Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 23 Juni 2014
Menjunjung Buddha Dharma untuk Mendorong Perdamaian Dunia, Memberikan Manfaat Kepada Semua Makhluk Hidup dengan Welas Asih, Mewujudkan Tanah Suci Jiwa Manusia dengan Pencerahan
Orang-orang di dunia setiap hari terikat oleh keakuannya sendiri, berfokus pada diri sendiri, tidak mendengarkan nasihat orang lain, menganggap dirinya benar, dan pemikirannya berpusat pada keakuannya. Berapa banyak jalan yang telah kita lalui dalam hidup, berapa banyak penderitaan yang kita alami, dan berapa banyak dosa yang kita tanggung, semuanya disebabkan oleh kebiasaan buruk karena ketidaktahuan. Orang yang memiliki berkah sedang menikmati berkah, tetapi mereka lupa untuk menciptakan berkah. Ketika menghadapi kemunduran dan kegagalan, lalu menyalahkan langit dan orang-orang. Yang menjebaknya adalah jebakan yang dibuat oleh dirinya sendiri, terjerumus ke dalamnya dengan kehendak sendiri, dan merasakan kesedihan yang menyakitkan. Sebagai manusia, kita harus mengangkat kepala dan melihat alam semesta, pikirkan tentang tingkat kesadaran spiritual sejati, itu adalah tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva. Tidak peduli dengan segala hal kecil di dunia, melepaskan ego pribadi dan mengutamakan kepentingan universal. Menggunakan tingkat kesadaran spiritual Bodhisattva yang mulia untuk menyelamatkan semua makhluk dan membuat dunia penuh dengan sinar mentari dan welas asih. Ini barulah ajaran Buddha Dharma yang benar-benar perlu dipelajari oleh orang-orang di dunia.
Kesadaran perlindungan diri orang-orang zaman sekarang tercampur dengan keegoisan. Jika ada keegoisan maka akan timbul keinginan egois. Tak seorang pun yang bersedia untuk menanggung jawab. Semua orang menolak untuk bertanggung jawab. Nafsu keinginan seseorang akan menyebabkan banyak karma buruk. Praktisi Buddhis harus membantu orang lain dengan sepenuh hati. Hanya tahu membina diri sendiri dan tidak menyelamatkan orang lain, maka akan menyakiti orang lain dan juga menyakiti diri sendiri. Oleh karena itu, praktisi Buddhis harus menyelamatkan diri sendiri dan orang lain. Ketika melihat orang lain dalam kesulitan, harus berusaha sekeras mungkin untuk membantu orang lain. Praktisi Buddhis adalah tidak mementingkan diri sendiri dan memiliki kebijaksanaan.
Oleh karena itu, banyak orang yang tidak memahami, menutup-nutupi kesalahan anak dan anaknya menjadi sangat egois ketika dia besar nanti, dia malah akan menindas orang tuanya. Ini adalah balasan karma dalam hidup. Seorang pendengar berkata kepada Master: “Anak saya baru berusia empat tahun, dan dia bisa mengutuk kata-kata kotor.” Saya berkata kepadanya: “Saat kalian bertengkar di depan anak, kalian bahkan tidak tahu harus berkata apa. Anak dipengaruhi oleh apa yang dia dengar dan lihat, dan seiring berjalannya waktu, dia pasti akan mengatakan kata-kata kotor.” Ini adalah Hukum Karma. Berharap semua orang memahami sebab dan akibat. Jangan pernah menanam benih sebab, maka selamanya tidak akan menerima balasan karma buruk.
Segala macam gunung, sungai, bumi, matahari, bulan dan bintang di alam semesta, hingga segala sesuatu di dunia, hewan, tumbuhan dan tubuh manusia, semuanya mempunyai rupa. Pemikiran manusia, prinsip, urusan manusia, perasaan suka, marah, sedih, dan bahagia, semuanya tidak memiliki rupa. Segala sesuatu yang memiliki rupa dan tidak memiliki rupa terbentuk dari perpaduan sebab dan musabab, terjadi karena sebab dan musabab, tidak mempunyai wujud nyata. Apakah kalian memiliki wujud nyata ketika tertawa? Suara tertawa tidak bisa ditangkap atau disentuh, hanya bisa didengar. Jodoh nidana tidak memiliki substansi wujud nyata, maka adalah kekosongan. Apakah ada wujud nyata ketika kalian sedang memikirkan masalah? Juga tidak ada. Pemikiran adalah hal yang tidak terlihat dan tidak bisa disentuh, semua ini adalah sifat kekosongan. Ketika Guan Shi Yin Pu Sa sedang mempraktikkan kekosongan Prajna, ia mengamati bahwa panca skhanda (lima kelompok unsur kehidupan) semuanya adalah kosong dan ilusi. Maka itu disebut panca skhanda adalah kosong. Rupa, perasaan, pikiran, tindakan dan kesadaran adalah unsur kosong. Berwujud dan tidak berwujud adalah rupa menjadi kekosongan.
Ajaran Buddha Dharma membuat orang tercerahkan. Banyak orang mengatakan bahwa mempelajari ajaran Buddha Dharma adalah untuk pergi ke Surga. Sebenarnya, mempelajari ajaran Buddha Dharma juga untuk menyelesaikan permasalahan yang dihadapi saat itu. Jika Bodhisattva tidak dapat membantu orang menyelesaikan kerisauan dan penderitaan di dunia, mengapa Sang Buddha menyebarkan agama Buddha? Mengapa Guan Shi Yin Pu Sa, Jigong Pu Sa, dan para Bodhisattva lainnya datang ke dunia untuk menyelamatkan manusia? Menyelamatkan orang berarti menyelamatkan hatinya. Ajaran Buddha Dharma adalah hukum dunia, merupakan metode kebijaksanaan terbaik untuk menyelamatkan manusia. Melakukan perbuatan baik setiap hari, adalah orang baik. Orang baik adalah melakukan perbuatan baik setiap hari, ini barulah orang baik dan perbuatan baik.
Menekuni Buddha, Dharma dan Xin Ling Fa Men, Master ingin kalian menggunakan tingkat kesadaran spiritual tanpa Aku untuk melepaskan keakuan, menyingkirkan kebencian diri. Ketika saya menghadiri pertemuan di PBB, seorang wakil presiden bertanya kepada saya: “Bagaimana kita dapat menggunakan agama Buddha untuk menjelaskan dan menghilangkan perang di dunia?” Saya mengatakan kepadanya: Ajaran Buddha Dharma adalah yang paling bijaksana. Menggunakan konsep agama Buddha akan sangat cepat menghilangkan perang, gunakan dua kata, yaitu “无我 wu wo — tanpa Aku”. Bahkan diri sendiri pun tidak ada, bagaimana datangnya perang? Kita harus membuat orang berhati baik, mengutamakan kepentingan universal, negara damai sejahtera, keluarga baru bisa harmonis dan bahagia. Inilah metode cinta negara dan bangsa. Inilah ajaran Buddhisme Mahayana.
Ada Bu Mary di Australia yang pergi ke pengadilan karena menerobos lampu merah. Hakim menatapnya dan bertanya: “Bu Mary, apakah Anda pernah menjadi guru sekolah dasar di Distrik Barat sebelumnya?” Ibu Mary sangat terkejut : “Bagaimana Anda tahu?” Hakim tersenyum: “Saya pernah menjadi murid Anda.” Ibu Mary tersenyum, dia sangat santai. Hakim berkata: “Ibu Mary, saya pernah membuat kesalahan dalam PR, dan Anda menghukum saya untuk menyalinnya seratus kali. Saya telah menunggu hari ini selama dua puluh tahun , dan sekarang saya menghukum Anda untuk menyalin seribu kali “Saya menerobos lampu merah itu salah, dan saya tidak akan pernah melakukannya lagi.” Kisah ini menceritakan kepada semua orang bahwa kebencian seseorang akan menyebar di hatinya. Memaafkan orang lain berarti memaafkan diri sendiri, membantu orang lain berarti membantu diri sendiri, mencintai semua makhluk berarti mencintai diri sendiri. Selalu melafalkan paritta Xin Jing berarti selalu melafalkan welas asih. Sebenarnya apa yang dibina dalam membina pikiran? Tujuan dari membina pikiran adalah untuk membina masa lalu, masa depan, dan masa kini, sehingga dapat memperoleh kedamaian dan berubah pikiran. Marilah kita mengucapkan prinsip-prinsip Buddhis dan mengucapkan kata-kata mutiara Buddhis di dunia. Kita harus memiliki pemikiran Buddha dan pemikiran yang benar, berperilaku sebagai Buddha dan berperilaku yang benar, memiliki pemikiran yang adil. Kita harus berbicara dengan baik dan masuk akal, sehingga kita dapat benar-benar membina diri di dunia, baru bisa benar-benar mendapatkan, baru bisa benar-benar menjadi seorang Bodhisattva.
Ada seorang samanera kecil yang baru saja pergi ke kuil untuk melafalkan paritta dan duduk bermeditasi. Setengah tahun kemudian, dia merasa dirinya belum membuat kemajuan apa pun, jadi dia bertanya: “Master, saya melafalkan paritta dan duduk bermeditasi setiap hari, mengapa saya tidak merasakan diriku tercerahkan? Kapan saya bisa mencapai pencerahan?” Biksu berkata: “Pertumbuhan dan perubahan pribadi sering kali tidak terasa oleh diri sendiri. Selama kamu mendalaminya, kamu pasti ada perubahan.” Samanera kecil berkata: “Saya melafalkan beberapa paritta setiap hari, khawatir tidak akan membuat banyak kemajuan.” Biksu berkata: “Ada pohon elm besar di luar pintu. Saya menanamnya dan menguburnya di dalam tanah dua puluh tahun yang lalu. Ia berakar dan bertunas, tumbuh menjadi pohon yang menjulang tinggi dan tetap di tempat yang sama. Banyak hal di dunia ini tidak perlu terlalu menonjol dan heboh, namun tetap bisa tumbuh dan berbuah. “Kita dalam menekuni Dharma dan berperilaku sebagai manusia, selama kita sepenuh hati demi semua makhluk, memikirkan untuk orang lain dengan baik, hanya menanam, tanpa memikirkan apa yang akan dituai, kita pasti akan mendapatkan hasil yang lebih besar.
Di atas tanah, bibit, bunga dan rerumputan tumbuh secara diam-diam. Di dalam masyarakat, jiwa manusia juga tumbuh dan berkembang secara diam-diam. Agar jiwa dapat tumbuh menjadi pohon yang menjulang tinggi di lingkungan luar, diperlukan keteguhan untuk terus berkorban baru bisa memperoleh sesuatu. Dalam hidup, beberapa orang akan berkata: “Saya sudah berusaha untuk melakukan yang terbaik, mengapa mereka masih belum puas, mengapa mereka masih memperlakukan saya seperti ini?” Master berkata: “Kita harus menganggapnya sebagai jodoh pendukung. Urusan manusia itu sulit, saling bergaul satu sama lain adalah sebuah ujian. Bagaikan pisau tidak diasah tidak tajam, dan batu giok tidak bisa dibentuk jika tidak dipoles. Praktisi Buddhis tidak hanya harus bekerja keras, namun juga harus sepenuh hati. Terkadang kita perlu membiarkan kerisauan ini memasuki pikiran kita, dan kemudian menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk membebaskan dan menyelesaikan kerisauan ini. Inilah pepatah dalam dunia Buddhis: “Kerisauan adalah Bodhi.”
Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik. Hati harus mengarah kepada Bodhisattva. Master mengajari kalian sebuah trik. Mengapa kamu tidak bisa menyelesaikan masalah duniawi di dunia? Karena kamu adalah seorang manusia, maka kamu tidak dapat menyelesaikan masalah duniawi. Misalnya, jika kamu adalah seorang siswa SD, kamu tidak dapat mengerjakan PR SD, harus ada seorang siswa SMP yang membantumu. Jika kamu adalah siswa SMP, harus ada mahasiswa yang membantumu. Kita adalah manusia di dunia, jadi tentu saja kita tidak bisa menyelesaikan permasalahan di dunia. Jika kita membina diri menjadi seorang Bodhisattva. Coba kalian pikirkan, Bodhisattva di dunia, apakah ada masalah yang tidak dapat diselesaikan di dunia?
Melampaui adalah terlepaskan. Dua orang sedang bertengkar, tidak tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Ketika kamu melepaskan diri dari mereka barulah kamu bisa membedakan siapa yang benar dan siapa yang salah. Kita meninggalkan kerisauan, meninggalkan kemurungan dan kesedihan dunia, kita baru menyadari bahwa dunia ini adalah ilusi. Karena dunia tidak bisa memberi kita kebahagiaan yang kekal, hanya bisa mendatangkan kerisauan yang kekal. Inilah yang dikatakan Bodhisattva: “Dunia adalah alam kerisauan.” Semua orang mencari jalan menuju kebahagiaan abadi, dan itu ada di Surga. Berharap kalian dapat membina diri dengan baik. Kalian pasti akan bahagia selamanya.
