di balik kehidupannya, pasti ada kisah pahit atau sisi gelap yang tersembunyi. Jangan iri pada orang lain yang banyak uang atau terkenal, karena mereka juga punya penderitaan sendiri. Orang yang tidak mengejar ketenaran dan kekayaan adalah orang yang memiliki berkah, sedangkan yang mengejar ketenaran dan kekayaan tidak memiliki berkah. Ketenaran dan kekayaan diperoleh dengan mengorbankan hati yang murni, banyak orang yang rela melepaskan ketenaran dan kekayaan demi menyempurnakan hati yang baik.
Orang merasa hidupnya lelah karena terkadang tidak bisa melepaskan gengsi, terlalu menjaga harga diri, dan tidak bisa melepaskan jodoh perasaan. Kadang, jika kita bisa lebih berpikiran terbuka, ada apa yang luar biasa. Seumur hidup seseorang adalah hidup dalam jodoh. Jika hari ini masih ada jodoh, maka hargailah jodoh itu. Jika suami istri masih memiliki jodoh, jalani bersama dengan baik; jika suatu hari jodoh itu berakhir, maka bersedih pun tidak ada gunanya. Jangan melekat pada jodoh. Jodoh bagaikan sebuah buku, jika membalik halamannya dengan terburu-buru, kita akan melewatkannya, jika membacanya dengan terlalu serius, air mata pun akan jatuh. Jodoh harus dijalani dengan tanpa keterikatan, tidak apa-apa, jika hari ini ada, hargai dengan baik; jika tidak ada, jangan memaksakan jodoh. Dengan begitu, hati baru akan sempurna.
Hati itu seperti sebuah kantong. Jika isinya sedikit, itu adalah hati yang murni; jika isinya sedikit lebih banyak, itu menjadi hati yang mulai memperhitungkan; jika diisi lebih banyak lagi, muncullah perhitungan dan niat yang tersembunyi; dan jika terlalu banyak, itu akan menjadi hati yang penuh tipu daya. Hati yang sering menyesal, sulit memaafkan diri sendiri, itu adalah tidak memiliki kebijaksanaan. Jika hati sulit memaafkan orang lain dan menyimpan dendam, itu berarti tidak memiliki welas asih. Dalam menekuni Dharma, pertama-tama kita harus belajar melihat hambar perlakuan buruk orang lain kepada kita, merasa saat itu dia juga tidak mengerti, sudahlah. Ada seorang ibu tua yang menjelang ajalnya, semua anaknya datang. Karena anak keduanya seumur hidup tidak berbakti, dia datang dan berlutut sambil berkata, “Ibu, saya salah, maafkan saya.” Sang ibu berkata, “Pergi sana, Aku tidak mau melihatmu.” Semua orang berkata, “Abang sudah mengaku salah, Ibu maafkan saja, sudahlah.” “Aku tidak mau melihat dia. Dulu, di hari ulang tahunku, dia pernah memaki Aku di depan orang banyak. Kata-kata itu, sampai mati pun Aku tidak akan…” Belum selesai bicara, sang ibu meninggal dunia, hanya karena satu kalimat, membuat diri sendiri marah hingga mati. Maafkanlah orang lain, siapa di dunia ini yang tidak pernah berbuat salah? Pikirkan, saat kamu memarahi suamimu, apakah kamu pernah berbuat salah? Saat suamimu memarahimu, apakah kamu begitu baik? Menyempurnakan diri sendiri juga menyempurnakan orang lain. Ketika kamu memaafkan orang lain, hatimu menjadi tenang, bukankah itu berarti kamu telah memaafkan dirimu sendiri?
Kita harus memahami dendam lampau antar manusia, sebenarnya melihat orang ini menjengkelkan, melihat orang itu merasa senang, itu adalah jodoh dari kehidupan lampau. Ketika kamu melihat seseorang dan sangat menyukainya, itu adalah jodoh baik di kehidupan sebelumnya. Ketika melihat seseorang merasa sangat menjengkelkan, itu sudah memiliki jodoh buruk di dalamnya, ini adalah dendam kehidupan lampau. Ketika melihat orang lain sangat menjengkelkan, harus segera melafalkan parritta Jie Jie Zhou. Banyak orang ketika suami istri bertengkar, mulut istrinya melafalkan paritta Jie Jie Zhou, perlahan-lahan suaminya berhenti marah, bahkan berkata kepada istrinya, “Menurutmu benar, kan,” lalu pergi. Ketika dalam hati muncul niat “Aku tidak mau bertengkar denganmu, aku akan melafalkan Jie Jie Zhou untuk menguraikan jodoh buruk,” maka bisa menguraikannya. Seorang ilmuwan Jepang pernah melakukan percobaan,ia memarahi air selama satu jam, lalu memasukkannya ke dalam freezer. Hasil kristal esnya sangat jelek dan tidak enak dilihat. Namun ketika ia berkata pada air, “Aku mencintaimu, kamu sangat cantik,” lalu memasukkannya ke dalam freezer, sebentar kemudian mengeluarkannya, kristal es yang terbentuk sangat cantik.
Manusia harus bisa mengendalikan hatinya, jangan sampai kehilangan kendali. Seseorang marah karena tidak memahami suatu hal. Ketika sudah mengetahui kebenarannya, ia tidak akan marah lagi. Ketika suami menindas istri, atau istri menindas suami, sebenarnya itu adalah pihak lain sedang membayar hutang kepadamu. Jika seseorang terus-menerus menyakiti pasangannya, suatu hari nanti utang itu akan lunas. Saat itu, sang istri akan berkata, “Aku sudah dimarahi olehmu seumur hidup, Aku tidak ingin dimarahi lagi.” Ia pergi, karena jodohnya yang lain telah muncul. Ada orang yang mengira istrinya akan selalu bersamanya seumur hidup, sehingga terus memukul dan memarahinya. Namun akhirnya sang istri pergi juga — sebenarnya itu karena jodoh mereka telah berakhir. Hubungan dan jodoh antar manusia itu seperti kartu kredit. Kartu kredit jangan digunakan sampai habis; jika digunakan terus tanpa ada simpanan, maka akan segera berutang. Oleh karena itu, jangan sampai habis digunakan.
Semakin sering kamu bergaul dengan orang baik, kamu akan mendapatkan lebih banyak energi positif dan hati Kebuddhaan semakin banyak. Namun, jika kamu bersama orang jahat atau orang yang sangat kejam, kamu akan menjadi semakin jahat. Sebagai manusia, ingatlah tiga hal: Pertama, jangan melihat kesalahan orang lain, tetapi lihatlah kesalahan diri sendiri. Jangan melihat kekurangan orang lain, melainkan seringlah introspeksi terhadap kekurangan diri sendiri. Kedua, hanya menanam tanpa memikirkan apa yang akan dituai. Lakukan sesuatu dengan tekun dan sungguh-sungguh, suatu hari nanti kamu pasti akan berhasil. Jangan baru berusaha sebentar lalu bertanya, “Mengapa Bodhisattva belum memberikan kepadaku? Mengapa doaku belum terkabul?” Ketiga, milikilah hati yang tanpa pamrih — artinya, jadikan pikiran semua makhluk sebagai pikiranmu sendiri. Dalam melakukan hal apapun, jangan terlalu melekat di dalam hati, maka tidak akan menyakiti diri sendiri. Semakin banyak hal yang kamu khawatir di dalam hati, semakin besar pula itu akan menyakitimu. Jika kamu terus memikirkan uang harus bagaimana, maka uang itu justru akan menyakiti hatimu. Jika kamu terus memikirkan anakmu bagaimana, mengkhawatirkan anak di dalam hatimu, maka dikarenakan anak itu pula kamu akan menyakiti dirimu sendiri.
Ada seorang pemahat, saat masih kecil, ia berwajah tampan, tetapi setelah dewasa, penampilannya semakin memburuk — wajahnya menjadi jelek dan rupanya berubah parah. Pemahat itu sangat sedih dan cemas. Ia mencari semua pengobatan Tiongkok dan pengobatan medis, namun tidak ada yang bisa menyembuhkannya. Ia juga menjalani berbagai pemeriksaan dengan alat-alat, tetapi tetap tidak ditemukan penyebabnya. Kemudian, ia menemui seorang biksu agung. Sang biksu berkata, “Wajahmu menjadi jelek, saya bisa mengobatimu, tetapi terlebih dahulu kamu harus membantu saya melakukan sesuatu. Saya ingin kamu memahat beberapa patung Guan Yin di kuil ini.” Jadi, pemahat itu pun mulai membantu sang biksu memahat patung-patung Guan Yin. Dulu, ia sering memahat patung makhluk-makhluk jahat dan roh-roh menyeramkan. Karena ia harus meniru rupa mereka, sehingga wajahnya pun perlahan menjadi seperti wajah hantu. Kini, ia harus memahat Guan Yin yang penuh kasih dan kebajikan, ia harus merasakan. Jadi ketika ia sedang memahat, ia secara tidak sengaja meniru kebaikan, keindahan dan welas asih Guan Yin. Tanpa disadari, tubuh, pikiran dan ekspresi wajahnya ikut berubah. Setengah tahun kemudian, patung-patung Bodhisattva selesai dipahat. Ia menemukan bahwa wajahnya telah pulih sepenuhnya dan kembali tampan. Ketika seseorang sering bergaul dengan orang jahat atau terlibat dalam hal-hal buruk, hal itu akan meninggalkan jejak pada wajahnya. Rupa akan berubah mengikuti hati. Orang yang berupa baik akan lebih mudah menyelamatkan orang lain dan membabarkan Dharma. Banyak orang yang menjadi sales, memuji barang dagangannya dengan kata-kata indah, tetapi dirinya sendiri penuh penyakit — orang lain menyuruhnya makan untuk menyembuhkan dirinya sendiri terlebih dahulu. Master memberi tahu kalian hubungan antara rupa dan hati, yaitu welas asih dan kebaikan hati, kamu akan semakin baik hati, penampilan pun akan memancarkan kehangatan dan cahaya kepada orang lain. Orang yang berhati buruk, seindah apa pun wajahnya, tetap sulit menutupi keburukan dalam batinnya. Kebaikan hati selamanya adalah hal yang baik. Orang yang berhati baik akan mendapatkan berkat dan perlindungan dari Bodhisattva. Kita harus belajar menjadi baik di rumah dan di masyarakat. Ketika Master datang ke Perth kali ini, saya merasakan bahwa orang-orang di sini sangat baik hati, polos, dan murni. Saya merasa di sini seperti negeri yang damai dan indah, bagaikan taman surgawi, orang-orangnya sangat baik dan mudah percaya. Untungnya, Master datang membawa energi positif untuk membabarkan ajaran Buddha Dharma; jika yang datang itu hal lain, kalian pun mungkin akan mudah mempercayainya. Lagipula, cuaca di Perth juga sangat bagus, sangat hangat.
Sebagai manusia, hati dalam dan luar kita harus saling mencerminkan. Orang yang bersih harus mampu “melihat panca skhanda adalah kosong” — saya tidak memiliki niat jahat, hati saya sangat murni. Seumur hidup seseorang yang paling penting adalah tidak mengecewakan hati nurani saja. Pikirkanlah, mengapa banyak orang yang korup akhirnya mendapat masalah? Karena mereka tidak terpikirkan hari ini. Manusia harus berpuas diri dan selalu bahagia. Jika kita tidak berbuat jahat, kita tidak serakah, maka kita pun tidak akan merasa takut. Kita harus menyingkirkan tiga racun dalam diri, yaitu keserakahan, kebencian, dan kebodohan. Kita tidak membandingkan diri dengan orang lain — karena perbandingan hanya akan membuat orang menderita. Tidak membanding, merasa diri sangat puas, “Saya sudah cukup,” itu sudah senang. “Saya tidak membenci orang lain, karena tidak ada yang pantas dibenci. Saya sendiri pun belum sempurna. Jika orang lain memarahi saya, itu mungkin karena saya belum melakukannya dengan baik. Jadi, saya harus melakukannya dengan baik. Dengan begitu, kamu tidak akan menjalin permusuhan, tidak akan menjadi bodoh, tidak akan melakukan perbuatan jahat, dan tidak akan diam-diam menyakiti orang lain. Dengan demikian, kamu tidak akan melakukan banyak kesalahan.
Para peneliti medis melakukan uji otak terhadap 1.000 pekerja dewasa berusia 30-45 tahun dan menemukan bahwa ketika mereka melakukan pekerjaan yang tidak mereka sukai, aktivitas otak meningkat secara berlebihan hingga dapat merusak tubuh. Namun ketika mereka melakukan hal yang mereka sukai, aktivitas otak berada pada tingkat yang normal. Oleh karena itu, pekerja di usia 30-an, rata-rata usia otak mereka sudah 52 tahun. Orang sangat lelah, stres, bekerja lembur, dan kurang tidur serta kurang nutrisi. Mereka mengandalkan masa muda mereka dan mengabaikan sinyal tubuh, yang menyebabkan penuaan dini, stroke, dan kematian otak. Inilah sebabnya mengapa angka kematian anak muda semakin meningkat.
Berpuas diri dan selalu bahagia, kalian masih bisa makan dan menggunakan uang ini hari ini adalah berkah kalian. Baik-baiklah menekuni Dharma, banyak membantu orang lain, agar tingkat kesadaran spiritual diri meningkat, maka kamu adalah orang yang memiliki berkah. Hari ini masih bisa menekuni Dharma dan menggunakan hati welas asih Guan Shi Yin Pu Sa untuk membuat diri sendiri menjadi lebih baik hati, berpikiran luas dan indah, ini adalah berkah kalian. Baik-baiklah membina diri dan menekuni Dharma. Akan ada banyak teman se-Dharma yang menjadi lebih baik, lebih banyak keluarga yang bahagia, dan lebih banyak orang dengan masalah kesehatan akan menajdi sehat. Juga berharap kalian semakin baik. Berharap awal tahun 2015 membawa keberuntungan bagi kalian semua. Baik-baiklah melafalkan paritta, baik-baiklah menekuni Dharma. Selalu menempatkan Bodhisattva di dalam hati. Hanya ada kebaikan dan tidak ada kejahatan di dalam hati, kita adalah orang yang baik.
