Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 23 Juni 2014
Menjunjung Buddha Dharma untuk Mendorong Perdamaian Dunia, Memberikan Manfaat Kepada Semua Makhluk Hidup dengan Welas Asih, Mewujudkan Tanah Suci Jiwa Manusia dengan Pencerahan
Terima kasih kepada Guan Shi Yin Pu Sa Yang Maha Welas Asih dan Maha Penyayang karena mengizinkan kita mendengarkan Dharma dalam beberapa hari ini, memiliki hati yang welas asih, mempraktikkan jalan Bodhisattva, dan dipenuhi dengan sukacita Dharma! Terima kasih kepada para sukarelawan atas kerja keras mereka! Banyak sekali bunga teratai yang ditanam di langit setiap hari, membuat teman se-Dharma kita memiliki welas asih dan nyawa kebijaksanaan. Kita hidup di dunia ini dengan kebijaksanaan, tidak ada halangan apapun, melepaskan dan melihat kebenaran, serta menurunkan hujan berkah.
Cahaya yang kita jumpai setiap hari di dunia, seperti lampu dan sinar matahari, cahaya bisa muncul dengan bantuan benda. Jika cahaya tidak menyinari ke benda, kamu tidak bisa melihat cahaya ini. Jadi, benda harus meminjam cahaya untuk bisa muncul. Kebijaksanaan para praktisi bagaikan sumber cahaya. Setiap orang memiliki welas asih, belas kasihan, sukacita dan rela memberi dalam hatinya, barulah bisa menunjukkan cahayanya. Guan Shi Yin Pu Sa menyelamatkan semua makhluk, juga membutuhkan kepahaman dan keberterimaan dari semua makhluk, baru bisa menunjukkan pancaran cahaya tak terbatas dari Guan Shi Yin Pu Sa.
Berharap kalian dapat meningkatkan kebijaksanaan diri, harus memiliki kebijaksanaan dan tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva, dan pergi ke Surga untuk bersama dengan Guan Shi Yin Pu Sa dan semua Bodhisattva, selamanya tidak berpisah.
Kita harus memahami bahwa kita dilahirkan di dunia, Bodhisattva ada di sisi kita setiap hari. Mentalitas seseorang adalah jiwanya. Perubahan mentalitas menandakan perubahan jiwanya. Jika mentalitas seseorang tidak seimbang maka jiwanya akan tidak seimbang. Menurut World Law Journal, tingkat kejahatan di dunia kini berada pada titik tertinggi, dengan 150 kasus pembakaran, pembunuhan, penjarahan, dan perampokan terjadi setiap menitnya di seluruh dunia. Menekuni Dharma berarti harus mengendalikan pikiran diri sendiri dengan baik, tidak membiarkan pikiran menjadi gelisah, tidak muncul kebencian dan keserakahan. Cara terpenting untuk mengendalikan pikiran sendiri adalah dengan memiliki pikiran yang damai, harus berpikiran terbuka dan mengerti.
Ada putra seorang sutradara film di Amerika yang berusia belasan tahun. Karena putus cinta, dia menembak dan membunuh tiga orang di asrama, lalu mengendarai mobil dengan liar, menabrak banyak orang yang tak bersalah hingga terbunuh, ini adalah kejahatan. Dia tidak dapat mengendalikan diri, yaitu tidak memiliki sila. Orang-orang zaman sekarang memiliki hati yang kosong, merasa gelisah dan tidak tenang. Kita harus membuat semua orang merasakan bahwa di dunia ini masih ada hal-hal, pemikiran dan kebijaksanaan yang benar-benar bisa memberi ketenangan, kestabilan, dan kedamaian. Itu berasal dari Buddha Dharma yang agung, berasal dari Guan Shi Yin Pu Sa yang melampaui kekuatan alam semesta.
Pikiran yang tidak seimbang pasti akan menimbulkan karma. Ketika melihat orang lain mendapatkannya, kamu juga menginginkannya. Ini akan menyebabkan ketidakseimbangan pada dirimu. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan orang, harus menyelamatkan hati dan pikirannya. Menekuni Dharma baru bisa mengubah takdir.
Banyak orang berkata, “Saya memiliki banyak musuh dalam hidup.” Musuh terbesar dalam hidup bukanlah orang lain tetapi dirimu sendiri, karena seumur hidup orang akan selalu menghadapi musuh, kelompok penjahat, bajingan, orang picik, dan orang-orang jahat, sangat jahat sekali. Ketika dapat melihat semua kebenaran ini, maka hanyalah beberapa halangan karma buruk diri sendiri. Musuh terbesar yang harus kita hadapi adalah diri kita sendiri. Jika kamu bisa mengalahkan diri sendiri, maka tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat mengalahkanmu. Jika kamu tidak dapat mengalahkan diri sendiri, kamu akan ragu-ragu dalam mengambil keputusan. Jika terlalu memandang tinggi diri sendiri, kamu akan menjadi sombong, khawatir perolehan dan kehilangan, membuat diri tidak bisa mendapatkan ketenangan pikiran. Praktisi Buddhis harus memahami bahwa musuh kita yang sebenarnya adalah diri kita sendiri. Kita harus menggunakan sila untuk mengatasi kebencian di dalam hati kita, menggunakan cinta untuk mengatasi kebencian di dalam hati kita, dan menggunakan merelakan untuk mengatasi keserakahan di dalam hati kita, inilah kebijaksanaan. Biarkan kebijaksanaan menebar di dunia, biarkan kebijaksanaan memenuhi kehidupan.
Seorang pemuda berganti banyak pekerjaan. Dia mengeluh kepada Guru Zen: “Guru Zen, saya telah berganti banyak pekerjaan. Saya tidak suka mengulanginya.” Guru Zen berkata: “Sang Buddha menghabiskan seluruh hidupnya untuk berulang menceritakan kisah kehidupan pencerahan di bawah pohon Bodhi. “Hanya ada 1% pilihan dalam hidup seseorang, dan 99% dilakukan dengan hati-hati dan berulang-ulang. Setiap kali dapat membuat kemajuan. Jika kamu menggunakan 99% untuk memilih, dan 1% untuk mengulang, kamu hanya bisa terus mengulangi kegagalanmu. Jika kamu melakukan hal sederhana berulang kali, kamu akan menjadi ahli. Jika kamu melakukan hal penting berulang kali, kamu akan menjadi pemenang. “
Praktisi Buddhis tidak boleh mendasarkan hidup sendiri pada pujian dan fitnah orang lain, membiarkan pendapat orang lain mempengaruhi dirinya, dan hidup dalam kerisauan dan kesedihan setiap hari. Di dunia ini, jika terkadang kamu merasa malu, itu adalah ulahan dari hatimu sendiri. Kita praktisi Buddhis memiliki satu tujuan besar dalam hati kita. Apakah kehilangan gengsi lebih memalukan daripada menjadi binatang buas? Praktisi Buddhis tidak boleh melakukan perbuatan yang di luar batas, tidak boleh mempunyai pikiran delusi, tidak boleh melakukan perbuatan binatang di dunia. Yang hilang adalah keegoisan dan memperbaiki diri menjadi baik, dan selamanya akan terbebas dari Alam Neraka, Hantu Kelaparan, dan Alam Binatang. Ini adalah pilihan hidup.
Banyak orang yang menganggap bertobat itu sangat memalukan. Sebenarnya, bertobat adalah suatu kebijaksanaan. Jika seseorang bisa sering bertobat, dia bisa selalu membuat kemajuan. Seseorang yang bertobat setiap hari akan membuat kemajuan setiap hari. Selalu bertobat akan menjauhi kerisauan dan ketakutan.
Jika sebuah gelas berisi susu, orang akan mengatakan itu susu. Jika gelas ini berisi jus semangka, orang akan mengatakan itu jus semangka. Hanya ketika gelas ini kosong, orang baru akan melihat bahwa itu adalah sebuah gelas. Begitu pula ketika hati kita dipenuhi prasangka, harta dan kekuasaan, maka itu bukan lagi hati kita yang semula. Seringkali orang ingin memiliki banyak hal, tetapi setelah memilikinya, mereka tidak dapat menemukan dirinya sendiri dan tidak dapat memiliki dirinya sendiri. Hanya dengan membuang pikiran-pikiran yang mengganggu di dalam hati dan membersihkan segala keserakahan di dalam hati diri sendiri, barulah dia dapat melihat keberadaan sebenarnya dari gelas ini, baru dapat melihat keberadaan sifat dasar dan hati nurani yang sebenarnya.
Master sangat senang bisa bersama dengan semua orang, setiap hari bahagia dan senang hati membabarkan Dharma. Begitu banyak orang melafalkan paritta, memiliki aura yang begitu baik, ada berapa banyak di dunia? Kalian yang duduk di bawah hari ini, yang kalian terima adalah cahaya Buddha dan yang kalian miliki adalah aura Buddha. Jadi kalian akan memiliki masa depan yang cerah. Jika lima puluh tahun kemudian kita bisa duduk di Surga dan mendengarkan Dharma ajaran Buddha Sakyamuni, Guan Shi Yin Pu Sa, dan Bodhisattva Mahasthamaprapta, seperti ini setiap hari, semua Bodhisattva duduk di bawah, bahagia dan bebas dari rasa khawatir, menerima aura dari Bodhisattva, biarlah hati kita menyatu sepenuhnya dengan alam semesta. Pada saat itu, tingkat kesadaran spiritual kita akan meningkat. Pada saat itu, kita akan menjadi Bodhisattva yang sesungguhnya.
Orang-orang di seluruh dunia dapat mendengar Dharma, dan orang-orang di seluruh dunia dapat tercerahkan, betapa sukacitanya hati kita. Ada banyak obat yang baik di dunia ini, tetapi setiap obat yang baik hanya dapat menyembuhkan satu penyakit. Obat yang baik untuk jiwa bergantung pada obat kebijaksanaan dan welas asih, yang dapat menyelamatkanmu dari segala penyakit. Orang yang memiliki kebijaksanaan akan menjaga pikirannya ketika dia sendirian, yang merupakan kesempatan yang baik untuk refleksi diri. Ketika berbicara dengan orang lain, dia akan menjaga mulutnya dalam bergaul dengan orang lain, yang merupakan kesempatan baik untuk belajar dari orang lain, harus mengetahui bahwa semua orang adalah gurumu. Ingatlah, yang mengajarimu welas asih adalah orang suci, dan yang mengajarimu untuk mengendalikan diri adalah orang awam. Mengendalikan akan menanam benih kebencian di hatimu. Kita harus bisa menguraikannya, harus berwelas asih dan bersyukur, baru bisa menanam bunga teratai putih dan welas asih yang baik di hati.
Orang dirugikan bukanlah kerugian. Kehilangan nyawa barulah kerugian yang besar. Apa artinya menderita sedikit kerugian di dunia, dan apa artinya dibicarakan oleh orang lain hari ini? Kita harus memahami bahwa orang menanggung sedikit penderitaan, tidaklah menderita, masuk neraka barulah benar-benar menderita. Jika kamu dapat mengenal Dharma dalam hidup yang singkat ini, maka kamu adalah orang yang memiliki berkah dan kebijaksanaan yang besar. Keajaiban apa yang bisa terjadi jika membina pikiran? Membina pikiran, Master mengajari kalian satu cara terbaik yaitu dengan mengumpulkan jasa kebajikan sedikit demi sedikit, itu adalah kemampuan dan pengalaman dalam mengendalikan pikiran yang didapatkan melalui perjuangan melawan diri sendiri dalam kesulitan dan kerisauan. Ini barulah jasa kebajikan yang kamu kumpulkan.
Praktisi Buddhis tidak mengerti dan berpura-pura mengerti, ini akan membuat dirinya menjadi bodoh dan angkuh. Mengerti dan pura-pura tidak mengerti adalah bijaksana. Kita harus selalu rendah hati untuk belajar dari orang lain. Belas kasih yang besar berasal dari hati, potensi kesadaran berasal dari sifat dasar, dan cinta berasal dari tindakan. Sang Buddha berkata bahwa kita harus hidup dengan bahagia di saat ini. Mengapa Sang Buddha mengatakan kita harus hidup dengan bahagia di saat ini? Karena yang kita miliki sekarang adalah saat ini. Jika kamu memutuskan untuk berhenti mengejar berkah duniawi, kamu adalah orang yang tercerahkan dan kembali ke pelukan ibu.
Tidak mudah untuk melepaskan dan melihat melampauinya. Terkadang kita bisa melihat melampaui tetapi tidak bisa melepaskannya. Terkadang kita bisa melepaskan tetapi tidak bisa melihat melampauinya. Sangat sulit untuk menekuni Dharma di dunia, dan itu tergantung pada potensi kesadaran. Oleh karena itu, pencerahan adalah tujuan akhir seseorang. Potensi kesadaran adalah kunci yang memandu kamu untuk menghilangkan kerisauan di dunia, berharap semuanya bisa berpikiran terbuka dan mengerti, saya tidak perhitungan lagi, saya tidak masalah lagi terhadap hal apa pun, itu adalah pencerahan.
Ada tiga biksu yang tinggal di sebuah kuil, satu tua dan dua muda. Suatu hari, ketiga biksu itu duduk dan melafalkan paritta. Ketiga biksu tersebut merasa nyaman dengan dirinya sendiri. Peraturan Buddhisme saat melafalkan paritta harus menutup mata, melafalkan dalam hati, tidak berbicara, untuk menunjukkan ketulusan. Seorang biksu merasa terlalu bosan, jadi dia diam-diam membuka matanya, melihat langit tiba-tiba menjadi mendung, dia berkata, “Hari akan hujan.” Biksu yang lain segera mendorongnya dan berkata, “Jangan bicara.” Biksu tua tertawa dengan sangat bangga: “Kalian berdua sangat dangkal dalam pembinaan diri. Sebenarnya, saya telah melihat langit mendung sejak lama, dan saya tidak mengatakan apa-apa.” Membina pikiran harus membina hingga tidak ada keakuan. Praktisi Buddhis harus menghindari penderitaan dan memperoleh kebahagiaan ketika menghadapi penderitaan di dunia. Siapa yang membina pikirannya tanpa penderitaan? Harus membina hingga tidak ada lagi pemikiran dalam hatimu, maka kamu akan menjadi Buddha yang leluasa di dunia. Berharap semua orang harus mengurangi pemikiran, keserakahan, dan kebencian di dunia, sehingga akan berkurang kebodohan.
