Menjunjung Buddha Dharma untuk Mendorong Perdamaian Dunia, Memberikan Manfaat Kepada Semua Makhluk Hidup dengan Welas Asih, Mewujudkan Tanah Suci Jiwa Manusia dengan Pencerahan (Bagian 1) — 以佛法推动世界和平 以慈悲实践利益众生 以觉悟实现人类精神净土化 (1)

Acara Pertemuan Umat Buddhis Sedunia di Hong Kong, 23 Juni 2014

Menjunjung Buddha Dharma untuk Mendorong Perdamaian Dunia, Memberikan Manfaat Kepada Semua Makhluk Hidup dengan Welas Asih, Mewujudkan Tanah Suci Jiwa Manusia dengan Pencerahan

Orang pasti akan terselamatkan. Selama hati kita benar dan pikiran kita benar, kita pasti akan mendapatkan Dharma yang benar, pasti akan membuat dunia ini penuh dengan sinar mentari dan harapan. Semakin banyak kebaikan di dunia, semakin sedikit kejahatan yang ada. Praktisi Buddhis harus belajar kebijaksanaan. Kebijaksanaan mempunyai tiga hal yang istimewa: pertama, orang yang mempelajari kebijaksanaan harus memahami bahwa harus murah hati dalam melakukan sesuatu dan berperilaku yang adil; kedua, berdana ucapan, mengucapkan kata-kata yang baik dan benar, dan tidak berbohong; ketiga, berpikir untuk tidak mendapatkan, berpikir apa yang dipikirkan semua makhluk.

 

Praktisi Buddhis pertama-tama harus belajar memaafkan orang lain. Memaafkan orang lain akan menghasilkan keajaiban dan bisa memulihkan asmara yang hilang; memaafkan orang lain akan memahami orang lain, bagaikan pelita yang menerangi hatimu, membuatmu melepaskan kebencian, dendam dan iri hati. Dengan memiliki pikiran memaafkan orang lain, maka akan terbuka satu jalan sehat untuk hatimu.

 

Bencana dunia sering terjadi, hanya satu wabah pes yang terjadi tiga kali di seluruh dunia, dengan jumlah kematian yang sudah melebihi 100 juta jiwa, lebih banyak daripada jumlah total korban jiwa dalam perang sepanjang sejarah. Kebencian manusia sekarang telah berubah menjadi pembunuhan massal terhadap orang yang tidak bersalah; Keserakahan, menguntungkan diri sendiri dengan mengorbankan orang lain; Kebencian, menyakiti orang lain, rela melakukan apa pun demi kepentingan diri sendiri. Karma ini telah menyebabkan manusia saling menyakiti dan tidak percaya. Apa yang dikatakan oleh Buddha dan Bodhisattva? Sang Buddha berkata bahwa makhluk hidup demi kepentingan dirinya sebenarnya adalah sumber dari segala penderitaan.

 

Harta terbesar dalam hidup adalah kesehatan tubuh. Meskipun kamu memiliki kekayaan, jika tubuhmu sakit, saat menikmati kekayaan itu pun kamu akan merasakan penderitaan dalam kepemilikan. Kekayaan dalam kehidupan adalah kepuasan. Kemenangan terbesar adalah tidak marah, tidak benci dan tidak dendam, sehingga orang lain tidak bisa berbuat apa-apa padamu. Pencapaian terbesar adalah melepaskan kemelekatan, bersikap santai, penuh kebijaksanaan, dan tersenyum menyikapi kehidupan.

 

Kebahagiaan ada di dalam hati kita, bukan sesuatu yang dicari dari luar. Orang yang mencarinya seringkali tidak mendapatkannya, dan malah akan berubah menjadi kerisauan. Berharap semua orang harus memahami bahwa kebahagiaan adalah suatu perasaan alami setelah terbuka pikiran kita.

 

Setiap orang memiliki 14 miliar sel otak yang tersembunyi di korteks otak. Sel-sel otak ini akan berkembang menjadi bakat, dan kebijaksanaan serta kekuatan akan dimulai dari sini, inilah potensi manusia. Memahami ajaran Buddha Dharma dan menggali potensi diri dalam lubuk hati, maka akan memiliki sumber kebijaksanaan. Itu adalah sifat dasar dan kekuatan moral manusia.

 

Buddha Sakyamuni pernah bertanya kepada murid-muridnya, bagaimana agar setetes air tidak menjadi kering? Para murid tidak dapat menjawabnya. Sang Buddha berkata bahwa setetes air harus dimasukkan ke dalam sungai, danau, dan laut. Praktisi Buddhis harus mengintegrasikan kebijaksanaan pribadi ke dalam kebijaksanaan Bodhisattva dan mengintegrasikan welas asihnya ke dalam masyarakat, dengan begitu baru bisa benar-benar memiliki kebijaksanaan Bodhisattva. Tidak mudah untuk mengintegrasi diri ke dalam semua makhluk. Oleh karena itu, sebagai manusia, kita harus benar-benar meneladani maha welas asih Bodhisattva, mengintegrasikan sedikit kekuatan manusia ke dalam masyarakat, dan mencintai negara. Hanya jika negaranya baik barulah bangsanya menjadi baik, keluarganya bisa menjadi baik, dan warganya baru bisa menjadi baik. Begitu juga dengan konsep yang dikatakan dalam agama Buddha, yakni menyelamatkan diri sendiri baru bisa menyelamatkan orang lain. Konfusianisme dalam budaya tradisional Tiongkok mengatakan, “Bagaimana Anda bisa mengoreksi orang lain jika Anda sendiri tidak benar?” Ketua Xi berkata, “Untuk menempa besi, pertama-tama diri sendiri harus menjadi kuat. Hanya dengan menjadi patriotik, barulah bisa mencintai diri sendiri.” Praktisi Buddhis harus mengintegrasikan kebijaksanaan pribadi ke dalam kebijaksanaan Bodhisattva, mengintegrasikan welas asih diri sendiri ke dalam seluruh masyarakat. Dengan begitu, barulah bisa benar-benar memiliki kebijaksanaan Bodhisattva.

 

Praktisi Buddhis harus mempunyai keyakinan yang benar dan berhati-hati dalam berteman. Terlalu banyak berteman, karena beragam baik dan buruk, kadang bisa berbahaya dan tidak bermanfaat. Praktisi Buddhis harus memilih teman yang baik, harus berteman dengan orang yang bijak. Berharap semua orang memahami untuk memiliki Buddha di dalam hati, banyak menjalin jodoh baik secara luas dan menjauhi jodoh buruk.

 

Di masyarakat ini, angka perceraian semakin tinggi. Majalah Pernikahan Dunia pernah mencatat bahwa setiap hari terdapat 40.000 keluarga mengalami keretakan pernikahan. Keegoisan orang-orang semakin tinggi, hanya memikirkan diri sendiri, terlalu perhitungan dalam hidup, tidak dapat memenuhi kebutuhan materi mereka. Berapa banyak orang yang menyesal setelah keretakan keluarganya? Orang selalu tersadarkan tiba-tiba ketika kehilangan. Tidak ada obat penyesalan di dunia. Saat kita menyesal, semuanya telah pergi meninggalkan kita. Setelah menekuni Dharma, praktisi Buddhis mempunyai obat penyesalan, yaitu “Li Fo Da Chan Hui Wen”.

 

Praktisi Buddhis memperlakukan segala sesuatu dengan welas asih, menggunakan kebijaksanaan untuk menguraikan kerisauan. Bersyukur atas apa yang telah dilakukan orang lain, dan menggunakan semangat Buddha “orang lain terluka saya ikut merasakan sakitnya” untuk menguraikan bencana dan memahami kehidupan. Seorang pria bertanya kepada Guru Zen bagaimana cara menghilangkan penderitaan. Guru Zen menaburkan garam ke dalam secangkir air. Airnya menjadi asin dan pahit. Guru Zen kemudian menaburkan lebih banyak garam ke dalam danau. Air danau tetap jernih dan manis. Guru Zen berkata: “Penderitaan adalah garam, dan wadahnya menentukan rasa asinnya. Hati itu seperti wadah. Itu tergantung apakah hatimu bersedia menjadi sebuah cangkir, sebuah danau, atau laut.” Para murid ajaran Xin Ling Fa Men, Master berharap kalian berlapang dada, betapapun asin juga adalah manis.

 

Banyak hal di dunia ini yang mempunyai hukum. Hukum kedua Newton adalah hukum percepatan, sedangkan hukum agama Buddha adalah Hukum Karma (Sebab-Akibat). Menanam sebab mendapatkan akibat, ada sebab pasti ada akibat. Dalam hidup, kita setiap hari terjerat dalam benar dan salah. Sebenarnya, kita sedang mencari pandangan hidup yang sesuai dengan mentalitas kita, yakni apakah itu bermanfaat bagi diri kita, ada kepentingan dan manfaatnya untuk dipertimbangkan. Banyak orang yang sedang membohongi dirinya sendiri. Kehidupan seseorang adalah menenun jaring yang menutupi dirinya sendiri. Orang yang hidup demi dirinya sendiri setiap hari adalah pencipta masalah bagi dirinya sendiri. Berharap semua orang tidak memilikirkan untuk diri sendiri, tetapi harus memikirkan semua makhluk, baru bisa menjauhi penderitaan dan kerisauan. Praktisi Buddhis hendaknya mempelajari ajaran Buddha Dharma dengan baik sekarang tanpa ragu-ragu, agar tidak ada penyesalan di sisa hidup kita nanti.

 

Orang yang memiliki kebijaksanaan – orang bijak tahu bahwa dunia ini adalah ilusi dan harus segera meninggalkannya. Orang bodoh menganggap dunia ilusi ini sebagai dunia nyata. Seseorang yang tidak memahami kebenaran hidup, dunia baginya adalah sebuah hukuman, setiap hari menjalani kehidupan yang penuh penderitaan. Sebelum seorang teman se-Dharma mulai menekuni Dharma, orang lain berhutang 8 juta kepadanya, utang 8 tahun belum dibayar, dan masih dalam proses hukum, dia sangat menderita. Setelah menekuni Dharma, dia berkata, “Sudahlah, saya berhutang padanya di kehidupan sebelumnya.” Master menyuruhnya untuk mencoba melafalkan “Jie Jie Zhou” dan “Xin Jing”. Alhasil, pihak lain berinisiatif membayar 8 juta kepadanya. Tidak serakah, maka akan mendapatkannya. Semakin serakah akan semakin miskin. Orang yang tidak serakah barulah orang yang benar-benar memiliki kebijaksanaan dan orang yang akan mendapatkan.

 

Takdir dan keberuntungan adalah dua kata. Takdir mengacu pada nasib baik dan buruk, yang tidak bisa dikendalikan oleh manusia, yaitu takdirmu. Keberuntungan adalah mengandalkan kekuatan Buddha untuk mengendalikan dan mengubah takdirmu sendiri, yaitu takdir keberuntungan. Takdir keberuntungan praktisi Buddhis adalah “menggerakkan takdir”. Kita tahu untuk memahami takdir dan mengubah keberuntungan.