Melepaskan Keakuan, Tiada Keegoisan dan Ketakutan, Membina Diri Keluar dari Keduniawian (Bagian 1) 放下自我 无私无畏 修出世法(上)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Malaysia, 1 Maret 2014

Melepaskan Keakuan, Tiada Keegoisan dan Ketakutan, Membina Diri Keluar dari Keduniawian (Bagian 1)

Terima kasih kepada semua biksu atas bantuannya. Terima kasih kepada semua teman se-Dharma, kita memiliki jodoh untuk berkumpul bersama di Malaysia hari ini untuk menikmati sukacita Dharma.

Sifat asli seseorang adalah awal mula manusia. Ketika seorang anak keluar bersama orang tuanya, melihat hujan turun dan burung beterbangan, anak akan berkata kepada orang tuanya: “Bu, apakah burung-burung itu akan basah? Mereka tidak punya pakaian, apakah sayapnya akan basah?” Melihat pengemis berlutut dan sedang mengemis. Dia memandang mereka dengan kasihan, berharap ayahnya akan memberi mereka sedikit uang. Sang ayah berkata kepada pengemis itu: “Baiklah, baiklah, berikan kepadamu!” Anak itu berkata: “Ayah, sikapmu sangat buruk. Meskipun sudah memberi uang, tetapi sikapmu sangat buruk. “Hati orang-orang masih baik ketika mereka masih kecil. Bagaimana kita bisa menjaga kebaikan seperti itu? Ini yang paling penting.

Hati kita manusia harus damai, yaitu seimbang, kita harus memahami hati kita sendiri. Kedamaian membuat pikiran menjadi seimbang. Ada batasan dalam melakukan hal apa pun, maka bisa damai. Ada batasan dalam makan. Dalam melakukan sesuatu juga harus ada batasnya. Tidak peduli apa pun yang dilakukan, melakukannya sampai batas mana, tidak boleh melebihi, maka ada batasannya. Banyak orang yang tidak memiliki keseimbangan, terus serakah sehingga mengotori hatinya sendiri, maka itu disebut “korupsi”. Manusia tidak boleh serakah. Jika ia serakah, ia akan menjadi korup di kemudian hari. Berapa banyak orang yang mendapat masalah, bukankah karena keserakahan? Keserakahan yang berlebihan akhirnya tercemari. Hukum karma itu nyata dan akurat. Apabila tidak memiliki pengendalian diri ketika serakah, tunggu hingga kamu menjadi korup, maka balasan karma akan segera terlihat. Oleh karena itu, praktisi Buddhis harus selalu mempunyai titik keseimbangan. Hari ini saya mempunyai keluarga, hari ini saya mempunyai anak. Pikirkanlah berapa banyak keluarga yang terpecah. Pikirkanlah berapa banyak orang yang menderita di periode akhir Dharma, bagaimana kita bisa tidak mengendalikan diri kita? Kita harus mengerti untuk bersikap tidak memihak, berlebihan akan tidak baik. Ada pepatah dalam bahasa Inggris “too much”, too berarti “terlalu”. Ketika sesuatu berlebihan, itu berarti “terlalu”, terlalu banyak, terlalu kenyang… Segera kamu akan kehilangan titik keseimbangan dan kehilangan diri.

Sebagai manusia, kita selamanya harus mengerti untuk melepaskan keakuan. Bagaimana Li Ka-shing dari Hong Kong bisa menjadi orang terkaya saat ini? Tidak peduli dengan perusahaan mana dia berbisnis, dia akan selalu berdiri dengan rendah hati di pintu lift untuk mengantar tamu pergi, terus mengantar mereka ke dalam lift. Ketika lift ditutup, dia masih di sana sambil membungkuk. Master akan memberi tahu kalian bagaimana perilaku bos besar sebuah perusahaan di Australia. Suatu hari dia mengundang banyak orang untuk makan malam, semua orang mengobrol dengan gembira. Semua orang sangat senang, dan hidangannya sangat lezat. Kokinya selalu menyajikan hidangan yang sangat lezat untuknya. Hari ini dia berhenti makan di tengah waktu makan dan berkata, “Kalian pergi ke dapur dan cari koki.” Semua orang mengira adegan selanjutnya akan sangat memalukan. Koki itu sangat ketakutan ketika dia datang. Dia tidak tahu apa yang akan dikatakan bosnya kepadanya, berdiri dengan cemas. Bos berkata kepadanya: “Saya menyuruhmu ke sini bukan untuk mengatakan bahwa kamu tidak memasak dengan baik. Kamu memasak dengan sangat baik. Karena saya sekarang sudah tua dan tidak bisa makan terlalu banyak, jadi saya secara khusus menyuruhmu datang untuk memberi tahumu, saya hanya bisa makan setengahnya, bukan karena kamu tidak memasak dengan baik. Jika saya mengembalikan sisa makanan ini, kamu akan sangat sedih di dapur. Kamu akan berpikir apakah bos tidak mau kamu lagi. Kamu akan mengira dirimu tidak pandai memasak.” Hidup harus memikirkan orang lain. Seseorang yang sukses, orang yang beretika, orang yang bermoral, dia akan selalu memikirkan orang lain terlebih dahulu. Tetapi kita selalu memikirkan diri kita sendiri terlebih dahulu dalam segala hal yang kita lakukan. Seseorang yang memikirkan dirinya sendiri sepanjang hari adalah egois. Seseorang yang memikirkan orang lain sepanjang hari adalah tiada egois. Orang yang tidak egois baru tidak takut, yaitu “tiada rasa takut”. Karena dia tidak memikirkan diri sendiri hanya memikirkan orang lain. Dia tidak memiliki motif egois, jadi dia tidak takut. Tiada keegoisan baru akan tiada ketakutan. Tiada ketakutan baru bisa tiada rasa takut. Mengapa seseorang sering takut? Karena dia terlalu egois. Dia takut orang lain akan memandang rendah dirinya, takut orang lain akan mengolok-oloknya, takut pada segala hal di dunia. Dia akan segera menderita autis.

Orang tidak boleh mengurung pemikirannya pada satu hal saja. Banyak orang mengurung pemikirannya hanya pada satu hal demi keuntungannya sendiri. Seseorang harus berdiri di ketinggian baru bisa melihat yang jauh. Jika seseorang memasuki air berlumpur, dia tidak akan pernah bisa melihat dengan jelas apa yang dia lakukan. Ketika kamu melihat orang lain kebingungan dan memiliki pikiran khayalan, pikirkanlah apakah kamu dapat menyingkirkan halangan karma buruk ini pada dirimu? Hanya dengan melompat keluar dari tingkat kesadaran spiritual ini, seseorang baru dapat mencapai tingkat kesadaran spiritual yang lebih tinggi. Semua orang sedang bertengkar tetapi kamu tidak, kamu akan tahu siapa yang benar dan salah. Jika kamu juga merupakan orang yang bertengkar, maka kamu selamanya tidak akan tahu apakah yang kamu lakukan itu benar atau salah. Setiap orang memiliki keluhan, kecemburuan, dan kecurigaan. Kecurigaan itu ibarat jaring yang menjebak kita semua sehingga membuat kita sulit membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Terkadang orang yang mengurungkan dirinya sendiri, mencelakai dirinya sendiri. Seorang pasien sakit jiwa berkata kepada orang normal: “Kami, pasien sakit jiwa, sebenarnya pada biasanya kami sangat jelas. Terkadang kami tidak jelas itu karena kami melekat, karena kami melekat pada suatu hal tertentu dan tidak dapat berpikiran terbuka, itulah mengapa kami menjadi pasien sakit jiwa.” Coba pikirkan, berapa banyak dari kalian yang hidup dalam kemelekatan sekarang, berapa banyak orang yang hidup setiap hari demi kemelekatannya sendiri, sungguh kasihan. Anakku, aku harus begini-begitu. Suamiku, aku tidak mengizinkannya bagaimana dan bagaimana. Aku harus bagaimana dan bagaimana …. ; Ketika tujuan ini tidak tercapai, semangatnya akan runtuh, kemauannya akan sangat melemah, gangguan endokrin, dan kemudian tubuh akan lemas. Oleh karena itu, sebagai manusia kita boleh berpikiran buntu. Apa yang paling dikhawatirkan oleh Guan Shi Yin Pu Sa dan semua Bodhisattva pada kita? Yaitu hati kita. Bodhisattva selalu memperingatkan kita: membina perilaku dan pikiran. Banyak orang membina diri sambil membina pikirannya, tetapi harus ingat bahwa jika kamu tidak membina pikiran dengan baik, maka perilakumu tidak akan menghasilkan banyak hal. Hanya ketika pikiranmu sudah tersadarkan, perilakumu baru akan benar-benar menjadi perbuatan baik yang memiliki potensi kesadaran, baru akan menjadi jasa kebajikan.
Pikirkan seberapa besar pembalasannya. Kini para ilmuwan telah mengatakan bahwa pada akhir abad ini, kanker akan meledak. Beberapa puluhan tahun yang lalu, ketika sebuah kasus kanker ditemukan, rasanya seperti menghadapi musuh yang tangguh; sekarang dengan mudah terdeteksi kanker. Bukankah ini memberi tahu kita satu kebenaran? Banyak orang menderita kanker. Setelah mengetahui kesalahan yang mereka lakukan, setelah memahami sebab dan akibat, mereka belajar ajaran Buddha dan Dharma sepenuhnya, menyelamatkan semua makhluk, dan melepaskan keakuan, kankernya akan segera sembuh. Namun beberapa orang, hari ini tumbuh kanker di bagian ini, lalu dipotong, bagian ini sudah sembuh, tetapi akarnya tidak dibasmi, maka selanjutnya kanker akan mulai tumbuh di bagian lain. Secara medis, kanker adalah sejenis energi negatif dari sistem kekebalan tubuh, ketika seseorang tidak dapat menahan pengikisan energi negatif tersebut, maka sel kankernya akan berkembang.

Orang-orang hidup di dunia ini sepenuhnya dengan mengandalkan pengembangan diri, kemandirian, dan penghancuran diri. Orang yang kuat dapat menyelesaikan banyak hal. Jika kita tidak dapat mengendalikan diri sendiri, kita adalah budak nafsu keinginan. Banyak orang mudah untuk mempunyai niat, saya harus bagaimana dan bagaimana, namun dengan cepat mereka akan tertutupi oleh nafsu keinginan tersebut. Kalian adalah teman-teman se-Dharma yang belum menjadi biksu, kalian adalah umat awam, kini kalian mempunyai tanggung jawab yang berat, harus membina diri dengan baik. Kebiasaan, ketidaktahuan, dan berbagai macam pemikiran yang kotor merusak tubuh kalian, seperti halnya sel kanker. Setiap hari akan membuatmu menjadi semakin tidak bisa berpikiran terbuka dan sedih, bahkan tidak tahu apa yang sedang diri lakukan, betapa menyedihkan. Setiap hari menderita karena penyakit fisik, menderita karena hubungan asmara, dan menderita karena pemikiran sendiri, yang pada akhirnya menyebabkan seluruh sistem kekebalan tubuh menjadi hancur. Berharap kalian harus berpikiran terbuka dan mengerti bahwa anak dan cucu akan memiliki keberkahan masing-masing, suami istri disebabkan oleh jodoh, segalanya adalah jodoh. Tanpa jodoh tidak bisa menjadi suami istri, tidak bisa datang ke Alam Manusia. Hari ini, Xin Ling Fa Men membuat kita menjalin jodoh yang baik dengan Guan Shi Yin Pu Sa. Berapa banyak orang di seluruh dunia yang menekuni Xin Ling Fa Men. Semuanya memiliki jodoh yang sangat erat dengan Guan Shi Yin Pu Sa. Kita harus menghargai jodoh yang telah kita kumpulkan bersama Guan Shi Yin Pu Sa dalam setiap kehidupan. Kita tidak perlu takut. Kita percaya bahwa Guan Shi Yin Pu Sa akan mengabulkan semua permohonan kita dan pasti akan melindungi kita, membuat kita keluar dari keterpurukan, membuat tingkat kesadaran spiritual kita terus meningkat, dan terbebas dari Alam Manusia.

Orang harus memahami mengapa mereka hidup. Banyak orang hidup hanya demi sedikit uang. Demi kelangsungan hidupnya sendiri, yang dia kehilangan adalah periode waktu yang menyenangkan di dunia. Alam manusia adalah suatu tempat transit. Alam Manusia adalah sebuah jalan yang bisa langsung menuju ke Alam Surga, dan juga merupakan jalan yang bisa membuatmu masuk ke Alam Neraka. Orang-orang telah menggali begitu banyak Neraka. Neraka disebabkan oleh hati manusia. Neraka disebabkan oleh ketidakmampuan dirimu untuk memahami banyak hal. Berharap semua orang harus memahami untuk menekuni Dharma dengan sepenuh hati. Pikiran kita tidak boleh menciptakan karma lagi. Kita sudah terlalu menderita di masa lalu. Kita dulu tidak menangani anggota keluarga dengan baik, tidak mengurus anak-anak kita dengan baik dan tidak menganggap semua orang dengan serius. Kita tidak mengurus semuanya dengan baik. Kita bahkan lupa bagaimana untuk mangamati hati kita sendiri. Kita telah kehilangan hati nurani dan sifat dasar. Kita mengejar keinginan materi setiap hari dan terus-menerus serakah. Keserakahan, kebencian, dan kebodohan, tiga ular beracun ini terus menelan jiwa kita. Apakah keserakahan ada batasnya? Ketika kita masih kecil, kita serakah terhadap hal-hal baik di sekolah. Ketika kita mencapai usia paruh baya, kita serakah terhadap keluarga, serakah terhadap semuanya. Ada sebuah perusahaan mobil melakukan percobaan untuk melihat betapa serakahnya hati orang. Meletakkan sebuah mobil di jalan dan dengan sengaja mengatakan bahwa mobil itu rusak. Banyak mobil yang lewat berhenti, ada yang melepas setir, dan ada pula yang melepas satu ban… Hanya dalam waktu singkat empat jam, mobil BMW yang sangat bagus dibongkar tinggal sisa cangkangnya, dan diantara orang yang membongkar mobil tersebut, banyak yang mengendarai Mercedes-Benz. Keserakahan tidak membedakan kaya atau miskin, itu disebabkan oleh sifat dasar. Orang harus memahami “Saya tidak menginginkannya”, Hal apapun “Saya tidak memintanya”, “Saya tidak apa-apa”, “Saya bisa melepaskan hari ini. Kamu mendapatkannya, saya merasa senang. Saya tidak mau, saya sudah cukup.” Sering mengucapkan kata-kata ini, membuat tingkat kesadaran spiritualmu meningkat, membuat Bodhisattva selalu berada di sisimu.