Mengetahui Ketidakkekalan Dunia dengan Kebijaksanaan Bodhi, Membina Perilaku dalam Kehidupan Keduniawian dengan Pikiran Keluar dari Keduniawian (Bagian 2) — 以菩提智慧识人间无常 以出世之心修入世之行 (二)

Seminar Dharma Sydney, 10 Agustus 2014

Mengetahui Ketidakkekalan Dunia dengan Kebijaksanaan Bodhi, Membina Perilaku dalam Kehidupan Keduniawian dengan Pikiran Keluar dari Keduniawian

Kita manusia sepanjang hari ingin mendapatkan, tetapi tidak mau memberi, orang tidak memahami untuk memberi, maka tidak bisa mendapatkannya. Kita harus belajar untuk memberi terlebih dahulu, ini adalah welas asih. Membawakan welas asih kepada orang lain terlebih dahulu, dan kemudian baru akan memperoleh kebijaksanaan. Dengan memberi maka akan mendapatkan, ini adalah konsep kebenaran. Orang yang belajar memberi akan selalu mendapatkan, berharap semua orang memahami prinsip-prinsip Buddha, ini juga merupakan hukum sebab dan akibat. Praktisi Buddhis harus selalu mengatakan apa yang dirinya ketahui dan melakukan hal yang seharusnya dilakukan. Kemurnian manusia selalu berupa selembar kertas putih, tidak ternoda oleh debu apa pun. Jangan biarkan kekurangan-kekurangan itu tinggal di dalam hatimu, apabila tertinggal, maka tidak akan menjadi murni.

 

Orang-orang di abad ke-21 tidak memiliki perasaan krisis. Krisis terbesar dirinya adalah tidak merasakan krisis. Melihat orang lain mengalami kecelakaan pesawat, merasa itu bukan urusan dirinya, dimana suatu hari nanti tiba giliranmu, maka kamu sudah terlambat. Melihat orang lain mengidap kanker merasa itu bukan urusan saya, tidak merasakan krisis. Melihat keluarga orang lain hancur, masih terasa senang. Pikirkan, jika suatu hari nanti itu giliranmu, maka kamu akan menderita. Kita harus menekuni Dharma dan membina pikiran untuk mencegah terjadinya krisis pada diri kita. Orang lain tidak menekuni Dharma, orang lain akan memiliki bencana. Kamu harus mengganti sepatu terlebih dahulu sebelum kamu dapat melarikan diri keluar dari mulut harimau. Hanya orang yang menyelamatkan dirinya terlebih dahulu baru bisa menyelamatkan orang lain.

 

Pikiran setiap orang memiliki banyak celah, yaitu prasangka manusia, kecemburuan, spekulasi, kepengecutan, ketidaksabaran, dan kebencian. Ketidaksempurnaan jiwa tidaklah menakutkan, yang menakutkan adalah ketika mengetahui ada kebocoran, namun tidak mau memperbaikinya, maka akan semakin besar kebocorannya. Ketidaksempurnaan jiwa dapat diperbaiki sepenuhnya, harus menggunakan kebijaksanaan pikiran yang baik. Jangan terlalu impulsif dan banyak bersikap tenang, lebih banyak toleran dan kurangi kecemburuan, lebih banyak memaafkan dan mengurangi kebencian terhadap orang lain, ini adalah mentalitas baik dari para praktisi Buddhis. Sikap optimis berasal dari toleransi dan kemurahan hati. Pikiran indah berasal dari sikap penuh perhatian. Selama seseorang memahami orang lain dan melihat melampaui banyak hal, ia akan memiliki pikiran yang indah.

 

Kita tidak berdebat atau berebut terhadap hal keduniawian.  Segala sesuatu yang kita perebutkan adalah palsu, namun yang kita bina adalah nyata. Menggunakan keadaan yang sulit di dunia untuk mengasah tekadmu. Perlakukan hatimu sebagai tempat peleburan yang besar, segala hal buruk yang masuk ke dalam hatimu akan melebur, seperti halnya lautan, betapapun kotornya air yang sampai di laut, tetap akan menjadi biru. Sebesar apapun masalahnya sampai di dalam lautan pikiran, ia akan menjadi tenang dan damai, ini barulah mentalitas praktisi Buddhis. Penderitaan adalah bahan bakar yang meningkatkan kepribadian. Karena kita telah datang ke dunia, maka jangan takut akan kesulitan atau masalah; karena kita telah datang ke dunia, maka kita harus memperlakukannya dengan baik. Gunakan mentalitas yang baik dan kebijaksanaan Bodhisattva untuk menyelesaikan semua kerisauan di dunia, inilah mentalitas praktisi Buddhis.

 

Sebuah Handphone kelas atas, 70% fungsinya tidak berguna; Sebuah mobil kelas atas, 70% kecepatannya mubazir; Sebuah rumah mewah, 70% areanya menganggur; Banyak aktivitas sosial, 70% diantaranya adalah membosankan;  Sebuah ruangan yang penuh dengan pakaian dan perlengkapan, 70% adalah kosong dan tidak berguna; Uang yang dihasilkan seumur hidup, 70% diwariskan untuk orang lain. Belajar melihat melampaui dan melepaskan, bina pikiran diri dengan baik, kembangkan kebajikan diri dengan baik, kesehatan fisik dan mental adalah yang paling penting. Ini barulah membina diri dan mengembangkan karakter.

 

Kesehatan, kebahagiaan, kekayaan, umur panjang, dan kedamaian di dunia, semuanya  adalah sumber berkah dan semuanya lahir dari kebajikan. Praktisi Buddhis harus mempelajari dua hal sepanjang hidupnya: pertama, berbicara harus meninggalkan moralitas, dan menjalin hubungan baik dengan orang di mana pun. Mengatakan kebaikan tentang orang lain adalah salah satu bentuk berdana. Kedua, dalam melakukan suatu hal harus bisa mengharukan orang lain. Jika seseorang yang melakukan hal-hal dan tidak bisa mengharukan orang lain, maka dia tidak akan mempunyai kebajikan besar atau kebajikan kecil. Berdana tanpa rupa yang sesungguhnya adalah membantu orang lain tanpa tujuan apa pun, orang lain akan benar-benar sangat terharu. Perkataan yang buruk melukai hati orang, sedangkan perkataan yang baik bermanfaat untuk perilaku. Orang dahulu mengatakan bahwa “mulut mengeluarkan bunga teratai”, kata-kata yang diucapkan harus membuat orang sukacita dalam Dharma; juga bisa meludahkan duri, yaitu kata-kata yang berduri. Perkataan dan perbuatan praktisi Buddhis tidak boleh menyakiti hati orang lain. Tidak peduli seberapa baik hati, tetapi mulutnya jahat, maka akan meninggalkan bekas luka di hati diri sendiri dan orang lain.

 

Seseorang yang sukses, tidak peduli berapa banyak hal yang telah ia lakukan, tetapi apakah kamu bisa meminjam kekuatan orang lain untuk melakukan sesuatu. Praktisi Buddhis harus belajar hidup di dunia ini dengan kebijaksanaan, harus mengutamakan kepentingan universal dan mengorbankan ego pribadi, dan menggunakan kekuatan Bodhisattva untuk menyelamatkan semua makhluk hidup yang berjodoh, ia adalah orang yang sangat kaya secara spiritual. Praktisi Buddhis harus mengerti untuk berdana, mengerti untuk menggunakan kekuatan Bodhisattva untuk menyelamatkan orang lain, karena menyelamatkan semua makhluk berarti menyelamatkan diri sendiri.

 

Pembebasan berarti melampaui. Melampaui  berarti melampaui diri sendiri, melampaui pemikiran keras kepala (kemelekatan) diri sendiri, tidak boleh melekat, harus melihat melampaui ketenaran dan kekayaan di dunia dan mengatasi godaan sifat manusia terhadap materi dan ketenaran. Kita hidup di dunia ini, sering kali memiliki pikiran keserakahan, tamak akan ketenaran dan kekayaan, ini adalah akibat dari godaan. Orang yang terbebaskan harus menggunakan metode keluar dari keduniawian untuk membina pikirannya dan tercerahkan – saya dari lahir hingga meninggal, hanya menghabiskan waktu di kereta dunia, hanya sebuah jalur wisata di jalan kehidupan, saya akan segera meninggal. Bisa berpikiran mengerti dan memahaminya, maka kamu tidak akan membuat banyak masalah dan mengejar banyak harta kekayaan di dunia.

 

Kita tidak boleh memiliki keserakahan atau keinginan dalam hati, dan tidak dikendalikan oleh kesuksesan atau kegagalan di dunia. Jika kamu gagal hari ini, jangan bersedih, itu akan berlalu; jika kamu berhasil hari ini, itu akan berlalu juga. Ketenaran dan kekayaan di dunia ini cepat berlalu dan tidak bisa diperoleh. Dalam menghadapi kenyataan, kita harus memiliki mentalitas hidup yang benar, ditambah potensi kesadaran tentang metode keluar dari keduniawian, baru bisa mencapai “Hanya menanam, tanpa memikirkan hasil yang akan dituai”. Menyelamatkan orang lain setiap hari dan melakukan perbuatan baik setiap hari, kamu pasti akan mendapatkan balasan karma baik, ini adalah hukum surga. Hanya dengan cara ini, kita dapat melampaui diri sendiri, menyempurnakan diri, dan mendapatkan kebijaksanaan Tathagata di dalam hati.

 

Harus belajar menggunakan kebijaksanaan Bodhisattva untuk hidup di dunia ini, dan menganggap keluarga sebagai ladang tanggung jawab, subur juga adalah ladang, gersang juga adalah ladang. Suami istri merupakan jodoh di kehidupan lampau, keharmonisan juga adalah jodoh, pertengkaran juga adalah jodoh. Kelahiran, usia tua, penyakit dan kematian adalah hal yang alami, kamu tidak bisa menghindarinya, saya juga tidak bisa  menghindarinya. Selama sifat dan hati nurani seseorang terbuka ke surga, dia akan naik ke surga cepat atau lambat nanti. Pikiran jahat dan perbuatan jahat menciptakan karma buruk, cepat atau lambat akan masuk neraka. Itu semua tergantung pada pikiran, semuanya adalah jodoh. Baik-baiklah menjalin jodoh yang baik secara meluas dan menghilangkan jodoh yang buruk, baru tidak akan turun ke bawah, dan akan naik.

 

Orang yang suka perhitungan, hatinya sulit seimbang dan puas, dan lebih cenderung menimbulkan ketidakpuasan dan kebencian terhadap orang dan benda. Orang yang sering berbeda pendapat, selalu berselisih paham, dan berpikiran sempit akan penuh dengan kerisauan dan ketakutan di dalam hatinya. Praktisi Buddhis  harus memiliki pikiran yang lapang, harus bersabar dan tekun. Hidup adalah tempat wisata, mari kita mendaki tempat wisata yang lebih baik, yaitu Surga. Kita harus mengikuti Bodhisattva kembali ke Empat Alam Brahma, kita harus kembali ke sisi Guan Shi Yin Pu Sa, harus pergi ke Alam Sukhavati Amitabha.

 

Orang yang ingin mencapai Kebuddhaan, baru bisa menjadi Buddha; Orang yang ingin pergi ke Alam Sukhavati, baru bisa memiliki kesempatan untuk pergi ke Alam Sukhavati. Tekun membina pikiran dan perilaku, berusaha keras untuk memperbaiki diri sendiri, dan memiliki cita-cita luhur barulah dapat menekuni Dharma dengan baik dan menjadi seorang Buddha, inilah keberhasilan dalam menekuni Dharma.

 

Hidup pasti berakhir dengan kematian. Orang-orang di dunia ditakdirkan berakhir dengan tragedi. Mengapa masih tidak bisa melepaskannya? Mengapa masih sedih karena sepatah kata? Kita tidak dapat membawa datang apa-apa dan tidak bisa membawa pergi apa-apa, mengapa harus melekat pada segala hal di dunia ini? Hanya praktisi Buddhis yang dapat melihat dengan jelas bahwa hakikat dunia ini adalah tidak kekal, tidak abadi. Orang yang memahami makna hidup yang sebenarnya yang dapat memperpanjang umurnya. Hidup adalah sejenis kekayaan diri kita sendiri, jangan biarkan hidup kita sia-sia belaka. Segala hal adalah dharma (fenomena), sifat sejati adalah kebenaran. Hargai hidup dan jodoh. Mari kita hargai dunia yang berjodoh di dunia ini, hargai semua makhluk yang berjodoh yang membantu kita, dan selalu hidup di dunia dengan hati yang bersyukur, maka kita akan mendapatkan manfaat yang lebih banyak.

 

Semua kerisauan disebabkan oleh tidak bisa melepaskannya. Ketika kamu memutuskan untuk melepaskan, kamu tidak akan kehilangan apa pun, yang hilang hanya kerisauan. Kita telah menjadi aktor dalam seumur hidup di dunia ini, mungkin pada saat akan meninggal dunia, kita baru benar-benar percaya bahwa hidup ini adalah kosong, tidak bisa mendapatkan apa pun, tetapi kita telah melelahkan diri dan menderita sepanjang hidup, bahkan orang yang paling kita cintai juga tidak bisa bersama selamanya.

 

Sang Buddha berkata, “Semua dharma yang terkondisi adalah seperti gelembung mimpi ilusi,  tidak terikat pada rupa, tidak terikat pada suara, bau, rasa, sentuhan dan dharma yang menimbulkan pikiran, tidak ada kemelekatan untuk memunculkan pikiran.” Berharap semua orang menekuni Dharma dengan baik, memahami tiada rupa, suara, bau, rasa, sentuhan dan dharma, memahami tubuh panca skhanda adalah tubuh ilusi, memanfaatkan sifat dasar sejati dengan baik, menciptakan hari esok yang indah. Jadilah diri seperti Buddha dan Bodhisattva di dunia ini terlebih dahulu, kemudian baru akan memiliki kesempatan untuk menyembah Buddha di Surga di masa depan, baru akan membawa rasa syukur yang tak terhingga untuk menemui Guan Shi Yin Pu Sa!